AKUNTANSI PENJUALAN KONSINYASI Dosen Pengampu: Fatma Dwi Jati, S.E., M.Acc., Ak
Disusun Oleh:
KHAIRUNNISA NIM 2105081061 KELAS: AK – 5A
PROGRAM STUDI AKUNTANSI JURUSAN AKUNTANSI POLITEKNIK NEGERI MEDAN
MEDAN 2023
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah SWT yang telah memberikan kemudahan sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini dengan tepat waktu. Tanpa pertolongan-Nya tentunya penulis tidak akan sanggup untuk menyelesaikan makalah dengan judul “Penjualan Konsinyasi” dengan baik. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW, keluarga, dan sahabat-sahabatnya.
Penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung, mendorong, dan menginspirasi selama proses penulisan. Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan berkah dan kemudahan menjalani hidup ini dengan rasa syukur dan keikhlasan dalam hati.
Penulis menyadari bahwa keterbatasan pengetahuan, kemampuan dan waktu penulisan makalah ini, dan masih jauh dari kata sempurna. Untuk itu semua kritik dan saran dari berbagai pihak sangat diharapkan demi kesempurnaannya.
Sebagai penutup dengan segala harapan semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis pribadi maupun para pembaca pada umumnya.
Medan, 03 November 2023
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...2
DAFTAR ISI...3
BAB I...4
PENDAHULUAN...4
1.1 Latar Belakang...4
1.2 Rumusan Masalah...4
1.3 Tujuan...5
BAB II...6
PEMBAHASAN...6
2.1 Definisi dari Penjualan Konsinyasi...6
2.2 Ciri - Ciri Penjualan Konsinyasi...7
2.3 Syarat Penjualan Konsinyasi...8
2.4 Metode Akuntansi untuk Penjualan Konsinyasi...9
2.5Barang Konsinyasi yang belum laku terjual...14
BAB III...16
PENUTUP...16
3.1 Kesimpulan...16
3.2 Saran...16
DAFTAR PUSTAKA...18
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Di Indonesia, perdagangan konsinyasi sering dikenal sebagai perdagangan komisi.
Model bisnis ini melibatkan dua pihak utama, yaitu pemilik barang (konsinyor atau faktor) dan penerima barang (konsinyi atau pedagang komisi). Selama barang-barang yang menjadi konsinyasi belum terjual, kepemilikan sebenarnya tetap berada di tangan pemilik. Persediaan barang konsinyasi yang disimpan di gudang penerima dianggap sebagai milik pemilik hingga saat penjualan ke pihak lain terjadi.
Penjualan konsinyasi adalah alternatif yang berbeda dari penjualan reguler, dan pengelolaannya memerlukan perlakuan akuntansi khusus agar informasi yang dihasilkan mencerminkan keadaan yang sebenarnya tanpa menyesatkan.
Dalam konteks penjualan konsinyasi, hubungan antara pemilik (konsinyor) dan agen penjualan (konsinyi) melibatkan hubungan antara pemilik barang dan agen penjualan.
Dalam banyak kasus, transaksi pengiriman barang kepada agen penjualan dikenal sebagai
"barang-barang konsinyasi." Di sisi agen penjual, transaksi yang berhubungan dengan barang-barang milik pemilik yang dititipkan dikenal sebagai "barang-barang komisi."
Transaksi penjualan konsinyasi didukung oleh kontrak atau perjanjian tertulis yang mengatur hubungan antara pihak yang memberikan barang dan pihak yang menerima barang. Penjualan konsinyasi memiliki sejumlah keuntungan dibandingkan dengan penjualan langsung barang kepada pengecer atau pedagang, sehingga menjadi alternatif menarik dalam berbagai situasi.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan dari latar belakang masalah tersebut yang telah disampaikan di atas maka dapat disimpulkan beberapa pokok permasalahan yang dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Apa definisi dari Penjualan Konsinyasi?
2. Apa saja ciri-ciri dari Penjualan Konsinyasi?
3. Apa syarat Penjualan Konsinyasi?
4. Bagaimana metode akuntansi untuk Penjualan Konsinyai dengan metode laba terpisah dan tak terpisah?
5. Bagaimana jika barang konsinyasi belum laku sampai akhir periode?
1.3 Tujuan
Berdasarkan perumusan masalah yang telah penulis uraikan, maka tujuan dari makalah ini adalah:
1. Memahami konsep dan definisi penjualan konsinyasi.
2. Mengidentifikasi ciri-ciri utama yang menggambarkan penjualan konsinyasi.
3. Menguji pemahaman tentang istilah-istilah yang berkaitan dengan penjualan konsinyasi.
4. Menyelidiki peran dan tanggung jawab konsinyor (pemilik barang) dan konsinyi (pedagang komisi) dalam proses penjualan konsinyasi.
5. Menganalisis metode akuntansi yang digunakan dalam penjualan konsinyasi, baik metode laba terpisah maupun tak terpisah.
6. Menyelidiki alternatif tindakan jika barang konsinyasi tidak terjual hingga akhir periode.
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Definisi dari Penjualan Konsinyasi a. Pengertian penjualan
Menurut Kusnandi (2000:19) penjualan adalah suatu proses pembuatan dan cara untuk mempengaruhi pribadi agar terjadi pembelian (penyerahan) barang atau jasa yang ditawarkan berdasarkan harga yang telah disepakati oleh kedua belah pihak yang terkait didalam kegiatan tersebut.
Menurut Moekijat (2000;448) penjualan adalah suatu kegiatan yang ditujukan untuk mencari pembeli, mempengaruhi dan memberikan petunjuk agar pembeli dapat menyesuaikan kebutuhannya dengan produk yang ditawarkan serta mengadakan perjanjian mengenai harga yang menguntungkan bagi kedua belah pihak.
Menurut Ronny (2000:8) penjualan adalah proses sosial manajerial dimana individu dan kelompok mendapatkan apa yang mereka butuhkan dan inginkan, menciptakan, menawarkan produk yang bernilai dengan pihak lain.
Kesimpulan dari definisi diatas penjualan adalah suatu pekerjaan pemindahan tangan kepemilikan suatu barang atau produk dari penjual atau pemilik produksi pada seorang konsumen untuk memperoleh keuntungan yang telah disepakati satu sama lain.
b. Pengertian konsinyasi
Menurut Afriyanto (2008:6) konsinyasi adalah barang dari supplier di berikan pada pemilik toko untuk dijual belikan.
Menurut Marlijanto (2010:19) konsinyasi adalah penawaran pembayaran tunai diikuti dengan penyimpanan.
Menurut Yendrawati (2008) konsinyasi adalah penjualan dengan cara pemilik menitipkan barang kepada pihak lain untuk dijualkan dengan harga dan syarat yang telah di atur dalm perjanjian.
Kesimpulannya dari definisi diatas bahwa konsinyasi adalah penyerahan barang oleh pemilik kepada pihak lain yang bertindak sebagai agen penjual, tetapi hak atas barang tersebut tetap berada di tangan pemilik sampai barang tersebut dijual oleh agen penjual.
c. Penjualan Konsinyasi
Menurut Hadori (2011:11) penjualan konsinyasi adalah sebuah bentuk perjanjian penjulan dimana consignor (pabrikan) mengirimkan brang dagangan pada consignee (dealer), yang bertindak sebagai agen bagi consignor dalam penjualan barang dagang.
Menurut Aliminsyah (2008:77) penjualan konsinyasi adalah barang-barang yang dikirim untuk dititipkan kepada pihak lain dalm rangka penjualan dimasa mendatang atau untuk tujuan lain, hak atas barang tersebut tetap melekat pada pihak pengirim (consignor). Penerimaan titipan barang tersebut (consignee) selanjutnya 14 bertanggung jawab terhadap penanganan barang sesuai dengan kesepakatan.
Penjualan Konsinyasi menurutSimamora (2005) penjualan konsinyasi adalah penjualan yang melibatkan dua pihak yaitu pihak yang memiliki barang disebut consignor (pengamat) dan pihak yang mengusahakan penjualan barang disebut consignee (komisioner).
Kesimpulannya dari definisi diatas bahwa penjualan konsinyasi adalah penjualan titipan, pihak yang menyerahkan barang (pemilik) disebut consignor(konsinyor) atau pengamat, sedangkan pihak yang menerima titipan barang tersebut disebut konsinya.
2.2 Ciri - Ciri Penjualan Konsinyasi
Menurut A. Waluyo Jati (2006,1.36), yang membedakan perlakuan akuntansi terhadap penjualan konsinyasi dengan penjualan-penjualan lain adalah:
a) Hak pemilik terhadap barang tersebut masih beradandi tangan Consignor, barang ini masih dilaporkan dalam laporan Consignor.
b) Selama barang tersebut belum terjual, belum dapat diakui adanya pendapatan. 9 c) Pihak consignor bertanggung jawab semua biaya yang berhubungan dengan barang
konsinyasi sampai barang tersebut terjual. Kecuali ada perjanjian lain.
d) Komisioner bertanggung jawab menjaga keamanan serta keselamatan barang yang ditetapkan tersebut.
Menurut Natasha Sara, (www.academia.edu) 4 hal ciri tansaksi konsinyasi yaitu:
a) Barang komisioner harus dilaporkan sebagai persediaan oleh pengamat, karena hak untuk barang masih beada pada pengamat.
b) Pengiriman barang konsinyasi tidak menimbulkan pendapatan bagi pengamat dan sebaliknya
c) Pihak pengamat bertanggung jawab atas semua biaya yang berhubungan dengan barang konsinyasi kecuali ada ketentuan lain.
d) Komisioner dalam batas kemampannya harus mengikuti kewajiban yang ada.
Harry Simons yang diterjemahkan oleh R.A.F dan R.A Fadly Bangkalany (2010:293) dalam bukunya yang berjudul “Iadvanced accounting” sifat konsinyasi adalah sebagai berikut. Dikutip dari segi hukum, penyerahan barang konsinyasi adalah barang titipan, bilamana pihak konsinyi menjual barang-barang ini seperti yang diperinei dalam persetujuan yang di sepakati antara konsinyor dan konsinyi”. Konsinyor menetapkan konsinyi sebagai pihak yang bertanggung jawab akan barang-barangnya sampai terjual. Atas penjualan barang- barang demikian pihak konsinyor menetapkan hak atas barang ini dan hasil penjualannya.
Sebaliknya, pihak konsinyi tidak menganggap bahwa barang itu miliknya, ia pun tidak berkewajiban kepada pihak konsinyi menghubungkan antara pemilik dan agen penjual, dan UU keagenan mengatur penetapan hak-hak dan kewajiban-kewajiban kedua belah pihak.
Menurut Dewi Ratinginsih (2002,161) dalam bukunya akuntansi keuangan lanjutan sifat konsinyasi adalah “Walaupun transaksi penjualan dan transaksi konsinyasi kedua menyangkut penyerahan barang dagangan, namun terdapat perbedaan pokok antara keduanya. Transaksi penjualan, penyerahan barang kepada pembeli diikuti dengan berpindahnya hak atas barang tesebut kepada pembeli. Sedangkan pada transaksi penjualan konsinyasi, penyerahan barang kepada komisioner tidak berarti pepindahan atas barang tersebut”.
2.3 Syarat Penjualan Konsinyasi
Menurut Ritonga (2016) syarat-syarat penjualan konsinyasi biasanya diatur antara pengamanat dan komisioner dalam satu kontrak atau perjanjian konsinyasi, di mana dalam perjanjian ini tercantum beberapa ketentuan atau kesepakatan yang harus dijalankan selama pelaksanaan penjualan konsinyasi. Dalam penyerahan barang atas dasar konsinyasi, harus disusun kontrak (persetujuan) tertulis yang menunjukkan sifat hubungan antara pihak yang menyerahkan dan yang menerima barang. Kontrak tertulis ini antara lain mencakup:
a) Syarat kredit yang harus diberikan oleh pihak komisioner kepada pelanggan.
b) Beban yang dikeluarkan oleh pihak komisioner harus diganti oleh pihak pengamanat.
c) Komisi atau laba yang harus diberikan kepada pihak komisioner.
d) Pengiriman uang dan penyelesaian keuangan oleh pihak komisioner.
e)
Laporan yang harus dikirim oleh pihak komisionerMenurut (Ratnaningsih, 2015) dalam (Darmawati, 2018) adapun perjanjian dalam konsinyasi, yaitu:
a) Hak milik atas barang tetap berada di tangan pengamanat dan dilaporkan sebagai bagian persediaan barang dagangan pengamanat sampai barang dijual oleh komisioner ke pihak ke tiga.
b) Tidak ada pendapatan maupun laba kotor yang diakui saat barang diserahkan pengamanat kepada komisioner. Pendapatan diakui saat barang dijual komisioner kepada pihak ke tiga (berdasarkan kriteria pengakuan pendapatan di PSAK 23).
c) Komisioner berhak atas komisi dari penjualan barang ke pihak ke tiga.
Menurut (Afriyanto, 2014) dalam (Ritonga, 2016) syarat-syarat penjualan konsinyasi biasanya diatur antara pengamanat dan komisioner dalam satu kontrak atau perjanjian konsinyasi, di mana dalam perjanjian ini tercantum beberapa ketentuan atau kesepakatan yang harus dijalankan selama pelaksanaan penjualan konsinyasi
Menurut Hidayat (2014) dalam penyerahan barang atas dasar konsinyasi, harus disusun kontrak (persetujuan) tertulis yang menunjukkan sifat hubungan antara pihak yang menyerahkan dan yang menerima barang. Kontrak tertulis ini antara lain mencakup:
a) Syarat kredit yang harus diberikan oleh pihak komisioner kepada pelanggan.
b) Beban yang dikeluarkan oleh pihak komisioner harus diganti oleh pihak pengamanat.
c) Komisi atau laba yang harus diberikan kepada pihak komisiner.
d) Pengiriman uang dan penyelesaian keuangan oleh pihak komisioner.
e)
Laporan yang harus dikirim oleh pihak komisioner2.4 Metode Akuntansi untuk Penjualan Konsinyasi
Metode akuntansi untuk penjualan konsinyasi hanya mengatur mengenai bagaimana pelaporan atas transaksi penjualan konsinyasi tersebut dalam catatan para konsinyor dan konsinyi, dan bukan berkaitan dengan kapan dan bagaimana pengakuan pendapatan dilakukan. Ada dua metode akuntansi yang dapat dipilih, baik oleh pihak konsinyi maupun pihak konsinyor. Kedua metode tersebut adalah:
1.
Metode Laba Terpisah. Transaksi-transaksi penjualan konsinyasi dipisahkan pencatatannya dari transaksi-transaksi penjualan biasa/reguler, sehingga laba atau rugi yang timbul dari penjualan konsinyasi akan dapat diketahui secara tersendiri.2.
Metode Laba Tak Terpisah. Dalam metode ini pencatatan atass transaksi-transaksi konsinyasi tidak dipisahkan dari pencatatan atas transaksi-transaksi penjualan biasa/reguler, sehingga laba atau rugi yang timbul dari transaksi penjualan konsinyasi tidak dapat secara langsung diketahui.Alinea-alinea berikut ini akan menguraikan dan membahas secara rinci kedua metode di atas yang juga akan dilengkapi dengan contoh-contoh sederhana.
1)
Metode Laba TerpisahPada metode ini pencatatan atas transaksi penjualan konsinyasi disebut secara terpisah/tersendiri dalam buku konsinyor maupun konsinyi. Manfaat utama yang diberikan oleh metode ini adalah dapat diketahuinya secara jelas seberapa besar kontribusi penjualan konsinyasi terhadap laba perusahaan. Metode ini umumnya dipakai oleh perusahaan yang banyak melakukan transaksi konsinyasi.
Buku Konsinyor:
Bila meteode ini yang digunakan, maka dalam buku Konsinyor akan dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:
1)
Dibuka satu perkiraan/akun tersendiri dengan nama “Konsinyasi Keluar”.Perkiraan ini akan mendebitkan harga pokok barang yang dikirimkan kepada konsinyi pada saat dilakukannya pengiriman barang konsinyasi kepada konsinyi. Selanjutnya semua biaya yang berkaitan dengan transaksi konsinyasi tersebut juga dicacatkan di sebelah debit perkiraan ini. Sebaliknya di sebelah kreditnya akan dicatatkan hasil penjualan oleh konsinyi.
2)
Pada akhir periode laba/rugi dari transaksi penjualan konsinyasi dihitun dan dipindahkan ke perkiraan Ikhtisar Laba-Rugi sehingga menjadi bagian dari laba-rugi perusahaan secara keseluruhan.3)
Bila kegiatan konsinyasi dilakukan dengan dua orang/ppihak atau lebih konsinyi, maka untuk setiap konsinyi sebaiknya disediakan satu perkiraan yang tersendiri.Buku Konsinyi:
Sebaliknya, dengan penggunaan metode laba terpisah oleh pihak konsinyi, maka pada buku konsinyi adakan dilakukan langkah-langkah berikut:
1)
Dibuka satu perkiraan/akun tersendiri, yaitu perkiraan “Konsinyasi Masuk”.Perkiraan ini didebitkan untuk semua biaya yang timbul dan berkaitan dengan kegiatan penjualan konsinyasi yang nantinya akan ditanggung oleh pihak Konsinyor dan jumlah uang yang dikirimkan ke konsinyor. Sebaliknya di sebelah kreditnya akan dicatatkan nilai hasil penjualan yang berhasil dilakukan. Dengan demikian jelaslah bahwa transaksi penerimaan barang
konsinyasi dari pihak Konsinyor tidak dicatat ke dalam jurnal, melainkan hanya dicatat memorial saja.
2)
Pada akhir periode konsinyi akan menghitung besarnya kommisi baginya yang merupakan pendapatan utama pihak konsinyi dan selanjutnya jumlah komisi ini akan dipindahkan ke perkiraan Ikhtisar Laba-Rugi.3)
Bila kegiatan konsinyasi itu dilakukan dengan dua orang/pihak konsinyor atau lebih, maka untuk setiap konsinyor sebaiknya disediakana satu perkiraan yang tersendiri.Untuk lebih memperjelas prosedur pencatat sebagaimana diuraikan di atas, berikut ini akan ditunjukkan contoh sederhana mengenai transaksi penjualan konsinyasi antara konsinyor dan pihak konsinyasi.
Contoh:
Transaksi berikut terjadi antara PT Cahaya (bertindak sebagai Konsinyor) dan Toko Ciya (bertindak sebagai Konsinyi):
PT CAHAYA menitipkan televisi (televisi) kepada Toko Ciya untuk dijual seharga Rp 850.000 per buah. Toko Ciya akan diberi komisi 20% dari hasil penjualan yang dilakukannya. Semua biaya yang dikeluarkan Toko Ciya sehubungan dengan penjualan televisi tersebut akan ditanggung dan diganti sepenuhnya oleh PT CAHAYA. Harga pokok per buah televisi Rp 500.000
1 November: PT CAHAYA mengirimkan 10 buah televisi kepada Toko Ciya 2 November: Ongkos kirim dibayar oleh PT CAHAYA Rp 700.000
3 November: Toko Ciya membayar biaya-biaya pada saat menerima televisi sebesar Rp 800.000
3-30 November: Seluruh televisi terjual oleh Toko Ciya
20 November: Toko Ciya mengirimkan laporan penjualan ke PT CAHAYA dan sekaligus mengirimkan uang hasil penjualan sesudah dipotong berbagai biaya yang terkait.
Jurnal untuk mencatat berbagai transaksi antara pihak konsinyi dan konsinyor di atas akan terlihat sebagai berikut:
Transaksi Buku Konsinyor (dlm Rp 000) Buku Konsinyi (dlm Rp 000) Pengiriman 10 buah televisi
untuk dijual @Rp 1.100.000;
harga pokok @Rp 750.000
Konsinyasi Keluar Pengiriman Barang
7.500
7.500
Diterima 10 buah televisi untuk dijual dengan hargar Rp 1.100.000 per buah.
Komisi akan diberikan 10% dari hasil
Konsinyasi penjualan dan semua biaya terkait akan ditanggung konsinyor.
Pembayaran ongkos kirim Rp 700.000 oleh konsinyor
Konsinyasi Keluar Kas
700
700
Tak ada jurnal Pembayaran biaya-biaya saat
penerimaan televisi oleh konsinyi
Tak ada jurnal Konsinyasi Masuk
Kas
800
800 Penjualan 10 buah televisi oleh
konsinyi dan perhitungan komisi oleh konsinyi
Tak ada jurnal Kas
Konsinyasi Masuk Konsinyasi Masuk Komisi atas Konsinyasi
11.000
1.100
11.000
1.100 Pelaporan dan pengiriman uang
hasil penjualan oleh konsinyi kepada konsinyor
Kas
Konsinyasi Keluar Konsinyasi Keluar Konsinyasi Keluar Laba Konsinyasi
9.100 1.900
900
11.000
900
Konsinyasi Masuk Kas
9.100
9.100
2. Metode Laba Tak Terpisah
Dengan Metode Laba Tak Terpisah dimaksudkan bahwa tidak ada pencatatan tersendiri untuk transaksi penjualan konsinyasi. Pencatatan atas transaksi penjualan secara konsinyasi digabungkan dengan transaksi penjualan biasa lainnya, sehingga dari catatan tersebut tak dapat diketahui seberapa besar kontribusi penjualan konsinyasi terhadap laba perusahaan secara keseluruhan.
Dalam alinea-alinea berikut ini akan dibahas secara rinci prosedur-prosedur yang ditempuh oleh pihak konsinyor maupun konsinyi dalam melakukan pencatatan apabila metode laba tak terpisah ini yang digunakan. Contoh yang kemudian diberikan diambil dari contoh kasus yang sudah ditunjukkan sebelumnya.
Buku Konsinyor:
Bila metode Laba Tak Terpisah yang digunakan oleh konsinyor, maka prosedur-prosedur berikut akan dilakukan dalam pencatatannya:
1) Semua transaksi yang berhubungan dengan penjualan konsinyasi dicatat seperti transaksi penjualan biasa, sehingga pada saat barang terjual baru dilakukan pencatatan, termasuk pencatatan harga pokoknya dan biaya-biaya terkait.
2) Pada saat barang dikirim kepada konsinyi, konsinyor hanya membuat catatan memorial saja.
Buku Konsinyi:
Sebaliknya pihak konsinyi akan melakukan langkah-langkah sebagai berikut:
1) Dibuka perkiraan atas nama Konsinyor untuk mencatat semua transaksi yang berhubungan dengan konsinyasi. Perkiraan ini akan mendebitkan semua pengeluaran biaya oleh konsinyi yang nantinya akan ditanggung oleh pihak konsinyor dan pengiriman uang atau penyetoran hasil penjualan kepada konsinyor. Perkiraan ini akan dikredit untuk harga pokok penjualan barang konsinyasi dana penerimaan lainnya.
2) Sebagaimana halnya pihak konsinyor, pihak konsinyipun hanya akan membuat catatan memorial saja pada saat terjadinya penerimaan barang konsinyasi.
Contoh:
Transaksi antara PT CAHAYA dan Toko Ciya dalam contoh di atas akan dipakai sebagai ilustrasi penggunaan metode Laba Tak Terpisah ini. Jurnal yang ditimbul untuk mencatat berbagai transaksi tersebut adalah sebagai berikut:
Transaksi Buku Konsinyor (dlm Rp 000) Buku Konsinyi (dlm Rp 000) Pengiriman 10 buah televisi
untuk dijual @Rp 1.100.000;
harga pokok @Rp 750.000
Dikirimkan 10 buah TELEVISI untuk dijual dengan harga Rp 1.100.000 per buah. Komisi sebesar 10% dari hasil penjualan dan semua biaya akan diganti. Harga pokok per buah Rp 750.000.
Diterima 10 buah TELEVISI untuk dijual dengan hargar Rp 1.100.000 per buah. Komisi akan diberikan 10% dari hasil penjualan dan semua biaya terkait akan ditanggung konsinyor.
Pembayaran ongkos kirim Rp 700.000 oleh konsinyor
Ongkos Kirim Kas
700
700
Tak ada jurnal
Pembayaran biaya-biaya saat penerimaan televisi oleh konsinyi
Tak ada jurnal PT CAHAYA
Kas
800
800
Penjualan 10 buah televisi
oleh konsinyi dan
perhitungan komisi oleh konsinyi
Tak ada jurnal Kas
Penjualan
Pembelian PT CAHAYA
11.000
9.900
11.000
9.900
Pelaporan dan pengiriman uang hasil penjualan oleh
Kas
Ongkos Bongkar
9.100 800
PT CAHAYA Kas
9.100
9.100
konsinyi kepada konsinyor Biaya Komisi Penjualan
1.100
11.00 0
Untuk menjadi catatan dalam pelaksanaan kedua metode di atas bahwa apabila dalam hubungan konsinyasi ini, pihak konsinyor mempersyaratkan adanya penyerahan Uang Muka oleh konsinyi, maka hal ini harus dicatat secara tersendiri dan tak boleh digabungkan dengan perkiraan Konsinyasi Masuk (bagi Konsinyi) atau dipotongkan sebagai setoran dari konsinyi, tapi harus dilaporkan terpisah sebagai uang muka di laporan posisi keuangan.
2.5 Barang Konsinyasi yang belum laku terjual
Apabila jangka waktu perjanjian konsinyasi sudah melewati periode akuntansi tetapi masih ada barang konsinyasi yang belum laku terjual maka diperlukan penyesuaian terhadap biaya-biaya yang bersangkutan dan terikat pada produk yang belum laku terjual dan ditangguhkan pembebanannya dalam periode akuntansi yang bersangkutan (Sabeni, 2002:170). Barang konsinyasi yang masih ada pada komisioner sampai akhir periode dimasukkan sebagai persediaan oleh pemangamanat. Nilai persediaan tersebut adalah sebesar harga pokok ditambah biaya-biaya yang telah dikeluarkan atas barang yang belum laku terjual tersebut baik yang dikeluarkan oleh pengamanat maupun oleh komisioner secara proporsional. Oleh karena itu, pada akhir periode pengamanat akan melakukan penyesuaian dengan memasukkan biaya selain harga pokok kedalam nilai persediaan sedangkan komisioner tidak perlu melakukan penyesuaian karena barang tersebut bukan persediaannya (Machfoedz dan Arifin, 2001:205). Jurnal penyesuaian yang dilakukan oleh pengamanat atas biaya-biaya yang terdapat pada barang konsinyasi yang belum laku terjual:
1) Metode terpisah:
Tanggal Nama Rekening Jumlah
Debit Kredit
Keterangan Persediaan barang konsinyasi Barang Konsinyasi
xxx
xxx
TOTAL xxx xxx
Catatan:
Persediaan barang konsinyasi adalah sebesar harga pokok penjualan ditambah dengan biaya yang dikeluarkan oleh pengamanat dan komisioner atas barang konsinyasi yang belum terjual.
2) Metode tidak terpisah
Tanggal Nama Rekening
Keterangan
Jumlah
Debit Kredit
Persediaan barang konsinyasi Biaya-biaya operasional
xxx
xxx
TOTAL xxx xxx
Catatan:
Persediaan barang konsinyasi adalah sebesar biaya yang dikeluarkan oleh pengamanat dan komisioner atas barang konsinyasi yang belum terjual. Persediaan barang konsinyasi juga disebut sebagai biaya yang ditangguhkan atau biaya yang dibayar dimuka.
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kesimpulan dari makalah ini adalah bahwa penjualan konsinyasi adalah model bisnis di mana pemilik barang menitipkan produknya kepada pihak pedagang komisi untuk dijual.
Ciri-ciri utama penjualan konsinyasi melibatkan hak pemilik barang untuk mempertahankan kepemilikan hingga terjadi penjualan, perjanjian tertulis yang mencakup aspek-aspek penting, dan perlunya bukti transaksi yang valid. Terdapat dua metode akuntansi yang dapat digunakan, yaitu metode laba terpisah dan metode tak terpisah, dengan masing-masing memiliki kelebihan dan kelemahan. Jika barang konsinyasi tidak terjual hingga akhir periode, pemilik barang harus mengambil keputusan apakah akan mengambil kembali barang atau melanjutkan upaya penjualan, yang dapat mempengaruhi laporan keuangan dan hasil akhir dari penjualan konsinyasi. Penjualan konsinyasi adalah metode yang memungkinkan pemilik barang untuk menjual produknya melalui pihak pedagang komisi tanpa mentransfer kepemilikan barang. Ciri-ciri penjualan konsinyasi mencakup hak pemilik barang untuk mempertahankan kepemilikan barang hingga terjadi penjualan kepada pelanggan akhir.
Terdapat perjanjian tertulis antara pemilik barang (konsinyor) dan pihak pedagang komisi (konsinyi), yang mencakup syarat-syarat pembayaran, pembagian laba, dan perawatan barang. Bukti transaksi yang valid, seperti faktur dan kuitansi, diperlukan untuk mendukung transaksi konsinyasi. Metode akuntansi yang digunakan dalam penjualan konsinyasi dapat menjadi metode laba terpisah atau tak terpisah. Metode laba terpisah memungkinkan perhitungan laba yang terpisah antara pemilik barang dan pedagang komisi, sementara metode tak terpisah menganggap seluruh transaksi sebagai satu kesatuan. Pemilihan metode ini dapat memengaruhi laporan keuangan dan kewajiban pajak. Jika barang konsinyasi tidak terjual hingga akhir periode, pemilik barang harus memutuskan apakah akan mengambil kembali barang atau melanjutkan upaya penjualan. Keputusan ini harus dipertimbangkan dengan hati-hati, karena dapat memengaruhi laporan keuangan perusahaan dan hasil akhir penjualan konsinyasi.
3.2 Saran
Berdasarkan kesimpulan sebelumnya, beberapa saran yang dapat diajukan adalah:
1. Dalam pengelolaan penjualan konsinyasi, penting bagi perusahaan untuk memahami dengan jelas definisi dan ciri-ciri penjualan konsinyasi. Ini akan membantu perusahaan dalam mengidentifikasi transaksi konsinyasi dan memastikan pemahaman yang tepat tentang proses ini.
2. Perusahaan perlu memperkuat kerjasama dan komunikasi yang efektif antara konsinyor (pemilik barang) dan konsinyi (pedagang komisi). Hal ini penting untuk memastikan pemahaman yang sama tentang tugas dan tanggung jawab masing- masing pihak dalam proses penjualan konsinyasi.
3. Dalam memilih metode akuntansi untuk penjualan konsinyasi, perusahaan perlu mempertimbangkan metode laba terpisah dan tak terpisah. Pemilihan metode tersebut harus didasarkan pada karakteristik transaksi konsinyasi yang spesifik dan kebutuhan informasi perusahaan.
4. Untuk mengatasi situasi di mana barang konsinyasi tidak terjual hingga akhir periode, perusahaan harus mempertimbangkan opsi seperti memperpanjang periode penjualan, mengevaluasi strategi penjualan, atau mengambil langkah-langkah lain yang sesuai.
Penting untuk menjaga kelancaran hubungan antara konsinyor dan konsinyi dalam menghadapi situasi ini.
5. Perusahaan perlu mengembangkan prosedur dokumentasi yang kuat dan menyeluruh untuk setiap transaksi konsinyasi, termasuk mencatat bukti transaksi yang valid. Ini akan memudahkan dalam pelaporan keuangan dan audit.
6. Pendidikan dan pelatihan terkait dengan penjualan konsinyasi harus disediakan bagi staf perusahaan yang terlibat dalam proses ini, sehingga mereka dapat menjalankan tugas mereka dengan baik dan meminimalkan risiko kesalahan.
Saran-saran ini diharapkan dapat membantu perusahaan dalam mengelola penjualan konsinyasi dengan lebih baik dan efisien.
DAFTAR PUSTAKA
Agustin, Retno Fenti and Drs. Misrin Hariyadi, SE, M.Ak and Fitri Nuraini, SE.,M.Ak (2016) PERLAKUAN
AKUNTANSI ATAS PENJUALAN KONSINYASI PADA LAPORAN KEUANGAN KOPERASI KARYAWAN PT. ECCINDO. Other thesis, Universitas Muhammadiyah Surabaya.
hariono, Ahmad (2021) Analisis Penerapan Akuntansi Konsinyasi Terhadap Apotek Rs Djatiroto(Study Kasus Rs Djatiroto). [Undergraduate Thesis]
Azhar Maksum, I.A. (n.d). Akuntansi Lanjutan Perusahaan Persekutuan (1 ed.).