• Tidak ada hasil yang ditemukan

Makalah BK KLASIKAL Kelompok 5

N/A
N/A
siska Apriliana

Academic year: 2025

Membagikan "Makalah BK KLASIKAL Kelompok 5"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

BK KLASIKAL

“Strategi dan Metode Bimbingan Klasikal”

Dosen Pengampu:

Akhmad Harum, S.P.d., M.Pd.

M. Fiqri Syahrir, M.Pd.

Maslina, M.Pd.

Di susun Oleh, Kelompok V:

Muh Khairul Rizal (230404500014) Muh. Virgiawan Ramadhan (230404501036) Nur Muh. Virgiawan Ramadhan (230404501036)

Nur Anbiyaa Ihsan (230404500031) Nurwahyuni Watmun (230404501010)

Rasyidah Katzimah (230404501033)

BK 4-A

PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING JURUSAN PSIKOLOGI PENDIDIKAN DAN BIMBINGAN

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI MAKASSAR

2025

(2)

i

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena atas limpahan rahmat dan karunia-Nya kami dapat menyelesaikan makalah ini dengan judul "Strategi dan Metode Bimbingan Klasikal". Makalah ini disusun sebagai salah satu tugas akademik dalam memenuhi mata kuliah BK Klasikal, dengan tujuan untuk memahami lebih dalam mengenai strategi dan metode yang digunakan dalam bimbingan klasikal.

Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada dosen pembimbing kami, atas bimbingan, arahan, dan pengarahan yang diberikan sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini. Tak lupa pula kepada teman-teman yang telah memberikan dukungan, baik secara moril maupun materiil dalam proses penyelesaian makalah ini.

Makalah ini disusun dengan harapan dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang strategi dan metode bimbingan klasikal, serta memberikan manfaat bagi pembaca yang ingin mengeksplorasi lebih lanjut tentang topik ini.

Akhir kata, semoga makalah ini dapat memberikan kontribusi yang bermanfaat dalam bidang bimbingan dan konseling. Segala kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan untuk perbaikan di masa yang akan datang.

Wassalamu'alaikum Warohmatullahi. Wabarokaatuh.

Makassar, 14 Maret 2025

Penyusun

(3)

ii DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR... i

DAFTAR ISI ... ii

BAB I ... 1

PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 1

C. Tujuan ... 2

BAB II ... 3

PEMBAHASAN ... 3

A. Strategi dalam Bimbingan Klasikal ... 3

B. Metode dalam Bimbingan Klasikal ... 5

C. Implementasi Bimbingan Klasikal di Sekolah ... 6

D. Tantangan dalam Bimbingan Klasikal ... 8

BAB III ... 11

PENUTUP... 11

A. Kesimpulan ... 11

B. Saran ... 11

DAFTAR PUSTAKA ... 12

(4)

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang

Bimbingan dan konseling merupakan bagian integral dari sistem pendidikan yang bertujuan untuk membantu peserta didik dalam mengembangkan potensi dirinya, mengatasi permasalahan yang dihadapi, serta mengambil keputusan yang tepat dalam berbagai aspek kehidupan. Salah satu layanan bimbingan yang penting dalam lingkungan pendidikan adalah bimbingan klasikal, yaitu layanan bimbingan yang diberikan kepada sekelompok siswa dalam satu kelas dengan tujuan untuk memberikan informasi, pemahaman, dan keterampilan yang dibutuhkan dalam perkembangan akademik, sosial, pribadi, dan karier mereka.

Dalam praktiknya, bimbingan klasikal memerlukan strategi dan metode yang tepat agar pesan yang disampaikan dapat diterima dengan baik oleh siswa dan memberikan dampak positif dalam kehidupan mereka. Pemilihan strategi yang sesuai akan membantu meningkatkan efektivitas layanan bimbingan, sedangkan metode yang tepat akan memungkinkan penyampaian materi yang menarik dan mudah dipahami. Oleh karena itu, seorang guru bimbingan dan konseling (BK) atau konselor sekolah perlu memiliki pemahaman yang mendalam tentang berbagai strategi dan metode bimbingan klasikal agar dapat mengoptimalkan pelaksanaan layanan ini.

Selain itu, perkembangan teknologi dan perubahan dinamika sosial di kalangan peserta didik juga menuntut adanya inovasi dalam strategi dan metode bimbingan klasikal.

Siswa saat ini lebih akrab dengan teknologi digital, sehingga metode bimbingan konvensional mungkin kurang efektif jika tidak diadaptasi dengan perkembangan zaman.

Pemanfaatan media interaktif, platform digital, dan pendekatan berbasis teknologi dapat menjadi alternatif dalam meningkatkan keterlibatan siswa dalam sesi bimbingan klasikal.

Namun, dalam realitasnya, masih banyak tantangan yang dihadapi dalam penerapan bimbingan klasikal, seperti kurangnya minat siswa dalam mengikuti sesi bimbingan, keterbatasan waktu dalam kurikulum sekolah, serta variasi karakteristik siswa yang beragam. Oleh karena itu, diperlukan kajian lebih lanjut mengenai strategi dan metode bimbingan klasikal yang efektif agar layanan bimbingan ini dapat memberikan manfaat yang maksimal bagi peserta didik.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana strategi yang digunakan dalam bimbingan klasikal?

2. Apa saja metode yang digunakan dalam bimbingan klasikal?

(5)

2

3. Bagaimana implementasi bimbingan klasikal di sekolah?

4. Apa tantangan yang dihadapi dalam bimbingan klasikal?

C. Tujuan

1. Untuk mengetahui strategi yang digunakan dalam bimbingan klasikal 2. Untuk mengetahui metode yang digunakan dalam bimbingan klasikal 3. Untuk mengetahui implementasi bimbingan klasikal di sekolah 4. Untuk mengetahui tantangan yang dihadapi dalam bimbingan klasikal

(6)

3 BAB II PEMBAHASAN A. Strategi dalam Bimbingan Klasikal

Bimbingan klasikal disebut layanan dasar karena bimbingan klasikal merupakan bagian yang memiliki porsi terbesar dalam layanan bimbingan dan konseling di sekolah.

Bimbingan klasikal lebih bersifat preventif dan berorientasi pada pengembangan pribadi peserta didik yang meliputi bidang belajar, sosial dan karir. Pemberian layanan bimbingan klasikal berfokus pada pencegahan dan peguasaan siswa akan tugas perkembangannya. 11 Bimbingan klasikal adalah sebuah jenis layanan bimbingan yang diberikan kepada seluruh siswa atau kelompok tertentu. Bimbingan klasikal dilaksanakan di kelas dalam bentuk tatap muka antara guru BK atau konselor dengan siswa. Dalam memberikan layanan bimbingan klasikal, seorang guru BK perlu mengetahui strategi yang dibutuhkan dalam memberikan layanan bimbingan klasikal, yaitu:

1. Probal Roling

Probal Roling merupakan strategi bimbingan klasikal yang inovatif yang mengkolaborasikan dua metode pembelajaran yaitu:

a. Problem-Based Learning (PBL)

Menurut Ilham, M., & Rossada, U. D. (2024). Problem-Based Learning (PBL) adalah pendekatan kurikulum dan metode pengajaran yang menempatkan siswa dalam posisi aktif sebagai pemecah masalah, dengan menghadapkan mereka pada situasi yang kurang terstruktur dan relevan dengan dunia nyata (Saputro dan Rahayu, 2020).

Karakteristik atau ciri-ciri Problem Based Learning (PBL) menurut Surya (2017), sebagai berikut: 1) Proses pembelajaran harus dimulai dengan masalah yang didominasi masalah nyata, 2) Bahan dan kegiatan belajar harus memperhatikan keadaan agar dapat menarik perhatian siswa. 3) Guru adalah seorang supervisor selama proses pembelajaran.

Problem Based Learning memiliki keunggulan dan kelemahan Problem Based Learning. Menurut Alan (2017) mengemukakan Problem-Based Learning memiliki beberapa keunggulan dan kelemahan, keunggulan tersebut diantaranya: 1) PBL merupakan teknik yang cukup bagus untuk lebih memahami pelajaran. 2) PBL dapat menantang kemampuan siswa serta memberikan kepuasan untuk menemukan pengetahuan baru bagi siswa. 3) PBL dapat meningkatkan aktivitas pembelajaran siswa. Menurut Rerung (2017),

(7)

4

beberapa kelemahan dari Problem-Based Learning (PBL) adalah: metode ini tidak dapat diterapkan pada semua jenis materi pelajaran, karena guru tetap memerlukan peran aktif dalam menyampaikan materi. PBL lebih efektif untuk pembelajaran yang memerlukan keterampilan khusus terkait pemecahan masalah. Selain itu, di kelas dengan tingkat keragaman peserta didik yang tinggi, pembagian tugas dapat menjadi sulit.

b. Role Playing.

Role playing adalah strategi pengajaran yang termasuk ke dalam kelompok model pembelajaran sosial (social models). Strategi ini menekankan sifat sosial pembelajaran, dan memandang bahwa perilaku kooperatif dapat merangsang siswa baik secara sosial maupun intelektual Joyce & Weil (2000).

Pendapat tersebut memberikan gambaran bahwa teknik role playing dapat meningkatkan minat dan kepercayaan diri anak dalam kognitif maupun sosial.

Anak menjadi lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran dan bisa bersosialisasi dengan teman sebayanya.

Strategi probal roling bercirikan penggunaan mamsalah kehidupan nyata dan bermain peran sebagai sesuatu yang harus dipelajari olesh siswa untuk melatih dan meningkatkan keterampilan berpikir positif dan mendapatkan pengetahuan penting.

2. Take Action

Strategi ini merupakan strategi yang memberikan pemahaman kepada peserta didik melalui aksi yang dilakukannya langsung dalam kehidupan sehari-hari. Strategi ini dapat dilakukan dalam bentuk permainan/games yang dapat memberikan pemahaman kepada peserta didik kemudian mampu mempraktekkannya melalui tindakan yang sesuai dengan pemahaman yang telah didapatkan.

3. Ngobrol Asyik.

Strategi ini sangat menyenangkan bagi peserta didik apalagi mereka di fase remaja yang mempunyai interaksi sosialnya sedang berkembang. Dalam kegiatan tersebut dapat membantu peserta didik berbicara dengan bebas dan spontan tentang kejadian actual yang tejadi di Masyarakat, yang dapat meningkatkan keterlibatan mereka dalam proses pembelajaran.

(8)

5 B. Metode dalam Bimbingan Klasikal

Menurut Anwar (Dhika Chelvian Satya Benardy dkk, 2024) dalam penelitiannya menjelaskan bahwa layanan bimbingan klasikal dapat menggunakan berbagai macam metode yang dapat disesuaikan dengan perkembangan yang akan diukur berdasarkan topik materi, yakni sebagai berikut :

1. Project Based Learning (PJBL)

Metode layanan bimbingan klasikal yang menggunakan projek sebagai kerja utamanya, sehingga dapat memberikan peluang atau kesempatan kepada peserta didik untuk melakukan eksperiman secara bebas serta melatih kolaborasi mereka.

2. Problem Based Learning (PBL)

Merupakan model layanan yang memiliki keterampilan dalam memecahkan masalah dan melatih kemampuan berpikir kritis pada peserta didik.

3. Cooperative Learning/Team Game Tournament

Merupakan model layanan bimbingan klasikal yang kooperatif dengan menekankan kerjasama dengan teman satu kelompok yang dikemas dalam permainan inovatif.

4. Student Teams Achievement Division (STAD)

Merupakan model layanan bimbingan klasikal yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan kerjasama peserta didik dalam setting kelas dengan tema layanan sesuai indikator kemampuan kerjasama secara teoritik, penyampaian materi, kegiatan kelompok, kuis dan pemberian penghargaan sebagai bentuk apresiasi kepada peserta didik.

5. Jigsaw

Merupakan model pembelajaran kooperatif dimana peserta didik belajar dalam kelompok kecil yang terdiri secara heterogen dan bekerja sama saling ketergantungan yang positif dan bertanggung jawab atas ketuntasan bagian materi pelajaran yang harus dipelajari dan menyampaikan materi tersebut kepada anggota kelompok yang lain.

6. Experiential Learning

Merupakan metode bimbingan klasikal yang memperhatikan dan menitikberatkan pada pengalaman yang telah dialami atau pengalaman langsung dan akan dipelajari oleh peserta didik.

7. Discovery Learning

Metode layanan bimbingan klasikal yang mengajak peserta didik untuk menemukan pengetahuan baru melalui proses eksplorasi dan penemuan berdasarkan informasi yang telah dimilikinya.

(9)

6

Adapun implementasi layanan bimbingan klasikal dengan menggunakan metode di atas terbukti sebagai layanan yang berdiferensiasi dan mampu meningkatkan kemampuan peserta didik dalam aspek pribadi, sosial, belajar maupun karir. Seperti Penelitian Tindakan Bimbingan Konseling (PTBK) yang dilakukan oleh (DT/YNI/2022) menunjukkan bahwa penggunaan Project Based Learning (PJBL) dalam implementasi layanan bimbingan klasikal terlah terbukti berhasil dalam meningkatkan keterampilan pengelolaan waktu belajar peserta didik, dengan peningkatan rata-rata skor dari 78,78 menjadi 90,34. setelah pelaksanaan layanan dinilai mengalami kenaikan yang cukup signifikan sebagai pertanda bahwa metode ini efektif untuk dilakukan.

Penelitian lain yang serupa dilakukan oleh (DT/AMR/2021) menggunakan metode Problem Based Learning (PBL) sebagai solusi untuk menangani permasalahan bullying pada peserta didik tingkat SMP. Dalam penelitiannya, model PBL ini optimal dalam mengatasi perilaku bullying, yang dibuktikan dari kenaikan skor rata-rata pada ujian akhir siklus pertama dan siklus kedua sebesar 13,75, yang dilakukan melalui tahapan-tahapan setiap siklus, termasuk perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi

C. Implementasi Bimbingan Klasikal di Sekolah

Bimbingan Klasikal sebagai suatu layanan Bimbingan dan Konseling yang diberikan kepada peserta didik oleh guru Bimbingan dan Konseling atau Konselor kepada sejumlah peserta didik dalam satuan kelas yang dilaksanakan di dalam kelas (Yuliana et al., 2023). Kegiatan layanan bimbingan klasikal bertujuan membantu peserta didik atau konseli dapat mencapai kemandirian dalam kehidupannya, perkembangan yang utuh dan optimal dalam bidang pribadi, sosial, belajar, dan karir, serta mencapai keselarasan antara pikiran, perasaan dan perilaku.

Rismawati (Khotimah et al., 2023) menjelaskan bahwa dalam memberikan layanan bimbingan klasikal kepada peserta didik, terdapat beberapa ketentuan dalam proses pelaksanaannya yaitu:

1. Sebelum memberikan layanan guru BK memberikan materi yang bertujuan untuk mempengaruhi perkembangan dan pemahaman peserta didik.

2. Materi yang diberikan oleh guru BK berkaitan dengan bimbingan konseling yaitu, bimbingan pribadi, sosial, belajar serta karir.

3. Layanan bimbingan klasikal bertujuan untuk membuat peserta didik mandiri dalam menentukan keputusan.

4. Sebelum bimbingan klasikal diberikan kepada peserta didik terlebih dahulu melewati beberapa langkah.

(10)

7

Apabila keempat ketentuan diatas telah terlaksana dengan baik maka layanan bimbingan klasikal yang diberikan oleh guru BK kepada peserta didik dapat berjalan dengan efektif dan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.

Pelaksanaan layanan Bimbingan klasikal memerlukan perencanaan yang matang agar dapat mencapai tujuan yang diharapkan. Adapun langkah-langkah yang dilakukan Guru BK dalam melaksanakan layanan bimbingan klasikal (Ayuna, Wahyuni and Marjo, 2024) :

1. Perumusan Tujuan Layanan

a. Guru BK terlebih dahulu merumuskan tujuan layanan bimbingan klasikal yang akan diberikan.

b. Layanan diberikan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dalam bimbingan klasikal.

2. Pemilihan Media dan Instrumen

a. Guru BK menentukan media dan instrumen yang akan digunakan, seperti video, permainan, atau angket.

b. Media yang digunakan masih bersifat umum dan belum disesuaikan dengan kebutuhan spesifik siswa dalam kelas.

3. Alokasi Waktu

a. Guru BK jarang menjelaskan alokasi waktu secara rinci dalam layanan bimbingan klasikal.

b. Pelaksanaan layanan berjalan secara mengalir sesuai kenyamanan pribadi Guru BK.

c. Layanan tetap dilaksanakan sesuai jadwal yang telah ditentukan.

4. Penyampaian Hasil yang Diharapkan

a. Guru BK mengemukakan hasil yang diharapkan dari layanan bimbingan klasikal kepada siswa.

b. Siswa diinformasikan mengenai tujuan yang harus dicapai setelah layanan diberikan.

5. Metode dan Kegiatan dalam Layanan

a. Guru BK menggunakan berbagai metode seperti diskusi, menonton video, dan presentasi untuk menarik perhatian siswa.

b. Kegiatan layanan yang diberikan sudah sesuai dengan kebutuhan siswa.

c. Guru BK tidak selalu memberikan petunjuk atau penjelasan sebelum memulai kegiatan layanan.

6. Pengamatan dan Perhatian terhadap Siswa

(11)

8

a. Guru BK mengamati bagaimana siswa mengikuti layanan bimbingan klasikal.

b. Siswa yang kurang memperhatikan diberikan perhatian khusus agar tetap terlibat dalam kegiatan.

c. Guru BK menjadi narasumber utama dalam menyampaikan materi layanan bimbingan klasikal.

7. Evaluasi dan Refleksi

a. Setelah layanan berakhir, Guru BK mengajukan pertanyaan kepada siswa untuk mendapatkan umpan balik terkait pemahaman mereka.

b. Guru BK melakukan refleksi dengan menanyakan kembali kepada siswa setelah layanan selesai.

c. Evaluasi terhadap teknik yang digunakan dalam layanan bimbingan klasikal jarang dilakukan oleh Guru BK.

d. Guru BK mengarahkan siswa agar selalu mengemukakan pendapat dalam setiap sesi layanan bimbingan klasikal.

D. Tantangan dalam Bimbingan Klasikal

Dalam praktik layanan bimbingan klasikal yang mengutamakan kepentingan peserta didik di era kurikulum merdeka ini dapat menggunakan beragam metode dan juga media yang lebih interaktif lagi untuk pelaksanaannya, karena mengingat banyak peserta didik yang tidak begitu tertarik dengan adanya layanan bimbingan dan konseling.

Sehingga, sebagai guru BK perlu menciptakan layanan yang menarik minat mereka untuk mengikutinya. Namun, masih banyak sekolah yang belum mengoptimalkan teknologi dalam pelaksanaannya, dan beberapa bahkan tidak memberikan ruang bagi layanan BK secara maksimal.

Dalam kutipan (Sofyati Halmahera et al., 2024) menyatakan bahwa tantangan yang dihadapi meliputi faktor eksternal, seperti kurangnya koordinasi antara guru BK dan wali kelas, minimnya jam BK, keterbatasan jumlah guru BK dibandingkan dengan peserta didik, serta stigma bahwa BK hanya untuk siswa bermasalah. Tantangan internal mencakup kurangnya pemahaman guru BK terhadap materi layanan, serta rasa tidak percaya diri dalam menyampaikan bimbingan. Keberhasilan bimbingan klasikal tidak bergantung pada seberapa canggih media yang digunakan, tetapi pada efektivitas penyampaian layanan sehingga peserta didik memperoleh pengetahuan dan keterampilan baru yang bermanfaat.

Pemberian layanan bimbingan klasikal menggunakan media audio-visual efektif/berpengaruh untuk meningkatkan kecerdasan emosional siswa. Namun, Penggunaan media audio visual dalam bimbingan klasikal memiliki tantangan yang perlu

(12)

9

diperhatikan. Menurut Smaldino, Lowther, dan Russel dalam kutipan (Dhitya &

Setiyowati, 2024) menyatakan bahwa Salah satu kendala utama adalah keterbatasan sarana dan prasarana, seperti perangkat proyektor, layar, dan speaker, yang dapat menghambat efektivitas penyampaian materi. Selain itu, guru BK harus memiliki keterampilan dalam mengoperasikan perangkat tersebut agar penyajian berjalan lancar dan tidak menimbulkan hambatan teknis. Tantangan lainnya adalah kesesuaian konten media dengan standar etika, norma, dan kurikulum yang berlaku di sekolah. Menurut Ivers dan Barron bahwa Guru BK harus selektif dalam memilih dan mengevaluasi materi agar tidak terjadi penyimpangan yang dapat berdampak negatif pada siswa. Selain itu, keseimbangan antara penggunaan media audio visual dengan metode pembelajaran lainnya juga harus dijaga. Meskipun media ini dapat menarik perhatian siswa, guru BK tetap perlu memfasilitasi diskusi, refleksi, dan aktivitas lain yang mendorong partisipasi aktif dalam proses pembelajaran.

Tantangan dalam bimbingan klasikal mencakup beberapa aspek yang mempengaruhi efektivitas pelaksanaannya. Berikut adalah beberapa tantangan utama:

1. Ketiadaan Jadwal Terjadwal

Bimbingan klasikal sering kali tidak memiliki jadwal yang terjadwal dalam kurikulum sekolah, sehingga pelaksanaannya menjadi fleksibel dan situasional. Guru BK harus beradaptasi dengan kesempatan yang ada, seperti meminta waktu dari guru mata pelajaran atau melaksanakan bimbingan di luar jam sekolah (Fitri & Mairoza, 2024).

2. Keterbatasan Sumber Daya

Keterbatasan sarana dan prasarana, seperti perangkat elektronik, dapat menghambat pelaksanaan bimbingan klasikal. Guru BK harus mencari alternatif, seperti menggunakan papan bimbingan dan konseling, untuk memastikan peserta didik tidak tertinggal materi (D. Della, 2023).

3. Dukungan dari Guru Mata Pelajaran

Dukungan dari guru mata pelajaran seringkali kurang karena persepsi bahwa bimbingan dan konseling bukanlah mata pelajaran. Namun, kerja sama antara guru BK dan guru mata pelajaran dapat membantu mengatasi masalah ini (D. Della, 2023).

4. Minat Peserta Didik

Kurangnya minat peserta didik dalam menerima layanan bimbingan klasikal dapat menjadi tantangan. Guru BK harus mencari cara untuk meningkatkan minat, seperti memberikan layanan secara bergantian indoor dan outdoor (D. Della, 2023).

(13)

10 5. Metode dan Praktik

Tantangan lainnya adalah kurangnya komunikasi antara guru BK dan wali kelas, serta keterbatasan pemahaman tentang metode yang efektif untuk digunakan dalam bimbingan klasikal (D. Della, 2023).

Menghadapi tantangan-tantangan tersebut memerlukan upaya kolaboratif antara konselor, pihak sekolah, orang tua, dan siswa. Peningkatan pemahaman tentang pentingnya bimbingan konseling, penyediaan sumber daya yang memadai, serta inovasi dalam metode penyampaian dapat membantu mengatasi kendala dalam pelaksanaan bimbingan klasikal.

(14)

11 BAB III PENUTUP A. Kesimpulan

Bimbingan klasikal merupakan layanan dasar dalam bimbingan dan konseling di sekolah yang bertujuan untuk membantu peserta didik dalam mencapai perkembangan optimal di bidang pribadi, sosial, akademik, dan karier. Layanan ini bersifat preventif dan pengembangan, sehingga strategi dan metode yang digunakan harus dirancang secara efektif agar dapat memberikan dampak positif bagi siswa.

Berbagai strategi bimbingan klasikal, seperti Probal Roling, Take Action, dan Ngobrol Asyik, memberikan pendekatan inovatif dalam menyampaikan materi bimbingan secara menarik dan interaktif. Selain itu, metode pembelajaran seperti Project-Based Learning (PJBL), Problem-Based Learning (PBL), Cooperative Learning, dan Experiential Learning juga terbukti efektif dalam meningkatkan pemahaman dan keterlibatan peserta didik dalam proses bimbingan. Implementasi layanan bimbingan klasikal di sekolah memerlukan perencanaan yang matang, mulai dari perumusan tujuan, pemilihan media, alokasi waktu, hingga evaluasi hasil yang dicapai oleh siswa.

Namun, dalam pelaksanaannya, terdapat berbagai tantangan yang perlu diatasi, seperti keterbatasan jadwal, kurangnya sumber daya, minimnya dukungan dari guru mata pelajaran, serta rendahnya minat peserta didik terhadap layanan bimbingan. Oleh karena itu, diperlukan inovasi dalam metode penyampaian, pemanfaatan teknologi, serta dukungan dari seluruh pihak terkait agar layanan bimbingan klasikal dapat berjalan efektif dan mencapai tujuan yang diharapkan. Dengan strategi dan metode yang tepat, layanan bimbingan klasikal dapat menjadi instrumen penting dalam membentuk karakter, meningkatkan keterampilan berpikir kritis, serta membimbing siswa dalam menghadapi tantangan akademik dan kehidupan sosial mereka.

B. Saran

Kami menyadari bahwa makalah diatas jauh dari kesempurnaan. Kami akan memperbaiki makalah tersebut dengan berpedoman pada banyak sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. Maka dari itu, kami mengharapkan kritik dan saran mengenai pembahasan makalah dalam kesimpulan diatas.

(15)

12

DAFTAR PUSTAKA

Ayuna, R.S.Q., Wahyuni, F. and Marjo, H.K. (2024) ‘Analisis Kinerja Guru Bk: Pelaksanaan Bimbingan Klasikal Di Sekolah Menengah Kejuruan’, Jurnal Mahasiswa BK An-Nur : Berbeda, Bermakna, Mulia, 10(1), 202.

https://doi.org/10.31602/jmbkan.v10i1.13431.

D. Della, “Problematika pelaksanaan layanan bimbingan klasikal di SMPN 1 Lubuk Besar - IAIN SAS Babel Repository,” Iainsasbabel.ac.id, Juli. 2023, doi:http://repository.iainsasbabel.ac.id/id/eprint/980/1/HALAMAN%20AWAL%20_1 915018.pdf.

Dhitya, G., & Setiyowati, A. J. (2024). Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar Melalui Bimbingan Klasikal Dengan Media Audio Visual: Literatur Review. Jurnal Pembelajaran, Bimbingan, Dan Pengelolaan Pendidikan, 4(7), 2024.

https://doi.org/10.17977/um065.v4.i7.2024.4

Fara, E.L. (2017) ‘Bimbingan Klasikal yang Aktif dan Menyenangkan dalam Layanan dan Bimbingan Konseling’, in. Bandung: CV. Rasi Terbit. 08–16.

Fitri, L., & Mairoza, A. (2024). Tantangan dan Solusi dalam Implementasi Bimbingan Klasikal di Sekolah Program Studi Bimbingan dan Konseling, Universitas Islam Negeri Mahmud. 8, 41549–41554.

Ilham, M., & Rossada, U. D. (2024). PERANAN LAYANAN BIMBINGAN KLASIKAL TEKNIK PROBLEM BASED LEARNING UNTUK MEMBENTUK NILAI KARAKTER KERJA KERAS. Jurnal Bimbingan Konseling dan Psikologi, 4(2), 160- 168.

Khotimah, C. et al. (2023) ‘Implementasi layanan bimbingan klasikal dalam memberikan pemahaman mengenai dampak prokrastinasi akademik’, 1(1). 43–55.

Sofyati Halmahera, A. D., Anisa Dwi Pratanti, Dhika Chelvian Satya Benardy, & Sholikhul Huda. (2024). Pelaksanaan Bimbingan Klasikal yang Berpihak pada Peserta Didik:

Tinjauan Terhadap Metode, Praktik dan Tantangan. Quanta : Jurnal Kajian Bimbingan

Dan Konseling Dalam Pendidikan, 8(2), 149–161.

https://doi.org/10.22460/quanta.v8i2.4767

Sri Murni, Siti Zahra Bulantika, N.L.S. (2020) ‘LAYANAN BIMBINGAN KLASIKAL

DENGAN TEKNIK ROLE PLAYING UNTUK MENINGKATKAN

(16)

13

KEPERCAYAAN DIRI SISWA’, Journal of Guidance and Counseling Inspiration, 01.

69–74.

Yuliana, N. et al. (2023) ‘Membiasakan Perilaku Disiplin Belajar Melalui Bimbingan Klasikal Berbantuan Media Pembelajaran Interaktif’, Annual Guidance and Counseling Academic Forum. 66–73.

Referensi

Dokumen terkait

Pengaruh pembelajaran dengan model kooperatif tipe student teams achievement division (STAD) terhadap kemampuan penalaran dan komunikasi matematik peserta didik di

Kedua, pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Division (STAD) dapat meningkatkan hasil belajar matematika peserta didik baik yang. berkebutuhan khusus

4.1 Perencanaan Pembelajaran Sejarah Dengan Menerapkan Metode Student Teams Achievement Division (STAD) Untuk Meningkatkan Keterampilan Kerjasama Siswa Di Kelas XI IPS 3

Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Student Teams Achievement Division (STAD) .... Hasil Belajar

Rina Khairunnisa, “ Perbandingan Model Pembelajaran GI (Group Investigation) Dengan STAD (Student Teams Achievement Division) Terhadap Hasil Belajar Peserta Didik Pada

Judul Skripsi : Penggunaan Strategi Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD (Student Teams Achievement Division) dalam Meningkatkan Minat Belajar Peserta Didik Pada Mata

Secara umum model pembelajaran kooperatif tipe STAD ( Student Teams Achievement Division ) merupakan model berkelompok yang mengarahkan peserta didik untuk saling

Penerapan Model Student Teams Achievement Division (STAD) berbantuan media gambar untuk meningkatkan hasil belajar siswa kelas IV tema 1 Indahnya Kebersamaan di SD 1