• Tidak ada hasil yang ditemukan

makalah farmakologi klp 8 revisi

N/A
N/A
lilis novitarum

Academic year: 2025

Membagikan "makalah farmakologi klp 8 revisi"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH

EVALUASI ALASAN MENGAPA PASIEN NON ADHERENT DENGAN TREAMENT OBAT

Dosen Pengampu:

Dr Lilis Novitarum S.Kep., Ns., M.Kep

DISUSUN OLEH:

1

. Chesya Sembiring (032024116) 2. Geby Sitorus (032024113) 3. Milka Ginting (032024114) 4. Jojor Pardede (032024112) 5. Jeremy Pardede (03024115)

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN

SANTA ELISABETH T.A 2024/2025

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan atas hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan hikmatnya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah tentang “EVALUASI ALASAN MENGAPA PASIEN NON ADHERENT DENGANTREATMEN OBAT”. Terima kasih juga saya ucapkan kepada dosen pembimbing yang selalu memberikan dukungan dan bimbingannya pada kami. Sehingga kami dapat membuat makalah ini, dengan tujuan untuk memenuhi nilai tugas Pendidikan.

Saya berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa didalam makalah kami ini terdapat kekurangan dan jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu kami berharap adanya kritik, saran dan ususlan demi perbaikan makalah yang akan kami buat dimasa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun.

Sekiranya makalah yang telah disusun ini dapat berguna bagi kami sendiri maupun orang yang membacanya. Sebelumnya kami mohon maaf jika ada terdapat kesalahan kata-kata yang kurang berkenan dan saya memohon kritik saran yang membangun demi perbaikan dimasa depan.

Medan, 10 Maret 2025

Kelompok 8

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR……….…1

DAFTAR ISI………...….2

BAB 1 PENDAHULUAN………....3

1.1 Latar Belakang……….3

1.2 Rumusan Masalah………4

1.3 Tujuan………..4

BAB 2 PEMBAHASAN………..5

2.1 Pengantar Non-Adherent dengan Treatment Obat………..5

2.2 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Non-Adherent dengan Treatment………..7

2.3 Alasan Mengapa Pasien Non-Adherent dengan Treatment Obat………9

2.4 Strategi untuk Meningkatkan Adherence Pasien dengan Treatment Obat………14

2.5 Pengaruh Non-Adherent dengan Treatment Obat pada Hasil Pengobatan………15

2.6 Kasus-Kasus Non-Adherent dengan Treatment Obat………17

BAB 3 PENUTUP…………..………20

3.1 Kesimpulan………20

3.2 Saran……..………21

DAFTAR PUSTAKA………....22

(4)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pasien non-adherent dengan treatment obat merupakan masalah kesehatan yang serius dan dapat menyebabkan berbagai konsekuensi negatif, termasuk penurunan kualitas hidup, peningkatan biaya kesehatan, dan peningkatan risiko kematian. Menurut World Health Organization (WHO), sekitar 50% pasien dengan penyakit kronis tidak mengikuti treatment obat yang diresepkan oleh dokter (WHO, 2021). Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai faktor, termasuk kurangnya pengetahuan tentang penyakit dan pengobatan, kurangnya motivasi, efek samping obat, biaya pengobatan, dan keterbatasan akses ke fasilitas kesehatan. Oleh karena itu, penting untuk memahami faktor-faktor yang menyebabkan pasien non-adherent dengan treatment obat dan untuk membahas strategi yang dapat digunakan untuk meningkatkan adherensi pasien

Pasien non-adherent dengan treatment obat juga dapat menyebabkan peningkatan risiko komplikasi penyakit, seperti peningkatan tekanan darah, peningkatan kadar gula darah, dan peningkatan risiko infeksi (Kardas & Devine, 2021). Selain itu, pasien non-adherent dengan treatment obat juga dapat menyebabkan peningkatan biaya kesehatan, karena pasien harus

(5)

melakukan pengobatan ulang atau melakukan prosedur medis yang lebih kompleks (Osterberg

& Blaschke, 2021).

Oleh karena itu, penting untuk memahami faktor-faktor yang menyebabkan pasien non- adherent dengan treatment obat dan untuk membahas strategi yang dapat digunakan untuk meningkatkan adherensi pasien. Dengan demikian, dapat diharapkan bahwa pasien dapat mengikuti treatment obat yang diresepkan oleh dokter dan dapat mencapai hasil pengobatan yang lebih baik.

1.2 Rumusan Masalah

1. Pengantar non adherent dengan treatment obat?

2. Faktor faktor yang menpengaruhi non adherent dengan treatment obat?

3. Alasan mengapa pasien non adherent dengan treatment obat?

4.Strategi untuk meningkatkan non adherent dengan treatment obat?

5.Pengaruh non adherent dengan treatment obat?

6. Kasus-kasus non adherent dengan treatment obat?

1.3 Tujuan

1. Untuk mengetahui pengantar non adherent dengan treatment obat

2. Untuk mengetahui apa saja factor-faktor yang mempengaruhi non adherent dengan treatment obat

3. Untuk mengetahui alasan pasien non adherent dengan treatment obat 4. Untuk mengetahui strategi pasien non adherent dengan treatment obat

(6)

5. Untuk mempengaruhi non adherent dengan treatment obat 6 Mengetahui kasus-kasus non adherent dengan treatment obat

BAB 2 PEMBAHASAN

2.1 Pengantar non adherent dengan treatment obat

Non-adherent dengan treatment obat adalah suatu fenomena yang umum terjadi dalam praktik kesehatan. Pasien yang tidak mengikuti pengobatan yang diresepkan oleh dokter dapat memiliki dampak yang signifikan pada hasil pengobatan, termasuk pengobatan yang tidak efektif, penyakit yang tidak terkendali, dan biaya kesehatan yang lebih tinggi.

A. Definisi Non-Adherent dengan Treatment Obat

Non-adherent dengan treatment obat adalah kegagalan pasien untuk mengikuti pengobatan yang diresepkan oleh dokter, termasuk:

1.Tidak mengambil obat sesuai dengan petunjuk dokter 2. Tidak mengikuti jadwal pengobatan yang diresepkan 3. Tidak mengikuti dosis obat yang diresepkan

4.Berhenti mengambil obat sebelum waktu yang diresepkan

(7)

Kriteria Non-Adherent

1.Pasien tidak mengambil obat lebih dari 20% dari total dosis yang diresepkan

2.Pasien tidak mengikuti jadwal pengobatan yang diresepkan lebih dari 20% dari total waktu pengobatan

3.Pasien berhenti mengambil obat sebelum waktu yang diresepkan

B.Prevalensi non-adherent dengan treatment obat bervariasi tergantung pada kondisi kesehatan dan populasi pasien. Berikut beberapa contoh:

 Pasien Lanjut Usia: Prevalensi non-adherent pada pasien lanjut usia dengan kondisi kronis mencapai 65,53% ¹.

 Pasien Lupus Eritematosus Sistemik: Prevalensi non-adherent pada pasien lupus eritematosus sistemik mencapai 44% ² ³.

 Pasien Antihipertensi: Prevalensi non-adherent pada pasien antihipertensi mencapai 67-72%

Faktor-faktor yang berhubungan dengan non-adherent antara lain:

 Kurangnya Pengetahuan: Kurangnya pengetahuan tentang penyakit dan pengobatan dapat menyebabkan non-adherent

 Kurangnya Motivasi: Kurangnya motivasi untuk mengikuti pengobatan dapat menyebabkan non-adherent

C. Dampak Non-Adherent dengan Treatment Obat pada Hasil Pengobatan

1.Pengobatan yang Tidak Efektif: Non-adherent dengan treatment obat dapat menyebabkan pengobatan yang tidak efektif, sehingga penyakit tidak dapat terkendali.

2. Penyakit yang Tidak Terkendali: Non-adherent dengan treatment obat dapat menyebabkan penyakit yang tidak terkendali, sehingga dapat menyebabkan komplikasi yang lebih serius.

(8)

3. Biaya Kesehatan yang Lebih Tinggi: Non-adherent dengan treatment obat dapat menyebabkan biaya kesehatan yang lebih tinggi, karena pasien harus melakukan pengobatan yang lebih lama atau lebih intensif.

4. Kualitas Hidup yang Menurun: Non-adherent dengan treatment obat dapat menyebabkan kualitas hidup yang menurun, karena pasien harus mengalami gejala penyakit yang lebih serius.

2.2 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Non-Adherent dengan Treatment Obat A. Faktor pasien (misalnya, usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan)

i. Usia: Usia pasien dapat mempengaruhi kemampuan untuk memahami informasi kesehatan dan mengikuti saran kesehatan.

ii. Jenis Kelamin: Jenis kelamin pasien dapat mempengaruhi kebutuhan akan informasi kesehatan dan saran kesehatan.

iii. Tingkat Pendidikan: Tingkat pendidikan pasien dapat mempengaruhi kemampuan untuk memahami informasi kesehatan dan mengikuti saran kesehatan.

iv. Status Sosial Ekonomi: Status sosial ekonomi pasien dapat mempengaruhi kemampuan untuk mengakses layanan kesehatan dan mengikuti saran kesehatan.

 Faktor Psikologis Pasien

a) Motivasi: Motivasi pasien untuk mengikuti saran kesehatan dan mengubah perilaku kesehatan.

b) Persepsi: Persepsi pasien tentang kesehatan dan penyakit dapat mempengaruhi kemampuan untuk memahami informasi kesehatan dan mengikuti saran kesehatan.

c) Kepribadian: Kepribadian pasien dapat mempengaruhi kemampuan untuk mengikuti saran kesehatan dan mengubah perilaku kesehatan.

 Faktor Fisik Pasien

(9)

1.Kondisi Fisik: Kondisi fisik pasien dapat mempengaruhi kemampuan untuk mengikuti saran kesehatan dan mengubah perilaku kesehatan.

2.Penyakit Kronis: Penyakit kronis yang diderita pasien dapat mempengaruhi kemampuan untuk mengikuti saran kesehatan dan mengubah perilaku kesehatan.

B. Faktor Dokter

a).Komunikasi: Kemampuan dokter untuk berkomunikasi efektif dengan pasien dapat mempengaruhi kepercayaan pasien dan kemampuan untuk mengikuti saran kesehatan.

b).Empati: Kemampuan dokter untuk menunjukkan empati dan memahami kebutuhan pasien dapat mempengaruhi kepuasan pasien dan kemampuan untuk mengikuti saran kesehatan.

c).Kemampuan Teknis: Kemampuan dokter untuk melakukan prosedur medis dengan benar dapat mempengaruhi kepercayaan pasien dan kemampuan untuk mengikuti saran kesehatan.

d).Pengalaman: Pengalaman dokter dalam menangani pasien dapat mempengaruhi kemampuan untuk mengikuti saran kesehatan dan kepuasan pasien.

C.Faktor Sistem Kesehatan

1. Biaya Pengobatan: Biaya pengobatan yang tinggi dapat mempengaruhi kemampuan pasien untuk mengakses layanan kesehatan. (Sumber: WHO, 2019)

2. Akses ke Fasilitas Kesehatan: Akses ke fasilitas kesehatan yang terbatas dapat mempengaruhi kemampuan pasien untuk mengakses layanan kesehatan.

3. Ketersediaan Sumber Daya Manusia: Ketersediaan sumber daya manusia yang terbatas dapat mempengaruhi kemampuan sistem kesehatan untuk menyediakan layanan kesehatan yang berkualitas.

4. Ketersediaan Teknologi Kesehatan: Ketersediaan teknologi kesehatan yang terbatas dapat mempengaruhi kemampuan sistem kesehatan untuk menyediakan layanan kesehatan yang berkualitas.

(10)

5. Kebijakan Kesehatan: Kebijakan kesehatan yang tidak mendukung promosi kesehatan dapat mempengaruhi kemampuan sistem kesehatan untuk menyediakan layanan kesehatan yang berkualitas.

2.3 Alasan Mengapa Pasien Non-Adherent dengan Treatment Obat a. Kurangnya pengetahuan tentang penyakit dan pengobatan penyakit

1. Definisi: Penyakit adalah kondisi yang tidak normal pada tubuh yang dapat menyebabkan gejala dan tanda-tanda tertentu.

2. Jenis Penyakit: Penyakit dapat dibagi menjadi beberapa jenis, seperti penyakit infeksi, penyakit tidak menular, dan penyakit mental.

3. Gejala dan Tanda-Tanda: Gejala dan tanda-tanda penyakit dapat berbeda-beda tergantung pada jenis penyakit dan individu yang terkena.

 Pengobatan

1. Definisi: Pengobatan adalah proses untuk mengobati penyakit atau kondisi yang tidak normal pada tubuh.

2. Jenis Pengobatan: Pengobatan dapat dibagi menjadi beberapa jenis, seperti pengobatan medis, pengobatan bedah, dan pengobatan alternatif.

3. Obat-Obatan: Obat-obatan dapat digunakan untuk mengobati penyakit atau kondisi yang tidak normal pada tubuh.

(11)

b. Kurangnya Motivasi

Kurangnya motivasi dapat menyebabkan seseorang tidak memiliki keinginan atau dorongan untuk melakukan perubahan perilaku yang sehat, seperti:

1. Tidak memiliki tujuan yang jelas: Kurangnya tujuan yang jelas dapat membuat seseorang tidak memiliki motivasi untuk melakukan perubahan perilaku.

2. Tidak memiliki dukungan: Kurangnya dukungan dari orang lain dapat membuat seseorang tidak memiliki motivasi untuk melakukan perubahan perilaku.

3. Tidak memiliki pengetahuan: Kurangnya pengetahuan tentang kesehatan dan penyakit dapat membuat seseorang tidak memiliki motivasi untuk melakukan perubahan perilaku.

4. Tidak memiliki kemampuan: Kurangnya kemampuan untuk melakukan perubahan perilaku dapat membuat seseorang tidak memiliki motivasi.

 Dampak Kurangnya Motivasi

Kurangnya motivasi dapat memiliki dampak negatif pada kesehatan, seperti:

1. Tidak melakukan perubahan perilaku: Kurangnya motivasi dapat membuat seseorang tidak melakukan perubahan perilaku yang sehat.

2. Tidak mengikuti saran kesehatan: Kurangnya motivasi dapat membuat seseorang tidak mengikuti saran kesehatan dari tenaga kesehatan.

3. Meningkatkan risiko penyakit: Kurangnya motivasi dapat meningkatkan risiko penyakit karena tidak melakukan perubahan perilaku yang sehat.

 Meningkatkan Motivasi

Berikut adalah beberapa cara untuk meningkatkan motivasi:

a) Menetapkan tujuan yang jelas: Menetapkan tujuan yang jelas dapat membantu meningkatkan motivasi.

(12)

b) Mencari dukungan: Mencari dukungan dari orang lain dapat membantu meningkatkan motivasi.

c) Meningkatkan pengetahuan: Meningkatkan pengetahuan tentang kesehatan dan penyakit dapat membantu meningkatkan motivasi.

d).meningkatkan kemampuan: Meningkatkan kemampuan untuk melakukan perubahan perilaku dapat membantu meningkatkan motivas

B.efek samping obat Definisi Efek Samping Obat

Efek samping obat adalah reaksi yang tidak diinginkan yang terjadi setelah mengonsumsi obat.

 Jenis Efek Samping Obat

a) Efek samping obat dapat dibagi menjadi beberapa jenis, seperti:

b) Efek samping ringan (misalnya, sakit kepala, mual) c) Efek samping sedang (misalnya, diare, konstipasi)

d) Efek samping berat (misalnya, reaksi alergi, kerusakan hati)

 Faktor yang Mempengaruhi Efek Samping Obat

a) Faktor yang mempengaruhi efek samping obat, seperti:

b) Dosis obat

c) Lama penggunaan obat d) Interaksi dengan obat lain

(13)

e) Kondisi kesehatan individu

 Contoh Efek Samping Obat

Faktor yang Mempengaruhi Efek Samping Obat

Faktor yang mempengaruhi efek samping obat, seperti:

Dosis obat

i. Lama penggunaan obat ii. Interaksi dengan obat lain iii. Kondisi kesehatan individu

 Contoh Efek Samping Obat Contoh efek samping obat, seperti:

1.Obat anti-inflamasi nonsteroid (OAINS) dapat menyebabkan efek samping seperti sakit perut, diare, dan konstipasi.

2.Obat anti-depresi dapat menyebabkan efek samping seperti sakit kepala, mual, dan insomnia.

 Cara Mengurangi Efek Samping Obat

a) Cara mengurangi efek samping obat, seperti:

b) Mengikuti dosis obat yang diresepkan oleh dokter

c) Menginformasikan dokter tentang kondisi kesehatan individu d) Menghindari interaksi dengan obat lain

e) Menggunakan obat dengan hati-hati dan sesuai dengan petunjuk dokter

C.biaya pengobatan yang mahal:

(14)

Definisi Biaya Pengobatan

Biaya pengobatan adalah biaya yang dikeluarkan untuk mengobati penyakit atau kondisi kesehatan.

 Faktor yang Mempengaruhi Biaya Pengobatan

Berikut adalah beberapa faktor yang mempengaruhi biaya pengobatan:

1. Jenis Penyakit: Biaya pengobatan dapat dipengaruhi oleh jenis penyakit yang diderita.

2. Tingkat Keparahan Penyakit: Biaya pengobatan dapat dipengaruhi oleh tingkat keparahan penyakit.

3. Jenis Pengobatan: Biaya pengobatan dapat dipengaruhi oleh jenis pengobatan yang dipilih.

4. Lokasi Pengobatan: Biaya pengobatan dapat dipengaruhi oleh lokasi pengobatan.

 Dampak Biaya Pengobatan yang Mahal

Berikut adalah beberapa dampak biaya pengobatan yang mahal:

1. Keterlambatan Pengobatan: Biaya pengobatan yang mahal dapat menyebabkan keterlambatan pengobatan.

2. Penurunan Kualitas Hidup: Biaya pengobatan yang mahal dapat menyebabkan penurunan kualitas hidup.

3. Kemiskinan: Biaya pengobatan yang mahal dapat menyebabkan kemiskinan.

 Cara Mengatasi Biaya Pengobatan yang Mahal

Berikut adalah beberapa cara mengatasi biaya pengobatan yang mahal:

1. Asuransi Kesehatan: Asuransi kesehatan dapat membantu mengatasi biaya pengobatan yang mahal.

2. Program Bantuan Kesehatan: Program bantuan kesehatan dapat membantu mengatasi biaya pengobatan yang mahal.

(15)

3. Pengobatan Alternatif: Pengobatan alternatif dapat membantu mengatasi biaya pengobatan yang mahal.

2.4 Strategi untuk Meningkatkan Non Adherent Pasien dengan Treatment Obat A.Pendidikan pasien

1. Pendidikan pasien sangat penting untuk meningkatkan adherence. Pasien perlu memahami tentang penyakitnya, tujuan treatment, dan cara menggunakannya dengan benar. Pendidikan pasien dapat dilakukan melalui:

I. Konseling individu II. Kelompok pendidikan III. Bahan pendidikan tertulis IV. Media elektronik

2. Komunikasi yang Efektif Antara Pasien dan Dokter

Komunikasi yang efektif antara pasien dan dokter sangat penting untuk meningkatkan adherence. Dokter perlu:

i. Berbicara dengan jelas dan sederhana ii. Mendengarkan kekhawatiran pasien iii. Menjawab pertanyaan pasien

iv. Membuat rencana treatment yang jelas dan dapat dipahami

3. Penggunaan Teknologi

Penggunaan teknologi dapat membantu meningkatkan adherence. Contohnya:

i. Aplikasi pengingat obat ii. Sistem pengingat SMS iii. Perangkat pengingat obat iv. Aplikasi pendidikan pasien

4. Dukungan dari Keluarga dan Masyarakat

(16)

Dukungan dari keluarga dan masyarakat sangat penting untuk meningkatkan adherence.

Pasien perlu:

i. Menerima dukungan emosional dari keluarga dan teman ii. Menerima bantuan praktis dari keluarga dan teman iii. Bergabung dengan kelompok pendukung pasien iv. Menerima dukungan dari masyarakat

2.5 Pengaruh Non-Adherent dengan Treatment Obat 1. Pengaruh pada Hasil Pengobatan Jangka Pendek

Non-adherent dengan treatment obat dapat mempengaruhi hasil pengobatan jangka pendek, seperti:

a) Penyakit tidak terkendali b) Gejala tidak berkurang c) Kualitas hidup menurun d) Risiko komplikasi meningkat

Contoh: Pasien dengan diabetes yang tidak mengikuti rencana treatment obat dapat mengalami peningkatan kadar gula darah, yang dapat menyebabkan komplikasi seperti kerusakan ginjal atau mata.

2. Pengaruh pada Hasil Pengobatan Jangka Panjang

Non-adherent dengan treatment obat dapat mempengaruhi hasil pengobatan jangka panjang, seperti:

(17)

a) Penyakit menjadi lebih parah b) Risiko komplikasi meningkat

c) Kualitas hidup menurun secara signifikan d) Umur hidup menurun

Contoh: Pasien dengan hipertensi yang tidak mengikuti rencana treatment obat dapat mengalami peningkatan tekanan darah, yang dapat menyebabkan komplikasi seperti serangan jantung atau stroke.

3. Pengaruh pada Biaya Pengobatan

Non-adherent dengan treatment obat dapat mempengaruhi biaya pengobatan, seperti:

a. Biaya pengobatan yang lebih tinggi b. Biaya rawat inap yang lebih lama

c. Biaya pengobatan komplikasi yang lebih tinggi d. Biaya pengobatan yang tidak efektif

Contoh: Pasien dengan asma yang tidak mengikuti rencana treatment obat dapat mengalami serangan asma yang lebih sering, yang dapat menyebabkan biaya pengobatan yang lebih tinggi.

Dengan demikian, non-adherent dengan treatment obat dapat memiliki pengaruh yang signifikan pada hasil pengobatan, baik jangka pendek maupun jangka panjang, serta biaya pengobatan.

(18)

2.6 Kasus-Kasus Non-Adherent dengan Treatment Obat 1. Kasus Pasien dengan Penyakit Kronis

Pasien dengan penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi, dan penyakit jantung seringkali mengalami kesulitan dalam mengikuti rencana treatment obat Contoh:

1) Pasien diabetes yang tidak mengikuti rencana diet dan olahraga, sehingga kadar gula darahnya tidak terkendali.

2) Pasien hipertensi yang tidak mengikuti rencana treatment obat, sehingga tekanan darahnya tidak terkendali.

2. Kasus Pasien dengan Penyakit Infeksi

Pasien dengan penyakit infeksi seperti tuberculosis dan HIV/AIDS seringkali mengalami kesulitan dalam mengikuti rencana treatment obat. Contoh:

1) Pasien tuberculosis yang tidak mengikuti rencana treatment obat, sehingga penyakitnya tidak terkendali dan dapat menular ke orang lain.

2) Pasien HIV/AIDS yang tidak mengikuti rencana treatment obat, sehingga virusnya tidak terkendali dan dapat menular ke orang lain.

3.Kasus Pasien dengan Penyakit Mental

Pasien dengan penyakit mental seperti depresi dan skizofrenia seringkali mengalami kesulitan dalam mengikuti rencana treatment obat. Contoh:

1).Pasien depresi yang tidak mengikuti rencana treatment obat, sehingga gejala depresinya tidak terkendali dan dapat memburuk.

2).Pasien skizofrenia yang tidak mengikuti rencana treatment obat, sehingga gejala skizofrenianya tidak terkendali dan dapat memburuk.

 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Non-Adherent

Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi non-adherent dengan treatment obat antara lain:

(19)

1) Kurangnya pengetahuan tentang penyakit dan treatment obat 2) Kurangnya motivasi untuk mengikuti rencana treatment obat 3) Kesulitan dalam mengakses treatment obat

4) Efek samping obat yang tidak diinginkan

5) Kurangnya dukungan dari keluarga dan masyarakat

Dengan memahami kasus-kasus non-adherent dengan treatment obat, kita dapat mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi non-adherent dan mengembangkan strategi untuk meningkatkan adherensi pasien.

Berikut adalah contoh kasus HIV dan faktor-faktor yang terkait:

Kasus

Seorang pasien laki-laki berusia 30 tahun yang terdiagnosis HIV positif. Pasien ini telah mendapatkan pengobatan antiretroviral (ARV) selama 6 bulan, namun tidak patuh dalam mengonsumsi obat-obatan tersebut. Akibatnya, pasien ini mengalami peningkatan viral load dan penurunan CD4.

Faktor Penyebab

1. Kurangnya pengetahuan tentang HIV dan ARV: Pasien tidak memahami pentingnya pengobatan ARV dan bagaimana cara menggunakannya dengan benar.

2. Stigma dan diskriminasi: Pasien merasa malu dan takut untuk mengungkapkan status HIV-nya kepada keluarga dan teman-teman.

3. Ketergantungan pada alkohol dan narkoba: Pasien memiliki riwayat ketergantungan pada alkohol dan narkoba, yang dapat mempengaruhi kemampuan untuk mengonsumsi obat-obatan dengan benar.

4. Kurangnya dukungan sosial: Pasien tidak memiliki dukungan sosial yang cukup dari keluarga dan teman-teman untuk membantu mengatasi masalah kesehatannya.

(20)

Tujuan

1. Meningkatkan pengetahuan pasien tentang HIV dan ARV: Meningkatkan pengetahuan pasien tentang pentingnya pengobatan ARV dan bagaimana cara menggunakannya dengan benar.

2. Mengurangi stigma dan diskriminasi: Mengurangi stigma dan diskriminasi terhadap pasien HIV dengan meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat tentang HIV.

3. Meningkatkan kemampuan pasien untuk mengonsumsi obat-obatan dengan benar:

Meningkatkan kemampuan pasien untuk mengonsumsi obat-obatan dengan benar dengan memberikan dukungan dan bimbingan.

Pengertian

1. HIV: Human Immunodeficiency Virus, yaitu virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh manusia.

2. ARV: Antiretroviral, yaitu pengobatan yang digunakan untuk mengobati HIV.

3. Adherensi: Kemampuan pasien untuk mengonsumsi obat-obatan dengan benar dan konsisten.

Solusi

1. Pendidikan kesehatan: Memberikan pendidikan kesehatan kepada pasien tentang pentingnya pengobatan ARV dan bagaimana cara menggunakannya dengan benar.

2. Dukungan sosial: Memberikan dukungan sosial kepada pasien untuk membantu mengatasi masalah kesehatannya.

3. Pengawasan dan evaluasi: Mengawasi dan mengevaluasi kemampuan pasien untuk mengonsumsi obat-obatan dengan benar.

Program

1. Program Pendidikan Kesehatan: Program yang dirancang untuk memberikan pendidikan kesehatan kepada pasien tentang pentingnya pengobatan ARV dan bagaimana cara menggunakannya dengan benar.

(21)

2. Program Dukungan Sosial: Program yang dirancang untuk memberikan dukungan sosial kepada pasien untuk membantu mengatasi masalah kesehatannya.

Nama Program

1. Program "HIV-Aware": Program yang dirancang untuk memberikan pendidikan kesehatan kepada pasien tentang pentingnya pengobatan ARV dan bagaimana cara menggunakannya dengan benar.

2. Program "Dukungan Sosial untuk Pasien HIV": Program yang dirancang untuk memberikan dukungan sosial kepada pasien untuk membantu mengatasi masalah kesehatannya.

BAB 3

PENUTUPAN

3.1 KESIMPULAN

ketidakpatuhan (non-adherence) pasien terhadap pengobatan merupakan masalah kompleks yang dipengaruhi oleh berbagai faktor. Faktor utama yang menyebabkan pasien tidak patuh terhadap terapi obat meliputi aspek individu, sosial-ekonomi, tenaga kesehatan, serta karakteristik obat itu sendiri.

Dari sisi pasien, kurangnya pemahaman tentang penyakit, ketakutan terhadap efek samping, serta masalah psikologis seperti stres dan depresi sering menjadi penyebab utama. Faktor sosial dan ekonomi, seperti keterbatasan biaya dan kurangnya dukungan keluarga, juga turut mempengaruhi tingkat kepatuhan. Selain itu, keterbatasan komunikasi antara pasien dan tenaga kesehatan serta kompleksitas regimen obat yang sulit diikuti dapat memperburuk tingkat kepatuhan pasien.

(22)

Untuk meningkatkan kepatuhan pasien terhadap pengobatan, diperlukan pendekatan holistik yang melibatkan edukasi pasien, penggunaan teknologi untuk pengingat jadwal minum obat, peningkatan komunikasi antara pasien dan tenaga kesehatan, serta penyederhanaan regimen terapi jika memungkinkan. Dengan upaya ini, diharapkan tingkat kepatuhan pasien terhadap terapi obat dapat meningkat, sehingga efektivitas pengobatan dapat lebih optimal dan hasil kesehatan pasien menjadi lebih baik.

3.2 SARAN

ketidakpatuhan (non-adherence) pasien terhadap pengobatan, beberapa langkah dapat dilakukan untuk meningkatkan kepatuhan pasien, yaitu:

Edukasi Pasien – Tingkatkan pemahaman pasien tentang pentingnya kepatuhan terhadap pengobatan melalui informasi yang jelas dan mudah dipahami.

Komunikasi yang Lebih Baik – Tenaga kesehatan perlu memastikan pasien memahami instruksi pengobatan dan dapat berdiskusi mengenai kendala yang dihadapi.

Dukungan Keluarga – Libatkan keluarga dalam membantu pasien agar lebih disiplin dalam menjalani terapi obat.

Penggunaan Teknologi – Manfaatkan aplikasi pengingat atau telemedicine untuk membantu pasien mengingat jadwal minum obat.

Penyederhanaan Regimen Obat – Jika memungkinkan, gunakan terapi yang lebih sederhana dan mudah diikuti pasien.

Aksesibilitas Obat dan Layanan Kesehatan – Pastikan obat lebih terjangkau dan mudah didapatkan untuk mengurangi hambatan ekonomi pasien.

(23)

DAFTAR PUSTAKA

World Health Organization. (2021). Adherence to Long-Term Therapies: Evidence for Action. Diakses dari https://www.who.int/publications/i/item/adherence-to-long- term-therapies-evidence-for-action

American Heart Association (AHA). (2017). Adherence to Cardiovascular Medications.

National Institute of Health (NIH). (2020). Medication Adherence

Journal of Clinical Pharmacology: "Defining and Measuring Medication Adherence"

(2013)

American Journal of Health-System Pharmacy: "Medication Adherence: A Review of the Literature" (2015)

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2019). Pedoman Pengobatan Penyakit.

Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (2019). Laporan Riset Kesehatan Dasar 2019.

(24)

Journal of General Internal Medicine (2018). The Impact of Physician Empathy on Patient Satisfaction and Adherence

Journal of Medical Education (2019). The Relationship Between Physician Experience and Patient Satisfaction.

Referensi

Dokumen terkait