• Tidak ada hasil yang ditemukan

makalah farmakologi kebidana poltekkes

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "makalah farmakologi kebidana poltekkes "

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kehamilan merupakan proses fisiologi yang perlu dipersiapkan oleh wanita dari pasangan subur agar dapat dilalui dengan aman. Selama masa kehamilan, ibu dan janin adalah unit fungsi yang tak terpisahkan. Kesehatan ibu hamil adalah persyaratan penting untuk fungsi optimal dan perkembangan kedua bagian unit tersebut.

Selama kehamilan, seorang ibu dapat mengalami berbagai keluhan atau gangguan kesehatan yang membutuhkan obat. Penggunaan obat pada Ibu hamil dapat beresiko bagi ibu hamil dan janin.Banyak ibu hamil menggunakan obat dan suplemen pada periode organogenesis sedang berlangsung sehingga risiko terjadi cacat janin lebih besar. Sedangkan kebanyakan obat yang dipasarkan tidak diteliti efek sampingnya kepada Ibu hamil dan janin.

Beberapa obat yang dapat melintasi plasenta, maka penggunaan obat pada wanita hamil perlu berhati-hati. Dalam plasenta obat mengalami proses biotransformasi, mungkin sebagai upaya perlindungan dan dapat terbentuk senyawa antara yang reaktif, yang bersifat teratogenik/dismorfogenik. Obat-obat teratogenik atau obat-obat yang dapat menyebabkan terbentuknya senyawa teratogenik dapat merusak janin dalam pertumbuhan.

Jadi harus diingat bahwa obat yang diberikan selama kehamilan harus untuk kepentingan ibu tanpa menghasilkan komplikasi yang tidak diinginkan. Beberapa obat dapat memberi risiko bagi kesehatan ibu, dan dapat memberi efek pada janin juga. Selama trimester pertama, obat dapat menyebabkan cacat lahir (teratogenesis), dan risiko terbesar adalah kehamilan 3-8 minggu. Selama trimester kedua dan ketiga, obat dapat mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan secara fungsional pada janin atau dapat meracuni plasenta.

(2)

Dengan demikian, perlu pemahaman yang baik mengenai obat apa saja yang relatif tidak aman hingga harus dihindari selama kehamilan ataupun menyusui agar tidak merugikan ibu dan janin yang dikandung ataupun bayinya.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang di atas maka permasalahan yang akan dibahas dalam makalah ini adalah:

1. Apa pengertian obat kategori C untuk ibu hamil?

2. Jelaskan 10 obat yang termasuk kategori C untuk ibu hamil? 3. Apa nama zat aktif obat?

4. Apa nama dagang obat? 5. Apa indikasi pemakaian obat? 6. Apa kontraindikasi pemakaian obat? 7. Apa efek samping obat?

8. Apa peringatan penggunaan obat? 9. Berapa dosis obat yang diperlukan?

C. TUJUAN PENULISAN

1. Untuk mengetahui apa saja obat kategori C untuk ibu hamil.

2. Untuk mengetahui nama zat aktif, nama dagang, indikasi, kontraindikasi, efek samping obat, peringatan, dosis obat kategori C untuk ibu hamil.

(3)

BAB II PEMBAHASAN

A. Pengertian Obat Kategori C

Obat Kategori C: adalah golongan obat yang pada studi terhadap sistem reproduksi binatang percobaan menunjukkan adanya efek samping bagi janin. Sedangkan pada wanita hamil belum ada study terkontrol. Obat golongan ini hanya dapat dipergunakan jika manfaatnya lebih besar ketimbang resiko yang mungkin terjadi pada janin.

B. Contoh Obat Kategori C

1. Ketoconazole (KEE toe KON a zole)

a. Nama zat aktif : Ketoconazole (KEE toe KON a zole)

b. Nama dagang : Nizoral, anfuhex, cidaral, dermaral, dysfungal, fexazol, formyco, funet, fungasol, grazol, interzol, ketoconazole, ketomed, muzoral, mycoderm, mycoral, mycozid, nizol, omegzole, profungal, pronazol, solinfec, thicazol, tokasid, wizol, zoloral, zoralin.

c. Indikasi :

1) Mengobati infeksi jamur 2) Mengatasi ketombe d. Kontraindikasi :

1) Jangan menggunakan obat ini untuk pasien yang memiliki gangguan hati dan pasien yang sedang diterapi dengan terfenadin atau astemizol.

2) Tidak boleh digunakan untuk meningitis karena jamur.

3) Jangan menggunakan obat ini untuk pasien yang memiliki riwayat hipersensitif pada ketoconazole atau obat golongan imidazole lainnya.

4) Pemberian secara oral tidak untuk infeksi superfisial.

(4)

e. Efek samping : 1) Mual. 2) Diare. 3) Sakit kepala. 4) Sakit perut. 5) Biduran.

6) Trombositopenia. 7) Demam.

8) Mengigil.

9) Ruam atau iritasi kulit. 10) Sensitif terhadap cahaya.

11) Sensasi terbakar atau perih pada kulit. f. Peringatan :

1) Bagi wanita yang merencanakan kehamilan dan sedang hamil, berkonsultasilah dengan dokter terlebih dahulu sebelum menggunakan ketoconazole. Sedangkan ibu menyusui dilarang menggunakan obat ini.

2) Penting bagi pasien untuk menggunakan obat ini sesuai jangka waktu yang disarankan oleh dokter guna memastikan jamur penyebab infeksi musnah seluruhnya, serta mencegahnya tumbuh kembali.

3) Ketoconazole oles hanya boleh digunakan sebagai obat luar. Jangan mengoleskannya pada kulit yang luka, tergores, atau terbakar.

4) Harap berhati-hati jika menderita detak jantung yang tidak teratur (aritmia), alergi terhadap obat antijamur lain, gangguan hati, kadar tertosteron yang rendah, gangguan kelenjar adrenal, serta asam lambung yang rendah.

5) Hindari konsumsi minuman keras selama menggunakan ketoconazole oral karena dapat meningkatkan risiko gangguan hati.

6) Selama menggunakan ketoconazole, beri tahu dokter sebelum menjalani pengobatan medis apa pun.

(5)

1) Takaran ketoconazole tergantung pada jenis infeksi, tingkat keparahannya, serta bentuk obat yang diberikan.

2) Krim dan sampo ketoconazole yang disarankan adalah dengan kandungan 2%. Krim ketoconazole umumnya dioleskan sebanyak 1-2 kali sehari pada bagian yang terinfeksi dan sampo ketoconazole dapat digunakan sebanyak 1 kali sehari selama maksimal 5 hari.

3) Sedangkan ketoconazole dalam bentuk tablet, diminum dengan dosis 200 mg per hari. Dosis ini bisa ditingkatkan oleh dokter hingga 400 mg apabila dibutuhkan. Khusus untuk anak-anak, takaran ketoconazole oral akan disesuaikan dengan berat badan pasien.

2. Aspirin

a. Nama zat aktif : Aspirin

b. Nama dagang : Aspilet, Aspirin, Bodrexin, Contrxyn, Farmasal, Gramasal, Naspro, Ascardia, Cardio Aspilet, Miniaspi 80, Procardin, Restro, Thrombo Aspilet

c. Indikasi : Mengurangi nyeri kepala, nyeri gigi, migraine, nyeri menelan, dan dismenorrhea (nyeri berlebihan saat menstruasi). Selain itu, aspirin juga dapat digunakan untuk mengurangi gejala pada influenza, demam, nyeri reumatik, dan nyeri – nyeri otot.

d. Kontraindikasi : Memiliki ulkus peptikum atau tukak lambung. Hemophilia atau kelainan pendarahan lainnya. Memiliki alergi terhadap asetosal. memiliki alergi terhadap NSAID, seperti ibuprofen. berisiko mengalami pendarahan gastrointestinal atau stroke hemoragik. peminum alkohol. sedang menjalani perawatan gigi atau bedah, betapapun kecilnya. memiliki gangguan hati dan ginjal (tidak mutlak dilarang, namun perlu hati). penderita asama (tidak mutlak dilarang, namun perlu hati-hati).

e. Efek samping :

gangguan pencernaan, sakit perut, mengalami perdarahan atau memar di beberapa bagian tubuh.Beberapa efek samping lain yang jarang terjadi di antaranya:

(6)

b) Perdarahan di perut yang menyebabkan muntah darah dan perdarahan di otak yang bisa mengganggu pengelihatan, sakit kepala, dan bicara cadel.

c) Biduran (kemunculan bilur berwarna merah atau putih yang terasa gatal) dan tinnitus (bunyi atau dengungan pada telinga).

f. Peringatan :

Sebelum mengonsumsi aspirin, beri tahu dokter jika Anda:

a) Sedang merencanakan kehamilan, mengandung, atau menyusui.

b) Pernah mengalami gangguan hati, ginjal, jantung, atau tekanan darah tinggi. c) Memiliki riwayat hemofilia, perdarahan di usus, sakit maag, serta asma.

d) Anak-anak atau remaja, di bawah usia 16 tahun, yang ingin mengatasi demam, gejala flu, atau cacar air.

e) Sedang menggunakan obat-obatan lain.

f) Memiliki alergi terhadap obat. Jika tidak bisa menggunakan aspirin, dokter mungkin akan menyarankan Anda untuk mengonsumsi paracetamol (untuk meredakan rasa sakit) atau clopidogrel (untuk mencegah penggumpalan darah). g. Dosis :

a) Demam : 325 - 650 mg setiap 4 - 6 jam sekali, tergantung kondisi. Maksimal 4 g/ hari.

b) Serangan jantung : 75 - 325 mg/hari.

c) Rheumatoid arthritis : 80 - 100 mg perhari, dibagi 5 - 6 kali, untuk kondisi akut, bisa dikonsumsi sampai 130 mg/hari.

d) Gangguan persendian : Dosis awal 2,4 - 3,6 g/hari, selanjutnya 3,6 - 5,4 g/hari e) Stent implantation : 325 mg 2 jam sebelum prosedur, diikuti dengan 160 – 325

mg/hari setelah prosedur dilakukan.

3. Salbutamol

a. Nama zat aktif : Salbutamol b. Nama dagang :

(7)

c. Indikasi : mengatasi gejala sesak napas yang timbul akibat adanya penyempitan bronkus seperti pada penyakit asma bronkial, bronchitis asmatis dan emfisema paru, baik untuk penggunaan akut maupun kronik.

d. Kontraindikasi : Takikardia sekunder dari kondisi jantung e. Efek samping :

a) Jantung berdebar-debar.

b) Detak jantung yang cepat atau tak teratur. c) Gemetaran.

d) Sakit perut. e) Nyeri dada. f) Batuk berdahak. g) Diare.

h) Sulit menelan. i) Sakit kepala. j) Menggigil. k) Demam. l) Mual. f. Peringatan :

a) Wanita yang sedang hamil dan menyusui hanya boleh menggunakan salbutamol jika benar-benar dibutuhkan dan dianjurkan oleh dokter.

b) Segera temui dokter jika gejala-gejala tidak berkurang setelah menghirup salbutamol sesuai dengan petunjuk dokter.

c) Harap berhati-hati jika menderita hipertiroidisme, alergi terhadap protein susu, gangguan kardiovaskular, hipertensi, diabetes, hipokalemia, gangguan ginjal, kejang, serta aritmia.

d) Jika terjadi reaksi alergi atau overdosis, segera temui dokter. g. Dosis :

(8)

a) Obat suntik dengan kandungan 50 mcg/mL : 4 mcg/kg berat badan b) Obat infus : 8 mcg/kg berat badan

c) Menangani Bronkospasme akut

Inhaler : Maksimal 4 kali hirup per hari d) Menangani Bronkospasme akut

Oral : 2-8 mg; 3-4 kali sehari

e) Mencegah bronkospasme akibat olahraga

Inhaler : 2 kali hirup; 10-15 menit sebelum berolahraga

4. Ciprofloxacim

a. Zat aktif : Ciprofloxacim

b. Nama dagang : Baquinor Eye Drops, Baquinor Forte, Bestypro, Ciprofloxacin, Cifloxan, Pharpros, Cylowam 500, Lapilfox, Ciprec 500, Coroflox, Floksid, Wiaflox dan Phaproxin

c. Sediaan Obat : Tablet, sirop, obat oles, obat tetes mata, obat tetes telinga, infus d. Indikasi:

1) Pengobatan infeksi saluran pernafasan, infeksi saluran kemih, pencernaan, dan infeksi perut, termasuk infeksi oleh baketri gram negatif (Escherichia coli, Haemophilus influenzae, Klebsiella pneumoniae, Legionella pneumophila, Moraxella catarrhalis, Proteus mirabilis, dan Pseudomonas aeruginosa), dan gram positif (Staphylococcus aureus, Streptococcus pneumoniae, Staphylococcus epidermidis, Enterococcus faecalis, dan Streptococcus pyogenes).

2) Ciprofloxacin juga digunakan untuk infeksi pada kulit dan jaringan lunak, tulang dan sendi, gonore akut dan osteomilitis akut.

e. Kontra Indikasi:

1) Jangan menggunakan antibiotik ini pada pasien dengan dengan riwayat hipersensitif atau alergi obat Ciprofloxacin dan antibiotik golongan kuinolon lainnya.

2) Tidak digunakan untuk ibu hamil, ibu menyusui, anak dan remaja sebelum akhir fase pertumbuhan.

(9)

4) Tidak diberikan kepada pasien dengan riwayat tendon pecah. 5) Jangan digunakan bersamaan dengan tizanidine.

f. Efek Samping:

1) mual, diare, tes fungsi hati yang abnormal, muntah, dan ruam pada kulit. 2) Sakit kepala, telinga berdenging, pusing, mual, gangguan penglihatan, sakit di

belakang mata.

3) Kulit pucat atau menguning, urin berwarna gelap, demam, lemas. 4) Lebih jarang atau sama sekali tidak buang air kecil.

5) Mudah memar atau berdarah.

6) Mati rasa, kesemutan, atau sakit tidak wajar di bagian tubuh mana pun. g. Peringatan:

1) Hati-hati pada pemberian obat untuk pasien dengan gangguan fungsi hati dan ginjal.

2) Untuk mencegah kristaluria, harus ditelan dengan air. 3) Hati-hati pemberian pada pasien lanjutusia.

4) Pada kasus epilepsi dan pasien yang pernah mengalami gangguan SSP (misalnya ambang kejang rendah, riwayat konvulsi, aliran darah ke otak berkurang dan stroke), ciprofloxacin hanya diberikan jika manfaatnya lebih besar dibanding resikonya, karena pasien demikian mungkin akan menderita efek samping SSP. 5) Pemakaian tidak boleh melebihi dosis yang dianjurkan.

6) Hindari paparan sinar matahari atau sinar UV buatan.

7) Jangan hentikan pengobatan sebelum dosis dan durasi yang dianjurkan dokter selesai. Jika pengobatan dihentikan sebelum waktunya berpotensi terjadinya resistensi antibiotik.

h. Dosis:

1) Dosis ciprofooxciin uintuk anthrax prophylxois

(10)

b) Melalui mulut: gunakan 500 mg dengan mulut setiap 12 jam

2) Dosis ciprofooxciin uintuk bxcteremix Melalui infus : 400 mg melalui infus atau IV 3) Dosis ciprofooxciin uintuk broinchitis a) Melalui infus: 400 mg IV setiap 12 jam b) Melalui mulut : 500 mg setiap 12 jam.

4) Dosis ciprofooxciin uintuk iinfeksi kxinduing kemih Umur 1-18 tahun

a) Melalui infus: gunakan 6-10 mg/kg/IV setiap 8 jam (dosis maksimal: 400 mg/ dosis)

b) Melalui mulut atau diminum sebanuak10-20 mg/kg setiap 12 jam (dosis maksimal: 750 mg/dosis)

5. Ofloxacin

a. Zat aktif : ofloxacin

b. Nama dagang : Riloo, Poincoquiin, Grxfooiin, Flotxvid, Akilein, Txrivid, Ofooxciin.

c. Sedian Obat : Tablet, Tetes Mata, Tetes Telinga, Suntik d. Indikasi:

1) Infeksi saluran kemi bagian bawah dan bagian atas, 2) Uretritis dan servisitis gonokokkal dan non-gonokokkal,

3) Infeksi saluran pernafasan bagian bawah, kecuali infeksi Streptokokkus, 4) Infeksi kulit dan jaringan lunak,

5) Untuk mengobati infeksi mata yang disebabkan oleh bakteri yang rentan. 6) Otitis media supuratif kronik, otitis eksterna

e. Kontra Indikasi:

1) Penderita yang hipersensitif atau alergi terhadap ofloxacin dan golongan kuinolon lainnya,

(11)

3) Anak dan remaja yang sedang dalam fase pertumbuhan. f. Efek Samping :

Mual dan muntah, Nafsu makan berkurang, Perut kembung, Diare, Kram perut, Sakit kepala, Pusing, Gatal pada kelamin, Nyeri dada, Mulut kering.

g. Peringatan :

1) Hati-hati penggunaan pada penderita gangguan fungsi ginjal dan orang lanjut usia.

2) Jika timbul syok atau gejala lain yang menyerupai syok, hentikan pengobatan dan segera periksakan diri ke dokter.

3) Jika timbul reaksi hipersensitif atau alergi, hentikan pengobatan dan segera periksakan diri ke dokter.

4) Penyerapan ofloxacin melalui saluran pencernaan berkurang apabila diberikan bersamaan dengan antasida yang mengandung aluminium atau magnesium hidroksida. Oleh karena itu Tarivid sebaiknya tidak diminum bersamaan dengan antasida, tetapi diberikan jeda 1 – 2 jam sebelum atau setelah pemberian obat antasida.

5) Tidak seperti ciprofloxacin, ofloxacin tidak mempengaruhi konsentrasi teofilin dalam plasma.

h. Dosis:

Kondisi Bentuk obat Usia Dosis

Pneumonia Tablet Dewasa 400 mg, 1-2 kali sehari.

Radang panggul Tablet Dewasa

400 mg, 2 kali sehari, selama 14 hari.

Gonore Tablet Dewasa 400 mg, dosis tunggal.

Chlamydia Tablet Dewasa

(12)

Infeksi kulit dan jaringan

lunak Tablet Dewasa 400 mg, 2 kali sehari.

Prostatitis akut atau kronis Tablet Dewasa

200 mg, 2 kali sehari, selama 28

1-2 tetes setiap 2-4 jam, selama 2 hari pertama. Dilanjutkan 1-2 tetes, 4 kali sehari. Maksimal durasi

bulan-13 tahun 5 tetes, 1 kali sehari, selama 7 hari

Otitis media Tetes telinga

a. Zat aktif : Digoxin

b. Nama Dagang : Digoxin, Fargoxin. c. Sedian Obat : Tablet dan suntik d. Indikasi:

Untuk gagal jantung kongestif, fibrilasi atrium, flutter atrium, dan takikardia atrium proksimal.

(13)

f. Efek samping: 1) Gangguan mental. 2) Pusing.

3) Sakit kepala. 4) Diare.

5) Mual dan muntah. 6) Ruam kulit. 7) Anoreksia.

8) Aritmia pada anak-anak. g. Peringatan :

1) Gunakan dengan hati-hati pada pasien perikarditis, bradikardia, penyakit paru berat, takikardia ventrikular, gangguan elektrolit, kontraksi ventrikular prematur, Sindrom Wolff-Parkinson-White, hipoksia, hipotiroidisme atau hipertiroidisme, dan penyakit ginjal.

2) Hindari penggunaan digoxin pada pasien miokarditis dan serangan jantung. 3) Jangan hentikan pemberian digoxin pada pasien gagal jantung meski kondisinya

sudah stabil, karena gejala gagal jantung bisa kembali terjadi. 4) Hati-hati penggunaan bersama dengan diuretik.

5) Jika terjadi reaksi alergi atau overdosis setelah menggunakan digoxin, segera temui dokter.

h. Dosis:

Kondisi Bentuk Obat Usia Dosis

Gagal jantung akut Suntik Dewasa

0,5-1 mg sebagai dosis tunggal, infus selama 2 jam.

Gagal jantung, aritmia.

Tablet Dewasa Dosis awal 0,75-1 mg yang

(14)

jam. Dosis pemeliharaan 125-250 mcg per hari.

Bayi dengan berat badan hingga 1,5 kg

Dosis awal 25 mcg/kgBB per hari, dibagi dalam 3 kali pemberian. Dilanjutkan 4-6 mcg/kgBB per hari, dalam 1 atau 2 kali pemberian.

Bayi dengan berat badan 1,5-2,5 kg

Dosis awal 30 mcg/kgBB per hari, dalam 3 kali pemberian. Dilanjutkan 4-6 mcg/kgBB per hari, dalam 1 atau 2 kali pemberian.

Bayi dengan berat badan di atas 2,5 kg dan balita usia 1 bulan hingga 2 tahun

Dosis awal 45 mcg/kgBB per hari, dalam 3 kali pemberian. Dilanjutkan 10 mcg/kgBB per hari, dalam 1 atau 2 kali pemberian.

Anak usia 2-5 tahun

Dosis awal 35 mcg/kgBB per hari, dalam 3 kali pemberian. Dilanjutkan 10 mcg/kgBB per hari, dalam 1 atau 2 kali pemberian.

Anak usia 5-10 tahun

Dosis awal 25-750 mcg/kgBB per hari, dalam 3 kali

pemberian. Dilanjutkan 6-250 mcg/kgBB per hari, dalam 1 atau 2 kali pemberian. Anak usia 10 tahun

hingga usia 18 tahun

Dosis awal 0,75-1,5 mg/kgBB per hari, dalam 3 kali

(15)

62,5-750 mcg per hari, dalam 1 atau 2 kali pemberian.

7. Allopurinol

Allopurinol adalah obat yang digunakan untuk menurunkan kadar asam urat di dalam darah. Selain karena pola makan yang kurang sehat, kadar asam urat juga bisa naik akibat pengobatan kemoterapi pada penderita kanker. Kadar asam urat yang tinggi tidak hanya dapat menyebabkan peinyxkit xsxm urxt atau gout, namun juga bisa menyebabkan pembentukan bxtu giinjxl.

a. Nama zat aktif : Allupurinol

b. Merek dagang: Ponuric, Sinoric, Puricemia, Zyloric c. Indikasi dan Kegunaan Allopurinol

Berikut indikasi ataupun kegunaannya: 1) Hiperurisemia primer : gout

2) Hiperurisemia sekunder : mencegah pengendapan asam urat dan kalsium oksalat. Produksi berlebihan asam urat antara lain pada keganasan, polisitemia vera, terapi sitostatik.

d. Kontraindikasi

obat ini, alopurinol tidak boleh digunakan untuk:

1) Penderita yang hipersensitif atau alergi terhadap allopurinol ataupun komponen lain yang terkandung dalamm sediaan obat.

2) Keadaan serangan akut gout e. Peringatan:

 Harap berhati-hati jika menderita gangguan pada ginjal dan hati.

 Beri tahu dokter jika memiliki diabetes, tekanan darah tinggi, atau sedang menjalani program diet.

 Allopurinol bisa menyebabkan kantuk. Karena itu, jangan mengemudikan kendaraan atau mengoperasikan alat berat setelah mengonsumsi obat ini.

(16)

 Jika terjadi reaksi alergi atau overdosis, segera temui dokter. f. Dosis Allopurinol

Dosis dewasa :

 Serangan asam urat (gout) ringan : 200 – 300 mg per hari.  Serangan asam urat (gout) sedang / berat : 400 – 600 mg per hari.

 Hiperurisemia karena obat antikanker : 600 – 800 mg per hari, dimulai 1 – 2 hari sebelum kemoterapi.

 Dosis minimal : 100 – 200 mg per hari.

 Dosis maksimal : 800 mg per hari.

 Terdapat penyesuaian dosis sesuai dengan fungsi ginjal.

Dosis anak : Tablet

 Hiperurisemia : 10 mg/kg/hari dibagi menjadi 2 kali pemberian ; maksimal 600 mg / hari.

 Hiperurisemia karena obat antikanker :

oUsia < 6 tahun : 150 mg / hari dibagi menjadi 3 kali pemberian.

oUsia 6 – 10 tahun : 300 mg / hari dibagi menjadi 3 – 4 kali pemberian. g. Efek Samping dan Bahaya Allopurinol

Sama seperti obat-obat lain, allopurinol juga berpotensi menyebabkan efek samping. Beberapa efek samping yang mungkin terjadi setelah mengonsumsi obat ini adalah sakit perut, mual, dan diare. Sedangkan efek samping yang tergolong jarang adalah ruam pada kulit.

Disarankan untuk segera menemui dokter jika Anda mengalami efek samping yang sangat mengganggu setelah mengonsumsi allopurinol.

8. Haloperidol

(17)

Haloperidol bekerja dengan mengembalikan keseimbangan zat kimia alami dalam otak, yakni neurotransmitter, sehingga dapat menimbulkan rasa tenang, meredakan kegelisahan, serta mengurangi perilaku agresif dan keinginan untuk menyakiti orang lain. a. Nama zat aktif :Haloperidol

b. Merek dagang: Lodomer, Dores, Upsikis, Haloperidol, Haldol Decanoas, Govotil, Serenace, Seradol

c. Indikasi dan Kegunaan Haloperidol

Obat ini, maka obat ini dapat digunakan untuk: Meredakan gejala skizofrenia. Mengobati skizoafektif. Mengobati gerakan dan ucapan spontan yang tidak terkontrol pada penderita sindrom Tourette. Mengatasi perilaku tidak terkontrol pada anak-anak hiperaktif. Meredakan gangguan mania (perasaan senang yang luar biasa dan begitu aktif). Mengatasi tindakan agitasi. Membantu mengobati tindakan agresi. Menurunkan pikiran negatif dan halusinasi.

d. Kontraindikasi :

Memiliki hipersensitif atau alergi terhadap kandungan obat ini. Penderita penyakit Parkinson. Pasien depresi berat SSP. Penderita supresi sumsum tulang. Memiliki penyakit jantung. Penderita gangguan fungsi hati kronis. Pasien koma. Pasien lansia yang memiliki penyakit Demensia.

e. Peringatan:

1) Harap berhati-hati bagi penderita gangguan jantung, gangguan pembuluh darah, gangguan sistem saraf pusat, glxukomx, sindrom mulut kering, atau peinyxkit Alzheimer.

2) Orang-orang lanjut usia yang menderita demeinsix tidak boleh mengonsumsi obat ini.

3) Harap berhati-hati dan beri tahu dokter jika sedang menjalani pengobatan dengan obat xintikoinvulsxin (antikejang) dan obat pengencer darah.

4) Apabila terjadi reaksi alergi atau overdosis setelah menggunakan haloperidol, segera temui dokter.

f. Dosis Haloperidol

(18)

1) Dosis Dewasa untuk ICU Agitation Haloperidol lactate:IV, intermiten: 0.03-0.15 mg/kg IV (2-10 mg) setiap 30 menit hingga 6 jam.IV, infus: 3-25 mg/jam dengan infus IV berkelanjutan, digunakan untuk pasien ventilator dengan agitasi dan delirium.

2) Dosis Dewasa untuk Dementia Untuk masalah perilaku non psikotik berkaitan dengan demensia:Dosis awal: 0.5 mg secara oral 2-3 kali sehari.Dosis rumatan: 0.5-3 mg secara oral 2 kali sehari.

3) Dosis Dewasa untuk ManiaOral:Dosis awal: 0.5-5 mg secara oral 2-3 kali sehariDosis rumatan: 1-30 mg/hari dalam 2-3 dosis terbagi. Terkadang, Haloperidol digunakan dalam dosis di atas 100 mg untuk pasien yang sangat kebal; meski begitu, pemakaian klinis terbata belum mendemonstrasikan keamanan pemberian jangka panjang pada dosis ini.Parenteral:Haloperidol Lactate:2-5 mg IM atau IV untuk kontrol segera. Dapat diulang setiap 4-8 jam. Dosis hingga 8-10 mg dapat diberikan intramuskular. Pasien teragitasi akut dapat membutuhkan suntikan per jam.

4) Dosis Dewasa untuk Mual/Muntah Oral:1-5 mg secara oral setiap 4-6 jam sesuai kebutuhan.Parenteral:Haloperidol lactate:1-5 mg IM atau IV setiap 4-6 jam sesuai kebutuhan.

5) Dosis Dewasa untuk PsikosisOral:Dosis awal: 0.5-5 mg secara oral 2-3 kali sehariDosis rumatan: 1-30 mg/hari dalam 2-3 dosis terbagi. Dosis harian hingga 100 mg telah digunakan. Terkadang, Haloperidol digunakan dalam dosis di atas 100 mg untuk pasien yang sangat kebal; meski begitu, pemakaian klinis terbata belum mendemonstrasikan keamanan pemberian jangka panjang pada dosis ini.Parenteral:Haloperidol lactate:2-5 mg IM atau IV untuk kontrol segera. Dapat diulang setiap 4-8 jam. Dosis hingga 8-10 mg dapat diberikan intramuskular. Pasien teragitasi akut dapat membutuhkan suntikan per jam.

(19)

7) Dosis Dewasa untuk Sindroma TouretteDosis awal: 0.5-2 mg secara oral 2-3 kali sehari.Dosis rumatan: dapat ditingkatkan dalam 5-7 hari menjadi 3-5 mg 2-3 kali sehari untuk kasus yang lebih berat atau kebal.

Dosis Haloperidol untuk anak-anak

 Dosis Anak untuk PsikosisOral:≤ 2 tahun atau kurang dari or 15 kg: Tidak dianjurkan.3-12 tahun dan 15-40 kg:Dosis awal: 0.5 mg/hari secara oral dalam 2-3 dosis terbagi.Dosis rumatan: dosis harian dapat ditingkatkan setiap 5-7 hari dengan peningkatan 0.25-0.5 mg. Rentang biasanya 0.05-0.15 mg/kg/hari dalam 2-3 dosis terbagi. Sedikit bukti bahwa perbaikan perilaku meningkat dengan dosis lebih dari 6 mg/hari.13-18 tahun dan lebih dari 40 kg:Dosis awal: 0.5-5 mg secara oral 2-3 kali sehari.Dosis rumatan: 1-30 mg/hari dalam 2-3 dosis terbagi. Dosis harian hingga 100 mg telah digunakan. Terkadang, Haloperidol digunakan dalam dosis di atas 100 mg untuk pasien yang sangat kebal; meski begitu, pemakaian klinis terbata belum mendemonstrasikan keamanan pemberian jangka panjang pada dosis ini.Parenteral:Haloperidol lactate:≤ 5 tahun: Tidak dianjurkan.6-12 tahun: 1-3 mg IM setiap 4-8 jam sesuai kebutuhan (maksimal 0.15 mg/kg/hari). Pasien harus diganti ke terapi oral sesegera mungkin.13-18 tahun: 2-5 mg IM setiap 4-8 jam sesuai kebutuhan.Haloperidol decanoate:≤ 17 tahun: keamanan dan efikasi belum diketahui.

 Dosis Anak untuk Sindrom Tourette≤2 tahun atau kurang dari 15 kg: Tidak dianjurkan.3-12 tahun dan 15-40 kg:Dosis awal: 0.5 mg/hari secara oral dalam 2-3 dosis terbagi.Dosis rumatan: dosis harian dapat ditingkatkan dengan peningkatan 0.25-0.5 mg hingga 0.05-0.075 mg/kg/hari. Sedikit bukti bahwa perbaikan perilaku meningkat dengan dosis lebih dari 6 mg/hari.13 -18 tahun dan lebih dari 40 kg: 1-2 mg secara oral 2-3 kali sehari.

g. Efek Samping Haloperidol

(20)

1) Disfungsi ereksi.

2) Gangguan siklus menstruasi.

3) Keinginan untuk terus bergerak (akathisia). 4) Gangguan pada gerakan otot (distonia).

5) Gerakan tidak terkendali pada lidah, wajah, dan bibir. 6) Berat badan bertambah.

7) Otot kaku.

8) Gejala seperti peinyxkit Pxrkiinsoin. 9) Sakit kepala.

10) Sulit tidur. 11) Lemas. 9. Dopamine

a. Nama zat aktif : Dopamine b. Nama Dagang

Dopac, dopamin giulini, dopamine HCL, dopamine hydrochloride injection, dopamine, indop, cetadop

c. Indikasi

Koreksi ketidakseimbangan hemodinamik yang terjadi pada saat syok yang disebabkan infark miokardial, trauma, septikemia (keracunan darah oleh bakteri patogenik dan atau zat-zat yang dihasilkan oleh bakteri tersebut), gagal ginjal , dekompensasi jantung kronis.

d. Kontra Indikasi

Feokromositoma, takhiaritmia atrium xtxu veintrikulxr.

e. Perhatian

 Jangan diencerkan dengan larutan alkalin.

 Hindari penggunaan bersama anestesi/obat bius siklopropan atau halogen hidrokarbon.

(21)

kemunduran dinding pembuluh), angina pektoris, diabetes melitus, glaukoma sudut tertutup, asma.

f. Efek Samping

 Kecemasan, ketakutan, kelelahan, gemetar, insomnia (sulit tidur), kekacauan/kebingungan, iritabilitas, kelemahan, status psikotik, berkurangnya nafsu makan, gangguan saluran pencernaan , nyeri dada karena angina, berdebar, henti jantung, hipotensi, pusing, kemerahan pada wajah dan leher, sulit untuk buang air kecil, sesak nafas, berkeringat, sakit kepala .

 Adakalanya terjadi bradikardia, konduksi abnormal, piloereksi, kenaikan BUN (blood urea nitrogen).

g. Dosis

2,5 mg/kg berat badan/menit berupa larutan yang diencerkan dengan infus intravena. Kasus yang berat : 5 mg/kg berat badan/menit, dinaikkan secara bertahap sebanyak 5-10 mg/kg berat badan/menit menjadi 20-50 mcg/kgbb/menit.

h. Kemasan Dan Sediaan Ampul 200 mg/5 ml x 5 biji.

10. Ephedrine

a. Nama zat aktif : ephedrine

(22)

c. Cara Kerjx Obxt

Ephedrine bekerja sebagai broinkodilxtor yang mempengaruhi sistem sxrxf xdreinergik secara langsung maupun tidak langsung.

d. Iindikxsi:

Pengobatan broinkospxsme (xsmx broinkixl) e. Kointrx Indikasi

1) Penderita yang hiperseinsitif terhadap ephedrine

2) Penderita tukxk lxmbuing hipertiroid, peinyxkit jxintuing, dixbetes dan hiperteinsi.

f. Dosis:

0,25-1mg/kgBB/hari dibagi dalam 3 – 4 dosis g. Efek Samping:

1) Gxstroiintestiinxl : muxl, muntah, dixre 2) Susunan saraf pusat : sxkit kepxlx, iinsominix

3) Kxrdiovxskuler : pxlpitxsi, txkikxrdix, xritmix ventrikuler 4) Pernafasan : Txchypinex

5) Lain-lain : ruxm kulit, hiperglikemi h. Peringatan dan Perhatian:

1) Hxti-hati pemberian pada penderita hipoksemix, penderita gangguan fungsi hati dan giinjxl, penderita di atas 55 tahun terutama pria dan penderita penyakit pxru-pxru kroinik.

2) Hati-hati pemberian pada wanita hamil, menyusui dan anak-anak.

3) Jangan melampulaui dosis yang dianjurkan dan bila dalam 1 (satu) jam gejxlx-gejalanya masih tetap atau bertambah buruk, xgxr menghubungi dokter atau Rumah Sakit terdekat.

4) Dapat terjadi reteinsi uriine pada penderita hipertrof prostate dan dapat mengiritasi saluran gastrointestinal.

5) Bila belum pernah menggunakan obat ini agar konsultasikan dahulu ke dokter untuk memastikan bahwa anda menderita asma.

(23)

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan

(24)

B. Saran

Pada wanita hamil pemberian obat memerlukan pertimbangan yang benar-benar matang karena pada periode tersebut terjadi proses pembentukan organ (organosenesis). Zat aktif obat dapat masuk ke peredaran darah janin dan mempengaruhi proses pembentukan organ tersebut yang akhirnya akan menyebakan terjadinya kecacatan karena terganggunya proses tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Katzung G. 2001. Farmakologi Dasar dan Klinik Edisi 1. Salemba Medika:Jakarta.

Priyanto. 2010. Farmakologi Dasar. Penerbit Lenskofi: Depok, Jawa Barat.

(25)

Referensi

Dokumen terkait

Atau studi terhadap reproduksi binatang pecobaan memperlihatkan adanya efek samping (selain penurunan fertilitas) yang tidak didapati pada studi terkontrol pada wanita

Obat Kategori A: adalah golongan obat yang pada studi (terkontrol) pada kehamilan tidak menunjukkan resiko bagi janin pada trimester 1 dan trimester berikutnya. Obat dalam kategori

Hasil percobaan menunjukkan bahwa efek maksimal diperoleh saat kadar histamin dalam organ bath adalah 10 -5 .  Kadar obat yang menghasilkan efek sebesar 50% efek

65,08% (397 obat), kategori faktor resiko B sebesar 18,20% (111 obat), terdapat bukti adanya resiko terhadap janin manusia, tapi keuntungan penggunaannya bagi

Tidak ada obat yang memenuhi semua kriteria obat ideal: tidak ada obat yang aman; semua obat menimbulkan efek samping; respons.. terhadap obat sulit diprediksi dan mungkin

Kebanyakan obat mengasilkan efek dengan aksi pada molekul yang spesifik dalam organisme, biasanya pada membran sel molekul tersebut berupa suatu protein yang dinamakan reseptor,

pada penggunaan simetidin bersama obat psikotropik atau sebagai efek

Dalam dosis tertentu kadar penghambatan terhadap asam lambung pada umumnya lebih kuat dari pada obat golongan antagonis reseptor H25. Yang termasuk  golongan obat