MAKALAH
TEORI-TEORI KONFLIK Disusun untuk memenuhi salah satu tugas
Mata Kuliah :Kajian Konflik Sosial Dosen Pengampu : Prof. Dr. Aris. M.Pd
Disusun oleh : Kelompok 2 Bahjatussalsa (2281040067) Andika Septy Pratama (2281040071)
JURUSAN TADRIS ILMU PENGETAHUAN SOSIAL FAKULTAS TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SIBER SYEKH NURJATICIREBON TAHUN 2025
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberi rahmat dan karunia- Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini sebagaimana mestinya.
Sholawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW yang telah membawa kita dari zaman jahiliyah menuju zaman kemajuan pada saat ini.
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas terstruktur mata kuliah Kajian Konflik Sosial yang diampu oleh Bapak Prof. Dr. Aris. M.pd. Adapun judul makalah ini adalah “Teori-Teori Konflik”.
Makalah ini masih jauh dari kata sempurna, maka dari itu penulis harap pembaca dapat memberikan kritik dan saran membangun, untuk perbaikan penulisan makalah berikutnya. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
Cirebon, 02 Maret 2025
Penyusun
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...ii
DAFTAR ISI...iii
BAB I PENDAHULUAN...1
1.1 Latar Belakang... 1
1.2 Rumusan Masalah...3
1.3 Tujuan...3
BAB II PEMBAHASAN...4
2.1 Teori Konflik Sosial...4
2.2 Teori Konflik Psikologis...6
2.3 Teori Konflik Sosiologis...9
BAB III PENUTUP...11
3.1 Kesimpulan...11
3.2 Saran... 11
DAFTAR PUSTAKA...12
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Teori konflik adalah kerangka kerja sosiologis yang memandang masyarakat sebagai arena ketidaksetaraan yang menghasilkan konflik dan perubahan. Berbeda dengan teori fungsionalisme yang menekankan stabilitas sosial, teori konflik melihat masyarakat sebagai tempat di mana kelompok- kelompok bersaing untuk mendapatkan sumber daya yang langka, seperti kekuasaan, kekayaan, dan status. Konflik dipandang sebagai kekuatan pendorong utama dalam perubahan sosial.
Salah satu tokoh utama dalam teori konflik adalah Karl Marx, yang menganalisis konflik kelas antara kaum borjuis (pemilik modal) dan kaum proletar (pekerja). Marx berpendapat bahwa konflik ini muncul dari ketidaksetaraan dalam sistem ekonomi kapitalis, di mana kaum borjuis mengeksploitasi kaum proletar untuk keuntungan mereka sendiri. Konflik kelas ini, menurut Marx, akan mengarah pada revolusi dan perubahan sosial yang radikal.
Selain Marx, tokoh-tokoh lain seperti Max Weber dan Ralf Dahrendorf juga memberikan kontribusi penting bagi teori konflik. Weber memperluas analisis konflik dengan memasukkan dimensi kekuasaan dan status, selain kelas ekonomi. Dahrendorf, di sisi lain, berfokus pada konflik kepentingan antara kelompok-kelompok yang memiliki otoritas dan mereka yang tidak.
Teori konflik tidak hanya relevan dalam menganalisis konflik kelas, tetapi juga dapat diterapkan pada berbagai bentuk konflik lainnya, seperti konflik etnis, konflik gender, dan konflik politik. Dalam semua kasus ini, teori konflik membantu kita memahami bagaimana ketidaksetaraan dan persaingan untuk mendapatkan sumber daya dapat memicu konflik dan perubahan sosial.
Meskipun teori konflik telah dikritik karena terlalu menekankan pada konflik dan mengabaikan stabilitas sosial, teori ini tetap menjadi kerangka kerja yang penting dalam sosiologi. Teori konflik memberikan wawasan yang berharga
tentang bagaimana ketidaksetaraan dan konflik dapat membentuk masyarakat dan mendorong perubahan sosial.
Konflik merupakan bagian tak terpisahkan dari kehidupan sosial manusia.
Dalam berbagai aspek kehidupan, baik dalam keluarga, organisasi, hingga masyarakat luas, konflik dapat muncul akibat perbedaan kepentingan, nilai, atau sumber daya yang terbatas. Oleh karena itu, teori-teori konflik hadir untuk menjelaskan penyebab, dinamika, serta dampak konflik dalam berbagai konteks sosial. Kajian mengenai teori konflik telah berkembang pesat seiring dengan perubahan sosial yang terjadi di berbagai belahan dunia.
Teori konflik secara umum berakar pada pemikiran Karl Marx yang menyoroti pertentangan kelas sebagai inti dari perubahan sosial. Marx berpendapat bahwa konflik antara kelompok yang memiliki dan tidak memiliki alat produksi adalah pendorong utama sejarah. Teori ini kemudian berkembang dengan berbagai perspektif lain, seperti teori konflik fungsional yang menekankan peran konflik dalam menjaga keseimbangan sosial, serta teori konflik modern yang lebih menyoroti isu-isu kekuasaan, dominasi, dan ketimpangan sosial.
Selain Marx, banyak pemikir lain yang turut berkontribusi dalam pengembangan teori konflik, seperti Max Weber dan Ralf Dahrendorf. Weber menyoroti bahwa konflik tidak hanya terjadi karena ekonomi, tetapi juga akibat perbedaan status sosial dan politik. Sementara itu, Dahrendorf menekankan bahwa konflik merupakan sesuatu yang melekat dalam struktur sosial dan dapat menjadi kekuatan yang membawa perubahan. Perspektif ini memperkaya pemahaman kita tentang bagaimana konflik terjadi dan bagaimana dampaknya terhadap masyarakat.
Dalam studi sosiologi dan ilmu sosial lainnya, teori konflik digunakan untuk menganalisis berbagai fenomena, seperti ketimpangan ekonomi, diskriminasi rasial, dan pertentangan ideologi. Teori ini membantu kita memahami bagaimana kelompok yang memiliki kekuasaan berusaha mempertahankan dominasinya, sementara kelompok yang tertindas berusaha melawan. Dengan demikian, teori konflik memberikan kerangka kerja yang
penting dalam memahami dinamika sosial dan bagaimana ketegangan sosial dapat menghasilkan perubahan atau memperdalam ketidakadilan.
Secara keseluruhan, teori-teori konflik memberikan wawasan mendalam tentang bagaimana konflik muncul, berkembang, dan berkontribusi terhadap perubahan sosial. Pemahaman terhadap teori-teori ini sangat penting dalam mencari solusi terhadap berbagai permasalahan sosial yang dihadapi oleh masyarakat. Dengan mengkaji berbagai perspektif teori konflik, kita dapat mengembangkan pendekatan yang lebih efektif dalam menangani ketegangan sosial dan menciptakan masyarakat yang lebih adil dan harmonis.
1.2 Rumusan Masalah
Berikut beberapa rumusan masalah yang akan dibahas pada makalah ini : 1. Apa saja teori konflik sosial?
2. Apa saja teori konflik psikologis?
3. Apa saja teori konflik sosiologis?
1.3 Tujuan
Berikut tujuan dari pembahasan makalah ini : 1. Untuk mengetahui teori konflik sosial.
2. Untuk mengetahui teori konflik psikologis.
3. Untuk mengetahui teori konflik sosiologis.
BAB II PEMBAHASAN
2.1Teori Konflik Sosial
Teori konflik sosial, sebagaimana dikemukakan oleh Soerjono Soekanto dan Umar Kayam, menyoroti perbedaan kepentingan dan nilai-nilai sosial sebagai akar penyebab konflik dalam masyarakat. Soerjono Soekanto menekankan bahwa konflik muncul dari perbedaan kepentingan dan nilai-nilai antar kelompok sosial, sementara Umar Kayam menambahkan bahwa perubahan sosial juga memainkan peran penting dalam memicu konflik, terutama ketika kelompok-kelompok sosial memiliki perbedaan nilai yang signifikan. Kedua perspektif ini menyoroti bagaimana ketidaksetaraan dan perubahan dalam struktur sosial dapat menciptakan ketegangan dan konflik di antara kelompok-kelompok dalam masyarakat.
1. Teori Konflik Soerjono Soekanto
Menurut Soerjono Soekanto, konflik sosial disebabkan oleh perbedaan kepentingan dan nilai-nilai sosial antara kelompok-kelompok sosial. Soerjono Soekanto, seorang sosiolog terkemuka Indonesia, memberikan kontribusi signifikan dalam memahami dinamika konflik sosial. Menurutnya, konflik adalah proses sosial di mana individu atau kelompok berusaha mencapai tujuan mereka dengan menentang pihak lain, sering kali disertai ancaman atau kekerasan. Pandangan ini menekankan bahwa konflik bukanlah fenomena abnormal, melainkan bagian integral dari interaksi sosial.
Inti dari teori konflik Soekanto adalah perbedaan kepentingan dan nilai-nilai sosial antar kelompok. Perbedaan ini menciptakan ketegangan dan persaingan, yang pada akhirnya dapat memicu konflik. Soekanto mengidentifikasi berbagai bentuk konflik, termasuk konflik pribadi, konflik rasial, konflik antarkelas sosial, dan konflik politik. Setiap bentuk konflik memiliki karakteristik dan dinamika uniknya sendiri.
Soekanto juga menyoroti peran perubahan sosial dalam memicu konflik. Perubahan dalam struktur sosial, nilai-nilai, atau norma dapat
menciptakan ketidakseimbangan dan ketidakpuasan, yang kemudian dapat memicu konflik. Misalnya, modernisasi dan globalisasi dapat menyebabkan perubahan dalam hubungan kekuasaan dan distribusi sumber daya, yang dapat memicu konflik antara kelompok-kelompok yang berbeda.
Selain itu, Soekanto menekankan pentingnya memahami konteks sosial dalam menganalisis konflik. Faktor-faktor seperti sejarah, budaya, dan struktur kekuasaan dapat memengaruhi bentuk dan intensitas konflik. Oleh karena itu, analisis konflik yang komprehensif harus mempertimbangkan berbagai faktor kontekstual ini.
Teori konflik Soekanto memberikan kerangka kerja yang berguna untuk memahami berbagai bentuk konflik dalam masyarakat. Teori ini menyoroti pentingnya perbedaan kepentingan dan nilai-nilai, perubahan sosial, dan konteks sosial dalam memicu konflik. Dengan memahami faktor- faktor ini, kita dapat mengembangkan strategi yang lebih efektif untuk mencegah dan mengelola konflik.
2. Teori Konflik Umar Kayam
Umar Kayam berpendapat bahwa konflik sosial disebabkan oleh perubahan sosial dan perbedaan nilai-nilai sosial antara kelompok-kelompok sosial.
Umar Kayam, seorang intelektual dan sosiolog Indonesia, memberikan kontribusi penting dalam memahami dinamika konflik sosial di Indonesia.
Berbeda dengan pandangan yang hanya menekankan perbedaan kepentingan ekonomi, Kayam menyoroti peran perubahan sosial dan perbedaan nilai-nilai dalam memicu konflik. Baginya, konflik adalah bagian dari proses perubahan sosial yang kompleks.
Kayam berpendapat bahwa perubahan sosial yang cepat dan tidak merata dapat menciptakan ketegangan dan konflik. Perubahan ini dapat mengganggu keseimbangan sosial dan menimbulkan perbedaan nilai-nilai antara kelompok-kelompok yang berbeda. Misalnya, modernisasi dan globalisasi dapat menyebabkan perubahan dalam gaya hidup, norma, dan
nilai-nilai tradisional, yang dapat memicu konflik antara generasi tua dan muda, atau antara kelompok-kelompok yang berbeda budaya.
Selain itu, Kayam juga menyoroti peran perbedaan nilai-nilai dalam memicu konflik. Perbedaan nilai-nilai ini dapat muncul dari perbedaan agama, etnis, atau ideologi. Ketika kelompok-kelompok yang berbeda nilai-nilai berinteraksi, mereka dapat mengalami konflik karena perbedaan pandangan tentang apa yang benar dan salah, atau apa yang penting dalam hidup.
Kayam juga menekankan pentingnya memahami konteks sejarah dan budaya dalam menganalisis konflik. Konflik tidak terjadi dalam ruang hampa, tetapi dipengaruhi oleh faktor-faktor sejarah dan budaya yang unik. Misalnya, konflik etnis di Indonesia seringkali memiliki akar sejarah yang panjang dan kompleks, yang perlu dipahami untuk memahami dinamika konflik saat ini.
Teori konflik Kayam memberikan wawasan yang berharga tentang kompleksitas konflik sosial di Indonesia. Teori ini menyoroti pentingnya perubahan sosial, perbedaan nilai-nilai, dan konteks sejarah dan budaya dalam memicu konflik. Dengan memahami faktor-faktor ini, kita dapat mengembangkan strategi yang lebih efektif untuk mencegah dan mengelola konflik, serta membangun masyarakat yang lebih adil dan harmonis.
2.2Teori Konflik Psikologis
Teori konflik psikologis, yang diwakili oleh pemikiran Driyarkara dan Slamet Supriyadi, menyoroti dinamika konflik yang berakar pada interaksi antara individu dan masyarakat. Driyarkara menekankan bahwa konflik sosial muncul dari pertentangan antara kebutuhan dan keinginan individu dengan tuntutan dan norma masyarakat. Sementara itu, Slamet Supriyadi memperluas pandangan ini dengan menyatakan bahwa perbedaan kepentingan dan nilai-nilai sosial antara individu dan masyarakat menjadi pemicu utama konflik. Kedua teori ini menggarisbawahi bahwa konflik tidak hanya terjadi di tingkat makro antar kelompok, tetapi juga di tingkat mikro dalam hubungan antara individu dan lingkungan sosialnya, di mana perbedaan persepsi dan harapan dapat menimbulkan ketegangan dan perselisihan.
1. Teori Konflik Driyarkara
Nicolaus Driyarkara, seorang filsuf dan pendidik Indonesia, memberikan sumbangan pemikiran yang mendalam tentang konflik, terutama dalam konteks hubungan antara individu dan masyarakat. Ia tidak hanya melihat konflik sebagai fenomena sosial, tetapi juga sebagai bagian dari dinamika eksistensial manusia. Driyarkara menekankan bahwa manusia, sebagai makhluk yang memiliki kebebasan dan tanggung jawab, sering kali dihadapkan pada ketegangan antara keinginan pribadi dan tuntutan masyarakat. Menurut Driyarkara, konflik sosial disebabkan oleh konflik antara individu dan masyarakat.
Inti dari teori konflik Driyarkara adalah gagasan bahwa konflik muncul dari pertentangan antara individu dan masyarakat. Individu, dengan keunikannya dan keinginan untuk aktualisasi diri, sering kali bertentangan dengan norma dan nilai-nilai yang ditetapkan oleh masyarakat. Pertentangan ini tidak selalu negatif; dalam pandangan Driyarkara, konflik dapat menjadi pendorong bagi pertumbuhan dan perkembangan individu dan masyarakat.
Driyarkara juga menyoroti peran kesadaran dan kebebasan dalam konflik. Manusia, sebagai makhluk yang sadar diri, memiliki kemampuan untuk merenungkan dan mempertanyakan norma-norma yang ada. Kebebasan untuk memilih dan bertindak ini dapat menyebabkan konflik ketika individu memutuskan untuk tidak mengikuti norma-norma yang dianggap tidak adil atau tidak sesuai dengan nilai-nilai pribadi mereka.
Selain itu, Driyarkara menekankan pentingnya dialog dan komunikasi dalam mengatasi konflik. Ia percaya bahwa melalui dialog yang jujur dan terbuka, individu dan masyarakat dapat mencapai pemahaman yang lebih baik tentang perbedaan mereka dan menemukan solusi yang adil dan berkelanjutan.
Dialog memungkinkan individu untuk mengekspresikan kebutuhan dan kekhawatiran mereka, sementara masyarakat dapat menjelaskan alasan di balik norma-norma yang ada.
Teori konflik Driyarkara memberikan wawasan yang berharga tentang kompleksitas hubungan antara individu dan masyarakat. Teori ini menyoroti pentingnya kebebasan, tanggung jawab, dan dialog dalam menghadapi konflik. Dengan memahami dinamika konflik ini, kita dapat membangun masyarakat yang lebih adil dan harmonis, di mana individu dapat berkembang dan berkontribusi secara positif.
2. Teori Konflik Slamet Supriyadi
Slamet Supriyadi, dalam pandangannya tentang konflik sosial, menekankan adanya perbedaan kepentingan dan nilai-nilai sosial antara individu dan masyarakat sebagai pemicu utama. Ia melihat bahwa konflik tidak hanya terjadi di tingkat makro antar kelompok, tetapi juga di tingkat mikro dalam interaksi sehari-hari antara individu dan lingkungan sosialnya.
Pandangan ini menyoroti bagaimana perbedaan persepsi, harapan, dan kebutuhan dapat menimbulkan ketegangan dan perselisihan.
Supriyadi berpendapat bahwa individu, dengan keunikan dan kebutuhan pribadinya, seringkali bertentangan dengan norma dan nilai-nilai yang ditetapkan oleh masyarakat. Perbedaan ini dapat muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari perbedaan pendapat tentang isu-isu sosial hingga perbedaan dalam gaya hidup dan nilai-nilai moral. Konflik ini tidak selalu negatif, tetapi dapat menjadi pendorong bagi perubahan sosial dan perkembangan individu.
Supriyadi juga menyoroti peran perubahan sosial dalam memicu konflik. Perubahan dalam struktur sosial, nilai-nilai, atau norma dapat menciptakan ketidakseimbangan dan ketidakpuasan, yang kemudian dapat memicu konflik antara individu dan masyarakat. Misalnya, modernisasi dan globalisasi dapat menyebabkan perubahan dalam gaya hidup dan nilai-nilai tradisional, yang dapat memicu konflik antara generasi muda dan tua, atau antara kelompok-kelompok yang berbeda budaya.
Selain itu, Supriyadi menekankan pentingnya memahami konteks sosial dalam menganalisis konflik. Faktor-faktor seperti sejarah, budaya, dan struktur kekuasaan dapat memengaruhi bentuk dan intensitas konflik. Oleh
karena itu, analisis konflik yang komprehensif harus mempertimbangkan berbagai faktor kontekstual ini. Slamet Supriyadi berpendapat bahwa konflik sosial disebabkan oleh perbedaan kepentingan dan nilai-nilai sosial antara individu dan masyarakat.
Teori konflik Supriyadi memberikan kerangka kerja yang berguna untuk memahami berbagai bentuk konflik dalam masyarakat. Teori ini menyoroti pentingnya perbedaan kepentingan dan nilai-nilai, perubahan sosial, dan konteks sosial dalam memicu konflik. Dengan memahami faktor- faktor ini, kita dapat mengembangkan strategi yang lebih efektif untuk mencegah dan mengelola konflik, serta membangun masyarakat yang lebih adil dan harmonis.
2.3Teori Konflik Sosiologis
Imam Prasodjo, seorang sosiolog Indonesia yang dikenal luas, memberikan sumbangan pemikiran yang signifikan dalam memahami dinamika konflik sosial. Ia menekankan bahwa konflik bukanlah fenomena yang terisolasi, melainkan bagian integral dari interaksi sosial yang dipengaruhi oleh perbedaan kepentingan dan nilai-nilai antar kelompok. Dalam pandangan Prasodjo, masyarakat adalah arena di mana berbagai kelompok bersaing untuk mendapatkan sumber daya yang langka, seperti kekuasaan, kekayaan, dan status.
Inti dari teori konflik Prasodjo adalah gagasan bahwa perbedaan kepentingan dan nilai-nilai sosial antar kelompok merupakan pemicu utama konflik. Perbedaan ini dapat muncul dalam berbagai bentuk, mulai dari perbedaan ekonomi, politik, hingga budaya. Ketika kelompok-kelompok dengan kepentingan dan nilai-nilai yang berbeda berinteraksi, potensi konflik selalu ada. Prasodjo menyoroti pentingnya memahami bagaimana perbedaan ini terstruktur dan bagaimana mereka memengaruhi dinamika konflik.
Prasodjo juga menyoroti peran perubahan sosial dalam memicu konflik.
Perubahan dalam struktur sosial, nilai-nilai, atau norma dapat menciptakan ketidakseimbangan dan ketidakpuasan, yang kemudian dapat memicu konflik antar kelompok. Misalnya, modernisasi dan globalisasi dapat menyebabkan
perubahan dalam distribusi sumber daya dan hubungan kekuasaan, yang dapat memicu konflik antara kelompok-kelompok yang diuntungkan dan dirugikan oleh perubahan tersebut.
Selain itu, Prasodjo menekankan pentingnya memahami konteks sosial dalam menganalisis konflik. Faktor-faktor seperti sejarah, budaya, dan struktur kekuasaan dapat memengaruhi bentuk dan intensitas konflik. Oleh karena itu, analisis konflik yang komprehensif harus mempertimbangkan berbagai faktor kontekstual ini. Prasodjo juga menyoroti pentingnya dialog dan mediasi dalam mengatasi konflik. Ia percaya bahwa melalui dialog yang jujur dan terbuka, kelompok-kelompok yang berkonflik dapat mencapai pemahaman yang lebih baik tentang perbedaan mereka dan menemukan solusi yang adil dan berkelanjutan.
Teori konflik Imam Prasodjo memberikan kerangka kerja yang berguna untuk memahami berbagai bentuk konflik dalam masyarakat Indonesia. Teori ini menyoroti pentingnya perbedaan kepentingan dan nilai-nilai, perubahan sosial, dan konteks sosial dalam memicu konflik. Dengan memahami faktor-faktor ini, kita dapat mengembangkan strategi yang lebih efektif untuk mencegah dan mengelola konflik, serta membangun masyarakat yang lebih adil dan harmonis.
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Teori konflik sosial menyoroti bahwa konflik muncul dari perbedaan kepentingan dan nilai-nilai sosial antara individu dan kelompok sosial. Para ahli seperti Soerjono Soekanto, Umar Kayam, Driyarkara, Slamet Supriyadi, dan Imam Prasodjo memberikan kontribusi penting dalam memahami dinamika konflik sosial. Mereka menekankan bahwa konflik tidak hanya terjadi di tingkat makro antar kelompok, tetapi juga di tingkat mikro dalam interaksi sehari-hari antara individu dan lingkungan sosialnya.Teori konflik sosial juga menyoroti pentingnya memahami konteks sosial, sejarah, dan budaya dalam menganalisis konflik. Perubahan sosial, perbedaan nilai-nilai, dan ketidaksetaraan dapat memicu konflik. Oleh karena itu, analisis konflik yang komprehensif harus mempertimbangkan berbagai faktor kontekstual ini. Dengan memahami teori konflik sosial, kita dapat mengembangkan strategi yang lebih efektif untuk mencegah dan mengelola konflik, serta membangun masyarakat yang lebih adil dan harmonis.
3.2 Saran
Dalam menganalisis dan mengatasi konflik sosial, perlu untuk mempertimbangkan berbagai faktor kontekstual seperti sejarah, budaya, dan struktur kekuasaan. Selain itu, dialog dan mediasi yang jujur dan terbuka dapat membantu kelompok-kelompok yang berkonflik untuk mencapai pemahaman yang lebih baik tentang perbedaan mereka dan menemukan solusi yang adil dan berkelanjutan. Dengan demikian, kita dapat membangun masyarakat yang lebih harmonis dan berkelanjutan.
DAFTAR PUSTAKA
Driyarkara. (2006). Konflik dan Integrasi Sosial. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
Fadilah, G. (2021). Implikasi Teori-teori Konflik terhadap Realitas Sosial Masa Kini: Tinjauan Pemikiran Para Tokoh Sosiologi. Journal of Society and Development, 1(1), 11-15.
Prasodjo, I. (2013). Konflik Sosial dan Resolusi Konflik. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Supriyadi, S. (2010). Sosiologi Konflik. Bandung: Refika Aditama.
Soekanto, S. (2014). Sosiologi: Suatu Pengantar. Jakarta: Rajawali Pers.
Tualeka, M. W. N. (2017). Teori konflik sosiologi klasik dan modern. Al-Hikmah:
Jurnal studi Agama-agama, 3(1), 32-48.
Kayam, U. (2004). Konflik Sosial dan Integrasi Nasional. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.