MAKALAH
INFILTRASI NILAI DAN KEBUDAYAAN DALAM ISLAM
DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 6 KELAS A STATISTIKA NAMA ANGGOTA :
1. Adinda Zachwa Athfala Naufal 24050120140175
2. Alfi Ratstsan 24050120120027
3. Aswin Nabila 24050120140135
4. Evrilsa Isna Pangastuti 24050120120021 5. Gendhis Bestari Tanjung 24050120120007 6. Muhamad Niwanul Giffar 24050120140069
7. Putri nur alifah 24050120140151 8. Titah Hikmah Rahmadani 24050120140131
UNIVERSITAS DIPONEGORO FAKULTAS SAINS DAN MATEMATIKA
PROGRAM STUDI STATISTIKA
TAHUN PELAJARAN 2020/2021
KATA PENGANTAR
Puji serta syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, Tuhan semesta alam. Atas rahmat dan karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan makalah tepat waktu tanpa kurang suatu apa pun. Tak lupa shalawat serta salam penulis haturkan kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW. Semoga syafaatnya mengalir pada kita semua di hari akhir kelak.
Penulisan makalah bertemakan “Budaya dalam Islam” ini bertujuan untuk memenuhi tugas mata kuliah Pendidikan Agama Islam. Pada makalah ini diuraikan empat pokok bahasan, yakni konsep kebudayaan dalam Islam, sejarah intelektual dalam Islam, masjid sebagai pusat peradaban, dan nilai-nilai budaya dalam Islam.
Tidak lupa terima kasih penulis haturkan kepada Bapak Suparno ,S.Ag.M.S.I selaku dosen pengampu mata kuliah Pendidikan Agama Islam yang telah membimbing penulis dalam menyelesaikan makalah ini dan seluruh pihak lain yang telah membantu selama proses pembuatan makalah. Akhir kata, penulis memahami bahwa makalah ini tentu jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, penulis memohon maaf yang sebesar-besarnya atas ketidaksempurnaan makalah ini dan penulis terbuka untuk menerima kritik dan saran untuk memperbaiki kekurangan makalah ini. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.
Semarang, 26 September 2020
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kata agama dan kebudayaan merupakan dua kata yang seringkali bertumpang tindih sehingga mengaburkan pamahaman kita terhadap keduanya. Banyak pandangan yang menyatakan agama merupakan bagian dari kebudayaan tetapi tak sedikit pula yang menyatakan kebudayaan merupakan hasil dari suatu ajaran agama. Hal ini seringkali membingungkan ketika kita harus meletakan agama islam dalam konteks budaya di kehidupan kita sehari-hari.
Menurut para ahli, budaya merupakan suatu cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang serta diwariskan dari generasi ke generasi. Budaya adalah suatu pola hidup menyeluruh yang bersifat kompleks, abstrak, dan luas. Dalam kajian budaya, sering pula dikenal istilah peradaban (sivilisasi), yaitu unsur-unsur kebudayaan yang maju, halus, dan tinggi. Istilah ini merupakan unsur serapan bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Arab yaitu dari akar kata adab. Umumnya pengertian budaya menurut para ilmuwan Barat seperti yang dikemukakan dalam antropologi dan sosiologi, adalah bahwa agama atau sistem religi sebagai bagian dari unsur kebudayaan yang sejajar dengan unsur budaya lain.
Saat ini banyak sekali kebudayaan yang menjerumuskan ke dalam kesesatan dan kemusyrikan. Oleh karena itu, pemahaman tentang kebudayaan islam ataupun kebudayaan yang bersyari’atkan islam harus diketahui sejak dini.
Diperlukan pembelajaran khusus tentang ajaran dan kebudayaan islam bagi para kaum muslim yang secara tidak langsung juga akan mendekatkan mereka kepada Allah SWT. Perlu diketahui bahwa kebudayaan islam merupakan penerapan dari nilai-nilai kebaikan dalam ajaran islam tanpa melanggar larangan-larangan di dalam Al-qur’an dan Al-Hadist.
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana konsep kebudayaan dalam islam?
2. Bagaimana sejarah intelektual Islam?
3. Mengapa masjid dijadikan sebagai pusat peradaban Islam?
4. Bagaimana nilai-nilai islam dalam budaya Indonesia ? 1.3 Tujuan
1. Mengetahui konsep kebudayaan dalam islam 2. Mengetahui sejarah intelektual Islam
3. Mengetahui perkembangan masjid sehingga dijadikan sebagai pusat peradaban Islam
4. Mengetahui nilai-nilai islam dalam budaya Indonesia
BAB II ISI
2.1 Konsep Kebudayaan dalam Islam A. Istilah Padanan Budaya dalam Islam Millah
Suatu istilah yang merujuk pada keadaan kebudayaan yang berhubungan dengan syariat yang berlangsung pada masa Nabi Ibrahim as. Millah memiliki arti yaitu agama, syariat, dan cara beribadah.
Ummah
Istilah Ummah mengandung makna sebagai orang-orang muslim dalam bentuk masyarakat kolektif. Istilah yang jamaknya disebut umam ini biasa digunakan untuk menyebut umat Islam, sebagai umat terbaik. Konsep yang ingin dituju dari istilah ummah ini adalah sebuah kelompok masyarakat yang beriman kepada Allah, rasul-rasul, dan kitab-Nya.
Athtahaqafah
Kesuluruhan cara hidup, berpikir, nilai-nila sikap, institusi, serta artefak yang membantu manusia dalam hidup yang berkembang dengan berasaskan kepada syariat Islam dan sunnah Nabi Muhammad.
At-tamaddun
Konsep kebudayaan dalam islam melibatkan istilah at-tamaddunn, dan kebudayaan Islam disebut at-atamaddun al-Islami. Tamaddun sendiri memiliki arti yang bisa disejajarkan dengan sivilisasi atau peradaban.
Adab
Kata ini memiliki pengertian sebagai unsur budaya yang dianggap mengandung nilai-nilai yang tinggi dan maju (Muhammad Takari 2018:7).
Ad-Din
Din berarti pengertian hukum atau bisa juga tentang aturan-aturan tertentu.
Istilah juga memiliki arti amalan atau upacaraa yang dilakukan secara turun- temurun dari generasi yang lalu.
B. Penafsiran tentang Budaya dalam Islam
Beberapa ahli mempercayai bahwa Islam adalah wahyu dari Allah dan termasuk ke dalam agama samawi. Dari kepercayaan para ahli ini, dapat diketahui bahwa Islam bukanlah suatu kebudayaan. Islam bukanlah hasil dari suatu kebudayaan begitu pula sebaliknya. Kebudayaan berasala dari manusia.
Agama Islam dan suatu kebudyaan berdiri sendiri-sendiri. Akan tetapi, kedua unsur tersebut dapat saling berhubungan.
Sekelompok pemikir yang lain berpendapat bahwa Islam tidak hanya tentang agama dan religi tetapi juga kumpulan aturan yang mengatur
hubungan manusia dengan Tuhan (Muhammad Takari 2018:8). Ruang lingkup ajaran Islam mengatur segi agama dan kebudayaan sekaligus.
C. Prinsip-Prinsip Kebudayaan dalam Islam
Islam datang untuk mengatur dan membimbing masyarakat menuju kepada kehidupan yang baik dan seimbang.
Dengan demikian Islam tidaklah datang untuk menghancurkan budaya yang telah dianut suatu masyarakat, akan tetapi dalam waktu yang bersamaan Islam menginginkan agar umat manusia ini jauh dan terhindar dari hal-hal yang yang tidak bermanfaat dan membawa madlarat di dalam kehidupannya, sehingga Islam perlu meluruskan dan membimbing kebudayaan yang berkembang di masyarakat menuju kebudayaan yang beradab dan berkemajuan serta mempertinggi derajat kemanusiaan.
Prinsip semacam ini, sebenarnya telah menjiwai isi Undang-undang Dasar Negara Indonesia, pasal 32, walaupun secara praktik dan perinciannya terdapat perbedaan-perbedaan yang sangat menyolok. Dalam penjelasan UUD pasal 32, disebutkan : “ Usaha kebudayaan harus menuju ke arah kemajuan adab, budaya dan persatuan, dengan tidak menolak bahan-bahan baru dari kebudayaan asing yang dapat memperkembangkan atau memperkaya kebudayaan bangsa sendiri, serta mempertinggi derajat kemanusiaan bangsa Idonesia “.
Dari situ, Islam telah membagi budaya menjadi tiga macam :
1. Kebudayaan yang tidak bertentangan dengan Islam.
Contohnya kadar besar kecilnya mahar dalam pernikahan, di dalam masyarakat Aceh, umpamanya, keluarga wanita
biasanya, menentukan jumlah mas kawin sekitar 50-100 gram emas.
2. Kebudayaan yang sebagian unsurnya bertentangan dengan Islam ,
Contoh yang paling jelas, adalah tradisi Jahiliyah yang
melakukan ibadah haji dengan cara-cara yang bertentangan dengan ajaran Islam , seperti lafadh “ talbiyah “ yang sarat dengan kesyirikan, thowaf di Ka’bah dengan telanjang.
3. Kebudayaan yang bertentangan dengan Islam.
Contohnya budaya “ngaben“ yang dilakukan oleh masyarakat Bali
2.2 Sejarah Intelektual Dalam Islam
Perkembangan kebudayaan Islam memiliki sejarah yang sangat panjang.
Berbeda dengan beberapa peradaban besar lainnya seperti Indus, Huang Ho, Mesir, Yunani, Romawi, bahkan Inca yang telah hilang, peradaban Islam masih terus berkembang hingga saat ini. Eksistensi peradaban Islam yang terus berlanjut bukan hanya memaparkan kegemilangannya, tetapi juga memperlihatkan bahwa Islam mampu mengikuti perkembangan zaman.
Sejarah intelektual Islam dimulai ketika Nabi Muhammad SAW menerima wahyu pertamanya yaitu Qur’an Surat Al – Alaq ayat 1 sampai 5. Wahyu ini memiliki arti “Bacalah! dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah! dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya”. Dalam ayat ini terdapat kata-kata bacaan, pengajaran, dan pena yang merupakan aktivitas keintelektualan.
Betapa ilmu pengetahuan sangat diagungkan dalam Islam. Sebagai contoh, kita dapat melihat bagaimana Rasulullah Saw. membuat suatu keputusan luar biasa pada saat perang badar, yaitu kaum musyrikin yang menjadi tawanan dapat membebaskan diri dengan cara mengajar anak-anak kaum muslimin dengan baca tulis.
Sejak wahyu turun, Rasulullah mulai meletakkan dasar-dasar kebudayaan Islam. Ketika abad ke-6, Islam yang telah menyebar di seluruh penjuru dunia mengalami asimilasi (pencampuran) dengan budaya-budaya setempat yang kemudian melahirkan kebudayaan Islam. Seiring berjalannya waktu, Islam semakin berkembang menjadi suatu peradaban yang diakui kebenarannya secara universal.
Berdasarkan teori yang dikemukakan Harun Nasution (1986), dilihat dari segi perkembangannya, sejarah intelektual Islam dapat dikelompokkan menjadi tiga masa, yaitu:
A. Masa Klasik (650 – 1250 M)
Pada masa klasik, lahir ulama Madzab seperti, Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Hambali, dan Imam Syafi’I. Bersamaan dengan itu lahir pula filosof Muslim seperti Al-Kindi tahun 801 M seorang filosof muslim pertama, Ar Razi (filosof besar) tahun 865 M, Al Farabi tahun 870 M yang dikenal sebagai pembangun agung sistem filsafat. Berikutnya Ibnu Maskawaih tahun 930 M, merupakan pemikir terkenal tentang pendidikan akhlak. Kemudian Ibnu Sina tahun 1037 M, Ibnu Bajjah tahun 1183 M, dan Ibnu Rusydi tahun 1126 M. Berikut hal-hal besar yang terjadi di masa klasik peradaban Islam.
1. Kemajuan umat islam dimulai sejak dilakukannya ekspansi oleh dinasti Umayyah.
2. Lahir pemikir muslim dari berbagai disiplin ilmu 3. Muncul ulama madzhab
4. Berkuasanya raja dinasti Abbasiyah, yaitu Al-Ma’mun, raja yang cendekiawan karena perhatiannya terhadap ilmu pengetahuan sangat besar
5. Dinasti Umayyah di Spanyol yang didirikan oleh Abdurrahman pada tahun 750 meletakkan pusat pemerintahan di Cordova, mendirikan masjid,univ, serta perpustakaan yang berisi berbagai macam buku sebagai pusat pengembangan kebudayaan Islam
6. Didirikan masjid Al-Ashar dan Darul Hikmah
B. Masa Pertengahan (1250 – 1800 M)
Pada masa pertengahan ini, dalam catatan sejarah pemikiran Islam, terjadi fase kemunduran karena filsafat mulai dijauhkan dari umat Islam.
Terjadi pertentangan antara para fuqoha dengan para ahli teologi terkait wahyu, iman dengan ilmu, maupun dunia dengan akhirat, yang bahkan pengaruhnya masih terasa sampai sekarang. Puncaknya terjadi Ketika para ulama sudah mendekat kepada para penguasa pemerintah. Para ulama’ justru mulai mengejar duniawi, sehingga kondisi umat menjadi carut-marut setalah kehilangan figure pemimpin yang dicintainya. Adapun secara singat, berikut hal yang terjadi pada masa pertengahan peradaban Islam.
1. Mengalami kemunduran ilmu pengetahuan dan ilmu filsafat dalam dunia islam
2. Kehilangan figur pemimpin ideal
3. Umat islam lebih berfungsi sebagi konsumen daripada sebagai produsen C. Masa Modern (1800 – Sekarang)
Pada masa modern, peradaban Islam mulai mengalami kebangkitan. Berikut gambaran singkat yang terjadi pada masa modern ini.
1. Masa kebangkitan umat islam
2. Memurnikan ajaran islam dari unsur-unsur yang menyebabkan kemunduran
3. Menyerap pengetahuan bangsa barat untuk mengimbangi pengetahuan mereka
4. Melepaskan diri dari penjajahan bangsa barat
Ada pertanyaan mendasar yang sering kali dilontarkan para intelektual muslim, mengapa umat Islam tidak bisa menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi. Jawabannya sangat sederhana, yaitu karena umat Islam tidak mau melanjutkan tradisi keilmuaan yang diwariskan oleh para ilmuan besar masa klasik. Pada masa kejayaan, umat Islam justru banyak terbuai dengan kemegahan yang bersifat material sehingga pada jaman modern ini nampaknya jarang sekali para ilmuwan dan tokoh-tokoh ilmu kaliber dunia yang lahir dari negara-negara
kaya seperti Timur Tengah, atau dari Negara-negara yang penduduknya mayoritas Islam seperti Negara Indonesia ini.
2.3 Masjid Sebagai Pusat Peradaban A. Apa itu masjid?
Masjid pada umumnya merupakan tempat ibadah. Secara etimologi masjid berasal dari asal kata sajada yang berarti sujud atau tunduk. Masjid berasal dari BahasaArab yang secara harfiah berarti tempat bersujud. Kata masjid ditemukan dalam sebuah inskripsi dari abad ke-5 sebelum Masehi yang berarti tiang suci atau tempat sembahan. Masjid pertama didirikan pada tanggal 12 rabiul awal tahun pertama hijriyah yakni masjid Quba di Madinah, kemudian masjid Nabawi.
Ada sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari:323, Rasulullahshallallahu‘alaihiwa sallam bersabda,
ِتُيْطِعْأُاسًمْخَمْلَنّهُطَعْيُدٌحَأَيلِبْقَتُرْصِنُبِعْرّلابِةَرَيْسِمَرٍهْشَوَتْلَعِجُيلِضُرَْلاْادًجِسْمَوَارًوْهُطَامَيّأَفَلٍجُرَنْم يتِمّأُهُتْكَرَدْأَةَُلصّللّصَيُلْفَ
“Aku diberi lima hal yang tidak diberikan kepada seorangpun sebelumku:
aku dimenangkan dengan perasaan takut yang menimpa musuhku dengan jarak sebulan perjalanan, bumi dijadikan bagiku sebagai mesjid dan suci, siapapun dari umatku yang menjumpai waktu shalat maka shalatlah….”
B. Bagaimana fungsi masjid?
Berawal dari fungsi masjid Nabawi sebagai pusat kegiatan para khalifah.
Kemudian diperluas sebagai pusat bertemunya sahabat dan pemimpin muslim, tempat berdakwah, tempat pendidikan penyebaran islam. Dari sanalah fungsi masjid sebagai pusat peradaban semakin berkembang pesat. Dengan demikian tujuan didirikannya masjid sebagaimana disebutkan dalam Al-quran bahwa mendirikan masjid adalah untuk meningkatkan ketaqwaan seseorang manusia terhadap AllahSWT sebagaimana disebutkan dalam QS.At-Taubah:107
َلُبْقَنمِۥهُلَوسسسسُرَوَهَلّلٱبَرَاحَنْمَلِادًاصَرْإِوَنَينِمِؤْمُلْٱنَيْبَاقًۢيرِفْتَوَارًفْكُوَارًارَضِادًجِسْمَا ۟وذُخَتّٱنَيذِلّٱو نَوبُذِكَٰلَمْهُنّإِدُهَشْيَهُلّلٱوَۖ ىٰنَسْحُلْٱلّإِآنَدْرَأَ نْإِنّفُلِحْيَلَوَۚ
"Dan ( di antara orang-orang munafik itu ) ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan ( pada orang-orang mukmin ), untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mukmin serta menunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka Sesungguhnya bersumpah : "Kami tidak menghendaki selain kebaikan .” Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah
pendusta ( dalam sumpahnya )." serta tujuan pendirian masjid juga terdapat pada QS.AT-Taubah:18
ِ َ ّلٱلّإ ِ سسسسسشَخْيَمْلَوَةَو ٰكَزّلٱىتَاءَوَةَوٰلَصّلٱمَاقَأَوَرِخِاءَلْٱمِوْيَلْٱوَهِلّلٱبِنَمَاء َنْمَهِلّلٱدَجِس َٰمَرُمُعْيَامَنّإ نَيدِتَهْمُلْٱنَمِا ۟ونُوكُيَ نأَكَئِلَٰٓو۟أُىٰٓسَعَفَۖ
"Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut ( kepada siapapun ) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk." Adapun aktifitas yang dilakukan di masjid sebagai berikut:
1. Menyelenggarakan sholat
2. Menyelenggrakan pendidikan dan kajian islam 3. Menyelenggarakan kegiatan sosial
4. Dsb.
2.4 Nilai-Nilai Islam dalam Budaya Indonesia
Perlu diketahui bahwa ajaran Islam bersifat universal. Islam berasal dari Arab dan menyebar ke seluruh penjuru dunia termasuk ke Indonesia. Islam disebarkan melalui berbagai jalur, seperti perdagangan, pernikahan, pendidikan, tasawuf, dan kebudayaan. Dr.HJ.De Graaf dan Dr.TH.G.TH. Pigeaue mencatatkan bahwa ajaran Islam banyak menyentuh kaum istana tanpa kekerasan sebagaimana bangsa lain di dunia. Islam masuk tanpa adanya paksaan dan justru sebagian besar masyarakat menengah di masa kedatangan Islam merasa bangga dan dilindungi setelah memeluk Islam. Kedatangan ajaran Islam di Indonesia juga menghapuskan sistem kasta yang telah dipakai berabad-abad lamanya.
Pendekatan budaya adalah salah satu cara yang digunakan para wali di Nusantara untuk menyebarkan Isam. Kecerdasan para wali dalam memadukan nilai-nilai Islam dalam kebudayaan nusantara adalah kunci dari penyebaran Islam melalui jalur budaya. Sebagai contoh, para wali yang menyebarkan Islam di tanah Jawa. Mereka menyebarkan ajaran Islam dengan dengan membiarkan budaya lama berinteraksi dengan nilai-nilai keislaman. Sikap toleran terhadap budaya ini ternyata cukup berhasil , bahkan hingga sekarang banyak istilah dari peleburan antara agama dan budaya yang masih digunakan. Misalnya saja , sebagian orang Jawa sering menyebut Salat dengan Sembahyang yang artinya menyembah Sang Hyang. Istilah sembahyang tersebut sejatinya digunakan oleh penganut agama Hindu. Selain itu, terdapat juga upacara-upacara adat dengan doa-doa dan dijiwai nilai Islam, seperti dalam upacara Sekaten yang merupakan tradisi Maulid Nabi Muhammad yang biasa diselenggarakan masyarakat Yogyakarta.
Ajaran Islam yang sangat luwes juga dilihat dalam perayaan Idul Fitri pada 1 Sya’wal. Masyarakat Indonesia mengenal tradisi halalbihalal yang dilaksanakan oleh masyarakat tanpa memandang perbedaan ras, kasta, dan lainnya. Setiap orang dapat saling bersilaturahmi dan bermaaf-maafan tanpa memandang jurang perbedaan. Nilai Islam dari budaya ini adalah nilai Ukhuwah Islamiyah atau
persaudaraan antarsesama Muslim. Selain kedua contoh di atas, masih sangat banyak nilai-nilai Islam dalam budaya Indonesia, di antaranya
A. Penggunaan Nama-nama Islam di Nusantara
Muhammad, Siti, Akbar, Khalid , dan nama-nama lainnya tentu sangat sering dijumpai di nusantara. Banyak pemeluk Islam di Indonesia memberikan nama dari Bahasa Arab yang memiliki arti yang baik kepada keturunan mereka. Hal ini karena salah satu kewajiban orang tua pada anak adalah memberikan nama yang baik sebagaimana hadits Sesungguhnya diantara kewajiban orangtua terhadap anaknya adalah mengajarinya menulis, memberikan nama yang baik, dan menikahkannya bila telah dewasa.” (HR. Ibnu Najar)
B. Terciptanya Adat Istiadat Bernuansa Islam
Pada uraian di atas telah disebutkan upacara Sekaten yang merupakan upacara Maulid Nabi di Yogyakarta. Acara ini diawali dengan arak-arakan Abdi dalem dan dua gamelan. Kedua gamelan itu dimainkan tujuh hari berturut-turut.
Acara ini diakhiri dengan gerebeg mauludan yang berupa pembagian gunungan hasil bumi kepada masyarakat sebagai bentuk rasa sukur kepada Allah SWT.
Tahlilan juga merupakan suatu penyerapan nilai-nilai Islam dalam budaya Nusantara. Tahlilan adalah upacara memperingati dan mendoakan orang yang telah meninggal yang dilaksanakan pada hari pertama hingga ketujuh kematian, hari ke-40, 100, dan seterusnya. Tahlil menurut sebagian pendapat merupakan hasil proses islamisasi dari agama Hindu. Para wali kemudian memodifikasi tradisi ini menjadi acara untuk mendoakan keluarga yang sudah meninggal dunia.
Kebiasaan mengucap salam dan basmallah juga merupakan hasil dari infiltrasi nilai Islam ke dalam kebiasaan masyarakat. Masyarakat menjadi terbiasa dalam menjadi terbiasa untuk mengucapkan salam dan basmallah sebelum memulai kegiatannya. Acara syukuran baik itu untuk memperingati bulan kehamilan ( empat bulanan dan tujuh bulanan) juga menjadi salah satu infiltrasi nilai-nilai islam dalam kebudayaan nusantara. Hakikatnya tentu saja sebagai rasa syukur kepada Allah SWT.
C. Lahirnya Kesenian Bercorak Islam
Kesenian yang mengandung nilai Islam berkembang dengan sangat pesat seiring dengan menyebarnya islam di Nusantara. Kesenian-kesenian ini berupa musik, wayang, , dan lainnya. Musik bercorak islam biasanya berupa kasidah yang diiringi gambus, rebana, hadrah, maupun alat musik lainnya. Kasidah biasanya bernafaskan ajaran Islam. Selain kasidah, terkadang sholawat Nabi pun turut diiringi hadroh dan marawis.
Suluk merupakan sebuah karya seni berbentuk sastra jawa yang isinya mengandung petuah–petuah ajaran kebaikan atau ajaran-ajaran yang bernafaskan Islam kemudian dinyanyikan atau ditembangkan dengan tembangtembang Jawa, serta diiringi dengan alat musik gamelan, salah satu alat musik tersebut adalah alat musik bonang. Sunan Bonang menciptakan suluk bernafaskan ajaran Islam yang digunakan untuk membantunya dalam berdakwah. Karena gamelan sangat melekat pada masyarakat Jawa, kemudian masyarakat banyak yang antusias untuk mendengarkan suluk yang dilantunkan Sunan Bonang. Selain suluk Sunan Bonang, terdapat beberapa suluk lain yang terkenal seperti syair Si Burung
Pingai dan syair Perahu karya Hamzah Fansuri serta syair Abdul Muluk dan syair gurindam dua belas karya Ali Haji. Syair gurindam dua belas berisi nasihat kepada para pemimpin agar mereka memimpin dengan bijaksana. Ada juga nasihat untuk rakyat biasa agar mereka menjadi terhormat dan disegani oleh sesama manusia. Syair Abdul Muluk menceritakan Raja Abdul Muluk.
Selain suluk, karya sastra lain yang berkembang adalah hikayat. Hikayat adalah salah satu bentuk sastra prosa, terutama pada Bahasa Melayu yang berisikan mengenai suatu kisah, cerita,dan terkadang keagamaan. Hikayat bercorak Islam yang terkenal di antaranya adalah Babad Tanah Jawa dan Bustanus Salatin yang merupakan peninggalan kerajaan Aceh.
Wayang juga merupakan salah satu kebudayaan Indonesia yang disisipi nilai islam. Sunan Bonang dan muridnya, Sunan Kalijaga yang menggunakan media wayang dalam menyebarkan Islam. Ketika itu, masyarakat yang ingin menonton pentas wayang tidak perlu membayar dengan uang , tetapi hanya perlu membaca dua kalimat syahadat. Tokoh-tokoh wayang Islam ini cukup berbeda dengan pementasan wayang sebelum adanya Islam. Sunan Kalijaga menciptakan tokoh Punokawan yang pada hakikatnya memiliki arti teman yang mempunyai kemampuan mengamati segala fenomena dan peristiwa dalam tatanan kehidupan manusia. Tokoh Punokawan di antaranya Bagong, Gareng, Petruk, dan Semar.
Adapun salah satu cerita wayang yang sering dipentaskan Sunan Kalijaga adalah Jimat Kelimosodo (artinya kalimat syahadat).
D. Terciptanya Bangunan-bangunan Bercorak Islam
Bangunan bercorak Islam di Indonesia bukan hanya terdapat pada masjid , tetapi juga Istana dan makam yang bercorak Islam. Istana bercorak Islam terdapat pada kerajaan Islam, seperti Istana Ternate dan Tidore di Maluku, Keraton Kasepuhan dan Kanoman di Cirebon, Keraton Pakualaman , Istana Gowa dan masih banyak lagi istana lainnya. Makam yang bercorak Islam juga sangat banyak ditemukan di Nusantara, seperti makam Fatimah binti Maimun, Maulana Malik Ibrahim dan Sunan Giri di Gresik, makam Sunan Gunung Jati di Cirebon, Makam Sunan Kudus dan Sunan Muria di Kudus, Jawa tengah serta makam raja-raja di kerajaam yang bercorak Islam.
E. Sistem Pendidikan Islam
Nilai-nilai Islam juga memengaruhi sistem pendidikan di Indonesia.
Salah satu bentuk pengaruh nilai Islam di bidang pendidikan adalah pesantren. Para Santri berguru pada Kyai atau ulama untuk mempelajari ilmu agama. Pesantren menjadi pusat pendidikan agama Islam dan menghasilkan lulusan santri yang berdakwah di daerah asal mereka ataupun ke daerah lain untuk menyebarkan Islam. Alhasil Agama Islam makin menyebar luas di Nusantara.
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kebudayaan akan berkembang bilamana adanya pengarahan dan kemampuan yang dimiliki manusia yang diberikan Allah SWT kepada makhluk ciptaan Nya.Disini peran agama islam yaitu untuk membimbing manusia dalam mengembangkan akal budinya sehingga menghasilkan budaya yang beradab atau beradaban islam. Kebudayaan islami adalah hasil olah akal, budi, cipta, rasa, karsa dan karya manusia yang tidak terlepas dari nilai- nilai ketuhanan. Hasil olah yang universal berkembang menjadi sebuah peradaban. Kebudayaan juga harus memperhatikan prinsip- prinsip islam yaitu: menghormati akal, tidak menimbulkan kerusakan, sebagai sumber ilmu, jelas asal usul dan tujuannya sesuai dengan ajaran islam sehingga tidak ada seseorang yang merasakan taklid buta.
Dalam konsep kebudayaan islam masjid termasuk tempat yang turut andil dalam mendorong upaya islam untuk memajukan umatnya dengan berkebudayaan yang sesuai ajaran islam. Masjid memiliki banyak fungsi salah satunya yaitu sebagai pusat penyebaran ilmu ilmu tentang islam sehingga nilai nilai islampun semakin berkembang dan menyebar darimasa ke masa, sehingga kebudayaan islam dapat berbaur dengan kebudayaan lain yang akan direkontruksi sesuai syariat dan ajaran islam yang berlaku.
3.2 Saran
Diharapkan kepada pembaca untuk belajar mengetahui sejarah kebudayaan islam sebab agar lebih mengenal sebuah kebudayaan islam tersebut terjadi dan berkulturalisasi dengan kebudayaan lain dengan syarat sesuai syariat dan ajaran islam.
DAFTAR PUSTAKA
Gana, Islamika. 2018. <https://ganaislamika.com/wayang-dalam-dakwah-islam- di-nusantara-5-peran-dan-sejarah-sunan-kalijaga-2/> [Diakses Pada 28
September 2020]
Id.wikipedia.org. 2020. Budaya. <https://id.wikipedia.org/wiki/Budaya> [Diakses pada 27 September 2020].
Journal.uin-alauddin.ac.id. 2016. SEJARAH INTELEKTUAL ISLAM
INDONESIA Studi Kasus Pemikiran Nurchalish Madjid Dan Hamka (Studi Perbandingan). <http://journal.uin-
alauddin.ac.id/index.php/rihlah/article/view/2827/267 7> [Diakses pada 25 September 2020]
Mindaudahedu. 2012. BAB IV KEBUDAYAAN DALAM ISLAM.
<https://mindaudahedu.wordpress.com/2012/05/26/kebudayaan-dalam-islam-2/>
[Diakses pada 24 September 2020]
Muzib, Moch. 2018.
<https://www.kompasiana.com/santricakang/5ec85bef097f363cd521e8e5/nilai- nilai-islam-dalam-budaya-indonesia?page=all > [Diakses pada 28 September 2020]
Nurulayyubi.blogspot.com. 2013. Konsep Kebudayaan Islam.
<http://nurulayyubi.blogspot.com/2013/02/bab-i-pendahuluan-1.html?
m=1#:~:text=Kebudayaan%20yang%20Islami%20adalah%20hasil,terlepas
%20dari%20nilai%2Dnilai%20ketuhanan.&text=Di%20sinilah%2C%20agama
%20berfungsi%20untuk,beradab%20yang%20sesuai%20ajaran%20islam> [Di Akses Pada 24 September 2020]
Pertana, P.2018. Menag Lukman: Agama Dan Budaya Tak Bisa Dipisahkan.
[online] detiknews. <https://news.detik.com/berita-jawa-tengah/d-
4286247/menag-lukman-agama-dan-budaya-tak-bisa-dipisahkan> [ Diakses Pada 27 September 2020]
Takari, Muhammad. 2018.
<https://www.researchgate.net/profile/Muhammad_Takari/publication/32723149 2_KONSEP_KEBUDAYAAN_DALAM_ISLAM/links/5b828905299bf1d5a729 05a1/KONSEP-KEBUDAYAAN-DALAM-ISLAM.pdf > [Diakses pada 26 September 2020]