• Tidak ada hasil yang ditemukan

Makalah Pembenihan Lobster

N/A
N/A
aditya Farhan

Academic year: 2025

Membagikan "Makalah Pembenihan Lobster"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN PRAKTIKUM FIELDTRIP di BALAI BESAR BUDIDAYA PERIKANAN LAUT LAMPUNG (BBPBL) MATA

KULIAH TEKNIK PEMBENIHAN IKAN AIR PAYAU

(PPI 1511) Di Susun Oleh:

1. Achmad Sopian Amanda 23744001 2. Defghi Hari Kurniawan 23744007 3. Muhammad Aditya Farhan 23744017 4. Robi Julian 23744022 5. Yudhistira Aryo Wicaksono 23744029 6. Zyahra Amelia Putri 23744030

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PEMBENIHAN IKAN JURUSAN PERIKANAN DAN KELAUTAN

POLITEKNIK NEGERI LAMPUNG

2025

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat, taufik, dan hidayah- Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan praktikum fieldtrip ini dengan baik. Laporan ini disusun sebagai bentuk penyediaan tugas mata kuliah Teknik Pembenihan Ikan Air Payau, di bawah bimbingan dosen pengampu Ibu Qorie Astria, S.Pi., M.Si., yang telah memberikan arahan, motivasi, serta ilmu yang sangat bermanfaat dalam proses pelaksanaan kegiatan ini.

Praktikum fieldtrip yang dilaksanakan di Balai Besar Budidaya Perikanan Laut Lampung (BBPBL) memberikan pengalaman langsung dan pemahaman praktis kepada mahasiswa mengenai proses pembenihan ikan air payau, mulai dari pemeliharaan induk, pemijahan, penetasan telur, hingga pemeliharaan larva.

Kegiatan ini sangat penting dalam mendukung penguasaan teori yang telah dipelajari di kelas serta membentuk kompetensi siswa dalam bidang teknologi pembenihan secara nyata dan aplikatif di lapangan.

Penulis menyampaikan terima kasih yang sebesar- besarnya kepada:

1. Ibu Qorie Astria, S.Pi., M.Si., selaku dosen pengampu mata kuliah Teknik Pembenihan Ikan Air Payau, atas segala bimbingan dan kesempatan yang diberikan;

2. Pihak BBPBL Lampung, yang telah menerima kunjungan kami dengan tangan terbuka serta memberikan wawasan, fasilitas, dan kesempatan belajar langsung di unit kerja yang relevan;

3. Seluruh dosen dan staf pengajar Program Studi Teknologi Pembenihan Ikan, serta rekan- rekan mahasiswa yang ikut berpartisipasi dan bekerja sama dalam pelaksanaan kegiatan ini.

Penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari kesempurnaan, baik dari segi isi maupun penyusunan. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi perbaikan laporan ini di masa mendatang.

Akhir kata, semoga laporan ini dapat memberikan manfaat dan menjadi referensi bagi pihak- pihak yang membutuhkan, serta menjadi bentuk kontribusi nyata mahasiswa dalam upaya pengembangan keilmuan dan keterampilan di bidang perikanan, khususnya pada aspek pembenihan ikan air payau.

Bandar Lampung, 20 Mei 2025

(3)

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR... 2

BAB I...4

PENDAHULUAN...4

BAB II... 7

TINJAUAN PUSTAKA...7

BAB III...10

METODE PELAKSANAAN...10

BAB IV... 13

PEMBAHASAN... 13

BAB V...20

KESIMPULAN DAN SARAN...20

BAB VI...22

DAFTAR PUSTAKA... 22

BAB VII... 24

LAMPIRAN...24

(4)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Perikanan budidaya merupakan salah satu sektor strategis dalam pembangunan ekonomi kelautan Indonesia, khususnya dalam mendukung ketahanan pangan, penciptaan lapangan kerja, dan peningkatan pendapatan masyarakat pesisir. Salah satu komoditas unggulan dalam perikanan budidaya adalah ikan air payau, seperti kerapu, kakap putih, bandeng, dan udang. Untuk mendukung keberhasilan budidaya komoditas tersebut, ketersediaan benih yang berkualitas, sehat, dan berkelanjutan menjadi faktor utama yang tidak dapat diabaikan. Oleh karena itu, diperlukan penerapan teknik pembenihan yang tepat berdasarkan prinsip ilmiah dan praktik terbaik di lapangan.

Sebagai bagian dari proses pembelajaran dalam mata kuliah Teknik Pembenihan Ikan Air Payau, kegiatan fieldtrip ke Balai Besar Budidaya Perikanan Laut (BBPBL) Lampung dilaksanakan untuk memberikan pengalaman langsung kepada mahasiswa dalam melihat dan mempelajari sistem pembenihan modern dan terintegrasi yang diterapkan oleh instansi pemerintah. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat pemahaman teoritis yang telah diperoleh di kelas serta memberikan wawasan praktis mengenai prosedur pembenihan yang meliputi seleksi induk, proses pemijahan, penetasan telur, pemeliharaan larva, manajemen kualitas air, serta penerapan biosekuriti di unit pembenihan.

BBPBL Lampung merupakan salah satu unit pelaksana teknis (UPT) di bawah Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia. Balai ini berlokasi di Jl. Raya Hanura, Desa Hurun, Kecamatan Teluk Pandan, Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung. Didirikan pada tahun 1984, BBPBL Lampung awalnya bernama Balai Budidaya Laut (BBL) dan difungsikan sebagai pusat pengembangan teknologi budidaya perikanan laut dan air payau. Seiring berkembangnya fungsi dan cakupan kerja, pada tahun 2004 BBL diubah statusnya menjadi balai besar guna memperluas peran dalam pelayanan produksi benih unggul, penelitian terapan, pelatihan, serta pengembangan teknologi pembenihan dan budidaya ikan laut dan air payau di tingkat nasional.

(5)

Hingga saat ini, BBPBL Lampung telah menjadi salah satu pusat unggulan (center of excellence) dalam pengembangan teknologi pembenihan ikan laut dan air payau, termasuk dalam menghasilkan benih ikan unggulan seperti kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus), kerapu cantang (Epinephelus spp.), kakap putih (Lates calcarifer), dan udang vannamei (Litopenaeus vannamei). BBPBL juga aktif bekerja sama dengan berbagai pihak seperti perguruan tinggi, swasta, dan masyarakat pembudidaya dalam mendiseminasi teknologi yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Melalui kegiatan fieldtrip ini, mahasiswa diharapkan tidak hanya memahami teknis pembenihan secara menyeluruh, tetapi juga mengenal lebih dekat peran kelembagaan pemerintah dalam mendukung keberhasilan program budidaya perikanan nasional. Pengetahuan dan pengalaman lapangan yang diperoleh menjadi bekal penting bagi mahasiswa dalam mempersiapkan diri sebagai tenaga profesional di sektor perikanan budidaya yang inovatif, adaptif, dan berdaya saing tinggi.

1.2 Tujuan Kegiatan

Kegiatan fieldtrip ke Balai Besar Budidaya Perikanan Laut (BBPBL) Lampung dilaksanakan sebagai bagian dari mata kuliah Teknik Pembenihan Ikan Air Payau dengan tujuan utama untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan mahasiswa dalam bidang pembenihan ikan air payau secara langsung di lapangan.

Tujuan-tujuan spesifik dari kegiatan ini antara lain:

1. Menambah wawasan dan pengetahuan mahasiswa mengenai sistem dan teknologi pembenihan ikan air payau yang diterapkan di unit pembenihan berskala besar dan profesional.

2. Mengamati secara langsung proses pembenihan, mulai dari pemeliharaan induk, teknik pemijahan, penetasan telur, pemeliharaan larva hingga menjadi benih siap tebar.

3. Mempelajari sistem manajemen kualitas air dan biosekuriti yang digunakan dalam pembenihan ikan air payau agar menghasilkan benih yang sehat dan berkualitas.

(6)

4. Meningkatkan pemahaman mahasiswa tentang peran BBPBL Lampung sebagai lembaga pemerintah dalam mendukung program nasional di bidang perikanan budidaya.

5. Menumbuhkan sikap profesional, tanggung jawab, dan ketertarikan mahasiswa terhadap bidang pembenihan ikan air payau sebagai salah satu peluang kerja dan wirausaha di sektor perikanan.

1.3 Manfaat Kegiatan

Kegiatan fieldtrip ke Balai Besar Budidaya Perikanan Laut (BBPBL) Lampung memberikan berbagai manfaat yang signifikan, baik bagi mahasiswa secara individu maupun institusi pendidikan. Adapun manfaat yang diperoleh dari pelaksanaan kegiatan ini antara lain:

1. Meningkatkan pemahaman praktis mahasiswa tentang teknik-teknik pembenihan ikan air payau secara langsung di lapangan, sehingga mampu melengkapi teori yang diperoleh di perkuliahan dengan pengalaman nyata.

2. Memberikan gambaran riil tentang dunia kerja di sektor perikanan, khususnya dalam bidang pembenihan ikan air payau, sebagai bekal untuk menghadapi dunia profesional atau membuka peluang wirausaha di bidang budidaya.

3. Memperkuat keterampilan observasi, analisis, dan pencatatan data lapangan yang berguna dalam kegiatan riset maupun penyusunan laporan ilmiah.

(7)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Pembenihan ikan merupakan salah satu tahapan kunci dalam sistem budidaya perikanan, karena menentukan keberhasilan produksi secara menyeluruh. Dalam konteks perikanan air payau, kegiatan pembenihan mencakup pemilihan induk berkualitas, pemeliharaan induk, teknik pemijahan (baik alami maupun buatan), penetasan telur, hingga pemeliharaan larva sampai tahap benih siap tebar. Teknik pembenihan ini memerlukan perhatian khusus terhadap berbagai faktor seperti kualitas air, pemberian pakan alami maupun buatan, serta pengelolaan lingkungan pemeliharaan secara menyeluruh (Sutarmat et al., 2018). Menurut Afrianto dan Liviawaty (2015), teknik pemijahan buatan dengan bantuan hormon umumnya diterapkan pada beberapa jenis ikan air payau karena banyak di antaranya belum mampu memijah secara alami di lingkungan terkontrol. Hormon yang digunakan berfungsi untuk merangsang pematangan gonad sehingga pemijahan dapat berlangsung dengan baik dan terjadwal.

Beberapa komoditas utama ikan air payau yang sering dibenihkan di Indonesia antara lain adalah kerapu (Epinephelus spp.), kakap putih (Lates calcarifer), dan udang vannamei (Litopenaeus vannamei). Kerapu, khususnya jenis hibrida seperti kerapu cantang yang merupakan hasil persilangan antara kerapu macan dan kerapu kertang, memiliki keunggulan dalam hal pertumbuhan yang cepat, ketahanan terhadap penyakit, serta efisiensi konversi pakan. Kerapu cantang menjadi salah satu komoditas unggulan nasional karena permintaan pasar yang tinggi, baik di dalam negeri maupun ekspor (Hariati & Azrita, 2021). Selain itu, kakap putih juga merupakan komoditas air payau yang penting karena daya adaptasinya yang tinggi dan teknik budidayanya yang sudah banyak dikembangkan. Risjani et al. (2019) menyatakan bahwa kakap putih memiliki nilai ekonomis tinggi serta dapat dibudidayakan dalam sistem intensif maupun semi-intensif. Sementara itu, udang vannamei menjadi komoditas ekspor andalan Indonesia, dengan sistem pembenihan yang sangat bergantung pada kualitas air, penerapan biosekuriti, serta manajemen pakan larva yang efisien (Wibowo et al., 2022).

(8)

Balai Besar Budidaya Perikanan Laut (BBPBL) Lampung merupakan lembaga di bawah naungan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), yang memiliki peran strategis dalam pengembangan teknologi pembenihan dan budidaya ikan laut dan air payau. Didirikan pada tahun 1984 dengan nama awal Balai Budidaya Laut (BBL), BBPBL Lampung berkembang menjadi pusat unggulan nasional setelah mengalami transformasi menjadi balai besar pada tahun 2004 (KKP, 2021). Fasilitas yang dimiliki BBPBL meliputi hatchery skala besar, laboratorium, sistem resirkulasi air (RAS), unit produksi pakan alami, dan kolam pemeliharaan induk. Balai ini berfungsi tidak hanya sebagai pusat produksi benih unggul, tetapi juga sebagai tempat pelatihan, riset terapan, serta pusat informasi dan transfer teknologi kepada pembudidaya dan institusi pendidikan. Teknologi pembenihan yang dikembangkan oleh BBPBL mencakup teknik pemijahan terkontrol menggunakan hormon, pemeliharaan larva dengan pakan alami seperti rotifera dan Artemia, serta pengendalian penyakit melalui sistem biosekuriti yang ketat (KKP, 2023).

Dalam kegiatan pembenihan, kualitas air menjadi faktor utama yang sangat memengaruhi kelangsungan hidup dan pertumbuhan larva. Parameter penting seperti suhu, salinitas, pH, dan kadar oksigen terlarut harus dijaga dalam kisaran optimal. Dewi et al. (2020) menjelaskan bahwa suhu ideal untuk larva ikan air payau berada pada kisaran 28–32°C, dengan salinitas antara 15–30 ppt, pH 7,5–8,5, dan oksigen terlarut minimal 5 mg/L. Ketidakseimbangan salah satu parameter tersebut dapat menyebabkan stres fisiologis dan meningkatkan angka kematian larva. Oleh karena itu, monitoring kualitas air dilakukan secara berkala dengan bantuan instrumen digital dan sistem kontrol otomatis.

Selain kualitas air, penerapan sistem biosekuriti menjadi elemen penting dalam mencegah masuknya patogen dan mengendalikan penyebaran penyakit di unit pembenihan. Biosekuriti meliputi berbagai tindakan seperti sterilisasi air masuk dengan UV atau ozon, penggunaan alat khusus yang dibersihkan secara berkala, pembatasan akses masuk hatchery, dan karantina induk baru sebelum digunakan dalam siklus produksi (Sari et al., 2021). Menurut Putra dan Rachmawati (2020), penerapan biosekuriti yang ketat terbukti mampu meningkatkan survival rate larva hingga lebih dari 80% dalam pembenihan kakap putih skala besar. Oleh karena itu,

(9)

pendekatan teknis dan manajerial dalam sistem pembenihan tidak hanya harus berorientasi pada hasil produksi, tetapi juga pada keberlanjutan dan efisiensi proses secara keseluruhan.

Dengan demikian, kegiatan pembenihan ikan air payau bukan sekadar proses produksi benih, tetapi merupakan sistem terpadu yang membutuhkan pengetahuan ilmiah, keterampilan teknis, dan pengelolaan lingkungan yang baik. Keberadaan BBPBL Lampung sebagai pusat unggulan nasional dalam pengembangan teknologi budidaya perikanan laut dan air payau memberikan kontribusi besar dalam mendukung pengembangan sektor perikanan budidaya berkelanjutan di Indonesia.

(10)

BAB III

METODE PELAKSANAAN

3.1 Waktu dan Tempat

Kegiatan kunjungan industri ini dilakukan pada tanggal 15 Mei 2025, di mulai dari jam 07.00 s/d 12.00 WIB, yang berlokasi di Balai Besar Perikanan Budidaya Laut Lampung (BBPBL).

3.2 Analisis Lokasi Kegiatan

Balai Besar Budidaya Perikanan Laut (BBPBL) Lampung merupakan salah satu unit pelaksana teknis di bawah naungan Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), yang berlokasi di Desa Hanura, Kecamatan Teluk Pandan, Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung.

Lokasi BBPBL Lampung sangat strategis karena berada di kawasan Teluk Lampung yang memiliki kondisi perairan tenang, kualitas air yang baik, serta dekat dengan akses pelabuhan dan transportasi, sehingga sangat mendukung kegiatan budidaya dan pembenihan ikan laut maupun air payau.

Secara umum, fasilitas BBPBL Lampung dibagi menjadi beberapa unit kerja, mulai dari hatchery (unit pembenihan), unit pemeliharaan induk, laboratorium. Dalam kegiatan fieldtrip, peserta melakukan kunjungan dan observasi langsung ke berbagai lokasi pembenihan dan pemeliharaan komoditas unggulan seperti kerapu, kakap putih, lobster, dan ikan cobia. Setiap lokasi memiliki sistem, metode teknis, dan perlakuan yang berbeda, sesuai dengan kebutuhan biologis masing-masing spesies.

1. Lokasi Pembenihan dan Pemeliharaan Ikan Kerapu

Lokasi ikan kerapu di BBPBL Lampung menjadi salah satu pusat unggulan, terutama untuk jenis kerapu cantang dan kerapu macan. Kegiatan pembenihan dilakukan di hatchery tertutup dengan sistem kontrol kualitas air yang ketat, termasuk pengaturan suhu, salinitas, dan sirkulasi air. Pakan alami seperti rotifera dan Artemia disiapkan dalam unit tersendiri untuk mendukung pemeliharaan larva kerapu.

(11)

Induk kerapu dipelihara dalam kolam beton besar dan sistem karantina juga diterapkan sebelum pemijahan untuk menjamin kesehatan induk. Teknik pemijahan menggunakan metode alami dengan rekayasa pasang surut air kolam. Kegiatan ini didukung oleh laboratorium yang dapat menganalisis kualitas telur, fekunditas, dan viabilitas embrio.

2. Lokasi Pembenihan dan Pembesaran Ikan Kakap Putih

Unit kakap putih terletak di area hatchery yang juga semi outdor, namun memiliki desain kolam yang lebih besar karena kakap putih tumbuh lebih cepat dan memiliki karakter aktif. Pemeliharaan induk kakap putih dilakukan di kolam beton.

Induk-induk tersebut dipilih secara selektif berdasarkan kelamin, ukuran, dan kesehatan.

Teknik pemijahan untuk kakap putih juga dilakukan secara alami. Setelah telur menetas, larva dipelihara dengan pakan alami dan kemudian secara bertahap diberikan pakan buatan sesuai perkembangan usia larva. Sistem sirkulasi air yang digunakan membantu menjaga kestabilan suhu dan kadar oksigen terlarut, serta mencegah kontaminasi penyakit.

3. Lokasi Budidaya dan Pembesaran Lobster

Unit lobster di BBPBL Lampung difokuskan pada budidaya lobster pasir (Panulirus homarus) dan lobster mutiara (Panulirus ornatus). Lokasi pemijahan berada di Laboratorium khusus lobster. Penerapannya sebagian semi outdor dan indoor.

Lobster dipelihara dalam wadah PVC dan beton yang di lengkapi selter.

Pakan utama berupa ikan rucah segar diberikan secara rutin. Kondisi lingkungan seperti suhu air, kejernihan, serta arus dipantau secara berkala untuk memastikan pertumbuhan optimal. Selain itu, kebersihan juga dijaga agar tidak terjadi penumpukan limbah pakan yang dapat menurunkan kualitas air.

4. Lokasi Pembenihan dan Pemeliharaan Ikan Cobia

Ikan cobia (Rachycentron canadum) merupakan komoditas baru yang dikembangkan di BBPBL Lampung. Ikan ini memiliki potensi besar sebagai ikan

(12)

konsumsi premium karena pertumbuhannya yang sangat cepat, efisiensi konversi pakan yang tinggi, dan adaptasi lingkungan yang baik. Lokasi pembenihan ikan cobia terletak di unit hatchery khusus yang menggunakan tangki fiberglas dengan sistem resirkulasi air laut (RAS).

Induk cobia dipelihara di bak beton berukuran besar dan dalam serta diberi pakan ikan segar serta pelet bergizi tinggi. Pemijahan dilakukan secara alami dalam kolam dengan rasio jantan dan betina tertentu. Telur-telur yang dihasilkan kemudian diinkubasi dan larva dipelihara dalam tangki larva dengan pakan rotifera dan nauplii Artemia.

(13)

BAB IV PEMBAHASAN

4.1 Tempat Yang Dikunjungi 4.1.1 Lobster

Lobster pasir adalah salah satu komoditas yang berhasil di pijahkan di Balai Besar Perikanan Budidaya Laut Lampung. Sayangnya BBPBL Lampung hanya dapat melakukan pembenihan saja, belum dapat menemukan cara untuk pembesaran lobster tersebut, induk lobster yang di gunakan pun masih hasil dari penangkapan di alam.

Teknik pemijahan lobster pasir yang di lakukan di BBPBL adalah menggunakan teknik pemijahan alami, untuk bak pemijahan di gunakan adalah bak berukuran 1000liter dan perbandingan induk 3 jantan dan 5 betina (berkelipatan).

Untuk induk yang digunakan di BBPBL Lampung rata-rata berukuran 350g dengan fekunditas kurang lebih puluhan ribu ekor larva/induk betina. Pemijahan lobster pasir biasanya berlangsung selama 2-3 minggu hingga induk betina terlihat menggendong telur, setelah itu telur-telur di ambil dari induk betina dan di tetaskan di tempat penetasan yang telah di siapkan, sebelum telur menetas di siapkan tempat penampungan larva yang biasa di sebut kolektor. Setelah menetas larva lobster langsur mengalir ke tempat penampungan tersebut,kemudian di lakukan perhitungan larva dan siap untuk di pindahkan ke ruangan larva dengan suhu yang sudah di sesuaikan atau biasanya dengan temperatur 20ºC. Untuk BBPBL sampai saat ini hanya berhasil memelihara larva lobster pasir sampai umur 40 hari.

Adapun sarana dan prasarana yang di butuhkan dalam pembenihan lobster yaitu: Kolektor untuk menampung larva lobster,plankton net untuk memanen larva,beker glass untuk sampel dan perhitungan larva,aquarium untuk tempat larva dan aerasi yang sanagt wajib untuk mensuplai oksigen bagi larva lobster Untuk memanajemen kualitas air biasanya di lakukan penyiponan dan pengurangan volume air pada setiap pagi,itu bertujuan agar air yang di gunakan untuk memelihara induk lobster selalu terjaga kualitasnya.

(14)

4.1.2 Ikan King Kobia

Ikan kobia telah menjadi komoditas unggulan dalam budidaya ikan air laut di Indonesia karena pertumbuhannya relatif cepat, tahan terhadap serangan penyakit dan memiliki kualitas daging yang bagus. Ikan ini memiliki performa pertumbuhan yang cepat yakni 4-6 kg dalam setahun, Selain itu ikan ini juga tahan terhadap serangan penyakit serta memiliki kualitas daging yang baik (KKP 2019).

Pemeliharaan induk kobia menggunakan wadah bak beton bulat berdiameter 4.2 m, tinggi atau kedalaman bak 3.2 m, dan volume air maksimal 50.000 L. Pakan yang diberikan selama pemeliharaan induk yaitu pelet dan ikan rucah jenis ikan kuniran. Namun karena adanya keterbatasan dalam stok pakan rucah maka penggunaan pelet menjadi pilihan utama sebagai pakan induk ikan kobia. Pakan pelet yang digunakan bermerk Hatakue EP 20 diberikan sebanyak satu kali sehari yaitu pukul 07.30 WIB dengan metode pemberian pakan ad-satiation.

Pengelolaan kualitas air induk ikan kobia yaitu dengan menggunakan filter bag.

Filter bag yang berada di saluran inlet bertujuan untuk mencegah masuknya agen penyakit ke dalam wadah budidaya.

Selain itu juga dilakukan penurunan air satu kali sehari yang bertujuan untuk menjaga kualitas air dan untuk merangsang kematangan gonad. Selanjutnya dilakukan pembersihan bak induk secara rutin minimal satu bulan sekali untuk mencegah masuknya agen penyakit dan tumbuhnya lumut di bak induk. Pemijahan yang dilakukan dengan metode alami. Seleksi induk dilakukan sebelum kegiatan pemijahan dilakukan hal ini bertujuan untuk mengetahui apakah induk benar-benar sudah siap untuk dipijahkan atau belum. Ciri-ciri induk siap memijah yaitu diantaranya berumur 1.5-2 tahun, ciri induk jantan apabila dilakukan pengecekan dengan alat kanulasi akan mengeluarkan sperma, sedangkan pada induk betina apabila dilakukan pengecekan dengan kateter akan mengeluarkan telur.

Perbandingan jumlah induk jantan dan betina yang akan dipijahkan yaitu 2:1. Pemijahan berlangsung pada pukul 00.00-06.00 WIB. Setelah induk memijah maka telur ikan yang sudah terbuahi akan mengalir dan ditampung dalam egg collector. Egg collector diletakkan pada bak penampungan telur yang terbuat dari bahan beton dengan tebal 10 cm dan dimensi 2 m x 2 m x 1 m dan dapat menampung

(15)

4.000 L. Selanjutnya dari hasil pemijahan tersebut jumlah tersebut didapatkan jumlah telur sebanyak 2.061.000 butir telur, derajat pembuahan (FR) 34%, derajat penetasan (HR) 70%, tingkat kelangsungan hidup larva (SR larva) 2.7% dan tingkat kelangsungan hidup benih hingga panen (SR benih panen) 85%.Penetasan telur dilakukan di akuarium kaca ukuran 60 cm x 40 cm x 40 cm. Telur tersebut akan menetas sekitar 22-24 jam. Telur yang telah menetas menjadi larva selanjutnya dipindahkan ke dalam bak pemeliharaan larva yang berukuran 2 m x 5 m x 1 m dengan kapasitas 10 ton. Pemeliharaan larva ikan kobia dilakukan di bak beton persegi panjang berukuran 2 m x 5 m x 1 m dengan kapasitas 10.000 L.

Pemeliharaan larva dilakukan selama 25 hari.

Pemberian pakan larva berupa fitoplankton Nannochloropsis sp. dan zooplankton berupa Rotifera sp., dan Artemia sp. Sedangkan pakan pelet yang digunakan adalah pakan pelet bermerk Love Larva No 1 (LL1) LL1. Larva dapat dikategorikan benih saat mencapai 25 hari. Grading larva dilakukan setelah larva berumur 25 hari (1-3 cm). Grading ini bertujuan untuk memilih ukuran larva yang seragam dan untuk menyesuaikan pemberian pakan yang akan diberikan dan mengoptimalkan pertumbuhan larva tersebut. Pemeliharaan benih ikan kobia terdapat 2 fase yaitu fase pendederan I dan fase pendederan II. Pemeliharaan benih fase pendederan I menggunakan bak fiber bulat berdiameter 91 cm dengan tinggi 80 cm. Pemberian pakan benih menggunakan pakan pelet bermerk Love Larva No 01 (LL1) dan Love Larva No 03 (LL3).

Metode pemberian pakan dilakukan secara ad-satiation (sekeyangnya).

Untuk menjaga kualitas air dan meminimalisir masuknya agen penyakit pada wadah pemeliharan tersebut maka dilakukan penyifonan bak sebanyak 2 kali sehari yaitu pukul 08.30 dan 14.30 WIB. Benih fase pendederan I akan dipanen setelah berumur 35 hari pemeliharaan atau mencapai ukuran 2.5-5 cm. Pemeliharaan benih fase pendederan II menggunakan bak beton persegi panjang berukuran 1.15 m x 4 m x 0.9 m. Pemberian pakan benih menggunakan pakan pelet bermerk Love Larva No 03 (LL3 dan Megami GR No 1 (GR1). Metode pemberian secara ad-satiation (sekeyangnya). Untuk menjaga kualitas air dan meminimalisir ancaman penyakit pada wadah pemeliharan tersebut maka dilakukan penyifonan bak sebanyak 2 kali

(16)

sehari pada pukul 08.30 dan 14.30 WIB. Benih fase pendederan II akan dipanen setelah berumur 45 hari. Kegiatan pembesaran ikan kobia meliputi fase penggelondongan dan pembesaran pada keramba jaring apung (KJA). Fase penggelondongan yaitu fase pemeliharaan ikan kobia ukuran 30-100 g pada wadah bak fiber bulat. Pemeliharaan pada fase penggelondongan dilakukan selama 45 hari.

Pemberian pakan berupa pelet bermerk Megami No 5 (GR5) dan M egami No 7 (GR7). Metode pemberian pakan yaitu dengan ad-satiation (sekeyangnya) yang dilakukan sebanyak dua kali yaitu pagi dan siang hari. Untuk menjaga kualitas air dan meminimalisir penyakit pada wadah pemeliharan maka dilakukan penurunan air sebanyak 50% dilakukan sebanyak dua kali yaitu pagi dan sore hari setelah pemberian pakan. Ikan kobia akan dipanen setelah 45 hari pemeliharaan atau mencapai ukuran (±100 g) lalu dipindahkan ke keramba jaring apung di laut.

Pembesaran ikan kobia pada keramba jaring apung pada ukuran 100-3.000 g selama 8 bulan. Pemberian pakan ikan kobia di KJA dilakukan sebanyak dua kali yaitu pagi dan siang hari, pakan yang diberikan berupa pelet bermerk Megami No 7 (GR 10) untuk ukuran 120-1.000 g bobot ikan dan Megami No 12 (GR 12) untuk ukuran 2-4 kg bobot ikan. Metode pemberian pakan secara ad-satiation (sekeyangnya).

4.1.3 Ikan Kakap Putih

Kakap Putih (Lates calcarifer Bloch) yang sangat toleran dengan kadar garam (Euryhaline) dan merupakan ikan katadromous (dibesarkan dimuara dan kawin di perairan laut dalam), karena itulah Kakap Putih dapat dikembangkan di air tawar, tambak dan keramba jaring apung. Jika pemeliharaan dilakukan di keramba jaring apung (KJA), maka induk yang berukuran antara 3-8 kg/ekor dipelihara di KJA berukuran 3x3x3m, padat tebar 1-2 ekor/m3. Pakan yang diberikan adalah ikan segar jenis selar, tanjan atau kuniran ditambah cumi-cumi dengan perbandingan 80%: 20 % dengan dosis 2-3 %/total berat badan diberikan 2 kali sehari (pagi dan sore). Setiap 2 minggu sekali diberikan vitamin E dan multi vitamin sebanyak 10 mg/kg induk.

Kakap Putih bersifat hermaprodit protandri, sehingga dalam fase hidupnya dapat berubah kelamin dari jantan ke betina, hal ini dapat terjadi ketika berat induk

(17)

mencapai 2-3 kg/ekor. Kematangan induk jantan dapat dilakukan dengan mengurut perut ikan kearah lubang kelamin, jika sperma yang keluar berwarna putih susu dan kental berarti ikan siap dipijahkan (matang kelamin) sedangkan untuk induk betina dilakukan dengan cara memasukan selang kanulasi ke lubang kelamin dan dihisap, telur yang berdiameter > 40 mikron siap untuk dipijahkan. Induk jantan dan betina yang telah matang kelamin, ditempatkan di bak pemijahan. Induk jantan dan betina matang kalamin dengan perbandingan 1: 2 ditempatkan dalam bak serat kaca (fibre glass) volume 15 ton.

Teknik pemijahan manipulasi lingkungan yaitu dengan cara mengurangi air media pemeliharaan hingga 50-60 cm pada pagi sampai sore hari, dibiarkan kena sinar matahari. Fluktuasi suhu air yang terjadi akan merangsang induk untuk memijah. Pemijahan Kakap Putih mengikuti fase peredaran bulan yang terjadi pada awal bulan (bulan gelap) pemijahan umumnya terjadi pada malam hari antara pukul 21.00 – 24.00 WIB. Telur yang dibuahi akan mengapung dipermukaan air dan berwarna transparan dengan diameter 800 – 900 mikron. Telur hasil pemijahan dikumpulkan dengan sistim air mengalir. Sebelum telur ditetaskan direndam dengan larutan iodine sebanyak 3 ppm selama 1 – 3 menit. Telur ditetaskan dalam akuarium volume 100 liter, kepadatan telur + 1.000 butir/liter. Telur akan menetas dalam waktu 18 – 22 jam setelah pembuahan pada suhu 28o – 30o C dan salinitas 30 – 32 psu.

Larva yang baru menetas segera dipindahkan ke dalam bak pemeliharaan larva. Bak pemeliharaan larva volume 10 m3, terbuat dari beton atau serat kaca (fiber glass), air media suhu 26- 280C dan salinitas 29 - 32 ppt, aerasi dengan semburan lembut dipasang paling sedikit 18-20 titik, usahakan bak dalam keadaan terlindung dari pengaruh sinar matahari langsung. Larva yang baru menetas mempunyai panjang total 1,21 - 1,65 mm, ditebar didalam bak dengan padat penebaran awal 10 ekor/liter air. Sejak pertama larva sudah harus diberi Chlorella kepadatan 3 - 4 x 10.000 sel/ml, dan Tetraselmis dengan kepadatan 8 - 10 x 1000 sel/ml, hal ini dimaksudkan selain sebagai pakan larva, berfungsi pula sebagai pengendali kualitas air. Hari ke 2 diberi Rotifera (Brachionus plicatilis) sampai hari

(18)

ke 15 dan pada hari ke 15 larva mulai diberi pakan Artemia, Setelah berumur 30 hari larva sudah dapat diberikan pakan cacahan daging ikan segar.

Pada bak pemeliharaan larva yang mempunyai saluran keluar maka akan lebih mudah dilakukan dengan menempatkan scopnet pada saluran tersebut.

Sedangkan yang tanpa saluran keluar, panen dilakukan dengan cara mengurangi air pada bak pemeliharaan sampai kedalaman tinggal 10 – 20 cm, kemudian benih ditangkap dengan scopnet. Agar larva kakap putih tidak mengalami stress pada saat panen, dilakukan secara hati-hati dan pada penampungan sementara diberi aerasi secukupnya.

4.1.4 Kerapu

Kolam ikan kerapu berbentuk persegi panjang dan hampir mirip seperti kolam lobster. Di dalam setiap kolam terdapat pipa-pipa air dan juga alat aerator untuk menambah kandungan oksigen dalam air. Terdapat puluhan ikan kerapu dalam setiap kolamnya. Ikan kerapu cenderung berkumpul di pinggir kolam, hal ini disebabkan karena ikan kerapu merupakan hewan yang berkoloni.

Ikan kerapu, atau dalam bahasa ilmiahnya Epinephelinae, adalah kelompok ikan laut yang terkenal dan memiliki nilai komersial yang tinggi. Mereka termasuk dalam famili Serranidae dan terdiri dari berbagai spesies yang tersebar di perairan hangat di seluruh dunia. Ikan kerapu memiliki tubuh yang besar, kuat, dan memanjang dengan kepala yang besar dan mulut yang lebar. Tubuh mereka biasanya dilapisi dengan sisik dan dapat memiliki pola atau corak warna yang bervariasi, termasuk cokelat, merah, kuning, atau belang-belang. Kerapu adalah ikan pemangsa yang kuat dan sering ditemukan di dekat terumbu karang, batu- batuan, atau struktur bawah laut lainnya.

Mereka menggunakan sirip dada dan sirip ekor yang kuat untuk berenang dan berburu mangsa. Mangsa ikan kerapu termasuk ikan kecil, udang, kepiting, dan moluska. Beberapa spesies kerapu memiliki sifat hermafrodit, yang berarti mereka dapat mengubah jenis kelamin sepanjang hidup mereka. Mereka biasanya mulai sebagai betina dan kemudian berubah menjadi jantan saat mencapai ukuran dan usia tertentu. Hal ini memainkan peran penting dalam reproduksi dan kelangsungan

(19)

populasi kerapu. Terdapat dua jenis ikan kerapu yang dibudidayakan di BBPBL, yaitu:

a. Ikan kerapu bebek

Ikan ini berwarna putih dengan corak polkadot berwarna hitam. Ikan kerapu bebek dapat dilihat berkumpul di pinggir kolam dikarenakan sifatnya yang hidup berkoloni.

b. Ikan kerapu macan

Berbeda seperti ikan kerapu bebek, ikan kerapu macam memiliki kecenderungan untuk melakukan kanibalisme ketika terlalu lapar. Namun pengurus di BBPBL selalu memberikan pakan yang berupa pelet secara rutin untuk menghindari ikan kerapu macan untuk melakukan kanibalisme. Kerapu memiliki nilai komersial yang tinggi dalam industri perikanan dan menjadi target penting bagi nelayan komersial maupun pemancing rekreasi.

Mereka juga populer di kalangan pencinta ikan hias untuk dipelihara dalam akuarium. Karena populasi kerapu di banyak daerah telah mengalami penurunan akibat perburuan berlebihan dan kerusakan habitat, beberapa langkah konservasi telah diambil. Ini termasuk pengaturan batasan penangkapan, pembentukan kawasan konservasi, dan peningkatan kesadaran akan perlindungan spesies ini.

Penting untuk mempertahankan ekosistem terumbu karang yang sehat, yang merupakan habitat penting bagi ikan kerapu dan spesies laut lainnya. Selain itu, pengelolaan yang bijaksana terhadap penangkapan dan perdagangan ikan kerapu juga perlu dilakukan untuk memastikan kelangsungan populasi dan keberlanjutan sumber daya perikanan.

(20)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan

Kegiatan fieldtrip ke Balai Besar Budidaya Perikanan Laut (BBPBL) Lampung memberikan pengalaman pembelajaran yang sangat berharga bagi mahasiswa dalam memahami secara langsung proses pembenihan dan budidaya ikan air payau dan laut. BBPBL Lampung memiliki fasilitas lengkap dan terintegrasi untuk mendukung proses pemijahan, penetasan, pemeliharaan larva, hingga pembesaran beberapa komoditas unggulan seperti ikan kerapu, ikan kakap putih, lobster, dan ikan cobia.

Setiap komoditas dipelihara dalam lingkungan yang telah disesuaikan dengan kebutuhan biologisnya, serta didukung oleh teknologi terkini seperti sistem resirkulasi, karantina, hatchery tertutup, dan keramba jaring apung. Selain itu, pengelolaan mutu air, pemilihan induk, teknik pemijahan buatan, serta pemberian pakan alami dan buatan menjadi aspek penting yang diamati secara langsung oleh peserta praktikum. Dengan demikian, kegiatan ini mampu menambah wawasan praktis, meningkatkan pemahaman terhadap teori yang telah dipelajari, serta menumbuhkan motivasi untuk mengembangkan teknologi budidaya perikanan secara berkelanjutan.

4.1 Saran

Berdasarkan hasil kegiatan fieldtrip yang telah dilaksanakan di Balai Besar Budidaya Perikanan Laut (BBPBL) Lampung, terdapat beberapa saran yang dapat disampaikan guna meningkatkan efektivitas kegiatan serupa di masa mendatang.

Bagi mahasiswa, diharapkan agar lebih aktif dan antusias dalam menggali informasi selama kunjungan berlangsung, baik melalui observasi langsung, tanya jawab dengan instruktur, maupun dokumentasi kegiatan, sehingga pemahaman terhadap praktik budidaya perikanan dapat lebih mendalam dan aplikatif. Selain itu, mahasiswa juga diharapkan mampu mengaitkan pengalaman lapangan ini dengan teori yang telah dipelajari di kelas, sehingga tercipta sinergi antara aspek akademik dan praktik nyata di lapangan. Untuk pihak kampus, disarankan agar kegiatan

(21)

fieldtrip semacam ini dijadikan sebagai program rutin dan terstruktur dalam kurikulum, dengan durasi kunjungan yang cukup, serta dilengkapi dengan modul atau panduan observasi agar mahasiswa memiliki acuan yang jelas dalam memahami setiap unit kegiatan yang dikunjungi.

Sementara itu, bagi pihak BBPBL Lampung, diharapkan agar terus mempertahankan dan meningkatkan perannya sebagai pusat pelatihan, riset, dan pengembangan teknologi budidaya perikanan laut, serta tetap membuka akses kerja sama dengan institusi pendidikan tinggi. Penyediaan materi sosialisasi yang lebih interaktif dan kesempatan praktik langsung bagi mahasiswa selama kunjungan akan semakin memperkaya pengalaman belajar serta mendorong terciptanya sumber daya manusia yang unggul di bidang perikanan budidaya.

(22)

BAB VI

DAFTAR PUSTAKA

Afrianto, E., & Liviawaty, E. (2015). Budidaya Ikan Air Payau dan Laut. Bandung:

CV. Alfabeta.

Dewi, N. K., Fadjar, M., & Setyowati, A. (2020). Pengaruh Kualitas Air terhadap Kelangsungan Hidup Larva Ikan Kerapu. Jurnal Akuakultur Tropis, 5(2), 77–84.

Hariati, A. M., & Azrita. (2021). Potensi Hibrida Kerapu Cantang dalam Budidaya Intensif. Jurnal Perikanan Tropis, 9(1), 45–52.

Kementerian Kelautan dan Perikanan. (2021). Profil BBPBL Lampung.

[https://kkp.go.id]

Kementerian Kelautan dan Perikanan. (2023). Teknologi Pembenihan Ikan Laut.

Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya.

Putra, I. G. A., & Rachmawati, D. (2020). Teknik Pembenihan Ikan Kakap Putih di Hatchery Skala Besar. Jurnal Teknologi Perikanan, 8(3), 105–112.

Risjani, Y., Nur, M. A., & Andriani, N. (2019). Evaluasi Pembenihan Kakap Putih ( Lates calcarifer) di Hatchery Semi-Intensif. Jurnal Akuakultur Indonesia, 18(2), 89–95.

Sari, D. M., Yusuf, M., & Indra, P. (2021). Penerapan Biosekuriti dalam Pembenihan Udang Vannamei. Jurnal Ilmu Perikanan Tropis, 14(2), 110–

118.

Sutarmat, T., Pratama, A., & Sulastri, E. (2018). Teknik Dasar Pembenihan Ikan.

Jakarta: Balai Besar Pelatihan dan Penyuluhan Perikanan.

Wibowo, H., Sari, N., & Aminah, S. (2022). Manajemen Pembenihan Udang Vannamei Berbasis Biosekuriti. Jurnal Akuakultur Berkelanjutan, 10(1), 25–33.

Phillips, B. F. (Ed.). (2013). Lobsters: Biology, Management, Aquaculture and Fisheries. John Wiley & Sons.

(23)

Caddy,J. F., & Tegner, M.J. (Eds.). (2003). Advancesin Marine Biology: Lobsters:

Biology, Management, Aquaculture and Fisheries. Academic Press.

"Pemijahan dan Perawatan Benih Kakap Putih (Lates calcarifer Bloch) di Indonesia" oleh A. Wudianto dan B. Priyadi. (Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan, Vol. 5, No. 1, 2013)

"Aspek Biologi Reproduksi Kakap Putih (Lates calcarifer) di Perairan Teluk Lampung" oleh S. P. Kartamihardja dan S. Nuraini. (Jurnal Iktiologi Indonesia, Vol. 6, No. 2, 2006)

Fauzan, A., & Sunaryanto, A. (2018). Budidaya Ikan Nemo (Amphiprion ocellaris) dengan Metode Kultur Rotifer dan Artemia di Hatchery Balai Benih Ikan (BBI) Pantai Cermin. Jurnal Pengkajian dan Pengembangan Teknologi Pertanian, 21(1), 1-12.

Effendi, M. I. (2003). Budidaya dan pembenihan ikan air laut. Penerbit Penebar Swadaya.

Suwirya, K., Nuryati, S., & Zairin Jr, M. (2018). Fertility and hatchability of king cobia Rachycentron canadum (Linnaeus, 1766) eggs produced from hormone-induced captive broodstock in floating net cages. AACL Bioflux, 11(2), 416-425.

Suwirya, K., Syandri, H., Nuryati, S., & Zairin Jr, M. (2019). Reproductive performance of hormone-induced captive king cobia Rachycentron canadum (Linnaeus, 1766) broodstock in floating net cages. AACL Bioflux, 12(5), 1655-1663.

Komarudin, O. (2014). Pemuliaan dan pembenihan rumput laut di Indonesia. Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis, 6(1), 201-218.

Radjasa, O. K., Mulyadi, & Suwandi, A. (2017). Pemijahan dan pembenihan rumput laut di Indonesia: Tinjauan literatur. Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan, 9(2), 173-186.

(24)

BAB VII

LAMPIRAN

Referensi

Dokumen terkait

PROGRAM PENINGKATAN PRODUKSI PERIKANAN BUDIDAYA BALAI PERIKANAN BUDIDAYA LAUT BATAM.. TAHUN

Dengan ini saya menyatakan bahwa laporan akhir yang berjudul “Pembenihan Udang Vaname Litopenaeus vannamei di Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP)

Nilasa di Unit Kerja Budidaya Air Tawar Balai Pengembangan Teknologi Perikanan Budidaya Yogyakarta” adalah karya saya dengan arahan dari dosen pembimbing dan belum diajukan

Balai Perikanan Budidaya Laut Batam mem(unyai tu$as ()k)k  melaksanakan ui tera( teknik dan kerasama& (r)duksi& (en$uian la!)rat)rium kese"atan ikan dan

Pematangan gonad induk di Balai Besar Pengembangan Budidaya Laut Lampung dilakukan dengan pemberian pakan ikan rucah dan cumi yang ditambah dengan pemberian Vitamin E 100 IU

Dengan ini saya menyatakan bahwa laporan akhir dengan judul “ Pembenihan dan Pembesaran Ikan Bawal Bintang Trachinotus blochii di Balai Besar Perikanan Budidaya Laut,

Inventarisasi Penyakit Bakteri dan Virus pada Benih Ikan Kakap Putih Lates calcarifer, Bloch 1790 di Balai Besar Perikanan Budidaya Laut (BBPBL)

LKj Balai Perikanan Budidaya Laut Lombok Triwulan III Tahun 2020 ini mencakup Indikator Kinerja Utama (IKU) Balai Perikanan Budidaya Laut Lombok menyesuaikan dengan DJPB