MAKALAH
PENGARUH GULMA TERHADAP TANAMAN PADI
DISUSUN OLEH :
NOEL RIFELL CLANDESTINE SIBURIAN NIM 135240050
PRODI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN 24
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” YOGYAKARTA TAHUN 2024
BAB 1 PENDAHULUAN A . Latar Belakang
Semakin menyempitnya lahan sawah yang subur terutama di pulau Jawa, karena terjadinya konversi lahan sawah menjadi prasarana umum dan industri dapat
mengancam produksi padi nasional. Menurut Alihamsyah (2005) lahan sawah subur yang beralih fungsi untuk penggunaan non-pertanian atau produksi non-pangan sangat luas, yaitu sebesar 1,63 juta ha pada periode 1981–1999 dan pada periode 1999–2002 mencapai 225.338 ha/tahun. Bahar (2003) menyatakan bahwa selama dua dekade yakni tahun 1978–1998, diperkirakan lahan yang telah terkonversi untuk keperluan pembangunan non pertanian seluas 1,71 juta ha. Sedangkan berdasarkan data Badan Pertanahan Nasional, laju konversi lahan tahun 1999–2002 rata-rata 110.000 ha per tahun. Sebagai alternatif, pengembangan padi dapat diarahkan pada lahan sawah pasang surut. Luas lahan rawa di Indonesia diperkirakan 33,4 juta ha, terdiri dari pasang surut 20,1 juta ha dan lahan lebak 13,29 juta ha. Dari total luasan lahan pasang surut, sekitar 9,53 juta ha berpotensi untuk dijadikan lahan pertanian dan sudah direklamasi sekitar 4,18 juta ha. Dengan demikian, tersedia cukup luas lahan rawa, terutama pasang surut, yang dapat dikembangkan sebagai areal pertanian (Nugroho et al. 1992). Direct seeding (DS), sebar benih langsung pada budidaya padi adalah sistem tanam alternatif selain tanam pindah (transplanting). DS ditujukan pada keberlanjutan pengelolaan tanah, dan memperkecil penggunaan air.
Disamping itu juga untuk mengurangi efek dari struktur tanah dan penggunaan tenaga (Singh, et al. 2008). Di Indonesia, Sistem tanam tebar langsung (direct seeding) ini belum banyak dipakai, karena ketersediaan tenaga kerja terutama di Jawa dan beberapa sentra produksi padi masih cukup. Berbeda dengan daerah yang kekurangan tenaga kerja seperti di daerah pasang surut, akan sangat menekan biaya operasional.
Gulma merupakan bagian dari organisme pengganggu tanaman(OPT) yang terdiri dari hama, penyakit dan gulma (Sembodo, 2010), Spesies gulma yang
ditemukan di lahan pertanaman padi sangat beragam dan persentasenya
kemungkinan lebih besar dari yang terlihat, kepadatan gulma bervariasi pada setiap daerah dan ekologi. Terdiri dari jenis rumput-rumputan, non-rumput-rumputan dan teki (Y.Singh dan Govindra Singh, 2008). Sembodo, (2010) dan Tjitrosoedirdjo, S.S, et al. (2011) menyatakan bahwa penggolongan gulma berbeda-beda, menurut
kebutuhan tertentu, namun secara umum penggolongan gulma didasarkan menjadi;
gulma rumputan(grasses), gulma tekian(sedges) dan gulma berdaun
lebar(broadleaves). Gangguan gulma pada tanaman budidaya menyebabkan kerugian seperti halnya hama dan penyakit, tetapi gangguan gulma tidak seluas seperti seranga
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalah yang dikemukakan sebagai berikut:
1. Bagaimana tingkat pertumbuhan gulma mempengaruhi produktivitas tanaman padi?
2. Apa saja jenis gulma yang paling dominan dan berbahaya bagi tanaman padi?
3. Bagaimana persaingan antara gulma dan tanaman padi dalam hal penyerapan nutrisi, air, dan cahaya?
4. Sejauh mana keberadaan gulma dapat menurunkan kualitas dan kuantitas hasil panen padi?
5. Metode pengendalian gulma apa yang paling efektif dalam meningkatkan hasil tanaman padi?
C. Tujuan Penelitian
Sesuai Rumusan Masalah tersebut, maka penelitian ini bertujuan untuk:
1. Mengidentifikasi tingkat pertumbuhan dan jenis gulma yang dominan serta berbahaya bagi produktivitas tanaman padi.
2. Menganalisis persaingan gulma dengan tanaman padi dalam penyerapan nutrisi, air, dan cahaya.
3. Mengukur dampak gulma terhadap kualitas dan kuantitas hasil panen padi.
4. Menentukan metode pengendalian gulma yang efektif untuk meningkatkan hasil padi.
D. Manfaat Penilitian
Manfaat yang dapat diperoleh dari hasil peneltian tersebut yaitu
1. Memberikan informasi kepada petani tentang gulma berbahaya pada padi untuk tindakan pencegahan.
2. Meningkatkan kesadaran pentingnya pengendalian gulma dalam meningkatkan hasil produksi padi.
3. Menyediakan data ilmiah bagi peneliti dan lembaga pertanian untuk strategi pengendalian gulma.
4. Mendukung efisiensi pertanian dengan mengurangi persaingan antara padi dan gulma.
5. Memberikan rekomendasi praktis bagi petani tentang metode pengendalian gulma yang efektif dan ramah lingkungan.
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
A. Gulma
Gulma adalah tumbuhan yang tumbuh di sekitar tanaman budidaya yang
pertumbuhannya tidak dikehendaki dan umumnya merugikan karena dapat menghambat pertumbuhan, mengakibatkan penurunan kuantitas dan kualitas produksi dan dapat menjadi sarang hama dan penyakit.
Bila tidak dikendalikan, keberadaannya dapat mengganggu pertumbuhan tanaman padi. Persaingan dalam penyerapan pupuk menyebabkan padi tidak bisa tumbuh dengan optimal. Oleh karena itu perlu dilakukan pengendalian gulma untuk menjaga pertumbuhan tanaman tetap baik. Gulma perlu dikendalikan karena dapat menimbulkan kerugian bagi manusia, terutama dalam bidang pertanian:
-) Mengganggu tanaman utama dalam menyerap air, unsur hara, dan cahaya -) Menurunkan hasil panen
-) Meningkatkan biaya produksi -) Mengganggu panen
-)Menjadi inang (tempat hidup) beberapa hama dan penyakit
Beberapa jenis gulma yang dapat ditemukan pada tanaman padi, di antaranya:
-) Azolla pinnata, yang mendominasi sawah organik -)Pistia stratiotes, yang mendominasi sawah organik -) Salvinia molesta, yang mendominasi sawah organik
-) Dactyloctenium aegyptium, yang mendominasi sawah anorganik -) Eleocharis acicularis, yang mendominasi sawah anorganik
B. Padi
Padi (bahasa Latin: Oryza sativa) merupakan salah satu tanaman budidaya
terpenting dalam peradaban. Meskipun terutama mengacu pada jenis tanaman budidaya, padi juga digunakan untuk mengacu pada beberapa jenis dari marga (genus) yang sama, yang biasa disebut sebagai padi liar. Padi diduga berasal dari India atau Indocina dan masuk ke Indonesia dibawa oleh nenek moyang yang migrasi dari daratan Asia sekitar 1500 SMPadi merupakan kebutuhan primer bagi masyarakat Indonesia, karena sebagai sumber energi dan karbohidrat bagi mereka. Selain itu, padi juga merupakan tanaman yang paling penting bagi jutaan petani kecil yang ada di berbagai wilayah di Indonesia Di
Indonesia, padi menjadi tanaman pangan utama yang menghasilkan beras sebagai sumber makanan pokok.
Berikut ini beberapa jenis padi apabila dibedakan dari tipe beras yang dihasilkan Padi Pera, Padi Wangi , Padi Pulen, Padi Ketan
Apabila dilihat dari segi budidaya, berikut ini jenis-jenis padi yang ada.
Padi Rawa, Padi Gogo C. Hipotesis Peneltiian
Menurut (Kuntjojo, 2009), hipotesis merupakan penyataan tentang keterkaitan antara variabel variabel (hubungan atau perbedaan antara dua variabel atau lebih). Jadi hipotesis adalah suatu pendapat peneliti yang bersifat sementara dua harus dibuktikan kebenarannya.
Tingkat pertumbuhan gulma berpengaruh negatif terhadap produktivitas tanaman padi.
Semakin tinggi tingkat pertumbuhan gulma, semakin besar kompetisi terhadap
sumberdaya (nutrisi, air, cahaya), sehingga berpotensi menurunkan pertumbuhan dan
hasil produksi padi. Jenis gulma yang paling dominan dan berbahaya bagi tanaman padi adalah gulma berdaun lebar dan rumput-rumputan yang memiliki pertumbuhan cepat dan sistem perakaran yang ekspansif. Gulma jenis ini cenderung bersaing lebih efektif dengan tanaman padi dalam memperebutkan sumber daya.Persaingan antara gulma dan tanaman padi terjadi dalam hal penyerapan nutrisi, air, dan cahaya. Gulma akan menyerap nutrisi, air, dan cahaya yang seharusnya digunakan oleh tanaman padi, sehingga menghambat pertumbuhan dan perkembangan tanaman padi. Keberadaan gulma dapat menurunkan secara signifikan kualitas dan kuantitas hasil panen padi. Gulma dapat menyebabkan penurunan jumlah malai, bobot biji, serta persentase biji berisi, sehingga berdampak pada penurunan hasil panen.Metode pengendalian gulma secara terpadu (integrated weed management) yang menggabungkan penyiangan mekanis, pengendalian hayati, dan penggunaan herbisida secara selektif merupakan metode yang paling efektif dalam meningkatkan hasil tanaman padi. Metode ini diharapkan dapat menekan populasi gulma secara efektif dan berkelanjutan.
BAB 3 PEMBAHASAN
A. Dampak dari Gulma terhadap tanaman padi adalah :
1. Persaingan sumber daya:
Gulma bersaing dengan tanaman padi dalam menyerap nutrisi, air, dan cahaya.
Hal ini menyebabkan tanaman padi tidak bisa tumbuh dengan optimal karena kekurangan sumber daya yang dibutuhkan.
2. Penurunan hasil panen:
Keberadaan gulma dapat menurunkan kuantitas dan kualitas hasil panen padi secara signifikan.
Gulma menyebabkan penurunan jumlah malai, bobot biji, dan persentase biji berisi pada tanaman padi.
3. Peningkatan biaya produksi:
Pengendalian gulma memerlukan biaya tambahan, baik untuk tenaga kerja maupun pembelian herbisida.
4. Gangguan saat panen:
Gulma dapat mengganggu proses pemanenan padi, yang berpotensi meningkatkan kerugian.
5. Inang hama dan penyakit:
Gulma dapat menjadi tempat hidup (inang) bagi beberapa hama dan penyakit yang dapat menyerang tanaman padi.
6. Kompetisi jangka panjang:
Beberapa jenis gulma, terutama yang berdaun lebar dan rumput-rumputan, memiliki pertumbuhan cepat dan sistem perakaran yang ekspansif.
Jenis gulma ini cenderung bersaing lebih efektif dengan tanaman padi dalam memperebutkan sumber daya.
7. Penurunan efisiensi pemupukan:
Persaingan dalam penyerapan pupuk menyebabkan tanaman padi tidak dapat memanfaatkan nutrisi secara optimal.
B. Cara penanggulangan dari dampak gulma : 1. Penanggulangan Mekanis
Penyiangan manual: Cara tradisional yang paling umum. Dilakukan dengan mencabut gulma secara manual menggunakan tangan atau alat sederhana seperti cangkul.
Penyiangan menggunakan alat mekanis: Untuk lahan yang luas, dapat digunakan alat mekanis seperti rotary cultivator atau hand tractor untuk mencabut gulma.
2. Penanggulangan Kimiawi
Penggunaan herbisida: Herbisida adalah pestisida yang digunakan untuk
membunuh gulma. Pemilihan jenis herbisida harus disesuaikan dengan jenis gulma dan tahap pertumbuhan tanaman padi.
Penerapan teknik aplikasi yang tepat: Penggunaan herbisida harus mengikuti petunjuk penggunaan yang tertera pada kemasan untuk menghindari kerusakan tanaman padi.
3. Penanggulangan Kultur Teknis
Rotasi tanaman: Menanam tanaman lain selain padi secara bergantian dapat membantu menekan pertumbuhan gulma tertentu.
Pengolahan tanah: Pengolahan tanah yang baik sebelum tanam dapat membantu mengendalikan pertumbuhan gulma dengan cara mengubur benih gulma.
Penanaman rapat: Penanaman padi dengan jarak tanam yang rapat dapat mengurangi ruang tumbuh bagi gulma.
Irigasi yang tepat: Pengelolaan air yang baik dapat membantu mengendalikan pertumbuhan gulma tertentu.
4. Penanggulangan Biologi
Penggunaan musuh alami: Beberapa jenis serangga atau mikroorganisme dapat digunakan untuk mengendalikan pertumbuhan gulma secara biologis.
Alelopati: Memanfaatkan tanaman lain yang memiliki sifat alelopati (mampu menghasilkan zat yang menghambat pertumbuhan tanaman lain) untuk menekan pertumbuhan gulma.
Penting untuk diingat:
Pencegahan lebih baik daripada pengobatan: Usahakan untuk mencegah pertumbuhan gulma sejak awal dengan cara menjaga kebersihan lahan, menggunakan benih berkualitas, dan melakukan penyiangan secara teratur.
Kombinasi metode: Penggunaan kombinasi beberapa metode penanggulangan akan lebih efektif dalam mengendalikan gulma dibandingkan hanya menggunakan satu metode saja.
Perhatikan lingkungan: Penggunaan herbisida harus dilakukan dengan hati-hati untuk menghindari dampak negatif terhadap lingkungan.
Pantau perkembangan gulma: Lakukan pemantauan secara berkala untuk mengetahui perkembangan populasi gulma dan segera lakukan tindakan pengendalian jika diperlukan.
Pilihan metode penanggulangan yang paling tepat akan tergantung pada:
Jenis gulma: Setiap jenis gulma memiliki karakteristik yang berbeda, sehingga membutuhkan metode pengendalian yang berbeda pula.
Tahap pertumbuhan tanaman padi: Penggunaan herbisida pada tahap pertumbuhan tertentu dapat menyebabkan kerusakan pada tanaman padi.
Kondisi lingkungan: Faktor lingkungan seperti jenis tanah, iklim, dan ketersediaan air juga akan mempengaruhi keberhasilan pengendalian gulma.
BAB 4 KESIMPULAN
Kesimpulan akhir mengenai pengendalian gulma dalam pertanian padi menekankan bahwa pendekatan yang efektif dan berkelanjutan memerlukan strategi terpadu yang mempertimbangkan berbagai faktor kunci. Pertama, identifikasi jenis gulma yang muncul sangat penting karena setiap jenis gulma mungkin memerlukan metode pengendalian yang berbeda. Gulma yang berbeda mungkin memiliki pola pertumbuhan, sistem akar, dan tingkat kompetisi yang bervariasi, sehingga metode pengendalian yang diterapkan harus disesuaikan dengan karakteristik masing-masing gulma.
Kedua, tahap pertumbuhan tanaman padi juga merupakan faktor kritis.
Pengendalian gulma harus disesuaikan dengan fase pertumbuhan tanaman padi, mulai dari penanaman hingga masa panen. Misalnya, pengendalian gulma pada tahap awal
pertumbuhan padi mungkin memerlukan metode yang lebih hati-hati untuk menghindari kerusakan pada tanaman padi yang masih muda, sedangkan pada tahap pertumbuhan berikutnya, metode yang lebih agresif mungkin diperlukan untuk mengatasi gulma yang telah berkembang dengan pesat.
Ketiga, kondisi lingkungan seperti jenis tanah, ketersediaan air, dan iklim juga mempengaruhi efektivitas pengendalian gulma. Oleh karena itu, strategi pengendalian harus disesuaikan dengan kondisi spesifik di lapangan. Misalnya, daerah dengan drainase yang buruk mungkin memerlukan pendekatan yang berbeda dibandingkan dengan daerah yang memiliki drainase yang baik.
Pendekatan terpadu ini tidak hanya bertujuan untuk meningkatkan produktivitas tanaman padi dengan mengurangi persaingan dari gulma, tetapi juga berusaha meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan. Metode pengendalian gulma yang ramah lingkungan, seperti penggunaan herbisida yang selektif, teknik penanaman yang mengurangi
penyerapan gulma, serta praktik pengelolaan tanah yang berkelanjutan, dapat membantu menjaga keseimbangan ekosistem dan mengurangi risiko pencemaran.
Selain itu, pendekatan yang efisien dalam penggunaan sumber daya pertanian, seperti air dan energi, juga merupakan aspek penting. Dengan menerapkan strategi pengendalian gulma yang cermat, petani dapat mengoptimalkan penggunaan sumber daya ini, mengurangi biaya produksi, dan meningkatkan hasil panen.
Secara keseluruhan, integrasi dari berbagai strategi pengendalian gulma dengan mempertimbangkan jenis gulma, tahap pertumbuhan tanaman padi, dan kondisi lingkungan akan membawa dampak positif yang signifikan. Pendekatan ini tidak hanya akan mendukung peningkatan hasil panen, tetapi juga berkontribusi pada keberlanjutan pertanian dengan meminimalkan dampak lingkungan dan mengoptimalkan efisiensi sumber daya.
DAFTAR PUSAKA
J. Agron. Indonesia 44 (2) : 147 – 153 (2016) Potensi Gangguan Gulma pada Tiga Sistem Budidaya Padi Sawah
Muhammad Husein, Syaifuddin Hasjim, Nur Widodo, Pradipta Ayu Harsita (2019) ANALISIS NILAI PENTING GULMA PADA TANAMAN PADI DALAM RANGKA PEMILIHAN PENGENDALIAN RAMAH LINGKUNGAN, Fakultas Pertanian, Universitas Jember
Lalu M. Zarwazi, Khairil Anwar, dan Idrus Hasmil – PENGARUH CARA TANAM DAN PENGENDALIAN GULMA PADI DI LAHAN RAWA PASANG SURUT – 2017
Identifikasi Gulma Pada Sawah Lahan Rawa Padi Lokal Kalimantan Timur di Desa Rapak Lumbur, Kecamatan Tenggarong- Encik Akhmad Syaifudin, Sofian, Rizky Agustia Putra (2022)