MAKALAH
TUGAS KULIAH MATA KULIAH PENGENDALIAN GULMA
“INTEGRATED WEED CONTROL”
Dosen pengampu : Ir. Hj Rahmidiyani, MS
Oleh :
Nama : Andri Rizki Al Basya
NIM : C1011221068
Kelas : Agroteknologi A Reguler
PROGRAM STUDI AGROTEKNOLOGI FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA PONTIANAK
2023
KATA PENGANTAR
Puji syukur kita ucapkan kepada ALLAH SWT yang telah melimpahkan rahmat-Nya kepada kita, sehingga saya dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik. Judul makalah yang saya ambil yaitu “Integrated Weed Control” dapat terselesaikan tepat pada waktunya. Makalah ini kami buat berdasarkan berdasarkan apa yang telah saya terima dan juga saya kutip dari berbagi berbagi sumber media elektronik. Semoga isi dari makalah ini dapat berguna bagi kita dan dapat menambah wawasan serta pengetahuan kita mengenai apa saja yang ada dalam pengenalan tanaman dan tumbuhan.
Selayaknya manusia biasa yang tidak pernah lepas dari kesalahan, maka dalam pembuatan pembuatan makalah makalah ini masih banyak yang harus di koreksi koreksi dan jauh dari sempurna Oleh karena itu, kritik dan saran sangat dianjurkan guna memperbaiki kesalahan dalam makalah ini.Demikian, apabila ada kesalahan dan kekurangan dalam isi makalah ini,penulis mohon maaf yang sebesar-besarnya.
Pontianak, 21 September 2023
Penulis
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR...
DAFTAR ISI...
BAB 1 PENDAHULUAN...
1.1 LATAR BELAKANG...
BAB 2 PEMBAHASAN...
2.1 PENGENDALIAN GULMA TERPADU...
2.2 PENGENDALIAN GULMA MEKANIS...
2.3 PENGENDALIAN GULMA KIMIAWI...
2.4 PENGENDALIAN GULMA BIOLOGI...
BAB 3 KESIMPULAN...
DAFTAR PUSTAKA...
BAB 1 PENDAHULUAN 1. LATAR BELAKANG
Gulma adalah salah satu jenis tanaman yang tidak diharapkan keberadaannya karena mengganggu pertumbuhan tanaman budidaya. Keberadaan gulma pada lahan pertanian sering menyebabkan penurunan hasil dan mutu biji. Penurunan hasil tersebut tergantung pada jenis gulma, kerapatan, lama persaingan dan senyawa alelopati yang dikeluarkan oleh gulma. Selain itu, gulma pada area pertanian juga dapat menyebabkan berkembangnya hama penyakit.
penyakit. Oleh karena itu petani melakukan melakukan pengendalian pengendalian gulma secara intensif intensif karena kerugian yang diperoleh dari gulma (Fadhl kerugian yang diperoleh dari gulma (Fadhly dan Tabri, 2007).
Pengendalian gulma adalah usaha untuk menekan populasi gulma sampai jumlah tertentu hingga tidak menimbulkan gangguan terhadap tanaman budidaya. Pengendalian gulma dapat dilakukan secara kultur teknik, mekanik, hayati, kimiawi dan terpadu. Pengendalian gulma secara terpadu memberikan hasil terbaik, karena memadukan dua atau cara pengendalian gulma sehingga dapat menekan gulma secara efektif dan efisien.
Pengendalian gulma yang efektif dan efisien dapat ditempuh beberapa tahapan sebagai berikut:
1. Melakukan identifikasi gulma secara akurat, sehingga dapat diketahui jenis-jenis gulma dominan yang perlu mendapat perhatian dalam dominan yang perlu mendapat perhatian dalam pengendalian
2. Mempelajari masalah timbulnya gulma, dengan memprioritaskan pada cara yang paling sederhana, dan sumberdaya tersedia misalnya dengan pola tanam atau cara tanam.
3. Mengutamakan pengendalian gulma secara kombinasi dari dua atau lebih misalnya kombinasi pengendalian gulma secara kultur teknik dan mekanik atau kimiawi.
4. Membandingkan alternatif cara pengendalian gulma berdasarkan optimasi waktu, biaya, kemudahan pelaksanaan, kemanjuran dalam pengendalian, serta resiko terhadap kerusakan lingkungan.
Menurut Sukman (2002), terdapat beberapa metode/cara pengendalian gulma yang dapat dipraktikkan di lapangan, metode-metode tersebut diantaranya adalah:
1. Pengendalian dengan upaya preventif (pembuatan peraturan/ perundangan, karantina, sanitasi dan peniadaan sumber invasi).
2. Pengendalian secara mekanis/fisik (pengerjaan tanah, penyiangan, pencabutan, pembabatan, penggenangan pembabatan, penggenangan dan pembakaran). dan pembakaran).
3. Pengendalian secara kultur-teknis (penggunaan jenis unggul terhadap gulma, pemilihan saat t pemilihan saat tanam, cara tanam-perapatan anam, cara tanam-perapatan jarak tanam/ jarak tanam/heavy seeding , tanaman sela, rotasi tanaman dan penggunaan mulsa).
4. Pengendalian secara hayati (pengadaan musuh alami, manipulasi musuh alami dan pengelolaan musuh alami yang ada pengelolaan musuh alami yang ada di suatu daerah). di suatu daerah).
5. Pengendalian secara kimiawi (herbisida dengan berbagai formulasi, surfaktan, alat aplikasi dsb).
6. Pengendalian dengan upaya memanfaatkannya untuk berbagai keperluan seperti sayur, bumbu, bahan obat, penyegar, bahan/karton, biogas, pupuk, bahan kerajinan dan makanan ternak.
BAB 2
PEMBAHASAN
2.1 Pengendalian Gulma Terpadu
Pengendalian terpadu adalah penggunaan lebih dari satu atau seluruh metoda pengendalian yang sesu pengendalian yang sesuai untuk ai untuk menekan pertumbuhan gulma. Menekan pertumbuhan gulma. Kekurangan dari Kekurangan dari satu metoda satu metoda dapat diisi oleh metoda lain.Dalam sistem pengelolaan gulma terpadu ditekankan pengendalian gulma
pengendalian gulma dengan berbagai car dengan berbagai cara sehingga l a sehingga lebih efektif ebih efektif dan efisien dan efisien dalam menekan dalam menekan gulma serta aman terhadap lingkungan (Swanton dan Weise, 1991).
2.2 Pengendalian Gulma Mekanis
Pengendalian mekanis merupakan usaha menekan pertumbuhan gulma dengan cara merusak bagian-bagian sehingga gulma tersebut mati atau pertumbuhannya terhambat. Teknik pengendalian mekanis hanya mengandalkan kekuatan fisik atau mekanik. Dalam praktek praktek dilakukan dilakukan secara tradisional tradisional dengan tangan, tangan, dengan alat sederhana sederhana sampai penggunaan penggunaan alat berat yang lebih modern. modern.
Prinsip Prinsip metoda mekanis mekanis ini adalah menggangu menggangu atau merusak daerah perakaran (cangkul, bajak, garu), merusak seluruh atau sebagian tanaman (babad, kored, cangkul, arit, clurit) dan merubah iklim mikro menjadi tidak sesuai untuk gulma dengan cara membalik tanah (bajak).
Beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam memilih peralatan untuk digunakan dalam pengendalian gulma adalah sistem perakaran, umur tanaman, kedalaman dan penyebaran penyebaran sistem perakaran, perakaran, umur dan luas infestasi, infestasi, tipe tanah, topografi, topografi, serta kondisi kondisi cuaca/iklim.
Metode Pengendalian Gulma Secara Mekanis A. Pengolahan Tanah (Land Preparation)
Pengolahan tanah dengan alat-alat seperti cangkul, bajak, garu, traktor dan sebagainya, pada umumnya umumnya berfungsi berfungsi untuk mengendalikan mengendalikan gulma.
Pengolahan Pengolahan tanah pada prinsipnya prinsipnya melepaskan ikatan antara gulma dengan media tempat tumbuhnya. Efektivitas pengolahan tanah dalam pengendalian gulma tergantung beberapa faktor seperti siklus hidup gulma dan tanamannya, dalam dan penyebaran perakaran, lama dan luasnya infestasi, macam tanaman yang dibudidayakan, jenis tanah, topografi dan iklim.
B. Penyiangan (Weeding)
Penyiangan yang tepat biasanya dilakukan pada saat pertumbuhan aktif dari gulma.
Penundaan sampai gulma berbunga mungkin tak hanya gagal membongkar akar gulma secara maksimum, tetapi juga gagal mencegah tumbuhnya biji-biji gulma yang viabel sehingga memberi kesempatan untuk perkembangbiakan dan penyebarannya. Penyiangan sesudah gulma dewasa akan banyak membongkar akar tanaman dan menimbulkan kerusakan fisik. Sedang penyiangan yang terlalu sering akan Sedang penyiangan yang terlalu sering akan menimbul menimbulkan kerusakan akar tanaman pokok kan kerusakan akar tanaman pokok.
C. Pencabutan (Hand Pulling)
Pencabutan dengan tangan ditujukan untuk gulma annual dan biennial. Pelaksanaan pencabutan pencabutan gulma terbaik terbaik adalah pada saat sebelum sebelum pembentukan pembentukan biji, sedang pencabutan pencabutanpada saat gulma sudah dewasa mengakibatkan mengakibatkan kemungkinan kemungkinan adanya bagian bawah gulma yang tidak tercabut sehingga tumbuh kembali
D. Pencabutan (Hand Pulling)
Pencabutan dengan tangan ditujukan untuk gulma annual dan biennial. Pelaksanaan pencabutan pencabutan gulma terbaik terbaik adalah pada saat sebelum sebelum pembentukan pembentukan biji, sedang pencabutan pencabutan pada saat gulma sudah dewasa mengakibatkan mengakibatkan kemungkinan kemungkinan adanya bagian bawah gulma yang tidak tercabut sehingga tumbuh kembali.
E. Pembabatan (Mowing)
Pembabatan pada umumnya hanya efektif untuk mengendalikan gulma-gulma yang bersifat setahun (annual) dan kurang efektif untuk gulma tahunan (perennial). Efektivitas cara ini sangat ditentukan oleh saat dan interval pembabatan. Pembabatan sebaiknya dilakukan pada saat daun gulma sedang tumbuh lebat, menjelang menjelang berbunga berbunga dan sebelum sebelum membentuk membentuk biji.
F. Pembakaran (Burning)
Pembakaran merupakan salah satu cara mengendalikan gulma. Suhu kritis yang menyebabkan kematian (Termodeash Point) pada sel adalah 45 – 55º C, tetapi biji yang keringlebih tahan daripada tumbuhan yang hidup. Sebenarnya yang dimaksud dengan pembakaran adalah penggunaan api untuk pengendalian gulma dengan alat pembakar (burner) seperti alat untuk mengelas, flame cultivator atau weed burner yang menggunakan bahan bakar butane dan propone. Atau pembakaran dengan memberikan panas dalam bentuk uap (sceaming), terutama dalam usaha mematikan biji gulma pada tempat-tempat tertentu seperti pembuatan bedengan.
G. Penggenangan
Bila tersedia air, penggenangan dapat mengurangi pertumbuhan gulma. Cara ini biasa digunakan untuk mengendalikan pertumbuhan gulma darat (terrestrial). Penggenangan efektif nggenangan efektif untuk mengendalikan gulma tahunan. Caranya dengan membuat galangan pembatas dengan Bila tersedia air, penggenangan dapat mengurangi pertumbuhan gulma. tinggi genangan 15-25 cm selama 3 – 8 minggu. Sebagian besar gulma tidak berkecambah pada kondisi anaerob.
2.3 Pengendalian Gulma Kimiawi
Pengendalian secara kimiawi adalah mengenakan bahan-bahan kimia baik berupa cairan maupun padatan kepada bagian-bagian tanaman, bahan-bahan kimia atau obat-obatan tersebut disemprotkan dengan merang sebagai alat tradisional atau dengan alat penyemprot (sprayer) dan alat pedebu (duster) (Hermawan dkk 2010). Menurut Sukman (2002) bahan kimia atau obat- obatan yang dipergunakan sebagai pengendali gulma dikenal dengan nama herbisida. Sehingga menurutnya herbisida berarti suatu senyawa kimia yang digunakan untuk mengendalikan gulma tanpa mengganggu tanaman pokok.
Keuntungan Penggunaan Herbisida
Keuntungan yang diberikan oleh herbisida adalah sebagai berikut (Sukman 2002): berikut (Sukman 2002):
1. Dapat mengendalikan gulma sebelum mengganggu 2. Dapat mengendalikan gulma di larikan tanaman 3. Dapat mencegah kerusakan perakaran tanaman
4. Lebih efektif membunuh gulma tahunan dan semak Lebih efektif membunuh gulma tahunan dan semak belukar
5. Dalam dosis rendah dapat Dalam dosis rendah dapat sebagai hormon tumbuh sebagai hormon tumbuh
6. Dapat menaikkan hasil panen tanaman dibandingkan dengan perlakuan penyiangan Biasa.
Kerugian Penggunaan Herbisida
Disamping herbisida dapat memberikan kelebihan dan keuntungan, herbisida juga mempunyai kekurangan-kekurangan yang dapat merugikan. Kerugian itu antara lain adalah herbisida dapat menimbulkan:
1. efek samping,
2. spesies gulma yang resisten, 3. polusi, dan
4. residu dapat meracuni tanaman, pada pola pergiliran tanaman.
Pemilihan dan penggunaan jenis herbisida harus tepat dan sesuai dengan gulma yang ingin dikendalikan termasuk dengan tanaman yang di budidayakan. Oleh karenanya, menurut Sukman (2002) herbisida digolongkan menjadi beberapa macam. Penggolongan ini juga bertujuan bertujuan untuk mempermudah mempermudah pengenalan pengenalan jenis herbisida herbisida yang sangat banyak jenisnya. Jenisnya.
Secara umum Sukman (2002) mengklasifikasikan herbisida menjadi empat, yaitu herbisida berdasarkan berdasarkan waktu aplikasi, aplikasi, herbisida herbisida berdasarkan berdasarkan
aplikasi, aplikasi, herbisida herbisida berdasarkan berdasarkan molekul molekul dan herbisida berdasarkan cara kerja.
A. Herbisida Berdasarkan Waktu Aplikasi
Waktu aplikasi herbisida ditentukan oleh stadia pertumbuhan dari tanaman maupun gulma. Berdasarkan hal tersebut, maka Sukman (2002) membagi waktu aplikasi herbisida menjadi:
Pre plant, Pre plant, merupakan m merupakan metode peng etode pengaplikasian herbisida aplikasian herbisida pada saat tanaman saat tanaman (crop)belum ditanam, tetapi tanah sudah diolah
Pre emergence, merupakan metode pengaplikasian herbisida sebelum benih tanaman (crop) atau biji gulma berkecambah. Pada perlakuan ini benih dari tanaman (crop) sudah ditanam dan gulma belum tumbuh
Post emergence, Post emergence, merupakan metode merupakan metode pengaplikasian pengaplikasian herbisida pada herbisida pada saat gulma dan saat gulma dan tanaman sudah lewat stadia perkecambahan. Aplikasi herbisida bisa dilakukan pada waktu tanaman masih muda maupun pada waktu tanaman sudah tua.
B. Herbisida Berdasarkan Cara Aplikasi
Herbisida yang berdasarkan cara aplikasi ini Sukman (2002) membaginya menjadi dua yaitu melalui daun dan melalui tanah. Herbisida yang diaplikasikan melalui daun dibagi dua yaitu bersifat kontak dan sistemik. Bersifat kontak berarti herbisida hanya mematikan bagian hijau tumbuhan yang terkena semprotan, sedangkan yang bersifat sistemik herbisida yang diberikan pada gulma setelah diserap oleh jaringan daun kemudian ditranslokasikan keseluruh bagian tumbuhan (gulma) tersebut. Herbisida yang diaplikasikan melalui tanah adalah herbisida yang bersifat sistemik. Herbisida ini disemprotkan ke tanah yang kemudian akan diserap oleh akar gulma dan ditranslokasikan bersama aliran transpirasi sampai ke side of action pada jaringan daun dan menghambat proses pada photosystem II pada fotosíntesis.
2.4 Pengendalian Gulma Biologi
Pengendalian Gulma secara Biologis Menurut DeBach’s (1964) pengendalian biologi adalah aksi/kerja dari parasit, predator, dan patogen dalam mempertahankan kepadatan organisme lain pada tingkat yangrendah dibandingkan tanpa kehadirannya. Berdasarkan definisi tersebut, pengendalian gulma secara biologi adalah pengendalian gulma dengan menggunakan organisme lain berupa binatang ataupun tumbuhan berderajat rendah hingga berderajat berderajat tinggi, tinggi, misalnya: misalnya: cendawan, cendawan, bakteri, bakteri, tumbuhan/tanaman tumbuhan/tanaman berderajat berderajat tinggi, tinggi, binatang/hewan binatang/hewan ternak.
ternak. Pengendalian Pengendalian biologi biologi merupakan merupakan salah satu cara pengendalian pengendalian yang dinilai cukup aman dan mempunyai beberapa keuntungan.
Metodologi
Terdapat tiga metode Terdapat tiga metode yang berbeda untuk pengendalia yang berbeda untuk pengendalian biologi, yaitu :
A. Metode Konservasi
Pengendalian biologi dengan cara mempertahankan dan memelihara populasi agen pengendali biologi yang sudah ada.
B. Metode Klasik
Pengendalian biologi dengan cara mendatangkan dan melepas jenis musuh alami dari luar ke daerah penyebaran gulma
C. Metode Pelimpahan Populasi Agen (Augmentasi).
Pengendalian biologi dengan cara meningkatkan/melimpahkan populasi agen pengendali biologi pengendali biologi untuk menekan untuk menekan gulma, dengan gulma, dengan harapan bahwa harapan bahwa agen te agen tersebut akan menjadi berkembang sehingga pelepasan selanjutn menjadi berkembang sehingga pelepasan selanjutnya tidak dibutuhkan. idak dibutuhkan. Augmentasi dilakukan jika suatu jenis agen belum/tidak dapat beradaptasi dengan kondisi yangbaru sehingga dalam musim tertentu poulasinya menurun sampai pada tingkat yang cukup rendah, sementara populasi gulma masih tinggi. Augmentasi dapat dilakukan dengan dua cara yaitu : inokulasi dan inundasi.Inokulasi adalah pelepasan musuh alami dalam jumlah terbatas untuk meningkatkan populasi musuh alami. Inundasi adalah pelepasan musuh alami dalam jumlah besar.
Syarat Jenis Musuh Alami yang Efektif dan Baik
Menyukai gulma sasaran sebagai inangnya dan tidak membahayakan jenis tanaman budidaya
Mampu menimbulkan kerusakan dan menekan populasi gulma sasaran pada tingkat populasi yang rendah
Mampu berkembangbiak secara cepat dan beradaptasi dengan kondisi ekologis dimana musuh alami digunakan
Prosedur Pengendalian Biologi
Langkah-langkah yang harus dilakukan dalam pengendalian gulma secara biologi antara lain : eksplorasi agen dari luar, seleksi dan pengujian agen hayati, perbanyakan dan pelepasan, pelepasan, serta evaluasi. evaluasi. Eksplorasi Eksplorasi agen dari luar membutuhkan membutuhkan identifikasi identifikasi gulma yang tepat dan negara asalnya. Analisis genetik terhadap senyawa kimia spesifik suatu tanaman, isozym, dan DNA digunakan untuk mengidentifikasi dan mengkarakterisasi perbedaan perbedaan strain gulma dan untuk
memfasilitasi memfasilitasi koleksi koleksi agen dari strain dan tempat asal yang sama sebagai gulma target.
Tahapan Pengendalian Gulma Secara Biologis
1. Penelusuran informasi tentang status taksonomi dan penyebaran gulma sasaran. Dalam tahap awal ini dilakukan pengamatan lapang tentang tingkat populasi di daerah asal, kemudian dibandingkan dengan di daerah penyebaran yangbaru (di luar asal).
2. Penelusuran informasi tentang jenis-jenis musuh alami gulma sasaran dan pencarian musuh alami yangpotensial khususny pencarian musuh alami yangpotensial khususnya di daerah asal. aerah asal.
3. Pengkajian aspek biologis, kekhususan inang dan ekologis musuh alami yang potensial di daerah asal.
4. Pemilihan diantara jenis musuh alami potensial dan pengajuan ijin impor (pemasukan ke dalam daerah dimana gulma akan dikendalikan) untuk penelitian lebih lanjut dalam kondisi karantina.
5. Pengadaptasian dan pemantapan musuh alami terpilih di dalam kondisi karantina di daerah negara pengimpor.
6. Pengamatan secara seksama pada kondisi karantina atas kemungkinan terbawanya jenis parasitoid dan atau patogen bersama-sama agen yang diimpor.
Apabila ternyata kedapatan jenis parasitoid dan atau patogen bawaan maka dilakukan pembasmian dan sebaiknya impor ulang dilakukan secara lebih waspada.
Apabila memungkinkan dan ada jaminan, penyeleksian diantara individu agen yangbebas dari parasitoid dan atau patogen masih dapat digunakan sebagai kajian selanjutnya.
7. Kajian aspek biologis dan kekhususan inang dalam kondisi karantina di negara pengimpor.
8. Pengajuan ijin pelepasan agen ke lapangan apabila hasil kajian pada tahap kegiatan ketujuh menunjukkan bahwa agen yang bersangkutan tidak memiliki indikasi akan mengancam tanaman budidaya/ekonomis.
9. Pembiakan, penyebaran/pelepasan, pemantauan pemantapan adaptasi dan efektivitas agen di lapangan
BAB 3 KESIMPULAN
Pengendalian terpadu adalah penggunaan lebih dari satu atau seluruh metoda pengendalian yang sesu pengendalian yang sesuai untuk ai untuk menekan pertumbuhan gulma.
menekan pertumbuhan gulma. Kekurangan dari Kekurangan dari satu metoda satu metoda dapat diisi oleh metoda lain. Dalam sistem pengelolaan gulma terpadu ditekankan pengendalian gulma pengendalian gulma dengan berbagai car dengan berbagai cara sehingga l a sehingga lebih efektif ebih efektif dan efisien dan efisien dalam menekan dalam menekan gulma serta aman terhadap lingkungan. Metode pengendalian yang dilakukan ada secara mekanis, biologi, dan kimia.
DAFTAR PUSTAKA
Cholid,M. 2004. Pengendalian Gulma Pada Pertanaman Kapas. Balai Penelitian Tanaman Tembakau dan Serat, Malang
Anonim.2010.Pengendalian Gulma Secara Biologi. Diakses melalui web https://dokumen.tips/documents/ian-gulma-secara-biologis.html logis.html pada tanggal tanggal 12 November November 2017
Sukman. 2003. Gulma dan Teknik Pengendaliannya. Jakarta: Rajawali Pers
Anonim.2011. Pengendalian Gulma Terpadu.diakses melalu web
http://repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/51169/6/F11ama_BAB%20II%20Tinja uan
%20Pustaka.pdf uan%20Pustaka.pdf pada tanggal 12 November 2017 pada tanggal 12 November 2017
Anonim.2011. Cara Pengendalian Gulma. Diakses melalui web http://www.petanihebat.com/2013/11/cara-pengendalian-gulma.html n-gulma.html pada tanggal tanggal 12 November 2017
Marpaung,Imelda,S.Parto,Y.Sodikin,E.2013.Evaluasi Kerapatan Tanam dan Metode Pengendalian Gulma pada Budidaya Padi Tanam Benih Langsung di Lahan Sawah Pasang Surut.
Jurnal Lahan Sub optimal Jurnal Lahan Sub optimal ISSN: 2302-3015 Vol. 2, No ISSN: 2302- 3015 Vol. 2, No.1: 93-99 .1: 93-99