MAKALAH
PERENCANAAN PENDIDIKAN
“Uji Kelayakan dan Perumusan Rencana Pendidikan”
Dosen Pengampu:
Dr. Anisah, M.Pd Fifin Wildanah, M.Pd
Disusun Oleh Kelompok 8 Sesi 050:
Mawarni Safitri 22002110 Miftahul Fauzia 22002113
DEPARTEMEN ADMINISTRASI PENDIDIKAN FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2023
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah SWT. yang telah melimpahkan rahmat dan karunia- Nya kepada kita semua, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah dengan judul Uji Kelayakan dan Perumusan Rencana Pendidikan yang merupakan salah satu tugas dari mata kuliah Perencanaan Pendidikan. Ucapan terimakasih penulis berikan kepada seluruh pihak, terutama pada dosen pengampu yaitu Ibu Dr. Anisah, M.Pd., dan Ibu Fifin Wildanah, M.Pd.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Untuk itu penulis dengan senang hati akan menerima semua kritikan ataupun saran-saran yang sifatnya membangun demi kesempurnaan makalah ini nantinya. Semoga makalah ini memberi manfaat bagi kita semua dalam menambah wawasan serta pemahaman bagi pembaca.
Padang, 22 Oktober 2023
Kelompok 8
BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pendidikan adalah salah satu aspek kunci dalam pembangunan suatu negara. Pendidikan yang berkualitas berperan penting dalam menciptakan sumber daya manusia yang kompeten, kreatif, dan mampu bersaing di tingkat global. Untuk mencapai tujuan tersebut, pemerintah, lembaga pendidikan, dan berbagai pihak terkait perlu terlibat dalam perencanaan, implementasi, dan evaluasi sistem pendidikan.
Dalam konteks ini, uji kelayakan dan perumusan rencana pendidikan merupakan tahap kritis dalam proses pengembangan sistem pendidikan. Uji kelayakan adalah proses evaluasi yang berfokus pada pemastian bahwa sebuah program pendidikan atau kebijakan pendidikan memiliki dasar yang kuat dan potensial untuk memberikan hasil yang diinginkan. Sementara itu, perumusan rencana pendidikan adalah langkah awal yang menentukan arah dan tujuan yang akan dicapai dalam sebuah sistem pendidikan.
Studi kelayakan rencana pada dasarnya membahas berbagai konsep dasar yang berkaitan dengan keputusan dan proses pemilihan rencana pendidikan agar mampu memberikan manfaat ekonomis dan sosial sepanjang waktu. Studi kelayakan juga sering disebut dengan feasibility study yang merupakan bahan pertimbangan dalam mengambil suatu keputusan, apakah menerima suatu gagasan usaha atau proyek yang direncanakan atau menolaknya.
Memahami latar belakang tersebut, makalah ini akan menjelaskan lebih lanjut tentang konsep uji kelayakan dan perumusan rencana pendidikan, peran pentingnya dalam pengembangan sistem pendidikan, serta bagaimana langkah-langkah praktis dalam pelaksanaannya. Makalah ini diharapkan dapat memberikan wawasan yang lebih mendalam mengenai upaya perbaikan dan pengembangan sistem pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan zaman.
A. Rumusan Masalah
1. Apa itu uji kelayakan dan pentingnya uji kelayakan?
2. Apa saja aspek-aspek dalam uji kelayakan?
3. Apa saja prosedur uji kelayakan rencana pendidikan?
4. Apa itu perumusan rencana?
B. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui apa itu uji kelayakan dan pentingnya uji kelayakan.
2. Untuk mengetahui aspek-aspek dalam uji kelayakan.
3. Untuk mengetahui apa saja prosedur uji kelayakan dan rencana pendidikan.
4. Untuk mengetahui apa itu perumusan rencana.
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian dan Pentingnya Uji Kelayakan
Uji kelayakan dalam proses perencanaan pada dasarnya merupakan tindakan yang berlangsung secara berkelanjutan di setiap fase perencanaan. Meskipun pada tahap-tahap sebelum perumusan rencana, pengujian kelayakan tidak dilakukan secara eksklusif, namun pada saat tahap perumusan rencana, uji kelayakan harus dilakukan sesuai dengan prosedur yang dapat dipertanggungjawabkan. Pengujian kelayakan ini dilakukan setelah penyelesaian draf perencanaan, sebelum rencana akhirnya diajukan untuk mendapatkan persetujuan dari pihak yang berwenang (Anisah, 2013).
1. Pengertian Uji Kelayakan
Dalam uji kelayakan rencana pendidikan, bertujuan untuk melakukan penyelidikan yang terstruktur terkait aspek-aspek seperti kepraktisan, kemungkinan, keterkelolaan, dan kelogisan (kemasukakalan) dari rencana tersebut. Dengan kata lain, kita mengajukan pertanyaan kepada diri kita sendiri, "Apakah rencana ini dapat dilaksanakan?" (Anisah, 2013).
Uji kelayakan dilakukan setelah penyelesaian draft pertama rencana. Mungkin saja, selama proses penyusunan draft pertama ini, perencana sudah mempertimbangkan aspek kepraktisan dari yang akan diajukan. Tetapi ini tidak memerlukan tahap tertentu dalam proses perencanaan. Namun, setelah tahap perumusan rencana selesai dan sebelum tahap penjabaran rencana dimulai, penting bagi perencana untuk mempelajari apakah setiap komponen rencana realistis, apakah komponen-komponen yang terpisah sesuai satu sama lain, dan apakah rencana secara keseluruhan dapat dijalankan dengan
mempertimbangkan kendala atau hambatan yang mungkin muncul selama pelaksanaan (Anisah, 2013).
Dapat disimpulkan bahwa uji kelayakan dalam perencanaan pendidikan merupakan suatu tahap kegiatan yang dilakukan untuk menguji secara kritis dan melakukan perbaikan atau revisi rencana pendidikan yang menjadi tujuan utamanya. Uji kelayakan dilakukan setelah tahap perumusan rencana dan sebelum tahap penjabaran rencana dimulai.
2. Pentingnya Uji Kelayakan
Penting bagi perencana untuk melakukan uji kelayakan agar dapat memprediksi apakah rencana tersebut dapat dilaksanakan. Dalam uji kelayakan, sejumlah pertanyaan diajukan untuk masing-masing target atau tujuan yang ada dalam rencana.
B. Aspek Uji Kelayakan
Anisah (2013) dalam bukunya menyebutkan bahwa aspek uji kelayakan dibagi menjadi dua aspek, yaitu aspek konsistensi eksternal dan aspek konsistensi internal. Aspek konsistensi eksternal adalah aspek yang memeriksa apakah rencana memperhitungkan saling ketergantungan antara sistem pendidikan dengan sistem lainnya secara pantas atau layak.
Contohnya seperti antara jumlah lulusan pendidikan kejuruan dengan lapangan kerja yang tersedia. Atau apakah jumlah sekolah yang direncanakan sesuai dengan jumlah penduduk usia sekolah yang akan masuk.
Aspek yang kedua yaitu aspek konsistensi internal. Aspek ini menguji apakah rencana memperhitungkan saling antara sub sistem dari sektor pendidikan. Contohnya seperti antara lulusan SD dengan jumlah SLTP yang akan dibangun.
C. Prosedur Uji Kelayakan Rencana
Uji kelayakan rencana dapat diuraikan secara prosedural dalam tiga pertanyaan, yaitu:
1. Apakah output akan sesuai dengan tujuan?
2. Apakah masukan-masukan (input) dapat disediakan?
3. Apakah dengan cara demikian output yang telah ditentukan akan tercapai? (Anisah, 2013)
Anisah (2013) dalam bukunya menguraikan beberapa prosedur uji kelayakan rencana, yaitu:
1. Uji kelayakan output
Uji kelayakan output memperhitungkan konsistensi internal maupun konsistensi eksternal. Pertanyaan yang diajukan dalam uji kelayakan ini mencakup apakah tujuan dan target output yang direncanakan sesuai dengan tujuan dan kebutuhan dalam bidang pendidikan serta sejalan dengan berbagai sistem lain dalam masyarakat.
Beberapa pertanyaan yang lebih spesifik yang harus diajukan dalam uji kelayakan ini dapat mencakup:
a. Apakah output yang diusulkan sesuai dengan keperluan tenaga kerja bidang ekonomi?
b. Apakai isi pendidikan relevan atau hanya menghasilkan lulusan dengan keahlian yang tidak relevan?
c. Apakah output yang diusulkan telah memperhitungkan tekanan tuntutan sosial?
d. Apakah orang tua menyukai tipe pendidikan diusulkan pada rencana?
e. Apakah prioritas pendidikan sejalan dengan prioritas politik nasional secara keseluruhan?
f. Bisakah target-target kualitatif dicapai dibawah tekanan pertumbuhan penduduk?
2. Uji kelayakan input
Dalam sistem pendidikan, perbedaan antara input dan output dapat menjadi kurang jelas karena output dari satu jenjang pendidikan seringkali menjadi input yang potensial bagi jenjang berikutnya.
Contohnya seperti lulusan SD yang melanjutkan ke sekolah menengah merupakan input bagi jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Demikian pula, lulusan dari lembaga pelatihan guru menjadi input sebagai guru di sekolah-sekolah. Input dapat disediakan tergantung pada kinerja sistem pendidikan itu sendiri.
Pertanyaan yang perlu dijawab untuk menilai kelayakan input dari segi konsistensi internal adalah:
a. Bisakah output yang diusulkan untuk setiap level pendidikan memuaskan tuntutan level pendidikan berikutnya yang lebih tinggi.
b. Apakah kapasitas pelatihan guru mencukupi untuk mengganti guru yang berhenti dan untuk menghasilkan jumlah guru baru sesuai dengan jumlah murid.
c. Apakah distribusi fasilitas dan pelayanan pendidikan memberi kesamaan kesempatan pada anak-anak untuk masuk sekolah (wilayah pedesaan, perempuan, dan anak-anak terbelakang)?
d. Apakah pembaharuan dalam pendidikan dipersiapkan dengan layak, seperti pembaharuan kurikulum, apakah guru-guru dilatih bekerja dengan kurikulum yang baru, apakah buku teks tersedia, apakah bimbingan bagi guru-guru dipersiapkan?
e. Dimana saja workshop/bengkel dan laboratorium direncanakan, apakah ketentuan cukup dibuat untuk menjamin tersedianya alat pendukung kerja?
Uji kelayakan input dari perspektif konsistensi eksternal melibatkan pertanyaan-pertanyaan tentang dana atau biaya.
Pertanyaan-pertanyaan tersebut dapat mencakup:
a. Berapa besar pemerintah pusat bisa diharapkan berkontribusi pada pendidikan melalui anggaran
b. Apa yang bisa diharapkan dari pemerintah provinsi, kabupaten/
kota ?
c. Apa sumbangan dari badan-badan sekolah swasta?
d. Berapa banyak orang tua dan masyarakat menyumbang melalui uang sekolah, organisasi guru dan orang tua, dan lain- lain?
Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut akan mengarahkan kita untuk memperkirakan sumber-sumber pendidikan yang tersedia.
Perbandingan biaya rencana secara keseluruhan dengan keseluruhan sumber daya yang mungkin tersedia adalah aspek yang sangat penting dalam konsistensi eksternal rencana. Ini mencakup penilaian apakah rencana dapat didanai dengan baik oleh sumber daya yang tersedia atau dari sumber-sumber yang mungkin tersedia, seperti anggaran pendidikan, donasi, atau sumber daya pihak ketiga.
3. Uji kelayakan proses
Input-input dikombinasikan dan berinteraksi dalam suatu proses yang menghasilkan output. Dalamuji kelayakan proses ada beberapa pertanyaan yang perlu dijawab seperti : apakah proses yang direncanakan ini dapat terlaksana? Akankah proses tersebut menghasilkan output yang diharapkan?
Kalau proses yang dikemukakan dalam rencana merupakan suatu pembaharuan maka perlu dipertanyakan hal-hal berikut :
a. Apakah rancangan pembaharuan tersebut telah memperhitungkan perlawanan terhadap perubahan dari bagian fungsional dan ketidak- berdayaan dari birokrasi administratif?
b. Apakah guru-guru siap terhadap pembaharuan dalam isi dan metode pengajaran?
c. Apakah pembaharuan yang diusulkan telah meperhitungkan ide- ide, prioritas/kepentingan kehidupan pada level administratif tingkat bawah dengan guru-guru dan orang tua.
d. Apakah infra struktur mencukupi untuk mendukung pembaharuan?
Seperti kursus korespondensi memerlukan system pengeposan yang mantap, pendidikan radio atau televisi memerlukan system transmisi yang mencakup seluruh tanah air.
Sekarang, menjadi jelas bahwa uji kelayakan, tidak lain merupakan serangkaian pertanyaan-pertanyaan sebagai pemikiran sehat terhadap perencanaan. Sebagian besar dari rencana terdiri dari aktivitas-aktivitas telah pernah dilaksanakan pada masa lalu, dan bisa diharapkan keterlaksanaan akan baik pada masa yang akan datang. Tetapi, untuk beberapa perubahan yang besar dalam program yang ada yang untuk program yang baru serta program yang inovatif, uji kelayakan harus menjadi bagian yang harus dilakukan dengan serius dan detail sebagai bagian dari proses perencanaan. Juga, suatu perubahan dalam satu komponen (program) dari rencana bisa mempengaruhi komponen lain dan secara konsekuen mempengaruhi keterlaksanaan rencana keseluruhan.
Beberapa aspek kelayakan rencana yang dapat diidentifikasi diantaranya adalah :
a. Political Feasibility; apakah tujuan pendidikan cocok dengan prioritas politik?
b. Economic Feasibility; apakah persyaratan tenaga cocok dengan lulusan system pendidikan ? Apakah lulusan mampu mendapatkan pekerjaan? Apakah devisa tersedia untuk mengimport bahan-bahan yang diperlukan untuk pelaksanaan rencana pendidikan?
c. Financial Feasibility; Apakah perkiraan sumber-sumber didasarkan pada asumsi-asumsi yang realistik? Apakah biaya yang diperkirakan tidak terlalu optimistik? Apakah sumber-sumber yang tersedia memadai untuk menutupi biaya?
d. Social Feasibility; Apakah program-program pendidikan yang diusulkan cocok dengan tuntutan siswa dan orang tua mereka?
Apakah kecenderungan/ kesukaan dan diringan-dorongan individual cukup diperhitungkan?
e. Administsrative Feasibility; (kelayakan administsratif). Apakah layanan administratif mempunyai staf yang cukup dan mampu menangani rencana yang diusulkan? Lebih khusus apakan administrator memungkinkan untuk menjalankan program pembaharuan? Apakah input pisik/barang yang diperlukan tersedia, seperti kertas untuk buku teks, beton untuk gedung sekolah dan lain-lain.
f. Internal (Educational) Feasibility; kelayakan internal. Apakah subsektor yang terpisah dari sistem pendidikan bekerja harmonis?
Apakah keluaran dari suatu tingkat pendidikan memenuhi persyaratan memasuki tingkat berikutnya yang lebih tinggi?
Apakah guru-guru dipersiapkan untuk melayani jumlah murid yang meningkat?
Semua aspek ini harus dipelajari secara hati-hati. Aspek-aspek ini tidak dibedakan menurut kategori, tetapi semuanya membentuk konsistensi dan fesibility (kelayakan) rencana secara keseluruhan.
Jika pemeriksanaan menunjukkan bahwa suatu program tidak layak, perencana harus meneliti dua kemungkinan penyelesaian, yaitu : a. Rancangan tindakan untuk mengeluarkan faktor-faktor yang
mengancam pelaksanaan program b. Merevisi program
Ilustrasi singkat ini sebagai contoh sederhana, jika ternyata bahwa biaya yang diperkirakan untuk rencana pendidikan melebihi sumber yang tersedia, perencana pertama kali mencoba menghilangkan hambatan ini dengan mencari sumber tambahan. Tetapi, jika usaha ini tidak berhasil, perencana harus merevisi rencananya. Apakah target akan dikurangi atau dicari cara yang lebih mudah untuk mencapai target tersebut.
D. Perumusan Rencana Pendidikan 1. Pengertian
Perumusan rencana adalah proses berulang yang menetapkan tujuan perencanaan, mengevaluasi tindakan pengelolaan yang mencapai tujuan tersebut, mengembangkan alternatif potensial yang memenuhi tujuan, menyaring rencana berdasarkan kriteria perbandingan, dan mengidentifikasi rencana untuk implementasi.
2. Proses
a. Menginventarisasi kondisi yang ada dan meramalkan kemungkinan kondisi sumber daya di masa depan tanpa memproyeksikan.
Menyebutkan permasalahan dan kebutuhan sumber daya air b. Mengembangkan tujuan perencanaan, kendala, dan kriteria.
c. Mengidentifikasi langkah-langkah pengelolaan sumber daya dan merumuskan rencana alternatif yang potensial untuk dipenuhi d. tujuan studi.
e. Bandingkan dan evaluasi rencana alternatif.
f. Pilih rencana implementasi yang direkomendasikan.
3. Prinsip
Ralph Tyler adalah seorang ahli pendidikan yang terkenal dengan kontribusinya dalam perencanaan kurikulum, terutama melalui bukunya yang berjudul "Basic Principles of Curriculum and
Instruction". (Fitriah, 2018) Mengemukakan beberapa prinsip perumusan rencana pendidikan diantaranya:
a) Identifikasi Tujuan Pembelajaran yang jelas dan spesifik. Tujuan pembelajaran harus menggambarkan hasil yang diharapkan dari pengalaman belajar siswa dan memberikan arah bagi perencanaan dan pengajaran.
b) Menentukan Urutan Pembelajaran yang disusun berdasarkan logika dan pengalaman belajar yang terorganisir. Ini melibatkan memikirkan pengalaman belajar sebelumnya dari peserta didik dan membangun pengetahuan dan keterampilan baru di atas dasar itu.
c) Merancang Pengalaman Pembelajaran yang relevan dan bermakna bagi peserta didik. Pengalaman pembelajaran harus dirancang untuk mencapai tujuan pembelajaran yang ditetapkan dan memfasilitasi pemahaman yang mendalam.
d) Pengembangan Penilaian yang Sesuai, pentingnya merancang penilaian yang sesuai dengan tujuan pembelajaran. Penilaian harus mencerminkan hasil yang diharapkan dan memberikan informasi yang berguna tentang pencapaian siswa.
e) Evaluasi dan Penyesuaian, pentingnya evaluasi berkelanjutan terhadap rencana pendidikan dan pengajaran yang dilakukan.
Evaluasi ini harus digunakan untuk mengidentifikasi keberhasilan rencana pendidikan dan untuk melakukan penyesuaian yang diperlukan.
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
Uji kelayakan dalam proses perencanaan pada dasarnya merupakan tindakan yang berlangsung secara berkelanjutan di setiap fase perencanaan. Meskipun pada tahap-tahap sebelum perumusan rencana, pengujian kelayakan tidak dilakukan secara eksklusif, namun pada saat tahap perumusan rencana, uji kelayakan harus dilakukan sesuai dengan prosedur yang dapat dipertanggungjawabkan. Pengujian kelayakan ini dilakukan setelah penyelesaian draf perencanaan, sebelum rencana akhirnya diajukan untuk mendapatkan persetujuan dari pihak yang berwenang.
Perumusan rencana adalah proses berulang yang menetapkan tujuan perencanaan, mengevaluasi tindakan pengelolaan yang mencapai tujuan tersebut, mengembangkan alternatif potensial yang memenuhi tujuan, menyaring rencana berdasarkan kriteria perbandingan, dan mengidentifikasi rencana untuk implementasi.
B. Saran
Lembaga hendaknya lebih memperhatikan proses uji kelayakan rencana karena merupakan jalan untuk menguji apakah rencana itu akan perhasil atau tidak. Rumusan rencana juga harus dibuat sebaik mungkin agar mencapai hasil yang diinginkan.