MAKALAH PERILAKU PETANI GUREM UNTUK MENGOPTIMALKAN PENDAPATAN
Disusun oleh :
Agata Widhi Feby Ratna Sari H0818005
Duta Kharisma Aji H0818026
Gaudensia Lena H0818034
Khuzamy Aulia H0818053
Mia Alfiyatus Sholehah H0818063
Sandra Surya S H0818093
PROGRAM STUDI AGRIBISNIS FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2020
1
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Petani merupakan sebutan profesi yang taka sing lagi di Indonesia bahkan sudah melekat sejak zaman dahulu. Indonesia sebagai negara agraris sebagian besar penduduknya bermmata pencaharian sebagai petani,namun ironisnya petani-petani di Indonesia didominasi oleh petani gurem. Petani gurem merupakan petani yang memiliki atau menyewa lahan pertanian kurang dari 0,5 Ha. Petani gurem ini pastinya bukan merupakan satuan individu melainkan satuan keluarga sebab dalam melakukan usahatani dalam mempertimbangkan segala sesuatu hal terkait usahataninya pasti berdasar pertimbangan keluarga terutama istri dan anak.
Kehidupan petani semakin memprihatinkan karena semakin banyak rumah tangga petani yang hanya mengelola lahan sempit. Lahan sempit ini biasanya merupakan lahan yang luas lalu dibagi-bagikan sesuai dengan ahli warisnya dan ini sudah menjadi budaya atau kebiasaan bagi masyarakat Indonesia sehingga lahan pertanian yang dimiliki petani cenderung kecil.
Lahan yang kecil ini tentu saja akan mempengaruhi bagaimana cara bekerja atau kinerja para petani dan pendapatan yang dihasilkan dari usahatani tak jarang juga hanya pendapatan yang kecil karena lahan yang dimiliki kecil.
Pendapatan yang kecil tersebut haruslah disiasati sehingga pendapatan yag didapatkan tersebut merupakan pendapatan yang maksimal. Cara yang dilakukan petani gurem dalam memaksimalkan pendapatan adalah dengan memanfaatkan lahan sempit yang dimiliki secara efektif untuk menghasilkan produk pertanian. Pemanfaatan lahan pertanian sempit tersebut dapat dilakukan dengan berbagai cara seperti diversifikasi tanaman, pengelolaan tanah, dan sebagainya. Cara petani gurem memaksimalkan pendapatan tersebut perlu banyak diterapkan di Indonesia mengingat masih banyak kehidupan petani di Indonesia yang masih dibawah garis kemiskinan padahal mereka seharusnya bisa mengelola lahan yang dimiliki dan menghasilkan pendapatan yang cukup tinggi pula.
2
B. Rumusan Masalah
Adapun Rumusan masalah dalam makalah ini adalah :
1. Bagaimana kombinasi penggunaan input dalam produksi sayuran untuk mengoptimalkan pendapatan?
2. Bagaimana cara peningkatan pendapatan petani?
3. Bagiamana cara mengetahui pendapatan aktual dan pendapatan hasil optimasi usahatani sayuran sistem diversifikasi dengan kendala sumberdaya petani berupa kepemilikan lahan, luasan lahan minimum, tenaga kerja, dan modal?
4. Bagaimana risiko dan optimasi lahan untuk memaksimalkan pendapatan?
5. Bagaimana optimalisasi pola tanam untuk memaksimalkan pendapatan?
6. Bagaimana strategi yang dilakukan petani kecil untuk menambah pendapatan keluarga dan mengoptimalakan sumber daya yang dimiliki?
C. Tujuan
Adapun tujuan dari makalah ini adalah :
1. Mengetahui kombinasi penggunaan input dalam produksi sayuran untuk mengoptimalkan pendapatan
2. Mengetahui cara peningkatan pendapatan petani.
3. Mengetahui pendapatan aktual dan pendapatan hasil optimasi usahatani sayuran sistem diversifikasi dengan kendala sumberdaya petani berupa kepemilikan lahan, luasan lahan minimum, tenaga kerja, dan modal.
4. Mengetahui risiko dan optimasi lahan untuk memaksimalkan pendapatan 5. Mengetahui optimalisasi pola tanam untuk memaksimalkan pendapatan 6. Mengetahui strategi yang dilakukan petani kecil untuk menambah
pendapatan keluarga dan mengoptimalakan sumber daya yang dimiliki.
3
II. PEMBAHASAN
A. Kombinasi Input dalam Produksi Sayuran untuk Mengoptimalkan Pendapatan
Kombinasi input merupakan salah satu hal penting yang dilakukan oleh para petani gurem mereka memperhatikan benar bagaimana pengaruh faktor produksi yang digunakan. Penggunaan input ini mendasari berapa biaya yang akan mereka keluarkan untuk usahatani ini. Biaya yang mereka keluarkan tentu saja akan mempengaruhi pendapatan yang akan diterima ketika penerimaan dikurangkan dengan biaya-biaya input dan biaya lainnya yang masih berhubungan dengan usahatani.
Penggunaan faktor produksi yang tepat dan seimbang dilakukan oleh para petani gurem guna memaksimalkan pendapatan yang akan diperolehnya.
Cara yang dilakukan antara lain pengguaan faktor produksi yang tepat, faktor produksi disini misalkan ketika petani hendak mengelola lahan atau tanah dilihat dari kemungkinan besar bahwa lahan petani tersebut kecil sehingga ketika masih bisa dicangkul mereka akan mencangkul lahan tersebut sehingga tidak harus menyewa traktor atau orang lain untuk dipekerjakan. Kegiatan mencangkul ini biasanya tidak hanya satu hari dilakuakn sendiri tetapi kadang berhari-hari sehingga sedikit demi sedikit dapat dicangkul semua tanah dan dapat meminimalkan biaya input. Pengairan yang dilakukan pun terkadang menggunakan air sungai dan ketika kemarau tiba menggunakan pompa air hal ini menjadi cara yang tepat untuk penggunaan air. Penggunaan input ini tentu saja sudah biasa dilakukan oleh petani sehingga petani hafal berapa saja benih yang harus dibeli, berapa dan apa saja pupuk ataupun pestisida yang digunakan. Dengan kebiasaan ini maka petani cenderung membeli input hanya terpatok pada input yang sebelumnya dibeli sehingga input yang dibeli seperti pupuk, benih, pestisida maupun penggunaan saprodi juga dibeli sesuai dengan apa yang mereka butuhkan. dengan kata lain meminimalkan biaya pula untuk mendapatkan pendapatan yang maksimal.
4
Penggunaan input berupa benih atau bibit, pupuk kendang, pupuk urea, pupuk NPK, pestisida dan tenaga kerja sangat berpengaruh terhadap produksi sayur-sayuran. Penggunaan benih atau bibit sayuran ini sangat memperbesar peluang untuk memperoleh produktivitas sayuran yang tinggi. Benih atau bibit yang bermutu menjanjikan produksi yang baik dan bermuru pula jika diikuti dengan perlakuan agronomi yang baik dan input teknologi yang berimbang, sebaliknya bila benih atau bibit yang digunakan tidak berkualitas baik maka produksinya tidak banyak menjanjikan atau tidaklebih baik dari penggunaan bibit atau benih yang bermutu. Penggunaan bibit atau benih yang berkualitas diharapkan mampu mengurangi berbagai faktor resiko kegagalan panen.
Penggunaan pupuk kadang yang sering digunakan petani gurem juga berpengaruh terhadap produksi sayuran, menurut hasil penelitian (Nainggolan et al., 2017) mengatakan bahwa pemberian pupuk kandang pada tanaman sawi sebesar 1 persen akan meningkatkan produksi sawi sebesar 0,298 persen. Pemupukan menggunakan pupuk kandang (kotoran ayam, kotoran sapi, dan kotoran kambing) sangat baik untuk pertumbuhan sawi dengan kualitas yang baik dan dapat meningkatkan produksi sawi. Pupuk kandang yang digunakan ini berasal dari kotoran hewan ternak dimana penggunaannya dapat menekan biaya input karena pupuk kandang biasa didapatkan gratis oleh para petani.
B. Peningkatan Pendapatan Petani
Pengkajian untuk pembahasan dalam subbab ini mengkaji terkait artikel
“Peningkatan Pendapatan Petani Pada Usahatani Sayuran Dengan Penyisipan Tanaman Sayuran Berumur Pendek Di Model Pertanian Bioindustri Kabupaten Tabanan”. Hasil analisis deskriptif yang dilakukan terhadap usahatani monokultur dan tumpang sisip sawi hijau pada tanaman utama menunjukkan bahwa komponen hasil pertanaman ganda mengalami penurunan dibandingkan pertanaman monokultur. Pada pertanaman tumpang sisip berat ekonomis/tanaman brokoli mengalami penurunan sebesar 2,25%, kol bunga 1,84% dan tagetes 3,00% dibandingkan dengan pertanaman
monokultur. Sedangkan sawi hijau yang ditanam secara tumpang sisip tidak mengalami penurunan berat ekonomis dengan rata-rata berat ekonomis/tanaman 32,00 g – 33,00 g/tanaman.
Penurunan hasil pada pertanaman tumpang sisip terhadap tanaman utama disebabkan oleh adanya kompetisi tanaman akibat adanya tambahan tanaman baru. Kompetisi ini meliputi kompetisi cahaya, air dan juga hara.
Akan tetapi melihat hasil tumpangsari dan monokultur komoditas utama, penurunan hasil sangat rendah yaitu kurang dari 5,0%.
Pada kajian ini tidak terlihat adanya penurunan pertumbuhan dan hasil tanaman pada sistem tanam tumpang sisip dibandingkan dengan monokutur.
Hal ini menunjukkan kompetisi tanaman pada sistem tumpang sisip dalam memperebutkan faktor-faktor tumbuh seperti cahaya, air dan hara akibat adanya tambahan tanaman baru (sisipan) tidak berpengaruh terhadap tanaman utama. Hal ini juga disebabkan karena tanaman sisipan (sawi hijau) memiliki umur yang pendek yaitu hanya 20 hst, sehingga tidak menimbulkan kompetisi yang merugikan tanaman utama.
Efisiensi teknis suatu usahatani yang dilakukan ditunjukkan dengan adanya pengeluaran minimum dengan output yang sama. Analisis yang dilakukan terhadap sistem tanam pada kajian ini menunjukkan hal tersebut belum bisa tercapai karena peningkatan penerimaan pada sistem tanam tumpang sisip masih diikuti oleh peningkatan pengeluaran input usahatani.
Akan tetapi dengan adanya tambahan tanaman baru (sisipan) terjadi peningkatan penerimaan dan keuntungan petani akibat adanya efisiensi input seperti pengolahan lahan, penyiangan, pengendalian OPT dan yang lainnya karena dapat dilakukan bersamaan.
Sistem tanam tumpang sisip sawi hijau pada tanaman utama brokoli, kol bunga dan tagetes memberikan peningkatan keuntungan dibandingkan pertanaman monokultur. Hasil analisis per 1.000 m2 diperoleh peningkatan keuntungan pada sistem tumpang sisip brokoli dengan sawi hijau sebesar Rp 847.000,-, kol bunga Rp 888.750,- dan tagetes Rp 735.000,- dalam waktu 20 hari.
6
C. Pendapatan aktual dan pendapatan hasil optimasi usahatani sayuran sistem diversifikasi dengan kendala sumberdaya petani berupa kepemilikan lahan, luasan lahan minimum, tenaga kerja, dan modal
Perlu adanya suatu usaha agar produksi pertanian tetap terjaga dengan cara mengoptimalkan sumberdaya yang ada. Salah satu cara yang bisa dilakukan dalam pembangunan pertanian yaitu dikenal usahatani dengan sistem diversifikasi. Usahatani divesifikasi adalah suatu usaha penganekaragaman jenis usaha atau tanaman pertanian untuk menghindari ketergantungan pada salah satu hasil pertanian. Oleh karena itu, perlu adanya suatu model perencanaan agar usahatani dengan sistem diversifikasi tersebut dapat mencapai produksi yang optimal dengan tujuan mendapat pendapatan yang maksimum bagi petani.
1. Modal dan Pendapatan Usahatani
Modal dalam hal ini merupakan jumlah uang yang dikeluarkan pada setiap musim tanam baik secara tunai maupun tidak. Modal sangatlah penting dalam menjalankan usahatani sayuran dengan sistem diversifikasi, karena memerlukan suatu pengelolaan yang baik agar semua komoditas yang diusahakan bisa berjalan dengan baik. Adapun modal yang dimiliki oleh petani pada setiap musim tanam tersaji pada Tabel 1.
Tabel 1
Modal Yang Dimiliki Petani Usahatani Sayuran setiap Musim Tanam
Musim tanam Modal (Rp)
Musim kemarau 15.587.913
Musim hujan 13.189.393
Rata-rata 14.388.653
Sumber : Data Primer Diolah 2017
Biaya yang diperhitungkan dalam penelitian ini yaitu biaya secara keseluruhan baik biaya tetap maupun biaya variabel. Total biaya untuk seluruh komoditas yang diusahakan dihitung perluasan yang dikelola petani yaitu sebesar 0,49 hektar. Tabel 2 menunjukkan besarnya total pengeluaran, penerimaan, dan pendapatan usahatani.
Tabel 2. Jumlah Pengeluaran, Penerimaan Dan Pendapatan Usahatani Sayuran
MUSIM KEMARAU No Komoditas Biaya
Tetap (Rp)
Biaya Variabel
(Rp)
Total Biaya dengan TKDK (Rp)
Total Biaya tanpa TKDK
(Rp)
Pendapatan Dengan
TKDK (Rp)
Pendapatan Tanpa TKDK (Rp) Penerimaan
(Rp)
1 K. Panjang 560.817 3.822.500 4.245.817 3.745.817 5.000.000 754.183 1.254.183 2 Tomat 526.067 3.475.000 4.001.067 3.501.067 4.500.000 498.933 998.933 3 Mentimun 421.730 3.628.000 4.049.730 3.549.730 5.000.000 950.270 1.450.270 4 Terung 735.300 2.556.000 3.291.300 2.791.300 4.000.000 708.700 1.208.700 Total (Rp) 2.243.913 13.481.500 15.587.913 13.587.913 18.500.000 2.912.087 4.912.087
MUSIM HUJAN No Komoditas Biaya
Tetap (Rp)
Biaya Variabel
(Rp)
Total Biaya dengan TKDK (Rp)
Total Biaya tanpa TKDK
(Rp)
Pendapatan Dengan
TKDK (Rp)
Pendapatan Tanpa TKDK (Rp) Penerimaan
(Rp)
1 K. Panjang 509.417 3.308.500 3.680.417 3.580.417 4.375.000 694.583 794.583 2 Tomat 478.667 3.001.000 3.479.667 3.379.667 4.500.000 1.020.333 1.120.333 3 Mentimun 372.610 3.014.000 3.386.610 3.286.610 4.375.000 988.390 1.088.390 4 Terung 650.700 1.992.000 2.642.700 2.542.700 3.150.000 507.300 607.300 Total (Rp) 2.011.393 11.315.500 13.189.393 12.789.393 16.400.000 3.210.607 3.610.607 Total/Tahun
(Rp) 4.255.307 24.797.000 28.777.307 26.377.307 34.900.000 6.122.693 8.522.693 Sumber : Data Primer Diolah Dari Lampiran 6 Keterangan : TKDK = Tenaga Kerja Dalam Keluarga
Tabel 2 juga menunjukkan besarnya pendapatan usahatani pada setiap musim tanam. Jika tenaga kerja keluarga diperhitungkan maka pendapatan usahatani pada musim kemarau yaitu sebesar Rp 2.912.087 dan pada musim hujan yaitu sebesar Rp 3.210.607 sehingga total pendapatan usahatani dalam kurun waktu satu tahun yaitu sebesar Rp 6.122.693 dengan asumsi tanaman yang diusahakan hanya satu kali musim tanam. Namun jika besarnya tenaga kerja dalam keluarga tidak diperhitungkan maka pendapatan usahatani pada musim kemarau yaitu sebesar Rp 4.912.087 dan pada musim hujan yaitu sebesar Rp 3.610.607 sehingga total pendapatan usahatani
2. Optimasi Sumberdaya Petani Sayuran Dengan Sistem Diversifikasi Hasil analisis dengan menggunakan metode program linier untuk optimasi sumberdaya petani sayuran dengan sistem diversifikasi secara optimal jika penggunaan benih dan pupuk sesuai dengan anjuran maka diperoleh hasil seperti tersaji pada Tabel 3.
8
Tabel 3.
Luas Lahan Optimal Usahatani Sayuran Dengan Sistem Diversifikasi
Penggunaan Lahan
No Komoditas Musim Kemarau
(Hektar)
Musim Hujan (Hektar)
1. Kacang panjang 0 0,49
2. Tomat 0 0
3. Mentimun 0,49 0
4. Terung 0 0
Total 0,49 0,49
Sisa 0,08 0,08
Pendapatan Maksimum (Rp) 6.807.570
Sumber : Diolah Tahun 2017
Dari delapan aktivitas produksi yang dimasukkan ke dalam program linier ternyata hanya dua aktivitas saja yang harus dipertimbangkan dalam optimasi sumberdaya petani secara optimal.
Tabel 3 menunjukkan bahwa usahatani sayuran dengan sistem diversifikasi yang dilakukan agar bisa mencapai kondisi yang optimal dengan pendapatan maksimum maka usahatani sayuran yang harus diusahakan yaitu pada musim kemarau 0,49 hektar ditanami mentimun, sedangkan pada musim hujan 0,49 hektar ditanami kacang panjang dengan pendapatan maksimum dalam kurun satu tahun yaitu Rp 6.807.570.
a. Analisis Kepekaan
Hasil analisis optimasi terhadap ketersedian sumberdaya petani atau nilai sebelah kanan dari kendala tentunya sewaktu-waktu dapat berubah. Sumberdaya petani yang dimiliki mencerminkan jumlah minimum yang harus dipenuhi agar kondisi optimal yang telah dicapai dapat dipertahankan yaitu sebesar jumlah yang tersisa atau sama dengan nilai surplusnya. Tabel 4 menunjukan kisaran perubahan dari nilai sebelah kanan yang menjadi kendala atau pembatas dalam optimasi sumberdaya petani secara optimal untuk usahatani sayuran.
Tabel 4.
Kisaran Perubahan Koefisien Sebelah Kanan Dalam Kondisi Optimal Usahatani Sayuran Sistem Diversifikasi
No Kendala R.H.S
Slack Or Surplus
Shadow Price
Batas Bawah
Batas Atas
1 Lahan maksimum MK 0,57 0,08 0 0,49 M
2 Lahan maksimum MH 0,57 0,08 0 0,49 M
3 Lahan minimum MK 0,49 0 -9.577,55 0,4457 0,5602
4 Lahan minimum MH 0,49 0 -5.182,52 0 0,5212
5 Tenaga Kerja MK 280,8 0 25 -M 308,7
6 Tenaga Kerja MH 280,8 0 25 222,95 M
7 Modal MK (Rp .000) 15.587,91 1.952,410 0 13.635,50 M 8 Modal MH (Rp .000) 13.189,39 788,706 0 12.400,68 M Sumber : Diolah Tahun 2017
Pada Tabel 4 dapat terlihat bahwa sumberdaya petani berupa jumlah kepemilikan lahan yang dapat digunakan untuk usahatani sayuran pada musim kemarau dan musim hujan merupakan kendala yang sangat mengikat dan penambahan luas lahan sebagai batas maksimum akan merubah nilai optimum. Luas kepemilikan lahan yang dapat diusahakan yaitu setidaknya minimal 85 persen harus diusahakan dan harus kurang dari atau sama dengan 0,57 hektar.
Pada musim kemarau dan musim hujan untuk pembatas lahan maksimum ternyata memiliki surplus 0,08. Penggunaan tenaga kerja keluarga juga menjadi pembatas yang sangat penting, hal ini terkait ketersedian tenaga keluarga yang dimilki petani itu sendiri yaitu yang terdiri dari dua orang tenaga kerja keluarga. Tenaga kerja keluarga yang dapat digunakan dalam usahatani sayuran ini yaitu sebanyak 280,8 HKP pada setiap musimnya. Pada setiap musim kendala tenaga kerja keluarga ini tidak terlalu peka terhadap kondisi optimal, karena kekurangan tenaga kerja keluarga ini dapat dipenuhi dengan menyewa tenaga kerja dari luar keluarga terutama pada musim kemarau. Hal itu juga terbukti dari kisaran batas atas dan batas bawahnya yang sempit. Pada musim kemarau petani harus menyewa tenaga kerja dari luar, sedangkan pada musim hujan tenaga kerja keluarga masih bisa memenuhi untuk digunakan pada
10
usahataninya bahkan musim hujan petani dapat menjual tenaga kerja.
Selain dari aktifitas produksi, modal juga menjadi hal yang begitu penting dalam usahatani sayuran yang diusahakan. Apabila melihat Tabel 4 di atas penggunaan modal baik musim kemarau maupun musim hujan ternyata modal yang digunakan masih memilki surplus terutama musim kemarau petani memilki surplus sebesar Rp 1.952.410 sedangkan musim hujan hanya sebesar Rp 788.706. Penggunaan modal masih bisa ditingkatkan penggunaanya. Sebenarnya meskipun petani kekurangan modal namun dapat dipenuhi dengan meminjam kepada lembaga perkreditan yang ada
3. Perbedaan Pendapatan Usahatani Sayuran Pada Kondisi Aktual Dan Optimal
Menurut hasil analisis yang telah dilakukan ternyata terdapat perbedaan pendapatan pada kondisi aktual yang dijalankan petani dengan kondisi optimal yang telah diperoleh. Pendapatan usahatani sayuran yang dijalankan petani secara aktual dalam kurun satu tahun adalah Rp 6.122.693, sedangkan pendapatan usahatani sayuran yang optimal yaitu sebesar Rp 6.807.570. Untuk lebih jelasnya mengenai perbedaan pendapatan antara kondisi aktual dan optimal bisa dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5.
Pendapatan Usahatani Sayuran pada Kondisi Aktual dan Optimal.
No Uraian Pendapatan/tahun (Rp)
1 2 3 4
Sekarang (Aktual) Optimal
Selisih
Persentase peningkatan (%)
6.122.693 6.807.570 684.877 11,19%
Sumber : Data Diolah Tahun 2017
Tabel 5 diatas menunjukkan bahwa perbedaan pendapatan antara kondisi aktual dan kondisi optimal ternyata memilki selisih yang kecil yaitu Rp 684.877 atau sekitar 11,19 persen dari
pendapatan aktual. Hal ini menunjukan bahwa usahatani sayuran yang dilakukan oleh petani hampir mendekati kondisi optimal karena selisih atau perbedaannya bisa dikatakan sangat kecil. Kemudian jika melihat kondisi optimal dari komoditas yang diusahakan ternyata pendapatan maksimum tersebut bisa didapat hanya dengan mengusahakan satu komoditas pada musim kemarau dan satu komoditas pada musim hujan sehingga petani tidak sulit dalam pengelolaannya, dibandingkan dengan aktualnya petani yang harus mengusahakan semuanya untuk mendapatkan pendapatan aktualnya yang masih dibawah pendapatan pada kondisi optimal
D. Risiko Dan Optimasi Lahan Untuk Memaksimalkan Pendapatan
Dari artikel “Optimalisasi Lahan Sawah Melalui Diversifikasi Dengan Tanaman Hortikultura Sebagai Upaya Peningkatan Pendapatan Petani Gurem”, diketahui bahwa tanaman hortikultura adalah yang paling menguntungkan. Tanaman hortikultura yang cukup populer adalah mentimun, paprika merah, kacang panjang, kembang kol, tomat, mustard hijau, seledri, bawang merah, dan air melon. Dari hasil analisis menunjukkan bahwa pola beras-beras-mentimun dalam strata pertama Subang, mentimun padi-peanut- di strata kedua Sumedang, dan beras-bawang merah-merah lada di strata ketiga Garut. Pada strata tersebut, kepemilikan tanah berada di kisaran 0,28- 0,49, 0,04-0,14 dan 0,09-0,30 hektar, dan pendapatan petani masing-masing sebesar Rp. 6.156.265, Rp. 5.676.356 dan Rp 4.073.193.
Kondisi kemakmuran petani di Jawa Barat, mengalami adanya permasalahan antara lain yaitu : (1) pemilikan lahan sempit, rata-rata 0,124 ha/RTP dengan petani gurem dan buruh tani, (2) standar kompetensi petani rendah akibat regenerasi tidak berlangsung baik, (3) nilai tambah usahatani rendah karena rendahnya penerapan teknologi, modal dan manajemen, sehingga efisiensi juga rendah, (4) optimalisasi lahan masih rendah, dan (5) produktifitas angkatan kerja pertanian rendah akibat daya serap lapangan kerja terbatas pada on-farms.
12
Kondisi dan permasalahan yang ada membuat banyaknya petani gurem yang ada di provinsi Jawa Barat. Peranan kelompok tani ini sangat penting yaitu (1) menyediakan kebutuhan bahan pangan yang diperlukan masyarakat, (2) menyediakan bahan baku industri, (3) sebagai pasar potensial bagi produk-produk yang dihasilkan oleh industri, (4) sumber tenaga kerja dan pembentukan modal bagi pembangunan sektor lain, (5) mengurangi kemiskinan dan peningkatan ketahanan pangan.
Masalah tersebut bertambah buruk dengan struktur penguasaan lahan yang timpang karena sebagian besar petani gurem tidak secara formal menguasai lahan sebagai hak milik, dan kalaupun mereka memiliki tanah, perlindungan terhadap hak mereka atas tanah tersebut tidak cukup kuat karena tanah tersebut seringkali tidak bersertifikat. Kehidupan rumah tangga petani sangat dipengaruhi oleh aksesnya terhadap tanah dan kemampuan mobilisasi anggota keluargannya untuk bekerja di atas tanah pertanian. Oleh karena itu meningkatnya petani gurem mencerminkan meningkatkan kemiskinan dipedesaan.
Petani gurem menjalankan usahataninya secara subsisten dengan memanfaatkan aset produksi dalam kuantitas yang minim dan teknologi sederhana yang jauh dari memadai untuk suatu usaha yang layak bagi pemenuhan perdapatan rumah tangga. Tingkat pendapatan rumah tangga petani gurem ditentukan oleh luas tanah pertanian yang secara nyata dikuasai.
Terbatasnya akses terhadap tanah merupakan salah satu faktor penyebab kemiskinan dalam kaitan terbatasnya aset dan sumberdaya produktif yang dapat diakses masyarakat petani gurem.
Dalam upaya meningkatkan pendapatan, petani gurem mendiversifikasikan usahataninya dengan berbagai pola dan jenis komoditas.
Namun dalam perkembangannya, mereka menghadapi berbagai tantangan dan risiko seperti: (1) kegagalan panen, (2) serangan hama dan penyakit tanaman, (3) kelangkaan air dan (4) rendahnya harga produksi. Akibatnya, produksi per hektar tidak sama dengan imbal hasil per hektar yang diterima, sehingga petani gurem tidak memperoleh nilai nominal yang layak dari
usahataninya. Akhirnya mereka terjebak dalam kemiskinan dan hidup secara subsisten serta bertahan hidup melalui modal sosial yang dimiliki, tanpa cushion yang cukup untuk memberi fleksibelitas jika terdapat shocks negatif dalam usahataninya.
Penelitian ini dilaksanakan di Jawa Barat pada agroekosistem sawah yang telah terdiversifikasi, selanjutnya dibagi ke dalam beberapa strata sebagai berikut: 1) Strata I yaitu : Kabupaten Subang, mewakili Jawa Barat bagian Utara; 2) Strata II yaitu : Kabupaten Sumedang, mewakili Jawa Barat bagian Tengah; 3) Strata III yaitu : Kabupaten Garut, mewakili Jawa Barat bagian Selatan. Penelitian ini dengan menggunakan metode survey eksplanatori (explanatory survey methode) untuk mendapatkan informasi faktual dari objek yang dikaji melalui pendekatan wawancara mendalam secara langsung terhadap 120 responden.
Berdasarkan hasil analisis di Kabupaten Subang menunjukkan bahwa pola padi-padi-mentimun, memberikan keuntungan yang maksimum bagi petani yaitu sebesar Rp. 6.156.265. Sedangkan di Kabupaten Sumedang pola tanam padi-kacangtanah-metimun adalah pola yang memberikan keuntungan paling besar (Rp. 5.676.356), sementara di Kabupaten Garut, keuntungan maksimum dicapai pada pola tanam padi-bawang merah-kol yaitu sebesar (Rp 4.408.351). Optimalnya penggunaan lahan untuk komoditas-komoditas tersebut pada masing-masing strata didukung juga oleh beberapa faktor, antara lain yang terpenting adalah kondisi spesifik lokasi. Apabila kondisi spesifik lokasi tidak kondusif untuk suatu komoditas, maka keuntungan maksimum tidak akan tercapai. Faktor pendukung lain dapat berupa motivasi dan sikap petani, harga, modal dan penguasaan teknologi. Semua faktor tersebut menyebabkan terjadinya variasi pendapatan yang diterima petani.
Di Kabupaten Subang, pendapatan tertinggi dicapai pada pola tanam 4, yaitu padi-padi-kacang kedelai, dengan rata-rata luas lahan 0,32 ha. Dua pola diversifikasi usaha tani pertama dari pola padi-padi-mentimun dengan rata- rata sebesar Rp. 2.27.894456,71. Kedua cabai-padi-kacang tanah dengan pendapatan rata-rata Rp. 13298361dan luas lahan rata-rata adalah 0.11 ha.
14
Pendapatan tertinggi pada pola diversifikasi 1 di Kab. Sumedang, dicapai pada pola tanam: padi-padi- kacang hijau, pada pola kedua pendapatan tertinggi dicapai pada pola padi-kacang tanh-mentimun dengan pendapatan rata-rata Rp 31399306, dan luas lahan rata-rata 0,09 dan untuk pola padi palawija-palawija dengan rata-rata luas lahan 0,07 dengan rata-rata pendapatan Rp.14143929. Pendapatan tertinggi pada pola diversifikasi 1 di Kab. Garut ini adala pada pola tanam padi-padi kacang ketan dengan rata-rata luas lahan 0,17 ha dari pola pola tanam padi-padi-mentimun dengan pendapatan sebesar Rp 23860714 dan luas lahan rata-rata 0.07 ha, pola padi- terong-kol dengan rata-rata pendapatan Rp. 91686667, pendapatan tertinggi diperoleh pada pola tanam pertama yaitu padi-kacang tanah-seledri dengan rata-rata pendapatan 96989905 dan luas lahan rata-rata adalah 0,21 ha. Ini berarti bahwa pada pola tanam padi-kacang tanah-seledri. Artinya petani telah mengoptimalkan penggunaan lahannya.
E. Optimalisasi Pola Tanam Untuk Memaksimalkan Pendapatan
1. Optimasi Pola Tanam Sayuran Penentuan Fungsi Tujuan Model Optimalisasi
Fungsi tujuan dalam penelitian ini adalah memaksimalkan pendapatan bersih petani sayuran dengan kombinasi jenis tanaman dan alokasi sumberdaya yang optimal. Pendapatan usahatani
diperoleh dengan mengurangi biaya total dari seluruh penerimaan. Secara matematis model Linear Programming seperti terlihat pada persamaan 1.
Dimana : Z = pendapatan
Qij = pendapatan setiap jenis tanaman/budidaya j yang dihasillkan pada MT ke i (Rp/kg)
Lij = luas lahan yang digunakan petani untuk jenis tanaman/budidaya j pada MT ke i
i = musim tanam (MT) i = 1 dan 3 j = jenis komoditas/budidaya sayuran
2. Perumusan Fungsi Kendala Optimalisasi Pola Tanam
Jenis kendala dalam penelitian ini yang ditetapkan untuk fungsi tujuan diatas terdiri dari kendala lahan, kendala pembelian pupuk, kendala tenaga kerja, dan kendala modal sendiri.
a. Kendala Penggunaan Lahan
Luasan lahan yang digunakan dalam analisis optimasi adalah dalam satuan hektar, ketersediaan lahan yang digunakan untuk kegiatan usahatani.
b. Penggunaan Tenaga Kerja
Kendala tenaga kerja keluarga adalah ketersediaan tenaga kerja keluarga yang digunakan dalam kegiatan produksi sayuran dalam setahun. Tenaga kerja dibedakan berdasarkan jenis kelamin dan musim tanam. Pembedaan menurut jenis kelamin terdiri dari tenaga kerja pria dan tenaga kerja wanita. Sedangkan pembedaan menurut musim tanam adalah MT I dan MT III. Besarnya ketersediaan tenaga kerja dihitung berdasarkan konsep angkatan kerja yang tersedia pada rumah tangga petani dengan asumsi bahwa jumlah hari kerja efektif.
c. Penggunaan Pupuk
Pupuk yang digunakan diasumsikan berasal dari pembelian, meskipun ada sebagian pupuk kandang yang berasal dari ternak milik petani sendiri. Kendala pupuk masing-masing jenis pola budidaya dibatasi oleh rata-rata ketersediaan masing-masing jenis pupuk oleh petani selama satu musim tanam. Nilai koefisien yang digunakan pada kendala pupuk ini merupakan rata-rata penggunaan setiap jenis pupuk dalam masingmasing pola budidaya.
d. Penggunaan Modal Sendiri
Modal sendiri yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengeluaran sayuran. Asumsinya adalah bahwa tingkat pengeluaran usahatani sayuran petani sama setiap tahunnya.
16
3. Pola Tanam Optimal
Analisis optimasi dengan menggunakan Linear Programming terdiri dari analisis primal, analisis dual dan analisis sensitivitas. Analisis Primal, dilakukan untuk mengetahui kombinasi pola tanam yang paling optimal dalam kegiatan usahatani dengan sumberdaya yang tersedia. Analisi Dual, dilakukan untuk menilai sumberdaya yang digunakan oleh petani dengan melihat nilai slack/surplus dan nilai dualnya (dual price). Sedangkan Analisis Sensitivitas (kepekaan) dilakukan setelah kombinasi jenis tanaman dan alokasi sumberdaya optimal tercapai. Analisis ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana perubahan (naik atau turun) pendapatan yang diperbolehkan dari aktivitas budidaya sayuran.
a. Analisis Primal
Analisis data menunjukkan pola tanam sayuran optimal yang disarankan kepada petani untuk diusahakan. Pola tanam optimal dapat dilihat dari nilai reduced cost pada pola tanam tersebut bernilai nol.
Jenis sayuran yang terpilih dalam skema optimal adalah sayuran yang dapat memberikan pendapatan maksimum dengan keterbatasan sumberdaya yang ada. Pola tanam yang memiliki nilai reduced cost yang tidak sama dengan nol tidak disarankan untuk diterapkan oleh petani. Jika pola tanam tersebut diterapkan, maka pendapatan usahatani akan berkurang sebesar nilai reduced cost pada masingmasing pola tanam.
b. Analisis Dual
Analisis dual memperlihatkan penggunaan sumberdaya yang optimal dalam kegiatan produksi usahatani. Penilaian terhadap langka atau tidaknya suatu sumberdaya yang menjadi kendala dapat dilihat dari nilai slack atau surplus. Sumberdaya langka ditunjukan oleh slack atau surplus bernilai nol, artinya sumberdaya tersebut habis terpakai dalam kegiatan usahatani atau sebagai sumberdaya pembatas. Kendala pembatas ini merupakan kendala aktif, artinya apabila penggunaannya
ditambah sebesar satu satuan maka pendapatan usahatani akan meningkat sebesar dual price
c. Analisis Sensitivitas
Analisis sensitivitas atau kepekaan dilakukan untuk melihat pengaruh dari perubahan pendapatan dalam kegiatan produksi sayuran serta adanya kemungkinan perubahan ketersediaan sumberdaya yang menjamin tidak adanya perubahan pada keadaan optimum. Hasil olahan optimal memberikan dua analisis sensitivitas, yaitu analisis sensitivitas koefisien fungsi tujuan dan analisis sensitivitas ruas kanan kendala. Masing-masing analisis ini memberikan kepekaan bagi solusi optimal yang ditunjukan oleh selang yang dibatasi nilai maksimum (allowable increase) dan nilai minimum (allowable decrease). Solusi optimal tidak akan berubah selama perubahan pada fungsi tujuan berada pada selang kepekaan. Hasil analisis sensitivitas dibagi menjadi dua, yaitu analisis sensitivitas untuk jenis kegiatan dan analisis sensitivitas untuk kendala.
F. Strategi Yang Dilakukan Petani Kecil Untuk Menambah Pendapatan Keluarga Dan Mengoptimalakan Sumber Daya Yang Dimiliki
Strategi bertahan hidup adalah suatu tindakan yang dilakukan oleh setiap orang untuk dapat mempertahankan hidupnya melalui pekerjaan apapun yang dilakukannya. Strategi bertahan pada hakikatnya adalah suatu proses untuk memenuhi syarat dasar agar dapat melangsungkan hidupnya.
Pembahasan dalam artikel yang dikaji adalah terkait tentang strategi bertahan hidup gurem gurem di desa Tukul, Kecamatan Tering, Kabupatern Kutai Barat. Desa Tukul merupakan salah satu Desa di Kalimantan Timur yang terletak di Kecamatan Tering Kabupaten Kutai Barat. Sebagian besar petani di Desa Tukul merupakan petani gurem dan tergolong miskin yang membuat petani gurem tidak bisa memenuhi semua kebutuhan keluarganya, sehingga keluarga petani gurem harus menerapkan strategi bertahan hidup agar tetap bisa hidup ditengah keterbatasan yang dimiliki. Strategi bertahan hidup dapat digolongkan menjadi 3 kategori yaitu strategi aktif, strategi pasif dan strategi
18
jaringan. Berikut akan dijelaskan secara lebih rinci strategi-strategi bertahan hidup yang dilakukan di desa Tukul :
a. Strategi Aktif
Strategi aktif adalah strategi bertahan hidup yang dilakukan seseorang atau keluarga dengan cara memaksimalkan segala sumber daya dan potensi yang dimiliki keluarga mereka. Strategi tersebut salah satunya bahwa sebagian besar petani kecil melakukan pekerjaan sampingan dengan menjadi pekerja kasar yaitu menjadi buruh tani dan penggadu ternak orang lain. Sebagian petani kecil lebih memilih melakukan pekerjaan sampingan di luar sektor pertanian yaitu bekerja sebagai buruh tani.
Strategi lain yang diterapkan adalah sebagian besar istri petani gurem ikut bekerja untuk membantu mencukupi kebutuhan keluargadengan menjadi buruh tani. Ketika musim padi para isteri petani biasanya menjadi buruh tanam padi. Namun buruh tani juga membutuhkan tenaga yang cukup besar sehingga tidak semua isteri petani melakukan pekerjaan menjadi buruh tani. Selain istri yang ikut bekerja ada juga anak petani gurem yang juga ikut bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarganya b. Strategi Pasif
Strategi pasif adalah strategi bertahan hidup yang dilakukan dengan cara selektif, tidak boros dalam mengatur pengeluaran keluarga. Salah satu sikap hemat petani gurem untuk mengurangi pengeluaran kebutuhan pangan keluarga adalah menyimpan hasil panen padi kedua. Sikap hemat yang dilakukan petani lahan kecil adalah membiasakan seluruh keluarga untuk makan seadanya karena pendapatan petani gurem yang tergolong rendah dan tak menentu membuat mereka tidak bisa menyediakan makanan yang beragam sehingga mereka membiasakan diri untuk makan dengan lauk seadanya.
Salah satu sikap hemat petani gurem untuk mengurangi pengeluaran kebutuhan pangan keluarga adalah menyimpan hasil panen padi kedua.
Selain untuk cadangan makanan, padi petani gurem yang disimpan juga berfungsi sebagai tabungan dan bantuan sosial. Ketika membutuhkan uang
maka petani akan menggiling padinya menjadi beras untuk dijual ke toko dan saat ada salah satu warga yang mengalami musibah atau mengadakan hajatan biasanya isteri petani gurem tidak menyumbang uang tetapi menyumbang beras dari simpanan hasil panen padi kedua. Petani gurem di Desa Tukul juga memiliki strategi tersendiri untuk memenuhi kebutuhan kesehatan ketika sedang sakit. Mayoritas petani gurem di Desa Tukul memilih berobat ke puskesmas ketika sedang sakit. Hal ini karena biaya berobat di puskesmas terjangkau bagi mereka serta adanya layanan kesehatan gratis bagi masyarakat miskin. Adapula petani gurem yang memilih berobat ke dukun pijat daripada ke puskesmas merupakan petani gurem yang berusia diatas 50 tahun, mereka melakukan hal tersebut karena sudah menjadi kebiasaan mereka sejak dulu. Jarak puskesmas yang berada di luar Desa Tukul membuat petani gurem yang tidak memiliki kendaraan lebih memilih berobat ke dukun pijat atau membeli obat di warung.
c. Strategi Jaringan
Strategi jaringan adalah strategi bertahan hidup yang dilakukan dengan cara meminta bantuan kepada kerabat, tetangga dan relasi lainnya baik secara formal maupun informal ketika dalam kesulitan, seperti meminjam uang ketika memerlukan uang secara mendadak. Meminjam uang merupakan langkah petani kecil untuk mendapatkan uang secara cepat, bagi petani kecil yang memiliki tabungan berupa perhiasan emas mereka biasanya akan mengadaikan perhiasan tersebut ketika membutuhkan uang. Bagi petani gurem yang tidak memiliki tabungan seperti perhiasan emas maka mereka biasanya meminjam kepada saudara atau tetangga terdekat. Budaya gotong royong dan kekeluargaan yang masih kental di Desa Tukul membuat kepedulian masyarakatnya sangat kuat sehingga ketika salah seorang warga meminta bentuan maka warga yang lain akan membantu sebisa mungkin. Pinjaman yang didapat petani tidak harus berupa uang, ada sebagian petani yang memilih meminjam perhiasan emas pada saudaranya yang keadaan ekonominya di atas mereka untuk kemudian mereka gadaikan ke pegadaian dan akan ditebus setelah
20
mereka panen. Adanya budaya gotong royong dan kekeluargaan dapat menjadi pelindung petani gurem ketika mangalami kesulitan. Banyak petani gurem di Desa Tukul yang terbantu hidupnya karena bantuan dari jaringan sosial yang mereka miliki baik jaringan sosial yang bersifat informal seperti saudara dan tetangga maupun jaringan sosial yang bersifat formal seperti pegadaian, koperasi dll.
III. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan, kesimpulan yang dapat diberikan adalah sebagai berikut :
1. Petani mengkombinasikan faktor-faktor produksi guna memaksimalkan perolehan pendapatan. Penggunaan faktor produksi yang tepat dan seimbang dilakukan oleh para petani gurem guna memaksimalkan pendapatan yang akan diperolehnya.
2. Sistem tanam tumpang sisip sawi hijau pada brokoli, kol bunga dan tagetes tidak menurunkan secara signifikan produktivitas tanaman utama.
Terjadi penurunan produktivitas tanaman utama berkisar 1,84% - 3,00%.
Pertanaman tumpang sisip sawi hijau pada brokoli, kol bunga dan tagetes memberikan peningkatan penerimaan, keuntungan dan B/C ratio dibandingkan pertanaman monokultur. B/C ratio tumpang sisip sawi hijau pada brokoli. Petani dapat meningkatkan pendapatannya dengan cara menanaman tanaman sisipan sayuran yang berumur pendek karena ini terbukti menghasilkan keuntungan daripada menanam secara monokultur.
3. Kesimpulan pada subbab pendapatan aktual dan pendapatan hasil optimasi usahatani sayuran sistem diversifikasi dengan kendala sumberdaya petani berupa kepemilikan lahan, luasan lahan minimum, tenaga kerja, dan modal adalah
a) Pendapatan aktual dari usahatani sayuran dengan sistem diversifikasi yang dijalankan oleh petani yaitu sebesar Rp 6.122.693
b) Pendapatan maksimum setelah dioptimasi dalam usahatani sayuran dengan sistem diversifikasi yaitu sebesar Rp 6.807.570
c) Pengalokasian sumberdaya petani berupa faktor-faktor produksi yang optimal yaitu:
i. Pada musim kemarau tanaman yang diusahakan yaitu tanaman mentimun saja dengan luasan lahan sebesar 0,49 hektar, sedangkan
21
22
pada musim hujan tanaman yang diusahakan yaitu tanaman kacang panjang saja seluas 0,49 hektar.
ii. Penggunaan tenaga kerja pada musim kemarau seluruh tenaga kerja keluarga bisa dipakai dalam usahatani sayuran dan harus menyewa tenaga kerja dari luar sebanyak 27,9 HKP sedangkan musim hujan petani dapat menjual tenaga kerja keluarga sebanyak 57,85 HKP.
iii. Penggunaan modal yang diperlukan untuk mencapai kondisi optimal modal yang tersedia masih bisa mencukupi usahanya yaitu Rp 13.635.500 pada musim kemarau dan pada musim hujan Rp 12.400.680
iv. Besarnya perbedaan antara pendapatan aktual dengan pendapatan optimal yaitu sebesar Rp 684.877 atau 11,19 persen.
4. Bentuk-bentuk risiko usahatani yang terdentifikasi dapat dikelompokkan menjadi 3 yaitu; (a) risiko hasil dan produksi, (b) risiko harga, dan (c) risiko pemasaran. Risiko diatasi petani gurem dengan mendiversifikasikan usahataninya dengan tanaman palawija dan hortikultura. Dan tanaman Hortikultura sangat menjanjikan dalam pengembangan diversifikasi usahatani untuk meningkatkan pendapatan dan mengurangi angka kemiskinan di kalangan petani gurem di pedesaan.
5. Pola tanam sayuran yang dilakukan oleh petani masih belum optimal. Hal ini terlihat dari tingkat pendapatan yang dihasilkan pada kondisi optimal lebih tinggi dari pada kondisi aktual.
6. Strategi bertahan hidup adalah suatu tindakan yang dilakukan oleh setiap orang untuk dapat mempertahankan hidupnya melalui pekerjaan apapun yang dilakukannya. Terdapat tiga strategi yakni strategi aktif, strategi pasif dan strategi jaringan yang masing-masing penerapannya tergantung keluarga dalam pengambilan keputusan. Strategi-strategi tersebut saling berkaitan dan menjadi satu dengan yang lainnnya.
B. Saran
Berdasarkan pembahasan, saran yang dapat diberikan adalah sebagai berikut :
1. Petani dengan luas lahan kecil yang menanam komoditas sayuran dapat meningkatkan pendapatannya dengan cara menanam tanaman sisipan yang berumur pendek untuk meningkatkan pendapatan karena selisih keuntungannya lumayan banyak.
2. Pada musim kemarau lebih baik petani menanam mentimun saja dan musim hujan menanam kacang panjang dengan luas lahan 0,49 hektar tiap musimnya.
3. Untuk mengisi waktu yang tersisa di musim kemarau dan musim hujan petani bisa menanam tanaman sayuran berumur pendek seperti tanaman sawi yang bisa panen sekitar 2 bulanan saja.
4. Untuk menjaga tingkat produktivitas lahan dan kesinambungan usaha maka perlu
5. adanya suatu penyuluhan-penyuluhan dari instansi terkait mengenai penggunaan pupuk yang harus diberikan pada tanaman sayuran yang diusahakan agar penggunaannya dapat dilakukan secara efektif dan efisien sehingga biaya produksi dapat ditekan sekaligus tingkat eksternalitas negatif dari pupuk kimia dapat diminmalisir.
6. Untuk penelitian lebih lanjut supaya dilakukan kajian mengenai optimasi dengan melibatkan kendala kebutuhan atau konsumsi air tanaman serta umur tanaman.
7. Pada musim kemarau lebih baik petani menanam mentimun saja dan musim hujan menanam kacang panjang dengan luas lahan 0,49 hektar tiap musimnya.
8. Untuk mengisi waktu yang tersisa di musim kemarau dan musim hujan petani bisa menanam tanaman sayuran berumur pendek seperti tanaman sawi yang bisa panen sekitar 2 bulanan saja.
9. Untuk menjaga tingkat produktivitas lahan dan kesinambungan usaha maka perlu
24
10. adanya suatu penyuluhan-penyuluhan dari instansi terkait mengenai penggunaan pupuk yang harus diberikan pada tanaman sayuran yang diusahakan agar penggunaannya dapat dilakukan secara efektif dan efisien sehingga biaya produksi dapat ditekan sekaligus tingkat eksternalitas negatif dari pupuk kimia dapat diminmalisir.
11. Untuk penelitian lebih lanjut supaya dilakukan kajian mengenai optimasi dengan melibatkan kendala kebutuhan atau konsumsi air tanaman serta umur tanaman.
12. Petani gurem semestinya bisa memiliki usaha sampingan sendiri, seperti melakukan budidaya ikan konsumsi maupun budi daya lainnya seperti budi daya jamur, mengingat masih luasnya tanah disekitar rumah petani gurem yang belum dimanfaatkan secara maksimal
LAMPIRAN
Jurnal Ilmiah Sosio Ekonomika Bisnis Vol 20. (1) 2017 pISSN 1412-8241 eISSN 2621-1246
ANALISIS EFISIENSI EKONOMI PENGGUNAAN FAKTOR PRODUKSI
PADA BEBERAPA JENIS USAHATANI SAYURAN DI KECAMATAN SUNGAI GELAM KABUPATEN MUARO JAMBI
Anita Sisilia Silitonga1),Yusma Damayanti2) dan Saidin Nainggolan2) 1) Alumni Jurusan Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Jambi, 2) Staf Pengajar Jurusan Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Jambi
Email: [email protected] ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan: (1) menganalisis pengaruh faktor produksi terhadap jumlah produksi usahatani sayuran (sawi, bayam dan kangkung) di Kecamatan Sungai Gelam Kabupaten Muaro Jambi, dan (2) menganalisis efisiensi ekonomi penggunaan faktor produksi beberapa jenis usahatani sayuran (sawi, bayam dan kangkung) di Kecamatan Sungai Gelam Kabupaten Muaro Jambi. Penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 31 Agustus hingga 31 September 2015 di dua desa yaitu Desa Kebon IX dan Desa Mekar Jaya pada beberapa jenis usahatani sayuran yaitu sawi, bayam dan kangkung di Kecamatan Sungai Gelam Kabupaten Muaro Jambi. Masing-masing usahatani sayuran terdiri dari 30 orang petani. Metode yang digunakan adalah analisis regresi linier berganda dengan menggunakan model fungsi produksi Cobb-Douglas dan analisis efisiensi ekonomi.
Hasil analisis regresi menunjukkan bahwa penggunaan faktor produksi secara bersama-sama berpengaruh nyata terhadap produksi sawi, bayam dan kangkung. Secara parsial faktor produksi luas lahan, benih dan pupuk kandang masing-masing berpengaruh nyata terhadap produksi sawi dan kangkung, sedangkan luas lahan, benih dan pupuk urea berpengaruh nyata terhadap produksi bayam. Hasil analisis efisiensi ekonomi penggunaan faktor produksi yang belum efisien pada usahatani sawi yaitu luas lahan, benih dan pupuk kandang, pada usahatani bayam meliputi luas lahan, benih dan pupuk urea, sedangkan pada usahatani kangkung meliputi benih dan pupuk kandang. Oleh karena itu penggunaan faktor produksinya perlu ditambah, agar mencapai efisien.
Kata kunci: Efisiensi Ekonomi, Faktor Produksi, Usahatani Sayuran.
ABSTRACT
This study aims to: (1) analyze the influence of factors of production to the amount of farm production of vegetables (collards, spinach and kale) in Sungai Gelam Muaro Jambi, and (2) to analyze the economic efficiency of use of production factors some kind of vegetables farming (collards, spinach and kale) in Sungai Gelam Muaro Jambi. The research was conducted on 31 August to 31 September 2015 in two villages of Kebon IX and Mekar Jaya Village on some types of vegetables farming are collards, spinach and kale in Sungai Gelam Muaro Jambi. Each vegetable farm consists of 30 farmers. The method used is multiple linear regression analysis using a model of the Cobb-Douglas production function and the analysis of economic efficiency.
Regression analysis showed that the use of production factors together significantly affected the production of collards, spinach and kale. Partially factors of production land, seeds and manure each significant effect on the production of collards and kale, while the area of land, seed and fertilizer urea significant effect on the production of spinach. Results of the analysis of economic efficiency of use of factors of production are not efficient at farming collards namely land, seed and manure, the spinach farm covers an area of land, seed and fertilizer urea, while the spinach farm includes seed and manure. Therefore the use of factors of production should be increased, in order to achieve efficient.
Keywords: Economic Efficiency, Production Factor, Vegetables Farm
PENDAHULUAN
Komoditas tanaman hortikultura merupakan salah satu komoditas pertanian yang strategis dan merupakan salah satu sub sektor penting dalam pembangunan pertanian. Pembangunan pertanian diarahkan untuk meningkatkan pendapatan dan taraf hidup petani, memperluas kesempatan kerja serta mengisi dan memperluas pasar. Salah satu komoditas hortikultura yang dapat memberikan pendapatan bagi petani adalah sayuran. Sayuran mempunyai nilai ekonomis yang tinggi karena umur tanaman sayuran yang relatif pendek sehingga dapat dengan cepat menghasilkan dan dapat terserap cepat di pasar karena merupakan salah satu komponen susunan menu keluarga yang tidak dapat ditinggalkan.
Namun, tanaman hortikultura khususnya sayuran mempunyai karakteristik tertentu yaitu produk mudah rusak, komponen utama mutu produk ditentukan oleh air dan bukan oleh kandungan bahan kering karena konsumsinya dalam keadaan segar, ketersediaan produk bersifat musiman, dan harga produk ditentukan oleh kualitas bukan kuantitas. Adapun ciri-ciri produk diatas menjelaskan bahwa pembudidayaan tanaman hortikultura harus dilakukan secara intensif, mulai dari pemanenan, pengangkutan, sampai pada pemasaran. Oleh karena itu, budidaya tanaman hortikultura bersifat padat modal dan padat karya. Secara ringkas dapat dikatakan bahwa tanaman hortikultura adalah tanaman yang pembudidayaannya menghendaki masukan (input) yang tinggi, namun menghasilkan keluaran (output) yang juga tinggi per satuan luas per satuan waktu (Zulkarnain, 2010). Sayuran merupakan jenis produk pertanian yang dikonsumsi setiap saat, sehingga sayuran mempunyai nilai jual cukup tinggi. Adapun beberapa jenis sayuran yang berpotensi untuk diusahakan sekaligus memberi keuntungan yang cukup tinggi antara lain sawi, bayam, kangkung, mentimun, kacang panjang dan sayuran semusim lainnya. Sayuran daun seperti sawi, bayam dan kangkung adalah beberapa jenis sayuran yang paling banyak diusahakan karena dilihat dari aspek budidayanya sangat mudah dibanding dengan jenis tanaman sayuran lainnya. Selain itu, masa tanamnya yang relatif pendek yaitu antara 1-1,5 bulan per musim tanam dapat dengan cepat mendapatkan hasil.
Provinsi Jambi tahun 2013 dengan luas panen 20.157 Ha, mampu menghasilkan produksi sayuran sebesar 237.225 ton. Pencapaian produksi pada tahun 2013 ini masih tergolong rendah dibandingkan dengan produksi sayuran pada tahun 2010 yang mencapai 1.786.842 ton dengan luas panen 19.570 Ha. Kenaikan atau penurunan produksi terjadi sebagian besar disebabkan oleh faktor cuaca dan iklim yang tidak menentu serta perubahan penggunaan faktor-faktor produksi. Pada dasarnya petani akan mengubah penggunaan faktor-faktor produksi apabila dapat meningkatkan pendapatannya. Kabupaten Muaro Jambi merupakan salah satu daerah penghasil sayuran di Provinsi Jambi. Kabupaten Muaro Jambi dengan luas panen seluas 1300 Ha mampu memproduksi sayuran sejumlah 5052 ton dengan tingkat produktivitas 3,88 ton/Ha. Luas panen dan produktivitas tanaman sayuran di Kabupaten Muaro Jambi relatif kecil dibandingkan dengan kabupaten lain di Provinsi Jambi.
Kabupaten Muaro Jambi termasuk dalam kategori wilayah dataran rendah dimana pada wilayah ini memiliki ketinggian dari 0-100 meter di atas permukaan laut. Namun, kelebihan dari beberapa jenis sayuran seperti sawi, bayam dan kangkung adalah dapat tumbuh baik di berbagai ketinggian, baik dataran rendah maupun dataran tinggi. Beberapa jenis sayuran daun seperti sawi, bayam, kangkung di Kabupaten Muaro Jambi terdapat di beberapa kecamatan, salah satu diantara kecamatan yang paling banyak mengusahakan beberapa jenis sayuran tersebut adalah Kecamatan Sungai Gelam.
Kecamatan Sungai Gelam merupakan luas areal tanam sayuran daun terbesar di Kabupaten Muaro Jambi. Kecamatan ini juga merupakan salah satu pemasok sayur-sayuran bagi masyarakat di Kota Jambi karena antara pasar dengan tempat produksi sayuran cukup terjangkau selain itu juga karena beberapa jenis sayuran tersebut memliki nilai komersial yang relatif baik. Kecamatan Sungai Gelam terdiri dari 15 Desa, dimana dua diantaranya merupakan desa terbesar dalam memproduksi beberapa jenis sayuran yaitu Desa Kebon IX dan Desa Mekar Jaya. Pemilihan lokasi penelitian di dua desa tersebut selain terbesar dalam memproduksi sayuran, juga karena menurut penyuluh pertanian lapangan di daerah penelitian (PPL) desa tersebut merupakan wilayah yang di arahkan dalam pengembangan usahatani sayuran di Kecamatan Sungai Gelam.
2 Pada tahun 2012 hingga 2013 produktivitas beberapa jenis sayuran terlihat stabil seperti sawi yaitu 3,2 ton/Ha, bayam dan kangkung sebesar 1,6 ton/Ha, namun jika dibandingkan dengan skala produktivitas sayuran daun seperti sawi, bayam dan kangkung di wilayah dataran rendah seharusnya mampu mencapai 5-10 ton/Ha tiap tahunnya (Nazaruddin, 1999). Hal ini menunjukkan bahwa produktivitas beberapa jenis sayuran tersebut di Kecamatan Sungai Gelam masih sangat jauh tertinggal. Rendahnya tingkat produktivitas usahatani disebabkan oleh faktor dari dalam lingkungan usahatani. Salah satu faktor dari dalam lingkungan usahatani adalah faktor-faktor produksi.
Penggunaan faktor-faktor produksi dinilai sangat penting karena mempunyai pengaruh terhadap produksi yang dihasilkan. Menurut Nurung 2002 dalam Wibisono (2011) penggunaan faktor produksi dalam usahatani dilaksanakan secara turun-menurun, sehingga penggunaan faktor produksi tidak ditakar secara persis. Hal ini yang menyebabkan penggunaan faktor produksi tidak efisien. Efisiensi produksi secara ekonomis memerlukan prasyarat informasi harga jual produksi dan harga beli faktor- faktor produksi yang digunakan dalam usahatani. Hal ini yang menyebabkan penilaian efisiensi produksi secara ekonomis disebut sebagai efisiensi harga. Untuk memperoleh nilai produksi yang ekonomis maka petani harus menggunakan faktor produksi dengan ketentuan Nilai Produk Marginal (NPM) dengan harga masing-masing faktor produksi sama besarnya. Nilai Produksi Marginal (NPM) dari setiap unit tambahan output sama dengan harga dari setiap unit input (Pxi).
Berdasarkan latar belakang diatas, maka tujuan dalam penelitian ini adalah (1) untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi produksi usahatani sayuran (sawi, bayam dan kangkung) di Kecamatan Sungai Gelam Kabupaten Muaro Jambi dan (2) untuk menganalisis efisiensi ekonomi penggunaan faktor produksi beberapa jenis usahatani sayuran (sawi, bayam dan kangkung) di Kecamatan Sungai Gelam Kabupaten Muaro Jambi.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan di Desa Kebon IX dan Desa Mekar Jaya di Kecamatan Sungai Gelam dengan penarikan sampel yang dilakukan secara sengaja (purposive) dengan pertimbangan bahwa kedua desa tersebut merupakan desa dengan daerah terluas dalam mengusahakan sayuran daun di Kecamatan Sungai Gelam. Penentuan sampel responden di Desa Kebon IX dan Desa Mekar Jaya dilakukan dengan teknik Snowball Sampling (pengambilan sampel bola salju). Dengan teknik ini, mula- mula peneliti mencari responden yang sesuai dengan kriteria yang ditetapkan, kemudian dari responden ini akan menunjuk atau mengajak temannya yang lain untuk dijadikan sampel, dan seterusnya sehingga jumlah sampel semakin banyak (Rianse, Usman dan Abdi, 2012).
Jika terdapat satu orang petani mengusahakan minimal salah satu jenis sayuran dari beberapa jenis sayuran yang ditentukan (sawi, bayam dan kangkung) maka petani tersebut sudah bisa dikatakan sebagai responden. Apabila terdapat lebih dari 30 petani yang masing-masing petani mengusahakan ketiga jenis sayuran tersebut diatas, maka responden yang diambil adalah 30 orang petani yang mengusahakan ketiga jenis sayuran tersebut. Hal ini menandakan bahwa penentuan responden disesuaikan dengan kondisi lapangan. Objek dalam penelitian ini adalah petani yang melakukan usahatani sayuran untuk beberapa jenis sayuran seperti sawi, bayam dan kangkung. Adapun pelaksanaan penelitian ini dilaksanakan pada tanggal 31 Agustus 2015 sampai tanggal 31 September 2015.
Untuk mengkaji hubungan fungsional antara faktor-faktor produksi dengan produksi pada usahatani sayuran sawi, bayam dan kangkung digunakan analisis regresi dengan model fungsi produksi Cobb-Douglas. Persamaan fungsi tersebut dapat ditulis sebagai berikut :
Yi = aX1b1. X2b2. X3b3. X4b4. X5b5. X6b6. eµ Keterangan :
Yi = Produksi sayuran ke-i (Kg/MT) a = Konstanta
X1 = Luas lahan (Ha) X2 = Benih (Kg)
X3 = Pupuk kandag (Kg) X4 = Pupuk urea (Kg) X5 = Pestisida (Liter) X6 = Tenaga kerja (HOK)
b1-b6 = Koefisien regresi variabel X1 – X6
i = Sawi (Kg/MT), Bayam ( Kg/MT ) dan Kangkung ( Kg/MT ) u = Kesalahan (disturbance term)
Untuk memudahkan pendugaan terhadap persamaan di atas, maka persamaan tersebut ditransformasikan ke dalam bentuk Logaritma :
LogYi = Log a + b1LogX1 + b2LogX2 + b3LogX3 + b4LogX4 + b5LogX5 + b6LogX6 + µ
Untuk menguji apakah variabel – variabel bebas secara bersama-sama berpengaruh terhadap variabel terikat digunakan uji F dengan menghitung terlebih dahulu besarnya variabel tidak bebas yang dapat diterangkan oleh variabel bebas yang dapat dihitung dengan menggunakan koefisien determinasi (R2) (Gujarati, 2003)
R"=$%∑ ) ∑ (% )%
%*
Untuk mengetahui pengaruh masing-masing masukan terhadap hasil produksi sayuran sawi, bayam dan kangkung digunakan uji keberartian koefisien regresi dengan uji t, dengan rumus sebagai berikut :
thit= bi/Sbi
Dimana :
Thit = nilai t hitung
bi = koefisien regresi perkiraan ke-bi
Sbi = standard error perkiraan ke- bi
i = 1,2,3,...6 Dengan hipotesis :
Hi = bi = 0
Pada tingkat signifikasi α sebesar 5% maka:
a. Jika t hitung ≤ t tabel : Hi ditolak berarti input ke-i tidak berpengaruh nyata terhadap hasil produksi sayuran sawi, bayam dan kangkung.
b. Jika t hitung > t tabel : Hi diterima berarti masukan ke-i berpengaruh nyata terhadap hasil produksi sayuran sawi, bayam dan kangkung.
Untuk mengkaji penggunaan faktor produksi yang berupa luas lahan, benih, pupuk kandang, pupuk urea, pestisida dan tenaga kerja pada usahatani sawi, bayam dan kangkung mencapai tingkat efisiensi ekonomi tertinggi, persamaan demikian tidaklah cukup, sehingga masing-masing harus dikalikan dengan harga hasil produksinya, persamaannya menjadi:
𝑃,-./01
.01 = 𝑃,-./. 0*
0* = 𝑃,-./. 02
02 = 𝑃,-./. 03
03 = 𝑃,-./. 04
04 = 𝑃,-./. 05
05 = 1 Dimana :
NPMxi = Nilai produk marginal untuk masukan Xi
Pxi = Harga masukan Xi
Py = Harga hasil produksi Kriteria yang digunakan sebagai berikut : a. Apabila nilai : (NPMxi)/(Pxi ) = 1 :
b. Apabila nilai : (NPMxi)/(Pxi ) > 1 : c. Apabila nilai : (NPMxi)/(Pxi ) < 1 :
artinya pengunaaan input xi mencapai nilai efisiensi ekonomi
artinya pengunaaan input xi belum mencapai nilai efisiensi ekonomi
artinya pengunaaan input xi tidak efisien