• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH PSIKOLOGI KESEHATAN “ANALISIS TRANSAKSIONAL”

N/A
N/A
Dheyaaa

Academic year: 2023

Membagikan "MAKALAH PSIKOLOGI KESEHATAN “ANALISIS TRANSAKSIONAL”"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH PSIKOLOGI KESEHATAN

“ANALISIS TRANSAKSIONAL”

DISUSUN OLEH:

NAMA : DHEA PUTRI UTAMI NIM : PO714241201008 PRODI : D4 FISIOTERAPI

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLTEKKES KEMENKES MAKASSAR

2020

KATA PENGANTAR

(2)

Assalamualaikum wr.wb. Dengan menyebutkan nama Allah SWT yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang serta memanjatkan puji syukur kehadirat Nya yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah Nya kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan pembuatan makalah ini.

Makalah ini disusun guna memenuhi tugas dosen pada mata kuliah Psikologi Kesehatan di Poltekkes Kemenkes Makssar. Selain itu, saya juga berharap agar makalah ini dapat

menambah wawasan bagi pembaca tentang perilaku kesehatan.

Saya mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada Bapak Yonathan Ramba, SPd, M.Si, selaku dosen mata kuliah Psikologi Kesehatan. Tugas yang telah diberikan ini dapat menambah pengetahuan dan wawasan terkait bidang yang saya tekuni. Saya juga mengucapkan terima kasih pada semua pihak yang telah membantu proses penyusunan makalah ini.

Terlepas dari segala hal tersebut, penulis sadar sepenuhnya bahwa masih ada kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karenanya penulis dengan lapang dada menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ini.

Akhir kata saya sebagai penulis sangat berharap semoga saja dengan adanya penulisan makalah ini bisa memberikan manfaat maupun inspirasi untuk pembaca.

Makassar, 21 Oktober 2020

Dhea Putri Utami

DAFTAR ISI

(3)

Contents

KATA PENGANTAR...2

DAFTAR ISI...3

BAB 1...4

PENDAHULUAN...4

1.1 LATAR BELAKANG...4

1.2 RUMUSAN MASALAH...4

1.3 TUJUAN...4

BAB II...5

PEMBAHASAN...5

2.1 Pengertian Analisis Transaksional...5

2.2 Konsep Dasar Analisis Transaksional...5

2.3 Tujuan Analisis Transaksional...7

2.4 Teknik dalam Analisis Transaksional...8

2.5 Kelebihan dan Kelemahan dalam Pendekatan Analisis Transaksional...8

2.6 Fungsi dan Peranan Terapis...9

BAB III...10

PENUTUP...10

3.1 KESIMPULAN...10

DAFTAR PUSTAKA...11

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

(4)

Analisis Transaksional (AT) adalah salah satu pendekatan Psychotherapy yang menekankan pada hubungan interaksional. Transaksional maksudnya ialah hubungan komunikasi antara seseorang dengan orang lain. Adapun hal yang dianalisis yaitu meliputi bagaimana bentuk cara dan isi dari komunikasi mereka. Dari hasil analisis dapat ditarik kesimpulan apakah transaksi yang terjadi berlangsung secara tepat, benar dan wajar. Bentuk, cara dan isi komunikasi dapat menggambarkan apakah seseorang tersebut sedang mengalami masalah atau tidak.

Analisis transaksional dikembangkan oleh Eric Berne tahun 1960.Analisis transaksional berevolusi dari ketidakpuasan Berne dengan lambatnya psikoanalisis dalam menyembuhkan orang-orang dari masalah mereka. Berne mengamati bahwa kehidupan sehari-hari banyak ditentukan oleh bagaimana ketiga status ego (anak, dewasa, dan orang tua) saling berinteraksi dan hubungan transaksional antara ketiga status ego itu dapat mendorong pertumbuhan diri seseorang, tetapi juga dapat merupakan sumber-sumber gangguan psikologis.

1.2 RUMUSAN MASALAH

1. Apa pengertian Analisis Transaksional?

2. Bagaimana konsep dasar dari Analisis Transaksional ? 3. Apa tujuan dari Analisis transaksional ?

4. Bagaimana teknik dalam Analisis Transaksional ?

5. Apa saja kelemahan dan kelebihan dalam pendekatan analisis transaksional?

6. Bagaimana Fungsi dan Peranan Terapis?

1.3 TUJUAN

1. Untuk mengetahui pengertian dari Analisis Transaksional 2. Untuk mengetahui konsep dasar dari Analisis Transaksional 3. Untuk mengetahui apa saja tujuan dari Analisis Transaksional 4. Untuk mengetahui teknik apa saja dalam Analisis Transaksional

5. Untuk mengetahui kelemahan dan kelebihan dalam pendekatan Analisis Transaksional 6. Untuk mengetahui fungsi dan peranan terapis dalam Analisis Transaksional

BAB II

PEMBAHASAN

(5)

2.1 Pengertian Analisis Transaksional

Secara singkat Berne mendefinisikan pengertian dari analisis transaksi sebagai: “Ein Transaktions-Stimulus plus eine Transaktions-Reaktion” (Joines dalam Eschenmoser, 2008:23).

Pernyataan ini berarti bahwa sebuah transaksi terdiri dari sebuah stimulus dan sebuah reaksi.

Dengan kata lain, syarat terbentuknya sebuah transaksi adalah adanya hubungan timbal balik antara stimulus yang diungkapkan penutur dan respon yang diungkapkan oleh lawan bicaranya.

Analisis Transaksional adalah salah satu pendekatan Psychotherapy yang menekankan pada hubungan interaksional. Transaksional maksudnya ialah hubungan komunikasi antara seseorang dengan orang lain. Adapun hal yang dianalisis yaitu meliputi bagaimana bentuk cara dan isi dari komunikasi mereka. Dari hasil analisis dapat ditarik kesimpulan apakah transaksi yang terjadi berlangsung secara tepat, benar dan wajar. Bentuk, cara dan isi komunikasi dapat menggambarkan apakah seseorang tersebut sedang mengalami masalah atau tidak. Analisis Transaksional dapat dipergunakan untuk terapi individual, tetapi terutama untuk pendekatan kelompok. Analisis transaksional berfokus pada keputusan – keputusan awal yang dibuat oleh klien dan menekankan kemampuan klien untuk membuat keputusan baru.

Analisis Transaksional dapat diartikan pula sebagai teori kepribadian dan sistem yang terorganisir dari terapi interaksional. Hal ini didasarkan pada anggapan bahwa disaat kita membuat keputusan berdasarkan premis premis masa lalu yang pada suatu waktu sesuai dengan kebutuhan kelangsungan hidup kita tetapi yang mungkin tidak lagi berlaku. Analisis Transaksional menekankan aspek kognitif dan perilaku dari proses terapeutik.

2.2 Konsep Dasar Analisis Transaksional

Analisis transaksional didasarkan pada asumsi atau anggapan bahwa orang mampu memahami keputusan-keputusannya pada masa lalu dan kemudian dapat memilih untuk memutuskan kembali atau menyesuaikan kembali keputusan yang telah pernah diambil.

Berne dalam pandangannya meyakini bahwa manusia mempunyai kapasitas untuk memilih dan dalam tingkat kesadaran tertentu individu dapat menjadi mandiri dalam menghadapi persoalan-persoalan hidupnya.

Menurut Eric Berne status ego adalah suatu pola perasaan dan pengalaman yang tetap, keadaan ego seseorang tidak tergantung pada umur. Oleh karena itu apapun pekerjaan/jabatan seseorang, ia tetap memiliki 3 jenis status ego.

Analisis transaksional sebagai suatu sistem terapi yang didasarkan pada suatu teori kepribadian yang memusatkan perhatiannya pada tiga pola perilaku yang berbeda sesuai status egonya :

1) Status ego orang tua (SEO) Adalah bagian dari kepribadian yang menunujukkan sifat- sifat orang tua. Orang tua dalam pandangan kita selalu akan memperlihatkan sebagai nurturing parent (orang tua yang mengasuh) dan critical parent (orang tua yangkritis).

(6)

2) Status ego dewasa (SED) Adalah bagian dari kepribadian yang menunjuk pada berbagai gambaran sebagai bagian objektif dari kepribadian. Status egonya memperlihatkan kestabilan, tidak emosional, rasional, bekerja dengan fakta dan kenyataan-kenyataan, selalu berusaha untuk menggunakan informasi yang tersedia untuk menghasilkan pemecahan yang terbaik dalam pemecahan berbagai masalah.

3) Status ego anak (SEA) Adalah bagian dari kepribadian yang menunujukkan ketidakstabilan, masih dalam perkembangan, berubah-ubah, ingin tahu. Status egonya berisi perasaan-perasaan, dorongan-dorongan, dan tindakan-tindakan yang spontan.

Ada dua perilaku atau sikap anak, yang pertama adalah natural child yaitu yang ditunjukkan dalam sikap impulsive, riang gembira tak social, dan ekspresi secara emosional.

Yang kedua adapted child yaitu bagian dari status ego anak yang telah disosialisasikan orang tua dan yang mengatur serta mendorong perilaku natural child.

Berdasarkan teori dasar status ego, maka Harris mengidentifikasi dan menggambarkan empat posisi utama dalam interaksi individu dengan yang lainnya, menunjukkan sifat-sifat dan karakteristik kepribadiannya.

Secara teoritik posisi itu dikonseptualisasikan sebagai berikut : a) I’m OK – You’re OK

Posisi ini menunjukkan gambaran kepribadian seseorang yang sangat positif karena secara transaksional apayang dia pikirkan juga mendapat dukungan orang lain.

Keputusan yang diambilnya didasarkan pada keyakinan yang lebih kuat, karena baik dirinya maupun orang lain sama-sama menyetujui. Individu yang memiliki posisi ini akan merasa aman dalam keberadaannya sebagai manusia dan keberadaan orang lain

b) I’m OK – You’re not OK

Posisi ini digunakan individu yang merendahkan orang lain atau mencurigai motif- motif orang lain. Haris disini mengatakan bahwa posisi ini berkembang dari suatu reaksi yang berlebihan terhadap perlakuan not OK. Contoh dari ini adalah perilaku kriminal yang marak, hal ini terjadi akibat dari pengambilan posisi I’m OK – You’re not OK.

Individu yang memiliki posisi ini, mereka adalah individu-individu yang selalu merasa benar dan orang lain salah.

c) I’m not OK – You’re OK

Posisi ini menunjukkan gambaran kepribadian seseorang sebagai individu yang memerlukan kasih sayang, bantuan, mengharapsesuatu, membutuhkan penghargaan, karena orang itu merasa inferior (bahwa anak sering mengatakan dirinya tidak mampu dan lemah atau not OK) dari yang lain. Seorang individu yang memilih posisi ini akan patuh dan selalu mengikuti perintah orang lain. Posisi ini memang dapat mengarahkan pada kehidupan yang produktif tetapi tidak memuaskan. Dan pada posisi ini sering kali

(7)

akan menyebabkan anak melakukan pengunduran diri, depresi, dan tindakan bunuh diri karena anak menganggap dirinya itu not OK.

d) I’m not OK – You’re not OK

Posisi ini menunjukkan gambaran kepribadian seseorang dimana orang tersebut berada dalam keadaan pesimis, putus asa, tidak dapat mengatasi dirinya, juga orang lain tidak dapat membantu, frutasi karena dari transaksi yang ada, baik dirinya sendiri maupun orang lain tidak ada yang OK. Contoh : karena pengaruh orang tua yang yang mengetahui anaknya telah cukup umur. Maka orang tua akan mulai menjauh diri dari anaknya karena orang tua berfikir bahwa anaknya sudah cukup umur dan bisa memelihara dirinya. Posisi ini yang dipilih oleh individu, maka dalam kehidupannya individu tersebut akan hanya melewati hari-hari dan kehidupannya tanpa arti. Dan akan berdampak pada tindakan anak atau perilaku seperti bumuh diri atau pembunuhan.

2.3 Tujuan Analisis Transaksional

Tujuan dari analisis transaksional adalah otonomi, yang didefinisikan sebagai kesadaran, spontanitas, dan kapasitas untuk keintiman. Dalam mencapai otonomi orang mempunyai kapasitas untuk membuat keputusan baru (redecide), sehingga memberdayakan diri mereka sendiri dan mengubah arah hidup mereka. Sebagai bagian dari proses terapi Analisis Transaksional, klien belajar

Tujuan utama dari terapi analisis transaksional adalah;

1. Membantu klien untuk membuat keputusan-keputusan baru dalam mengarahkan atau mengubah tingkah laku dalam kehidupannya.

2. Memberikan kepada klien suatu kesadaran serta kebebasan untuk memilih cara- cara serta keputusan-keputusan mengenai posisi kehidupannya serta menghindarkan klien dari cara-cara yang bersifat deterministic.

3. Memberikan bantuan kepada klien berupa kemungkinan-kemungkinan yang dapat dipilih untuk memantapkan dan mematangkan status egonya. apabila perasaan ini mengandung permusuhan dan kecemburuan.

2.4 Teknik dalam Analisis Transaksional

Menurut M.Ramli, secara umum Teknik-teknik yang dapat dipilih dan diterapkan dalam Analisis Transaksional, yaitu:

1. Permission (Pemberian Kesempatan), dalam konseling kesempatan ini diberikan kepada kilen untuk:

a) menggunakan waktunya secara efektif tanpa melakukan ritual pengunduran diri,

(8)

b) mengalami semua status ego yang biasanya dilakukan dengan mendorong klin menggunakan kemampuan Status Ego Dewasa untuk menikmati kehidupan, c) tidak memainkan permainan dengan cara tidak membiarkan klian

memainkannya.

2. Protection (Proteksi), klien mungkin akan merasa ketakutan setelah ia menerima kesempatan untuk menghentikan perintah-perintah orang tua dan menggunakan Status Ego Dewasa dan Status Ego Anak.

3. Potency (Potensi). Seorang konselor ahli sihir , melainkan orang tahu apa yang akan dilakukan dan kapan melakukannya. Oleh karena itu kemampuan konselor terletak pada keahliannya, sehingga keterampilan tersebut efektif secara optimal.

Teknik Khusus menurut Berne terdiri atas delapan teknik yaitu: Interogasi, Spesifikasi, Konfrontasi, Eksplanasi, Illustrasi, Konfirmasi, Interprestasi, Kristalisasi.

2.5 Kelebihan dan Kelemahan dalam Pendekatan Analisis Transaksional Kelebihan Menurut Gerald Corey :

1. Sangat berguna dan para konselor dapat dengan mudah menggunakannya.

2. Menantang konseli untuk lebih sadar akan keputusan awal mereka.

3. Integrasi antara konsep dan praktek analisis transaksional dengan konsep tertentu dari terapi gestalt amat berguna karena konselor bebas menggunakan prosedur dari pendekatan lain.

4. Memberikan sumbangan pada konseling multikultural karena konseling diawali dengan larangan mengaitkan permasalahan pribadi dengan permasalahan keluarga dan larangan mementingkan diri sendiri

Kelemahan Gerald Corey, (1982: 398) :

1. Banyak Terminologi atau istilah yang digunakan dalam analisis transaksional cukup membingungkan.

2. Penekanan Analisis Transaksional pada struktur merupakan aspek yang meresahkan.

3. Konsep serta prosedurnya dipandang dari perspektif behavioral, tidak dapat di uji keilmiahannya.

(9)

4. Konseli bisa mengenali semua benda tetapi mungkin tidak merasakan dan menghayati aspek diri mereka sendiri.

2.6 Fungsi dan Peranan Terapis

Terapis membantu klien dalam hal menemukan kondisi masa lalu yang tidak menguntungkan, yaitu yang menentukan keputusan awal, menggunakan rencana hidup, serta mengembangkan strategi dalam hal menangani orang-orang yang pada saat ini ingin mereka pertimbangkan kembali. Sebagian besar teoritikus AT menekankan pada pentingnya hubungan yang sederajat dan menunjukkan pada kontrak terapi sebagai bukti bahwa terapis dan klien adalah mitra dalam proses terapeutik itu. Maka, terapis membawa pengetahuan mereka dalam konteks kontrak yang jelas dan khas yang diinisiatifkan oleh klien. Tugas terapis adalah menolong klien mendapatkan perangkat yang diperlukan untuk mendapatkan perubahan. Praktek AT kontemporer menekankan bahwa tugas kunci konselor adalah menolong klien untuk menemukan kekuatan internal mereka untuk mendapatkan perubahan dengan jalan mengambil keputusan yang lebih cocok sekarang, sebagai lawan dari terus saja hidup berdasarkan keputusan yang kuno yang telah mereka buat pada masa kanak-kanak.

BAB III PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

AT menekankan pada aspek kognitif, rasional, dan behavioral dari proses terapeutik. Lebih khusus lagi, AT menekankan pada kapasitas orang untuk mengubah keputusan dan bisa membuat keputusan baru dan dengannya orang bisa mengubah jalan

(10)

hidupnya. Pada dasarnya kata transaksi selalu mengacu pada proses pertukaran dalam suatu hubungan. Dalam komunikasi antarpribadi pun dikenal transaksi. Yang

dipertukarkan adalah pesan-pesan baik verbal maupun nonverbal. Analisis transaksional sebenarnya bertujuan untuk mengkaji secara mendalam proses transaksi (siapa-siapa yang terlibat di dalamnya dan pesan apa yang dipertukarkan).

Dalam terapi ini hubungan klien dengan konselor dipandang sebagai suatu transaksional (interaksi, tindakan yang diambil, tanya jawab) dimana masing-masing partisipan berhubungan satu dengan yang lainnya sebagai fungsi tujuan tertentu. Setiap tindakan dengan orang lain merupakan proses timbal-balik dan peraturan memulai, merespon, dan memberi umpan balik.

Berne mengamati bahwa kehidupan sehari-hari banyak ditentukan oleh bagaimana ketiga status ego (anak, dewasa, dan orang tua) saling berinteraksi dan hubungan transaksional antara ketiga status ego itu dapat mendorong pertumbuhan diri seseorang, tetapi juga dapat merupakan sumber-sumber gangguan psikologis jika ketiga ego tersebut tidak dimanfaatkan dengan baik karena hanya menerapkan satu jenis status ego saja ( SEA,SEO, atau SED ).

DAFTAR PUSTAKA

Abubakar Baraja, (2004). Psikologi Konseling dan Tehnik Konseling.Jakarta : Penerbit Studio Press Jakarta.

(11)

Corey, Gerald. (1990). Teori dan Praktek dari Konseling dan Psikoterapi. California: Pacific Grove.

Fauzan lutfi, (2001). Pendekatan-pendekatan konseling individual. Malang:Elang Mas Malang.

Jeanette Murad Lesmana,(2008). Dasar-dasar Konseling.Jakarta: Fakultas Psikologi, UI Jakarta. Penerbit UI Press Jakarta.

Nelson Jones, Richard. (2011). Teori dan Praktik Konseling dan Terapi edisi keempat.

Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Pujosuwarno Sayekti, (1993). Berbagai Pendekatan dalam Konseling. Yogyakarta: MenaraMas Offset.

Surya Mohammad, (2003). Teori-teori Konseling. Bandung: Pustaka Bani Quraisy.

Referensi

Dokumen terkait