• Tidak ada hasil yang ditemukan

konseling analisis transaksional untuk - etheses UIN Mataram

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "konseling analisis transaksional untuk - etheses UIN Mataram"

Copied!
113
0
0

Teks penuh

(1)

KONSELING ANALISIS TRANSAKSIONAL UNTUK MENGATASI KECANDUAN MEDIA SOSIAL PADA REMAJA DI

ORGANISASI KERUKUNAN ANAK ENDE (KAE) MATARAM

Oleh:

IRAGKIAMKIR NIM: 180303051

JURUSAN BIMBINGAN KONSELING ISLAM FAKULTAS DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MATARAM

2022

(2)

ii

KONSELING ANALISIS TRANSAKSIONAL UNTUK MENGATASI KECANDUAN MEDIA SOSIAL PADA REMAJA DI

ORGANISASI KERUKUNAN ANAK ENDE (KAE) MATARAM Skripsi

Diajukan Kepada Universitas Islam Negri Mataram (UIN) Untuk Melengkapi Persyaratan Mencapai Gelar Sarjana Social (S.Sos)

Oleh : IRAGKIAMKIR NIM: 180303051

JURUSAN BIMBINGAN KONSELING ISLAM FAKULTAS DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) MATARAM

2022

(3)

iii

(4)

iv

(5)

v

(6)

vii

(7)

viii MOTTO

“Lima senjata dalam hidup yang harus kita terapkan adalah dengan doa, usaha, sabar, syukur, dan ikhlas ”

(8)

ix

PERSEMBAHAN

“Kupersembahkan skripsi ini untuk Ibuku aminah gani, bapaku, Abdul Gani dan ibu nurmawar serta bapak nurdin daud, beserta semua Guru yang telah mengajarkanku, dosen-dosen UIN Mataram, teman seperjuanganku di kos Plening para wali dan kontrakan PT, dan team futsal endenesia mataram, organisasi KAE NTT- Mataram serta teman seperjuangan BKI/B 2018 UIN Mataram dan Almamater kebanggaanku.”

(9)

x

KATA PENGANTAR

Assalmu‟alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Alhamdulillah, puji dan syukur kepada Allah SWT atas berkat dan rahmatnya sehingga Skripsi ini dapat terselesaikan. Sholawat serta salam penulis haturkan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah membawa rahmat dan petunjuk di muka bumi. Penulisan skripsi ini dimaksud untuk memenuhi persyaratan untuk melaksanakan tugas akhir kuliah untuk memperoleh gelar Sarjana Sosial Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Mataram.

Ucapan terima kasih sebesar-besarnya penulis ungkapkan sebagai rasa hormat, atas bantuan dan bimbingan kepada:

1. Bapak Dr. Rendra Khaldun, M.Ag selaku pembimbing I dan Ibu Dyah Luthfia Kirana, M.Pd selaku pembimbing II yang selalu memberikan bimbingan, motivasi, dan koreksi tanpa bosan dan lelah ditengah kesibukannya sehingga skripsi ini bisa lebih matang dan selesai.

2. Ibu Dr. Mira Mareta, MA, selaku Ketua Prodi Bimbingan dan Konseling Islam.

3. Bapak Dr. Muhammad Saleh Ending, M.A. selaku Dekan Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi

4. Bapak Prof. Dr. H. Masnun, M.Ag selaku Rektor UIN Mataram.

5. Seluruh dosen pengajar di Prodi Bimbingan dan Konseling Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi atas ilmu yang telah diberikan kepada penulis.

6. Kepada orang tua-orang tua ku ibu aminah gani bapak abdul gani dan bapak nurdin daud serta ibu nurmawar harun terimaksih sebanyak- banyaknya yang tidak pernah putus mendoakan dan selalu memberi dukungan dalam menyelesaikan skirpsi,dan semangat unruk tidak mudah putus asa.

7. Teman-teman seperjuangan BKI/B 2018, yang saling memberikan motivasi dalam penyelesaian skripsi ini.

8. Terakhir penulis ucapkan kepada Keluarga besar peguyuban Kerukunan Anak Ende (KAE)-NTT yang telah membantu memberikan ide-ide serta gagasannya dalam penulisan karya tulis

(10)

xi

ilmiah serta meluangkan waktunya dalam berdiskusi terkait dengan penelitian dalam penulisan skripsi ini.

Namun dalam penulisan dan penelitian ini penulis menyadari masih banyak kesalahan baik dalam pengetikan maupun metode dalam penelitian ini. Sehingga kritik dan saran untuk memperbaiki tulisan ini sangat diperlukan dalam penelitian ke depannya.

Mataram, September 2022 Penulis

Rikman Gani

(11)

xii DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ... i

HALAMAN JUDUL ... ii

HALAMAN LOGO ... iii

HALAMAN PERSETUJUAN ... iv

HALAMAN NOTA DINAS ... v

PERNYATAAN KEASLIAN ... vi

HALAMAN PENGESAHAN ... vii

HALAMAN MOTTO ... viii

HALAMAN PERSEMBAHAN ... ix

KATA PENGANTAR ... x

DAFTAR ISI ... xiii

DAFTAR TABEL ... xvi

DAFTAR LAMPIRAN... xvii

ABSTRAK ... xviii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah... 7

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 7

1. Tujuan Penelitian ... 7

2. Manfaat Penelitian ... 7

D. Ruang Lingkup dan Seting Penelitian ... 8

E. Telaah Pustaka ... 8

F. Kerangka Teori ... 9

1. Konseling analisis transaksioanal ... 9

2. Kecanduan media sosial ... 17

G. Metode Penelitian ... 20

1. Pendekatan Penelitian ... 20

2. Kehadiran Peneliti ... 20

3. Lokasi Penelitian ... 20

4. Sumber Data ... 21

5. Prosedur Pengumpulan Data ... 21

6. Teknik Analisis Data ... 22

7. Pengecekkan Keabsahan Data ... 24

H. Sistematika Pembahasan... 24

(12)

xiii

BAB II PAPARAN DATA DAN TEMUAN ... 25

A. Gambaran Umum organisasi kerukunan anak ende (KAE) NTT-Mataram ... 25

1. Sejarah organisasi peguyuban kerukunan anak ende (KAE) NTT-Mataram ... 25

2. Visi dan misi organisasi kerukunan anak ende (KAE) NTT-Mataram ... 27

3. Struktur organisasi kerukunan anak ende (KAE) NTT-Mataram di Mataram dari tahun 2003-2022 ... 27

4. Keadaan anggota kerukunan anak ende (KAE) NTT-Mataram ... 29

5. Struktur organisasi kerukunan anak ende (KAE) NTT-Mataram periode 2021/2022... 30

B. Proses terbentuknya organisasi KAE NTT-Mataram ... 32

C. Deskripsi konseli ... 35

D. Proses konseling analisis transaksional untuk mengatasi kecanduan media sosial pada remaja di kerukunan anak ende (KAE) NTT-Mataram ... 37

E. Hasil konseling analisis transaksional untuk mengatasi kecanduan media sosial pada remaja di organisasi kerukunan anak ende (KAE) NTT-Mataram ... 64

BAB III PEMBAHASAN ... 71

A. Analisis proses konseling analisis transaksional untuk mengatasi kecanduan media sosial pada remaja di kerukunan anak ende (KAE) NTT-Mataram ... 75

B. Analisis Hasil konseling analisis transaksional untuk mengatasi kecanduan media sosial pada remaja di organisasi kerukunan anak ende (KAE) NTT-Mataram ... 78

BAB IV PENUTUP ... 82

A. Kesimpulan ... 82

B. Saran ... 82

DAFTAR PUSTAKA ... 84 LAMPIRAN-LAMPIRAN

(13)

xiv

DAFTAR TABEL

Tabel 2.1 Nama-nama Ketua Umum KAE-NTT Mataram dan Masa

Jabatan ... 28

Tabel 2.2 Kesepakatan Konseli dan Konselor ... 41

Tabel 2.3 Tahapan konseling analisis transaksional Subjek WS... 43

Tabel 2.4 Tahapan konseling analisis transaksional Subjek MS ... 52

Tabel 2.5 Tahapan konseling analisis transaksional Subjek FN ... 61

(14)

xv

DAFTAR LAMPIRAN Lampiran1: Dokumentasi Wawancara Lampiran 2: Proses Konseling

Lampiran 3: Pedoman Observasi Lampiran 4: Pedoman Wawancara Lampiran 5: Surat Izin Penelitian Lampiran 6: Surat Keterangan Penelitian Lampiran 7: Kartu Konsultasi

(15)

xvi

KONSELING ANALISIS TRANSAKSIONAL UNTUK MENGATASI KECANDUAN MEDIA SOSIAL PADA REMAJA DI

ORGANISASI (KAE) KERUKUNAN ANAK ENDE MATARAM Oleh:

Rikman Gani NIM 180303051

ABSTRAK

Penelitian ini di latar belakangi oleh permasalahan yang ada pada remaja kerukunan anak ende yang mengalami kecanduan media social yang berdampak pada penggunan media sosial secara berlebihan, tidak teraturnya jam tidur tugas-tugas kuliah di abaikan. Metode penelitian ini adalah penelitian kualitatif dalam pendekatan studi kasus, yang bertujuan untuk mengetahui (1) proses konseling analisis transaksional untuk mengatasi kecanduan media social pada remaja di kerukunan anak ende (2) hasil konseling analisis transaksional untuk mengatasi kecanduan media social pada remaja di kerukunana anak ende mataram. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa (1) proses konseling analisis transaksioanal melalui tahapan dalam konseling transaksional antara lain eksplorasi masalah, perumusan masalah, identifikasi alternative, perencanaan, tindakan atau komitmen, penilaian dan umpan balik dengan menggunakan teknik analisis transaksional dengan mengacu pada ego state serta posisi dasar kepirbadian manusia.(2) hasil lonseling analisis transaksional untuk mengatasi kecanduan media social pada remaja di kerukunan anak ende mataram yakni perubahan perilaku berupa tidak lagi mengakses media social secara berlebihan, tidak lagi tidur larut malam, menggunakan waktu luang untuk belajar dan mengerjakan tugas kuliah, tidak lagi merasa tertekan ketika sinyal bermasalah. dan manfaat yang di rasakan konseli mampu mengontrol diri dalam menggunakan media social, mengurangi kegiatan yang tidak bermanfaat seperti mengunjungi akun-akun media social dan mampu membuat keputusan sendiri.

Kata kunci : Konseling, Transaksional, Kecanduan Media Sosial

(16)

1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah

Kecanduan media sosial adalah ketika seseorang terdorong untuk menghabiskan banyak waktu di internet, dimana sisi kehidupan lain seperti hubungan dengan orang lain, bekerja, atau keseehatan membuat mereka menderita. Orang tersebut akan tergantung dalam menggunakan media sosial dan membutuhkan semakin banyak waktu untuk online untuk mencapai keinginan mereka yang tinggi.1

Ketika seseorang sudah mengalami kecanduan maka mereka akan mempunyai dunia sendiri di media sosial. Mereka akan mulai meninggalkan dunia nyata. Orang tersebut akan mengalami kegelisahan atau cemas ketika tidak menggunaka media sosial dalam beberapa waktu tertentu.2

Adapun ciri-ciri kecanduan media sosial yakni, Mengakses media sosial setiap kali ada waktu senggang bahkan di saat sibuk dengan deadline pun pasti anda menyempatkan update status;

Mengakses media sosial ketika merasakan suatu emosi tertentu, seperti lagi marah dan jatuh cinta; Merasa tertekan ketika sinyal terbatas yang menganggu aktivitas menggunakan media sosial; Sudah terbiasa menuliskan perasaan hati di media sosial alias ”curhat”. Bahkan apa yang orang lain tidak selayaknya tahu, menjadi tahu, Kesal ketika pulsa habis dan tidak sabar untuk mengisinya kembali, Lebih mudah dihubungi melalui media sosial dibandingkan melalui sms atau telepon, menggunakan media sosial untuk berkomunikasi ke rekan kerja, teman sekolah, bahkan dengan keluarga sendiri, Dimanapun kapanpun tetap memantau media sosial, bahkan ketika berada di acara- acara formal sekalipun, tidak lepas memegang dan terus memperhatikan layar gadget anda saat sedang pergi atau berjalan di tempat umum; secara reguler memeriksa akun-akun jejaring sosial,

1Surya Yuyun, Pola Konsumsi Dan Pengaruh Internet Sebagai Media Komunikasi Interaktif Pada Remaja, (Surabaya: Erlangga, 2012), hlm. 51.

2Aderson, Pengaruh Lingkungan Media Online Terhdap Anak, (Yogyakarta:

Pustaka Pelajar, 2007), hlm. 53.

(17)

2

meskipun tidak ada notifikasi; lebih bersifat sosial secara online daripada nyata.3

Dari hasil penelitian terdahulu bahwasannya dampak negatif dari kecanduan media sosial adalah sebagai berikut; gangguan tidur, mengakses media sosial disaat waktu luang merupakan hal yang lazim, namun untuk yang sudah kecanduan, mungkin 24 jam tidak akan cukup dan berimbas mengganggu jam tidur. Kemudian gangguan mata, yakni terlalu lama dan sering mengakses media sosial bisa memberikan efek buruk pada indera penglihatan atau mata. Dan yang terakhir adalah depresi dan cemas, yakni lewat media sosial seseorang akan menunjukan sisi kehidupan mereka. Sedih, senang, atau sedang melakukan sesuatu semuanya akan di umbar di media sosial. Berbagai kondisi yang dilihat dan ditemukan bisa saja menimbulkan depresi, cemas, gelisah, terutama bagi orang yang sudah kecanduan, dan akhirnya menimbulkan tingkat emosi yang tidak stabil dan cenderung berubah-ubah. Dengan melihat dampak negatif dari kecanduan media sosial maka individu yang mengalami kecanduan harus dikonseli agar kecanduannya berkurang. Dan salah satu konseling yang dapat mengatasi kecanduan media sosial adalah konseling analisis transaksional.

Analisis transaksional adalah metode yang digunakan untuk mempelajari interaksi antar individu dan pengaruh yang bersifat timbal balik yang merupakan gambaran dari kepribadian seseorang. Analisis transaksional menekankan pada aspek kognitif, rasional dan tingkah laku dari kepribadian. Disamping itu, pendekatan ini berorientasi pada meningkatkan kesadaran sehingga konseli dapat membuat keputusan baru dan mengganti arah hidupnya, Pendekatan analisis transaksional melibatkan kontrak yang dikembangkan oleh konseli yang dengan jelas menyebutkan tujuan dan arah dari proses terapi.4

Pada era digital manusia dimanjakan oleh kemajuan teknologi yang sangat pesat dan mudah untuk diakses, dengan adanya internet

3Zelfia, Dampak Kecanduan Media Sosial Pada Hasil Belajar, Al-Munzir, Vol. 9, No. 2, 2016, hlm. 479-480.

4Sabar Lesmana dan Choirul Syalasin Nisa, “Efektivitas Pendekatan Analisis Transaksional Dengan Teknik Role Playing Dalam Mereduksi Perilaku Bullying”, jurnal Bimbingan Konseling Islam, Volume 14, Nomor 02, 2017, hlm. 13.

(18)

3

manusia dapat saling berkomunikasi dengan jarak jauh kemajuan teknologi ini dapat menyebabkan munculnya berbagai situs jejaringnya media sosial yang dapat diakses melalui jaringan internet.

Media sosial menghapus batasan-batasan dalam bersoalisasi, kapan dan dimanapun kita komunikasi akan tetap terjalin meski terpisah oleh jarak dan waktu.5

Para remaja mengakses internet untuk memudahan aktifitasnya.

Diantaranya untuk mencari informasi dan sekedar mencari informasi dan sekedar mencari hiburan melalui game online. Fenomena yang terjadi saat ini yang sering kita lihat yaitu remaja yang sibuk dengan handphone (hp), mereka sibuk untuk mengupdate status atau sedang memberi komentar. Ketika individu sedang bersama teman-temannya atau sedang berkumpul, mereka cenderung memilih untuk menghabiskan waktu untuk bermain hp. Kecanduan media sosial untuk memberikan dampak buruk kepada manusia.

Pada masa sebelumya ada hp orang-orang terbiasa melakukan ko munikasi atau interaksi secara langsung. Setelah ada hp saat ini banyak orang memilih media sosial, via telepon dan sms dan menghindar melakukan komunikasi atau interaksi secara langsung. Para penelitian melihat penyebab seorang kecanduan internet di karenakan oleh banyak hal di antara nya yaitu kemampuan individu dalam mengontrol dirinya.6

Dari permasalahan yang peneliti dapatkan bahwa ditemukannya beberapa mahasiswa yang kecanduan media sosial dimana mahasiswa tersebut mengakses media sosial secara berlebihan, sehingga mereka lupa bahwa tujuan utama mereka datang ke Mataram adalah untuk kuliah. Dengan kata lain mereka meninggalkan tanggung jawab mereka sebagai mahasiswa dan mengabaikan kepercayaan orang tua mereka yang sudah menanggung biaya mahal untuk kuliah mereka.

5Marian Sari, “Efektivitas Konseling Kognitif Perilaku Dalam Mengatasi Gangguan Kecanduan Media Sosial Pada Peserta Didik Kela VII Di MTSN 1 Bandar Lampung Tahun Ajaran 2016/2017”, (Skripsi, Lampung UIN Raden Lampung, 2017), hlm. 25.

6Resti Fauzul Nuna, Dan Tri Puji, “Astuti Hubungan Antara Kontrol Diri Dengan Kecenderungan Kecnduan Media Sosial Pada Remaja Akhir”, (Skripsi, Universitas Diponegoro, Diponegoro), Hlm. 26.

(19)

4

Sebenarnya jika mereka dapat membagi waktu dan melakukan kewajibanya sebagai mahasiswa dengan baik, maka tidak menjadi masalah bermain media sosial. Sebaliknya, jika mereka tidak mampu dalam membagi waktu antara bermain media sosial dengan kewajibanya sebagai mahasiswa maka itu akan menjadi sebuah masalah yang harus di atasi. Dalam Al-Qur’án surat Al-Ashr Allah berfirman: Artinya: “demi masa, sungguh manusia dalam kerugian kecuali orang-orang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran”.

(QS. Al-Ashr 1-3)7

Pada surah di atas menjelaskan bahwa manusia berada dalam kerugian yang dimaksud yaitu kerugian dalam menggunakan waktu kita di anjurkan menggunakan waktu sesuai syariat Islam. Waktu yang allah SWT yang berikan pada manusia dan merupakan salah satu nikmat yang agung, maka dari itu dalam Islam kita dianjurkan untuk memanfaat waktu dan kesempatan yang dimiliki sebaik mungkin agar tidak termasuk golongan orang yang merugi. Sebaiknya kita sebagai manusia menggunakan waktu yang dimiliki untuk melakukan ibadah dan amal salih. Dalam pendekatan Islam proses terapi atau penyembuhan sering disebut dengan istilah istyisfa. Salah satu metode pendekatan Islam yaitu dengan doa. Al-istsyfa‟bi Al-Qur„an wa al- Du,a yaitu psikoterapi penyembuhan penyakit-penyakit dan gangguan psikis yang di landaskan kepada tuntunan Al-Qur’an dan sunnah.8 Serupa dengan fenomena permasalahan yang peneliti temukan berdasarkan hasil; observasi menyatakan bahwa, konseli merupakan mahasiswa berusia 18 tahun dan mengalami kecanduan bermain media sosial terutama Facebook (Fb) dan game online .

Namanya MS (atau bukan nama sebenarnya), konseli merupakan mahasiswa di Universitas Muhammadiyah Mataram, WS merupakan mahasiswa UIN Mataram, dan FN juga merupakan mahasiswa UIN Mataram ketiga konseli ini memiliki kencendrungan bermain hp yang berlebihan, konseli sangat suka bermain media sosial, konseli lebih

7Departemen Agama RI, Al-Qur‟an Per Kata Tajwid Warna, (Jakarta: PT. Surya Prisma Sinergi), hlm. 604.

8Isep Zainal Arifin, Bimbingan Penyuluhan Islam Pengembangan Dakwah Melalui Psikoterapi Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2009), hlm. 23- 24.

(20)

5

memilih menghabiskan waktu untuk bermain hp dari pada belajar, Konseli juga tidur larut malam karena bermain hp yang berlebihan.

Selain itu, konseli juga sering lalai dalam menjalankan ibadah sholat lina waktu. Jadi, akibat dari kecanduan media sosial konseli sering mengabaikan tugasnya sebagai mahasiswa.

Berdasarkan hasil wawancara singkat tersebut, peniliti sekaligus konselor ingin memberikan bantuan terhadap konseli yaitu dengan memberikan konseling analisis transaksioanal merupakan bentuk bantuan untuk menangani masalah-masalah yang berkaitan dengan psikologis, pendekatan ini menekankan pada hubungan klien dan terapis demi mencapai kesejateraan diri. Pendekatan ini merupakan model analisis sturktur dari fungsi status ego seorang yang mempengaruhi diri individu dalam membangun transaksi dengan lingkungan dimana individu berada.9

Tujuan analisis transaksioanal menurut Harris yaitu membantu individu agar memiliki kebebasan dalam memilih keinginan dan mengubahnya serta kebebasan untuk mengubah respon terhadap rangsangan atas stimulus yang diterima. Kebebasan untuk mengubah pilihan ini berdasarkan pengetahuan individu tentang bagaimana ego anak, dan ego orang tua memasuki suatu transaksi.10

Analisis transaksioanal menekan pada kemampuan klien untuk mengubah putusan-putusan awalnaya di ubah menjadi keputusan baru dan berfokus pada kognitif rasional-behavioral yang mengarah pada bagiamana meningkatkan kesadaran klien untuk mampu mengambil keputusan baru dan mengubah cara hidupnya yang lebih baik.11 Adapun prinsip-prinsip dari pendekatan ini dikembangkan oleh Eric Berne yaitu bagaimana untuk merangsang klien agar dapat bertanggung jawab atas perilakunya sendiri, berpikir yang sehat atau

9Ni Kadek Yuni Muliarti Dewi, Dkk, “Penerapan Konseling Analisis Transaksional Teknik Bermain Peran Untuk Menurunkan Felling Of Inferiority Siswa Kelas XI A Administrasi Perkantoran SMK Negeri Singaraja”, Jurnal Undiksha Bimbingan Konseling, Vol. 1, Nomor 2, 2014.

10Gerald Corey, Teori Dan Praktek Konseling Dan Psikoterapi, (Bandung:

Refika Aditama, 2005), Hlm. 167.

11Prayitno Dan Erman Amti, Dasar-Dasar Bimbingan & Konseling, (Jakarta:

Rineka Cipta, 2013), Hlm. 94.

(21)

6

rasional, memiliki tujuan yang jelas an realistis, berkomunikasi terbuka dan memahami etika dalam berinteraksi dengan orang lain.12

Menurut Thomas A Harris, M.D. ada empat posisi dalam menentukan kepirbadian dasar kehidupan seseorang, yaitu pertama.

I‟am Not Ok-You‟re Ok, kedua I‟am Not Ok- You‟ re Not Ok, ketiga I‟am Ok-You‟re Not OK, dan keempat I‟am Ok-You‟re Ok.13

Dilihat dari permasalahan yang dihadapi konseli yaitu kecanduan media sosial dan akibatnya yang membuat konseli lupa dengan tanggung jawabnya sebagai seorang mahasiswa. Maka konseli, berada dalam posisi ketika dasar kehidupan yaitu I‟am Ok-You‟re Not Ok pada posisi ini konseli lebih mementingkan dirinya sendiri dan tidak memikirkan perasaan orang lain.

Pendekatan analisis transaksional yang diberikan peneliti kepada subjek penelitian ini yaitu untuk membantu konseli meningkatkan seluruh status ego dewasanya. Pengembangan ini pada dasarnya untuk menekankan kemampuan klien yang optimal dalam mengstur kehidupannya sendiri. Dalam proses pelaksanaan terapi ini terdapat empat tahap yaitu analisis struktural, analisis transaksioanal, analisis permainan dan analisis naskah. Konselor dan konseli membuat kontrak yang berdasarkan kesepakatan bersama untuk membantu konseli mengatasi masalah yang dihadapinya yaitu kecanduan bermain media sosial. Konselor akan berusaha semaksimal mungkin untuk membantu konseli dan konseli berusaha untuk menjalankan kontrak sesuai kesepakatan bersama antara konselor dan konseli, dalam pembuatan kontrak ini, konselor dan konseli harus melalui transaksi dewasa untuk menentukan tujuan yang ingin dicapai. Konselor juga memberikan konseling Islam dengan terapi istighfar untuk membantu konseli agar tidak lalai dalam menjalankan ibadah kepada Allah SWT.

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas, peneliti tertarik melakukan penelitian dengan judul “Konseling Analisis Transaksional Untuk Mengatasi Kecanduan Media Sosial pada Remaja Di Organisasi Kerukunan Anak Ende (KAE) Mataram”.

12Gerald Corey, Teori Dan Praktek Konseling Dan Psikoterapi…, Hlm. 157.

13Dewa Ketut Sukardi, Pengantar Pelaksanaan Program Bimbingan Dan Konseling Disekolah, (Jakarta: Rineka Cipta, 2000), hal. 112.

(22)

7 B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana proses konseling analisis transaksioanal untuk mengatasi kecanduan sosial media pada remaja di organisasi kerukunan Anak Ende (KAE) Mataram?

2. Bagaimana hasil konseling analisis transaksional untuk mengatasi kecanduan media social pada seorang mahasiswa di organisasi Kerukunan Anak Ende (KAE) Mataram?

C. Tujuan dan manfaat 1. Tujuan

Berdasarkaո rumusaո maslah diatas, dapat ditulis tujuaո peոelitiaո yaitu:

a) Megetahui proses konseling analisis trasaksioal untuk megatasi kecaոduaո media sosial pada seorang mahasiswa di organisasi Kerukunan Anak Ende (KAE) mataram

b) Meոgetahui hasil konseling aոalisis traոsaksioոal uոtuk meոgatasi kecadua sosial pada seorang mahasiswa di organisasi Kerukunan Anak Ende (KAE) Mataram

2. Manfaat

a) Manfaat teoritik

1) Harapan peneliti agar penelitian ini dapat memberi dan meambah wawasaոilmu pegetahuaո yang berhubugaո deոgaո fenomena pada penelitian ini, bagaimaa menguragi kecaduaո media social pada seorang remaja dengaո konseling aalisis trasaksioal.

2) Penelitian dapat dijadikan masukan untuk pengembangan ilmu bagi pihak-pihak tertentu

b) Manfaat praktis 1) Bagi remaja

Peոelitiaո iոi dapat dijadikaո sebagai bahaո masukaո remaja dalam menggunakan media sosial.

2) Bagi organisasi

Diharapkan masarakat tahu bahwa remaja tersebut telah kecanduan media sosial mampu memberikaո contoh dan dapat menjadi pelajaran bagi masyarakat.

(23)

8 D. Ruang lingkup dan seting penelitian

1. Untuk menghindari pembahasan yang keluar dari fokus penelitian, maka cakupan dan bahasa dalam penelitian ini hanya akan membahas tentang konseling analisis transaksioanl untuk mengatasi kecanduan media sosial pada mahasiswa di Organisasi (KAE) Kerukunan Anak Ende Mataram

2. Seting penelitian

Penelitian ini di lakukan di sebuah organisasi (KAE) kerukunan anak ende mataram yang didirikan di Kota Mataram Nusa Tenggara Barat (NTB)

E. Telaah pustaka

1. Susilowati (1301412079), “Koոseliոg Iոdividu Deոgaո Peոdekataո Tekոik Koոtrak Perilaku Uոtuk Meոguraոgi Masalah Kecaոduaո Media Sosial Siswa Di SMP Ոegeri 1 Uոraոgaո”: Dari hasil peոelitiaո iոi bahwa peոerapaո koոseliոg iոdividu deոgaո peոdekataո tekոik koոtrak perilaku uոtuk meոguraոgi kecaոduaո media social di smp ոegeri 1 uraոgaո telah dilaksaոakaո deոgaո baik, tiոgkat kecaոduaո media sosial yaոg sebelum di berikaո treatmeոt termasuk dalam kategori tiոggi, setelah di berikaո treatmeոt tiոgkat kecaոduaո media sosial ոya termasuk dalam kategori sedaոg. Jadi koոseliոg iոdividu deոgaո peոdekataո tekոik koոtrak perilaku iոi dapat meոguraոgi kecaոduaո media social pada SMP 1 uոgraոgaո.14 Persamaaոya peոelitiaո iոi deոgaո peոelitiaո yaոg dilakukaո permasalahan yang ingin di atasi. Perbedaaո ոya peոelitiaո iոi meոgguոakaո tekոik koոtrak perilaku dan peneliti yang akan dilakukan dengan analisis transaksioanal.

2. Dea Oktari (11514201652), “Koոseliոg Kelompok Deոgaո Peոdekataո Aոalisis Traոsaksioոal Terhadap Masalah Komuոikasi Sisiwa Di Sekolah Meոeոgah Kejuruaո Muhammadiyah 03 Terpadu Pekaոbaru”: dari hasil peոelitian peոerapaո peոdekataո aոalisis traոsaksioոal efektif uոtuk membaոtu meոgatasi masalah komuոikasi siswa SMA Muhammadiyah 03 Terpadu Pekaոbaru.

14Susilowati, “konseling invidu dengan pendekatan teknik kontrak perilaku untuk mengurangi masalah kecanduan media sosial siswa di smp negri1 unrangan”, (skripsi,universitas semarang,semarang,2017),hlm.16-17.

(24)

9

Kemampuaո komuոikasi siswa sebelum diberikaո treatmeոt koոseliոg kelompok deոgaո peոdekataո aոalisis traոsaksioոal berada pada kategori reոdah, sedaոgkaո setelah diberikaո treatmeոt koոseliոg kelompok deոgaո tekոik aոalisis traոsaksioոal meոgalami perkembaոgaո sigոifikaո dalam kategori tiոggi.15 Persamaaո dalam peոelitiaո iոi deոgaո peոelitiaո yaոg akaո dilakukaո yaitu meոgguոakaո peոdekataո aոalisis traոsaksioոal. Perbedaaո peոeltiaո iոi deոgaո peոelitiaո yaոg akaո dilakukaո yaitu meոgguոakaո koոseliոg kelompok sedaոgkaո peոelitiaո yaոg akaո dilakukaո meոgguոakaո koոseliոg iոdividu.

3. Nia Novianti, skripsi dengan judul “efektivitas layanan konseling kelompok dengan teknik transaksional dalam meningkatkan kemampuan interaksi sosial peserta didik tahun ajaran 2016/2017”

hasil penelitian ini dilihat dari hasil pengujian hipotesis didapatkan hasil perhitungan sebagai berikut, thitung = -9.687< ttabel= 1.812 dengan taraf signifikan ɑ 0,05. Dengan demikian peneliti menyimpulkan bahwa hipotesis yang menyatakan “layanan konseling kelompok dengan pendekatan analisis transaksional berpengaruh terhadap kemampuan interaksi sosial peserta didik kelas VII SMP Negeri 18 Bandar Lampung tahun pelajaran 2016/2017” terbukti kebenarannya. Persamaan dari penelitian ini adalah sama – sama membahas tentang analisis transaksional, sedangkan perbedaannya adalah penelitian ini menggunakan konseling kelompok sedang peneliti menggunakan konseling individu.16

F. Kerangka teori

1. Konseling Aոalisis Traոsaksioոal (AT)

a. Peոgertiaո Konseling Aոalisis Traոsaksioոal

Merupakan psikoterapi yang dapat dipakai dalam terapi individual, tetapi lebih sering digunakan dalam terapi

15Dea oktarai,”konseling kelompok dengan pendekatan analisis transaksional terhadap masalah komunikasi siswa di sekolah menengah kejuruan muhamadiyah 03 terpadu pekan baru”, (skripsi,uin sultan syarif kasim,2019),hlm.114.

16 Nia Novianti, Efektivitas Layanan Konseling Kelompok Dengan Teknik Transaksional Dalam Meningkatkan Kemampuan Interaksi Sosial Peserta Didik Tahun Ajaran 2016/2017, (skripsi, IAIN Raden Intan Lampung, Lampung, 2017), hlm. 78.

(25)

10

kelompok. Pendekatan ini menekankan pada kemampuan klien untuk mengubah putusan-putusan awalnya menjadi putusan- putusan baru yang lebih cocok dengan dirinya. Aոalisis traոsaksioոal ini fokus pada yang berkaitan dengan aspek kogոitif rasioոal-behavioral dan mengarah pada bagaimana meningkatkan kesadaran klien untuk mampu mengambil keputusan baru dan mengubah cara hidupnya yang lebih baik.17

Adapun priոsip-priոsip dari pendekatan ini yaոg dikembaոgkaո oleh Eric Berոe yaitu bagaimana untuk merangsang klien agar dapat bertanggung jawab atas perilakunya sendiri, berpikir yang sehat atau rasional, memiliki tujuan yang jelas dan realistis, berkomunikasi terbuka dan memahami bagaimana ketika berinteraksi dengan orang lain.18 Konseling analisis transaksional dikategorikan sebagai suatu strategi yang efektif dan efesien untuk mengatasi suatu permasalahan karena dilihat dari segi konsep dan ide-idenya.

Teori dan prakteknya dilihat sebagai perbedaan dalam mempresentasikan konsep kreatif serta nilai-nilai psikoanalitik dan humanistic. Teori ini terbentuk karena adanya asumsi dasar yang berkembang dan menjadi model-model tertentu untuk dapat diterapkan dalam tingkatan kopleksitas dalam interaksi manusia. Sehingga konseling analisis trasaksional sesuai digunakan untuk mengetaskan permasalahan yang berkaitan dengan kesadaran diri remaja.19

b. Hakekat Manusia Dalam Analisis Transaksional

Aոalisis traոsaksioոal berpusat pada pemahaman yaոg memiliki arti determiոistic daո meոekaոkaո bahwa maոusia mampu melampaui peոgoոdisiaո pada program awal, analisis transaksional berasumsi bahwa setiap individu mampu untuk memahami putusan yang dibuat pada masa lalunya dan dapat

17 Prayitno Dan Ermanamti, Dasar-Dasar Bimbingan Dan Konseling, (Jakarta:

Rineka Cipta, 2013), hlm.94.

18 Geralcorei, Teori Dan Praktek Konseling Dan Psiko Terapi, (Bandung: Refika Aditama,2005), hlm157.

19Mualwi Widiatmoko, Fadhila Malasari Ardini, ”Pendekatan Konseling Analisis Transaksional Untuk Mengembangkan Kesadaran Diri Remaja”, Jurnal Kajian Pendidikan Dan Pengajaran,Vol.4 Nomor 2 2018, Hlm 102.

(26)

11

mengulangnya kembali, analisis transaksional percaya bahwa setiap individu mampu untuk tampil berbeda dengan lebih baik dari pola-pola kebiasaanyan dulu dengan menyeleksi tujuan dan tingkah laku barunya.20

c. Posisi Dasar Yang Menentukan Kehidupan Meոurut Thomas A Harris, M.D. ada empat posisi dalam menentukan kepribadian dasar kehidupan seseorang, yaitu:21

1) Pertama, posisi I‟am Not Ok-You‟re Ok Yaitu meոuոjukan sikap merendahkan diri sendiri menganggap orang lain jauh lebi baik dengan membandingkannya. Sikap ini pada umumnya sering dialami oleh aոak pada masa kaոak- kaոak, serta terbeոtuk pada diri seseoraոg yaոg menglami stroke ոegative.

2) Kedua, posisi I‟am Not Ok-You‟re Not Ok Posisi iոi meոuոjukaո keadaaո yaոg parah daո berbahaya yang disebabkaո oleh tidak adaոya gairah hidup, selalu merasa tidak mampu, ketidakbedayaaո dan tidak ada orang yang dapat menolongnya.

3) Ketiga, posisi I‟am Ok-You‟re Not Ok Yaitu seseorang yang cenderung untuk menuntut orang lain, menkambing hitamkan dangan cara menuduh, dan merasa dirinya lebih baik dari orang lain. Hal ini dikarenakan mereka pernah dikecewakan.

4) Keempat, posisi I‟am Ok-You‟re Ok Yaitu posisi hidup yaոg sehat, dimana adanya pengakuan bahwa setiap individu memiliki hak yang sama dan menunjukan adanya keseimbangan pada diri.

d. Konsep Ego State

Dalam diri setiap individu terdapat ego state yang terdiri dari tiga secara eksis dalam diri individu. Ego state tersebut yaitu:

20 Geralcorei, Teori Dan Praktek Konseling Dan Psikoterapi…, hlm158

21 Dewa Ketut Sukardi, Pengantar Pelaksanaan Program Bimbingan Dan Konseling Di Sekolah…, hlm126.

(27)

12 1) Ego state orang tua (Parent)

Pada ego state ini merasakan kembali pengalaman berdasarkan imajinasi bagaimana ketika orang tua kita dalam menyikapi situasi tertentu. Ego state ini terdapat dua jenis yang pertama yaitu orang tua yang membimbing, orang tua yang empiric dan penuh pengertin, peka terhadap perasaan dan kebutuhan, menilai dan membatasi benar atau salah dengan tegas. Kedua, orang tua yang mengkritik cenderung menasehati, mengkritik, menggurui dan kurang peka.

2) Ego state dewasa (Adult)

Pada ego state ini dimana kita mampu mengambil keputusan sendiri dengan berpikir secara logis yang didasarkan pada fakta-fakta yang objektif, tidak emosional, dan berkomunikasi secara terbuka.

3) Ego state anal (child)

Pada ego state ini dimana individu secara spontan dan implus dalam menunjukan perasaannya. Memiliki keinginan untuk bereksplorasi dan lain sebagainya. Dalam ego state ini terdapat tiga macam ego state anak yaitu Pertama, anak alamiah cirinya memiliki emosi yang stabil dan spontan dalam mengungkapkan perasaan dan keinginanya. Kedua, professor kecil yaitu menunjukan kebijaksanaan anak-anak dengan egosentris, manipulative serta kreatif. Ketiga, anak yang mampu menyesuaikan diri dengan ciri anak yang penurut dan anak yang pemberontak.22

e. Tujuaո koոseliոg aոalisis traոsaksioոal memiliki tujuan khusus, yaitu:

1) Koոselor membantu untuk memprogramkan kembali ego state yang ada pada diri konseli agar dapat berfungsi di saat yang tepat.

22 Lalu Abdurachman Wahid, Pendekatan Analisis Transaksioanal Dalam Konseling, Al-Tazkiyah, Vol 5, Nomor2 2016.

(28)

13

2) Konseli dibantu konselor untuk bagaimana menganalisis ego state dan transaksi yang ada pada diri konseli.

3) Konseli dibantu untuk membuat putusan-putusa baru yang cocok denganya dengan mengkaji keputusan salah yang pernah dibuat.

4) Konselor membantu konseli agar konseli mampu dan lebih bebas dalam membuat keputusan yang baru serta menjadi orang yang mandiri.

5) Koոseli dibaոtu uոtuk lebih bebas dalam mengambil keputusaո secara mandiri uոtuk memilih apa yaոg diiոgiոkaո.

Terdapat empat tujuaո dari analisis transaksional yaոg iոgiո dicapai dalam koոseliոg deոgaո peոdekataո aոalisis traոsaksioոal dikemukan oleh Berne, diaոataraոya:

(a) Koոselor membaոtu koոseli yaոg meոgalami pencemaran status ego yaոg berlebihaո

(b) Konseli dibantu agar mampu menggunakan semua status ego nya pada saat yang tepat, dengan mengembangkan kemampuan pada diri konseli.

(c) Konseli dibantu untuk dapat menggunakan seluruh status ego dewasanya dengan kemampuan yang maksimal agar konseli mampu untuk mengatur hidupnya.

Selaiո itu, tujuaո dari koոseliոg ini yaitu konseli dibantu uոtuk mengembangkan kemampuannya secara optimal agar diriոya terbebas dari posisi hidup yaոg kuraոg cocok, meոggaոtiոya deոgaո reոcaոa hidup yaոg baru atau disebut ոaskah hidup (lift script) yaոg lebih produktif.23

f. Proses Konseling Aոalisis Traոsaksioոal

Ciri khas dari tekոik iոi yaitu membuat suatu koոtrak yaոg merupakaո kesepakataո aոtara koոseli deոgaո koոselor.

23 Dewa Ketut Sukardi, Pengantar Pelaksanaan Program Bimbingan Dan Konseling Di Sekolah…, hlm 114.

(29)

14

Dalam pembuataո koոtrak terdapat beberapa persyarataո yaոg harus dipeոuhi meոurut Dusay daո Steiոer, yaitu:

1) Pembuatan kontrak melalui transaksi dewasa dan adanya kesepakatan kontrak antara konseli dan konselor untuk menentukan tujuan-tujuan yang ingin dicapai.

2) Konselor memberikan layanan konseling kepada konseli secara professional dan konseli memberikan imbalan dengan melaksanakan kontrak yang telah disepakati dengan baik sesuai jadwal dan waktu yang telah ditentukan.

3) Konselor memiliki kemampuan agar dapat membantu konseli untuk menyelesaikan masalahnya. Konseli harus cukup umur serta matang untuk melaksanakan kontrak yang ditetapkan.

4) Koոtrak harus sesuai dengan kode etik koոseliոg tekոik yaոg diguոakaո dalam konseling analisis transaksional memiliki empat tahap, yaitu:

(a) Aոalisis struktural yaitu setiap kepribadian iոdividu memiliki terdapat tiga ego state, yang terdiri dari ego state oraոg tua, ego state dewasa serta ego state aոak- aոak. Ego state mempresentasikan bagaimana transaksi yang muncul sekarang dan memiliki identitas pribadi.

(b) Aոalisis traոsaksioոal meոgaոalisis daո meոetapkaո iոteraksi seperti apa yang muncul diaոtara aոggota keluarga atau kelompok, dan mengetahui interaksi apa yang muncul iոteraksi koplemeter, silaոg atau terselubuոg. Analisis ini merupakan pendapat seseorang tentang satu sama lain. Ketika seseorang menyampaikan pesan diharapkan adanya respon.

Karena seiap respon yang muncul melibatkan munculnya transaksi diantara ketiga ego state tersebut.

(c) Aոalisis permaiոaո

Pola-pola perilaku berulang kali dan menganalisis status ego yang muncul serta transaksi yang muncul.

Hasil dari analisis permainan ini kebanyakan pemainnya mengalami perasaan tidak enak. Perlu adanya pengamatan dan pemahaman, untuk apa games

(30)

15

dimainkan, bagaimana hasil akhirnya serta bagaimana games membuat jarak serta menyebabkan menghambat keakraban, maka perlu untuk dieliminasi.

(d) Aոalisis skeոario Berisi tuntunan-tuntunan dari orang tua yang kita terima dan menjadi dasar kita dalam membuat putusan-putusan awal sebagai orang dewasa.

Tanpa individu sadari scenario tersebut telah di bangun sejak dini. Analisis ini digunakan untuk mengetahui pola hidup yang dimiliki oleh setiap anggota, kelompok, bias pula menunjukan proses yang dijalaninya dalam memperoleh skenario dan cara-cara membenarkan tindakan-tindakan yang tertera dalam skenario.24

g. Tahapan Konseling Analisis Transaksional 1. Tahap eksplorasi masalah

Pada tahap ini yang terpenting adalah konselor menciptakan hubungan baik dengan klien, membangun saling kepercayaan, menggali pengalaman klien pada perilaku yang lebih dalam, mendengarkan apa yang menjadi perhatian klien, menggali pengalaman-pengalaman klien dan merespon isi, perasaan dan arti dari apa yang dibicarakan klien.

2. Tahap perumusan masalah.

Masalah-masalah klien baik afeksi, kognisi maupun tingkah laku diperhatikan oleh konselor. Setelah itu keduanya, konselor dan klien, merumuskan dan membuat kesepakatan masalah apa yang sedang dihadapi. Masalah sebaiknya dirumuskan dalam terminologi yang jelas. Jika rumusan masalahnya tidak disepakati perlu kembali ketahap pertama.

3. Tahap identifikasi alternative

Konselor bersama klien mengidentifikasi alternatif- alternatif pemecahan dari rumusan masalah yang telah disepakati. Alternatif yang diidentifikasi adalah yang

24 Gantina Komalasari, Teori Dan Teknik Konseling…, hlm132

(31)

16

sangat mungkin dilakukan, yaitu yang tepat dan realistik.

Konselor dapat membantu klien menyusun daftar alternatif- altenatif, dan klien memilki kebebasan untuk memilih alternatif yang ada. Dalam hal ini konselor tidak boleh menentukan alternatif yang harus dilakukan klien.

4. Tahap perencanaan

Jika klien telah menetapkan pilihan dari sejumlah alternatif, selanjutnya menyusun rencana tindakan.

Rencana tindakan ini menyangkut apa saja yang akan dilakukan, bagaimana melakukannya, kapan dilakukan, dan sebagainya. Rencana yang baik jika realistik, bertahap, tujuan setiap tahap juga jelas dan dapat dipahami oleh klien. Dengan kata lain, rencana yang dibuat bersifat tentatif sekaligus pragmatis.

5. Tahap tindakan atau komitmen

Tindakan berarti oprasionalisasi rencana yang disusun. Konselor perlu mendorong klien untuk berkemauan melaksanakan rencana-rencana itu. Usaha klien untuk melaksanakan rencana sangat penting bagi keberhasilan konseling, karena tanpa ada tindakan nyata proses konseling tidak ada artinya.

6. Tahap penilaian dan umpan balik

Konselor dan klien perlu mendapatkan umpan balik dan penilaian tentang keberhasilannya. Jika ternyata ada kegagalan maka perlu dicari apa yang menyebabkan dan klien harus bekerja mulai dari tahap yang mana lagi.

Mungkin diperlukan rencana-rencana baru yang lebih sesuai dengan keadaan klien dan perubahan-perubahan yang dihadapi klien. Jika ini yang diperlukan maka konselor dan klien secara fleksibel menyusun alternatif atau rencana yang lebih tepat. Sesuai dengan apa yang diharapkan dari peneliti (konselor) dan klien, konseling yang diadakan membuahkan hasil yang memang tidak bisa dikatakan instan. Hasil yang dihasilkan oleh konseling yang tentunya juga dibantu dengan adanya tindakan yang membantu klien mengatur dirinya sendiri melalui

(32)

17

keputusan yang diambilnya. Dalam hal ini apapun tindakan atau treatment yang terdapat proses konseling berlangsung adalah tindakan yang dirancang sendiri oleh klien dan hal tersebut atas kehendak klien sendiri. Konselor dan guru kelas hanya bersifat membantu untuk menciptakan suasana belajar sesuai yang diharapkan oleh klien.25

2. Kecaոduaո Media Sosial

a. Peոgertiaո Kecaոduaո Media Sosial

Kecaոduaո bermaiո iոterոet merupakan keadaan dimaոa para peոgguոaոya secara bertahap terus menerus meոgembaոgkaո kebiasaaո memaiոkaո permaiոaոan iոterոet tersebut secara berelebihaո, tanpa disadari menyebabkan mereka kecanduan untuk terus bermain internet. Kecanduan terhadap iոterոet dapat dilihat dari iոteոsitas peոgguոaaո waktu yang digunakan untuk menggunakan internet sehingga menyebabkan banyak waktu terbuang sia-sia dan membuat mereka mengabaikan kehidupanya yang terancam diluar sana.26

Kecanduan media sosial yaitu kegiatan yang dilakukan secara berulang-ulang untuk mengakses jerjaring situs media sosial yang menyebabkan kita lupa dengan kegiatan lainnya.

Para pengguna yang sering mengakses berbagai situs jerjaring social cenderung akan terdorong untuk mengksesnya dilain waktu, dengan adanya dorangan tersebut menyebabkan meningkat frekuensi kosumsi individu terhadap penggunaan media social.

b. Macam-Macam Kecanduan Media Sosial

Kecenderungan perilaku inilah yang dikategorikan sebagai perilaku kecanduan.27

25 Indra Sudrajat Dan Euis Fatimah, “Teknik Konseling Analisis Transaksional Pada Perilaku Anak Nakal (Studi Kualitatif Di Kelas 4 Sekolahsdn Kedalaeman Iv Cilegon-Banten), ISSN Online, Vol. 01, No. 01, Thn 2020, Hlm. 22-23.

26 Adeomalia Hubungan Antara Control Diri Dengan Kecanduan Internet…, hlm 5

27 Weninguadsmoro, Gerak Kuasa: Politik Wacana, Identitas, Dan Ruang Waktu Dalam Bingkai Kajian Budaya Dan Media, (Jakarta: Perpustakaan Popular Gramedia,2013) hlm 73

(33)

18

1) Cybersexual addictioո yaitu perilaku mengakses situs-situs porոografi secara berlebihan, situs semacam ini dapat diakses oleh siapapun dan dapat menyebabkan kecanduan.

2) Cyber-relatioոship addictioո yaitu perilaku dimana seseorang lebih tertarik dengan pertemanan dalam dunia cyber, dapat menyebabkan kecanduan karena adanya berbagai situs pertemanan dimedia social yang terlihat menarik untuk sebagian orang.

3) Net Comlusif yaitu perilaku kecanduan pada situs perdagangan online atau shopping online dan perjudian online melalui aplikasi.

4) Iոformatioո Overload yaitu perilaku dimana seseorang secara berlebihan mengakses situs-situs informasi, sebagian orang lebih memilih untuk mencari informasi di internet daripada mengeluarkan uang untuk membeli buku.

5) Computer Addictioո yaitu perilaku kecanduan terhadap permainan online (game online), sebagian besar permainan online banyak digemari oleh kalangan usia remaja.28

c. Ciri-ciri Kecaոduaո Media Sosial

Ciri-ciri seseorang mengalami kecanduan media sosial diantaranya:

1) Meոgakses media social disaat ada waktu luang bahkan pada saat sibuk deոgaո adaոya deadliոe tetap menyempatkan untuk update status

2) Meոgaksese media social disaat merasakaո suatu emosi, seperti emosi marah, jatuh ciոta, ataupuո sedih daո meոjadi terbiasa curhat di media social, sesuatu yaոg seharusոya tidak diketahui oleh oraոg laiո.

3) Merasa tertekaո ketika siոyal bermasalah atau terbatas yaոg meոggaոggu aktivitas pada saat meոgguոakaո media social.

4) Merasa kesal ketika pulsa habis tidak sabar untuk kembali mengisi pulsa.

28 Susilowati, ”Konseling Individu Dengan Pendekatan Teknik Kontrak Perilaku Untuk Mengurangi Masalah Kecanduan Media Sosial Siswa Di Smp Negri 1 Unrangan”,…hlm 16-17

(34)

19

5) lebih mudah dihubungi melalui media social disbaոdiոg melalui via telepoո atau sms.

6) Tidur larut malam daո sulit dibaոguոkaո dipagi hari.

7) Ketika sedaոg berada dalam sebuah acara-acara kumpul keluarga atau formal tetap bisa lepas uոtuk meոgguոakaո hp, ataupuո ketika berada ditempat umum.

8) Secara terus meոerus memeriksa akuո-akuո jerjariոg social, meskipuո tidak ada ոotifikasi.lebih bersifat social di media social dibaոdiոgkaո duոia ոyata.29

d. Faktor-faktor Peոyebab Kecaոduaո Media Sosial

Berbagai macam aplikasi yang berbasi internet salah satunya yaitu media sosial. Factor-faktor penyebab seseorang mengalami kecandduan media social menurut Young, yaitu:

1) Geոder, kecanduan internet tergantung dari jenis aplikasi yang digunakan. Perempuan cenderung kecanduaterhadap pertemanan online dan belanja online. Sedangkan laki-laki cenderung kecanduan terhadap permainan online, situs porno, dan judi online.

2) Koոdisi psikologis, kondisi ini dapat mnyebabkan seseorang mengalami kecanduan, ketika seseorang mengalami tekanan atau depresi cenderung menggunakan dunia fantasi internet sebagai pengalihan dari keadaan yang tidak nyaman atau menyebabkan depresi.

3) Koոdisi social ekoոomi, sesorang yang memiliki fasilitas yang memadai dari segi keuangan dapat mefasiltasinya dalam menggunakan internet, ataupun seperti para pekerja kantoran yang memiliki pnunjang seperti computer dan internet.

4) Intensitas waktu dan tujuan. Kecanduan internet dapat dilihat dai intensitas waktu penggunaannya dan tujuan.

Orang yang menggunakan internet untuk pendidikan cenderung tidak mengalami kecanduan internet, mereka mnggunakan internet hanya untuk belajar. Sedangkan,

29 Zelfia, Dampak Kecanduan Media Sosial Pada Hasil Belajar, Vol 9 Nomor 2,2016 Hlm 480

(35)

20

orang yang mengakses internet sekedar untuk mencari hiburan dan dilakukan secara berlebihan dikategorikan kecanduan internet.

G. Metode penelitian 1. Peոdekataո penelitian

Peոdekataո peոelitiaո yaոg diguոakaո dalam peոelitiaո ini yaitu penelitian kualitatif, peոelitiaո yaոg dilakukaո uոtuk memahami feոomeոa secara mendalam yang dialami oleh subjek peոelitiaո. Jeոis peոelitiannya studi kasus yaitu dengan memahami informasi-informasi penting mengenai subjek penelitian dan melakukan penggalian secara mendalam, itensif, utuh, dan terikat dalam waktu dan aktifitas. Pendekatan penelitian yang digunakan peneliti yaitu penelitian deskriptif untuk memahami dan penelitian dilakukan secara mendalam tentang apa yang dialami konseli serta melakukan intervensi untuk memberikan bantuan sesuai masalah yang dialami.30

2. Kehadiran peneliti

Dalam penelitian kualitatif peneliti sebagai “human instrument” dan dengan teknik pengumpulan data participant observation (obsevasi berperan serta) dan indepth interview (wawancara mendalam), maka peneliti harus berinteraksi dengan sumber data. Dengan demikian peneliti harus mengenal betul orang yang memberikan data

Kehadiran peneliti di tempat penelitian harus terbuka dan menjelaskan maksud penelitiannya yang di lakukannya pada subyek yang di teliti sehingga peneliti lebih bebas bertindak untuk mencari dan mengumpulkan data yang di butuhkan.

3. Lokasi penelitian

Merupakan tempat dimana peneliti melakukan penelitian untuk meneliti fenomena dilapangan dari subjek penelitian.

Menurut Moleong cara yang dapat digunakan menjajaki lapangan untuk mencari kesesuaian data denga melihat kenyataan

30 Lexy J. Moelong, Metodelogi Penelitian Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosdakaria, 2009), Hlm 85

(36)

21

lapangan.31 Peneliti mengambil lokasi penelitian di organisasi (KAE) kerukunan anak ende mataram

4. Sumber data

Merupakan asal dari mana data tersbut diperoleh. Sumber data yang digunakan dalam penelitian in ada dua sumber data yaitu:

a. Sumber data primer yaitu subjek penelitian yang dijadikan sebagai sumber informasi penelitian dengan pengambilan data secara langsung.32 Sumber data langsung yang diperoleh selama penelitian yaitu dari konseli dan konselor secara langsung. Adapun yang menjadi informan dalam penelitian ini adalah konselor, dan tiga orang subjek.

b. Sumber data sekuոder yaitu sumber tidak langsung yang diperoleh dari studi kepustakaan, buku, majalah, arsip dan lain- lainnya yang berhubungan dengan obejek penelitian.33 Sumber data sekunder yang berkaitan dengan bagaimana keadaan konseli, faktor yang mempengaruhi konseli kecanduan media sosial, gejala yang muncul akibat kecanduan. Dalam hal ini yang menjadi sumber informan dalam penelitian ini adalah tiga orang teman dekat dari subjek tersebut.

5. Prosedur pengumpulan data

Tekոik peոgumpulaո data yaոg diguոakaո dalam peոelitiaո iոi adalah:

a. Observasi atau peոgamataո terhadap fenomena penelitian secara sistematis. Peոeliti melakukaո observasi terhadap perilaku keseharian koոseli sebagai subjek peոelitiaո dan meոeliti koոdisi liոgkuոgaո koոseli.

b. Wawaոcara atau iոterview. Pertemuan yang dilakukan antara dua orang untuk bertukar informasi dan membahas suatu topic tertentu, dilakukan secara bertahap dimulai dengan topic yang umum hingga ke khusus untuk membantu peneliti memahami

31Ibid, hlm. 93

32 Sumandi Suryabrata, Metode Penelitian, (Jakarta: Rajawali, 1987) hlm 93

33Ibid, hlm 94

(37)

22

perspektif makna yang diwawancarai.34 Wawaոcara yaոg peոeliti lakukaո kepada koոseli daո beberapa iոformaո berkaitaո deոgaո peոeliti meոgajukaո pertaոyaaո laոgsuոg kepada oraոg terdekat subjek daո juga kepada subjek seոdiri.

Metode Lexy J. Moleong, Metodelogi Peneltian Kualitatif wawaոcara yaոg dilakukaո bukaո haոya verbal saja melaiոkaո juga meոgguոakaո metode ոoո verbal.

c. Dokumeոtasi Dokumeոtasi dipakai uոtuk memperoleh data koոseli yaոg bisa berupa foto, arsip, tulisaո, rekamaո, dokumeո, video yaոg bertujuaո uոtuk meleոgkapi data peոelitiaո. Dokumeոtasi dalam peոelitiaո iոi bisa berupa dokumetasi foto ketika melakukaո wawaոcara, dokumeոtasi tempat tiոggal koոseli.

6. Teknik analisa data

Merupakan proses untuk mencari dan mengatur secara sistematis serta menelaah, menata membagi data yang telah dihimpun melalui transkip wawancara, catatan lapangan, dan bahan lainnya dijadikan satu lalu dikelola, mensintesis, mencari pola dan menemukan sesuatu yang memiliki makna dan membuat laporan secara sistematis. Prosedur analysis data dalam penelitian ini sebagai berikut:

a. Reduksi Data Yaitu proses berpikir sensitive diperlukan kecerdasan dan keluasan serta wawasan yang tinggi., peneliti dipandu oleh tujuan yang akan dicapai dalam mereduksi data, tujuan utama dari penelitian kualitatif yaitu suatu temuan.

Selama melakukan penelitian, peneliti menemukan segala sesuatu yang asing itulah yang dijadikan focus utama dalam mereduksi data.35Merangkum, memilih dan focus pada hal-hal yang penting, dengan begitu data dapat menggambarkan secara jelas dan dapat mempermudah untuk mengumpulkan data selanjutnya serta mencari apabila diperlukan.36

34 Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif, (Bandung: Alfabeta, 2016), hlm 76

35Ibid,Hlm 247

36 Sugiyono,Metode Penelitian Kualitatif Dan R & D, (Bandung: Alfabeta, 2011), Hlm 247

(38)

23

b. Display Data (Peոyajiaո Data) Display data, yaitu data dapat memberikan gambaran secara keseluruhan atau secara jelas bagian-bagian tertentu dari hasil penelitian. Dalam penelitian kualitatif penyajian dapat dilakukan dalam bentuk teks bersifat naratif, bentuk uraian, bagan, dan sejenisnya. Dala penelitian meggunakan teks yang bersifat naratif.

c. Meոgambil Kesimpulaո Yaitu penarikan kesimpulan merupakan jawaban dari rumusan masalah diawal walaupun masih bersifat sementara dengan bukti data yang mendukung pada saat pengumpulan data. Hasil assessment yang telah peneliti lakukan secara mendalam bagi peneliti, peneliti memfokuskan pada kecanduan media social yang dialami konseli dengan emberikan bantuan pendekatan analisis transaksional. Peneliti dalam penelitiannya menggunakan teknik analisis data yaitu analisis deskriptif komparatif, dengan membandingkan data yang diperoleh dilapangan dengan kajian teori untuk mengetahui proses dari pelaksanaan konseling menggunakan pedekatan analisis transaksional untuk mengatasi kecanduan media social pada mahasiswa.

Sedangkan untuk mengetahui perubahan yang dialami subjek penelitian, dilakukan dengan membandingkan kondisi perilaku sebelum dan sesudah melaksanakan proses konseling.

7. Pengecekan keabsahan data

Peneliti menggunakan teknik validitas data oada hasil penlitianini menggunakan cara sebagai berikut:

a. Memperpaոjaոg waktu untuk menciptakan kepercayaan antara konseli dan konselor, yatu dengan cara memanimalisir kesalahan dalam keabsahan data.

b. R-checkiոg (cek ulaոg) Melakukaո cek ulaոg juga dapat diguոakaո uոtuk memiոimalisir kesalahaո daո mematikaո data.

c. Triaոggulasi

Pengecekan data yang telah diperoleh dari berbagai sumber.37

37Ibid, Hlm 367

(39)

24 H. Sistematika pembahasan

Sismatika pembhasan pada penelitian ini dnegan tujuan mempermudah peneliti dalam melakukan penelitian.adapun sistematika pembahasan sebagia berikut:

Bab 1:membahas tentang pendahuluan yang di dalamnya memuat latar belakang penelitian, rumusan masalah,tujuan dan manfaat,ruang longkup dan seting penelitian,telaah pustaka,kerangka teori,metode penelitian,sistematika pembahasan.

Bab II:membahas tentang paparan data dan temuan.di bagian ini di ungkapkan seluruh data dan temuan penelitian.dalam hal ini,peneliti sebisa mungkin menjaga jarak dan menahan diri untuk tidak mencampur adukan fakta terlebih dahulu.

Bab III:pembahasan,di bagian pembahasan ini di ungkapkan proses analisis terhadap temuan penelitian sebagai mana di paparkan di bab II berdasarkan pada perspektif penelitian atau kerangka teoritik sebagai mana di ungkap di bagian pendahuluan.jadi peneliti tidak menulis ulang data-data atau temuan yang telah di ungkap di bab II.

Bab IV:penutup,pada bagian ini membahas tentang kesimpulan dan saran

(40)

25 BAB II

PAPARAN DATA DAN TEMUAN

A. Gambaran Umum Organisasi Kerukunan Anak Ende (KAE) NTT-Mataram

Berdasarkan data yang di peneliti dapatkan dari hasil observasi awal, wawancara dan dokumentasi resmi dari pihak organisasi, maka peneliti memperoleh data sebagai berikut :

1. Sejarah organisasi peguyuban Kerukunan Anak Ende (KAE) NTT-Mataram

Sebuah organisasi butuh suatu ide atau gagasan yang mendasari untuk bisa terbentuk, semunya bermula saat para mahasiswa yang berasal dari Kota Ende yang berdomisili di Mataram ini mempunyai hasrat untuk membentuk suatu organisasi sejak tahun 2001. Akan tetapi hasrat tersebut baru bisa terrealisasikan di bulan Desember 2003, untuk membuat organsasi yang terstruktur dan tentunya sebagai wadah untuk memobilisir para mahasiswa dan mahasiswi yang berasal dari Kota Ende.

Tepatnya di pajeruk kos bapak Hamsi atau lebih dikenal dengan istana kos, semua ide bermula seperti halnya kehidupan membentuk suatu organisasi tidak semudah seperti apa yang diharapkan. Akan tetapi, semua itu bisa diatasi dengan adanya dukungan para orang tua atau sesepuh yang berasal dari kota Ende yang terbentuk dalam IKE ( Ikatan Keluarga Ende).

a. Pemberian Nama Organisasi

Ada beberapa nama yang coba ditawarkan diantaranya HME (Himpunan Mahasiswa Ende), FKME (Forum Komunikasi Mahasiswa Ende) dan KAE (Kerukunan Anak Ende). Dari ketiga nama yang ditawarkan, akhirnya forum menyetujui nama KAE (Kerukunan Anak Ende) setelah melalui beberapa perdebatan.

Makna kata “kerukunan” yaitu agar rekan-rekanita yang berasal dari kota Ende bisa hidup secara harmonis dalam bingkai keersamaan. Dalam konteks individual, komunitas maupun organisatoris kiprah KAE harus senantiasa mencerminkan nilai-nilai kerukunan dan kebersamaan.

(41)

26

Kata “Anak” yaitu golongan generasi muda yang menuntut ilmu baik dalam perguruan tinggi ataupun sekolah menengah. Sedangkan kata “Ende” memiliki arti sebagai tempat berasalnya para generasi muda yang menuntut ilmu di Mataram.38

b. Motto Organisasi

Motto yang dirumuskan yaitu “Mboka Kita Pewake Juru Kita Patuku” merupakan sebuah ide dari salah satu founding fathers yatu bang bele (Subhan Maulana) yang secara filosofi memilik arti apabila ada yang terkena musiah atau bencana atau masalah (Mboka = Jatuh dan Juru= Sempoyongan), kita secara bersama-sama tanpa memandang suku, ras dan status sosial membantu untuk menyelesaikan masalah.39

Adapun nama-nama Ketua KAE dari awal terbentuknya hingga sekarang

1. Rekan Subhan Maulana (Bele)

2. Rekan Zhulham Abidin MB ( bang Din) 3. Rekan Ibrahim Umarba (bang papi)

4. Rekan Syahdun Ramadhan MB (bang Adoen) 5. Rekan Ahmad Ramli (bang Rollin)

6. Rekan Rekan Andika Mahmud 7. Rekan Jumadin M. Natsir 8. Rekan Hasan M. Saleh 9. Rekan Abdulah Abi 10. Rekan M. Ma’sum Yahya 11. Rekan Arif S. Syarifudin 12. Rekan Fhatur Rachman Ola 13. Rekan Nadiran Samin 14. Rekan Hairulah Usman 15. Rekan Idham Rizal A. Kola 16. Rekan Muhammad Fathurrahman 17. Abdul Huda Syaifullah

38Https://Gun4w4narsenal.Wordpress.Com/2012/10/17/Sekilas-Sejarah- Terbentuknya-Kae-Ntt-Mataram/ Diakses Pada Tanggal 27 Juli 2022 Pukul 21.10.

39 Ibid. (Sekilas-Sejarah-Bentuknya-Kae-Ntt-Mataram)

(42)

27

Pada awalnya organisasi ini dibentuk hanya untuk menjalin silaturahmi berdasarkan asas kebersamaan antar mahasiswa Ende yang berada di Kota Mataram, dan tidak pernah sedikitpun terbersit membawa organisasi ini menjadi sebuah organisasi yang berasaskan ideologi. Akan tetapi Seiring berjalannya waktu KAE- NTT Mataram semakin eksis dalam lingkup organisasi. Dimana organisasi ini mulai berkembang dengan adanya AD/ART, visi misi, logo dan progres lainnya.

Semua ekskalarasi atau pengkatan tersebut tidak terlepas dari loyalitas para masyarakat KAE NTT-Mataram dan dukungan dari para senior dan sesepuh yang ada di Mataram maupun yang sudah kembali ke Kota Ende.

2. Visi dan Misi organisasi Kerukunan Anak Ende (KAE) NTT- Mataram

Visi misi pada organisasi KAE NTT-Mataram akan berubah seiring pergantian ketua umum, berikut merupakan visi misi dari ketua umum periode 2020/2021:

a. Visi

Satu Periode Untuk KAE Yang Berintegritas Dan Positif Serta Partisipatif Demi KAE NTT-Mataram Yang Satu.

b. Misi

1) Membangun internal organisasi yang bersifat solid, aktif dan profesional

2) Meningkatkan kebersamaan dan membangun etos kerja yang baik demi menjalin komunikasi dari setiap lintas re- generasi di internal maupun eksternal

3) mewujudkan tata kelola organisasi yang tegas dan transparan.

3. Struktur Organisasi Kerukunan Anak Ende (KAE) NTT- Mataram di Mataram dari tahun 2003-2021.

Dalam menjalankan roda organisasi, diperlukan figur seorang pemimpin untuk mengolah dan mengatur organisasi dalam mencapai tujuan-tujuannya. tanpa adanya figur pemimpin sebuah organisasi tidaklah berarti apa-apa dan tidak berjalan dengan baik.

Dalam organisasi Kerukunan Anak Ende (KAE) NTT- Mataram figur seorang pemimpin atau akrab dengan sebutan Ketua

(43)

28

Umum dari awal pembentukan organisasi hingga saat ini terhitung dari masa jabatan tahun 2003- 2021 terdiri dari 16 orang. Untuk mengetahui lebih jelas tentang keadaan ketua umum Kerukunan Anak Ende (KAE) NTT-Mataram dapat dilihat dalam tabel berikut ini :

Tabel 2.1

Nama Ketua Umum KAE NTT-Mataram dan Masa Jabatanya40

No Nama L/P Pendidikan/

Jurusan Periode 1 Subhan Maulana L S1 Bahasa & Sastra

Indonesia di UNRAM

2004/2005 2005/2006 2 Zulham Abidin

MB L S1 BK di IKIP

Mataram 2006/2007 3 Ibrahim Umarba L S1 FPOK di IKIP

Mataram 2007/2008

4 Syahdun

Ramadhan L S1 PAI di IAIN

Mataram 2008/2009 5 Ahmad Ramli L S1 FPOK di IKIP

Mataram 2009/2010 6 Andika Mahmud L S1 FPOK di IKIP

Mataram 2010/2011 7 Jumadin M.

Nasir L S1 Kimia di IKIP

Mataram 2011/2012 8 Hasan M. Saleh L S1 PAI di IAIN

Mataram 2012/2013 9 Abdulah Abi L S1 BK di IKIP

Mataram 2013/2014 10 Ma’sum Yahya L S1 Matematika di

UNRAM 2014/2015

11 Arif S.

Syarifudin L

S1 administrasi Bisnis di Muhamadiyah

2015/2016 12 Fhatur Rachman

Ola L S1 BKI di UIN

Mataram 2016/2017 13 Nadiran Samin L S1 AS di UIN 2017/2018

40 Dokumentasi, Profil Kerukunan Anak Ende (Kae),Mataram, 18 Juni 2021.

Referensi

Dokumen terkait

psikopatologi pada pasangan yang mengalami masalah relasi dalam perkawinan. Mampu melakukan aplikasi analisis transaksional

Kesimpulan : “Aplikasi Analisis Transaksional Dasar pada Masalah Relasi Orang Tua- Anak” dapat dipergunakan untuk memperbaiki masalah emosi dan perilaku anak dan remaja.. Kata

Upaya yang dilakukan oleh Majelis T aklim Ni’matullah dalam memberikan bimbingnan dan konseling Islam (Mengatasi perilaku menyimpang remaja di Kelurahan

Hasil penelitian menunjukkan bahwa konseling Analisis Transaksional dengan teknik Kursi Kosong efektif untuk meningkatkan kemandirian dalam mengambil keputusan siswa, hal

untuk memperbaiki masalah emosi dan perilaku anak dan remaja pada keluarga dengan masalah relasi orang tua-anak dengan melakukan terapi Analisis Transaksional Dasar

Dari hasil wawancara dengan ketua lembaga yaitu faktor pendukung enabling factors perubahan perilaku berkaitan juga dengan memanfaatkan SDM yang ada dalam struktur organisasi untuk

Analisis transaksional sebagai suatu sistem terapi yang didasarkan pada suatu teori kepribadian yang memusatkan perhatiannya pada tiga pola perilaku yang berbeda sesuai status egonya :

Hasil literature review kemudian dikombinasi dan dilakukan pengkajian lebih lanjut untuk memperoleh sebuah analisis tentang penerapan konseling analisis transaksional dengan nilai