MAKALAH TATA TULIS DAN KOMUNIKASI ILMIAH PENGOLAHAN REFERENSI
Dosen Pengampu: Doni Subrata, M.Pd
Disusun oleh:
Kelompok 2 Bahasa Indonesia
1. Anry Sihombing (221010006) 2. Indriani Ayu Lestari (221010027) 3. Inarhan (221010005)
4. Frengki (221010020)
PROGRAM STUDI TEKNIK INDUSTRI FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS RIAU KEPULAUAN BATAM
Tahun 2022
2
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah Swt, yang sudah melimpahkan rahmat, taufik, dan hidayah- Nya sehingga kami bisa menyusun tugas Bahasa Indonesia ini dengan baik serta tepat waktu. Seperti yang sudah kita tahu bahwa “Referensi’ merupakan salah satu wadah informasi yang sering dipakai dalam penyusunan karya tulis, umumnya karya tulis ilmiah seperti makalah dan skripsi.
Dalam makalah ini kami membahas mengenai pengolahan Referensi, pengertian Referensi, kelayakan Referensi Ilmiah, membaca Referensi Ilmiah, menulis berbagai macam Kutipan Ilmiah, penyajian Tabel dan Gambar Ilmiah.
Harapan kami semoga makalah ini dapat membantu menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca. Kami menyadari bahwa penyusunan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kami mengharapkan kepada pembaca untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun untuk menambah kesempurnaan makalah ini.
Demikianlah makalah ini kami buat, kami ucapkan terima kasih.
Batam, 17 Oktober 2022
Penyusun
3 DAFTAR ISI
Isi
KATA PENGANTAR ... 2
DAFTAR ISI ... 3
BAB I PENDAHULUAN ... 4
1.2. Latar Belakang ... 4
1.2. Rumusan Masalah ... 4
1.3. Tujuan... 5
BAB II PEMBAHASAN ... 6
2.1. Pengertian Referensi ... 6
2.2. Tujuan Referensi ... 6
2.3. Kelayakan Referensi Ilmiah ... 7
2.4. Membaca Referensi Ilmiah ... 8
2.5. Menulis berbagai macam kutipan ilmiah ... 10
2.6. Penyajian Tabel dan Gambar Ilmiah ... 17
BAB III PENUTUP ... 20
3.1. Kesimpulan... 20
3.1. Saran ... 20
DAFTAR PUSTAKA ... 21
4 BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Menulis karya tulis ilmiah merupakan sesuatu yang terbilang mudah, tetapi juga bisa menjadi sesuatu yang sulit. Menulis sebuah karya tulis ilmiah harus dilakukan dengan sistematis, yang paling penting yaitu penulis harus mengetahui masalah apa yang ingin ditulis dan bagaimana cara menyelesaikan masalah tersebut. Dalam karya tulis terdiri dari tiga bab utama, yakni pendahuluan, isi, dan penutup.
Bagi seorang penulis karya ilmiah, baik itu mahasiswa, peneliti, penulis lepas, maupun dosen, referensi tentu menjadi hal yang penting untuk diperhatikan. Adanya referensi tersebut menjadi pendukung kuat bahwa suatu karya ilmiah tersebut dibuat dengan sebenar-benarnya dan mampu dipertanggungjawabkan oleh penulisnya. Dalam menyusun karya tulis ilmiah penulis harus memiliki banyak referensi agar topik atau masalah yang ingin disampaikan tidak hanya terpatok pada pandangan. Referensi merupakan bentuk dari suatu pemberitahuan kepada pembaca atas apa yang telas disampaikan pada tulisan akademik berdasarkan informasi yang telah didapat. Referensi juga salah satu hal yang menjadi sumber acuan untuk menulis karya tulis ilmiah agar dapat memberikan informasi kepada para pembaca.
1.2. Rumusan Masalah
Penulis sudah menyusun sebagian permasalahan yang hendak dibahas dalam makalah ini.
Berdasarkan latar belakang diatas ada beberapa permasalahan yang terdiri atas:
1. Apa yang dimaksud dengan Referensi?
2. Bagaimana pengolahan Referensi Ilmiah?
3. Bagaimana ciri-ciri kelayakan sebuah Referensi Ilmiah?
4. Bagaimana membaca sebuah Referensi Ilmiah?
5. Bagaimana penyajian tabel dan gambar didalam Referensi Ilmiah?
5 1.3.Tujuan
Bersumber pada rumusan permasalahan yang telah kami susun di atas, hingga tujuan dalam penyusunan makalah ini sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui apa itu Referensi.
2. Untuk mengetahui bagaimana pengolahan Referensi.
3. Untuk mengetahui bagaimana membaca serta memahami sebuah referensi ilmiah.
6 BAB II PEMBAHASAN
2.1. Pengertian Referensi
Referensi adalah sumber acuan atau rujukan yang digunakan dalam berbagai bidang.
Referensi berasal dari bahasa Inggris reference. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), referensi dapat berarti buku-buku yang dianjurkan oleh dosen kepada mahasiswanya untuk dibaca atau buku perpustakaan yang tidak boleh dibawa ke luar, harus dibaca di tempat yang telah disediakan. Referensi sering dipakai dalam penyusunan karya tulis umumnya karya tulis ilmiah seperti makalah dan skripsi. Penyusunan referensi memakai pola ataupun sistem spesifik yang menyertai pola penyusunan ilmiah.
2.2. Tujuan Referensi
Berikut ini terdapat beberapa tujuan dari referensi, yakni sebagai berikut:
• Menjauhi plagiarism
Penggunaan referensi dimaksudkan agar tidak menjadi tindakan penjiplakan atau plagiat atas karya orang lain. Sebuah artikel umumnya menjadi kekayaan intelektual penulisnya. Jadi jika seorang penulis menggunakan teori, kalimat atau pendapat yang digunakan dari sumber lain harus menyatakan sumbernya dengan jelas.
• Menghargai karya seseorang
Referensi juga harus masukkan karena sebagai bentuk apresiasi atas karya orang lain. Secara umum pendapat atau teori orang lain dapat diambil dan digunakan secara gratis dalam menyelesaikan sebuah karya tulis. Jadi untuk memberi penghargaan harus diberi referensi yang jelas tentang sumber teori tersebut yang ditulis secara lengkap dengan menggunakan metode ataupun cara penulisan referensi tertentu.
• Memperkuat teori dan argumentasi
Referensi digunakan sebagai bahan pendukung dari teori atau argumentasi yang dituangkan dalam tulisan. Referensi menjadi dasar untuk menyampaikan argumentasi agar memiliki dasar yang kuat dan dapat diterima oleh publik sebagai opini yang dapat dipertanggungjawabkan.
7
• Mempermudah para pembaca mencari sumber yang benar
Tak hanya itu referensi juga bertujuan memberikan informasi kepada pembaca mengenai sumber aslinya dan dilengkapi oleh suatu opini ataupun teori. Dengan referensi ini, pembaca dapat memperoleh informasi yang lebih lengkap sesuai dengan kebutuhannya.
2.3. Kelayakan Referensi Ilmiah
Buku ataupun jurnal ilmiah. Jenis referensi ini akan banyak dibaca oleh orang-orang yang memang ingin mengembangkan potensi dan kelilmuan yang dimiliki. Sehingga pada dasarnya memang buku ataupun jurnal digunakan untuk sumber belajar dari beberapa disiplin ilmu.
Jangkauan dari penggunaan buku ini memang sangat luas karena tidak hanya bisa digunakan untuk pembelajaran di kelas tetapi lebih luas dari itu.
Maka untuk meningkatkan kualitasnya ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi dengan baik yaitu sebagai berikut:
a. Bahasa yang Diaplikasikan Dalam Buku maupun Jurnal Ilmiah
Penggunaan bahasa yang tidak membosankan dalam buku referensi maupun jurnal ilmiah ini sangat penting untuk diperhatikan dengan baik. Poin ini akan ikut menetukan sisi kemenarikan dari sebuah buku atau jurnal ilmiah saat dibaca. Selain itu perlu juga disesuaikan antara pemilihan bahasa yang digunakan dengan demografi atau segmen usia pembaca nantinya. Sehingga isi buku ataupun jurnal ilmiah ini bisa lebih menarik dan mudah dipahami oleh setiap jenjang usia pembacanya masing-masing.
b. Kelayakan Isi Materi yang Memenuhi Kaidah Keilmuan
Ciri-ciri buku atau jurnal ilmiah yang layak tentu saja kelayakan isi materi yang memenuhi kaidah keilmuan. Karena, untuk menulisnya saja tidak sembarang orang bisa, melainkan orang yang sudah berkompetensi dibidang tersebut. Setiap jurnal yang dipublikasikan sudah ditinjau siapa penulisnya kompetensi inti agar dapat memenuhi fungsinya seoptimal mungkin.
Kelengkapan berbagai sustansi ilmu harus bener-benar diperhatikan dalam penulisan buku maupun jurnal ilmiah tersebut. Sehingga anda harus memberikan informasi dasar yang nantinya akan dibutuhkan oleh para pembaca. Kemudian, dengan memperhatikan keaidah keilmuan juga membuat para pembaca percaya bahwa jurnl ilmiah ataupun buku referensi tersebut memang kredibel. Beberapa yang perlu diperhatikan juga untuk sebuah jurnal ilmiah yang layak adalah Ber-ISSN (International Standard Serial Number), Diterbikan oleh Lembaga Terpercaya
8
seperti, Elsevier, American Chemical Society (ACS), Springer, Portal Garuda, dan masih banyak lagi. Sebuah jurnal ilmiah juga harus memiliki terbitan versi online.
c. Kelayakan Fisik
Selain kelengkapan isi materi dalam sebuah buku referensi ataupun jurnal ilmiah ini Anda juga perlu memperhatikan desain cover buku, kualitas percetakan, pemilihan bahan kertas dan kualitas penjilidannya. Hal ini dikarenakan berbagai aspek fisik suatu buku referensi ilmiah memang mampu memberikan pengaruh terhadap kenyamanan pembaca. Begitu juga dengan kualitas grafik atau gambar yang ditambahkan di dalamnya harus menarik dan mudah untuk dipahami.
d. Pengemasan Buku dan Jurnal Ilmiah yang menarik
Dalam hal ini pengemasan yang dimaksud adalah mempercantik isi materi yang ingin disampaikan sesuai bidang ilmu untuk buku maupun jurnal ilmiah tersebut. Kerapian dan estetika naskah buku atau jurnal ilmiah menjadi hal yang akan mempengaruhi pembaca nantinya. Sehingga Anda harus bisa memperhatikan dengan baik untuk meningkatkan penilaian terhadap buku atau jurnal ilmiah tersebut. Maka, untuk kelayakan ini Anda juga harus memilih penerbit dan penulis yang tepat dan professional untuk menjamin kualitas buku referensi ataupun jurnal ilmiah yang ingin Anda baca.
2.4. Membaca Referensi Ilmiah
Bagi seorang mahasiwa membaca jurnal ilmiah merupakan salah satu hal yang sering sekali dilakukan. Biasanya para mahasiswa diberikan tugas oleh dosen dan diminta untuk mencari sumber referensi dari junal ilmiah. Membaca jurnal ilmiah sangat penting untuk riset. Dengan membaca jurnal ilmiah kita bisa mendapatkan gambaran tentang apa yang sudah dilakukan orang lain, dan juga ide-ide apa saja yang dapat kita tuangkan untuk riset kita sendiri. Jadi, kita sebagai mahasiswa harus bisa membaca maupun memahami jurnal ilmiah yang nantinya akan kita jadikan sebagai sumber referensi agar kita bisa lebih memahami informasi yang sedang kita butuhkan.
Berikut beberapa cara membaca dan memahami jurnal ilmiah yaitu:
1. Mulai membaca dari bagian pembuka, bukan Abstak.
9
Abstak berisi keterangan/rangkuman singat dari keseluruhan isi jurnal. Dalam abstrak terdapat latar belakang, metode, hasil, serta kesimpulan jurnal. Tapi, kadang konten abstak kurang menjelaskan isi jurnal. Jadi supaya kamu tidak asal mengutip, pahami dulu tentang latar belakang riset-nya yang tercantum dalam bab pembuka.
2. Mencari pertanyaan besarnya.
3. Membuat rangkuman dari latar belakang, tidak lebih dari lima kalimat.
Bagian pembuka memuat beberapa hal yang penting seperti apa saja riset-riset sebelumnya yang pernah dilakukan, pentingnya melakukan riset ini, dan apa riset yang selanjutnya harus dilakukan. Jadi, cobalah membuat rangkuman dari informasi-informasi tersebut.
Kalau kamu sudah mengetahui dasar alur berfikir riset dari suatu jurnal ilmiah, kamu juga akan lebih mudah memahami keseluruhan isinya.
4. Buat diagram atau alur kerja dari bagian metode
Isi dari metode adalah langkah yang dilakukan peneliti untuk menjawab permasalahan dari riset-nya. Di dalam metode , peneliti akan menceritakan metode yang digunakannya. Kalau penelitian eksperimen misalnya, tentu dicantumkan alat, bahan, serta perlakuan yang diberikan oleh objek.
5. Baca bagian hasil
Setelah membaca bagian hasil, kamu bisa merangkumnya. Tidak perlu mencoba menyimpulkan isi hasilnya. Cukup menulis apa yang menjadi hasil penelitiannya. Dan sebenarnya isi dari hasil sudah bisa kamu lihat dari grafik dan tabel yang ada.
6. Lihat bagian kesimpulan
Kesimpulan yang baik adalah yang menjawab ini permasalahn, misalnya nih, ada ada penelitian tentang pengaruh durasi penggunaan sosial media pada remaja terhadap prestasi akademik. Bagian kesimpulan harus menjawab apakah ada hubungannya social media dengan prestasi. Kalupun ditemukan ada hubungannya, harus diperjelas lagi apakah berpengaruh nyata atau tidak.
7. Lihat kembali bagian abstrak untuk memastikan pemahamanmu terhadap keseluruhan jurnal.
Kalau kamu sudah membaca bagian-bagian jurnal secara runut mulai dari pembuka, metode, hasil, sampai kesimpulan, ini saatnya kamu membaca bagian abstak untuk
10
mengecek kembali apakah yang kamu pahami sudah sesuai atau belum, jika belum kamu bisa membaca ulang bagian yang masih salah dipahami.
2.5. Menulis berbagai macam kutipan ilmiah
Kutipan adalah salah satu macam penyusunan referensi yang dirujuk dari beragam macam sumber referensi dengan mencatat kalimat, alinea, konsep ataupun ide individu ahli di bidang spesifik untuk memenuhi tulisan yang dibuat. Secara umum cara merujuk dalam penulisan artikel ilmiah dpat dipilah menjadi tiga yaitu perujukan dengan catatan kaki, perujukan dengan catatan kaki (foot note) yaitu dengan cara menyebut langsubg informasi sumber rujukan secara lengkap pada akhir setiap halaman sesuai dengan urutan tanda pengacuan dalam teks. Informasi sumber rujukan pada catatan kaki meliputi nama pengarang, judul sumber rujukan, kota tempat penerbitan, penerbit, tahun dan nomor halaman. Perujukan sumber yang sama telah dirujuk sebelumnya tanpa dilang oleh perujukan sumber lain biasanya menggunakan singkatan singkatan Ibid diikuti nomor halaman yang dirujuk. Sedangkan untuk merujuk karya yang telah dirujuk sebelumnya, tetapi halaman yang dirujuk berbeda, digunakan singkatan Op.cit dengan diikitu nomor halaman sumber yang dirujuk. Apabila akan merujuk suatu karya yang telah dirujuk sebelumnya pada halaman yang sama dan telah diselang oleh perujukan sumber lain digunakan singkatan Loc.cit.
Perujukan dengan menggunakan catatan akhir prinsipnya tidak berbeda dengan cara perujukan yang menggunakan catatan kaki. Bedanya, pada rujukan car aini informasi sumber rujukan secara lengkap diberikan pada akhir tulisan dengan urutan yang sesuai dengan tanda pengacuan yang digunakan dalam teks.
Di UM, digunakan perujukan dengan tanda kurung. Perujukan dengan tanda kurung adalah perujukan yang dilakukan dengan menggunakan nama akhir dan tahun yang dicantumkan di antara tanda kurung. Jika ada dua pengarang, perujukan dilakukan dengan cara menulis nama pertama dari pengarang tersebut diikuti dengan dkk. Jika nama pengarang tidak disebutkan, yang dicantumkan dalam rujukan adalah nama lembaga yang menerbitkan, nama dokumen yang diterbitkan, atau nama koran. Karya terjemahan, perujukan dilakukan dengan cara menyebutkan nama pengarang aslinya. Rujukan dari dua sumber atau lebih yang ditulis oleh pengarang yang berbeda dicantumkan dalam satu tanda kurung dengan titik koma sebagai tanda pemisahnya.
1. Cara merujuk Kutipan Langsung a. Kutipan Kurang dari 40 Kata
11
Kutipan yang berisi kurang lebih dari 40 kata ditulis di antara tanda kutip (“…”) sebagai bagian yang terpadu dalam teks utama, dan diikuti nama pengarang, tahun dan nomor halaman. Nama pengarang dapat ditulis secara terpadu dalam teks atau menjadi satu dengan tahun dan nomor halaman di dalam kurung.
Contoh sebagai berikut:
Nama pengarang disebut dalam teks secara terpadu.
Contoh: Soebronto (1990: 123) menyimpulkan “ada hubungan yang era antara faktor sosial ekonomi dengan kemajuan belajar.”
Nama pengarang disebut Bersama dengan tahun penerbitan dan nomor halaman.
Contoh: Kesimpulan dari penelitian tersebut adalah “ada hubungan yang erat antara faktor sosial ekonomi dengan kemajuan belajar” (Soebronto, 1990: 123)
Jika ada tanda kutip dalam kutipan, digunakan tanda kutip tunggal (“…”).
Contoh:
Kesimpulan dari penelitian tersebut adalah “terdapat kecendrungan semakin ‘campur tanga’
pimpinan perusahaan semakin rendah tingkat partisipasi karyawan di daerah perkotaan”
(Soewignyo, 1991: 101) b. Kutipan 40 Kata atau lebih
Kutipan yang berisi 40 kata atau lebih ditulis tanpa tanda kutip secara terpisah dari teks yang mendahului, ditulis 1,2 cm dari garis tepi sebelah kiri dan kanan, dan diketik dengan spasi tunggal. Nomor halaman juga harus ditulis. Contoh: Suyanto (1998: 202) menarik kesimpulan sebagai berikut tinggal tanda titik.
Alih Latihan memungkinkan mahasiswa memanfaatkan apa yang didapatkan dalam PBM untuk memecahkan persoalan rill dalam kehidupan. Kemampuan transfer telah dimilikioleh mahasiswa jika mahasiswa itu mampu menerapkan pengetahuan, keterampilan, informasi, dan sebagainya sebagai hasil belajar pada latar yang berbeda (kelas, laboratorium, simulasi, dan sejenisnya) ke latar yang rill, yaitu kehidupan nyata dalam masyarakat. Jika kemampuan ini dspat dibekalkan kepada mahasiwa, mereka akan memiliki wawasan pencipta kerja setelah
12
lulus dari perguruan tinggi. Jika dalam kutipan terdapat paragraph baru lagi, garis barunya dimulai dengan lima ketentuan lagi dari tepi garis teks kutipan.
c. Kutipan yang Sebagian Dihilangkan
Apabila dalam mengutip langsung ada kata-kata dalam kalimat yang dibuang, maka kata- kata yang dibuang diganti dengan tiga titik.
Contoh: “Semua pihak yang terlibat dalam pelaksanaan pendidikan di sekolah … diharapkan sudah melaksanakan kurikulum baru” (Manan, 1995: 278).
Apabila ada kalimat yang dibuang, maka kalimat yang dibuang diganti dengan empat titik. Sebagai contoh: “Gerak manipulatif adalah keterampilan yang memerlukan koordinasi anatara mata, tangan, atau bagian tubuh lain … Yang termasuk gerak manipulatif antara lain adalah menangkap bola, menendang bola, dan menggambar” (Asin, 199: 315).
2. Cara Merujuk Kutipan Tidak Langsung
Kutipan yang disebut secara langsung atau dikemukakan dengan bahasa penulis sendiri ditulis tanpa tanda kutip dan terpadu dalam teks. Nama pengarang,bahan kutipan dapat disebut dalam kurung Bersama tahun penerbitnya.
Jika memungkinkan nomor halaman disebutkan. Perhatikan contoh berikut.
a. Nama Pengarang Disebut Terpadu dalam Teks
Contoh: Slimin (1990: 13) tidak menduga bahwa mahasiswa tahun ketiga, lebih baik daripada mahasiswa tahun keempat.
b. Nama Pengarang Disebut dalam Kurung Bersama Tahun Penerbitnya
Contoh: Mahasiswa tahun ketiga ternyata lebih baik daripada mahasiswa tahun keempat (Salimin, 1990: 13)
Selain itu menulis kutipan dalam referensi ilmiah dapat dikategorikan berdasarkan gayanya yaitu sebagai berikut:
1. APA Style
Adapun cara menulis referensi berdasarkan karakteristik dari gaya penulisan APA Styles, meliputi beberapa poin berikut:
13
1. Saat dituliskan di halaman daftar pustaka, ditulis secara berurutan berdasarkan alfabetis.
Ditulis dari nama belakang penulis (jika penulis memiliki nama panjang). Jika referensi tersebut tidak ada penulisnya, maka bisa dituliskan judulnya.
2. Nama depan penulis ditulis sebagai inisial.
3. Jika referensi berasal dari sumber penulis yang sama, maka diurutkan dari tahun yang paling lama.
4. Setelah penulisan tahun, dibelakang tahun dapat dituliskan huruf a, b dan c.
Contoh Penulisan APA Style
Tidak dapat dipungkiri jika ada banyak kasus permasalahan dalam penulisan APA Style.
Permasalahan yang umum ditanyakan adalah masalah dari sumber referensi. Berikut ulasan lengkapnya.
a. Dari Jurnal Online
Jika dilihat dari cara penyajiannya, ada dua yang bisa dituliskan, sebagai berikut.
• Kutipan
(Elisa, 2010, P. 211)
• Lembar Referensi / Daftar Pustaka
format 1: penulis. (tahun). Judul Artikel. Nama jurnal. Volume. Halaman. DOI:xxx.xxx Format 2: Penulis. (Tahun). Judul Artikel. Nama Jurnal. Volume. Halaman. Diakses dari
URL.
b. Majalah Online
• Kutipan (Barile, 2011)
• Lembar Referensi/Daftar Pustaka
Format: Penulis (Tahun, bulan-tanggal). Judul Artikel. Nama Majalah. Diakses dari URL.
Contoh:
Elisa, Irukawa. (2021, April). Cara Menulis Buku Ilmiah. Majalah Deepublish. Diakses dari https://www.penerbitdeepublish.com
c. Surat Kabar Online
• Kutipan (Bella, 2021)
14
• Lembar Referensi/Daftar Pustaka
Penulis. (Tahun, bulan-tanggal). Judul artikel. Nama surat kabar. diakses dari URL.
Contoh :
Bella, R.. (2021, Juni 24). Budidaya jamur. Deepublish Online. Diakses dari https://www.penerbitdeepublish.com.
d. Sumber Buku – Pengarang Jelas
• Kutipan (Salma, 2021)
• Lembar Referensi/Daftar Pustaka
Format: Penulis. (Tahun). Judul Buku (Edisi). Tempat Terbit: Penerbit.
Contoh:
Yuan, P. (1998). Shanghai Jahwa: Liushen Shower Cream (A). In Kumar, S.R. (Ed). Case Studies in Marketing Management (pp.1-11). Dehli: Pearson.
e. Sumber Buku Tanpa Pengarang
• Kutipan
Cara menulis kutipan, tidak bisa dituliskan identitas referensinya.
• Lembar Referensi/Daftar Pustaka
Format. Judul Buku (Edisi). (Tahun). Tempat: Penerbit.
Contoh :
Cara Cerdas Memanfaatkan Sampah (12th ed). 2021. Yogyakarta. Deepublish.
2. MLA Style
Cara menulis referensi pada MLA Style, Anda perlu memperhatikan beberapa poin sebagai berikut ini.
1. Penulisan nama penulis ditulis secara lengkap. Jika penulis memiliki nama depan dan nama belakang tetap dituliskan.
2. JIka umumnya tahun terbit dituliskan setelah nama penulis, pada jenis MLA Styles tahun terbit justru diletakan di bagian akhir.
3. Menuliskan nomor halaman kutipan dan perlu juga menuliskan kutipan kata akhir.
15
4. Dibolehkan menambahkan media dan format. Misalnya bisa menambahkan web, cetak maupun online.
5. Jika sumbernya dari online, maka cukup ditulis tanggal-bulan dan tahun akses, dan ANda tidak perlu menyertakan sumber onlinenya.
Contoh Penulisan MLA Style
Contoh penulisan MLA Style juga dapat ditulis berbeda-beda, bergantung dari sumber referensi yang digunakannya. Berikut beberapa sumber referensi yang lazim digunakan.
a. Contoh Penulisan Buku
• Kutipan
• Format:
Nama akhir penulis (halaman) (nomor Halaman.
Contoh
Elisa mengatakan (21) … Dalam studi lain (partini 21),,,
• Halaman Referensi/Daftar Pustaka
Sementara saat ditulis dalam bentuk daftar pustaka, maka dapat dilihat sebagai berikut.
• Format
Nama akhir Penulis, Nama depan. Judul. Tempat Terbit: Penerbit, Tahun Terbit.
Contoh:
Elisa. Stereotip Gender Pada Anak SD Usia 5 Tahun. Edisi Satu. Yogyakarta: Penerbit Deepublish, 2021.
b. Contoh Penulisan Referensi Dari Jurnal
• Teknis Penulisan Kutipan Contoh :
Berbeda dengan pendapat penulis lain (Salma, 16) berpendapat ….
Salma (16) berpendapat…
• Halaman Referensi/Daftar Pustaka
16
• Format
Nama akhir penulis I, nama depan dan nama depan penulis 2, nama akhir. “Judul artikel”. Judul Jurnal. Volume. Issu (tahun): Halaman.
Contoh:
Salma, Hajroh. “Beyond Growth: Library and Develpoment.” Annals of Librarry Research 40. 5(2021): 1111-1130. Print.
c. Penulisan Referensi Dari Artikel Surat Kabar Cetak Ataupun Online
• Teknis Penulisan Kutipan Contoh :
lainnya (Fanny, 12) berpendapat…
Fanny (12) menyatakan bahwa…
• Halaman Referensi/Daftar Pustaka
• Format
Nama akhir penulis, nama depan. “Judul artikel”. Judul Surat Kabar. Tanggal Bulan Tahun Publikasi, Nomor Halaman.
Contoh :
Fanny, Abdilah. “Kriminal Dalam Penipuan Paket.” Kedaulatan Rakyat. 16 Juni 2021, Halaman 14.
d. Publikasi Pemerintah
• Teknis Penulisan Kutipan Contoh :
Gambar yang dikeluarkan (Propinsi DIY 20) memperlihatkan…
• Halaman referensi/Daftar Pustaka Contoh :
Propinsi DIY. Pemda Prop. DIY. Laporan Tahunan Pertumbuhan Ekonomi Daerah DIY 2021. Yogyakarta: Pemda DIY, 2021. Cetak.
Hasil Konferensi/Seminar
• Halaman Referensi/Daftar Pustaka
• Format:
Nama akhir penulis, nama depan. “judul paper/makalah”. Judul Prosiding. Tempat terbit: Penerbit, tahun terbit. halaman. format
17 Contoh:
Gustra, Alfi. “Cara Membaca Karakter Orang Lewat Gesture”. Prosiding Konferensi Perpustakaan Digital ke-6. Yogyakarta: Deepublish, 2021. 52-58. Cetak.
2.6. Penyajian Tabel dan Gambar Ilmiah a. Penyajian Tabel
Sebuah tabel yang baik menurut pendapat sebagian pakar, adalah yang bernilai ribuan kata, sedangkan tabel yang jelek malah membingungkan pembacanya. Jika dipersiapkan dengan cermat, tabel dapat merupakan penuangan informasi dalam bentuk yang lebih ringkas dan lebih teratur bila dibandingkan dengan penjelasan dalam teks. Berdasarkan kenyataan ini, tabel sebaliknya berbentuk sederhana, kompak, lengkap, dan mandiri (Rivai, 2001: 36).
Penggunaan tabel dapat dipandang sebagai salah satu cara yang sistematis untuk menyajikan data statistic dalam kolom-kolom dan lajur, sesuai dengan klasifikasi masalah.
Dengan menggunakan tabel, pembaca akan dapat memahami dan menafsirkan data secara cepat, dan mencari hubungan-hubungannya.
Tabel yang baik seharusnya sederhana dan dipusatkan pada beberapa ide. Memasukkan terlalu banyak data dalam suatu tabel dapat mengurangi nilai penyajian tabel. Lebih baik menggunakan banyak tabel daripada menggunakan sedikit tabel, yang isinya terlalu padat.
Tabel yang baik harus dapat menyampaikan ide dan hubungan-hubungannya dalam tulisan secara efektif.
Bentuk yang konvensional menyajikan tabel data adalah dalam kolom atau lajur vertical dan baris horizontal. Bagian-bagian tabel adalah pias (stub), kotak kepala (boxhead) dan lapangan (field). Pias merupakan lajur vertikal di pinggir kiri tabel yang berisi lema butir-butir bahan yang diperlukan dan diperinci dalam lapangan di sisi kanannya. Di bagian atas pias, pada tempat yang setingkat dengan kotak kepala, dapat dicantumkan sirahan pias (stubhead) yang menerangkan macam butir. Sirahan pias untuk macam butir yang cukup jelas dengan sendirinya (misalnya tahun, atau nama kota0 sering ditiadakan. Kotak kepala terdapat di sisi atas tabel dan merupakan daerah tempat menjelaskan macam lema dalam kolom. Lapangan adalah daerah untuk menempatkan data.
Untuk mengefisienkan pemanfaatannya setiap tabel perlu mempunyai nomor urut dan
18
judul, yang terkadang diikuti dengan catatan tambahan sebagai penjelasan kualfikasi. Dulu seluruh bagian judul tabel dicetak dengan huruf kapital, tetapi sekarang kebiasaan itu ditinggalkan orang sebab membosankan tempat dan dianggap kuno.
Biasanya tabel mempunyai garis-garis horizontal: Satu di bawah judul dan catatan tambahannya, satu di bawah kotak kepala dan satu di bawah lapangan. Garis-garis tambahan mungkin diperlukan dalam kotak kepala, anatara lain garis pengangkang untuk menunjukkan penggabungan kolom yang sekerabat. Dengan sendirinya di atas garis pengangkang akan diperlukan sirahan merentang untuk menjelaskan keterkaitan dua atau lebih kolom yang diatasinya. Penggunaan garis pengangkang menghindari pengguna garis vertikal. Garis memanjang dari atas ke bawah memang tidak dianjurkan untuk dipakai karena menyulitkan percetakannya jika memakai Teknik percetakan permukaan (letter press).
Memudahkan penafsiran, penyajian data dalam kolom harus rapi. Kalua angka yang disajikan menyangkut pecahan, tanda decimal supaya diluruskan dalam kolomnya.
Penjelasan untuk bagian-bagian dalam tabel dapat diberikan dengan teknik catatan kaki, dengan menggunakan tanda pengacuan di tempat yang sesuai. Bila tabel itu bersifat saduran dari macam sumber, baris kredit untuk sumber tadi perlu diberikan secara jelas.
Bentuk tabel yang ringkas itu dimungkinkanlah untuk sekaligus menyuguhkan sejumlah besar data dan informasi terinci secara menyeluruh diatas suatu halaman. Dengan demikian, akan mudahlah orang melihat keterkaitan berbagai macam data, membandingkannya dengan informasi lain serta menduga arah kecenderungannya. Akan tetapi, perencanaan tabel kurang baik, bisa tersuguhkan data mentah yang banyak tetapi tidak berarti. Karena keinginan menjelaskan, terkadang orang memasukkan kolom data yang dapat dikalkulasikan dari kolom lain dalam tabel yang sama. Sebagai akibatnya tabel menjadi berkepanjangan dan kalua dibiarkan akan tumbuh mekar menjadi selebar dua halaman. Pada umumnya, penyuntingan berkala ilmiah akan menolak tabel yang lebarnya melebihi halaman cetak. Setiap tabel harus diacu dalam teks, dengan jalan menyebutkan nomor urut identifikasinya. Penyebutan “seperti terlihat pada tabel di bawah” atau “seperti tabel berikut” harus dihindari karena dalam proses pencetakan posisi pada halaman yang dimaksudkan mungkin tidak dapat dipertahankan. Pada umunya para penyunting berkala
19
ilmiah menghendaki tabel dipersiapkan atau diketik pada kertas yang terpisah dari tubuh teksnya.
b. Penyajian Gambar
Istilah gambar mengacu kepada foto, grafik, chart, peta, sket, diagram, dan gambar lainnya. Gambar dapat menyajikan data dalam bentuk-bentuk visual yang dapat dengan mudah dipahami. gambar tidak harus dimaksudkan untuk membangin deskripsi, gtetapi dimaksdukan untuk menekankan hubungan tertentu yang signifikan. Gambar juga dapat dipakai untuk menyajikan data statistic berbentuk grafik.
Beberapa butir pedoman penggunaan gambar diberiakn sebagai berikut:
a) Judul gambar ditempatkan dibawah gambar, bukan di atasnya. Cara penulisan judul gambar sama dengan penulisan judul tabel
b) Gambar harus sederhana untuk dapat menyampaikan ide dengan jelas dan dapat dipahami tanpa harus disertai penjelasan tekstual.
c) Gambar harus digunakan dengan hemat. Terlalu banyak gambar dapat mengurangi nilai penyajian data.
d) Gambar yang memakan tempat lebih dari setengah halaman harus ditempatkan pada halaman tersendiri.
e) Penyebutan adanya gambar seharusnya mendahului gambar.
f) Gambar diacu dengan menggunakan nomor gambar (angka), bukan dengan menggunakan kata gamabr dias atau gambar di bawah.
g) Gambar dinomori dengan menggunakan angka Arab seperti pada pedoman tabel (Mukhadis, 2000: 62).
20 BAB III PENUTUP 3.1. KESIMPULAN
Adapun kesimpulan dari makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Referensi adalah sumber acuan atau rujukan yang digunakan dalam berbagai bidang.
Referensi berasal dari bahasa Inggris reference. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), referensi dapat berarti buku-buku yang dianjurkan oleh dosen kepada mahasiswanya untuk dibaca atau buku perpustakaan yang tidak boleh dibawa ke luar, harus dibaca di tempat yang telah disediakan.
2. Tujuan dari referensi adalah untuk menjauhi plagiarism, menghargai karya seseorang, memperkuat teori dan argumentasi dan mempermudah para pembaca mencari sumver yang benar.
3. Kutipan adalah salah satu macam penyusunan referensi yang dirujuk dari beragam macam sumber referensi dengan mencatat kalimat, alinea, konsep ataupun ide individu ahli di bidang spesifik untuk memenuhi tulisan yang dibuat
3.2 Saran
Adapun saran untuk pembuatan makalah selanjutnya yaitu mencari sumber atau referensi supaya isi makalah lebih lengkap dan mempermudah pembaca dalam memahami isi makalah tersebut.
21
DAFTAR PUSTAKA
Arifin, E. Zaenal dan S. Arman Tasauni. 1989. Cermat Berbahasa Indonesia: untuk perguruan tinggi. Cetakan ke-4. Jakarta: MSP
http://nissa-nurannisa.blogspot.com/2013/01/makalah-referensi-dalam-penulisan- karya.html?m=1, diakses 14 oktober 2022
http://intanpujilestari.blogspot.com/2012/11/pengertian-direktori.html, diakses 28 November 20012.