• Tidak ada hasil yang ditemukan

MAKALAH TENTANG AKAD NIKAH

N/A
N/A
Marta Sri Irwanto SSn

Academic year: 2024

Membagikan "MAKALAH TENTANG AKAD NIKAH"

Copied!
14
0
0

Teks penuh

(1)

AKAD NIKAH

Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Fiqih Munakahat Dosen Pengampu: Ahmad Rijalul Umami, M.Pd.I.

Disusun Oleh:

Aristika Sindy Kusuma Dewi Fajar Ibnu Fatih

Sani Fitri Nur Laela

(23010170166) (23010170256) (23010170394) Kelas: D

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM FAKULTAS TARBIYAH ILMU KEGURUAN INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI SALATIGA

TAHUN 2019

(2)

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb.

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat hidayah serta karunia-Nya kepada Kami sehingga Kami berhasil menyelesaikan makalah ini tepat pada waktunya. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah pada junjungan Kita nabi agung Muhammad SAW, yang telah membawa Kita dari zaman jahiliah menuju zaman yang terang benerang ini.

Ucapan terimakasih Kami haturkan kepada beliau Bapak Ahmad Rijalul Umami, M.Pd.I. yang telah memberikan pengarahan dalam penulisan makalah ini. Disamping itu, Kami menyadari bahwa makalah yang Kami selesaikan ini jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu Kami mengharapkan kritik dan saran dari semua kalangan yang bersifat membangun guna kesempurnaan makalah Kami selanjutnya.

Kepada semua pihak yang telah memberikan kritik dan saran demi

sempurnanya makalah ini Kami ucapkan terimakasih. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca.

Wassalamu’alaikum Wr.Wb.

Salatiga, 18 September 2019

Penulis

(3)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

KATA PENGANTAR i

DAFTAR ISI ii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang 1

B. Rumusan Masalah 1 C. Tujuan 1

BAB II PEMBAHASAN

A. 2

B. 2

1. 2

2. 3

C. 5

D. 6

E. 7

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan B. Saran DAFTAR PUSTAKA

(4)
(5)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Islam adalah agama yang tidak hanya mengatur hubungan antara manusia dengan Tuhan saja. Islam juga mengatur hubungan antar manusia dengan manusia (muamalah). Hal ini dibuktikan dalam kitab suci Islam yakni al-Qur’an yang di dalamnya memuat berbagai macam aspek ilmu baik ilmu dunia maupun akhirat dan aturan-aturan tertentu untuk tujuan kemaslahatan manusia. Selain itu, terdapat pula hadits yang berfungsi untuk menjelaskan kandungan al-Qur’an dan memuat hukum yang tidak ada dalam al-Qur’an.

Dalam pengambilan hukum, ulama’ berusaha untuk memahami dan menafsirkan apa-apa yang dimuat dalam al-Qur’an. Hal ini dikarenakan al- Qur’an bersifat global dan berfungsi sebagai sumber hukum dalam Islam.

Metode pengambilan hukum tersebut dalam Islam disebut dengan istinbath al-ahkam. Hasil dari istinbath al-ahkam tersebut dibungkus ke dalam sebuah ilmu yang disebut dengan ilmu fiqih.

Salah satu bagian dari ilmu fiqh yang mengatur hubungan manusia dengan manusia serta urusan keduniawian adalah fiqih munakahat.

Seseorang tidak akan bisa langsung berhubungan dengan lawan jenis yang bukan mahramnya tanpa adanya hubungan pernikahan. Salah satu yang menjadi syarat pernikahan adalah adanya kesepakatan yang ditujukan kedua mempelai melalui akad nikah.

B. Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud dengan akad nikah?

2. Apasajakah syarat dan rukun dalam akad nikah?

3. Apasajakah sunah-sunah dalam akad nikah?

4. Bagaimana akad nikah orang yang tidak dapat berbicara?

5. Bagaimanakah keabsahan akad nikah yang disertai dengan syarat?

(6)

C. Tujuan Penulisan

1. Untuk mengetahui definisi akad nikah 2. Untuk mengetahui syarat rukun akad nikah 3. Untuk mengetahui sunah-sunah dalam akad nikah 4. Untuk mengetahui akad nikah orang bisu

5. Untuk mengetahui keabsahan akad nikah yang disertai dengan syarat 6.

(7)

BAB II PEMBAHASAN

A. Definisi Akad Nikah

Akad nikah merupakan peristiwa penting yang menandai dimulainya hubungan halal antara seorang laki-laki dan seorang perempuan yang sebelumnya diharamkan menurut agama. Akad tersebut diharapkan dapat menambah dan memperkukuh hubungan persaudaraan antar keluarga- keluarga yang sebelumnya kurang atau tidak saling berhubungan. Oleh sebab itu, hendaknya akad nikah tidak dilakukan secara sembunyi- sembunyi.1

Secara etimologi, akad (al-‘aqdu) berarti perikatan, perjanjian, dan pemufakatan (al-ittifaq). Dikatakan ikatan karena memiliki maksud menghimpun atau mengumpulkan dua ujung tali dan mengikatkan salah satunya pada yang lainnya hingga keduanya bersambung dan menjadi seutas tali yang satu.2 Selain itu akad juga diartikan sebagai simpul, perjanjian, atau kesepakatan.3

Secara terminologi, akad yang dalam hal ini dikemukakan oleh ulama fiqih, ditinjau dari dua segi yaitu:

1. Pengertian umum

Pengertian akad dalam arti umum hampir sama dengan pengertian akad secara bahasa. Hal ini dikemukakan oleh ulama Syafi’iyah, Malikiyah dan Hanabilah, yaitu:

رفنم ٍةدارإب ردص ٌءاوس هلعف ىلع َء رملا مزع ام لك ىلإ جاتحإ مأ نيميلاو اقلطلاو َء ربلاو فقولاك ٍةَد رلاو ليكوتلاو راجإيلاو عيبلاك هئاشنإ يف نيتدارإ .نَه

1Muhammad Bagir, Fiqih Praktis: Panduan Lengkap Muamalah Menurut Al Qur’an, Al Sunnah dan Pendapat Para Ulama, (Jakarta: Penerbit Noura, 2016), hlm. 103.

2Ghufron A. Mas’adi, Fiqh Muamalah Kontekstual, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2002), hlm. 75.

3M. Dahlan R, Fikih Munakahat, (Yogyakarta: Deepublish, 2015), hlm, 65.

(8)

Artinya: Segala sesuatu yang dikerjakan oleh seseorang berdasarkan keinginannya sendiri, seperti wakaf, talak, pembebasan, atau sesuatu yang pembentukannya membutuhkan keinginan dua orang seperti jual- beli, perwakilan, dan gadai.

2. Pengertian khusus

Pengertian akad dalam arti khusus yang dikemukakan ulama fiqih yaitu:

.هُل يف َه ثأ تبثإي ٍعَو رشم ٍهجو ىلع ٍلوبقب ٍباجإيإ طابترإ

Artinya: Perikatan yang ditetapkan dengan ijab qabul berdasarkan ketentuan syara’ yang berdampak pada objeknya.4

Kata akad apabila digabungkan dengan kata nikah maka dapat diartikan sebagai ikrar seorang pria untuk mengikat janji dengan seorang wanita lewat perantara walinya, dengan tujuan hidup bersama, membina rumah tangga sesuai sunnah Rasul SAW, memperoleh ketenangan jiwa, menyalurkan syahwat dengan cara yang halal, dan melahirkan keturunan yang sah.

B. Rukun dan Syarat Akad Nikah

Hakikat pernikahan adalah sikap ridha di antara kedua belah pihak dan kesepakatan bersama dalam satu ikatan. Kesepakatan di antara kedua belah pihak merupakan satu hal yang bersifat psikologis yang tidak dapat dilihat dengan kasat mata. Karenanya, (kesepakatan bersama tersebut) dibutuhkan ungkapan (secara jelas) untuk mewujudkan keridhaan dan kesepakatan bersama. Ungkapan yang dimaksud tampak dengan jelas dalam kalimat yang diucapkan oleh kedua belah pihak yang sedang melangsungkan akad.

Kalimat yang diungkapkan oleh pihak pertama (wali mempelai wanita) yang menggambarkan keinginan untuk menjalin ikatan pernikahan, dikenal dengan istilah ijab. Sedangkan kalimat yang diucapkan oleh pihak kedua, yang isinya adalah kerelaan dan persetujuan atas ajakan yang dikemukakan pihak pertama disebut dengan istilah qabul.

(9)

Rukun akad nikah terdiri dari 4 hal, yaitu: calon suami (mempelai pria), wali dari pihak mempelai wanita, dua orang saksi, dan sighat ijab qabul. Walaupun keempat rukun tersebut sudah dianggap cukup, agar akad nikah tersebut memiliki kekuatan hukum, hendaknya disaksikan pula oleh Pegawai Pencatat Nikah dari Kantor Urusan Agama setempat.5

1. Syarat dalam pelaksanaan akad nikah

Akad nikah yang dinyatakan dengan pernyataan ijab dan qabul, baru dianggap sah dan mempunyai akibat hukum pada suami istri apabila telah terpenuhi syarat-syarat sebagai berikut:

a. Dilaksanakan dalam satu majelis

Akad nikah dengan sebuah ijab qabul itu harus dilakukan di dalam sebuah majelis yang sama. Dimana keduanya sama-sama hadir secara utuh dengan ruh dan jasadnya. Termasuk juga

didalamnya adalah kesinambungan antara ijab dan kabul tanpa ada jeda dengan perkataan lain yang bisa membuat keduanya tidak terkait.

Sedangkan syarat bahwa antara ijab dan qabul itu harus bersambung tanpa jeda waktu sedikitpun adalah pendapat syafi'i dalam mazhabnya. Namun yang lainnya tidak mengharuskan keduanya harus langsung bersambut. Bila antara ijab dan qabul ada jeda waktu namun tidak ada perkataan lain, seperti untuk mengambil nafas atau hal lain yang tidak membuat berbeda maksud dan

maknanya, maka tetap sah.

b. Saling dengar dan mengerti

Antara calon suami, wali dan saksi harus sama-sama saling dengar dan mengerti apa yang diucapkan. Bila masing-masing tidak paham apa yang diucapkan oleh lawan bicaranya, maka akad itu tidak sah.

c. Tidak bertentangan

5Muhammad Bagir, Fiqih Praktis..., hlm. 102.

(10)

Maksudnya ialah adanya kesesuaian antara kalimat ijab dan qabul. Misalnya bunyi lafaz ijab yang diucapkan oleh wali

adalah,"Aku nikahkan kamu dengan anakku dengan mahar 1 juta", lalu lafaz qabulnya diucapkan oleh suami adalah,"Saya terima nikahnya dengan mahar 1/2 juta". Maka antar keduanya tidak nyambung dan ijab qabul ini tidak sah. Namun bila jumlah mahar yang disebutkan dalam qabul lebih tinggi dari yang diucapkan dalam ijab, maka hal itu sah.

d. Tamyiz

Kedua belah pihak yang melakukan akad nikah, baik wali maupun calon mempelai pria, atau yang mewakili salah satu atau keduanya, adalah orang yang sudah dewasa dan sehat rohani

(tamyiz). Jika salah seorang di antara mereka gila atau belum cukup umur, maka akad yang berlangsung tidak sah.6

2. Syarat sighat ijab qabul

Syarat-syarat yang berkaitan dengan sighat ijab qabul antara lain:

a.

C. Sunnah-Sunnah dalam Akad Nikah

Dalam pernikahan dianjurkan hal-hal sebagai berikut:

1. Hendaknya calon suami atau pihak lain yang ditunjuk berkhutbah sebelum akad nikah dilaksanakan. Hal ini dimulai dengan tahmid dan bersyahadat, shalawat atas Rasulullah SAW, dengan diikuti membaca ayat tentang perintah bertakwa dan menyebutkan maksudnya.

2. Hendaknya mendoakan kedua mempelai setelah akad nikah.

3. Hendaknya melangsungkan akad nikah pada waktu sore di hari Jumat karena hari Jumat adalah hari mulia dan hari raya, dan karena di akhir siang dari hari Jumat terdapat waktu yang mustajab.

4. Mengumumkan pernikahan dan memukul rebana.

(11)

5. Menyebutkan mahar, yaitu menentukannya ketika akad. Karena hal itu dapat menenangkan iiwa dan mencegah perselisihan di kemudia hari.

Disunahkan juga mahar diberikan secara kontan, tanpa harus ditunda sebagiannya.

6. Menyelenggarakan walimah.

7. Jika hendak mendatangi istrinya, seorang suami hendaknya membaca doa.7

D. Akad Nikah Orang Bisu

E. Akad Nikah dengan Persyaratan

Dalam beberapa situasi dan kondisi ada kalanya pelaksanaan akad nikah didahului dengan persyaratan-persyaratan, baik diajukan oleh pihak calon istri maupun calon suami.

1. Syarat yang dibolehkan dan wajib dilakukan

Yaitu syarat yang sesuai dengan tujuan menikah dan tujuan syariat. Misalnya seorang istri memberikan syarat kepada calon suaminya untuk memperlakukannya dengan baik dan memberi nafkah yang halal.

2. Syarat yang tidak boleh dilakukan

Yaitu syarat yang tidak sesuai dengan tujuan menikah, atau bertentangan dengan syariat. Syarat yang demikian dinamakan syarat yang rusak (fasakh). Contohnya ketika seorang istri meminta pada calon suaminya untuk menceraikan istri-istrinya yang sebelumnya. Hal ini tidak diperbolehka sebagaimana sabda nabi Saw dalam hadis berikut:

Artinya: “Tidak halal bagi seorang wanita untuk meminta agar saudari semadunya untuk diceraikan dengan maksud agar nafkahnya lebih banyak. Sesungguhnya baginya adalah apa yang sudah ditentukan untuknya” (HR. Bukhari. 5152, Muslim. 1076).

7Wahbah Az-Zuhaili, Fiqih Islam Wa Adillatuhu, jilid 9, terj. Andul Hayyie Al Kattani, (Jakarta: Gema Insani, 2011), hlm. 118-124.

(12)

3. Syarat yang tidak wajib ditaati

Misalnya seorang istri yang mensyaratkan pada calon suaminya untuk tidak berpoligami, tidak mengajaknya keluar dari rumah orangtua dan tinggal di luar negri, dsb. Syarat ini tidak wajib ditaati sebab Allah SWT tidak memerintahkannya, dan tidak haram karena Allah SWT tidak melarangnya.8

(13)

BAB III PENUTUP A. Kesimpulan

B. Saran

(14)

DAFTAR PUSTAKA

Referensi

Dokumen terkait

Skripsi dengan judul “Penundaan Akad Nikah Karena Perubahan Mahar Dalam Perspektif Majelis Ulama Indonesia (Mui) Dan Asosiasi Penghulu Republik Indonesia (Apri)

Praktik Akad Nikah Via Zoom Karena Salah Satu Mempelai Menjadi Pasien Covid-19 di Bangunmulyo Kecamatan Pakel Kabupaten Tulungagung Perspektif Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah

Pengertian al-munâsabah yang dikemukakan dua ulama ini sangat luas sekali, dan ketika diterapkan dalam ayat dan surat al-Qur'an dapat dikatakan bahwa al-munâsabah adalah suatu ilmu