MAKANAN DAN KUE DAERAH SULSEL
Disusun Oleh:
Syabina Azzahra Ramadhani Khadafi 220208501041
Pendidikan Kesejahteraan Keluarga
Fakultas Teknik
Universitas Negeri Makassar
2023/2024
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan yang Maha Esa, karena atas rahmat, hidayah dan inayah-Nya penyusun dapat menyelesaikan makalah yang bertema
“Hidangan Lauk Pauk, Sayur, dan Sambal Sulawesi Selatan”. Shalawat dan salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW yang telah membawa kita dari zaman jahiliyah menuju zaman yang terang benderang yakni Addinul Islam.
Banyak hambatan yang selama proses pembuatan makalah ini masih jauh dari sempurna, baik dari segi isi, bahan maupun pembahasannya. Mengingat hal di atas maka penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari berbagai pihak untuk perbaikan selanjutnya.
Dan tak lupa juga ribuan terima kasih penulis kepada Dra. Ratnawati, M. Hum., dan Dr. Nahriana, M .pd., selaku dosen pengampu untuk mata kuliah Makanan dan Kue Daerah Sulsel. Harapan penulis semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi para pembaca khususnya bagi mahasiswa dan dapat dijadikan sebagai sarana untuk meningkatkan pembelajaran.
Makassar, 5 Februari 2024
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... 2
DAFTAR ISI ... 3
BAB I PENDAHULUAN ... 5
A. Latar Belakang ... 5
B. Rumusan Masalah ... 5
C. Tujuan Pembahasan ... 6
BAB II PEMBAHASAN ... 7
A. Pembahasan ... 7
B. Hidangan Lauk-Pauk, Sayur, dan Sambal Berbagai Kabupaten Kota di Sulawesi Selatan ... 7
1. Kabupaten Soppeng... 7
2. Kabupaten Tana Toraja ... 7
3. Kabupaten Wajo (Sengkang) ... 12
4. Kota Makassar ... 13
5. Kota Palopo ... 19
6. Kota Parepare ... 20
7. Kabupaten Pangkep ... 21
8. Kabupaten Pinrang ... 22
9. Kabupaten Sidrap ... 23
10. Kabupaten Barru ... 23
11. Kabupaten Bone ... 24
12. Kabupaten Bulukumba ... 26
13. Kabupaten Enrekang ... 27
14. Kabutapen Jeneponto ... 29
15. Kabupaten Bantaeng ... 30
BAB III KESIMPULAN ... 32
A. Kesimpulan ... 32
DAFTAR ISI ... 33
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Indonesia adalah salah satu negara yang sangat luas dan kaya, mulai dari kaya akan sumber daya alam, seni budaya, adat istiadat, ras, suku, agama dan luas wilayah, di Indonesia terdapat 34 provinsi yang terbagi lagi atas daerah-daerah Daerah di Indonesia sangatlah banyak dan beragam banyak sekali perbedaan antara daerah satu dan daerah yang lain, mulai dari bahasa, kebiasaan, tradisi sampai makanan khasnya pun berbeda, salah satunya adalah daerah Sulawesi Selatan.
Makanan tradisional pada umumnya lebih banyak dikonsumsi olch masyarakat yang menjadi daerah asal tersebut dan kemudian diperkenalkan kepada orang lain atau masyarakat pendatang. Makanan tradisional diolah mengikuti ketentuan (resep) yang diberikan secara turun-temurun. Pada umumnya resep dalam makanan tradisional yang dibuat oleh penduduk asli tersebut merupakan hasil resep turun-temurun dan biasanya lebih banyak diturunkan di dalam keluarga. Hal ini dilakukan dengan tujuan supaya citarasa khas makanan tcrsebut dapat tetap terjaga.
Makanan tradisional umumnya terbuat dari bahan-bahan yang diperoleh secara lokal dan disaiikan sesuai selera dan tradisi setempat. Bahan bakunya umumnya bcrasal dari hewan atau tumbuhan, dimakan oleh makhluk hidup untuk memberikan tenaga dan nutrisi. Bahan-bahan tersebut boleh dikata mudah diperoleh karena pada dasarnya bisa dibeli di pasar yang ada di daerah tcrsebut sebagai penghasil makanan tradisional dan biasanya disesuaikan dengan selera yang diinginkan sehingga ada makanan tradisional yang terasa pedas, manis, dan lain-lain.
B. Rumusan Masalah
Dari Latar belakang yang telah diuraikan, maka dalam penelitian ini ditarik beberapa rumusan yang menjadi pokok penelitian, yaitu:
1. Apa saja hidangan lauk pauk apa saja yang terdapat di Sulawesi Selatan?
2. Apa saja hidangan sayuran apa saja yang terdapat di Sulawesi Selatan?
3. Apa saja hidangan sambal apa saja yang terdapat di Sulawesi Selatan?
C. Tujuan Pembahasan
Pembahasan ini dimaksudkan untuk mengetahui secara teoritis tentang menu makanan lauk-pauk, sayuran, dan sambal di Sulawesi Selatan dan diharapkan dapat digunakan sebagai landasan pengembangan ilmu pengetahuan terutama pada bidang jasa boga.
1. Mengetahui jenis lauk-pauk yang menjadi ciri khas masyarakat Sulawesi Selatan.
2. Mengetahui jenis sayuran yang menjadi ciri khas masyarakat Sulawesi Selatan.
3. Mengetahui jenis sambal yang menjadi ciri khas masyarakat Sulawesi Selatan.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pembahasan
Makanan merupakan salah satu kebutuhan utama manusia yang wajib dipenuhi sehari-hari. Selain untuk memenuhi kebutuhan hidup makanan juga bias menjadi salah satu ciri khas kebudayaan suatu daerah tertentu, karena biasanya makanan diolah dari sumber daya alam yang mudah ditemukan dengan cara pengolahan sesuai dengan adat isdtiadat pada lingkungan hidup suatu kelompok manusia sehingga disebut makanan tradisional.
B. Hidangan Lauk-Pauk, Sayur, dan Sambal Berbagai Kabupaten Kota di Sulawesi Selatan
Berikut merupakan hidangan lauk-pauk, sayuran, dan sambal yang terdapat di Sulawesi Selatan:
1. Kabupaten Soppeng
1) Paccala': Makanan Paccala versi bahasa bugis yang biasa di dengar Pecel sangat diminati warga Soppeng untuk suguhan buka puasa. Paccala adalan makanan yang menggunakan sambal kacang sebagai komposisi utamanya dan disatukan dengan aneka sayur mayur lainnya. Paccala versi bugis merupakan makanan yang terdiri dari sayur yang direbus dan lauk yang dihidangkan dengan alas pincuk atau daun pisang. Sayuran yang dihidangkan antara lain seperti kacang panjang, toge atau ganteng, daun kates, kemangi dan masih banyak yang lain.
2. Kabupaten Tana Toraja
1) Pa'karing Duku': Suku Toraja, salah satu suku yang berada di Indonesia yang telah terkenal dengan adat dan budayanya sampai ke mancanegara, setiap
upacara adat suku Toraja selalu ada hewan yang dipotong salah satunya yakni hewan Babi. Dalam acara-acara itu biasanya babi dipotong dalam jumlah yang banyak jumlah pun bervariasi mulai beberapa ekor sampai puluhan bahkan ratusan. Hasil pemotongan dalam jumlah banyak biasanya dibagi-bagikan dalam acara yang diselenggarakan. Daging itu tak mungkin habis di konsumsi dalam semalam, maka masyarakat Toraja mengawetkannya dengan sistem pengasapan atau dibuat dendeng yang biasa dikenal dengan sebutan Pa'karing di kalangan masyarakat Toraja. Pembuatan Pa'karing Duku' Bai atau dendeng daging babi yaitu dengan cara Daging Babi cuci bersih kemudian tiriskan airnya, setelah itu potong tipis dagingnya kemudian oleskan dengan garam dapur (bisa ditambahkan dengan ketumbar bubuk serta merica secukupnya). Setelah daging selesai taburi dengan garam, atau bisa mengeringkannya dengan memanfaatkan sinar matahari atau buat perasapan untuk daging babi tersebut. Tinggi perasapan lebih dari 1 meter, dalam proses pembuatan ini harus membalikkan daging nya agar bisa kering secara merata usahkan setiap kurang lebih 30 menit di balik, perasapan ini biasanya dilakukan minimal 1 hari untuk mendapatkan hasil yang lebih bagus. Pa'karing ini biasa digoreng dan konsumsi dengan nasi dan rica ulek selain itu bisa di sambal, bukan hanya itu saja Pa'karing ini bisa dimasak dengan sayur daun ubi (singkong), jantung pisang, buah nangka sayur, bulu nangko dan lain lain yang dapat disesuaikan dengan selera.
2) Pa'piong Manuk: Makanan ini biasanya disajikan dalam acara-acara besar seperti pernikahan. Pa’piong Manuk adalah makanan yang disajikan dalam potongan bambu yang sudah diisi dengan bahan-bahannya lalu dibakar sampai bambu agak kecoklatan. Pa’Piong Manuk bisa dijumpai dalam gelaran Rambu Tuka’ (pernikahan) masyarat Toraja, dan juga biasa disajikan untuk tamu yang datang berkunjung atau bersilaturahmi. Bahan yang digunakan dalam membuat Pa’piong ini cukup sederhana hanya membutuhkan bambu, serai, daun bulunangko (mayana), atau biasa juga menggunakan burak punti (batang pisang muda), ayam, dan penyedap rasa. Setelah matang, angkat dan keluarkan hidangan pa'piong dari bambu. Sajikan dengan nasi hangat. Biasanya pa’piong
disajikan pada acara-acara penting di Tana Toraja, dijadikan sebagai sajian khusus di istana, dan sajian wajib saat Natal tiba.
3) Pantollo Pamarrasan: Makanan ini diolah menggunakan bumbu utama berupa Pamarrasan atau bumbu keluak hitam atau dikenal juga dengan nama rawon.
Bahan utama Pantollo Pamarrasan adalah daging. Kuliner yang satu ini biasanya dicampur dengan salah satu jenis daging, baik itu daging babi, belut, kerbau, atau juga ikan. Pantollo Pamarrasan, rawon khas ala Toraja ini memiliki cita rasa dan wangi yang khas dari buah kluwek dengan kuah gurih pedas menyegarkan dan tidak kental. Makanan khas Toraja ini berkuah hitam bening berempah disebabkan penggunaan Pamarrasan atau kluwek. Hal yang membedakan Pantollo Pamarrasan dengan rawon adalah penggunaan cabe kotokkon yang terkenal dengan tingkat kepedasannya yang amat tinggi.
4) Pantollo Duku ( daging babi): Kuliner khas tanah Toraja yang satu ini menggunakan bumbu yang sama persis dengan Pantollo Pamarassan. Bahan dasar yang digunakan adalah daging babi yang ditambahkan dengan lombok katokkon untuk meningkatkan sensasi pedasnya.
5) Pantollo Lendong (daging belut): Dengan bumbu dasar yang masih sama yaitu kluwak, Pantollo Lendong merupakan masakan yang menggunakan belut sawah sebagai bahan utama dicampur dengan bumbu rempah, seperti Pamarrasan (klewak), cabai katokkon dan lain-lain ini dapat dijumpai di berbagai warung makan khas Toraja yang ada di Kota Makale dan Rantepao.
6) Dangkot: Dangkot merupakan masakan khas Toraja yang terbuat dari ayam kampung atau bebek. Masakan ini terkenal dengan bumbu rempahnya yang bervariasi. Karena memakai banyak bumbu rempah, teknik mengolahnya juga butuh ketelitian supaya rasanya pas. Adapun langkah membuatnya adalah Potong kecil ayam, remas dengan air jeruk nipis dan sedikit garam, biarkan 15 menit. Cuci, bilas sampai bersih, tiriskan. Panaskan minyak, tumis bumbu halus, serai, lengkuas, dan daun jeruk sampai harum. Masukkan ayam, aduk sampai berubah warna. Kecilkan api, tutup wajan, masak sampai airnya keluar.
Masukkan air, bubuhkan garam, gula, merica, dan kaldu bubuk, aduk rata.
Lanjutkan memasak dengan api kecil sampai ayam matang dan air menyusut.
Sajikan dangkot ayam dengan nasi putih. Bila menggunakan ayam kampung yang besar / tua, rebus dulu potongan ayam sampai setengah empuk baru diolah.
Dangkot Toraja memiliki rasa khas yang gurih dan pedas. Hal itu disesuaikan dengan lidah masyarakat Toraja tentunya. Masyarakat Toraja memang suka dengan rasa pedas.
7) Tollo' Tu’tuk Utan Dua' Kayu: Tu’tuk adalah tumbuk sedangkan Utan adalah sayur jadi bisa dikatakan sayur tumbuk atau tumbuk sayur. Sayur yang digunakan adalah daun singkong. Ini merupakan masakan khusus karena bahan dasar untuk membuat makanan ini adalah daging babi selain itu tu’tuk utan di Toraja dimasak kering tidak seperti di daerah lain yang kebanyakan
menggunakan kuah. "Tollo" (baca: tollok) yang berarti masakan. Tollo' tutuk utan dua' kayu ini, rasanya agak mirip botok jawa, karena bumbu yang digunakan nyaris sama. Menurut bahasa setempat, tutuk artinya ditumbuk, dan utan artinya sayuran. Seperti artinya, Tu’tuk Utan adalah daun singkong yang dihaluskan dengan cara ditumbuk. Sayuran tersebut kemudian dimasak dengan daging dan dicampur dengan cabai dan parutan kelapa. Kuliner khas Toraja ini disantap dalam bentuk kering, tanpa kuah. Tu’tuk utan biasanya disantap dengan nasi putih hangat. Sayur tuttu ini biasanya dibuat dua versi. Yakni ada yang dicampur dengan daging dan ada pula yang dimasak dengan campuran kelapa.
8) Pa'lawa: Bisa dikatakan bahwa pa'lawa merupakan ayam geprek khas Tana Toraja yang ternyata sudah ada sejak dahulu. Hidangan ini terbuat dari ayam kampung yang telah dihancurkan. Perpaduan cita rasa pa'lawa yang pedas, gurih, dan asam sangat memanjakan lidah. Tak heran jika hidangan tersebut selain digemari oleh masyarakat setempat, juga menjadi favorit para wisatawan.
Kelezatan pa'lawa dapat kamu rasakan secara langsung sebagai camilan atau disantap dengan nasi sebagai lauk.
9) Pangrarang: Pangrarang merupakan hidangan yang berbahan dasar daging ayam atau daging sapi. Walapupun pangrarang hanya menggunakan sedikit bumbu, namun kelezatannya mampu menggugah selera. Proses pengolahan pangrarang sama seperti saat mengolah sate, yaitu daging ayam atau daging sapi dipotong- potong berukuran kecil, kemudian ditusuk lalu dibakar. Namun sebelum dibakar, daging harus diberi garam terlebih dahulu. Setelah matang, pangrarang disantap bersama cabai ulek yang telah diberi air perasan jeruk nipis. Bagi masyarakat
setempat, pangrarang merupakan makanan yang harus ada di upacara adat, acara syukuran, atau orang meninggal.
3. Kabupaten Wajo (Sengkang)
1) Lawa Bale: Makanan Khas Kota Sengkang yang bahan utamanya ikan mentah.
Ikan yang digunakan biasanya nila, kande, ikan doyo, serta ikan cambang. Lawa ikan dinikmati dengan campuran kelapa parut yang dibakar menggunakan arang atau pisang batu muda, sehingga menciptakan rasa gurih dan nikmat. Makanan ini seringkali dijumpai di acara pernikahan, saat ramadhan, atau di acara – acara tertentu. Seolah menjadi hidangan khas masyarakat, sehingga tidak lengkap rasanya jika masyarakat tidak menikmati lawa bale di acara penting.
2) Olahan ikan Sengkang: Jika dilihat dari penampilan, ikan ini terlihat seperti hidangan ikan bakar yang biasa. Tetapi jangan salah, kalian bisa mendapatkan sensasi yang lezat ketika mencicipinya. Sengkang memang terkenal dengan berbagai olahan ikan yang pastinya enak-enak. Umumnya, ikan diolah dengan cara dibakar, sementara bumbu yang dipakai cukup sederhana, hanya memakai minyak sayur untuk mengoles ikan sebelum proses pembakaran dimulai.
Beberapa orang menyukai yang polosan, atau tidak dilumuri bumbu.Anda bisa mencicipi ikan tersebut dengan perasa unik yang dibuat dengan sambal mangga.
Walau ikan khas ini minim bumbu, tetapi rasa ikan yang didapatkan sangat nikmat. Pada umumnya, hidangan satu ini dilengkapi sayur bakkara. Sayuran tersebut ialah sukun yang dimasak memakai gula pasir dan garam saja.
Walaupun hidangan satu ini memakai sedikit bumbu, tetapi dengan campuran bakkara, beserta kacang panjang hijau bisa memberikan rasa alami.
4. Kota Makassar
1) Pallumara: Ialah sup dengan sajian berbentuk ikan fresh yang biasa dimakan dikala siang hari dengan nasi hangat selaku temannya. Ditilik dari penamaannya ialah Pallu yang berarti masak serta mara yang memiliki makna pedas, nyatanya sup ini mempunyai rasa pedas. Meski mirip dengan sup ikan alias pindang, tetapi tampaknya Pallumara mempunyai nilai lebih pada pemakaian rempah serta metode pemasakannya. Olahan santapan laut ini sendiri sesungguhnya dapat terbuat dengan bermacam tipe ikan apa saja, bergantung pembentuk serta kreatifitasnya. Sebagian yang sangat universal merupakan pallumara juku bolu, yang memakai ikan bandeng berdimensi besar. Akan tetapi, sebab duri dari ikan bandeng yang banyak sehingga merepotkan konsumen, hingga munculah pallumara bandeng presto yang memakai ikan bandeng presto yang sejatinya ialah santapan khas Semarang. Kemudian, terdapat pallumara juku mairo dengan bahan bawah ikan teri yang sudah dihilangkan kepalanya. Terakhir, terdapat pallumara kaloak yang memakai ikan tongkol yang terlebih dulu dipotong- potong. Bahan bonus tipe pallumara ini merupakan keluak. Tidak hanya itu, masih terdapat banyak tipe ikan lain yang dapat dipakai, mulai dari bawal, gurame, cakalang, kerapu, kakap, serta ikan tipe lain.
2) Pallukacci: Bila pallumara berarti masakan pedas, berbeda halnya dengan pallukacci yang mempunyai arti masakan asam dari kata kacci( asam) dengan pallu( masakan). Nyaris sama dengan pallumara, pallukacci pula merupakan sup
dengan warna kekuningan berbahan bawah ikan tetapi mempunyai rasa asam.
Masakan khas Sulawesi Selatan spesialnya Makassar ini dimasak secara simpel semacam sup mayoritas. Ialah dengan memasak ikan bertepatan dengan air asam beserta penyedap rasa serta garam seperlunya. Kemudian, terdapat bonus kunyit bubuk supaya rupanya jadi kuning serta dimasukkan pula tumisan bawang, irisan tomat, serta cabai. Sehabis matang, sup ini hendak mempunyai rasa yang lezat serta tekstur empuk pada daging ikan yang sudah bersih dari jeroan serta kotorannya. Kemudian rasa pedas asam pula turut timbul bila mencicipi kuahnya yang fresh itu.
3) Pallu Ce'la: Pallu Ce'la berasal dari bahasa Makassar, yakni pallu artinya masak dan ce'la artinya garam. Jadi, pallu ce'la adalah teknik memasak ikan khas Makassar menggunakan garam. Bahan lain yang digunakan untuk membuat juku pallu ce'la adalah jeruk nipis dan kunyit. Masakan ini memiliki cita rasa asin, asam dan berpadu aroma kunyit. Juku Pallu Ce'la merupakan makanan khas Makassar yang menjadi makanan rumahan favorit.
4) Pallu Kaloa: Pallu kaloa ini memiliki citarasa yang amat kompleks, aroma serta citarasa yang paling menonjol memang adalah kluwek, sehingga sekilas mungkin akan terlihat dan terasa seperti rawon. Biasanya, ikan yang digunakan adalah ikan kakap. Namun pada suapan kedua atau selanjutnya, Anda akan semakin merasakan ada tekstur butiran halus yang gurih dari kelapa gongseng.
Kelapa gongseng ini juga yang membuat kuah dari pallu kaloa menjadi lebih tebal dan kental. Adanya sereh serta daun salam sebagai salah satu bumbu dasarnya, seperti menegaskan kemiripan dari pallu kaloa dengan rawon. Tapi
pada hidangan pallu kaloa ini ada juga sebagian orang yang menambahkan daun jeruk, sehingga tercipta sebuah aroma serta rasa khas yang berbeda dari rawon.
Selain itu, cita rasa pallu kaloa yang kaya juga diciptakan oleh ketumbar, kayu manis, dan jintan yang membuatnya terasa penuh di mulut. Pallu kaloa paling cocok bila disajikan dengan racca mangga, yakni sambal terasi yang ditambah dengan serutan halus dari mangga muda. Racca mangga ini bisa menghilangkan kesan lengket dari tulang muda serta lemak yang dikandung oleh kepala ikan.
5) Pallubasa: Jika dilihat sekilas, Pallubasa akan tampak seperti Coto Makassar.
Namun, kedua kuliner ini sangat berbeda mulai dari proses pembuatan, bumbu yang digunakan, hingga proses menghidangkannya. Kuliner Coto Makassar memiliki ciri khas kuah yang dicampur dengan kacang tanah sehingga lebih pekat dan kental. Sementara kuah Pallubasa biasanya dicampurkan dengan serundeng atau kelapa parut sangrai. Tambahan lain yang membuat pallubasa lebih spesial adalah dengan ditambahkan-nya telur ayam yang dimasak setengah matang.
6) Ikan Bakar Parape: Saus Parape khas Makassar terkenal dengan cita rasa bawang merah berpadu dengan asam jawa, yang diproses jadi karamel. Kecap Bango dapat menggantikan gula dalam proses ini yang menambah rasa manis, juga membuat ikan bakar saus parape makin menarik.
7) Lawa Doke': Lawa Jantung Pisang ini merupakan makanan yang paling diincar.
Rasanya yang sedikit masam dan gurih menjadi daya tarik dan membuat penikmatnya ketagihan. Untuk membuat Lawa Jantung Pisang ini hanya butuh waktu singkat dan bahannya pun dapat dijumpai di pasar tradisional. Bahannya utamanya tentu saja jantung pisang, ikan teri atau akrab disebut oleh masyarakat Sulsel dengan nama ikan mairo, jeruk nipis, cabai rawit, kelapa parut, garam, dan penyedap rasa. Proses pembuatannya, pertama jantung pisang tersebut terlebih dahulu dibersihkan kemudian diiris dengan ukuran tipis. Setelah itu irisan jantung pisang dimasukkan ke dalam loyang kecil yang berisi air secukupnya lalu diberi jeruk nipis dan garam juga secukupnya.
8) Gammi' Pao / Racca Mangga: Salah satu sambal favorit teman makan ikan bakar yang rasanya yang asem pedas dengan aroma terasi udang yang wangi membuat nafsu makan bertambah. Rendam ikan kering dengan air panas. Buang kepala ikan. Goreng ikan kering dengan sedikit minyak sampai harum. Jangan sampai terlalu garing karena akan hancur kalau ditumbuk. Tumbuk ikan kering selagi panas bersama dgn 1/2 siung bawang putih yang telah di goreng. Setelah terburai, campur dengan gula, garam dan cabe. Ulek lagi. Masukkan racca mangga lalu ulek pelan. Siap dihidangkan dengan nasi panas. Sambal ini cukup unik, karena menggunakan buah mangga sebagai bahan utama. Cara membuat:
a) Kupas dan iris mangga muda sebesar ukuran korek api. Jika ingin lebih tebal atau lebih tipis juga bisa.
b) Bakar terasi lalu ulek bersama cabai, gula merah, garam.
c) Tambahkan 1 sendok makan air matang, agar sambal tak terlalu kering.
d) Masukkan mangga muda ke dalam cobek. Aduk sampai semua tercampur rata. Dan sambal mangga buatan sendiri siap dihidangkan.
9) Coto Makassar: Coto Makasar merupakan makanan khas Kota Daeng yang terbuat dari olahan daging sapi dan jeroannya. Isian Coto Makassar berupa daging sapi dan jeroan yang dipotong kecil-kecil. Daging sapinya tidak alot dan cukup kenyal sehingga mudah saat dikunyah. Sementara kuahnya kaya akan rempah dan kental dengan campuran kacang tanah yang telah digiling. Saat dicicipi akan terasa kontur kacang serta rempah yang pekat dan gurih sehingga memberi kenikmatan tersendiri. Jodohnya adalah buras atau lontong ala Makassar. Namun, tak sedikit yang menyantapnya bersama nasi.
10) Sop Konro: Masakan sup iga sapi khas Indonesia yang berasal dari tradisi Bugis dan Makassar. Sup ini biasanya dibuat dengan bahan iga sapi atau daging sapi.Masakan ini biasa dimakandengan burasa dan ketupat yang dipotong- potong terlebih dahulu.Bumbunya relative "kuat" akibat digunakannya ketumbar rasa pedas dan berbumbu ini dibuat dari campuran rempah-rempah seperti ketumbar, keluwak, sedikit pala, kunyit, kencur, kayumanis, asam, daun lemon, cengkih, dan daun salam.
11) Bolloso Bayao: Bo'loso' dalam bahasa Makassar artinya ceplok/cemplung.
Bayao artinya telur. Bolloso Tello’ atau telur berkuah merupakan masakankhas bugis, yaitu di daerah Soppeng yang bahan utamanya berasal dari bahan hewani, karena salah satu bahannya yaitu dari telur ayam. Bumbunya bias divariasikan dengan menggunakan santan atau pun tidak.
12) Sayur Tuttu: Sayur Tuttu’ sangat sering kita jumpai di warung-warung makan kota Makassar. Bahan dasar yang ada pada Sayur Tuttu’ adalah daun singkong yang ditumbuk hingga nyaris halus untuk kemudian dimasak bersama kuah santan, kelapa parut, beserta bumbu-bumbu lainnya. Sayur Tuttu’ sangat enak jika dinikmati sebagai pendamping nasi hangat dan lauk-pauk lainnya. Rasanya sangat gurih, bagi para pecinta makanan pedas bisa menambahkan Sayur Tuttu' dengan cabe rawit. Sayur ini bisa diolah menjadi dua versi, yaitu berkuah atau kering.
13) Kambu Paria: Banyak yang tidak menyukai peria alias pare karena rasanya yang pahit. Namun tumbuhan satu itu sejatinya bisa diolah menjadi masakan yang enak. Contohnya Kambu paria merupakan masakan khas Makassar yang terbuat dari pare yang diisi dengan daging ikan dan parutan kelapa. Hidangan Sayur menggunakan Pare sebagai bahan dasarnya, namanya adalah Kambu Paria.
Kambu Paria adalah Pare yang diisi dengan kelapa sangrai yang telah dicampur dengan daging ikan. Ikan yang digunakan adalah teri basah atau cakalang.
Tetapi yang sering dipakai adalah ikan teri basah atau mairo (dalam bahasa Makassar). Pada masakan ini, pare diisi dengan campuran kelapa sangrai dan daging ikan. Yang membuat kambu paria ini lezat adalah kuah santannya yang gurih dan rasa pare yang tidak begitu pahit.
5. Kota Palopo
1) Parede: Di daerah Sumatra, masakan seperti ini lazimnya disebut sebagai pindang atau asam pedas. Di bagian Timur Indonesia, masakan seperti ini dikenal dengan nama kuah asam. Tingkat kepedasan dan keasamannya berbeda- beda. Begitu juga bahan-bahan yang dipakai untuk menciptakan rasa asam.
Palopo di Sulawesi juga mempunyai sajian istimewa seperti itu dengan nama Parede. Bila dilihat sepintas, Parede sangat mirip dengan masakan Pallumara yang populer di Sulawesi Selatan. Tetapi, masing-masing memiliki karakter khas yang membuatnya tetap unik. Parede maupun Pallumara pun sama-sama memakai protein ikan laut, seperti ikan bandeng, kakap, lamuru, dan sebagainya.
Karena kakap dan lamuru sering berukuran besar, kepala ikan dari kedua jenis ini juga populer untuk ditampilkan di meja makan sebagai parede. Bila ikannya sangat segar, rasa kuah yang dihasilkannya pun sangat segar dengan hint tipis rasa manis alamiah dari protein hewani laut. Keistimewaan parede adalah pada kuah bening berwarna kuning-pucat dengan rasa asam-pedas yang seimbang.
Rasa asamnya mempunyai spektrum yang khas karena pemakaian asam patikala dan parutan atau rajangan tipis mangga muda. Asam patikala juga "bertanggung jawab" atas aroma harum memukau yang menguar dari masakan ini. Seluruh pancaindra kita bekerja untuk meng-apresiasi hidangan sederhana ini. Parede dari Palopo tidak akan sama rasanya bila dimasak dengan asam jenis lain.
Penggunaan asam patikala adalah "syarat mati" dalam menyajikan parede. Ini
berbeda dengan kuah asam di Ambon, misalnya, yang bisa memakai tomi-tomi, asam mawe, bahkan lemon cui untuk menghasilkan rasa asam. Justru karena cara memasak parede yang sangat sederhana, dan bumbu-bumbunya pun sangat minimalis, keahlian si pemasak menjadi tantangan utama. Bila tidak tepat cara memasak maupun perbandingan bumbu-bumbu yang dipakai, hambarlah citarasa sajian ini. Bayangkan, hanya dengan cabe rawit dan asam patikala saja sudah mampu tercuatkan citarasa yang sedemikian elok. Ikan parede adalah olahan ikan segar khas Palopo. Ikan yang digunakan adalah bandeng, kakap, dan lamuru. Sekilas masakan ikan parede mirip dengan masakan ikan pallumara, hanya yang membelakan masakan ikan parede memakai asam patilaka dan irisanbuah mangga muda. Sehingga rasanya agak asam dan aromanya harum berkat asam patikala ini.
2) Opor Terong: Makanan khas Palopo selanjutanya adalah opor terong. Sajian ini tidak berbeda dengan opor ayam, hanya bahan utamanya diganti dengan terong.
Rasa opor terong ini tidak kalah enak dengan opor ayam, kuah gurih dan tekstur terong yang lunak memberikan cita rasa tersendiri. Opor terong makin nikmat jika ditaburi bawang goreng yang renyah.
6. Kota Parepare
1) Bajabu’ Ikan: Salah satu Produksi Bajabu Ikan yang berlokasi di Bacukiki Kota Pare Pare, Sulawesi Selatan yang merupakan produksi Bajabu sendiri dari Produk olahan ikan tuna, yang disangrai hingga kering bersama santan kelapa,
rasanya sangat gurih dan dapat dijadikan lauk atau camilan sejenis abon ikan.
Dengan rasa ikan yang khas, bajabu cocok di makan kapan saja, bisa saat sarapan dengan hanya nasi panas saja, cocok menjadi pengganti lauk untuk yang sibuk tidak sempat masak, atau di taburkan ke bubur balita, cocok dimakan bersama ketupat/buras, mie, roti, isi pastel, isi lemper atau hidangan lainnya.
Bajabu Ikan sendiri tersedia rasa original dan pedas, sangat cocok untuk dijadikan oleh-oleh dari Sulawesi Selatan khususnya Pare pare. Sangat cocok untuk bekal perjalanan jauh karena dioleh dengan rempah rempah pilihan serta tanpa bahan pengawet.
7. Kabupaten Pangkep
1) Kepiting Kambu: Merupakan daging rajungan dipisahkan dari cangkangnya lalu dicampur sayuran seperti wortel atau kentang serta bumbu-bumbu dan dimasukkan kembali ke dalam cangkangnya kemudian dikukus dan digoreng.
Bedanya dengan kepiting pada umumnya, isi pada bokong kepiting terlebih dahulu dipisahkan lalu dicampur dengan kelapa. Diberi rempah bawang merah, bawang putih, merica, cabai besar dan bumbu penyedap.
2) Sop Saudara: Sop saudara merupakan sajian berkuah dengan bahan dasar daging sapi. Kuah dari sop saudara merupakan perpaduan berbagai rempah-rempah yang telah diracik sedemikian rupa. Aroma makanan berkuah ini sangat menggugah selera. Selain daging sapi, di dalam kuah dalam makanan ini terdapat bihun, perkedel kentang, serta susu yang bercampur dengan bumbu yang telah diracik tadi. Biasanya sop saudara disajikan dengan nasi panas yang
menambah kenikmatan dari sajian ini. Sebagian orang juga menikmati sajian ini dengan ikan bandeng bakar yang didampingi bumbu kacang.
8. Kabupaten Pinrang
1) Nasu Palekko: Dibuat dengan menggunakan bahan utama daging bebek. Daging bebek yang telah dibersihkan dan dipotong kecil-kecil kemudian ditambahkan dengan bumbu khusus. Sebelum diolah, daging bebek terlebih dahulu ditambahkan dengan cuka serta jeruk nipis untuk menghilangkan bau amis.
Hidangan yang satu ini biasa disajikan dengan cita rasa pedas. Selain memiliki rasa yang lezat, nasu palekko juga memiliki tampilan serta aroma yang sangat menggugah selera. Berkunjung ke kawasan Pinrang, tentu tidaklah susah untuk mencari kuliner nasu palekko. Nasu memiliki arti memasak dan palekko memiliki arti kuali. Kudapatan ini dibuat dengan menggunakan bahan utama daging itik yang telah dipotong-potong kecil menyerupai daging cincang. Nasu Palekko dimasak dengan dengan beberapa bumbu dan rempah seperti bawang merah, bawang putih, lengkuas, daun jeruk, cabai merah, cabai hijau, garam, jahe, serai, dan juga merica. Sesuai dengan namanya, Nasu Palekko memang diolah dengan wadah periuk atau kuali.
9. Kabupaten Sidrap
1) Cawiwi: Belibis goreng atau yang dikenal dengan istilah bugis cawiwi merupakan makanan khas Sidrap. Cawiwi biasanya disajikan dalam keadaan panas dengan tingkat pedas yang berbeda, sesuai selera lidah penikmatnya.
Cawiwi merupakan hidangan yang bahan utamanya adalah burung belibis.
Menggunakan bumbu rempah-rempah pilihan, cita rasa kuliner ini gurih serta pedas dengan tekstur daging lembut.
10. Kabupaten Barru
1) Telur Asin: Telur asin dikenal sebagai makanan yang banyak dijumpai di berbagai daerah dan salah satunya dikenal sebagai salah satu makanan khas Barru. Telur asin biasa disajikan bersama dengan gogos yang juga merupakan makanan khas Barru memiliki tampilan serta cita rasa yang tidak berbeda dengan telur asin pada umumnya. Perpaduan telur asin dan gogos tidak hanya disukai oleh warga lokal saja melainkan juga oleh para wisatawan yang datang ke Kabupaten Barru.
2) Tiram Bakar: Tiram bakar merupakan kuliner khas Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan (Sulsel) yang cukup digemari masyarakat. Olahan tiram asal Kelurahan Coppo, Kabupaten Barru ini cukup unik karena tidak seperti sajian tiram pada umumnya. Saat dihidangkan, pengunjung tidak bisa langsung menyantap tiram, melainkan harus membuka sendiri tiram bakar menggunakan alat pemukul dari
besi yang telah disediakan. Tiram adalah salah satu jenis kerang laut yang mudah dijumpai di muara sungai Lajari. Kerang ini terlebih dahulu dibersihkan sebelum diolah dan dibumbu sehingga menghasilkan cita rasa lezat. Selain itu, cara membakar tiram juga masih menggunakan cara tradisional. Namun, hal ini justru menambah aroma yang mengundang selera dari tiram bakar Barru.
Setelah daging tiram dikeluarkan dari cangkang, baru bisa dikonsumsi bersama nasi hangat dan sambal cocol jeruk nipis. Sensasi rasa pedas bercampur asam dari sambal sangat pas dengan kenyal dan gurihnya daging tiram. Selain itu, pengunjung juga bisa mengonsumsi tiram dengan cacahan mangga muda. Rasa asam dari manis dan gurih dari tiram akan terasa sangat nikmat. Jika dibandingkan dengan telur asin pada umumnya, memang tidak ada perbedaan yang signifikan. Pasalnya, warga kabupaten Barru dan sekitarnya menggunakan inovasi membuat telur asin dengan merujuk dari daerah lain yang ada di Indonesia. Jadi, memang tidak ada perbedaan. Yang menjadi satu hal menarik adalah cara penyajiannya yang disantap bersama dengan Gogos yang masih panas.
11. Kabupaten Bone
1) Nasu Poppo: Makanan yang satu ini dibuat dengan menggunakan bahan utama daging ayam. Jika dilihat sekilas, makanan ini memang memiliki tampilan yang tidak jauh berbeda dengan opor ayam yang populer di pulau Jawa. Tetapi sebenarnya sangatlah berbeda. Nasu poppo dibuat dengan berbagai rempah yang khas. Beberapa rempah yang digunakan diantaranya sereh, daun salam, hingga biji buah pala. Proses pengolahan yang masih menggunakan cara tradisional juga menghasilkan kelezatan tersendiri.
2) Nasu Itik Palekko: Nasu itik palekko juga merupakan hidangan khas lebaran bagi suku Bugis khususnya di daerah Pinrang, Sidrap dan Pare-pare. Tak lengkap rasanya jika saat lebaran, di meja makan tidak tersaji masakan ini.
Daging itik memiliki sensasi rasa yang berbeda dibanding daging ayam. Rasa gurih dan pedas dari nasu itik palekko menciptakan sensasi unik yang tentu sangat disukai oleh pecinta makanan pedas. Sesuai namanya, bahan baku utamanya adalah itik muda, karena itik tua dagingnya biasanya lebih liat dan keras. Daging itik dicuci bersih dan dicampur air asam jawa yang berfungsi untuk menghilangkan bau amisnya. Minyak yang digunakan untuk menggoreng daging itik bukanlah sembarang minyak goreng melainkan minyak yang dihasilkan dari kulit itik itu sendiri.
3) Nasu Likku: Dalam bahasa Bugis Likku berarti lengkuas. Memang masakan ini menggunakan lengkuas muda sebagai bumbu utama. Dulu lengkuas ini dipotong kecil memanjang seperti korek api, namun sekarang, atas nama kepraktisan, lengkuasnya diparut atau diblender. Potongan daging ayam dimasak bersama lengkuas, sereh dan santan. Terakhir ditambahkan kelapa sangrai untuk menambah kekentalan dan memberikan wangi yang khas.
12. Kabupaten Bulukumba
1) Toppa Lada: Toppa lada merupakan hidangan daging khas Bulukumba yang pedas gurih berempah. Dimasak perlahan hingga pekat bumbunya. Paling enak dimakan dengan nasi hangat. Ada yang menyebut toppa lada sebagai rendangnya orang Makassar. Meskipun racikan bumbunya berbeda. Tetapi rasa dan tampilannya sedikit berbeda. Toppa lada lebih singkat proses memasaknya.
Dari namanya 'toppa' artinya irisan dan 'lada' artinya cabe. Toppa lada berarti irisan cabe. Karena masakan ini memakai cabe cukup banyak. Toppa lada umumnya disajikan pada acara khusus keluarga seperti nikahan atau sunatan.
Daging sapi yang sedikit berlemak cocok dibuat toppa lada. Bisa memakai daging sapi sengkel yang dipotong-potong ukuran sedang. Setelah santan dimasukkan, sebaiknya masak dengan api kecil agar kuahnya kental berminyak.
2) Bale Tapa / Bale Tapa: Masakan ikan asap khas Bulukumba (bale = ikan, tapa = asap). Ini adalah ikan yang dibakar dengan memanfaatkan panas asap. Untuk bahan membuat asapnya sendiri adalah sabut kelapa supaya menghasilkan wangi gosong yang wangi khas kelapa. Bale tapa ini menjadi salah satu hidangan yang cocok bagi yang mempunyai selera pedas. Juku tapa yang biasa juga disebut juku karra' merupakan salah satu kuliner dari bahan ikan tuna maupun ikan cakalang. Ikan yang telah dipilih dicuci hingga bersih. Kemudian, diiris dan dibagi menjadi beberapa potongan. Cara memotongnya yang diiris atau dalam
bahasa Bugis Bulukumba yaitu 'dikarra', menjadikan kuliner disebut juku karra.
Setelah dipotong, kemudian daging tersebut ditusuk dengan lidi dan dibakar diatas tungku. Proses pembuatan yang diasap inilah sehingga beberapa orang menyebutnya 'ditapa' atau diasap. Proses pengasapan membutuhkan waktu yang lama hingga ikan berubah warna menjadi cokelat muda. Setelah matang, maka kuliner satu ini bisa disantap dengan menggunakan cuka tradisional maupun jeruk nipis.
13. Kabupaten Enrekang
1) Nasu Camba: Nasu cembah menjadi makanan yang wajib ada di setiap pesta pernikahan. Nasu cemba berasal dari bahasa masyarakat setempat, nasu yang berarti masakan dan cemba adalah tumbuhan yang berasal dari Kabupaten Enrekang. Tumbuhan yang memiliki rasa asam dan dapat menghilangkan bau amis pada daging. Nasu cemba dibuat dari daging iga yang hampir mirip dengan masakan konro bedanya masakan ini menggunakan tambahan cemba. Bagian daun cemba yang digunakan yaitu daun yang masih mudah. Daun cemba ini memberikan rasa asam yang khas. Cemba (Acacia pennata) ini biasanya tumbuh liar di pinggiran gunung Enrekang. Bentuk daun tumbuhan cemba ini mirip dengan meniran. Bedanya, tumbuhan cemba memiliki tangkai-tangkai yang berduri.
2) Camme Burak: Camme burak atau Nasu Burak juga menjadi salah satu makan khas Enrekang. Makanan ini berasal dari kata "camme" yang berarti sayur dan
"burak" yang berarti pelepah atau batang pisang muda. Jadi camme burak adalah masakan sayur yang berbahan dasar bagian dalam pelepah/batang pisang muda.
Alasan mengapa harus menggunakan pelepah/batang pisang muda yaitu agar nantinya rasa camme burak tidak terasa pahit saat dihidangkan. Tidak semua batang pohon pisang bisa dibuat menjadi camme burak, melainkan harus dipilih yang masih muda, segar dan tinggi pohon antara satu sampai dua meter serta belum berbuah. Biasanya jenis pohon pisang yang digunakan adalah pohon pisang sanggar, karena menurut warisan turun temurun jenis pisang tersebut lebih nikmat dibanding jenis pohon pisang lainnya. Pembuatan camme burak sangatlah sederhana, dengan mengupas batang pisang hingga menyisahkan bagian dalamnya yang disebut sebagai pelepah. Kemudian diiris tipis-tipis.
Irisan pelepah tadi kemudian dicampur dengan bumbu kemudian dimasak hingga matang. Biasanya sajian camme burak ditambahkan ayam rebus yang diiris kecil-kecil. Camme burak ini biasanya dihidangkan dengan menu tradisional lainnya yaitu Pulu Mandoti dan Dangke.
3) Camme Tuttuk: Camme tuttuk merupakan hidangan sayur Khas Enrekang yang terbuat dari bahan dasar daun singkong. Dalam bahasa duri "Camme" berarti sayur dan "tuttuk" berarti tumbuk. Sesuai dengan namanya cara pengolahan sayur ini dengan cara daun singkong yang ditumbuk. Lalu dimasak bersama rempah-rempah seperti serai dan sedikit santan. Camme tuttuk dapat dicampur irisan jantung pisang atau yang lainnya sesuai dengan selera. Sajian Camme tuttuk akan sangat terasa nikmat jika disajikan bersama nande kandoa. Bagi masyarkat Duri sajian camme tuttuk dan nande kandoa adalah sajian yang istimewa, karena hanya disajikan pada acara-acara tertentu.
4) Ayam Bundu-Bundu: Sesuai namanya, makanan khas Enrekang yang satu ini terbuat dari bahan dasar ayam. Ayam bundu-bundu memiliki rasa istimewa, sehingga menjadikan salah satu makanan khas yang paling diminati oleh wisatawan. Ayam bundu-bundu memiliki bahan dasar ayam kampung yang dipotong kecil dan diberi bumbu rempah yang kaya rasa. Bumbu kuning dan serabut dari rempah-rempah yang digoreng membuat ayam bundu-bundu memiliki tampilan yang mudah dikenali ketika disajikan. Rempah yang digunakan dalam memasak makan ini adalah rempah pilihan yang terdiri dari ketumbar, serai, kunyit, kemiri, jahe, dan juga lengkuas. Masyarakat Enrekang mempertahankan resep dan proses memasak ayam bundu-bundu secara tradisional sebagai bentuk penghormatan terhadap makanan warisan orang- orang terdahulu.
14. Kabutapen Jeneponto
1) Coto Kuda: Makanan khas Jeneponto Sulawesi selatan adalah Coto Kuda.
Makanan ini memang terlihat seperti Coto Makassar. Namun yang membedakan adalah di Coto Kuda khas Jeneponto terdapat bahan dasar jeroan. Selain itu sesuai dengan namanya, Coto Kuda khas Jeneponto ini juga dibuat dari daging kuda. Walaupun demikian dijamin daging tidak liat tetapi tetap empuk. Coto Kuda tidak hanya menjadi makanan khas yang ada di tempat wisata saja. Tetapi di warung makan atau restoran-restoran yang terdekat juga banyak dijual menu ini. Daging kuda yang direbus lama ke dalam panci berupa potongan drum lalu ditambahkan dengan bumbu sederhana berupa garam kasar, asam, dan beberapa
jenis akar-akaran serta memiliki aroma yang didominasi oleh bumbu rempah sehingga dapat menutupi bau unik dari daging kuda tersebut.
2) Gantala Jarang: Makanan khas Jeneponto Sulawesi Selatan yang pertama adalah Gantala Jarang. Ini merupakan makanan yang pasti membuat kamu ketagihan saat pertama kali mencicipinya. Tak hanya itu makanan yang menggunakan bahan dasar daging kuda ini ternyata juga dilestarikan dengan baik. Bahkan seringkali disajikan pada acara-acara besar seperti acara sunatan, penyambutan tamu, acara adat dan pesta pernikahan. Salah satu keistimewaan atau bisa dibilang unik dari makanan Gantala Jarang adalah bumbunya tidak terlalu banyak. Hanya perpaduan dari garam dan vaksin atau penyedap rasa saja.
Namun dari segi cita rasa sangat lezat dan kegurihannya lebih nendang di lidah.
15. Kabupaten Bantaeng
1) Gagape: Dahulu saat zaman kerajaan Gagape merupakan makanan yang paling mahal karena makanan ini umumnya hanya disajikan dan dinikmati oleh para bangsawan Kerajaan Bantaeng. Akan tetapi, saat ini Gagape bisa dihidangkan juga dinikmati oleh masyarakat luas pada hari-hari besar, misalnya Idul Fitri atau Idul Adha. Selain disajikan pada hari-hari besar, gagape juga bisa dijumpai pada upacara pernikahan yang menggunakan adat Bugis-Makassar. Ternyata jika dilihat sekilas, gagape ini mirip dengan opor ayam dari segi penampilannya.
Namun ada hal yang membedakan gagape dari opor ayam, yaitu cara penyajiannya dan rasanya. Gagape mempunyai ciri khas yang unik. Keduanya berbahan dasar ayam, namun ayam gagape menggunakan jenis ayam yang khusus yaitu ayam jantan. Sementara itu, bumbu ayam agape juga memakai rempah opor misalnya ketumbar bubuk, lengkuas, kunyit hingga jintan. Namun,
ada satu lagi yang menjadikan gagape berbeda dari opor ayam, yaitu penambahan sentuhan akhir berupa parutan kelapa yang telah disangrai. Rasa dari kelapa parut sangrai membuat ayam gagape memiliki cita rasa gurih serta lezat. Jika opor ayam di santap dengan nasi putih atau ketupat, umumnya ayam gagape disantap bersama umbi-umbian misalnya singkong rebus sampai ubi jalar. Akan tetapi, gagape juga terkadang disantap dengan nasi putih atau ketupat oleh sebagian masyarakat di saat Hari Raya Idul Fitri.
2) Lawa’ Gangang: Jangan Lawa’ artinya lawara, gangang berarti sayur, sedangkan jangan berarti ayam. Jadi lawa’ gangang jangan berarti lawara sayur ayam.
Makanan ini adalah perpaduan antara beberapa bahan, yaitu sayur segar serta ayam kampung yang kemudian dicampur jadi satu dengan ditambahkan bahan dasar berupa kelapa parut. Makanan khas Bantaeng ini hampir mirip dengan masakan khas Sinjai. Namun yang membedakan adalah variasi serta isi dari masakan. Di Bantaeng jenis sayuran yang digunakan adalah sayur pakis. Bisa juga diganti oleh daun labu siam.
BAB III
KESIMPULAN
A. Kesimpulan
Dari hasil dan pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa karakteristik hidangan lauk-pauk Sulawesi Selatan banyak bahan utama pembuatannya menggunakan ayam, ikan, dan juga itik atau bebek dengan tambahan cabai yang membuat masakan tersebut memiliki rasa yang pedas. Sementara untuk hidangan sayur banyak menggunakan daun singkong.
Masyarakat Sulawesi Selatan dikenal sebagai pengonsumsi cabai rawit yang pedes. Kita bisa saksikan itu pada beraneka resep dan sajian di meja makan keluarga maupun di tempat-tempat makan yang ada di Sulawesi Selatan, beberapa di antaranya adalah Nasu Palekko, Toppa Lada, dan Lawa Doke'.
Karakteristik makanan Sulawesi Selatan juga dikenal dengan hidangan yang menggunakan Daging sebagai bahan utamanya. Ini juga tak lepas dari sejarah perkembangan masyarakat dan kebudayaan Bugis-Makassar yang selain berkecimpung pada ranah kemaritiman, juga bergerak pada wilayah agraris di beberapa daerah.
Wilayah-wilayah agraris inilah yang menjadi tempat perkembangbiakan hewan ternak seperti Kerbau dan Sapi. Orang Sulawesi Selatan tahu jika jeruk nipis memiliki kandungan yang bisa menetralisir gumpalan lemak dalam olahan daging makanan khas Sulawesi Selatan, maka jeruk nipis selalu menjadi pendamping hidangan lauk-pauk di atas meja makan.
DAFTAR ISI
Abdul Asis, R. T. (2019). Kuliner Tradisional Pada Upacara Adat di Sulawesi Selatan.
Makassar: UPT UNHAS Press.
Alya, G. (2021, Januari 14). Resep Pa'piong, Masakan Khas Toraja yang Nikmatnya Bikin Nampol. Retrieved from IDN TIMES: Resep Pa'piong, Masakan Khas Toraja yang Nikmatnya Bikin Nampol
Listiyana, S. (2021, Agustus 10). 5 Kuliner Khas Soppeng yang Lezat dan Menggiurkan, Bikin Lapar! Retrieved from IDN TIMES:
https://www.idntimes.com/food/diet/sinta-listiyana-2/kuliner-khas-soppeng-c1c2 Maura, I. (2019). PREFERENSI SISWA SMK TERHADAP MAKANAN TRADISIONAL DI KABUPATEN BANTUL . Retrieved from eprints@uny:
https://eprints.uny.ac.id/66002/
Nur Salam, M. S. (2011). MAKANAN TRADISIONAL SEBAGAI POTENSI DAYA TARIK WISATA DI PROVINSI SULAWESI SELATAN.
PRATAMA, D. M. (2021). Tinjauan Tipografi Pada Gerobak Pedagang Jajanan Cimol Di Kota Bandung . Retrieved from unikom.elibrary:
https://elibrary.unikom.ac.id/id/eprint/5241/