PENDAHULUAN
Latar Belakang
Badan Pengawas Pemilihan Umum (BAWASLU) sebagai lembaga pengawas atau pengawas dalam setiap penyelenggaraan pemilu atau pilkada yang diselenggarakan oleh KPU, dimana peran Bawaslu terdiri dari mempunyai tugas, wewenang dan kewajiban pengawasan berdasarkan undang-undang, tugas Bawaslu Wewenang dan kewajibannya antara lain menetapkan standar, melakukan pengawasan, melakukan pencegahan dan penindakan, mengawasi persiapan penyelenggaraan pemilu, mengawasi pelaksanaan tahapan pemilu, mencegah praktik politik uang, dan memantau netralitas Aparatur Sipil Negara (ASN). . dan melaporkan dugaan pelanggaran. Penelitian ini penting untuk dilakukan peneliti agar dapat dijadikan rekomendasi bagi Badan Pengawas Pemilihan Umum (BAWASLU) Kota Makassar untuk dapat mengetahui peran Badan Pengawas Pemilihan Umum (BAWASLU) dengan tingkat pengawasannya. tentang netralitas Aparatur Sipil Negara (ASN) pada Pilkada Kota Makassar dan juga dapat dijadikan pedoman untuk meningkatkan pengawasan netralitas ASN pada Pilkada Kota Makassar Tahun 2020 di Badan Pengawas Pemilihan Umum (BAWASLU) Kota Makassar Kantor.
Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian lebih lanjut dan mengangkat judul “Peran Badan Pengawas Pemilu dalam Meningkatkan Netralitas Aparatur Sipil Negara pada Pilkada Kota Makassar Tahun 2020”, sehingga netralitas ASN dapat ditingkatkan oleh Bawaslu dan Bawaslu dapat mengoptimalkan pengawasan secara efektif, maksimal dalam melakukan perbaikan, memantau pelanggaran-pelanggaran terkait Netralitas ASN pada setiap pemilihan umum dan Pilkada.
Tinjauan Penelitian
Manfaat Penelitian
Bawaslu terkait Netralitas Aparatur Sipil Negara (ASN) dan untuk menambah literatur Universitas Muhammadiyah Makassar khususnya Jurusan Ilmu Administrasi Negara mengenai peran Bawaslu Kota Makassar dalam meningkatkan netralitas Aparatur Sipil Negara (ASN). ). Dan penelitian ini menjadi motivasi bagi mahasiswa dan masyarakat umum serta kalangan elit untuk mengetahui peran Bawaslu dalam meningkatkan netralitas aparatur sipil negara (ASN).
TINJAUAN PUSTAKA
Penelitian Terdahulu
Fety Fitriana (2019) dengan judul penelitian “Peran Badan Pengawas Pemilu (BAWASLU) dalam melaksanakan pengawasan dalam penyelenggaraan pemilu tahun 2019 di Kabupaten Ponorogo”, dimana penelitiannya menggunakan metode penelitian kualitatif, yang hasilnya menunjukkan bahwa Terdapat peran Bawaslu Kabupaten Ponorogo dalam melakukan upaya pencegahan pelanggaran, baik pelanggaran administratif maupun pencegahan kode etik dan hambatan penyelenggaraan pemilu, baik internal maupun eksternal dalam penyelenggaraan pemilu. Kualitatif Terdapat peran Bawaslu Kabupaten Ponorogo dalam melakukan upaya meminimalisir/mengurangi pelanggaran, baik pelanggaran administratif maupun pencegahan kode etik, serta adanya hambatan dalam penyelenggaraan pemilu baik yang bersifat internal maupun eksternal pada saat pemilu.
Teori dan Konsep
- Teori Peran
- Teori Demokrasi dan Pemilukada
- Teori Pengawasan
- Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu)
- Netralitas Aparatur Sipil Negara
Sosialisasi Penyelenggaraan Pemilu; dan Melaksanakan persiapan lain penyelenggaraan pemilu sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Pengangkatan sampai dengan penetapan pasangan calon, calon anggota DPR, calon anggota DPD, dan calon anggota DPRD sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan;
Kerangka Pikir
Fokus Penelitian
Deskripsi Fokus Penelitian
Pengawasan merupakan suatu proses pengamatan terhadap pelaksanaan seluruh kegiatan pilkada untuk memastikan pelaksanaan yang dilaksanakan oleh Bawaslu Kota Makassar berjalan sesuai dengan rencana yang telah ditentukan. Pengawasan sangat diperlukan yang menjadi dasar perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi pengawasan pemilu atau pemilu daerah untuk memastikan seluruh tugas, fungsi dan wewenang pengawasan Bawaslu dapat berfungsi secara efektif sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilu. Penindakan merupakan serangkaian proses penanganan pelanggaran dengan SOP yang telah ditetapkan, penindakan terhadap pelanggaran dilakukan untuk meminimalisir terjadinya pelanggaran Kode Etik ASN berdasarkan undang-undang pasal 2 nomor 5 tahun 2014 dalam pilkada, sehingga pelanggaran serupa tidak terjadi lagi. Bentuk penanganannya berupa mekanisme penanganan pelanggaran yang telah diatur dalam Pasal 159 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum, yang meliputi penerimaan pengaduan dan laporan mengenai dugaan pelanggaran aturan etik dan tindak lanjutnya. pelanggaran Kode Etik ASN Pilkada Kota Makassar Tahun 2020.
METODE PENELITIAN
- Waktu dan Lokasi
- Jenis dan Tipe Penelitian
- Teknik Pengumpulan Data
- Teknik Analisis Data
- Teknik Pengabsahan Data
Observasi ini menggunakan observasi partisipan yang mengharuskan peneliti untuk dapat mengakses apa yang dilakukan Bawaslu Kota Makassar mengenai netralitas ASN dalam pilkada. Selain itu, Bawaslu Kota Makassar juga memantau Akun Media Sosial ASN yang berpotensi menjadi alat kampanye. Bagaimana peran Bawaslu dalam penyelenggaraan pilkada di kota Makassar tahun 2020, khususnya mengenai netralitas ASN dalam pilkada.
Apa upaya Anda untuk meminimalisir tingkat ketidaknetralan ASN pada Pilkada Kota Makassar 2020? Bagaimana pendapat anda mengenai keterlibatan non-netral ASN pada pilkada di Kota Makassar tahun 2020.
Bagaimana menyikapi peran bawaslu kota makassar dalam pengawasan pilkada, khususnya pengawasan netralitas ASN pada pilkada kota makassar tahun 2020.
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Deskripsi Lokasi Penelitian
Kecamatan dengan wilayah terluas adalah Kecamatan Biringkanaya dengan luas 48,22 km2 atau 27,43 persen luas wilayah Kota Makassar. Sedangkan kecamatan dengan luas wilayah terkecil adalah Kecamatan Mariso dengan luas 1,82 km2 atau 1,04 persen luas wilayah Kota Makassar. Dengan posisi selanjutnya adalah Kecamatan Wajo yang luasnya 1,99 km2 atau 1,13 persen luas wilayah Kota Makassar dan menduduki peringkat wilayah terkecil di nomor dua, dan.
Kecamatan Bontoala merupakan yang terkecil pada urutan ketiga dengan luas 2,10 km2 atau 1,19 persen luas Kota Makassar. Terjadi Pergantian Sementara (PAW) Bawaslu Kota Makassar setelah salah satu Komisioner Bawaslu Kota Makassar meninggal dunia pada tanggal 25 Agustus 2018. Pada tanggal 1 Oktober 2021, Ketua Bawaslu Makassar Nursari, SH., M.H. mengundurkan diri sebagai anggota Bawaslu Kota Makassar.
Karena adanya kekosongan Ketua BWaslu Kota Makassar, maka pada tanggal 1 November 2021 diadakan rapat paripurna untuk menentukan Ketua Bawaslu Kota Makassar, yang hasilnya mengangkat Dr. Abdillah Mustari sebagai Plt.
Hasil Penelitian
Lantas “Bagaimana upaya Bawaslu meminimalisir tingkat ketidaknetralan ASN pada Pilkada Kota Makassar Tahun 2020 di Kota Makassar”. Dari hasil wawancara di atas terlihat bahwa indikator pencegahan pada pemilihan kepala daerah di Kota Makassar khususnya menghambat netralitas ASN berdasarkan Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2018 tentang Pengawasan Bawaslu. Bawaslu Kota Makassar pada tahapan pemilu menjelang pilkada rutin melakukan sosialisasi terkait pengawasan terhadap netralitas ASN dan masyarakat pada tahapan pemilukada.
Bawaslu Kota Makassar semakin gencar melakukan pengawasan terhadap kampanye pasangan calon melalui media sosial, mengingat banyaknya pelanggaran terhadap ASN yang terjadi saat berkampanye melalui media sosial. Mengenai pengawasan terhadap prinsip netralitas ASN yang bekerjasama dengan KASN dan KPU Kota Makassar dalam bentuk Nota Kesepahaman/atau perjanjian kerjasama. Dalam wawancara dengan masyarakat, “Bagaimana tanggapan Anda terhadap peran Bawaslu Kota Makassar dalam pengawasan pilkada, khususnya pemantauan netralitas ASN pada pilkada Kota Makassar 2020.”
Pengurus Wilayah Kota Makassar menjalankan tugas sesuai dengan undang-undang, dan Bawaslu Kota Makassar melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya berdasarkan Undang-undang No. 7 Tahun 2017 tentang Pengawasan Penyelenggaraan Pemilihan Umum.
Pembahasan
Meski ada aturan ASN tidak boleh ikut politik praktis, namun sudah menjadi kebiasaan di negara kita saat menghadapi pemilihan pendahuluan daerah (Pilkada) Bawaslu Kota Makassar mengeluarkan surat imbauan kepada ASN untuk melaporkan pelanggaran. menjaga hukum seminimal mungkin. kode etik berupa ketidaknetralan ASN pada Pilkada Kota Makassar tahun 2020. Dalam memantau netralitas ASN pada pemilu, Bawaslu Kota Makassar juga telah melakukan tindakan pencegahan dengan menjalin kerja sama dalam bentuk MoU dengan KASN. Dengan upaya pencegahan Bawaslu Kota Makassar dengan menyebarkan berbagai TPS di setiap daerah dan bekerja sama dengan instansi terkait.
Menurut penulis, berdasarkan hasil penelitian, dalam meningkatkan netralitas ASN pada Pilkada Kota Makassar Tahun 2020, upaya pencegahan Bawaslu Kota Makassar berdasarkan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 telah melakukan upaya pencegahan yang maksimal berdasarkan peraturan perbawaslu yaitu undang-undang nomor 7 tahun 2017. Berdasarkan indikator Pengawasan berdasarkan undang-undang nomor 7 tahun 2017 dalam hal pengawasan dilakukan sesuai dengan fungsi pengawasan. Bawaslu Kota Makassar telah mengawasi pelaksanaan pemilihan pendahuluan daerah yang diselenggarakan mulai dari tingkat kecamatan hingga distrik. Tingkat TPS untuk memperoleh fakta, data dan informasi. Berdasarkan hasil penelitian penulis mengenai indikator penindakan pelanggaran Kode Etik ASN pada Pilkada Kota Makassar Tahun 2020, Bawaslu Kota Makassar bernasib baik, dengan hasil data yang diperoleh sebanyak 17 laporan. dugaan pelanggaran kode etik ASN pada Pilkada 2020. Dari 17 laporan, terdapat 6 kasus pelanggaran kode etik ASN yang tidak netral di dalamnya.
Peran Bawaslu dalam meningkatkan netralitas ASN dalam upaya pencegahan pada Pilkada Kota Makassar tahun 2020 adalah dengan memberikan upaya pencegahan yang maksimal yang dibuktikan dengan kegiatan sosialisasi Bawaslu Kota Makassar kepada ASN dalam kegiatan deklarasi ASN dan diterbitkannya surat imbauan kepada ASN untuk mencegah terjadinya pelanggaran etika. aturan mengenai penyelenggaraan pilkada berdasarkan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum Parlemen.
PENUTUP
Kesimpulan
Pengawasan Bawaslu Kota Makassar dalam penyelenggaraan Pilkada Kota Makassar Tahun 2020 belum maksimal dalam melakukan pengawasan terhadap ASN pada Pilkada Tahun 2020 di Kota Makassar karena terlihat dari banyaknya kasus ketidaknetralan. ASN pada Pilkada sebelumnya yaitu tahun 2018 hingga Pilkada tahun 2020, jumlah kasusnya masih sedikit yaitu ditemukannya pelanggaran dengan jumlah 6 orang dari 17 temuan laporan dugaan pelanggaran Pilkada. Kode etik ASN dalam pilkada yang jumlahnya masih terbilang besar sehingga pengawasan yang dilakukan Bawaslu Kota Makassar belum dilakukan dengan baik. Penindakan terhadap pelanggaran yang dilakukan Bawaslu Kota Makassar berdasarkan data rangkuman hasil laporan dugaan pelanggaran Kode Etik ASN pada Pilkada Kota Makassar Tahun 2020 dan hasil wawancara yang diberikan Bawaslu Kota Makassar terdapat 17 laporan dugaan pelanggaran Kode Etik ASN pada Pilkada Kota Makassar tahun 2020. ASN -Netralitas diperoleh Bawaslu Kota Makassar dan telah direkomendasikan ke KASN, dari Dari 17 laporan dugaan pelanggaran, ada 6 temuan yang sudah ditanggapi KASN dan sudah ditindaklanjuti Bawaslu Kota Makassar berupa tindakan disipliner moderat sanksi dan pemanggilan serta peringatan keras kepada pejabat pemerintah terkait.
Saran
Disertasi Peran Bawaslu dalam Menegakkan Prinsip Netralitas Aparatur Sipil Negara (ASN) (Studi Kasus Pilkada Kota Mataram Tahun 2020). Pengawasan Netralitas Aparatur Sipil Negara (Edisi ke-1). 2015) 'Peran Aparatur Sipil Negara Dalam Memberikan Pelayanan Terpadu Satu Pintu', Jurnal Ilmu Hukum, Vol 04, p Bagaimana menyikapi jika ada sikap kritik dari masyarakat atau ASN itu sendiri terhadap integritas Bawaslu menuju netralitas?
Bagaimana menyikapi ketika muncul permasalahan di masyarakat terkait ketidaknetralan dalam pilkada, khususnya terhadap ASN? Bagaimana menyikapi jika ada warga atau ASN yang kurang paham/tidak punya wawasan tentang netralitas, apalagi soal netralitas ASN di pilkada. Langkah apa yang Anda lakukan agar upaya ASN di Pilkada netral?
Bagaimana sikap ASN terhadap undang-undang yang mengatur netralitas ASN dalam pemilu atau pilkada?