MAKNA BASHARA, NAZHARA DAN RA`A DALAM AL-QUR`AN (Analisis Sinonimitas Terhadap Tafsir Al-Mishbah Karya M. Quraish
Shihab)
Skripsi Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Agama (S. Ag)
Oleh:
Nur Amirah NIM: 15210680
PROGRAM STUDI ILMU AL-QUR`AN DAN TAFSIR FAKULTAS USHULUDDIN DAN DAKWAH INSTITUT ILMU AL-QUR`AN (IIQ) JAKARTA
1440 H/ 2019 M
Shihab)
Skripsi Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Agama (S. Ag)
Oleh:
Nur Amirah NIM: 15210680
Pembimbing:
Ali Mursyid, M. Ag.
PROGRAM STUDI ILMU AL-QUR`AN DAN TAFSIR FAKULTAS USHULUDDIN DAN DAKWAH INSTITUT ILMU AL-QUR`AN (IIQ) JAKARTA
1440 H/ 2019 M
iv
PERSEMBAHAN
Untuk papa dan mama tercinta serta kakak-kakak yang senantiasa memberikan doa, perhatian dan dukungannya tanpa henti.
Untuk keluarga besar, para guru dan teman-teman serta orang-orang terkasih lainnya.
v MOTTO
“Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kesanggupannya.”(QS. Al-Baqarah [2]: 286)
vi
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah Swt, Tuhan yang Maha Esa, yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang yang senantiasa memberikan petunjuk, hidayah dan pertolongan kepada penulis sehingga bisa menyelesaikan skirpsi ini dengan baik.
Shalawat serta salam tak lupa pula penulis khaturkan kepada baginda Nabiullah Muhammad Saw. beserta para keluarga dan sahabatnya sekalian.
Semoga kita semua mendapatkan syafaat beliau di Akhirat kelak.
Dan penulis menyadari sepenuhnya, bahwa skripsi ini tidak bisa selesai tanpa ada bantuan dari pihak-pihak lain. Maka dari itu, penulis mengucapkan terima kasih yang tulus dan sebesar-besarnya serta rasa hormat kepada:
1. Ibu Dr. Prof. Hj. Huzaemah Tahido Yanggo, MA., Rektor Institut Ilmu Al-Qur`an (IIQ) Jakarta
2. Ibu Dr. Hj. Nadjematul Faizah, M. Hum., Warek I bidang akademik Institut Ilmu Al-Qur`an (IIQ) Jakarta dan ketua sidang munaqasyah 3. Ibu Dr. Hj. Romlah Widayati, M. Ag., Warek III bidang
kemahasiswaan Institut Ilmu Al-Qur`an (IIQ) Jakarta
4. Bapak Dr. KH. Muhammad Ulinnuha, MA., Dekan Fakultas Ushuluddin dan Dakwah Institut Ilmu Al-Qur`an Jakarta.
5. Ibu Mamluatun Nafisah, M. Ag., Sekretaris Prodi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir dan sekretaris sidang munaqasyah
6. Bapak KH. Haris Hakam, MA., Selaku ketua Prodi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir dan Komunikasi Penyiaran Islam
7. Bapak Ali Mursyid, M. Ag., sebagai pembimbing skripsi yang telah bersedia dan sabar membimbing penulis selama ini
vii
8. Bapak Dr. H. M. Azizan Fitriana, M.A., penguji I dan direktur pascasarjana Institut Ilmu Al-Qur`an (IIQ) Jakarta.
9. Bapak Sofian Effendi, S. Thi., MA., penguji II sidang munaqasyah.
10. Para dosen dan staf administrasi fakultas ushuluddin dan dakwah khususnya para dosen jurusan Ilmu Al-Qur`an dan tafsir yang telah banyak memberikan ilmu kepada penulis dan yang membantu kelancaran studi selama menjadi mahasiswa
11. Pesantren takhassus IIQ Jakarta, yang telah menjadi tempat bernaung penulis selama 3 tahun dan yang telah banyak memberikan ilmu, pengalaman dan masih banyak hal lainnya.
12. Perpustakaan Pusat Studi Al-Qur`an, perpustakaan IIQ Jakarta dan perpustkaan Umum Iman Jama‟ yang telah menjadi tempat mencari referensi terbaik penulis selama mengerjakan skripsi
13. Kedua Orang tua tercinta, bapak Idrus Mahmud dan ibu Suriati yang senantiasa memberikan doa, dukungan serta kasih sayang yang luar biasa kepada penulis selama mengerjakan skripsi.
14. Ke empat kakak tercinta, Ahmad Zul Fikri, Fifin Wulandari, Nur Hikmah Julianti, Muhammad Soleh dan keponakan Naufal Afkar, yang senantiasa memberikan doa, semangat dan dukungannya kepada penulis.
15. Kepada para guru yang senantiasa memberikan doa
16. Kepada 3 sahabat seperjuangan dari Palu, Nur Ayu Qomariya, Muthmainnah, Nisa Riskiah Lakara, yang telah membersamai dalam suka dan duka selama menjalani perkuliahan di IIQ Jakarta, yang senantiasa saling memberikan semangat, motivasi dan saling menguatkan dalam hal apapun.
17. Teman-teman seperjuangan yang berada di Asrama Amanah Takuy, Legoso. Yang telah bersedia berjuang bersama dalam penyelesaian
viii
skripsi ini, yang selalu menyemangati di kala penulis merasa putus asa dan selalu saling mengingatkan di kala penulis lalai serta yang telah mau menjadi teman diskusi dan tempat bertanya penulis, kepada yang tercinta Lismining puri, Nur Chalifah dan Nida Raudhatul Hikmah.
18. Teman-teman seperjuangan kelas 8B yang sudah membersamai menuntut ilmu selama 4 tahun, teman-teman se-fakultas ushuluddin dan dakwah, teman-teman seperjuangan se-dosen pembimbing skripsi, yang senantiasa saling memberikan semangat, motivasi dan dukungannya
19. Teman-teman seangkatan 2015 Institut Ilmu Al-Qur`an (IIQ) Jakarta 20. Keluarga besar kelas keagamaan angkatan 2015 Madrasah Aliyah Al- Khairaat Pusat Palu yang senantiasa memberikan doa dan dukungan semangatnya kepada penulis
21. Keluarga besar Persaudaraan Mahasiswa Bugis Makassar (PMBM) Institut PTIQ- IIQ Jakarta yang senantiasa memberikan doa dan dukungan kepada penulis
22. Keluarga besar kampung Al-Qur‟an
23. Pihak-pihak yang sudah membantu dan senantiasa mendoakan penulis dalam penyelesaian skripsi ini.
Jakarta, 05 Agustus 2019
Nur Amirah
ix DAFTAR ISI
PERSETUJUAN PEMBIMBING ... i
LEMBAR PENGESAHAN ... ii
PERNYATAAN PENULIS ... iii
PERSEMBAHAN ... iv
MOTTO ... v
KATA PENGANTAR ... vi
DAFTAR ISI ... ix
PEDOMAN TRANSLITERASI ... xi
ABSTRAK ... xv
BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1
B. Permasalahan ... 7
C. Tujuan Penelitian ... 8
D. Manfaat Penelitian ... 8
E. Tinjauan Pustaka ... 9
F. Metode Penelitian ... 13
G. Sistematika Penulisan ... 15
BAB II. KAJIAN TEORI TENTANG SINONIMITAS (AT-TARȂDUF) DALAM AL-QUR`AN A. Definisi Sinonimitas ... 17
B. Pendapat Ulama Tentang Sinonimitas ... 20
C. Makna Lafazh Bashara, Nazhara dan Ra`a ... 26
D. Identifikasi Ayat ... 39
x
BAB III. TINJAUAN UMUM TAFSIR AL-MISHBAH
A. Profil M. Qurasih Shihab ... 58 B. Profil Tafsir Al-Mishbah ... 67 BAB IV. ANALISA MAKNA BASHARA, NAZHARA DAN RA’A DALAM AL-QUR`AN PERSPEKTIF TAFSIR AL-MISHBAH KARYA M. QURAISH SHIHAB
A. Makna Bashara, Nazhara Dan Ra`a Dalam Tafsir Al-Mishbah ... 77 B. Perbedaan Dan Persamaan Makna Bashara, Nazhara dan Ra`a serta
Konteks Penggunaannya Dalam Al-Qur`an Perspektif Tafsir al- Mishbah ... 101 BAB V. PENUTUP
A. Kesimpulan ... 105 B. Saran ... 107 DAFTAR PUSTAKA
BIOGRAFI PENULIS
xi
PEDOMAN TRANSLITERASI
Transliterasi adalah penyalinan dengan penggantian huruf dari abjad yang satu keabjad yang lain. Dalam penulisan skripsi di IIQ Jakarta, transliterasi Arab-Latin mengacu pada berikut ini:
1. Konsonan
: a : th
: b : zh
: t : „
: ts : gh
: j : f
: h : q
: kh : k
: d : l
: dz : m
: r : n
: z : w
: s : h
: zy : „
xii
: sh : y
: dh
2. Vokal
Vokal Tunggal Vokal Tunggal Vokal Rangkap
Fathah : a : â : ai
Kasrah : i : î : au
Dhammah : u :û
3. Kata Sandang
a. Kata sandang yang diikuti alif lam ( ) qamariyah
Kata sandang yang diikuti oleh alif lam ( ) qamariyah dengan bunyinya. Contoh :
: al-Baqarah : al-MadĬnah
b. Kata sandang yang diikuti oleh alif-lam (لا) syamsiyah
Kata sandang yang diikuti oleh alif-lam (لا) syamsiyah ditransliterasikan sesuai dengan aturan yang digariskan didepan dan sesuai dengan bunyinya.
Contoh :
:ar-Rajul :asy-Sayyidah
xiii
: ad-Dârimĭ : asy-Syams
c. Syaddah (Tasydid)
Syaddah(Tasydid) dengan system aksara Arab digunakan lambang (_ّ), sedangkan untuk alih aksara ini dilambangkan dengan huruf, yaitu dengan cara menggandakan huruf yang bertanda tasydid. Aturan ini berlaku secara umum, baik tasydid yang berada di tengah kata, di akhir kata, ataupun yang terletak setelah kata sandang yang diikuti oleh huruf-huruf syamsiyah.
Contoh :
: Âmannâ billâhî
ٓ
: Âmannâ as-Sufahâ’u: Inna al-Ladzîna : Wa ar-rukka’i d. Ta Marbutha(ة)
Ta Marbutha(ة) apabila berdiri sendiri, waqaf atau diikuti oleh kata sifat (na’at), maka huruf tersebut dialih aksarakan menjadi huruf “h”.
Contoh :
: al-Af’idah
: al-Jâmi’ah al-Islâmiyyah
Sedangkan Ta Marbutha ( ) yang diikuti atau disambungkan (di- washal) dengan kata benda (isim), maka dialihaksarakan menjadi huruf
“t”.
Contoh :
xiv :„Âmilatun Nâshibah : al-Âyat al-Kubrâ e. Huruf Kapital
Sistem penulisan huruf Arab tidak mengenal huruf kapital, akan tetapi apabila telah dialih aksarakan maka berlaku ketentuan pedoman umum ejaan bahasa Indonesia (PUEBI), seperti penulisan awal kalimat, huruf awal nama tempat, nama bulan, nama diri, dan lain-lain.
Ketentuan yang berlaku pada PUEBI berlaku pula dalam alih aksara ini, seperti cetak miring (italic) atau cetak tebal (bold) dan ketentuan lainnya. Adapun untuk nama diri yang diawali dengan kata sandang, maka huruf yang ditulis capital adalah awal nama diri, bukan kata sandangnya. Contoh : Ali Hasan al-Aridh, al-Asqallani, al-Farmawi dan seterusnya. Khusus untuk penulisan kata Al-Qur‟an dan nama-nama surahnya menggunakan huruf kapital. Contoh : Al-Qur‟an, Al-Baqarah, Al-Fatihah dan seterusnya.
xv ABSTRAK
Nur Amirah (NIM: 15210680), Judul skripsi “Makna Bashara, Nazhara dan Ra`a dalam Al-Qur`an (Analisis Sinonimitas Terhadap Tafsir al-Mishbah Karya Quraish Shihab)” Program studi Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Dakwah, tahun 2019.
Di dalam kajian Al-Qur`an persoalan sinonimitas merupakan bagian penting dalam metode penafsiran. Problematika ta‟âruḍ (secara lahir teks ayat yang satu tampak bertentangan dengan teks ayat yang lain) yang sering diselesaikan dengan metode nâsikh mansȗkh (menghapus dan dihapus) dapat dihindari dengan metode subtitusi dalam sinonimitas ini. Oleh karena itu persoalan sinonimitas yang telah dirumuskan oleh para ahli bahasa mendapat perhatian khusus oleh para ahli tafsir. Banyak ahli tafsir yang mencoba mengkritisi kembali persoalan sinonimitas ini tidak hanya dari perspektif bahasa namun juga teologi..Salah satu kata yang diduga tarâduf (mengandung) sinonimitas dalam Al-Qur`an adalah kata bashara, nazhara dan ra`a. Karena itu, peneliti tertarik untuk meneliti tentang bagaimana makna bashara, nazhara dan ra`a dalam Al-Qur`an, bila dikaji dari tafsir al- Mishbah karya Quraish Shihab dengan tujuan untuk memudahkan memahami makna kandungan isi Al-Qur`an sebagai pesan ilahi.
Masalah yang diangkat adalah apa perbedaan dan persamaan makna bashara, nazhara dan ra`a dalam Al-Qur`an dalam perspektif tafsir al- Mishbah.
Jenis penelitian yang digunakan adalah kajian pustaka (library research) dan menggunakan sumber data primer yaitu tafsir al-Mishbah. Dan adapun pendekatan atau teori at-Taraduf (Sinonimitas) dalam Al-Qur`an, yang merupakan bagian pembahasan dalam ulumul Qur`an atau kaidah tafsir.
Lafazh bashara disebutkan 147 kali. lafazh nazhara disebutkan 129 kali dan lafazh ra’a disebutkan sebanyak 299 kali dalam Al-Qur`an. Serta akna bashara dilihat dari beberapa penafsiran ayat, yakni mengetahui, memiliki keterampilan, melihat dengan mata kepala dan hati yang jernih, melihat dengan penglihatan yang haqiqi seperti sifat penglihatan Allah dan ada pula yang bermakna lain, seperti bukti-bukti ataupun hujjah yang nyata yakni Al- Qur`an. Kedua, makna nazhara adalah melihat dengan mata kepala, pandangan yang menyeluruh, pandangan dengan maksud mengambil i’tibar (pelajaran). ketiga, makna ra`a adalah melihat dengan mengetahui, melihat dengan makna menilai, melihat dengan menyeluruh, melihat dengan hati dan fikiran.
xvi
Persamaan ketiga lafazh tersebut adalah secara umum diartikan dengan makna melihat dan dalam tafsir al-Mishbah dijelaskan bahwa lafazh bashara, nazhara dan ra`a adalah lafazh-lafazh yang disebutkan dalam Al-Qur`an sebagai pandangan manusia. Quraish Shihab menjelaskan perbedaan ketiga lafazh tersebut adalah bashara, yakni melihat dengan dengan mengetahui seluk beluk serta perincian yang bersifat indrawi dari apa yang dilihat, nazhara, yakni melihat bentuk dan gambaran sesuatu dan ra`a, yakni melihat disertai dengan mengetahui secara mendalam atas hakikat sesuatu.
1 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Al-Qur`an adalah kitab Allah yang di dalamnya memuat dasar-dasar ajaran Islam. Seluruh yang termaktub dalam Al-Qur`an pada hakikatnya merupakan ajaran yang harus dijadikan pegangan oleh umat Islam, sebab ia memberikan petunjuk dan pedoman hidup untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Kitab suci Al-Qur`an adalah firman Allah SWT. yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw.
sebagai petunjuk bagi umat manusia. Al-Qur`an adalah mukjizat abadi yang membuktikan kebenaran risalah Nabi Muhammad Saw.1
Al-Qur`an mencapai tingkat tertinggi dari segi keindahan dan bahasanya, sehingga membuat kagum bukan saja orang-orang mukmin, tetapi juga orang-orang kafir. Berbagai riwayat menyatakan bahwa tokoh-tokoh kaum musyrik secara sembunyi-sembunyi berupaya mendengarkan ayat-ayat Al-Qur`an yang dibaca oleh kaum muslim.
Kaum muslimin di samping mengagumi kandungannya juga meyakini bahwa ayat-ayat Al-Qur`an adalah petunjuk kebahagiaan dunia dan akhirat.2
Salah satu keistimewaan Al-Qur`an yakni kata dan kalimat- kalimatnya yang singkat dapat menampung sekian banyak makna. Ia bagaikan berlian yang memancarkan cahaya dari setiap sisinya.3 Bahasa al-Qur‟an mengandung nilai yang tinggi, memiliki makna yang berkaitan dan saling mengisi ketika digunakan dalam berbagai ayat. Biasanya,
1Yunahar Ilyas, Kuliah Ulumul Qur`an, (Yogyakarta: Itqan Publishing, 2013), hlm.
239
2Rosihon Anwar, Ulum Qur`An, (Bandung: CV Pustaka Setia, 2010), hlm. 199
3M. Quraish Shihab, Mukjizat al-Qur`an (Bandung: Anggota Ikapi, 2007), hlm. 12
bahasa Al-Qur`an mengandung banyak muatan dan konsep-konsep yang tidak hanya menunjukkan satu arti. Kadangkala bahasa Al-Qur`an memberi makna baru di dalam bahasa Arab.4
Pemahaman kosa kata Al-Qur`an secara mendalam, menurut „Abduh sebagaimana dikutip az-Zarqâny, merupakan salah satu syarat utama dari enam kriteria yang ditetapkannya, agar menghasilkan sebuah tafsir yang tingkat tinggi, sebab menafsirkan Al-Qur`an, termasuk menerjemahkannya, merupakan upaya untuk menjelaskan atau menerangkan makna-makna yang sulit pemahamannya dari ayat-ayat tersebut. Pemilihan satu kata, bahkan satu huruf pun, dan penempatannya dalam kalimat, mengandung pesan khusus, sehingga bila kata yang sama ditempatkan dalam kalimat lain, pada posisi yang berbeda, maka kata itu akan membawa pesan yang berbeda pula.5
Dari segi balaghah Al-Qur`an juga memiliki makna yang sangat mendalam. Setiap kata dalam Al-Qur`an memiliki makna tersendiri.
Yang itu berbeda dengan kata lain meskipun secara tekstual memiliki arti yang sama. Sehingga, bisa dikatakan bahwa ada sinonimitas dalam setiap kata yang ada dalam Al-Qur`an. Banyak contoh dalam Al-Qur`an yang redaksinya berbeda-beda, tetapi secara terminologi memiliki arti yang sama. Namun, jika dipandang dari segi balaghahnya memiliki makna yang berbeda.6 Seperti khauf dan khasyah. Yang secara umum kedua kata tersebut diartikan takut. Namun, ketika telah diteliti kembali kedua kata tersebut memiliki makna yang berbeda dari segi subjek, objek dan konteksnya. yakni lafazh khauf mempunyai konteks yang lebih luas,
4 Sugeng Sugiyono, Lisan dan Kalam Kajian Semantik al-Qur`an (Yogyakarta:
Sunan Kalijaga Press, 2009) hlm. 3.
5 Nashruddin Baidan, Wawasan Baru Ilmu Tafsir, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), Hlm. 67
6 W. Montgomery Watt, Pengantar Studi Al-Qur`an (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1995) jilid 1 hlm. 131
3 menyangkut semua hal yang dapat mengancam, membawa keburukan.
Khauf adalah rasa takut yang dialami pada umumnya manusia. Naluri kecemasan murni yang lahir dari sifat manusia sebagai makhluk yang lemah. Sehingga subjek dan objeknya pun beragam. Sedang Lafazh khasyyah mempunyai cakupan yang lebih sempit, yaitu memuat ketakutan kepada Allah, takut dengan azab Allah, takut dengan kebesaran Allah yang dimana subjeknya adalah orang-orang mukmin agar senantiasa bertakwa. Ketika objeknya adalah azab tuhan maka subjeknya adalah orang-orang yang beriman dan bertakwa. Sedangkan apabila orang mukmin menggunakan lafazh khasyyahterhadap manusia, maka ditegaskan bahwa Allah-lah yang berhak ditakuti.7
Begitu pula dengan lafazh bashara, nazhara dan ra`a, ketiga lafazh tersebut secara umum dalam kamus bahasa Arab-Indonesia karya KH.
Adib Bishri dan dan KH. Munawwir A. Fatah menjelaskan bahwa arti dari lafazh bashara, nazhara dan ra’a yakni berarti melihat. Dalam kitab al-Mu’jam al-Mufahras li alfazh al-Qur`an, lafazh bashara disebutkan 147 kali dengan berbagai bentuk derivasinya di antara lain yakni bashara, bashariȋ, basharuka, bashȋran, bashȋrah, dan bashâir.
Sedangkan lafazh nazhara terdapat 129 kali dalam Al-Qur`an dengan semua derivasinya di antara lain yakni nazhara, yanzhuru, tanzhuru, yanzhurȗna, nâzhirah dan lainnya sebagainya. Dan lafazh ra’a disebutkan sebanyak 299 kali dengan berbagai bentuk derivasinya yakni ra`a, ra`âha, ra`âhu, ra`âka, ra`athum, ra`auhâ, ra`âhu, ra`authum dan lain sebagainya.
Dan salah satu contoh ayat yang ada ketiga lafazh tersebut adalah Q.S Al-Baqarah [2]: 7:
7Muhammad Nabihul Janan, “Sinonimitas Dalam Al-Qur`an: Analisis Semantik Lafadz Khauf Dan Khasyah”, (Skripsi S1Fakultas UIN Surakarta, 2017), hlm 92
“Allah telah mengunci hati dan pendengaran mereka, penglihatan mereka telah tertutup dan mereka akan mendapat azab yang berat.”
Q.S Al-Hijr [15]: 16:
”Dan sungguh kami telah menciptakan gugusan bintang di langit dan menjadikannya terasa indah bagi orang yang memandangnya.”
Q.S Al-An‟am [6]: 76:
“Ketika malam telah menjadi gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata: “Inilah Tuhanku” Maka ketika bintang itu terbenam dia berkata :”Aku tidak suka kepada yang terbenam.”
Dan bahkan ketiga lafazh tersebut terdapat dalam satu ayat dalam Al-Qur`an yakni pada QS al-A‟raf ayat 198.
“Dan jika kamu menyeru mereka (berhala-berhala) untuk memberi petunjuk, mereka tidak dapat mendengarnya. dan kamu lihat mereka memandangmu padahal mereka tidak melihat.”
5 Pada terjemahan di atas ketiga lafazh tersebut diartikan secara umum yakni melihat. Maka penulis termotivasi ingin meneliti ketiga lafazh tersebut. Ingin mengetahui dan meneliti penggunaan ketiga lafazh itu dalam Al-Qur`an tetapi menggunakan perspektif tafsir al-Mishbah karya M. Quraish Shihab.
Salah satu alasan yang sangat mempengaruhi penulis untuk mengkaji tentang perbedaan makna lafazh bashara, nazhara dan ra`a.
ketika melakukan kajian pustaka di beberapa terjemahan Al-Qur`an, penulis menemukan bahwa ketiga kata tersebut dimaknai dengan melihat. Seperti yang kita ketahui bahwa Al-Qur`an adalah sebuah mukjizat. Jika sebuah mukjizat, maka Al-Qur`an tidak mungkin menggunakan beberapa lafazh yang memiliki makna yang sama, untuk maksud dan tujuan yang sama pula, karena nantinya hal itu akan mengurangi sisi kemukjizatan Al-Qur`an.
Dan salah satu kasus yang melatarbelakangi penelitian ini adalah ketika dalam hal teologi atau ilmu kalam, antara muktazilah dan ahlu sunnah wal jama‟ah berbeda pendapat mengenai apakah di akhirat manusia bisa melihat Allah atau tidak. Bahwasanya perbedaan itu juga berkaitan dengan makna lafazh dari ketiga kosa kata tersebut dalam Al- Qur`an yakni lafazh nazhara dalam bentuk kata nâzhirah yang berarti melihat.
Dan alasan penulis memilih tafsir al-Mishbah, karena tafsir tersebut merupakan kitab tafsir yang bercorak lughawi sehingga akan dapat membantu peneliti untuk mencari perbedaan dari ketiga kosa kata tersebut. Penulis juga akan membatasi ayat-ayat yang diteliti yakni beberapa ayat yang ada lafazh bashara, nazhara dan ra`a yakni 15 ayat pada QS. Thaha [20]: 96, QS. Al-Hasyr [59]: 2, QS. Al-An‟am [6]: 104,
QS Yusuf [12]: 108, QS. Ali Imran [3]: 163, QS al-Nahl [16]: 77, QS.
Al-A‟raf [7]: 143, Al-Ghasyiyah [88]: 17, QS. Al-A‟raf [7]: 185, QS. Ali Imran [3]: 77, QS. Al-Mudatsir [74]: 21, QS Al-Baqarah [2]: 50. QS Fathir [45]: 18, QS Al-Baqarah [2]: 243, QS Hud [11]: 91, QS Asy- Syu‟ara [26[: 218, QS At-Taubah [9]: 126, QS An-Nisa [4]: 105.
Jadi, latar belakang peneliti mengangkat penelitian ini adalah karena pembahasan mengenai sinonimitas dalam al-Qur`an sangat menarik karena berkaitan dengan bahasa Arab. Yang dimana bahasa Arab adalah bahasa Al-Qur`an itu sendiri. sehingga bisa lebih memahami makna kosa kata dalam Al-Qur`an dan memahami dengan sungguh-sungguh kandungan isi Al-Qur`an.
Oleh karena itu, penulis termotivasi melakukan penelitian skripsi dengan judul “Makna Bashara, Nazhara dan Ra`a dalam al-Qur`an (Analisis Sinonimitas Terhadap Tafsir al-Mishbah Karya Quraish Shihab)” untuk membahas secara khusus dan lebih mendalam tentang makna perbedaan dan persamaan lafazh bashara, nazhara dan ra`a.
B. Permasalahan
1. Identifikasi Masalah
a. Sekarang ini, trend studi al-Qur`an dan tafsir sedang mengalami peningkatan, ini ditandai dengan maraknya acara-acara bernuansa al-Qur`an di TV-TV dan juga meningkatnya jumlah orang-orang yang berminat belajar al-Qur`an. Dan masalahnya adalah kadang- kadang gairah peningkatan semangat beragama dan semangat untuk ber al-Qur`an tersebut tidak dibarengi dengan bekal ilmu, khususnya ilmu-ilmu al-Qur`an secara memadai.
b. Jika ini dibiarkan maka akan dapat memunculkan pemahaman- pemahaman terhadap al-Qur`an yang kurang tepat, baik itu kea
7 ah radikal maupun ke arah liberal maupun bentuk-bentuk kekeliruan lainnya.
c. Salah satu yang kelihatan sepele tetapi tidak bisa diremehkan adalah fakta bahwa al-Qur`an menggunakan bahasa Arab, dan di dalamnya ada kajian tentang Taraduf (sinonimitas), yang bila tidak dipahami, maka bisa menimbulkan kurang tepatnya dalam memahami al-Qur`an.
d. Salah satu kata-kata yang diduga taraduf (mengandung) sinonimitas dalam al-Qur`an adalah kata bashara, nazhara dan ra`a.
e. Bagaimana makna Bashara, Nazhara dan Ra`a dalam al-Qur`an, bila dikaji dari tafsir al-Mishbah karya-karya Quraish Shihab?
2. Pembatasan Masalah
a. Makna bashara, nazhara dan ra`a dalam Al-Qur`an perspektif tafsir al-Mishbah
b. Perbedaan dan persamaan makna bashara, nazhara dan ra`a dalam Al-Qur`an perspektif tafsir Al-Mishbah
3. Rumusan Masalah
a. Bagaimana makna bashara, nazhara dan ra`a dalam Al-Qur`an perspektif tafsir al-Mishbah?
b. Bagaimana perbedaan dan persamaan bashara, nazhara dan ra`a dalam Al-Qur‟an perspektif tafsir al-Mishbah?
C. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui dan menganalisa makna bashara, nazhara dan ra`a dalam Al-Qur`an perspektif tafsir al-Mishbah
2. Untuk menganalisis perbedaan dan persamaan makna lafazh bashara, nazhara dan ra`a dalam Al-Qur`an
D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan bisa memberi kontribusi dalam studi Al-Qur‟an dan sebagai khazanah keilmuan sebagai tambahan literatur bagi Fakultas Ushuluddin dan Dakwah khususnya Jurusan Ilmu Al- Qur‟an dan Tafsir.
2. Manfaat Praktis
Membantu pemahaman terhadap pesan Ilahi melalui kajian kebahasaan, dengannya maka akan mudah bagi pembaca dan pengkaji. Selain itu, akan menumbuhkan kesadaran bahwa kajian kebahasaan dalam Al-Qur‟an tidak bisa dipandang sebelah mata.
E. Tinjauan Pustaka
Sepanjang penelitian dan pengamatan penulis lakukan, ada beberapa tulisan karya ilmiah yang sudah membahas mengenai sinonimitas atau penelitian terhadap lafazh-lafazh tertentu dalam Al-Qur`an Di antaranya adalah:
1. Skripsi tentang “Sinonimitas Dalam Al-Qur`an (Studi Atas Lafadz Al-Syak dan Al-Raib)” karya Ariefta Hudi Fahmi tahun 2015.8 Penelitian ini juga membahas sinonimitas dalam Al-Qur`an dengan juga menggunakan kajian semantik yakni dari segi makna dasar dan relasionalnya. Dan juga dianalisis secara kontekstual yakni dari segi perbedaan, persamaan dan ciri khususnya. Dan penulis skripsi ini memberikan kesimpulan di akhir penelitiannya adalah bahwa lafazh al-Syak memiliki kontekstualnya yang cakupannya lebih sempit yakni dalam hal akidah saja, akan tetapi lafazh al-Raib memiliki
8Ariefta Hudi Fahmi, “Sinonimitas Dalam Al-Qur`an (Studi Atas Lafadz al-Syak dan al-Raib” skripsi S1 Fakultas Ushuluddin dan Dakwah UIN Yogykarta, 2015.
9 kontekstual yang lebih luas yakni bukan hanya saja berkaitan dengan aqidah tetapi juga dengan muamalah.
2. Jurnal keilmuan Tafsir Hadis, Volume 5, nomor 1, Juni 2015 yang ditulis oleh Ahmad Fawaid Institut Agama Islam Nurul Jadid Probolinggo yang berjudul Kaidah Mutaradif Al-Faz dalam Al- Qur`an.9 Jurnal ini menjelaskan tentang fenomena yang terjadi dalam bahasa arab karena kurangnya penelitian tentang Taraduf, penulis menjelaskan tentang makna taraduf, eksistensinya dalam bahasa Arab dan taraduf dalam Al-Qur`an. Karena itu, kata-kata di dalam Al-Qur`an, selain punya spesifikasi dalam setiap makna juga memiliki arti yang berbeda dengan yang lain.
Artikel ini sangat berkontribusi dengan skripsi yang akan diteliti.
Yakni tentang Taraduf (sinonimitas) dalam Al-Qur`an, hanya saja penulis tidak mengambil fokus lafazh yang akan diteliti seperti peneliti, namun menjelaskan keseluruhan makna taraduf dalam Al- Qur`an.
3. Skripsi tentang “Sinonimitas Dalam Al-Qur`an (Analisis Semantik Lafadz Khauf dan Khasyah” karya Muhammad Nabihul Janan, Insititut Agama Islam Negeri Surakarta, tahun 2017.10 Yang menjelaskan tentang makna khauf dan khasyah dalam Al-Qur`an dengan menggunakan metode semantik. Dan menggunakan metode penelitian yang dilakukan pada riset ini menggunakan metode analisis-deskriptif, dengan pendekatan linguistik. Penulis melacak dan menghimpun ayat-ayat yang berkaitan, kemudian menganalisis makna-makna yang terkandung di dalam ayat tersebut dengan
9Ahmad Fawaid, Kaidah Mutaradif al-Faz Dalam Al-Qur`an, Jurnal keilmuan tafsir hadis Institut Agama Islam Nurul Jadid Probolinggo, 2015
10 Muhammad Nabihul Janan, Sinonimitas Dalam Al-Qur`an (Analisis Semantik Lafadz Khauf dan Khasyah)” Skripsi S1 Insititut Agama Islam Negeri Surakarta, 2017.
analisis sintagmatik dan analisis paradigmatik lalu mengintegrasikan konsep-konsep yang telah diperoleh.Untuk mendapatkan makna yang khusus dalam Al-Qur‟an, penulis melakukan analisis konteks tekstual terhadap ayat-ayat yang dikaji.
Dan hasil penelitiannya adalah lafazh khauf mempunyai konteks yang lebih luas, menyangkut semua hal yang dapat mengancam, membawa keburukan. Khauf adalah rasa takut yang dialami pada umumnya manusia. Naluri kecemasan murni yang lahir dari sifat manusia sebagai makhluk yang lemah. Sehingga subjek dan objeknya pun beragam. Sedang lafazh khasyyah mempunyai cakupan yang lebih sempit, yaitu memuat ketakutan kepada Allah, takut dengan azab Allah, takut dengan kebesaran Allah yang dimana subjeknya adalah orang-orang mukmin agar senantiasa bertakwa.
Ketika objeknya adalah azab tuhan maka subjeknya adalah orang- orang yang beriman dan bertakwa. Sedangkan apabila orang mukmin menggunakan lafazh khasyyah terhadap manusia, maka ditegaskan bahwa Allah-lah yang berhak ditakuti.
4. Skripsi berjudul “Kata Shadr, Qalb, Fuâd dan Lubb Dalam Al- Qur`an Studi Komparatif Tafsir Jalalain dan Tafsir al-Mishbah”
karya Qori Istighafari, Institut Ilmu Al-Qur`an Jakarta tahun 2017.11 Penelitian ini juga membahas mengenai perbedaan keempat makna tersebut dengan menggunakan perspektif dua tafsir. Hasil penelitiannya adalah perbedaan dan persamaan kata shadr, qalb, fuad, dan lubb ialah shadr merupakan sesuatu yang berpotensi untuk merasakan hal-hal yang negative seperti perasaan iri hati, dengki, benci dan marah. Adapun qalb dan fu’ad keduanya memiliki potensi
11Qori Istighafari, “Kata Shadr, Qalb, Fuâd dan Lubb Dalam Al-Qur`an Studi Komparatif Tafsir Jalalain dan Tafsir al-Mishbah”, Skripsi S1 Institut Ilmu Al-Qur`an Jakarta, 2017.
11 yang sama yakni potensi ilmu pengetahuan yang sempurna. Akan tetapi keadaan qalb lebih mudah untuk tergoncang dan dibolak balik, sedangkan fu`ad adalah sesuatu yang sudah terikat dan tidak mudah goyah sedangkan lubb ialah saripati sesuatu, dia jauh lebih murni, bersih dan suci dibandingkan shadr, qalb dan fu’ad.
5. Skripsi tentang “Makna Kata Sirat, Sabil dan Thoriq Dalam Al- Qur`an (Studi Komparatif Tafsir Al-Azhar dan Al-Mishbah)” karya Achmad Yasir ar-Rojab, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah tahun 2017.12 Skripsi ini menggunakan metode maudhu‟i yakni dengan cara menghimpun ayat-ayat Al-Qur`an yang memiliki maksud yang sama dan membahas satu topik masalah kemudian menganalisanya dalam berbagai aspek. Dan untuk menganalisa kata tersebut yang diteliti, ia menggunakan penasfiran dari tafsir al-Azhar karya Buya Hamka dan tafsir Al-Mishbah karya Quraish Shihab.
Hasil penelitiannya adalah kata sirât, sabil dan tariq secara umum diartikan jalan. Meskipun demikian, ketika dipahami secara balaghah, ketikanya memiliki perbedaan yang sangat mendalam.
Namun, perbedaan itu tidak menjadikan ketiganya tidak ada keterkaitan, melainkan satu dengan yang lainnya saling berhubungan bahkan saling menguatkan. Sirat, disebutkan sebanyak 45 kali dalam Al-Qur`an yang semuanya dalam bentuk tunggal, kata sabil disebut sebanyak 176 kali, 166 kali dalam bentuk tunggal dan 1o di antararanya dalam bentuk jamak. Dan kata tariq disebut sebanyak 7 kali semua dalam bentuk tunggal. Sirat dengan kata yang mengiringinya, selalu dalam konteks kebaikan dan kebenaran.
12Achmad Yasir ar-Rojab, “Makna Kata Sirat, Sabil dan Thoriq Dalam Al-Qur`an (Studi Komparatif Tafsir Al-Azhar dan Al-Mishbah)”, Skripsi S1 Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, 2017
Berbeda dengan sabil dan tariq yang bisa dalam konteks kebenaran maupun kebathilan. Kemudian, sirat, sabil dan tariq dapat dikategorikan dalam beberapa konteks, seperti ketauhidan, keimanan, ketaqwaan, ibadah, ketetapan, dan hukum Tuhan, bahkan konteks sosial.
6. Skripsi tentang Sinonimitas dalam Al-Qur`an tentang kesucian (Analisis Semantik Lafazh “Azka” dan “Athar”).13 Skripsi yang ditulis oleh Ana Rahmawati mahasiswi Institut Ilmu Al-Qur`an Jakarta fakultas Ushuluddin jurusan Ilmu Al-Qur`an dan Tafsir pada tahun 2018. Skripsi ini membahas mengenai sinonimitas Al-Qur`an juga akan tetapi hanya berbeda pada fokus lafazh yang akan diteliti.
Dan skripsi tersebut menggunakan analisis semantik. Berbeda dengan penelitian penulis karna penulis akan menggunakan perspektif dua kitab tafsir sebagai sumber data primernya.
Hasil penelitiannya adalah lafazh athhar mempunyai konteks yang lebih luas, menyangkut semua hal tentang kebersihan, kebaikan, karna lafazh Athhar bisa berarti makna hakiki dan makna majazi maksudnya bisa diartikan secara bathin maupun zhohirnya.
Athhar umumnya mempunyai arti yang berhubungan dengan benda seperti Zakat dan berhubungan dengan status seperti najis dan hadats.
Sehingga subjek dan objeknya pun beragam. Sedangkan lafazh Azka mempunyai cakupan yang lebih sempit, yaitu suci yang lebih menunjukkan bersih ke bathin saja tanpa ke zhohirnya.
Dan dari beberapa skripsi diatas, letak persamaan dengan skripsi yang akan penulis teliti adalah sama dalam hal pembahasan mengenai sinonimitas dalam Al-Qur`an atau mengenai makna lafazh-
13Ana Rahmawati, Sinonimitas dalam Al-Qur`an tentang kesucian (Analisis Semantik Lafazh “Azka” dan “Athar”), Skripsi S1 Institut Ilmu Al-Qur`an Jakarta, 2018.
13 lafazh tertentu dalam Al-Qur`an. Dan yang menjadi letak perbedaannya adalah pada metode penelitian yang dilakukan dan sumber data penelitian. Penelitian-penelitian sebelumnya ada yang menggunakan metode semantik Toshihiko Izutsu dan menggunakan metode studi komparatif kitab tafsir. Sedangkan skripsi yang akan penulis teliti hanya menggunakan satu perspektif yakni kitab tafsir al-Mishbah karya M. Quraish Shihab.
F. Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian pustaka (Library Research) dengan mengumpulkan data dan meneliti dari buku-buku kepustakaan dan karya-karya dalam bentuk lainnya. Penelitian ini menggunakan pustaka karena sumber data dan data untuk penelitian ini berbentuk literatur-literatur kepustakaan.
2. Sumber Data Penelitian
Kajian-kajian yang dijadikan data terbagi menjadi dua bagian, yaitu primer dan sekunder.
a. Sumber Primer
Data primer adalah sumber informasi yang mempunyai wewenang dan tanggung jawab terhadap pengumpulan ataupun penyimpanan data disebut juga sumber data/ informasi tangan pertama, dikumpulkan oleh peneliti secara langsung dari sumber datanya. Data primer disebut juga sebagai data asli atau data baru.14 Dan yang akan menjadi penelitian ini adalah ayat-ayat Al- Qur‟an yang berkaitan langsung dengan lafazh bashara, nazhara
14 Muhammad Ali, Penelitian Kependidikan: Prosedur Dan Strategi, (Bandung:
Angaksa, 1987), Hlm 42
dan ra`a. Implikasi dari sebuah penelitian yang mengkaji term pada ayat-ayat maka sumber utama penelitian ini adalah Al- Qur‟an dan tafsir al-Mishbah.
b. Sumber Sekunder
Data sekunder yaitu sumber data yang mendukung dan melengkapi data-data primer. Adapun sumber data sekunder penulis jadikan sebagai landasan teori kedua dalam kajian skripsi setelah sumber data primer. Data ini berfungsi sebagai penunjang data primer, dengan adanya sumber data sekunder maka akan semakin menguatkan argumentasi maupun landasan teori kajiannya.15 Dan yang akan menjadi sumber sekunder yang akan menjadi penelitian ini adalah berupa kamus-kamus bahasa Arab, antara lain Tarâduf fȋ al-Qur`an al-Karȋm, Lisan al-Arab, Mu’jam maqâyisul lughah, al-Furȗq al-Lugawiyah, Mu’jam Mufradat al- Faz al-Qur’an, Mu’jam al-Mufahras Li Al-Faz Al-Qur’an al- Karȋm Bi Hasiyah al-Mushaf al-Syarif dan beberapa kamus arab lainnya, serta kitab tafsir serta kajian-kajian lainnya berupa buku, jurnal, skripsi, yang berkenaan dengan tema pembahasan.
3. Metode Pengumpulan Data
Adapun metode pengumpulan data yang penulis lakukan adalah tekhnik dokumentatif dan penelusuran pustaka (library research).
Yaitu dengan mengumpulkan ayat-ayat al-Qur`an yang di dalamnya terdapat lafazh-lafazh bashara, nazhara dan ra`a serta
15Joko Subagyo, Metode Penelitian Dalam Teori Dan Praktek, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2004) Cet.4 Hlm 89
15 mengumpulkan beberapa penafsiran ayat mengenai ketiga lafazh tersebut dalam tafsir al-Mishbah.
4. Metode Analisis Data
Dalam penelitian ini, peneliti akan menggunakan pendekatan atau teori taraduf (sinonimitas) dalam al-Qur`an. Adapun untuk mendeskripsikan hasil analisisnya digunakan penulisan deskriptif.
5. Metode Penulisan
Dalam tekhnik penulisan, penulis mengacu kepada pedoman yang diberlakukan Institut Ilmu Al-Qur`an Jakarta tahun 2017.
G. Sistematika Penulisan
Agar penelitian ini dapat tersusun secara sistematis, penelitian ini dibagi menjadi empat bab. Bab satu dengan yang lainnya memiliki keterkaitan bahkan menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan.
Bab pertama, berisi pendahuluan yang terdiri dari beberapa sub-sub, antara lain: latar belakang masalah, identifikasi masalah, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, tinjauan pustaka, metode penelitian, dan sistematika penulisan.
Bab kedua, akan membahas teori sinonimitas (taraduf), di antaranya adalah definisi sinonimitas, pandangan ulama mengenai sepakat ada atau tidak adanya sinonimitas dalam bahasa dan Al-Qur`an, contoh- contohnya dan pengertian makna bashara, nazhara dan ra`a serta identifikasi ayat-ayat yang ada lafazh yang bentuk katanya dari bashara, nazhara dan ra
Bab ketiga, menjelaskan biografi profil M. Quraish Shihab dan profil tafsir al-Mishbah
Bab keempat, bab ini merupakan studi analisis tafsir al-Mishbah karya M. Quraish Shihab mengenai makna bashara, nazhara dan ra`a dalam Al-Qur`an.
Penelitian ini diakhiri dengan bab kelima yang berisi kesimpulan dan saran untuk penelitian selanjutnya.
17 BAB II
KAJIAN TEORI TENTANG SINONIMITAS (AT-TARȂDUF) DALAM AL-QUR`AN
A. Pengertian Sinonimitas
Secara etimologi kata sinonim berasal dari bahasa Yunani kuno, yaitu syn yang berarti „dengan‟ dan anoma yang berarti „nama‟. Maka secara harfiah kata sinonim berarti „nama‟ lain untuk benda atau hal yang sama.1 Jadi sinonim adalah hubungan semantik yang menyatakan adanya kesamaan makna antara satu satuan ujaran dengan suatu ajaran lainnya.2 Misalnya, antara kata saya dengan kata aku, kata hamil dengan frase duduk perut.
Dalam ilmu bahasa yang murni, sebenarnya tidak diakui adanya sinonim. Tiap kata mempunyai makna atau nuansa yang berlainan, walaupun ada ketumpang tindihan antara satu kata dengan kata yang lain. Ketumpang tindihan inilah yang membuat orang menerima konsep sinonim. Disamping itu, konsep ini juga diterima untuk tujuan praktis guna mempercepat pemahaman makna sebuah kata yang baru, yang dikaitkan dengan kata-kata lama yang sudah dikenal.3
Dalam bahasa Arab banyak ragam kosa kata yang mempunyai makna yang sama. kata yang mempunyai makna yang sama dalam bahasa (linguistik) disebut sinonim yang dalam bahasa Arab disebut at- Tarâduf.
1 Abdul Chaer, Pengantar Semantic Bahasa Indonesia, (Jakarta: Rineka Cipta, 1995) Cet Ke-5 hlm 82
2 Verhaar, Pengantar Linguistic, (Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1998) Cet Ke-15 hlm 132
3 Gorys Keraf, Diksi Dan Gaya Bahasa, (Jakarta: Gramedia, 1990), Cet. Ke-6, hlm
34
At-Tarâduf dari segi etimologi dinyatakan oleh Ibn Faris bahwa berasal dari akar kata yang terdiri dari ra`, dal dan fa` maknanya adalah mengikuti sesuatu. Tarâduf adalah al-tatâbu` „membuntuti‟. Dan al- Ridfân adalah malam dan siang (karena keduanya saling membuntuti).4 Serta dijelaskan dalam kamus al-Munawir dijelaskan tarâduf berasal dari akar kata
ولفدرو - افدر - فدر
yang berarti mengikuti.5At-Tarâduf merupakan bentuk mashdar dari kata tarâdafa- yatarâdafu-tarâdufan, yang memiliki arti al-tatâbu„ (saling mengikuti).
Pengertian ini tidak jauh berbeda dengan yang terdapat dalam kamus Lisân al-„Arab, di mana kata tarâduf diartikan dengan “setiap sesuatu yang mengikuti sesuatu yang lain”.6
At-Tarâduf dari segi terminologi adalah beberapa kata berdiri sendiri (Alfazh al-Mufradah) yang menunjukkan satu makna pada satu sisi.7
Para ahli bahasa Arab memberikan definisi yang berbeda mengenai at-Tarâduf, seperti al-Fakhru-razi yang mendefinisikan tarâduf dengan beberapa yang mempunyai makna yang sama.8
Bagi al-Jurjânî, tarâduf adalah setiap kata yang memiliki satu makna dan memiliki beberapa nama dan tarâduf merupakan antonim dari musytarak.9 Lain halnya dengan al-Suyûtî yang menyatakan bahwa tarâduf adalah dua kata yang memiliki arti serupa atau berdekatan. Dan
4 Salman Harun, Kaidah-Kaidah Tafsir, (Jakarta: Qaf, 2017) Hlm 455
5Ahmad Warson Munawwir, Kamus Al-Munawwir Arab-Indonesia (Surabaya:
Penerbit Pustaka Progressif, 1997) Cet. 4 Hlm 87
6 Muhammad B. Makram B. Alî B. Manzûr, Lisân Al-„Arab, Vol. 19 (Kairo: Dâr Al-Ma‟ârif, T.Th), Hlm 1625
7 Salman Harun, Kaidah-Kaidah Tafsir, Hlm 455
8 Mukhtar „Umar, Ilm ad-Dalalah, (Kuwait: Maktabah Dar „Urubah, 1892), cet ke-
1 hlm 215
9Abû Bakr b. Abd al-Qâhir b. Abd al-Rahmân b. Muhammad al-Jurjânî, Kitâb al- Ta„rîfât (Beirût: Dâr al-Kutub al-Ilmîyah, 2009) hlm 60
19 menurutnya ialah beberapa kata dengan satu arti, namun beliau membatasi pada beberapa kata yang memang mempunyai batasan tertentu, seperti kata al-Insân dengan al-Basyar dan al-Saif dengan al- Sârim. Kedua kata ini mempunyai batasan dari segi zat dan sifatnya.10
Dari beberapa definisi di atas dapat disimpulkan bahwa tarâduf adalah penunjukan atas satu makna dengan kata yang berbeda-beda, seperti contoh kata jalasa dan qa„ada untuk arti “duduk”, al- hilm dan ra‟a fî al-manâm yang berarti “mimpi”, al-insân dan al-bashar untuk makna “manusia”, dan kata halafa dan aqsama untuk makna “sumpah”.
Namun beberapa ulama berselisih pendapat tentang apakah kata-kata ini dianggap sebagai tarâduf atau tidak.11
At-Tarâduf dilihat dari sisi istilah tidak ditemukan kesepakatan umum diantara para ulama, akademisi klasik dan kontemporer. Sibawaih (w. 180 H) diduga sebagai orang pertama yang menampakkan penjelasan mengenai tarâduf dalam ilmu bahasa. Ia membagi konteks hubungan antara lafazh dengan makna, menjadi tiga macam yakni:
lafazh-lafazh yang beraneka ragam dan mempunyai makna yang beraneka ragam pula, satu lafazh mempunyai aneka makna yang berbeda-beda dan beragam lafazh namun hanya mempunyai satu makna. Pembagian tersebut disinyalir sebagai awal munculnya konsep musytarak lafzhi dan al-Mutarâdif.12
10Jalâluddin al-Suyuti, al-Muzir fî „ulȗm al-Lugah wa „Anwa‟uhâ, (Kairo:
Maktabah Dâr al-Turâs, tt), hlm 403.
11Ahmad Fawaid, “Kaidah Mutarâdif Al-Fazh Al-Qur`an”,dalam Jurnal Keillmuan Tafsir Hadits, Vol. 5, No. 1 Juni 2015, hlm 145
12Muhammad Nuruddin al-Munajjad, al-Tarâduf fî al-Qur‟ân al-Karim, (Kairo:
Dar Al-Fikr, 1997), hlm 30
B. Pendapat Ulama Tentang Sinonimitas
1. Ulama Yang Sepakat Terhadap Adanya Taraduf Dalam Al- Qur`an
Taraduf dalam ulum Al-Qur`an menurut para ulama yang menyetujui keberadaannya disebabkan adanya wasilah atau hal yang berhubungan dengannya bukan dimaksudkan pada zatnya. Ada beberapa pembahasan dalam ulum al-Qur`an yang dikaitkan dengan taraduf. Diantaranya pembahasan ta‟kid dalam Al-Qur`an, ilmu al- Mutasyabih bagi sebagian kalangan dan ilmu tafsir secara khusus.13
Beberapa ulama berpendapat bahwa taraduf adalah bagian dari pembahasan taukid/ta‟kid. Mereka memandang bahwa taraduf adalah jenis dari taukid dari segi maknanya. Ulama membagi taukid menjadi dua bagian, taukid dengan lafadz yang sinonim dan taukid dengan meng-„ataf-kan yang serupa.14
Muhammad Nuruddin al-Munajjad mengutip al-Zarkasyi tentang penjelasan mengenai taukid dengan lafadz yang sinonim, bahwa taukid al-sama‟i dibagi menjadi dua yakni lafzi dan ma‟nawi. Lafzi ialah penetapan makna awal dengan lafadz yang sama atau lafadz sinonimnya. Contoh taukid yang di ikuti dengan lafadz sinonim )
ًلُبُس اًجاَجِف
) al-Anbiya: [21]: 31 dan (اًقِّيَض اًجَرَح
( al- An‟am [6]: 125. Sedangkan taukid dengan meng-„ataf-kan yang serupa, bagaimana yang dijelaskan oleh Zarkasyi yakni dengan huruf wawu (و
), auw (وأ
) dan al-Farra` membolehkan summa(ّث
).15
13 Muhammad Nuruddin Al-Munajjad, Tarâduf Fȋ Al-Qur`an Al-Karȋm, hlm 109
14 Muhammad Nuruddin Al-Munajjad, Tarâduf Fȋ Al-Qur`an Al-Karȋm, hlm 116
15 Muhammad Nuruddin Al-Munajjad, Tarâduf Fȋ Al-Qur`an Al-Karȋm, hlm 117
21 Menurut al-Zarkasyi sebagaimana dikutip oleh Muhammad Nuruddin al-Munajjad, „ataf adalah salah satu dari berbagai macam bentuk sinonim, atau yang memiliki kedekatan makna yang tujuannya adalah sebagai taukid. Salah satu ciri `ataf ialah adanya huruf wawu yang berada pada suatu kalimat atau adanya wawu al- a`taf. Sebagaimana dalam firmannya
( ِهللَّا ِلْيِبَس ِف ْمُهَ باَصَأ اَمِل اْوُ نَىَو اَمَف
َامَو
اْوُ ناَكَتْس اَمَو اوُفُعَض )
[QS. Ali Imran [3]: 146], (َلَهو اًمْلُظ ٌفاََيَ َلَف اًمْضَى
) [QS. Tâhâ [20]: 112], (ْخَت َلََو اًكَرَد ُفاََتَ َلَ
) [QS. Tâhâ [20]:77], ( َ
رَسَب َو َسَبَع هُث
) [QS. Al-Mudassir [74]: 22], (ْ ِنِْزُحَو ْيِّثَ ب اْو ُكْشَأ اَهنَِّإ ِّللَّا َلَِإ
) [QS. Yusuf [12]: 86], (ُرَذَت َلََو ْيِقْبُ ت َلَ
) [QS. Al-Mudassir [74]:28], (
ُوْنِم ٌحْوُرَو ََيَْرَم َلَِإ اَىاقْلَأ ُوُتَمِل َكَو
) [QS. An-Nisa [4]: 171] (ُعَمْسَن َلَ هنََّأ
ْمُىاَوَْنَ َو ْمُىهرِس
) [QS. Al-Zukhruf [43]: 80], dan seterusnya.16Ulama yang sepakat berpendapat bahwa taraduf dalam ulum al- Qur`an ditandai dengan adanya ilmu al-Mutasyabih (penyerupaan).
Taraduf adalah bagian dari macam-macam hal yang serupa dalam Al-Qur`an. Muhammad Nuruddin al-Munajjad mengutip pendapat al-Zarkasyi berkenaan demgan pendefinisian ilmu al-Mustyabih, ilmu al-Mutasyabih yakni menunjukkan pada kisah yang satu namun berada dalam suart-surat berlainan. Maksudnya ialah bergantinya kalimat satu dengan yang lainnya dalam dua ayat yang semisal. Contohnya, seperti dalam QS. Al-Baqarah [2]: (
ِوْيَلَعاَماَن ْ يَقْلَأ
16 Muhammad Nuruddin Al-Munajjad, Tarâduf Fȋ Al-Qur`an Al-Karȋm, hlm 117
ا ن ءا بأ) dan dalam QS. Luqman [31] (
َنََّءَبَأ ِوْيَلَعَنَّْدَجَواَم
), dalam QS. Al- Baqarah [2]: 60 (ْتَرَجَفْ ناَف
) dan dalam QS. Al-A‟raf [7]: 20 (ْتَسَجَبْ ناَف
) dalam QS. Ali Imran [3]: 47 (َلَو ٌد ِْل ُنْوُكَي هنََّأ ِّبَرْ تَلاَق
) dandalam QS. Maryam [9]: 20 (
ٌم َلُغ ِْل ُنْوُكَي هنََّأ ْتَلاَق
) dan seterusnya.17 Selain kedua hal diatas yang menjadikan keberadaan sinonimitas dalam ulum al-Qur`an dengan lafadz-lafadz yang memiliki persamaan atau sinonim. Hal ini dapat terlihat pada penafsiran yang dilakukan oleh al-Maturidy mengenai penciptaan tujuh lapis langit. Sesekali menggunakan (تاَوََسَ َعْبَس هنُىاهوَسَف
),kemudian )
تاَوََسَ َعْبَس َقَلَخ
) serta (تاَوََسَ َعْبَس هنُىاَضَقَ ف
) dan (ُعْيِدَب
تاَوَمهسل ا
), semuanya kembali kepada makna yang satu. Dalam tafsirath-Thabari dipaparkan ayat yang ditafsirkan dengan mengganti lafadz-lafadznya dengan sinonim. Misalnya (
ِّقَْلِْبَ اَنَ نْ يَ ب ُحَتْفَ ي هُث
)ditafsirkan dengan kalimat yang serupa (
ِلْدَعْلِبَ اَنَ نْ يَ ب ىِضْق َ ي هُث
),kemudian ayat (
ُمْيِلَعْلا ُحاهتَف ْلا َوُىَو
) ditafsirkan (ِءاَضَقْل ِبَ ِمْيِلَعْلا ْيِضاَقْلا ُّللَّاَو ِوِقْلَخ َْيَْ ب
).18Dapat disimpulkan bahwa beberapa ulama yang sepakat akan adanya taraduf dalam ulum Al-Qur`an yaitu ada 3 hal. Yakni:
17 Muhammad Nuruddin Al-Munajjad, Tarâduf Fȋ Al-Qur`an Al-Karȋm, hlm 118
18 Muhammad Nuruddin Al-Munajjad, Tarâduf Fȋ Al-Qur`an Al-Karȋm, hlm 119
23 pertama, bahwa sinonim adalah jenis dari taukid yang ditinjau dari maknanya. Ditunjukkan dengan adanya taukid dengan lafadz sinonim dan taukid dengan meng-„ataf-kan lafadz yang serupa.
Kedua, taraduf salah satu jenis dari bentuk penyerupaan (al- Mutasyabih) yaitu pergantian kata satu dengan yang lainnya dalam dua ayat yang semisal. Ketiga, penafsiran ayat oleh ulama dengan menggunakan kalimat yang mirip untuk mendekati maknanya serta menjelaskan yang samar terhadap lafadz Al-Qur`an.
Sedangkan orang yang pertama kali mengakui adanya taraduf dalam bahasa Arab adalah Abu Zaid al-Anshari (W. 251 H).
Tokoh lain pendukung adanya tarâduf adalah Ibnu al-„Arabi (W. 232 H) dan al-Asmhu‟i (W. 216 H) dengan bukunya yang terkenal kitab al-Fazh. Pada abad ke-4 H muncul tokoh lain yang mendukung adanya tarâduf seperti Ibnu al-Khalawaih (W.
816) dengan bukunya yang berjudul Asma‟ al-Hayah dan Asma‟
al-Asad. Kemudian pada abad ke-8 H, muncul al-Fairuz (W 216 H) dengan kamusnya yang terkenal, yaitu al-Muhith. Pada abad ke-9 muncul pula as-Suyuthi yang membahas tarâduf secara spesifik dalam bukunya al-Muzhar, kemudian pada abad ke-12 H, muncul pula al-Thamuni.19
Menurut Nashruddin Baidan, bahwa dalam Al-Qur`an banyak memakai kosa kata yang pada lahirnya tampak bersinonim, namun bila diteliti secara cermat ternyata masing-masing kosa kata itu mempunyai konotasinya sendiri.20
2. Ulama Yang Tidak Sepakat Terhadap Adanya Taraduf Dalam Al-Qur`an
19Zahrudin, Sinonim dalam al-Qur‟an, Tesis Pascasarjana, hlm 40-42
20Nashruddin Baidan, Wawasan Baru Ilmu Tafsir (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2005), hlm 317
Al-Ashfahani berpendapat bahwa setiap kata yang memiliki makna yang sama di dalam Al-Qur`an tidak dapat disamakan sepenuhnya. Hal ini dikarenakan susunan kata dalam Al-Qur`an selain memiliki kekhususan dalam setiap maknanya, juga memiliki arti yang bereda dengan yang lainnya, disamping itu kata tersebut memiliki kesesuaian dalam susunannya. Karyanya yang berjudul Mu‟jam Mufradat li alfaz al-Qur`an didedikasikan untuk menjelaskan beberapa kata yang dianggap mirip maknanya dalam Al-Qur`an.21
Beberapa ulama kontemporer juga tidak sedikit yang memiliki pandangan yang sama dengan al-Asfahani, diantaranya ialah Abd al-Rahman al-Akk, Manna Khalil al-Qattan dan Aisyah bint al- Syati‟. Al-Akk berpendapat bahwa dalam Al-Qur`an tidak ada kata- kata yang sama kecuali memiliki makna dan maksud yang berbeda.
Hal ini senada dengan pendapat al-Qattan yang mengatakan,
“sesuatu yang dianggap sinonim dalam Al-Qur`an sejatinya bukanlah sinonim.22
Salah satu ulama yang menolak adanya sinonim dalam Al- Qur`an bahkan dalam bahasa Arab secara umum ialah Bint al-Syati.
Ia dipengaruhi oleh ulama klasik, diantaranya Abu Hilal al-Askariy, Ibnu al-„Arabiy, Abu Qasim al-Anbary dan al-Sa‟labiy. Ia berpedoman pada al-Anbary, bahwa setiap kata yang telah ditetapkan merujuk pada referen tertentu, didalamnya mengandung
„illat atau sebab tertentu yang menyebabkan kata tersebut diucapkan pada referen tersebut. Menurut al-Munajjad, al-Anbary melihat pada
21 Al-Ragib al-Asfahani, Mu‟jam Mufradat li Alfaz Al-Qur`an (Beirut: Dâr al-Fikr,
2008), hlm 7
22 Manna al-Qatthan, Mabâhis fȋ ulȗmul Qur`an, (Mesir: Maktabah Wahbah, T.th) hlm 194
25 kondisi-kondisi eksternal yang berhubungan dengan ucapan suatu kata.23
Bint al-Syati‟ mengutip Ibnu Faris bahwa jika ada dua lafadz untuk satu makna atau untuk satu benda, niscaya lafadz yang sama memiliki kekhususan yang tidak dimiliki lafadz yang lainya, kalau tidak demikian niscaya lafadz yang lainnya itu sia-sia, lafadz yang banyak itu hanya merupakan sifat. Misalkan, dikatakan makna batu memiliki 70 kata, makna singa 500 lafadz, makna ular 200 lafadz dan makna pedang 50 lafadz.24
Bint al-Syati‟ menemukan rumus setelah menelusuri penggunaan kata ni‟mah (
ةمعن
) dan na‟im (ميعن
) dalam Al-Qur`an untuk nikmat-nikmat ukhrawi, bukan duniawi.25 kemudiaan kata aqsama dan halafa, sekalipun dua kata tersbut mempunyai arti yang sama, akan tetapi kata tersebut memiliki penekanan makna yang berbeda . Aqsama yaitu digunakan untuk jenis sumpah sejati yang tidak pernah diniatkan untuk dilanggar, sedangkan kata halafa yaitu digunakan untuk menunjukkan sumpah palsu yang selalu dilanggar.26Hal serupa dilakukan oleh Mufassir Syi‟ah, al-Tabataba‟I (1321-1402 H), dalam tafsirnya al-Mizan (sebagaimana dikutip oleh M. Quraish Shihab dalam buku kaidah tafsir). Disana antara lain dikemukakan tetang makna sirât (
طارص
) dan perbedaannya dengan sabil (ليبس
). Kesimpulannya , sirat adalah jalan lebar yang23 Muhammad Nuruddin Al-Munajjad, Tarâduf Fȋ Al-Qur`an Al-Karȋm, hlm 124
24 Aisyah Abdurrahman, al-I‟jaz al-Bayani fi al-Qur`an, hlm 212
25 Quraish Shihab, Kaidah tafsir, hlm 124
26 Issa Bollata, kata pengantar dalam Aisyah bint al-Syati‟, Tafsir bint al-Syati‟, terj Muzakir (Bandung: Mizan, 1996) hlm. 21
mengantar kepada kebaikan, keadilan dan hak. Sirat hanya satu, karena itu tidak temukan bentuk jamaknya. Ini berbeda dengan sabil, yang merupakan jalan-jalan kecil dan bermacam-macam, terbukti Al-Qur`an juga menggunakan bentuk jamaknya. Di samping itu ada sabil yang baik da nada yang buruk, karena demikian itulah penggunaan al-Qur`an.27
M. Quraish Shihab salah satu pakar tafsir di Indonesia, termasuk ulama yang menolak adanya sinonim murni dalam Al- Qur`an. Ia mengungkapkan kaidah umum mengenai taraduf yakni tdak ada dua kata yang berbeda akar katanya, yang sama akar katanya pun, tetapi berbeda bentuknya akibat penambahan huruf , seperti kata rahman dan Rahim, atau qatal dan qattala, maka pasti ada perbedaan maknanya, sedikit atau banyak.28
3. Makna Lafazh Bashara, Nazhara dan Ra`a Serta Identifikasi Ayatnya
1. Lafazh bashara
Ibnu Faris berkata huruf ba‟ (
ب
) shad (ص
) dan ra‟ (ر) memiliki dua makna asal, salah satunya adalah mengetahui sesuatu, dan asal dari semua itu adalah “jelasnya sesuatu”. Dalam suatu ungkapanئيشلبَ ترُصَب
artinya saya dalam posisi melihat dan mengetahuinya.Dan
وترصبأ
berarti saya melihatnya. Sedangkan Raghib berpendapatbahwa
رصبلا
diungkapkan untuk anggota tubuh (mata-penj) beserta daya yang dimilikinya. Adapun Abu al-Biqâ`i berpendapat bahwa27 Quraish Shihab, Kaidah tafsir, hlm 124
28 Quraish Shihab, Kaidah tafsir, hlm 124
27
رصبلا
artinya persepsi/tangkapan mata dan kadang secara metaforberkaitan dengan daya penglihatan.29
Kita bisa mengambil benang merah dari semua pendapat- pendapat itu jika kita berberfikir bahwa
راصبلإا
merupakan sebuah daya pada mata yang mampu memindahkan gambaran sesuatu dan dicerna oleh akal, proses itulah yang disebut dengan ru‟yah yang selanjutnya menghasilkan pengetahuan bagi seseorang. Hal ini seperti hirarki yang meruntut dan ibshar menjadi perangkat dari salah satu hirarki tersebut. Barangkali kita akan mendapat petunjuk untuk keserasian makna ini melalui antonimnya, jika kata jelas berlawanan dengan samar, maka kata melihat berlawanan dengan buta. Buta berarti tidak berfungsinya daya penglihatan, meskipun matanya tidak bermasalah. Dan lawan kata dari mengetahui adalah bodoh. Dari sini nampak makna-makna yang saling berurutan dan bukan atas dasar kemiripan, dimulai dari jelasnya sesuatu, melihatnya, mencernanya kemudian mengetahuinya. 30Dan bashirah seperti yang telah diungkapkan yaitu tameng.
Bashirah juga bermakna argumentasi dan makna asal dari kesemua itu adalah jelasnya sesuatu. Dalam ungkapan lain, ra„aytuhu lamhan bâshiran maksudnya saya melihatnya dan memperhatikan dengan perhatian yang kuat. Dalam ungkapan lain pula bashurtu bi al-Syai artinya saya dalam posisi melihat dan mengetahui. Dan abshartuhu yakni melihatnya. Adapun makna asli lainnya adalah menebalkan sesuatu. Bashru artinya menumpukkan satu lapisan kepada lapisan
29 Muhammad Nuruddin al-Munajjad, al-Tarâduf fî al-Qur‟ân al-Karim, (Kairo:
Dar Al-Fikr, 1997), hlm 181-182
30 Muhammad B. Makram B. Alî B. Manzûr, Lisân Al-„Arab, Vol. 19 (Kairo: Dâr
Al-Maarif, T.Th), Hlm 429