i
MAKNA PENGGUNAAN MAKE UP SEBAGAI PEMBENTUKAN KEPERCAYAAN DIRI BAGI MAHASISWI
(Studi Kasus: Mahasiswi FISIP UIN Jakarta) Skripsi
Diajukan kepada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Sosial (S.Sos)
Dosen Pembimbing:
Dr. Neng Dara Affiah, M.Si
Disusun oleh:
Ardhania Dinah Gitti Fadhilah (11171110000060)
PROGRAM STUDI SOSIOLOGI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
2022
ii
PERNYATAAN BEBAS PLAGIARISME
Skripsi yang berjudul:
MAKNA PENGGUNAAN MAKE UP SEBAGAI PEMBENTUKAN KEPERCAYAAN DIRI BAGI MAHASISWI
(STUDI KASUS: MAHASISWI FISIP UIN JAKARTA)
1. Merupakan karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah satu persyaratan memperoleh gelar Strata 1 di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta
3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya seni say aini bukan hasil karya asli saya atau merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima sanksi yang berlaku di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta
Jakarta, 03 Februari 2022
Ardhania Dinah Gitti Fadhilah
iii
PERSETUJUAN PEMBIMBING SKRIPSI
Dengan ini, Pembimbing Skripsi menyatakan bahwa mahasiswa:
Nama : Ardhania Dinah Gitti Fadhilah
NIM : 11171110000060
Program Studi : Sosiologi
Telah menyatakan penulisan skripsi berjudul:
MAKNA PENGGUNAAN MAKE UP SEBAGAI PEMBENTUKAN KEPERCAYAAN DIRI BAGI MAHASISWI (STUDI KASUS: MAHASISWI FISIP UIN JAKARTA)
Dan, telah memenuhi persyaratan untuk diuji.
Jakarta, 03 Februari 2022
Mengetahui, Ketua Program Studi
Dr. Cucu Nurhayati, M.Si NIP.197609182003122003
Mengetahui, Pembimbing
Dr. Neng Dara Affiah, M.Si NIDN. 0310126903
iv PENGESAHAN PANITIA UJIAN SKRIPSI
SKRIPSI
MAKNA PENGGUNAAN MAKE UP SEBAGAI PEMBENTUKAN KEPERCAYAAN DIRI BAGI MAHASISWI (STUDI KASUS: MAHASISWI
FISIP UIN JAKARTA) Oleh Ardhania Dinah Gitti Fadhilah
11171110000060
Telah dipertahankan dalam sidang ujian skripsi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta pada tanggal 16 Februari 2022.
Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Sosial (S.Sos) pada Program Studi Sosiologi.
Ketua Sidang, Sekertaris,
Dr. Cucu Nurhayati, M. Si Dr. Joharotul Jamilah, S.Ag,. M. Si
NIP. 1976091820031220 NIP. 196808161997032002
Penguji I, Penguji II,
Iim Halimatusa’diyah, M.A., Ph.D Dr. Vinita Susanti, M.Si
NIP. 198101122011012009 NIP. 196501151991032002
Diterima dan dinyatakan memenuhi syarat kelulusan pada tanggal 16 Februari 2022 Ketua Program Studi Sosiologi,
FISIP UIN Jakarta
Dr. Cucu Nurhayati, M. Si NIP. 1976091820031220
v
ABSTRAK
Skripsi ini menjelaskan makna penggunaan make up sebagai pembentukan kepercayaan diri bagi mahasiswi FISIP UIN Jakarta, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana makna dari penggunaan make up sebagai pembentukan kepercayaan diri bagi mahasiswi FISIP UIN Jakarta untuk kehidupan sehari-hari.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, memperoleh data dengan melakukan wawancara dengan delapan orang mahasiswi FISIP UIN Jakarta yang menggunakan make up. Teori yang digunakan pada penelitian ini yaitu teori Teori Belajar Sosial oleh Albert Bandura. Hasil penelitian menunjukkan bahwa make up sudah menjadi suatu kebiasaan bagi mahasiswi untuk menjalani aktivitas di kampus, hal ini karena adanya faktor internal dan eksternal yang akhirnya membuat mahasiswi menggunakan make up, lalu makna dari menggunakan make up berawal dari adanya interaksi dengan orang sekitar yang akhirnya mendorong mereka untuk menggunakan make up seperti mereka merasa lebih diterima oleh lingkungan sekitar, mereka merasa lebih mudah berkomunikasi dengan lingkungan sekitar, make up menjadi kesenangan diri sendiri atau sebuah hobi, bahkan make up mampu menjadi mata pencaharian mereka. Namun, secara garis besar make up mampu untuk membentuk kepercayaan diri bagi mahasiswi FISIP UIN Jakarta
Kata Kunci: Interaksi, Kepercayaan Diri, Make Up
vi
KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmanirrahim
Alhamdulillahirabbil’alamin, Puji syukur kehadirat Allah SWT, peneliti panjatkan atas segala nikmat yang telah diberikan sehingga peneliti dapat menyelesaikan penelitian yang berjudul “Makna Penggunaan Make Up sebagai Pembentukan Kepercayaan Diri bagi Mahasiswi studi kasus mahasiswi FISIP UIN Jakarta”. Shalawat serta salam peneliti selalu tercurahkan kepada nabi besar Muhammad SAW beserta keluarga, sahabat-sahabat dan para pengikutnya yang telah mengembangkan Islam hingga pada saat ini.
Peneliti menyadari bahwa keberhasilan penulis dalam menyelesaikan skripsi ini bukanlah upaya yang seluruhnya dating dari peneliti. Kehadiran keluarga yang mememberikan support secara materiil dan non materiil memberikan kekuatan bagi peneliti untuk terus maju dan tidak pantang menyerah. Ibu, Ayah, kedua Adik, Agis, Ara, Ilham, Yuma, Sippon, Ayyunda, kak Zhafira, mereka ini yang menjadi alasan kekuatan peneliti untuk menyelesaikan skripsi ini. Doa peneliti bagi keluarga yang peneliti sayangi, semoga Allah senantiasa memberikan keberkahan pada segala hal yang ada, mulai dari rezeki, Kesehatan, umur, keamanan, kenyamanan, ketenangan serta kebaikan.
Selanjutnya izinkan peneliti untuk mengucapkan terima kasih kepada mereka yang di bawah ini sebagai bagian dari perjalanan peneliti dalam menyelesaikan skripsi ini dan menjadi bagian penting dalam perjalanan kuliah peneliti:
1. Bapak Prof.Dr. Ali Munhanif, M.A selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Bapak dan Ibu Wakil Dekan, serta seluruh Dosen Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah memberikan pelajaran selama studi peneliti.
2. Ibu Dr. Cucu Nurhayati, M.Si selaku Ketua Program Studi Sosiologi FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Ibu Dr. Joharotul Jamilah, M.Si selaku Sekretaris Program Studi Sosiologi FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
4. Dr. Neng Dara Affiah, M.Si selaku Pembimbing Skripsi yang telah banyak sekali membantu, memberikan motivasi, mendampingi, dan mendengarkan setiap kesulitan, keluhan dalam pengerjaan penelitian ini, terima kasih banyak bu neng.
5. Ibu Dr. Ida Rosyidah, M.A., selaku dosen pembimbing Akademik.
vii 6. Bapak Mohammad Hasan Ansori, Ph.D., selaku dosen mata kuliah Seminar Proposal yang telah memberikan arahan untuk menyusn rancangan penelitian skripsi ini.
7. Bapak Kasyfiyullah, M.Si., sebagai dosen Antropologi dan Sosiologi Pendidikan yang turut membantu perkembangan pola pikir penulis untuk melihat suatu fenomena lebih dekat agar menemukan sudut pandang baru.
8. Seluruh Jajaran Dosen Program Studi Sosiologi FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Terima kasih atas pendidikan pengetahuan yang telah diberikan bagi penulis baik di dalam maupun di luar kelas, baik dalam bentuk teori pelajaran, maupun sikap dan cara berpikir yang telah memotivasi dan memberikan inspirasi bagi penulis.
9. Terima kasih untuk Papa, Mama, Bimo, Aisyah, dan keluarga besar penulis yang sudah memberikan semangat untuk menyelesaikan penelitian ini sampai akhir, karena tanpa mereka penulis tidak ada apa-apanya.
10. Seluruh teman-teman penulis di FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang tergabung dari teman-teman jurusan Sosiologi, Hubungan Internasional, dan Ilmu Politik, baik senior maupun junior yang telah memberikan warna pertemanan di dunia perkuliahan melalui diskusi, acara, dan obrolan asik lainnya.
11. Seluruh pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu selama proses pembuatan skripsi ini.
12. Teman-teman seperjuangan Agis, Sippon, Ayyunda, Kak Zhafira, Yuma, Ara, Ilham, Agus, Windy, Nabila, Irfan, Jihan, Hasnoel, Bang Doddy, Adzeem dan Kak Syauqi yang selalu memberikan motivasi juga support dan bantuan tiada henti terhadap penulis dalam menyelesaikan penelitian ini.
13. Para mahasiswi yang menggunakan make up sebagai informan penulis.
Terima kasih atas waktu dan pembelajaran yang diberikan kepada penulis untuk menyelesaikan skripsi.
14. Last but not least, I wanna thank me, for believing in me, for doing all this hard work, for having no days off, for never quitting, for just being me at all times.
Terakhir, penulis ingin mengucapkan terima kasih kepada diri peneliti yang telah berusaha untuk tetap maju, bangkit, dan semangat. Menyelesaikan skripsi di masa pandemi di saat ada banyak keterbatasan, namun tetap yakin dan percaya bahwa ini semua bisa diselesaikan adalah pencapaian besar bagi peneliti. Gagal tidak apa, asal bangkit kembali. Salah tidak apa, asal mau memperbaiki diri dan hati.
viii Semoga untaian terima kasih yang telah peneliti sampaikan bisa diterima di dalam hati mereka yang telah berkontribusi besar bagi peneliti. Sebagai penutup, peneliti berharap kehadiran skripsi ini bisa memberikan khazanah pengetahuan baru bagi masyarakat dan khususnya pada civitas akademika Sosiologi dan juga pemerintah.
Terima kasih.
Wassalammu’alaikum Warohmatullahi Wabarakatuh.
Jakarta, 18 Januari 2022
Ardhania Dinah Gitti Fadhilah
ix
DAFTAR ISI
ABSTRAK ... v
KATA PENGANTAR ... vi
DAFTAR ISI ... ix
DAFTAR GAMBAR ... xi
DAFTAR TABEL ... xi
BAB I ... 1
PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Pertanyaan Penelitian ... 7
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 7
D. Literature Review ... 8
E. Kajian Teoritis ... 13
F. Metodologi Penelitian ... 23
1. Pendekatan Penelitian ... 23
2. Metode Penentuan Informan ... 25
3. Metode Pengumpulan Data ... 26
BAB II... 31
AWAL MULA PERKEMBANGAN MAKE UP ... 31
A. Definisi Kosmetik (cosmetics) ... 31
B. Awal Mula Make Up Muncul Atau Sejarah Make Up ... 34
1. Mesir Kuno ... 34
2. Yunani Kuno ... 38
3. Masa Venesia ... 39
4. Tahun 1900-an ... 40
5. Tahun 2000-an ... 41
C. Tren Make Up di Indonesia... 42
BAB III ... 47
MAKNA PENGGUNAAN MAKE UP SEBAGAI PEMBENTUKAN KEPERCAYAAN DIRI BAGI MAHASISWI FISIP UIN JAKARTA ... 47
x A. Alasan-alasan Mahasiswi FISIP UIN Jakarta Menggnakan Make Up ke
Kampus ... 47
B. Terbentuknya Pemaknaan Make Up Sebagai Kepercayaan Diri di Kalangan Mahasiswi FISIP UIN Jakarta ... 57
C. Dampak Penggunaan Make Up Sebagai Kepercayaan Diri ... 67
BAB IV ... 70
PENUTUP ... 70
A. Kesimpulan ... 70
B. Saran ... 72
DAFTAR PUSTAKA ... 75
xi
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 Konsep Bandura tentang Reciprocal Determinism 18
Tabel 1.2 Daftar Informan Penelitian 25
DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Sejarah Kecantikan Zaman Mesir Kuno 36
Gambar 2.2 Sejarah Kecantikan Zaman Mesir Kuno 38
Gambar 2.3 Sejarah Kecantikan Zaman Yunani Kuno 38
Gambar 2.4 Sejarah Kecantikan Zaman Venesia 39
Gambar 2.5 Make Up Korean Look 43
Gambar 2.6 Make Up American Look 43
Gambar 2.7 Bentuk Bulu Alis Feathery 45
Gambar 2.8 Tren Red Lips 46
i
i
i
i
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Make up merupakan seni merias wajah atau mengubah bentuk asli dengan bantuan alat dan bahan kosmetik yang bertujuan untuk memperoleh serta menutupi kekurangan sehingga wajah terlihat ideal. Make up memiliki arti yang sama dengan berdandan. Menurut (KBBI, 2005) kata dandan diartikan sebagai mengenakan pakaian dan hiasan serta alat-alat rias, memperbaiki, menjadikan baik (rapi).
Kosmetik adalah bahan atau campuran bahan untuk digosokkan, dilekatkan, dituangkan, dipercikkan, atau disemprotkan, pada bagian badan manusia dengan maksud untuk membersihkan, memelihara, menambah daya tarik atau mengubah rupa, melindungi supaya tetap dalam keadaan baik, memperbaiki bau badan tetapi tidak dimaksudkan untuk mengobati atau menyembuhkan suatu penyakit (DepKes, 2010).
Make up merupakan salah satu unsur kecantikan bagi perempuan, mulai dari perempuan dewasa yang sudah cukup umur sampai remaja yang kulitnya cenderung sensitive untuk menggunakan make up. Tidak sedikit dari perempuan yang menggunakan make up menjadi senjata yang wajib digunakan dan dibawa setiap harinya (Berliana, 2018).
2 Bagi perempuan, menggunakan make up merupakan cara untuk mengekspresikan diri untuk terlihat berbeda dengan lainnya. Menerapkan make up
pada wajah merupakan sebuah seni bahkan make up bisa menjadi bakat dalam mengasah kreativitas sehingga mampu menghasilkan make up yang cantik
dan terlihat sangat keren. Lalu ada sebagian perempuan yang tidak nyaman jika menggunakan make up tetapi tetap menyukai make up karena mendapatkan manfaat dengan menggunakan make up maka mereka menggunakan make up hanya untuk menonjolkan sisi wajah yang menarik menjadi tambah menarik (Suhaiela, 2018).
Perempuan yang menggunakan make up memiliki latar belakang mengapa akhirnya mereka menggunakan make up agar berpenampilan menarik dan pastinya cantik di depan orang lain, karena pada dasarnya perempuan menyukai keindahan yang sudah melekat pada dirinya. Salah satu agar mereka terlihat menarik dan cantik yaitu dengan cara menggunakan make up. Mereka bahkan rela mengeluarkan uang banyak hanya untuk membeli peralatan make up agar hasil dari make up tersebut terlihat bagus dan tahan lama. Alasan perempuan menggunakan make up yaitu merasa lebih percaya diri saat berhadapan dengan orang lain dan setelah menggunakan make up mereka merasakan perasaan yang berharga dimana kerja keras mereka terbayarkan ketika melihat diri mereka terlihat lebih cantik (Suhaiela, 2018).
3 Menurut Korichi, Pelle-de-Queral, Gazano, dan Aubert (2008) Make up secara psikologis memiliki dua fungsi yaitu fungsi seduction dan camouflage. Fungsi seduction yaitu individu yang menggunakan make up untuk meningkatkan penampilan diri, biasanya individu yang menggunakan make up pada fungsi ini merasa bahwa dirinya sudah menarik dan yang menggunakan make up untuk membuat diri lebih menarik. Fungsi camouflage yaitu individu yang menggunakan make up untuk menutupi kekurangan diri secara fisik. Umumnya individu yang menggunakan make up untuk camouflage merasa dirinya tidak menarik sehingga perlu menggunakan make up untuk menjadikan dirinya menarik. Berdasarkan kedua fungsi tersebut, perempuan yang menggunakan make up yaitu untuk meningkatkan rasa kepercayaan diri mereka termasuk perempuan remaja yang sudah mengenal make up.
Dalam bahasa Inggris, kepercayaan diri disebut dengan self-confidence.
Menurut Kamus Besar Indonesia, percaya diri merupakan percaya kepada kemampuan, kekuatan, dan penilaian diri sendiri (KBBI, 2005). Kepercayaan diri merupakan salah satu aspek kepribadian berupa keyakinan akan kemampuan diri seseorang sehingga tidak terpengaruh oleh orang lain dan dapat bertindak sesuai kehendak, gembira, optimis, cukup toleran, dan bertanggung jawab (Ghufron, 2010). Kepercayaan diri merupakan salah satu syarat yang esensial bagi individu untuk mengembangkan aktivitas dan kreativitas sebagai upaya dalam mencapai prestasi. Namun demikian kepercayaan diri tidak tumbuh dengan sendirinya.
4 Kepercayaan diri tumbuh dari proses interaksi yang sehat di lingkungan sosial individu dan berlangsung secara kontinu dan berkesinambungan. Rasa percaya diri tidak muncul begitu saja pada diri seseorang, ada proses tertentu didalam pribadinya sehingga terjadilah pembentukan rasa kepercayaan diri (Hakim, 2002).
Menurut Lauster (2003) kepercayaan diri merupakan suatu sikap atau keyakinan atas kemampuan diri sendiri, sehingga dalam Tindakan-tindakannya tidak terlalu cemas, merasa bebas untuk melakukan hal-hal yang sesuai dengan keinginan dan tanggung jawab atas perbuatannya, sopan dalam berinteraksi dengan orang lain, memiliki dorongan prestasi serta dapat mengenal kelebihan dan kekurangan diri sendiri. Terbentuknya kemampuan percaya diri adalah suatu proses belajar bagaimana merespon berbagai rangsangan dari luar dirinya melalui interaksi dengan lingkungannya.
Menurut (Agung, 2005) dengan kepercayaan diri yang cukup, seseorang individu dapat mengaktualisasikan potensi yang dimilikinya dengan yakin.
Kepercayaan diri yang tinggi, maka timbul motivasi pada diri individu untuk melakukan hal-hal dalam hidupnya. Dengan kepercayaan diri, individu dapat meningkatkan kreativitas dirinya, sikap dalam mengambil keputusan, nilai-nilai moral, sikap dan pandangan, harapan dan aspirasi. Menurut (Mastuti, 2008) individu yang tidak percaya diri biasanya disebabkan karena individu tersebut tidak mendidik diri sendiri dan hanya menunggu orang lain melakukan sesuatu kepada
5 drinya. Semakin tinggi kepercayaan diri semakin tinggi pula apa yang diinginkan tercapai.
Di zaman sekarang, penampilan merupakan suatu hal yang penting bagi banyak orang, terutama perempuan. Penampilan merupakan sebuah citra diri yang muncul dari diri seseorang, dan juga penampilan merupakan sebuah sarana komunikasi dengan orang lain. Pastinya setiap orang ingin menunjukkan penampilan yang terbaik di setiap harinya, karena penampilan yang sempurna menjadi salah satu kunci kesuksesan dalam kehidupan sosialnya, seperti orang lain yang merasa nyaman, dan juga senang dengan penampilan diri yang enak dipandang mata.
Penampilan bisa dipengaruhi oleh adanya pembentukan sikap dari orang itu sendiri yang membuat penampilannya menjadi sempurna, penampilan juga bisa dipengaruhi oleh media massa serta lingkungan sekitar (Elianti, 2017).
Kebanyakan perempuan yang menggunakan make up berpendapat bahwa saat mereka menggunakan make up, mereka merasa jauh lebih percaya diri untuk keluar rumah dan berinteraksi kepada masyarakat (Berliana, 2018). Rasa tidak percaya diri ini muncul dari society standard akan definisi cantik, kritikan orang-orang di sekitar bahkan sosial media pun ikut berperan dan didukung dengan rasa insecure yang muncul dalam diri sendiri saat melihat orang lain yang dianggap lebih cantik dari dirinya sendiri, hal ini lah yang membuat mayoritas perempuan lebih memilih make up untuk menutupi kekurangan yang terdapat pada wajah mereka. Tetapi tidak sedikit dari perempuan yang menggunakan make up karena merasa kurang
6 percaya diri, melainkan karena memiliki hobby atau kesukaannya terhadap make up, bahkan banyak faktor yang mempengaruhi perempuan menggunakan make up dengan adanya pengaruh peer group, dll (Berliana, 2018).
Pada umumnya perempuan saat ini sudah mengenal berbagai macam jenis make up dan juga berbagai cara menggunakan make up, untuk menunjang penampilan serta kecantikan mereka, seperti yang diamati oleh peneliti, khususnya pada mahasiswi FISIP UIN Jakarta, dimana mereka rata-rata menggunakan make up saat melakukan kegiatan di kampus, tidak sedikit mahasiswi yang melakukan re-touch up atau memoles kembali make up di wajahnya saat sebelum bahkan sesudah mata perkuliahan. Make up sendiri pun sudah menjadi hal yang lumrah bagi kalangan mahasiswi FISIP UIN Jakarta bahkan sudah menjadi sebuah kebiasaan yang tidak pernah ditinggalkan bagi mahasiswi FISIP UIN Jakarta untuk selalu mengenakan make up.
Dalam proses menujukkan kepercayaan diri dari setiap mahasiswi FISIP UIN Jakarta, pastinya akan melalui sebuah interaksi sosial antara individu dengan individu lainnya, karena interaksi sosial merupakan syarat utama terjadinya aktivitas-aktivitas sosial. Menurut (Gillin, 1954), interaksi sosial merupakan hubungan-hubungan sosial yang dinamis yang menyangkut hubungan antara orang-orang-perorangan, antara kelompok-kelompok manusia, maupun antara orang perorangan dengan kelompok manusia. Apabila dua orang atau lebih bertemu, saat itu lah interaksi sosial terjadi. Mereka bisa saling menegur, berjabat
7 tangan, saling berbicara, bahkan bisa saja berkelahi. Sama halnya seperti yang dilakukan mahasiswa FISIP UIN Jakarta, mereka berinteraksi satu sama lain membicarakan topic-topik yang sedang hangat dibicarakan. Tak terkecuali mahasiswa perempuan pun menggunakan make up sebagai awal interaksi kepada orang-orang walaupun hanya sekadar sharing. Berawal dari inilah mahasiswi FISIP UIN Jakarta merasa harus menjaga penampilan mereka dengan cara menggunakan make up agar wajahnya terlihat menarik yang sesuai dengan keinginannya bahkan dari menggunakan make up membentuk kepercayaan dirinya.
Berdasarkan pernyataan masalah yang telah penulis uraikan di atas, penulis ingin melakukan penelitian dengan judul “Makna Penggunaan Make up Sebagai Pembentukan Kepercayaan Diri Bagi Mahasiswi” dengan studi kasus mahasiswi FISIP UIN Jakarta.
B. Pertanyaan Penelitian
1. Apa alasan dan makna make up bagi mahasiswi FISIP UIN Jakarta?
2. Bagaimana makna make up ini terbentuk?
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian
a. Mengetahui apa alasan dan makna make up bagi mahasiswi FISIP UIN Jakarta untuk membentuk kepercayaan diri.
8 b. Mengetahui terbentuknya makna make up bagi mahasiswi FISIP UIN
Jakarta.
2. Manfaat Penelitian
a. Manfaat praktis dari penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan, pemahaman, dan wawasan bagi pembaca, khususnya yang ingin mengetahui bagaimana makna make up dalam membentuk kepercayaan diri.
b. Menambah khasanah ilmu sosial terhadap makna penggunaan make up sebagai pembentukan kepercayaan diri bagi mahasiswi FISIP UIN Jakarta.
D. Literature Review
Sebelum penulis melakukan penelitian ini, penulis telah mengkaji beberapa penelitian terdahulu yang meliputi artikel yang sudah dibuat terlebih dahulu. Penelitian yang dibuat oleh Miftakhul Jannah Putri Winivia yang berjudul “Makna Penggunaan Make Up Sebagai Penmpilan Diri Bagi Wanita Profesi Model di SZ Model Management Surabaya”. Selanjutnya artikel yang dibuat oleh Lita Donna Elianti berjudul “Makna Penggunaan Makeup Sebagai Identitas Diri (Studi Mahasiswi UNY)”. Lalu ada penelitian yang dilakukan oleh Sri Wahyuni, Erianjoni, dan Mira Hasti Hasmira yang berjudul “Makna Cantik di Kalangan Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Padang Angkatan 15”. Kemudian ada penelitian yang dilakukan oleh Nadya
9 Berliana yang berjudul “Pemakaian Kosmetik Terhadap Kepercayaan Diri Remaja Putri”.
Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh Dwi Ayu Cahya Utami, Weni Hastuti, dan Ika Kusuma Wardani yang berjudul “Upaya Aktivitas Diri Untuk Meningkatkan Harga Diri Pada Pasien Harga Diri Rendah”. Lalu ada penenlitian yang dilakukan oleh Hilda Asmarani dan Martinus Legowo yang berjudul “Makna Kecantikan Bagi Klien Make Up Artis Dalam Perspektif Interaksionisme Simbolik”. Terakhir penelitian yang dilakukan oleh Mada Kumalasari yang berjudul “Kepercayaan Diri Pada Mahasiswi Pengguna Make Up di Surakarta”.
Dari ketujuh arikel di atas memiliki persamaan yaitu membahas tentang makna menggunakan make up untuk membentuk kepercayaan diri. Seperti yang dibahas dalam penelitian Miftakhul Jannah Putri Winivia yang berjudul
“Makna Penggunaan Make Up Sebagai Penampilan Diri Bagi Wanita Profesi Model di SZ Model management Surabaya” yaitu makna penggunaan make up bagi wanita profesi model akan mendapatkan perhatian, sebagai penunjang karir untuk tampil sempurna dan percaya diri. Lalu ada penelitian yang dilakukan oleh Sri Wahyuni yang berjudul “Makna Cantik di Kalangan Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Padang Angkatan 15”
bahwa mahasiswa yang berpenampilan dengan menggunakan make up ke kampus merasa dirinya lebih percaya diri dan mendapatkan pujian.
10 Selanjutnya persamaan dalam penelitian yang membahas tentang makna penggunaan make up untuk membentuk kepercayaan diri. Seperti yang dilakukan oleh Nadya Berliana yang berjudul “Pemakaian Kosmetik Terhadap Kepercayaan Diri Remaja Putri” yang membahas bahwa remaja putri yang menggunakan make up untuk membuat diri mereka merasa lebih percaya diri.
Penelitian selanjutnya yang dilakukan oleh Dwi Ayu Cahya Utami, Weni Hastuti, dan Ika Kusuma Wardani yang berjudul “Upaya Aktivitas Diri Untuk Meningkatkan Harga Diri Pada Pasien Harga Diri Rendah” yang membahas bahwa pengaruh make up untuk pasien HDR mampu memunculkan rasa kepercayaan diri apabila pasien tersebut mampu melihat dirinya sendiri melalui cermin.
Kemudian persamaan dari penelitian yang membahas tentang makna penggunaan make up untuk membentuk kepercayaan diri, seperti yang dilakukan oleh Hilda Asmarani dan Martinus Legowo yang berjudul “Makna Kecantikan Bagi Klien Make Up Artis Dalam Perspektif Interaksionisme Simbolik”, Artikel ini membahas bahwa merias sesuai dengan permintaan klien, membuat hasil riasan tersebut mampu memunculkan rasa puas bahkan mampu memunculkan rasa percaya diri.
Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh Lita Donna Elianti dan V.
Indah Sri Pinasti yang berjudul “Makna Penggunaan Make Up Sebagai Identitas Diri (Studi Mahasiswi Universitas Yogyakarta)” yaitu makna
11 penggunaan make up yaitu keinginan untuk tampil sempurna, mendapatkan perhatian, dan kepuasan pribadi yang akhirnya muncul rasa kepercayaan diri.
Terakhir penelitian yang dilakukan oleh Mada Kumalasari yang berjudul
“Kepercayaan Diri Pada Mahasiswi Pengguna Make Up di Surakarta” bahwa mahasiswi yang menggunakan make up secara internal merasa percaya diri saat melakukan aktivitas sehari-hari di kampus.
Masing-masing artikel diatas memiliki perbedaan yaitu pada fokus dari penelitian, waktu, dan tempat. Seperti penelitian yang dilakukan oleh Miftakhul, yang berfokus pada makna pengguna make up bagi wanita yang berprofesi model di Surabaya. Faktor-faktor yang mempengaruhi karena adanya tuntutan dari pekerjaannya yang mengharuskan selalu tampil sempurna.
Selanjutnya penelitian Nadya, yang berfokus pada remaja putri. Menunjukkan bahwa akhirnya remaja putri menggunakan make up karena adanya pengaruh dari teman sebaya.
Kemudian penelitian yang dilakukan Dwi Ayu, berfokus pada pasien yang memiliki harga diri rendah. Penelitian ini menggunakan make up sebagai terapi, karena make up memiliki efek yang berkesinambungan pada pasien, dengan menggunakan make up mampu meningkatkan kemampuan yang dimiliki dan juga meningkatkan harga diri pada pasien. Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh Hilda, yang berfokus pada klien MUA. Profesi yang saat ini banyak digeluti yaitu MUA, disini MUA harus mampu untuk memahami
12 berbagai standar kecantikan untuk memuaskan para kliennya. Terakhir penelitian yang dilakukan oleh Elianti, berfokus pada bagaimana make up mampu untuk menunjukan identitas diri pada lingkungan sosial. Dilihat bahwa make up bagi mahasiswi mampu menunjukkan identitas nya yaitu adanya penerimaan oleh orang lain, bebas bereskpresi, mendapatkan pujian di lingkungan sosialnya.
Dari ketujuh artikel di atas, metode yang dilakukan oleh peneliti sebelumnya yaitu metode kualitatif-deskriptif dan kualitatif-fenomenologis.
Miftakhul Jannah, dalam penelitiannya menggunakan metode kualitatif- deskriptif. Begitupun dengan penelitian yang dilakukan oleh Nadya Berliana, Dwi Ayu, Hilda Asmarani, dan Lita Donna Elianti. Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh Sri Wahyuni dalam penelitiannya menggunakan metode kualitatif-fenomenologis, begitupun dengan Mada Kumalasari.
Adapun yang membuat penelitian ini berbeda dari yang ada sebelumnya yaitu penelitian berfokus pada makna penggunaan make up sebagai pembentukan kepercayaan diri bagi mahasiswi FISIP UIN Jakarta. Dari ketujuh artikel di atas belum ada yang membahas makna penggunaan make up terbentuk yang akhirnya membangun rasa kepercayaan diri bagi mahasiswi FISIP UIN Jakarta dengan menggunakan teori belajar sosial menurut Albert Bandura.
Namun, ada penelitian sebelumnya yang diteliti oleh Mada Kumalasari yang memiliki objek penelitian yang sama yaitu kepercayaan diri pada mahasiswi
13 pengguna make up dengan focus penelitian pada faktor pengaruh mahasiswi menggunakan make up di Surakarta. Dalam penelitian Mada Kumalasari, menemukan bahwa dampak yang dirasakan oleh mahasiswi secara internal seperti mahasiswi lebih percaya diri, merasa dirinya lebih menarik dan cantik.
Sedangkan secara eksternal mahasiswi lebih berani berbicara dengan orang- orang dilingkungan sekitarnya.
E. Kajian Teoritis
1.1 Kerangka Konseptual
1.1.1 Kepercayaan Diri
Menurut (Lauster, Tes Kepribadian, Terjemahan D. H, 2012) kepercayaan diri merupakan suatu sikap atau keyakinan atas kemampuan diri sendiri sehingga dalam tindakan-tindakannya merasa bebas untuk melakukan hal-hal yang sesuai dengan keinginan dan tanggung jawab atas perbuatannya, sopan dalam berinteraksi dengan orang lain, memiliki dorongan prestasi serta mampu mengenal kelebihan dan kekurangan diri sendiri. Lauster menggambarkan bahwa orang yang mempunyai kepercayaan diri memiliki ciri- ciri tidak mementingkan diri sendiri (toleransi), tidak membutuhkan dorongan orang lain, optimis dan gembira.
Pada penelitian ini mahasiswi FISIP UIN Jakarta yang menggunakan make up merupakan orang-perorangan atau individu yang dipilih oleh informan untuk mengetahui makna penggunaan make up sebagai bentuk kepercayaan diri,
14 maka pembahasan dalam penelitian ini akan mengarah kepada penjelasan makna penggunaan make up sebagai pembentukan kepercayaan diri bagi mahasiswi pada setiap individunya. Setelah mahasiswi memilih make up sebagai bentuk kepercayaan diri mereka, hal tersebut akan mempengaruhi diri dalam bertindak dan orang lain untuk bertindak kepada mereka. Kepercayaan diri ini pun terbentuk tentunya karena adanya peran dari masyarakat atau orang-orang disekitarnya sebagai “others”.
1.1.2 Make Up
Make up merupakan kosmetik yang diaplikasikan pada wajah berupa foundation, eyeshadow, dan lipstik (Korichi, 2008). Sudah banyak sekali jenis kosmetik yang digunakan oleh perempuan untuk mempercantik wajah untuk meningkatkan daya tarik mereka sebagai perempuan. Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, kosmetik merupakan bahan-bahan yang digosokkan, dilekatkan, dipercikan atau disemprotkan, dimasukkan, dituangkan pada tubuh atau bagian tertentu pada tubuh dengan maksud untuk membersihkan, memelihara, menambah daya tarik atau merubah rupa dan tidak termasuk dalam golongan obat (Wardani, 2013). Kosmetik merupakan produk yang memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar wanita dalam kecantikan sekaligus menjadi sarana bagi konsumen untuk memperjelas identitas dirinya secara sosial di mata masyarakat (Fabricant & Gould dalam Wardani & Hasjarja, 2013).
15 1.2 Landasan Teori
Teori pembelajaran sosial merupakan perluasan dari teori belajar perilaku yang tradisional (behavioristik). Teori pembelajaran sosial ini dikembangkan olehAlbert Bandura (1986). Teori ini menerima sebagian besar dari prinsip-prinsip teori-teori belajar perilaku, tetapi memberi lebih banyak penekanan pada efek-efek dari isyarat-isyarat pada perilaku, dan pada proses-proses mental internal.
Salah satu asumsi paling awal mendasari teori pembelajaran sosial Bandura adalah manusia cukup fleksibel dan sanggup mempelajari bagaimana kecakapan bersikap maupun berprilaku. Titik pembelajaran dari semua ini adalah pengalaman- pengalaman tak terduga (vicarious experiences). Meskipun manusia dapat dan sudah banyak belajar dari pengalaman langsung, namun lebih banyak yang mereka pelajari dari aktivitas mengamati perilaku orang lain (Feist, 2008).
Asumsi awal memberi isi sudut pandang teoritis Bandura dalam teori pembelajaran sosial yaitu pembelajara pada hakikatnya berlangsung melalui proses peniruan (imitation) atau pemodelan (modelling). Selanjutnya, dalam imitation atau modelling individu dipahami sebagai pihak yang memainkan peran aktif dalam menentukan perilaku mana yang hendak ia tiru dan juga frekuensi serta intensitas peniruan yang hendak ia jalankan. Kemudian, imitation atau modelling adalah jenis pembelajaran perilaku tertentu yang dilakukan tanpa harus melalui pengalaman langsung, dalam imitation atau modelling terjadi penguatan tidak langsung pada perilaku tertentu yang sama efektifnya dengan penguatan langsung untuk
16 memfasilitasi dan mnghasilkan peniruan. Individu dalam penguatan tidak langsung perlu menyumbangkan komponen kognitif ertentu (seperti kemampuan mengingat dan mengulang) pada pelaksanaan proses peniruan. Lalu mediasi internal sangat penting dalam pembelajaran, karena saat terjadi adanya masuka indrawi yang menjadi dasar pembelajaran dan perilaku dihasilkan, terdapat operasi internal yang mempengaruhi hasil akhirnya (J, 2008).
Bandura yakin bahwa tindaan mengamati memberikan ruan bagi manusia untuk belajar tanpa berbuat apapun. Manusia belajar dengan mengamati perilaku orang lain. Vicarious learning adalah pembelajaran dengan mengobservasi orang lain.
Fakta ini menantang ide behavioris bahwa faktor-faktor kognitif tiak dibutuhkan dalam penjelasan tentang pembelajaran. Bandura percaya penguatan bukan esensi pembelajaran. Meski penguatan memfasilitasi pembelajaran, namun bukan syarat utama. Pembelajaran manusia yang utama adalah mengamati model-model dan pengamatan inilah yang terus-menerus diperkuat (J, 2008).
Fungsi penguatan dalam proses modelling, yaitu sebagai fungsi informasi dan fungsi motivasi. Penguat memiliki kualitas informatif, yaitu tindakan penguatan dan proses penguatan itu sendiri bisa memberitahukan pada manusia perilaku mana yang paling adaptif. Manusia bertindak dengan tujuan tertentu. Dalam pengertian tertentu, manusia belajar melalui pengalaman mengenai apa yang diharapkan untuk terjadi, dan demikian mereka bisa menjadi semakin baik dalam memperkirakan perilaku apa yang akan memaksimalkan peluang untuk berhasil. Dengan demikian
17 pengetahuan atau kesadaran manusia mengenai konsekuensi perilaku tertentu bisa membantu mengoptimalkan efektivitas suatu program pembelajaran (J, 2008).
Selanjutnya, penguat dalam teori pembelajaran sosial dipahami sebagai hal yang memiliki kualitas motivasi. Maksudnya, manusia belajar melakukan antisipasi terhadap penguat yang akan muncul dalam situasi tertentu, dan perilaku antisipasi awal ini menjadi langkah awal dalam banyak tahapan perkembangan.
Orang tidak memiliki kemampuan untuk melihat masa depan, tetapi mereka bisa mengantisipasi konsekuensi-konsekuensi apa yang akan muncul dari perilaku tertentu berdasarkan apa yang mereka pelajari dari pengalaman baik dan buruk yang telah dialami orang lain (J, 2008).
Dengan demikian inti dari pembelajaran modelling adalah mencakup penambahan dan pencarian perilaku yang diamati, untuk kemudian melakukan generalisasi dari satu pengamatan ke pengamatan lain. Modelling melibatkan proses-proses kognitif, jadi tidak hanya meniru, tetapi menyesuaikan diri dengan tindakan orang lain dengan representasi informasi secara simbolis dan menyimpannya untuk digunakan di masa depan. Karakteristik modelling sangat penting. Manusia lebih menyukai model yang statusnya lebih tinggi daripada sebaliknya, pribadi yang berkompeten daripada yang tidak kompeten dan pribadi yang kuat daripada yang lemah. Artinya konsekuensi dari perilaku yang dimodelkan dapat memberikan efek bagi pengamatnya. Manusia bertindak berdasarkan kesadaran tertentu mengenai apa yang bisa ditiru dan apa yang tidak
18 bisa. Tentunya manusia mengantisipasi hasil tertentu dari modelling yang secara potensial bermanfaat (J, 2008).
Kajian asumsi penting lain yang perlu dibahas dalam teori belajar sosial Albert Bandura adalah determinisme timbal balik (reciprocal determinism). Menurut pandangan ini, pada tingkatan yang paling sederhana masuka indrawi (sensory input) tidak serta merta menghasilkan perilaku yang terlepas dari pengaruh sumbangan manusia secara sadar. System ini menyatakan bahwa Tindakan manusia adalah hasil dari interaksi tiga variable, lingkungan, perilaku, dan kepribadian (J, 2008).
Tabel 1.1 Konsep Bandura tentang Reciprocal Determinism
Fungsi psikologis manusia adalah produk dari interaksi P (perilaku), K (kepribadian), dan L (Lingkungan).
Inti reciprocal determinism adalah manusia memproses informasi dari model dan mengembang serangkaian gambaran simbolis perilaku melalui pembelajaran yang bersifat coba-coba kemudian disesuaikan dengan manusia. Ketiga faktor yang resiprok ini tidak perlu sama kuat atau memiliki kontribusi setara. Potensi relative ketiganya beragam, tergantung pribadi dan situasinya. Pada waktu tertentu perilaku mungkin lebih kuat pengaruhnya. Namun, di lain waktu lingkungan mungkin memberikan pengaruh paling besar. Meskipun perilaku dan lingkungan terkadang
P
K L
19 bisa menjadi kontibutor terkuat suatu kinerja namun, kognisilah (kepribadian) kontibutor yang paling kuat. Kognisi mempengaruhi perilaku, perilaku mempengaruhi kognisi. Lingkungan mempengaruhi perilaku, perilaku mempengaruhi lingkungan. Kognisi mempengaruhi lingkungan. Lingkungan mempengaruhi kognisi (J, 2008).
Pola reciprocal determinism ini menggunakan umpan balik, sampai akhirnya menemukan perilaku yang tepat, sesuai dengan apa yang dikehendaki. Dengan demikian pembelajaran bukanlah merupakan proses sederhana di mana individu menerima suatu model dan kemudian meniru perilakunya, tetapi merupakan langkah yang jauh lebih kompleks di mana individu mendekati perilaku model melalui internalisasi atas gambaran yang ditampilkan oleh si model, kemudian diikuti dengan upaya menyesuaikan gambaran itu (J, 2008).
Bandura akhirnya memperluas konsep ini dengan nilai diri (self-value) dan keyakinan diri (self-efficacy). Self-efficacy adalah faktor person (kognitif) yang memainkan peran penting dalam teori pembelajaran Bandura. Self-efficacy yakni keyakinan bahwa seseorang biasa menguasai situasi dan menghasilkan perilaku yang positif. Keyakinan pada kemampuan diri sendiri untuk mengelola situasi- situasi yang akan datang (J, 2008).
Individu mengamati model bila ia percaya bahwa dirinya mampu mempelajari atau melakukan perilaku yang dimodelkan. Pengamatan terhadap model yang mirip mempengaruhi self-efficacy (kalua mereka bisa, saya juga bisa). Tinggi-rendahnya self-efficacy berkombinasi dengan lingkungan yang responsive dan tidak
20 responsive untuk menghasilkan empat variable yang paling bisa diprediksi berikut ini (Bandura, 1997):
1. Bila self-efficacy tinggi dan lingkungan responsive, hasil yang paling bisa diperkirakan ialah kesuksesan.
2. Bila self-efficacy rendah dan lingkungan responsive, manusia dapat menjadi depresi saat mereka mengamati orang lain berhasil menyelesaikan tugas- tugas yang menurut mereka sulit.
3. Bila self-efficacy tinggi bertemu dengan situasi lingkungan yang tidak responsive, manusia akan berusaha keras mengubah lingkungannya.
Mereka mungkin menggunakan protes, aktivisme sosial, bahkan kekerasan untuk mendorong perubahan. Namun, jika semua upaya gagal, Bandura berhipotesis bahwa manusia mungkin akan menyerah, mencari alternatif lain, atau mencari lingkungan lain yang lebih responsive.
4. Bila self-efficacy rendah berkombinasi dengan lingkungan yang tidak responsive, manusia akan merasakan apati, mudah menyerah dan merasa tidak berdaya.
Self-efficacy dalam modelling akan mengacu pada tindakan-tindakan manusia.
Pertama, manusia akan terus menerus merubah rencana ketika sadar konsekuensi dari setiap tindakan. Kedua, manusia memiliki kemampuan memprediksi, mengantisipsi hasil tindakan dan memilih perilaku mana yang dapat menghasilkan keluaran yang diinginkan serta menghindari yang tidak diinginkan. Ketiga, manusia sanggup memberikan reaksi diri dalam proses motivasi dan pengaturan terhadap setiap tindakan.
21 Keempat, manusia dapat melakukan refleksi diri. Menguji dirinya sendiri.
Mengevaluasi sendiri motivasi, nilai, makna, dan tujuan hidupnya, bahkan sanggup memikirkan ketetapan pemikirannya sendiri.
Self-efficacy melakukan tindakan-tindakan yang akan menghasilkan efek yang diinginkan. Proses-proses yang mengatur pembelajaran dengan modelling, yaitu (Bandura, Social Learning Theory, 1997):
1. Perhatian
Apakah faktor-faktor yang mengatur perhatian ini? Pertama, mengamati model yang padanya kita sering mengasosiasikan diri. Kedua, model-model yang aktraktif lebih banyak diamati. Individu harus mampu memberi perhatian pada model, kejadian dan unsur-unsurnya. Jika individu tidak bisa memberikan perhatian yang tepat pada suatu model, maka tidak mungkin terjadi peniruan. Faktor-faktor penguatan, kapasitas indrawi dan kompleksitas kejadian yang menjadi model merupakan faktor penting dalam proses perhatian ini.
2. Representasi
Agar pengamatan dapat membawa respon yang baru, maka pola-pola tersebut harus direpresentasikan secara simbolis di dalam memori. Proses menyimpan ciri- ciri terpenting dari suatu kejadian sehingga bisa dipanggil kembali dan digunakan ketika diperlukan. Ciri-ciri yang tersimpan dapat dalam bentuk pengkodean yang membantu kita mengujicobakan perilaku secara simbolis.
3. Produksi perilaku
22 Setelah memberi perhatian kepada sebuah model dan mempertahankan apa yang sudah diamati, kita akan menghasilkan perilaku. Individu mampu secara fisik melaksanakan perilaku tersebut.
4. Motivasi dan Reinforcement
Pembelajaran dengan mengamati paling efektif ketika subjek yang belajar termotivasikan untuk melakukan perilaku yang dimodelkan. Meskipun pengamatan terhadap orang lain dapat mengajarkan kita bagaimana melakukan tindakan yang dibutuhkan. Reinforcement dapat memainkan beberapa peran dalam modelling, bila mengantisipasi bahwa kita akan diperkuat untuk meniru tindakan-tindakan seorang model, kita mungkin akan lebih termotivasi untuk memperhatikan, mengingat dan memproduksi perilaku itu.
Bandura mengidentifikasikan tiga bentuk reinforcement yang dapat mendorong modelling. Pertama, pengamat mungkin memproduksi perilaku model dan menerima reinforcement langsung. Kedua, reinforcement tidak langsung berupa vicarious reinforcement. Pengamat mungkin hanya melihat perilaku orang lain diperkuat dan produksi perilakunya meningkat. Ketiga, self-reinforcement atau mengontrol reinforcement sendiri (Bandura, 1997).
Untuk menerapkan proses modelling kebanyakan pengamatan di motivasi oleh harapan bahwa modelling tepat terhadap orang yang ditiru akan menghasilkan penguatan, penting diperhatikan bahwa orang belajar dengan melihat orang lain dikuatkan atau dihukum karena terlibat dalam perilaku tertentu. Ada lima kemungkinan hasil dari modelling, yaitu (Bandura, 1997):
23 1. Mengarahkan perhatian. Dengan modelling orang lain, bukan hanya belajar tentang berbagai tindakan, melainkan melihat berbagai objek yang terlibat dalam tindakan-tindakan tersebut.
2. Menyempurnakan perilaku yang sudah dipelajari. Modelling menunjukkan perilaku mana yang sudah kita pelajari digunakan.
3. Memperkuat atau memperlemah hambatan. Modelling perilaku dapat diperkuat atau diperlemah tergantung pada konsekuensi yang dialami.
4. Mengajarkan perilaku baru. Jika dalam modelling berprilaku cara baru melakukan hal-hal baru), maka terjadi efek pemodelan.
5. Membangkitkan emosi. Melalui modelling, orang dapat mengembangkan reaksi emosional terhadap situasi yang pernah dialami secara pribadi.
Teori pembelajaran sosial oleh Albert Bandura adalah pembelajaran dengan mengamati dan bertindak.
F. Metodologi Penelitian 1. Pendekatan Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini merupakan pendekatan kualitatif. Menurut Moleong (2002) penelitian kualitatif merupakan penelitian untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dan lainnya secara holistic dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan memanfaatkan berbagai metode alamiah. Jadi,
24 Penelitian kualitatif ditunjukkan untuk memahami suatu fenomena-fenomena sosial dari sudut pandang para informan. Paradigma kualitatif berakar pada tradisi phenomenologikal atau the naturalistic phenomenological mode (Raco, 2010).
Menurut Nazir (1988), metode deskriptif merupakan suatu metode dalam meneliti status sekelompok manusia, suatu objek, suatu set kondisi, suatu sistem pemikiran ataupun suatu kelas peristiwa pada masa sekarang. Tujuan dari penelitian deskriptif ini adalah untuk membuat deskripsi, gambaran, atau lukisan secara sistematis, faktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antar fenomena yang diselidiki. Pendekatan kualitatif deskriptif ini ditujukan untuk menggambarkan make up sebagai bentuk identitas diri bagi mahasiswi khususnya di FISIP UIN Jakarta. Sehingga dengan menggunakan pendekatan kualitatif ini, peneliti mendapatkan informasi mengenai pandangan – pandangan para informan mengenai fenomena sosial yang sesuai dengan tujuan penelitian terkait dengan makna penggunaan make up sebagai pembentukan kepercayaan diri mahasiswi.
Metode penelitian kualitatif-deskriptif dipilih karena dalam penelitian ini penulis ingin mengetahui tentang fenomena yang ada dan dalam kondisi yang alamiah, bukan dalam kondisi terkendali, laboratoris atau eksperimen. Di samping itu, untuk memperoleh data-data yang lebih mendalam, beragam, dan utuh penulis sangat diperlukan untuk turun langsung ke lapangan bersama objek penelitian sehingga data-data yang didapatkan dapat dideskripsikan
25 dengan jelas dan sesuai dengan kondisi di lapangan. Dengan demikian, bagi penulis jenis penelitian kualitatif deskriptif sekiranya lebih tepat untuk digunakan dalam penelitian ini.
2. Metode Penentuan Informan
Dalam menentukan informan, peneliti menentukan dengan mempertimbangkan terkait dengan data yang dibutuhkan dalam penelitian ini yaitu mahasiswi FISIP UIN Jakarta yang menggunakan make up, dimana sesuai dengan tujuan dan pertanyaan penelitian dengan Makna Penggunaan Make Up Sebagai Pembentukan Kepercayaan Diri Mahasiswi. Dalam menentukan kriteria informan, peneliti menggunakan teknik purposive sampling. Purposive sampling menurut (Sugiyono, 2008) yaitu teknik penentuan sampel dengan pertimbangan sesuai dengan maksud dan tujuan penelitian.
Adapun ada delapan informan yang penulis ambil sesuai dengan kriteria yang dimana subjek tersebut memberikan informasi yang dibutuhkan. Adapun informan yang ditentukan dapat dilihat dalam tabel sebagai berikut:
Tabel 1.2 Daftar Informan Penelitian
No Nama Usia Jurusan
1 SN 23 Tahun Ilmu Politik
2 SM 22 Tahun Hubungan Internasional
3 SAP 23 Tahun Sosiologi
4 LLF 22 Tahun Ilmu Politik
26
5 DA 23 Tahun Ilmu Politik
6 ID 22 Tahun Sosiologi
7 SRC 22 Tahun Sosiologi
8 AL 22 Tahun Hubungan Internasional
Lalu dari informan di atas, ternyata mereka memiliki ketertarikan terhadap tren make up yang berbeda-beda. Tren make up yang sedang berkembang di Indonesia yaitu tren make up Korean look dan make up American look. Kedua tren make up ini memiliki keunikan masing-masing yang menjadi favorit banyak orang, termasuk mahasiswi FISIP UIN Jakarta untuk menentukan style make up seperti apa yang ingin mereka gunakan dan sukai. Biasanya Korean make up look cenderung lebih soft dan natural sedangkan American make up look memiliki tampilan yang lebih bold dan tegas.
Adapun ketertarikan mahasiswi FISIP UIN Jakarta pada tren make up Korean look yaitu terdapat tiga orang mahasiswi SN, SM, dan AL. Menurut mereka style make up Korean look terlihat sangat simple dan memberikan kesan wajah yang flawless, cocok untuk make up sehari-hari karena kesan yang soft dan tidak terlihat seperti menggunakan make up. Sedangkan mahasiswi yang tertarik dengan style make up American look seperti SAP, LLF, DA, ID, dan SRC. Menurut mereka style make up ini terlihat lebih tegas dan berani, biasanya kesan terakhir yang diberikan oleh make up ini yaitu matte.
3. Metode Pengumpulan Data
Dalam mengumpulkan data, yang akan peneliti lakukan dalam prosedur pengumpulan data guna menunjang penelitian ini adalah dengan dua data, yaitu
27 data primer dan data sekunder. Penelitian terkait dengan makna penggunaan make up sebagai pembentukan kepercayaan diri mahasiswi khususnya di FISIP UIN Jakarta maka peneliti melakukan pengumpulan data yang diperoleh langsung dari lapangan (data primer). Selain itu, peneliti juga menggunakan data sekunder untuk menguatkan hasil temuan di lapangan seperti bahan bacaan, bahan pustaka, dan laporan-laporan penelitian sebelumnya yang berkaitan dengan yang diteliti. Adapun untuk mendapatkan data primer peneliti melakukan dengan teknik sebagai berikut:
a. Wawancara
Metode wawancara atau metode interview, mencakup cara yang dipergunakan kalau seseorang, untuk tujuan suatu tugas tertentu, mencoba mendapatkan keterangan atau pendirian secara lisan dari seorang responden (Koentjaraningrat, 1986). Peneliti melalukan wawancara terhadap delapan orang mahasiswi FISIP UIN Jakarta dengan kriteria mahasiswi yang menggunakan make up ke kampus. Wawancara dilakukan melalui telepon dengan media sosial Whatsapp, dengan durasi dari masing-masing narasumber selama empat puluh lima menit dan adapun wawancara dilakukan secara tatap muka dengan dua informan.
Dalam wawancara, pembicaraan peneliti mengacu pada tujuan yang telah sesuai dengan kerangka berpikir teoritis yang sudah ditetapkan yaitu mahasiswi FISIP UIN Jakarta mengenai makna penggunaan make up
28 sebagai pembentukan kepercayaan diri bagi mahasiswi FISIP UIN Jakarta, hal tersebut untuk mempermudah dalam menganalisa data.
4. Metode Analisis Data
Analisis data adalah proses mengorganisasikan dan mengurutkan data ke dalam pola, kategori, dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data (Arikunto, 1991).
Dalam menganalisis data ini, penulis menggunakan teknik analisis deksriptif-kualitatif, dimana teknik ini penulis gunakan untuk menggambarkan, menuturkan, melukiskan, serta menguraikan data yang bersifat kualitatif yang telah penulis peroleh dari hasil metode pengumpulan data. data yang diperoleh akan dianalisis secara kualitatif serta diuraikan dalam bentuk deskriptif.
Menurut Patton (Moleong, 2001: 103) analisis data merupakan “proses mengatur ururtan data, mengorganisasikannya ke dalam suatu pola, kategori dan uraian dasar”. Definisi tersebut memberikan gambaran tentang pentingnya kedudukan analisis data yang dilihat dari segi tujuan penelitian. Prinsip pokok penelitian kualitatif adalah menemukan teori dari data.
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan langkah-langkah seperti yang dikemukakan oleh (Bungin, 2001), yaitu sebagai berikut:
1. Pengumpulan Data (Data Collection)
29 Pengumpulan data merupakan bagian integral dari kegiatan analisis data.
kegiatan pengumpulan data pada penelitian ini yaitu dengan menggunakan wawancara dan studi observasi.
2. Reduksi Data (Data Reduction)
Reduksi data dapat diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyerdeharnaan dan transformasi data kasar yang muncul dari catatan-catatan tertulis di lapangan. Reduksi dilakukan sejak pengumpulan data dimulai dengan membuat ringkasan, mengkode, menelusur tema, membuat gugus-gugus, menulis memo, dan sebagainya dengan maksud menyisihkan data atau informasi yang tidak relevan.
3. Display Data
Display data merupakan pendeskripsian sekumpulan informasi tersusun yang memberikan kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Penyajian data kualitatif disajikan dalam bentuk teks naratif. Penyajiannya juga dapat berbentuk matrik, diagram, table dan bagan.
4. Verifikasi dan Penegasan Kesimpulan (Conclution Drawing and Verification)
Merupakan kegiatan akhir dari analisis data. Penarikan kesimpulan berupa kegiatan interpretasi, yaitu menemukan makna data yang telah disajikan.
30 Berdasarkan keterangan di atas, maka setiap tahan dalam proses tersebut dilakukan untuk mendapatkan keabsahan data dengan menelaah seluruh data yang ada dari berbagai sumber yang telah didapat dari lapangan dan dokumen pribadi, dokumen resmi, gambar, dan sebagainya melalui metode wawancara.
31
BAB II
AWAL MULA PERKEMBANGAN MAKE UP
A. Definisi Kosmetik (cosmetics)
Kosmetik berasal dari Bahasa Yunani yaitu ‘kosmetikos’ yang mempunyai arti keterampilan menghias atau mengatur (Tranggono dan Latifah, 2017). Kosmetik atau kosmetika merupakan bahan atau campuran bahan untuk digosokkan, dilekatkan, dituangkan, dipercikan atau disemprotkan pada, dimasukkan dalam, dipergunakan pada badan atau bagian badan manusia dengan maksud untuk membersihkan, memelihara, menambah daya tarik atau mengubah rupa dan tidak termasuk golongan obat (MenKes, 1976).
Kosmetik adalah zat perawatan yang digunakan untuk meningkatkan penampilan atau aroma tubuh manusia, kosmetik pada umumnya merupakan campuran dari beragam senyawa kimia yang beberapa terbuat dari sumber- sumber alami dan kebanyakan dari bahan sintetis (Sven Gohla, 2005). Perihal atau tata cara menggunakan kosmetik disebut dengan tata rias atau make up, di Amerika Serikat oleh Food and Drug Administration (FDA) badan yang mengatur industry kosmetik, mendefinisikan kosmetik sebagai “produk yang dimaksudkan untuk digunakan pada tubuh manusia untuk membersihkan, mempercantik, mempromosikan daya tarik, atau mengubah penampilan tanpa mempengaruhi struktur atau fungsi tubuh”.
32 Definisi ini juga mencakup bahan apapun yang digunakan sebagai komponen produk kosmetik. Bahasa Indonesia (KBBI, 2005) kata dandan diartikan sebagai mengenakan pakaian dan hiasan serta alat-alat rias, memperbaiki, menjadikan baik (rapi).
Tidak dapat disangkal lagi bahwa produk kosmetik sangat diperlukan oleh manusia, baik laki-laki maupun perempuan. Kosmetik selain untuk mempercantik dan juga melindungi kulit dari pengaruh cuaca atau serangga serta untuk tujuan ritual keagamaan (Surtiningsih). Kosmetik pada umumnya digunakan untuk memperbaiki penampilan fisik seseorang, seperti untuk menanamkan penampilan yang sehat, awet muda atau gaya. Selain itu, kosmetik meliputi lipstick, rouges, eyeliners, mascaras, eyeshadows, pensil alis, bedak dan sejenisnya. Kosmetik ini paling sering diaplikasikan pada kulit, rambut, dan kuku dan biasanya memberikan perwarnaan dan terkadang juga memberikan kelembutan dan kelenturan dengan melembabkan area dimana mereka diaplikasikan.
Dalam definisi kosmetik yang tertuang dalam peraturan MenKes di atas, sama sekali tidak dimaksudkan untuk mengobati atau menyembuhkan suatu penyakit (Tranggono dan Latifah, 2017). Dengan demikian pengertian penggunaan kosmetik tidak dimaksudkan untuk mempengaruhi struktur dan faal kulit. Namun bila bahan kosmetik tersebut adalah bahan kimia meskipun berasal dari alam dan organ tubuh yang di aplikasikan adalah kulit, maka dalam
33 hal tertentu kosmetik itu akan mengakibatkan reaksi-reaksi dan perubahan faal kulit tersebut (Tranggono, 2007).
Pada tahun 1955 Lubowe menciptakan istilah cosmedics sebagai gabungan dari kosmetik dan obat yang sifatnya dapat mempengaruhi faal kulit secara positif tetapi bukan obat, dan pada tahun 1982 Faust mengemukakan istilah medicated cosmetics, yakni semacam kosmetik yang juga bermanfaat untuk memperbaiki dan mempertahankan kesehatan kulit, seperti preparate anti kotembe, deodorant, preparate antiperspirant, preparate untuk mempengaruhi warna kulit, dan preparate anti jerawat.
Kosmetik memang selayaknya hanya tertempel di luar tubuh khususnya dibagian terluar kulit, namun apapun itu bentuk dan jenisnya baik itu yang kosmetik biasa ataupun kosmetik medis tetap saja hal itu benda asing bagi kulit, cepat atau lambat pasti akan berefek jika itu digunakan, walaupun tidak selamanya efek yang ditimbulkan adalah sisi negatif, melainkan banyak juga sisi positif. Seperti misalnya saat ini banyak sekali serum wajah yang memiliki banyak manfaat untuk wajah salah satunya untuk mengurangi kerutan di wajah agar wajah terlihat awet muda.
Serum merupakan salah satu jenis rangkaian dari kosmetik yang sangat dibutuhkan di masa sekarang. Mengingat banyaknya faktor yang dapat mempercepat timbulnya kerutan, dibutuhkan perawatan yang tepat agar hal itu dapat dicegah dengan baik yaitu dengan menggunakan serum wajah yang tentunya aman dan cocok dengan kulit wajah. Dengan semakin banyaknya
34 variatif kebutuhan manusia terhadap kosmetik, kebanyakan perusahaan kosmetik biasanya memisahkan kosmetik menjadi dua jenis, yakni kosmetik rias dengan kosmetik perawatan. Menurut (Tranggono dan Latifah, 2017) perbedaannya adalah sebagai berikut :
1. Kosmetik rias, bertujuan untuk mempercantik dan menyempurnakan penampilan dengan menambahkan atau merubah penampilannya seperti menggunakan bedak, lipstick, pensil alis, perona pipi (blush on), perona mata (eye shadow), eye liner, mascara. Lebih luasnya kosmetik rias juga termasuk produk untuk merias kuku dan rambut seperti menggunakan kuteks dan pewarna rambut. Kosmetik rias ini lah yang menjadi kebutuhan primer bagi wanita dalam meningkatkan penampilannya.
2. Kosmetik perawatan meliputi produk yang digunakan untuk merawat tubuh, termasuk menggunakan krim wajah, lotion tangan dan tubuh (hand body lotion), deodorant, parfum, sabun wajah (facial wash), masker wajah, dan sebagainya yang berfungsi untuk merawat dan mempertahankan agar kulit terlihat tetap sehat, segar, dan kencang sehingga akan terlihat kulit lebih awet muda.
B. Awal Mula Make Up Muncul Atau Sejarah Make Up 1. Mesir Kuno
Make up telah menjadi kebutuhan bagi kaum hawa untuk mempercantik diri dalam kehidupan sehari-hari oleh karena itu saat ini dunia make up menjadi sebuah
35 tren dan membuka peluang usaha bagi mereka yang memiliki ketertarikan di dunia make up. Keberadaan make up saat ini semakin berkembang dan banyak di produksi oleh brand-brand make up, baik brand luar negeri hingga brand lokal.
Setiap produk make up memiliki fungsi yang berbeda-beda untuk digunakan pada setiap sudut wajah, bahkan brand-brand tersebut banyak membuat produk make up dan beragam jenisnya.
Make up terus berinovasi dengan melahirkan produk-produk baru sehingga menciptakan banyak tampilan gaya make up agar terlihat menarik, mulai dari smokey eyes, colorfull, nude, sampai gaya make up yang mulai tren kembali seperti make up ala freckles dan masih banyak lagi. Teknik makeup tersebut di dukung dengan menggunakan alat make up, seperti bedak, foundation, lipstick, eyeliner, dan komponen make up lainnya.
Make up berkembang dari tahun ke tahun sejak zaman Mesir kuno, diketahui zaman Mesir kuno adalah masa paling awal para wanita menggunakan make up. Pada masa ini penduduk pria dan wanita Mesir kuno menggunakan minyak wangi dan salep untuk membersihkan dan melembutkan kulit dan juga untuk menutupi bau badan mereka. Pewarna dan cat digunakan untuk mewarnai kulit, tubuh, dan rambut. Mereka juga menggosok bibir dan pipi, mewarnai kuku mereka menggunakan pacar dan mewarnai kelopak mata dan alis mereka dengan cat kelopak mata dengan sebutan lain yaitu eye liner (Sugiarto, 2010).
36 Kohl adalah bubuk berwarna gelap yang terbuat dari bahan antimon atau elemen kimia yang dihancurkan, almond yang di bakar, timah, tembaga yang teroksidasi, oker atau bahan pewarna dinding, abu, perunggu, chrysocolla (biji tembaga hijau biru) atau kombinasinya. Campuran ini digunakan pada kelopak mata atas dan bawah di cat dalam garis yang memanjang ke sisi wajah. Selain mengurangi silau matahari. Eye liner kohl ini di percaya dapat memulihkan penglihatan yag buruk dan mengurangi infeksi mata. Lalu Kohl ini disimpan dalam wadah kecil dengan dasar yang rata dan tertutup rapat yang berbentuk seperti cakram (S K Chaundhri, 2009).
Gambar 2.1 Sejarah Kecantikan Zaman Mesir Kuno Sumber gambar: (Fimela, 2015).
Penggunaan Kohl juga tidak terbatas hanya untuk kaum perempuan. Para laki-laki pun menggunakannya. Hal tersebut karena alasan budaya pada zaman tersebut untuk menghormati dewa. Bagi masyarakat Mesir Kuno untuk menghadap dewa harus berpenampilan secantik atau setampan mungkin. Selain itu penggunaan Kohl juga untuk mengurangi efek matahari yang kerap membuat mata sedikit berair karena perih pada zaman itu. Bahkan Kohl juga untuk menjaga kebersihan karena
37 Kohl pada zaman ini diketahui mengandung antibakteri. Pada saat ini baik orang Mesir yang miskin dan kaya mengenakan Kohl, komposisi dan kilau yang terpenacar dari Kohl dapat membedakan status social masyarakat. Meski kerajaan Mesir Kuno runtuh, Kohl tidak kehilangan peminatnya, bahkan sampai hari ini. (S K Chaundhri, 2009)
Orang Mesir kuno sangat bangga dengan penampilan dan kebersihan mereka. Kebanyakan orang Mesir mandi setiap hari di sungai. Rumah-rumah orang kaya memiliki kamar mandi di mana para pelayannya akan menuangkan kendi air ke atas tuan merek. Air limpasan di alirkan melalui pipa untuk menyirami kebun- kebun. Krim pembersih yang terbuat dari minyak hewani atau nabati yang di campur dengan jeruk nipis dan parfum digunakan sebagai pengganti sabun. Orang- orang menggosok diri mereka setiap hari dengan minyak salep wangi yang telah direndam dalam kayu yang wangi (Li Zhao, 2020).
Campuran dibiarkan dalam panic sampai minyak menyerap aroma kayu tersebut. Minyak wangi ini digunakan untuk mencegah kulit mengering di iklim yang keras. Di pesta-pesta, para pelayan akan meletakan kerucut minyak wangi di kepala setiap tamu, kerucut ini disebut dengan gemuk yang memiliki efek mendinginkan saat meleleh dan mengalir ke wajah setiap tamu. Semua orang tanpa memandang usia atau jenis kelamin, pasti menggunakan riasan. Cermin perak dan tembaga yang sangat halus membantu aplikasi riasan (Li Zhao, 2020)
38 Gambar 2.2 Sejarah Kecantikan Zaman Mesir Kuno
Sumber gambar: (Fimela, 2015).
2. Yunani Kuno
Pada zaman Yunani kuno diketahui sudah ada penggunakan kosmetika yang digunakan untuk perawatan tubuh yang dibuat dari tumbuhan, lilin dan tanah liat yang dikeringkan menggunakan sinar matahari. Pada masa Yunani, make up yang digunakan oleh para wanita Yunani lebih terlihat natural, seperti menggunakan bedak yang tipis dan polesan di bibir dengan bahan alami, untuk alis mereka menggunakan arang atau batu bara dan penggunaan alis mereka terlihat menyambung (S K Chaundhri, 2009).
Gambar 2.3 Sejarah Kecantikan Zaman Yunani Kuno Sumber gambar: (Fimela, 2015).