• Tidak ada hasil yang ditemukan

Manajemen Risiko Pandemik & Analisis Risiko Kejadian Kesehatan Masyarakat

N/A
N/A
MICKA

Academic year: 2023

Membagikan "Manajemen Risiko Pandemik & Analisis Risiko Kejadian Kesehatan Masyarakat"

Copied!
57
0
0

Teks penuh

(1)

Manajemen Risiko Pandemik & Analisis Risiko Kejadian Kesehatan Masyarakat

http://www.bencana-kesehatan.netm

Hotma P.Tambunan, SKM.M.Epid

Dinkes Prov.Kep.Bangka Belitung

(2)

2

Tujuan

Pembelajaran Umum (TPU)

Setelah mempelajari

materi, peserta mampu menjelaskan

Manajemen Risiko

pandemik dan Penilaian Risiko Kejadian

Kesehatan Masyarakat

(3)

3

Tujuan

Pembelajaran Khusus (TPK)

Peserta mampu:

a) Menjelaskan Manajemen Risiko Pandemi

b) Menjelaskan Analisis Risiko Kejadian

Kesehatan Masyarakat

(4)

PENDAHULUAN

(5)

Influenza Pandemics

H1N1 Spanish Flu” 1918

H2N2 Asian Flu” 1957”

H3N2 Hongkong Flu” 1968

H1N1pdm09

(6)

6

(7)

7

(8)

8

(9)

9

(10)

10

(11)

Manajemen Risiko Pandemi

Manajemen risiko pandemi merupakan

pendekatan untuk mengatasi permasalahan

dengan mengembangankan rencana (fleksibel) berdasarkan penilaian risiko yang ada pada

suatu wilayah serta dengan

mempertimbangkan penilaian risiko global.

(12)

Alur Manajemen Risiko

(13)

FASE PANDEMI

Terdapat 4 fase:

1. Fase Inter-Pandemi 2. Fase Kewaspadaan 3. Fase Pandemi

4. Fase Transisi

(14)

Komponen Manajemen Risiko Pandemi

1.Mekanisme koordinasi, perencanaan dan monitoring respon kedaruratan, 2.Komunikasi risiko, promosi dan keterlibatan masyarakat,

3.Surveilans, tim gerak cepat, analisa risiko, penyelidikan epidemiologi

4.Pintu masuk negara/ wilayah, perjalanan Internasional dan transportasi 5.Pemeriksaan laboratorium,

6.Manajemen kasus

7.Pencegahan dan pengendalian infeksi 8.Dukungan operasional dan logistic

9.Keberlangsungan pelayanan dan sistem esensial

(15)

Risk Assessment

Sebelum dan pada saat terjadi pandemi, perlu penilaian risiko nasional dan sub nasional

terhadap pandemic, berdasarkan situasi lokal

dengan mempertimbangkan informasi penilaian

risiko global yang ditetapkan oleh WHO.

(16)

Penilaian Risiko

Kesehatan Masyarakat

(17)

Pengertian

Proses sistematik ...

 Pengumpulan

 Penilaian

 Analisis

 Dokumentasi

informasi untuk menetapkan tingkat risiko kemungkinan terjadinya suatau

KLB/Wabah/KKM

(18)

Menentukan tingkat risiko berdasarkan

- konsekuensi/dampak dan

- kemungkinan terjadinya suatu

kejadian yang berdampak terhadap kesehatan dunia, maupun berdampak secara nasional, maupun sub nasional.

Tujuan

(19)

Tim Penilaian Risiko

• Berdasarkan kualitas dan kelengkapan informasi yang ada untuk menilai suatu risko, tim penilaian risiko dapat dibentuk.

• Epidemiology, Virology, Ahli klinis

• Ahli komunikasi risiko

• Anggota : Ex. Tim Gerak cepat

• Keahlian spesifik dapat diperlukan

• Zoonosis -> dr. Hewan, Kementan

• Radionucler -> BATAN

• Lingkungan,sosioekonomi, kultural

(20)

Kapan Penilaian Risiko dilakukan??

• Secara Rutin 6 bulan sekali/waktu tertentu (formal RA)

• Saat Kejadian akan berlangsung (Initial RA)

• Saat Kejadian berlangsung (Rapid RA)

(21)

Analisa Risiko

Kejadian Akut Kesehatan Masyarakat

Agen menyebabkan pandemi

(Virology, Kimia, radiology, dll), Tingkat keparahan klinis, respon obat Paparan

Host (Komorbid, Kerentanan, Immunitas, vaksinasi) Inkubasi

Riwayat perjalanan

Public health response Tim Analisa Risik

Besaran masalah Pertanyaan Risiko

Deteksi Kejadian Konfirmasi Kejadian

Karakterisasi Risiko

Sociocultural Technical Capacity economy

environment

Policy

(22)

Karakterisasi Risiko

(23)

Risk Assessment:

Covid19 merupakan ancaman besar

Bagi

keberlangsungan:

- Lembaga - Perorangan

Perlu manajemen Risiko untuk :

- Lembaga

- Perorangan

(24)

Contoh Peta Risiko Covid-19 Per Provinsi

(25)

PENILAIAN RISIKO

DALAM PENANGGULANGAN RABIES DI KAB.DOMPU

TAHUN 2019 -2020

(26)

JUMLAH PENDUDUK 235. 497 JIWA

PEREMPUAN:116.647 JIWA

LAKI-LAKI : 118.850 JIWA JUMLAH PENDUDUK

235. 497 JIWA

PEREMPUAN:116.647 JIWA

LAKI-LAKI : 118.850 JIWA

PROFIL KABUPATEN DOMPU

LUAS. 2.324,55 kM2 232,455 Ha

LUAS. 2.324,55 kM2 232,455 Ha

ADM. 8 Kecamatan, 72 Desa/ 9 Kel ADM. 8 Kecamatan, 72 Desa/ 9 Kel

Sumber: BPS Kab Dompu 2017 Sumber: BPS Kab Dompu 2017

58.756 rumah tangga

Kepadatan : 104,05 jiwa/KM2

*Jml RSU : 1 Unit

*Jml UPTD Puskesmas: 9 Unit

*Jml Pustu: 47 Unit

*Jml Poskesdes: 54 Unit

*Jml Posyandu: 415 Pos

*Jml Posbindu PTM:83

(27)

Peta Jalur Risiko (Risk Pathway)

KS. RABIES PADA MANUSIA KS. RABIES PADA

MANUSIA Anjing liar di

perkampungan

Sapi Anjing

Peliharaan/Pemburu Anjing Pejaga

Ladang Kucing

Anjing Dibawah Dari:

- Nelayan NTT - Nelayan

Sulawesi - Transmigrasi

dari Bali

Anjing Dibawah Dari:

- Nelayan NTT - Nelayan

Sulawesi - Transmigrasi

dari Bali

Kera Taman Nasional Kera Taman

Nasional Kera di Perkampungan

Kera di perladangan

Pelabuhan Kempo Pelabuhan Calabai Pelabuhan Kilo Pelabuhan

Sementara di Desa Hu,u

KET Anjing yg di bawa

peladang dari/ ke Bima

Anjing yang di bawah peladang ke sumbawa

Keluarga pasien yang merawat

pasien Rabies Ks rabie pd Petugas

kesehatan yg tdk

pakai APD

(28)

Pertanyaan Risiko

Bagaimana kemungkinan dan dampak adanya kasus rabies baru pada manusia yang di sebabkan oleh HPR anjing di Kabupaten Dompu dalam 6 bulan kedepan?

Bagaimana kemungkinan dan dampak adanya kasus rabies baru pada manusia yang di sebabkan oleh HPR anjing di 5 desa ( desa

Karombo, kadindi barat, nangamiro, keramat dan malaju) dalam 6 bulan kedepan?

Bagaimana kemungkinan dan dampak adanya kasus rabies baru

pada turis di daerah wisata kecamatan Hu’u yang disebabkan oleh

gigitan HPR anjing dalam 6 bulan kedepan?

(29)
(30)

Penilaian Bahaya

• Informasi dasar mengenai Rabies

• Rabies disebabkan oleh Lyssa virus , menyerang susunan syaraf

• Setelah ada gejala klinis pada manusia , CFR 99,9 %

• Tidak ada pengobatan yang spesifik

• Munculnya gejala klinis rabies dapat di cegah dengan pemberian VAR

dan SAR sesuai indikasi dan mencuci luka sesegera mungkin dengan

menggunakan sabun di bawah air mengalir selama 15 menit.

(31)

Penilaian Paparan

1. Jumlah Populasi anjing:11.510 2. Jumlah HPR yang menggigit:66

3. Jumlah HPR yang di periksa sampel otak:119 4. HPR yang sudah di nyatakan positif: 56

5. HPR yang sudah di eliminasi:3123

6. HPR yang sudah di vaksin:6229 ( Cakupan : 54%) target ( 70%)

7. HPR yang sudah di nyatakan Positif: Anjing,Kucing dan Sapi

Data Dari Kesehatan Hewan

(32)
(33)

DINAS PETERNAKAN KABUPATEN DOMPU DATA PEMERIKSAAN HPR DTAHUN 2019

NO KECAMATAN PUSKESMAS JUMLAH KASUS JML HPR

MENGGIGIT

SAMPEL HPR

POSITIF NEGATIF BELUM DI KIRIM JUMLAH

1 KEMPO KEMPO 346 4 5 8 0 13

2 MANGGELEWA SORIUTU 148 6 8 9 0 17

3 WOJA DOMPU BARAT 111 12 4 6 0 10

4 DOMPU

DOMPU TIMUR 71

7 13 14 1 28

DOMPU KOTA 63

5 PAJO RANGGO 37 15 12 15 1 28

6 HU,U RASABOU 88 17 13 6 1 20

7 KILO KILO 12 1 1 1 0 2

8 PEKAT CALABAI 34 4 0 1 0 1

RSU 7

KAB.DOMPU 917 66 56 60 3 119

(34)

1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 0

10 20 30 40 50 60 70 80

64

54 72

52 56

51 49

17 24

30

14 26

30

13

0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0 0

GRAFIK KASUS MINGGUAN GHPR DI KABUPATEN DOMPU TAHUN 2019

(35)

DINAS KESEHATAN KABUPATEN DOMPU

LAPORAN KASUS GHPR DI KABUPATEN DOMPU TAHUN 2018- TGL 4 APRIL 2019

NO KECAMATAN PUSKESMAS JUMLAH

KASUS

JENIS KELAMIN UMUR DI BERI VAKSIN VAR

JML KS DI SAR

JML PEMAKAIAN VAR

JML LYSSA

L P <15 TH > 15 TH HARI 0 HARI 7 HARI 21

1 KEMPO KEMPO 346 184 162 146 200 343 339 272 5 1399

5

2 MANGGELEWA SORIUTU 148 92 56 63 87 148 129 111 6 554

1

3 WOJA DOMPU BARAT 111 63 48 50 61 111 92 60 4 391

4 DOMPU

DOMPU TIMUR 71 41 30 36 35 71 61 31 2 243

DOMPU KOTA 63 48 15 20 42 63 48 39 3 282

5 PAJO RANGGO 37 21 16 13 24 37 34 29 5 158

6 HU,U RASABOU 88 49 39 30 58 88 77 61 4 357

7 KILO KILO 12 11 1 3 9 12 9 6 2 43

8 PEKAT CALABAI 34 23 11 16 18 34 7 1 2 88

RSU 7 7 0 2 5 7 6 1 1 77

DIKES 23

KAB.DOMPU 917 539 378 379 538 914 802 611 34 3615

6

(36)
(37)

0 50 100 150 200 250 300 350

6

94

159

113

310

235

GRAFIK KASUS GHPR BERDASARKAN KELOMPOK UMUR TAHUN 2018 S/D APRIL 2019

(38)

Data Dari Kesehatan

1. Jumlah kasus GHPR: 917 Kasus

2. Jumlah kasus GHPR yang sudah di VAR: 914 Kasus 3. Jumlah kasus GHPR yang di SAR: 34 Kasus

4. Jumlah lyssa : 6 Kasus

5. Kasus GHPR yang terjadi < 15 Tahun:379 Kasus 6. Kasus GHPR yang terjadi > 15 Tahun:538 Kasus 7. Jumlah Kasus GHPR Laki-Laki: 539 Kasus

8. Jumlah kasus GHPR Perempuan: 378 Kasus

9. Jumlah Kecamatan yang sudah ada Kasus GHPR: 8 Kec

10. Jumlah Desa Desa/Kel yang ada Kasus GHPR:76 dari 81 desa/kel

(39)

11. Lokasi gigitan banyak terjadi di bagian kaki keatas

13. Kasus Gigitan GHPR masih sering terjadi di setiap hari 3-5 orang perhari

14. Masyarakat masih anggap biasa hidup dengan anjing sehingga tidak merasa kwatir.

15. HPR yang banyak menggigit adalah anjing baik liar maupun bertuan. Yang di gigit anjing 915 kasus , kucing 2 kasus.

16. Lebih banyak kasus gigitan oleh anjing peliharaan dan liar di daerah pemukiman.

(40)

Penilaian Paparan

• Jalur mobilisasi anjing yaitu :

-Dibawa dari pelabuhan kempo, pelabuhan calabai maupun di bawa oleh transmigrasi dari bali, Didaerah kecamatan pekat, Kempo dan Manggelewa

- Anjing di bawa dari dompu untuk berladang ke sumbawa.

- Anjing di bawa untuk menjaga ladang dari bima ke dompu atau dari dompu ke bima

• kasus GHPR banyak pada Anak sekolah, dan anggota keluarga

• Paparan GHPR dari anjing bertuan di daerah pemukiman lebih besar dari pada anjing dari perladangan.

• Kemungkinan interaksi antara anjing dan hewan penular rabies lainnya : Kucing, Kera, Sapi

• Total Populasi yang berisiko terpapar : 235,497 orang

(41)

* Estimasi populasi berisiko yang mungkin terpapar

No KECAMATAN/

PUSKESMAS DESA

ESTIMASI PENDUDUK 2017

LAKI-LAKI PEREMPUAN TOTAL

1 HU'U/ RASABOU

TOTAL KEC HU'U 8,686 8,576 17,262

Hu'u 1,606 1,508 3,114 Daha 1,702 1,873 3,575 Rasabou 1,016 983 1,999 Adu 801 825 1,626 Cempi Jaya 1,207 1,142 2,349 Sawe 751 725 1,476 Jala 869 806 1,675 Pers. Marada 734 714 1,448

8

2 PAJO/

RANGGO

TOTAL KEC PAJO 6,838 6,654 13,492 Jambu 939 835 1,774 Woko 460 427 887 Ranggo 1,293 1,350 2,643 Lepadi 1,310 1,227 2,537 Lune 972 920 1,892 Temba Lae 1,864 1,895 3,759

6

DOMPU TOTAL KEC.DOMPU 26,735 26,884 53,619

3 DOMPU/ DOMPU

KOTA

DOMPU KOTA 16,767 16,795 33,562 Kandai Satu 2,254 2,260 4,514 Karijawa 1,861 1,991 3,852 Potu 2,039 2,027 4,066 Bada 2,819 2,938 5,757 Bali 2,720 2,698 5,418 Dorotangga 2,228 2,262 4,490 Mangge Asih 1,663 1,533 3,196 Sorisakolo 1,183 1,086 2,269

8

4 DOMPU/ DOMPU

TIMUR

DOMPU TIMUR 9,968 10,089 20,057 Mbawi 1,536 1,464 3,000 Dorebara 1,754 1,725 3,479 OO 2,740 2,898 5,638 Katua

693 686 1,379 Karamabura 1,235 1,271 2,506 Kareke 1,331 1,285 2,616 Mangge Nae

679 760 1,439 7

(42)

* Estimasi populasi berisiko yang mungkin terpapar

5 WOJA / DOMPU

BARAT

TOTAL KEC WOJA 28,248 27,356 55,604 Madaparama 1,399 1,530 2,929 Bara 1,740 1,715 3,455 Nowa 1,914 1,665 3,579 Matua 2,093 2,032 4,125 Wawonduru 1,898 1,752 3,650 Montabaru 2,920 2,849 5,769 Kandai Dua 3,821 3,823 7,644 Simpasai 4,099 3,908 8,007 saneo 2,355 2,240 4,595 Riwo 933 857 1,790 Mumbu 1,117 1,092 2,209 Baka Jaya 2,418 2,416 4,834 Rababaka

630 623 1,253 Serakapi

911 854 1,765 14

6 KILO/ KILO

TOTAL KEC KILO 6,551 6,323 12,874 Mbuju 1,272 1,208 2,480 Taropo

845 797 1,642 Karamat

887 874 1,761 Melaju 1,721 1,645 3,366 Lasi 1,054 1,024 2,078 Kiwu 772 775 1,547

6

7 KEMPO/ KEMPO

TOTAL KEC KEMPO 9,901 9,655 19,556 Ta'a 1,974 2,007 3,981 Kempo 2,431 2,328 4,759 Soro 2,160 2,052 4,212 soro barat 758 720 1,478 Konte

529 536 1,065 Tolokalo 1,057 1,058 2,115 So Nggajah

280 271 551 Dorokobo 712 683 1,395

8

8 MANGGE

LEWA/

SORIUTU

TOTAL KEC MANGGELEWA 15,078 14,796 29,874 Kwangko 1,043 1,059 2,102 Nangatumpu

918 834 1,752 Banggo 1,444 1,357 2,801 anamina

506 477 983 Sotiutu 1,951 1,970 3,921 Doromelo 1,688 1,653 3,341 Lanci Jaya 1,745 1,654 3,399 Nusa Jaya 1,204 1,209 2,413 Suka Damai 1,584 1,613 3,197 Tanju 783 757 1,540 Kampasi Meci

965 949 1,914 Tekasire 1,247 1,264 2,511

12

(43)

* Estimasi populasi berisiko yang mungkin terpapar

9 PEKAT/

CALABAI

TOTAL KEC PEKAT 16,813 16,403 33,216 Beringin Jaya

815 873 1,688 Sorinomo 1,159 1,105 2,264 Pekat 2,784 2,736 5,520 Nangamiro

999 962 1,961 Kadindi 2,418 2,428 4,846 Doropeti 1,425 1,296 2,721 Tambora 1,145 1,112 2,257 Calabai 1,634 1,652 3,286 Kadindi Barat 2,065 2,049 4,114 Nangakara

627 534 1,161 Soritatanga 1,175 1,093 2,268 Karombo 567 563 1,130

12 - -

Kab.Dompu 81 118,850 116,647 235,497

(44)

Penilaian Konteks

• Sudah ada pernyatan KLB dari Bupati Dompu SK No 441.7/72/DIKES/2019 Tentang Penetapan Kabupaten Dompu Sebagai Daerah Kejadian Luar Biasa (KLB) Rabies.

• Belum ada pernyataan kedaruratan (Siaga / tanggap darurat ) dari kepala daerah

• Dana BTT yang sudah di pakai

Dinas Kesehatan : Rp 175.000.000

* Pembelian VAR : Rp. 100.000.000 ( 335 VAR ) Kondisi sudah di pakai semua

* Pembelian APD : Rp.28.000.000 ( 100 Set) sudah di distribusikan ke RS dan FKTP * Seminar Rabies : Rp. 18.000.000

* Peningkatan Kapasitas petugas : Rp.12.000.000 * Operasional : Rp.17.000.000

Dinas Peternakan : Rp 300.000.0000.

* Operasional elimanasi ( PERBAKIN, Striknine) * Pembelian racun anjing

* Sosialisasi/ KIE

• Bantuan Vaksin anjing dari KEMENTAN sejumlah 9.000 dan terpai 6.000 dan buffer stok tinggal 3.000

• Dana operasional untuk vaksinasi untuk vaksinator belum ada.

• APD petugas peternakan belum ada.

• Cool Box 10 untuk vaksinasi anjing dan kulkas untuk penyimpanan vaksin 10 buah , Petugas vaktsinator anjing 4 orang ( dokter hewan dan paramedis keswan) per kecamatan.

(45)

Penilaian Konteks

(46)

Penilaian Konteks

• Belum ada rencana operasional terintegrasi untuk penanganan KLB Rabies.

• Pembentukan tim penanggulangan KLB Rabies di Kabupaten Dompu No. 524.1/01/

DISNAKWAN/2019.

• Belum ada kegiatan monitoring dan implementasi penanggulangan rabies.

• Belum optimalnya peran lintas sektor dalam penanggulangan rabies

• Penunjukkan Juru bicara untuk informasi rabies di tunjuk kepala dinas kesehatan dan peternakan dan sekertaris Dinas kesehatan dan peternakan

• Belum pernah dilakukan Penilaian risiko cepat berkala berdasarkan informasi yang tersedia

• Berbagi informasi dan penyelidikan epidemiology dan respon Bersama antara dinkes dan disnak.

• BPBD belum terpapar dalam pengendalian rabies

• Pelatihan petugas laboratorium pemeriksaan cepat rabies pada hewan (HPR)

• Pelatihan vaksinator dan penanganan GHPR.

• Pelatihan petugas dalam penanganan rabies di Sumbawa ( 9 petugas puskesmas, 2 petugas rumah sakit dan 2 dua petugas dinas kesehatan)

• Seminar sehari penanganan rabies dari sisi penyakit syaraf

• OJT petugas dalam penanganan kasus rabies

(47)

Penilaian Konteks

• Kelengkapan dan ketepatan laporan kasus GHPR baik

• Tim Gerak cepat SK kepala dinas kesehatan No.900/197/Dikes/2019

• Rabies Center ( di 9 puskesmas dan 1 rumah sakit)

• KIE oleh petugas ( 10 petugas, baik kesehatan maupun dinas peternakan masih kurang

• Ketersediaan stock VAR, SAR dan Alat pelindung diri untuk petugas kesehatan sudah ( Lengkapi Data)

• Monitoring kualitas vaksin dilakukan oleh petugas kesehatan dan petugas peternakan yang ada di kecamatan maupun di kabupaten

• Materi KIE untuk penyuluhan kepada masyarakat masih kurang

• Kesadaran masyarakat untuk vaksinasi anjing dan pengendalian rabies masih

kurang ( Menyembunyikan anjing pada saat vaksinasi)

(48)

Penilaian Konteks

Pemahamam masyarakat dalam mencuci luka dengan sabun dan air mengalir selama 15 menit masih kurang dan masyarakat sudah sadar kalau ada kasus gigitan anjing langsung membawa ke sarana kesehatan

• Ketersediaan pusat kesehatan hewan ada 8 kecamatan

• Pengendalian mobilisasi anjing (check point)

• Daerah perbatasan kabupaten (Desa Katua, Nangatumpu)

• Ada petugas yang sudah dilatih untuk pengambilan sampel dan untuk konfirmasi rabies pada hewan di kirim ke BBVt Dempasar

• Surveilans kasus GHPR dan Lysa pada manusia berjalan baik.

• Surveilans pada hewan berjalan (Laporan cakupan vaksinasi dan kasus dilaporkan setiap hari)

• Ada wilayah perbatasan dengan taman nasional gunung tambora yang berbatasan dengan ladang dan pemukiman ( Kecamatan Pekat)

• Mata pencarian masyarakat yang paling banyak :

• Kepercayaan masyarakat apabila anjing di vaksin menyebabkan kematian pada ajingnya.

• Dampak pada masyarakat misalnya masyarakat merasa rumahnya tidak ada menjaga apabila anjingnya di eliminasi dan berdapak pada rumah kemasukan maling

• Bila anjingnya di eliminasi tidak ada lagi yang menjaga ladangnya

• Ada dampak pada pariwisata dimana sudah ada 2 turis yang sudah di gigit anjing di daerah wisata lakey.

• Berdampak pada pengeluaran daerah untuk penanggulangan KLB Rabies

(49)

Karakterisasi Risiko

Pertanyaan Risiko : Bagaimana kemungkinan dan dampak adanya kasus baru rabies pada manusia yang di sebabkan oleh HPR anjing di kabupaten dompu dalam

6 bulan kedepan?

Kemungkinan Hampir Pasti Dampak Besar

Estimasi tingkat Risiko : Sangat Tinggi

Tingkat keyakinan : Sedang.

X

(50)

Karakterisasi Risiko

• Alasan Karakterisasi “Kemungkinan” Karena 76 desa dari 81 desa/kelurahan yang ada di kabupaten dompu sudah ada kasus GHPR dan sudah ada dinyatakan kasus positif pada anjing dan pada manusia berdasarkan klinis Adanya kasus gigitan baru setiap hari antara 3-5 orang

Kejadian kasus gigitan anjing terjadi secara sporadis

Interaksi antara manusia dan anjing sering dan populasi anjing banyak Vaksisnasi belum mencapai 70 %.

• Alasan Karakterisasi “Dampak”Masyarakat sudah mulai panik terutama dengan adanya kematian akibat gigitan anjing.

Sumber daya tenaga dan dana yang besar untuk penanggulangan rabies.

• Kesimpulan karakterisasi Risiko: Resiko Sangat Tinggi

• Tingkat keyakinan / validasi data: Sedang

(51)

Karakterisasi Risiko

Pertanyaan Risiko : Bagaimana kemungkinan dan dampak adanya kasus baru rabies pada manusia yang di sebabkan oleh HPR anjing di 5 desa ( desa Karombo,

kadindi barat, nangamiro, keramat dan malaju) dalam 6 bulan kedepan?

Kemungkinan Hampir pasti Dampak Besar

Estimasi tingkat Risiko : Sangat Tinggi

Tingkat keyakinan : Sedang.

X

(52)

Karakterisasi Risiko

Pertanyaan Risiko : Bagaimana kemungkinan dan dampak adanya kasus rabies baru pada turis di daerah wisata kecamatan Hu’u yang disebabkan oleh

gigitan HPR anjing dalam 6 bulan kedepan?

Kemungkinan Besar Dampak : Besar

Estimasi tingkat Risiko : Sangat Tinggi

Tingkat keyakinan : Rendah.

X

(53)

Informasi yang kurang dan

bagaimana mendapatkan informasi tersebut

• Pemetaan populasi anjing dan anjing yang di nyatakan rabies

• Estimasi jumlah anjing yang lebih akurat

• Data kujungan turis yang belum di ketahui

• Data mobilasi anjing dan spot karantina hewan

• Data pemeriksaan lab pada kera

• Data kader atau PMI yang dapat gerakan dalam penanggulangan rabies

• Analisis hasil PE

(54)

Rekomendasi

• Mengusulkan kepada kepala daerah untuk mempertimbangkan pernyataan Tanggap Darurat Rabies dan aktivasi Posko Tanggap Darurat Rabies

• Penyusunan rencana operasional dan akses dana kebencanaan

• Vaksinasi Anjing dengan cakupan 70 % (Estimasi populasi anjing, dan rencana vaksinasi termasuk biaya operasional, petugas vaksinasi)

• Pengendalian mobilisasi HPR (Memperketat spot check site)

• Pengadaan Stockpile VAR/ SAR untuk manusia

• Pengadaan VAR untuk anjing dan operasionalnya

• Penambahan petugas Vaksinator anjing

• Penyuluhan kepada masyarakat tentang rabies

• Mobilisasi anjing

• Bahaya penyakit rabies , mewajibkan menjadi pemilik yang bertanggung jawab,, vaksinasi rabies pada anjing (Menyusun Perda)

• Edukasi Cuci luka dan mengunjungi faskes untuk VAR/ SAR pada manusia

• Adanya kegiatan monitoring dan evaluasi penanggulangan rabies di kabupaten dompu.

(55)
(56)
(57)

THANK YOU

Gambar

GRAFIK KASUS GHPR BERDASARKAN KELOMPOK UMUR TAHUN 2018 S/D  APRIL  2019

Referensi

Dokumen terkait

pasien balita yang menderita tuberkulosisis paru di BBKPM Surakarta pada tahun 2016 dan bertempat tinggal di wilayah Solo raya sebanyak 46 balita dengan teknik

Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, atas segala rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas skripsi dengan judul “ ANALISIS

bahwa balita yang memiliki kontak dengan penderita tuberkulosis dalam satu. rumah memiliki risiko untuk menderita tuberkulosis paru sebesar 3,230

Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Tuberkulosis Paru Primer pada Anak Balita di Balai Pengobatan Penyakit Paru-paru (BP4) Purwokerto.. Semarang:

Manajemen strategi pembelajaran masyarakat menuju sadar peduli pajak yang mempengaruhi optimalisasi penerimaan pajak di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Bandung Cibeunying

Variabel yang memiliki hubungan yang signifikan secara statistik dengan tingkat risiko masyarakat sekitar Teluk Kendari ketika mengkonsumsi ikan adalah kadar timbal dalam

melihat hubungan faktor risiko dengan kejadian hipertensi pada masyarakat di pesisir Sungai Siak Kecamatan Rumbai Kota Pekanbaru... Jom FK Volume

Dari hasil data informasi di atas dapat diketahui bahwa masih terdapat masalah dimana adanya keluhan masyarakat terhadap kualitas pelayanan kesehatan yang kurang