MANAJEMEN SYARI’AH
Oleh Dosen Pengampu : Yana Suhaina, M.E
Oleh :
Nama : Khairiah
NIM : 2021010794
Jurusan : Hukum Ekonomi Syariah (HES)
(STAISES-KUTACANE)
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM SEPAKAT SEGENAP KABUPATEN ACEH TENGGARA
TAHUN 2023
i
KATA PENGANTAR
Assalamu‟alaikum wr. wb.
Puji dan syukur saya panjatkan kepada Allah SWT, karena berkat rahmat-Nya dan hidayah-Nya saya dapat menyelesaikan makalah ini sebagai salah satu tugas dari dosen tentang “Manajemen Syariah”.
Tercurah dari segala kemampuan yang ada, saya berusaha membuat makalah ini dengan sebaik mungkin, namun demikian saya menyadari sepenuhnya bahwa penulisan makalah ini masih banyak kekurangan dikarenakan keterbatasan pengetahuan saya, maka dengan sepenuh hati saya mohon maaf dan mengaharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun untuk perbaikan selanjutnya.
Terakhir saya ucapkan terimakasih untuk semua pihak yang sudah membantu dan memudahkan penyelesaian makalah ini, kami berharap semoga makalah ini bisa bermanfaat.
Wassalaamu‟alaikum warahmatullaahi wabarakaatuh.
Kutacane, September 2023 Penyusun
KHAIRIAH NIM. 2021010794
ii DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI... ii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 1
C. Tujuan Pembuatan ... 1
BAB II PEMBAHASAN ... 2
A. Pengertian dan Dasar-Dasar Manajemen ... 2
B. Ruang Lingkup Manajemen Keuangan Syariah ... 4
C. Sejarah dan Perkembangan Manajemen Dalam Islam ... 8
BAB III PENUTUP ... 11
A. Kesimpulan ... 11
B. Saran ... 11
DAFTAR PUSTAKA ... 12
1 BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Dalam kehidupan yang semakin lama semakin ketat kompetensi dalam bidang pekerjaan ini, kita dituntut untuk dapat mengatur segala sesuatu dengan sistematis. Dalam menjalankan suatu proses kerja seseorang harus mempunyai pengetahuan tentang manajemen dari pekerjaannya tersebut.
Tujuan dari manajemen sendiri adalah efisien dan efektif. Efektif berarti bahwa tujuan dapat dicapai sesuai dengan perencanaan, sementara efisien berarti bahwa tugas yang ada dilaksanakan secara benar, terorganisir, dan sesuai dengan jadwal. Oleh karena itu, disini kami akan membahas sedikit tentang manajemen dan hal yang berkaitan.
B. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian manajemen?
2. Apa saja ruang lingkup manajemen syariah?
3. Bagaimana sejarah dan perkembangan manajemen dalam Islam ?
C. Tujuan Pembuatan
Tujuan pembuatan makalah ini agar pembaca mampu mengetahui, memahami dan mampu menjelaskan :
1. Pengertian manajemen
2. Ruang lingkup manajemen syariah
3. Sejarah dan perkembangan manajemen syariah
2 BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian dan Dasar-Dasar Manajemen
Manajemen dalam bahasa Arab disebut idarah. Idarah diambil dari perkataan adartasy- syai‟a atau perkataan adarta bihi juga dapat didasarkan pada kata ad-dauran. Pengamat bahasa menilai pengambilan yang kedua –yaitu: „adarta bihi-itu lebih cepat.
Secara istilah manajemen itu adalah suatu aktivitas khusus menyangkut kepemimpinan, pengarahan, pengembangan, personal, perencanaan dan pengawasan terhadap pekerjaan- pekerjaan.1
Sedangkan manajemen syariah adalah suatu pengelolaan untuk memperoleh hasil optimal yang bemuara pada pencarian keridhaan Allah. Oleh sebab itu maka segala sesuatu langkah yang diambil dalam menjalankan manjemen tersebut harus berdasarkan aturan- aturan Allah. Aturan-aturan itu tertuang dalam Al-Quran, hadis dan beberapa contoh yang dilakukan oleh para sahabat. Sehubungan dengan itu maka isi dari manajemen syariah adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan ilmu manajemen konvensional yang diwarnai dengan aturan Al-Quran, hadis dan beberapa contoh yang dilakukan oleh para sahabat.2
a. Dasar – Dasar Manajemen Syariah
Dalam manajemen syariah terdapat 3 usur yang yang tidak dapat terpisahkan yaitu:
1. Hablun Min Allah
Hablun min Allah yaitu hubungan manusia dengan Allah SWT sebagai pencipta segala sesuatu yang ada di bumi dan di langit, yang mana dalam manajemen syariah diatur bagaimana seorang hamba dengan Tuhannya dalam melakukan suatu pekerjaan baik itu pekerjaan dari organisasi maupun tugas pribadi dalam kehidupan sehari – hari.
Dalam islam hubungan manusia dengan tuhannya sangat mempengarui bagaimana suatu manajemen itu akan berjalan sesuai dengan aturan islam atau syariah, dan juga ini yang sering membedakan antara manajemen konvensional engan manjemen syariah.
Dimana dalam manajemen syariah tidak semata – mata mencari keutungan saja, tetapi dalam melakukan suatu pekerjaan juga sebagai ibadah seorang hamba kepada Tuhannya.
1 Muhammad, Manajemen Dana Bank Syariah,(Yogyakarta:Ekonisia,2004),hal 13-14 2 http://manajemenislam.wordpress.com/2013/03/03/manajemen-syariah/
3 2. Hablun Minan Nas
Hablun minan nas yaitu hubungan antara manusia dengan manusia baik itu antara pekerja dengan masyarakat, pekerja dengan piminanan maupun organisasi dengan masyarakat dimana organisasi tersebut berdomisili. Dengan menjalin hubungan baik antar manusia ini maka suatu organisasi akan berjalan dengan baik untuk mencapai tujuan orgaisasi tersebut. Hal ini dijunjung tinggi oleh setiap manajemen yang ada baik itu manajemen syariah maupun manajemen konvensional.
3. Hablun Minal Alam
Hablun minal alam yaitu hubungan antara organisasi dengan linkungan sekitar, yang mana suatu organisasi harus menjaga lingkunganya dengan baik agar tidak terkena dampak terhadap masyarakat yang hidup disekitar lingkungan organisasi beroprasi. Jika lingkungan terjaga dengan baik maka opersional organisasi akan berjalan sebagaimana diharapkan, jika sebaliknya maka organisasi tersebut akan berselisih dengan masyarakat sekitar lingkungannya dan operasionalnya tidak akan berjalan sebagai mana diharapkan.
a. Perencanaan Dan Manajemen Strategi Dalam Islam
Perencanaan sebagai sebuah proses yang dimulai dari penetapan tujuan organisasi, menentukan strategi untuk pencapaian tujuan organisasi tersebut secara menyeluruh, serta merumuskan sitem perencanaan yang menyeluruh untuk mengintegrasikan dan mengoordinir seluruh pekerjaan organisasi hingga tercapainya tujuan organisasi.
Manajemen strategi merupakan proses atau rangkaian kegiatan pengambilan keputusan yang bersifat mendasar dan menyeluruh, disertai penetapan cara melaksanakannya, yang dibuat oleh pimpinan dan diimplementasikan oleh seluruh jajaran di dalam suatu organisasi, untuk mencapai tujuan.
Aplikasi manajemen strategis Islami yang dikendalikan oleh nilai-nilai syari‟ah sama sekali berbeda dengan aplikasi manajemen strategis konvensional yang non Islami, Perbedaan itu ialah pada cara pengambilan keputusannya, hingga pelaksanaannya (strategi- strategi fungsional). Dengan berlandaskan sekulerisme yang bersendikan pada nilai-nilai material, aplikasi strategis non Islami tidak memperhatikan aturan halal-haram dalam setiap perencanaan, pelaksanaan dan segala usaha yang dilakukan dalam mencapai tujuan-tujuan organisasi.
Dari asas sekularismen inilah, seluruh bangunan bisnis, kegiatan dan pemanfaatan sumberdaya organisasi diarahkan pada hal-hal yang bersifat bendawi dan menafikan nilai ruhiyah serta keterikatan SDM organisasi pada aturan yang lahir dari nilai-pnilai syari‟ah.
4
Kalaupun ada aturan, tetapi semata-mata bersifat etik yang tidak ada hubungannya dengan konsekunesi pahala dan dosa.
B. Ruang Lingkup Manajemen Keuangan Syariah
Manajemen keuangan syari‟ah adalah suatu pengelolaan untuk memperoleh hasil optimal yang bemuara pada keridhaan Allah SWT. Oleh sebab itu, maka segala langkah yang diambil dalam menjalankan manajemen tersebut harus berdasarkan aturan-aturan Allah SWT.
Aturan-aturan itu tertuang dalam Al-Quran dan Al-Hadist. Ruang lingkup manajemen keuangan syari‟ah sesungguhnya sangatlah luas, antara lain mencakup tentang:
1. Lembaga Keuangan Bank
Keuangan bank merupakan lembaga yang memberikan jasa keuangan yang lengkap, lembaga keuangan bank secara opersioanal dibina atau diawasi oleh bank indonesia sebagai bank central diindonesia. Sedangkan pembinaan dan pengawasan dari sisi pemenuhan prinsip-prinsip syariah dilakukan oleh dewan syariah nasional MUI. Lembaga keuangan bank terdiri dari :
a. Bank Umum Syariah
Bank umum merupakan bank syariah yang dalam kegiatanya memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran.
b. Bank Pembiayaan Rakyat Syariah
Bank pembiayayaan syariah berfungsi sebagai pelaksana sebagian fungsi bank umum, tetapi ditingkat regional dengan berlandasan kepada prinsip-prinsip syariah. Pada sistem konvensional dikenal dengan bank perkreditan rakyat. Bank pembiayayaan rakyat syariah merupakan bank yang khusus melayani masyarakat kecil dikecamatan dan pedesaan.
2. Lembaga Keuangan Non-bank
Lembaga keuangan non-bank merupakan lembaga keuangan ang lebih banyak jenisnya dari lembaga keuangan bank. Pembinaan dan pengawasan dari sisi pemenuhan prinsip- prinsip syariah dilakukan oleh dewan syariah nasional MUI. Lembaga keuangan syariah non- bank antara lain sebagai berikut:
a. Pasar Modal
Pasar modal mrupakan tempat pertemuan dan melakukan transaksi antara pencari dana (emiten) dengan para penanam modal (investor). Daam pasar modal yang diperjual belikan adalah efek-efk seperti saham dan obligasi dimana jika diukur dari waktunya modal yang diperjualbelikan adalah modal jangka panjang. Pasar modal mencakup
5
underwriter, broken, dealer, guarantor, trustee, custdian, jasa penunjang. Pasar modal indonesia juga diramaikan dengan pasar modal syariah yang diresmikan pada tanggal 14 Maret 2003 dengan berbagai aturan pelaksanaan yang secara operasional diawasi oleh Bapepam-LK, sedangkan pemenuhan prinsip syariahnya diatur oleh DSN-MUI.
b. Pasar Uang
Pasar uang samahalnya dengan pasar modal, yaitu pasar tempat memperoleh dana dan investasi dana. Hanya bedanya modal yang ditawarkan di pasar uang adalah berjangka waktu pendek dan di pasar modal berjangka waktu panjang. Dalam pasar uang transaksi lebih banyak dilakukan dengan media elektronika, sehingga nasabah tidak perlu datang secara langsung. Pasar uang melayani banyak pihak, baik pemerintah, bank, perusahaan asuransi, dan lembaga keuangan lainnya. Pasar uang syariah juga telah hadir melalui kebijakan Operasi Moneter Syariah dengan instrumen antara lain Sertifikat Bank Indonesia Syariah (SBIS), Pasar Uang Antarbank Syariah (PUAS) dengan instrumen antara lain Sertifikat Investasi Mudharabah Antarbank (IMA) yang operasionalnya diatur oleh BI sedangkan pemenuhan prinsip syariahnya diatur oleh DSN MUI.
c. Perusahaan Asuransi
Asuransi syariah (ta‟min, takaful, atau tadhamun) adalah usaha saling melindungi dan tolong-menolong diantara sejumlah pihak/orang melalui investasi dalam bentuk aset/atau tabarru‟ yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapi risiko tertentu melalui akad (perikatan) yang sesuai dengan syariah akad, yang sesuai dengan syariah yang dimaksud adalah yang tidak mengandung gharar (penipuan), maysir (prjudian), riba, zhulm (penganiayaan), risywah (suap), barang haram dan maksiat.
Prusahaan asuransi syariah, reasuransi syariah dan broken asuransi dan reasuransi syariah juga telah ikut memarakkan usaha pransuran di Indonsia.
d. Dana Pensiun
Dana pensiun merupakan perusahaan yang kegiataanya mengelola dana pensiun dari perusahaan pemberi kerja atau perusahaan itu sendiri. Penghimpunan dana pensiun melalui iuran yang dipotong dari gaji karyawan. Kemudian dana yang terkumpul oleh dana pensiun diusahakan lagi dengan menginvestasikannya ke berbagai sektor yang menguntungkan. Prusahaan yang mengelola dana pensiun dapat dilakukan leh bank atau perusahaan lainnya. Dana pensiun syariah di Indonesia, baru hadir dalam bentuk Dana Pensiun Lembaga Keuangan yang diselenggarakan oleh beberapa DPLK bank dan asuransi syariah.
6 e. Perusahaan Modal Venture
Perusahaan modal venture merupakan pembiayaan olh perusahan-perusahaan yang usahanya mengandung risiko tinggi. Perusahaan jenis ini relatif masih baru di Indonesia. Usahanya lbih banyak memberkan pembiayaan tanpa jaminanyang umumnya tidak dilayani oleh lembaga keuangan lainnya. Perusahaan modal venture syariah menjalankan kegiatan usahanya berdasarkan prinsip-prinsip syariah.
f. Lembaga Pembiayaan
Lembaga pembiayaan adalah badan usaha di luar bank dan lembaga keuangan bukan bank yang khusus didirikan untuk melakukan kegiatan yang termasuk dalam bidang usaha lembaga pembiayaan yang mencakup sebagai berikut:
1) Lembaga Sewa Guna Usaha (Leasing)
Sewa guna usaha (leasing) syariah adalah kegiatan pembiayaan daam bentuk penyediaan barang modal baik secara sewa guna usaha dengan hak opsi (finance lease) maupun sewa guna usaha tanpa hak opsi (operating lease) untuk digunakan oleh penyewa guna usaha (lessee) selama jangka waktu tertentu berdasarkan embayaran secara angsuran sesuai dengan prinsip syariah.
2) Perusahan Anjak Piutang (Factoring)
Anjak piutang syariah adalah kegiatan pengalihan piutang dagang jangka pendek suatu perusahan berikut pengurusan atas piutang tersebut sesuai dengan prinsip syariah Anjak Piutang (factoring) dilakukan berdasarkan akad wakalah bil ujrah.
Wakalah bil ujrah adalah pelimpahan kuasa oleh satu pihak (al muwakkil) kepada pihak lain (al wakil) dalam hal-hal yang boleh diwakilkan dengan pemberian keuntungan (ujrah).
3) Perusahaan Kartu Plastik
Salah satu kegiatan sistem pembayaran yang saat ini telah berkembang pesat adalah alat pembayaran dengan menggunakan kartu (APMK) atau disebut pula dengan kartu plastik. Belakangan ini, alat pembayaran yang menggunakan kartu baik menggunakan kartu kredit, ATM, kartu debit, kartu prabayar sebagai produk bank atau lembaga keuangan nonbank disebut juga dengan kartu plastik.
4) Pembiayaan Konsumen (Consumer Finance)
Pembiayaan konsumen syariah adalah kegiatan pembiayaan untuk mengadakan barang berdasarkan kebutuhan konsumen dengan pembayaran secara angsuran sesuai dengan prinsip syariah.
7 5) Perusahaan Pegadaian
Perusahaan pegadaian merupakan lembaga keuangan yang menyediakan fasilitas pinjaman dengan jaminan tertentu. Jaminan nasabah tersebut digadaikan, kemudian ditaksir olah pihak oleh pihak pegadaian untuk menilai besarnya nilai jaminan.
Sementara ini usaha pegadaian secara resmi masih dilakukan pemerintah sedangkan pegadaian syariah dalam menjalankan operasionalnya berpegang pada prinsip syariah. Pinjaman dengan menggadaikan barang sebagai jaminan utang dilakukan dalam bentuk rahn. Pegadaian syariah hadir di Indonesia dalam bentuk kerja sama bank syariah dengan perum pegadaian membentuk Unit Layanan Gadai Syariah di beberapa kota di Indonesia. Disamping itu, ada pula bank syariah yang menjalankan kegiatan pegadaian syariah sendiri.
6) Lembaga Keuangan Syariah Mikro
a) Lembaga Pengelola Zakat (BAZ dan LAZ)
Melalui BAZ dan LAZ ini diharapkan agar harta zakat umat Islam bisa terkonsentrasi pada sebuahlembaga resmi dan dapat disalurkan secara lebih optimal.
b) Lembaga Pengelola Wakaf
Peningkatan peran wakaf sebagai pranata keagamaan tidak hanya bertujuan menyediakan berbagai sarana ibadah dan sosial, tetapi juga memiliki kekuatan ekonomi yang berpotensi, antara lain untuk memajukan kesejahtaraan umum, sehingga perlu dikembangkan pemanfaatannya sesuai dengan prinsip syariah.
c) BMT
BMT merupakan kependekan kata Balai Usaha Mandiri Terpadu atau Baitul mal wat Tamwil, yaitu lembaga keuangan mikro (LKM) yang berperasi berdasarkan prinsip-prinsip syariah Baitul mal wat Tamwil (BMT) yaitu balai usaha terpadu yang isinya berintikan bayt almal wa al-tamwil dengan kegiatan mengembangkan usaha-usaha produktif dan investasi dalam meningkatkan kualitas kegiatan ekonomi pengusaha kecil bawah dan kecil dengan antara lain mendorong kegiatan menabung dan menunjang pembiayaan kegiatan ekonominya.
8
C. Sejarah dan Perkembangan Manajemen Dalam Islam a. Sejarah
Pada dasarnya manajemen sudah ada sejak manusia itu ada, manajemen sebetulnya sama usianya dengan kehidupan manusia. Mengapa demikian, karena pada dasarnya manusia dalam kehidupan sehari-harinya tidak bisa terlepas dari prinsip-prinsip manajemen, baik langsung maupun tidak langsung. baik disadarai ataupun tidak disadari. Contohnya dalam kehidupan sehari-hari kita seperti mengatur diri kita atau jadwal tugas-tugas kita, kita sudah melakukan yang namanya manajemen.
Manajemen berasal dari kata to manage yang artinya mengatur. Pengaturan dilakukan melalui proses dan literature berdasarkan urutan dari fungsi-fungsi manajemen itu. Jadi, manajemen itu merupakan suatu proses untuk mewujudkan tujuan yang diinginkan.
Perkembembangan manajemen syariah sudah dimulai sejak masa Rasulullah SAW, yaitu bisa kita lihat bagaiman rasul mengatur negera ketika beliau menjadi khalifah pada masa itu. Sesungguhnya rasulallah dalam kapasitasnya adalah sebagai pemimpin dan imam yang berusaha memberikan metode, tata cara atau solusi bagi kemaslahatan hidup umatnya, dan yang dipandangnya relevan dengan kondisi zaman yang ada. Bahkan , terkadang Rasulallah bermusyawarah dan meminta pendapat dari para sahabat atas persoalan yang tidak ada ketentuan wahyunya. Rasulallah mengambi pendapat mereka wlaupun mungkin bertentangan dengan pendapat pribadinya.
Proses dan sistem manajemen yang diterapkan rasulallah bersifat tidak mengikat bagi para pemimpin dan umat setelahnya. Persoalan hidup terus berkembang dan berubah searah dengan putaran waktu dan perbedaan tempat. Yang dituntut oleh syariat adalah para pemimpin dan umatnya harus berpegang teguh pada asas manfaat dan maslahah, serta tidak menyia-nyiakan ketentuan nash syari‟. Namun, mereka tidak terikat untuk mengikuti sistem manajemen Rasul dalam pemilihan pegawai misalnya. Kecuali, jika metode itu memberikan asas maslahah yang lebih, maka ia harus mengikutinya. Jika ia menolaknya, ini merupakan bentuk pengkhianatan terhadap amanah. Dan hal ini diharamkan oleh allah dan Rasul-Nya.
Standar asas manfaat dan masalah tidaklah bersifat rigid. Ia bisa berubah dari waktu ke waktu. Dan dari satu tempat ke tempat lainnya. Untuk itu, manajemen dalam islam bersandar pada hasil ijtihad pemimpim dan umatnya. Dengan catatan, ia tidak boleh bertentangan dengan konsep dasar dan prinsip hukum utama yang bersumber dari alqur‟an dan al-sunnah, serta tidak bertolak belakang dengan rincian hukum syara‟ yang telah dimaklumi. Umat muslim masih memiliki ruang untuk melakukan inovasi atas persoalan detail yang belum terdapat ketentuan syari‟nya.
9
Perhatian umat Islam terhadap ilmu manajemen khususnya sebenarnya dapat dilacak dari beberapa aktivitas yang ditemukan pada masa kekhalifahan Islam. Menurut langgulung (1988), terhadap beberapa penulis yang menyatakan bahwa pengembangan ilmu-ilmu yang ada saat itu tidaklah dipisahkan sebagai sistem ilmu yang berdiri sendiri, namun sebagai sistem ilmu lain. Salah satunya adalah Nizam al-idari atau sistem tatalaksana yang merupakan padanan bagi istilah manajemen yang digunakan kala itu.
Sebenarnya terdapat perbedaan mendasar antara manajemen syariah (Islam) dengan manajemen modern. Keduanya berbeda dalam hal tujuan, bentuk aturan teknis, penyebarluasan, dan disiplin keilmuannya. Disamping itu, pengembangan pemikiran modern oleh Negara Barat telah berlangsung sangat dinamis. Di satu sisi, masyarakat muslim belum optimal dalam mengembangkan kristalisasi pemikiran manajemen syariah dari penggalan sejarah yang otentik, baik dari segi teori maupun praktik. Padahal Rosulullah telah bersabda bahwa: “Telah aku tinggalkan atas kalian semua satu perkara, jika kalian berpegang teguh atasnya, maka kalian tidak akan tersesat selamanya setelah ku, yaitu kitab Allah (Al-Qur‟an) dan sunnah ku (Hadis)”.
Sesungguhnya Rosululloh dalam kapasitasnya adalah sebagai pemimpin dan imam yang berusaha memberikan metode, tata cara atau solusi bagi kemaslahatan hidup umatnya, dan yang dipandangnya relevan dengan kondisi zaman yang ada. Bahkan terkadang Rosulullah bermusyawarah dan meminta pendapat dari para sahabat atas persoalan yang tidak ada ketentuan wahyunya. Rosulullah mengambil pendapat mereka walaupun mungkin bertentangan dengan pendapat pribadinya.
Proses dan sistem manajemen yang diterapkan rosulullah bersifat tidak mengikat bagi para pemimpin dan umat setelahnya. Persoalan hidup terus berkembang dan berubah searah dengan putaran waktu dan perbedaan tempat. Yang dituntut oleh syariat adalah para pemimpin dan umatnya harus berpegang teguh pada asas manfaat dan maslahah, serta tidak menyia-nyiakan ketentuan nash syari‟. Namun, mereka tidak terikat untuk mengikuti sistem manajemen Rosul dalam pemilihan pegawai, misalnya, kecuali, jika metode itu memberikan asas maslahah yang lebih, maka ia harus mengikutinya. Jika ia menolaknya, ini merupakan bentuk pengkhianatan terhadap amanah. Standar asas manfaat dan masalah tidaklah bersifat rigid. Ia bisa berubah dari waktu ke waktu. Dan dari satu tempat ke tempat lainnya. Untuk itu, manajemen dalam islam bersandar pada hasil ijtihad pemimpim dan umatnya. Dengan catatan, ia tidak boleh bertentangan dengan konsep dasar dan prinsip hukum utama yang bersumber dari alqur‟an dan al-sunnah, serta tidak bertolak belakang dengan rincian hukum
10
syara‟ yang telah dimaklumi. Umat muslim masih memiliki ruang untuk melakukan inovasi atas persoalan detail yang belum terdapat ketentuan syari‟nya.3
3 http://zenal-pml.blogspot.com/favicon.ico
11 BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
Jadi manajemen adalah suatu aktivitas khusus menyangkut kepemimpinan, pengarahan, pengembangan, personal, perencanaan dan pengawasan terhadap pekerjaan- pekerjaan. Sedangkan manajemen syariah yaitu suatu pengelolaan untuk memperoleh hasil optimal yang bemuara pada pencarian keridhaan Allah. Ada empat prinsip (aksioma) dalam ilmu ikonomi Islam yang mesti diterapkan dalam bisnis syari‟ah, yaitu: Tauhid (Unity/kesatuan), Keseimbangan atau kesejajaran (Equilibrium), Kehendak Bebas (Free Will), dan Tanggung Jawab (Responsibility). Perbedaan etika bisnis syariah dengan etika bisnis yang selama ini dipahami dalam kajian ekonomi terletak pada landasan tauhid dan orientasi jangka panjang (akhirat). Prinsip ini dipastikan lebih mengikat dan tegas sanksinya.
Etika bisnis syariah memiliki dua cakupan. Pertama, cakupan internal, yang berarti perusahaan memiliki manajemen internal yang memperhatikan aspek kesejahteraan karyawan, perlakuan yang manusiawi dan tidak diskriminatif plus pendidikan. Sedangkan kedua, cakupan eksternal meliputi aspek trasparansi, akuntabilitas, kejujuran dan tanggung jawab. Demikian pula kesediaan perusahaan untuk memperhatikan aspek lingkungan dan masyarakat sebagai stake holder perusahaan.
B. Saran
Penyusun sangat menyadari bahwa di dalam makalah ini masih banyak kekurangan, dan masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, penyusun menyarankan kepada semua pihak yang membaca dan membahas makalah ini, agar bisa menambahkan literature-literatur supaya dapat menambahkan pengetahuan kita.
12
DAFTAR PUSTAKA
Ayub, Muhammad. 2009. Understanding Islamic Finance. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama Departemen Agama RI. 2009. Al-Qur‟an dan Terjemahanya, Bandung : PT. Sygma
Examedia Arkanleema
Djakman D Chaerul. 1999. Dasar-dasar Manajemen Keuangan. Jakarta : Salemba Empat Manulang, M. 1990. Dasar-dasar Manajemen. Jakarta: Ghalia Indonesia
Muhammad, Manajemen Dana Bank Syariah, Yogyakarta:Ekonisia, 2004.
http://manajemenislam.wordpress.com/2013/03/03/manajemen-syariah/
http://manajemenislam.wordpress.com/author/khoirilarief/
http://reza-rahmat.blogspot.com/favicon.ico http://zenal-pml.blogspot.com/favicon.ico
http://muhardiagustiya.blogspot.co.id/2014/05/resume-manajemen-syariah.html