1.1 Latar Belakang
Bawang putih (Allium Sativum) diartikan sebagai tumbuhan atau rempah yang sering digunakan oleh masyarakat sebagai bumbu atau penyedap rasa dalam masakan, baik masakan lokal maupun masakan luar negeri. Tidak hanya memiliki fungsi di dapur, bawang putih juga bermanfaat bagi kesehatan karena mengandung unsur-unsur aktif yang memiliki daya bunuh terhadap bakteri, sebagai bahan antibiotik, merangsang pertumbuhan sel tubuh, dan sebagai sumber vitamin B1. Selain itu bawang putih juga memiliki kandungan gizi yang tinggi serta dimanfaatkan sebagai penghambat perkembangan penyakit kanker karena mengandung komponen aktif, yaitu selenium dan germanium. (AAK, 1998)
Bawang putih (Allium Sativum) adalah salah satu rempah-rempah yang sering digunakan masyarakat sebagai bumbu penyedap masakan. Bawang putih tidak hanya memiliki fungsi untuk membuat makanan menjadi sedap, tapi bawang putih juga memiliki beberapa manfaat lain, seperti membunuh bakteri, sebagai bahan antibiotic, merangsang pertumbuhan sel tubuh, dan sebagai sumber vitamin B1 serta memiliki kandungan gizi yang tinggi.
Pengetahuan modern menyatakan adanya 100 jenis kandungan kimia alami dalam bawang putih yang dapat digunakan untuk mengobati penyakit. Selain itu bawang putih juga memiliki kandungan vitamin A, vitamin B, vitamin C, anti oksidan, besi, kalsium, karoten, kalium, selenium dan banyak lagi. Bawang putih juga mengandung anasir (asam amino alisin), penyembuh terpenting pada bawang putih. Asam amino alisin ini mencegah akumulasi platelets pada dinding arteri yang dapat menimbulkan penyumbatan pada dinding arteri tersebut, yang akhirnya dapat membuat seseorang terkena stroke atau serangan penyakit jantung.
Hingga saat ini permintaan terhadap komoditas bawang putih selalu mengalami peningkatan dari hari ke hari. Padahal, produksi bawang putih dalam negeri belum mampu mencukupi kebutuhan masyarakat. Dalam mencukupi kebutuhan bawang putih pemerintah harus impor bawang putih dari luar negeri. Masalah yang dihadapi dalam budidaya bawang putih adalah terbatasnya jumlah petani yang membudidayakan bawang putih karena keterbatasan varietas bawang putih. Saat ini, varietas yang tersedia hanya cocok untuk ditanam di dataran tinggi (> 800 m dpl). Varietas bawang putih dataran rendah memberikan peluang khususnya untuk ekstensifikasi bawang putih dalam negeri untuk pemenuhan kebutuhan konsumsi bawang putih yang terus meningkat tiap tahunnya.
Dewasa ini permintaan terhadap bawang putih mengalami peningkatan dari hari ke hari.
Tapi, produksi bawang putih di dalam negeri belum mampu mencukupi kebutuhan manyarakat.
Oleh karenanya, pemerintah sebagai pengambil kebijakan mengambil langkah untuk mengimpor bawang putih dari luar negeri untuk mencukupi kebutuhan masyarakat.
Dewasa ini, komoditi bawang putih menjadi salah satu penunjang perekonomian di Kota Makassar. Meningkatnya kebutuhan suplay bawang putih tiap harinya dari berbagai tempat usaha di Kota Makassar, seperti pasar tradisional, retail, pasar grosir maupun pasar modern (supermarket) serta tempat-tempat usaha seperti Cathering hingga rumah-rumah makan ataupun resto membuat peningkatan konsumsi bawang putih di kota ini. Namun dalam hal ini, para konsumen di berbagai tempat usaha tersebut lebih menginginkan bawang putih yang dalam keadaan telah dibersihkan (dikupas dari kulit arinya). Alasannya, karena lebih mudah dan praktis untuk langsung diolah ke dalam masakan. Oleh karena itu, banyak bermunculan industri rumahan yang menawarkan jasa untuk pengupasan kulit bawang putih di Kota Makassar.
Komoditi bawang putih merupakan salah satu penunjang perekonomian yang penting di Kota Makassar. Sampai sekarang permintaan bawang putih oleh masyarakat di Kota Makassar tiap harinya, seperti Supermarket, Pasar Tradisional, Cathering, Warung Makan, Restoran dan lain – lain. Namun dari beberapa permintaan tersebut, konsumen menginginkan suatu produk yang lebih praktis dan langsung diolah yaitu bawang putih yang langsung terkelupas kulitnya atau dalam keadaan telah dibersihkan. Oleh karenanya, banyak industri rumahan yang muncul di Kota Makassar yang khusus mengolah atau memproduksi bawang putih yang telah bersih dari kulit arinya.
Namun proses kerja pengupasan kulit bawang putih yang masih manual dan terbilang kurang higienis menjadi kendala tersendiri yang dihadapi industri-industri rumah tangga tersebut. Dimana mereka melakukan proses kerja pengupasan kulit bawang putih tanpa menggunakan mesin bantu sama sekali. Hanya dengan menginjak-injak bawang putih yang di taruh pada wadah besar yang telah direndam air dan setelah itu dibersihkan dengan menggunakan pisau sebagai proses akhirnya hingga benar-benar bersih dari kulit arinya. Adapun untuk kapasitas bawang putih yang mampu dikerjakan dalam sekali proses adalah sebanyak 7½ kg per jam. Melihat hal tersebut, maka dirasa sangat menyita tenaga dan waktu kerja, selain itu proses kerjanya juga yang terbilang kurang higienis.
Keterangan diatas didasari dari hasil survey kami langsung kelapangan di home industry tempat proses pengupasan kulit bawang putih ini. Dimana home industry tersebut beralamatkan di Jalan Balana nomor 63, Kelurahan Gusung, Kecamatan Makassar, Kota Makassar.
Berdasarkan dari data yang telah kami kumpulkan, industri rumah tangga yang telah berdiri sejak awal Pebruari 2013 ini, setiap harinya dapat mengerjakan 5 karung bawang putih, dimana bobot tiap karungnya adalah 15 kg. Hal tersebut tidak sebanding dengan tingginya permintaan konsumen per-harinya. Setiap hari industri rumahan ini menerima orderan pengupasan kulit bawang putih dari berbagai tempat usaha seperti pasar tradisional ataupun modern (supermarket), retail, Cathering, maupun restoran. Biasanya, permintaan bawang putih (yang belum terkelupas) yang masuk hari ini untuk dikerjakan akan diambil oleh pemilik bawang atau diantarkan langsung kepada konsumen (pemilik bawang) oleh pekerja di industri rumahan tersebut pada keesokan harinya.
Bertitik dari kondisi tersebut, maka kami akan membuat mesin pengupas kulit bawang putih khusus yang menggunakan alat bantu semprotan air untuk lebih mengefisienkan waktu kerja pengupasannya serta meningkatkan kapasitas hasil kupasan bawang putih per-harinya. Juga memiliki daya tahan yang lebih tinggi dan diharapkan mampu memperbaiki tingkat higienitas hasil kupasan bawang putih.
Berdasarkan permasalahan diatas, maka penulis berinisiatif mengangkat judul tugas akhir
“RANCANG BANGUN MESIN PENGUPAS KULIT BAWANG PUTIH DENGAN SISTEM POROS VERTIKAL”, guna meningkatkan hasil produksi kupasan bawang putih.
Dalam pengolahan atau produksi bawang putih didalam industry rumah tangga yang ada di Kota Makassar masih menggunakan system kerja secara manual atau konvensional. Proses pembersihan kulit bawang putih ini hanya dengan menginjak – injak bawang putih didalam wadah berisi air dalam waktu tertentu. Adapun untuk kapasitas bawang putih yang mampu dikerjakan dalam sekali proses adalah sebanyak 7½ kg per jam. Melihat hal tersebut, maka dirasa sangat menyita tenaga dan waktu kerja, selain itu proses kerjanya juga yang terbilang kurang higienis.
Dari kondisi ini, maka kami berinisiatif membuat mesin pengupas kulit bawang putih yang khusus untuk membantu meningkatnya kapasitas produksi hasil kupasan bawang putih setiap harinya. Juga memiliki daya tahan yang lebih tinggi dan mampu memperbaiki tingkat hiegenitas produksi bawang putih tersebut.
Berdasarkan permasalahan diatas, maka penulis berinisiatif mengangkat judul tugas akhir
“RANCANG BANGUN MESIN PENGUPAS KULIT BAWANG PUTIH DENGAN SISTEM POROS VERTIKAL”, guna meningkatkan hasil produksi kupasan bawang putih.
DAFTAR PUSTAKA
Alwi, Hasan., Soenjono, Dardjowidjojo., Hans, Lapoliwa, & Anton, M.M. (2003). Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia, Jakarta: PT Balai Pustaka (Persero).
Baharuddin dkk. 2013. “Rancang Bangun Mesin Pengupas Kulit Ari Kacang Kedelai”.
Laporan Tugas Akhir. Makassar: Jurusan Teknik Mesin Politeknik Negeri Ujung Pandang.
Mesin Pengupas Bawang | Garlic Peeler.http://ramesiamesin.com, Diakses pada tanggal 6 Oktober 2015 (18:51).