Hidup berkelompok seakan sudah menjadi kodrat manusia, meski hanya berdua ataupun bertiga. Sejak zaman purba sampai zaman modern, hampir tidak ada catatan sejarah umat manusia yang hidup secara individual.
Bahkan manusia paling primitif sekalipun, yang memiliki hidup nomaden, tetap berkelompok. Mereka berpindah dari satu tempat ketempat lain mengikuti kelompoknya.1
Ketika kelompok-kelompok tersebut bersatu untuk membentuk kelompok yang lebih besar maka akan melahirkan sebuah masyarakat yang mendiami suatu wilayah tertentu dan juga merupakan salah satu syarat dalam membentuk negara, bukan hanya itu, orang-orang yang tinggal di wilayah ini harus memahami bahwa ada pemerintah yang menjalankan undang-undang untuk melindungi kelompok yang disebut negara. Pemerintah, presiden, pemimpin dan sebutan lainnya adalah orang yang dipilih oleh rakyat menurut suatu bentuk pemerintahan tertentu dan akan menjadi penanggung jawab dalam memutuskan serta mengatur hukum-hukum. kelompok yang tergabung dalam sebuah negara meniscayakan adanya seorang kepala negara untuk menjalankan sistem pemerintahan. Kontrak sosial diharapkan dapat tercipta dalam sebuah negara. Kesepakatan yang di bangun masyarakat dan pemerintah merupakan sebuah upaya untuk menjaga stabilitas sebuah
1Radis Bastian, Sistem-Sistem Pemerintahan Sedunia,(IRCiSoD, 2015), h.5.
2
negara.
Demokrasi merupakan suatu sistem pemerintahan yang ada di dunia.
Kata demokrasi berasal dari bahasa Yunani demos yang berarti rakyat dan kratos atau cratein yang berarti kekuasaan atau pemerintahan. Sistem demokrasi berusaha mewujudkan keinginan bahwa keputusan yang mempengaruhi perkumpulan secara keseluruhan harus diambil oleh semua anggota dan masing- masing anggota mempunyai hak yang sama dalam proses pengambilan atau pembuatan keputusan.2 Dalam istilah populer, demokrasi adalah “pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat.”
Persaingan dan partisipasi merupakan dimensi integral dari proses demokrasi. kontestasi dalam demokrasi berarti kompetisi antar individu maupun antar kelompok. Dalam proses pemilihan demokrasi ditandai dengan hadirnya pertarungan untuk menduduki jabatan atau disebut kompetisi.
Sedangkan partisipasi dapat berupa pelibatan masyarakat dalam pengambilan keputusan, serta dalam proses pemungutan suara. Rakyat sebagai warga negara juga memiliki hak untuk terlibat dalam mengontrol kebijakan sebagaimana yang dijelaskan di awal tentang demokrasi yang berarti untuk rakyat.
Peran aktor dalam kontestasi politik juga memberikan pengaruh untuk menduduki sebuah jabatan. Baik aktor formal maupun informal. Aktor formal dapat berupa kepala daerah atau pemerintahan setempat yang sedang
2 Shofwan Rozi and Heriwanto Heriwanto, ‘Demokrasi Barat: Problem Dan Implementasi Di Dunia’, Jurnal Al-Aqidah, 11.2 (2019), 189–207
<https://doi.org/10.15548/ja.v11i2.1422>.
menduduki jabatan. aktor informal yakni orang orang yang memegang modal sosial, modal budaya, serta modal ekonomi dalam sebuah wilayah. Untuk mendapatkan kursi dalam sebuah pemerintahan aktor-aktor seringkali di dekati saat momentum-momentum pemilihan untuk memenangkan calon tertentu. Barter politik juga sering terjadi untuk memenangkan calon tertentu.
Dalam demokrasi model barat yang dijiwai oleh paham liberal, baik individualis liberal maupun pluralis liberal, setiap individu akan bebas memilih atau memberikan suara dan bebas untuk mewakili atau diwakili dalam kondisi yang bebas dari tekanan manapun. Warga negara mempunyai hak, status, dan kewajiban dalam mengatur kehidupannya sendiri dan ikut serta dalam urusan negara. Seperti yang telah dijelaskan di awal, interaksi dalam masyarakat merupakan hal yang mendasar. Manusia tidak bisa hidup sendiri.
Negara-negara demokrasi liberal mengalami krisis kepercayaan di kalangan masyarakat, yang diwujudkan dalam tingginya ketidakhadiran pemilih, sikap apatis pemerintah, rendahnya partisipasi politik dan keanggotaan partai. Hal ini mencakup, pemilih mempunyai kontrol yang lebih kecil terhadap siapa yang mereka pilih; sistem pemilu memungkinkan keinginan masyarakat untuk berpindah partai namun tidak kehilangan keinginan mereka otoritas; dan kegagalan dalam menghilangkan kesenjangan sosial dalam masyarakat.
Nilai-nilai universal dari demokrasi, dalam prakteknya, akan selalu
berbenturan dengan nilai-nilai lokal. Namun kompetisi pemilihan multipartai yang mencirikan ‘demokrasi’ di belahan barat tidak memungkinkan warga negara untuk mengejar nilai-nilai bersama mereka dengan lebih efektif. Yang dikedepankan hanyalah tawaran seorang politisi kepada individu, bukan untuk perbaikan komunitasnya. Individu-individu yang saling bertukar kepentingan atau kerap disebut barter kekuasaan dapat menjadi penghambat dalam proses demokratisasi. Karena beberapa kepentingan kelompok tertentu akan mengesampingkan kepentingan publik.
Baik dalam wacana filosofis maupun dalam praktik demokrasi, Komuni tarian dipandang sebagai lawan dan kritik liberalisme. Jika seorang liberal percaya bahwa kebebasan adalah dasar dari demokrasi liberal, masyarakat komunitarian akan memprioritaskan kepentingan umum.. Dalam prakteknya kaum komunitarian mengedepankan kebaikan bersama. Sedangkan liberalisme lebih mengedepankan hak-hak individu. Dalam masyarakat komunitarian disebut “common good” terhadap masyarakat yang disebut Etzioni baik. “good society”.
Pada perkembangannya, liberalisme barat diremehkan oleh pemikir komunitarian karena asumsi validitas universal yang cacat, dengan alasan bahwa liberalisme mendevaluasi kepentingan masyarakat dan terlalu menekankan hak individu di masyarakat.3 Seperti yang dikatakan Ahmad Suhelmi, Kebutuhan hidup tidak dapat dipenuhi secara sempurna jika manusia
3 Abdul Gaffar Karim, Rezim local di Indonesia, Yayasan pustaka obor, 2018,h.55.
tidak saling membutuhkan.4
Untuk melihat bentuk negara yang paling sederhana kita dapat menjadikan kampus sebagai miniatur sebuah negara. Didalamnya terdapat berbagai macam individu. Organisasi-organisasi sebagai alternatif dalam pengembangan wawasan serta kepemimpinan tumbuh subur di dalamnya.
Mahasiswa bebas menentukan dirinya untuk berhimpun dan belajar sesuai dengan organisasi yang digemari. Termasuk juga sistem demokrasi dapat kita lacak dalam kehidupan kampus.
mahasiswa membentuk negara miniatur atau pemerintahan mahasiswa yang melakukan tugas dan fungsi seperti negara. Karena organisasi mahasiswa berfungsi sebagaimana pemerintahan pada umumnya, setiap tindakan mereka menjadi kegiatan politik. Menurut Sitepu (2012, halaman 10)
Organisasi kemahasiswaan didirikan untuk memberi mahasiswa kesempatan untuk belajar, kepemimpinan, berpartisipasi dalam kegiatan pendidikan dan non-pendidikan. serta menggandeng tujuan membantu visi- misi suatu universitas.Untuk mendukung kegiatan organisasi kemahasiswaan dan mencapai visi dan misi perguruan tinggi, kampus menyediakan sarana dan prasarana. Di sisi lain organisasi juga berperan penting dalam mengembangkan nalar kritis serta kepekaan sosial yang baik dalam lingkungan masyarakat. Belajar kepemimpinan dapat berfungsi sebagai bekal
4Ahmad Suhelmi, Pemikiran Politik Barat (Jakarta Gramedia Pustaka Utama, 2007), h.45.
dalam menjalani kehidupan.
Pendidikan non formal dapat berupa organisasi intra maupun ekstra kampus, mahasiswa yang tergabung dan aktif dalam organisasi tersebut dibekali keterampilan-keterampilan serta pengetahuan tentang keorganisasian dan kepemimpinan. Pernyataan Tuhan tentang mengapa Tuhan membuat manusia menjadi pemimpin dalam QS. An-Nisa Ayat 30.
اهَيٰٓا
يٰٓنَيٰٓذِلَّا اوْٓنُمَا
اوْٓعُيْطِا هَلّٰلَّا
اوْٓعُيْطِاوَ
لَوْٓسُرَّلَّا ىلَّوَاوَ
رَّمَلْاَا مْۚكُنُمَ
مْۚ
مْۚ
مْۚ
مْۚ
مْۚ
مْۚ
مْۚ
مْۚ
مْۚ
مْۚ
مْۚ
مْۚ
مْۚمْۚ
نْافَ
مْۚتُعْزَانُتَ
يْفَ
(ءٍيْشَ
هُوَدُّرَّفَ
ىلَّا هَلّٰلَّا لَوْٓسُرَّلَّاوَ
نْا مْۚتُنُكُ
نْوْٓنُمَؤْتَ
هَلّٰلَّابِ
مِوْٓيْلَّاوَ
رَّخِلْاَا رِۗ كَلَّذٰ
رٌ يْ خَ
نَسَحْاوَ
6لًايٰٓوَأْتَ
٥٩
Artinya:
"Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nabi Muhammad) serta ulil amri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (sunnahnya) jika kamu beriman kepada Allah dan hari Akhir. Yang demikian itu lebih baik (bagimu) dan lebih bagus akibatnya (di dunia dan di akhirat). Serta ditegaskan tentang menjalankan sebuah pemerintahan pula yang tertera dalam Al Qurán Ali Imraan: 159
امَبِ
ةٍ خَ يْ خَ
خَ هَلّٰلَّا تَنُلَّ
مْۚهَلَّ
وْٓلَّوَ
تَنُكُ
ا=ظًّفَ
ظَيْلّٰغَ
بِلّٰقَلَّا اوْٓضُّفَنْلْاَ
يْ كَلَّوْٓحْ
فُعْافَ
مْۚهَنُعْ
رَّفَغْتُسُاوَ
مْۚهَلَّ
مْۚهُرْوَاشَوَ
يْفَ
رَّمَلأا اذٰإِفَ
تَمَزَعْ
لْكُوْٓتُفَ
ىلّٰعْ
هَلّٰلَّا نْإِ
هَلّٰلَّا بِحِيٰٓ
نَيْلّٰPكُوْٓتُمَلَّا )
( ١٥٩
Artinya:
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah.
Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada- Nya.” (QS Ali Imran : 159).
Memiliki pemahaman yang luas tentang apa yang telah, ada, dan akan terjadi adalah tujuan dari pendidikan ini untuk mewujudkan manusia yang yang berguna untuk lingkungan kehidupan sekitarnya. mahasiswa memainkan peran penting dalam membantu pemerintah menerapkan pendidikan politik untuk warga negara, dan juga berperan sebagai social of control. Kontrol terhadap sistem yang sedang berjalan serta memberikan aspirasinya dalam model-model tertentu. Serta menjadi pemimpin di masa yang akan datang.
Penulis melihat dalam beberapa peristiwa menjadi pemimpin atau ketua umum organisasi juga memiliki daya tarik tersendiri sehingga beberapa mahasiswa berlomba-lomba untuk meraihnya. hal yang demikian bisa kita lihat dalam momentum pemilihan ketua-ketua himpunan mahasiswa jurusan yang terdapat beberapa rangkaian untuk menuju pesta demokrasi kampus.
Mulai dari pengambilan formulir ketua umum, pengembalian formulir,
pemaparan visi-misi dan dialog antar calon ketua umum. Kompetisi cukup terlihat jelas di dalamnya. Masing-masing calon melakukan kampanye untuk menarik massa sebanyak-banyaknya.
Hadirnya kepentingan kelompok juga merupakan salah satu faktor kuat yang melakukan intervensi terhadap calon ketua umum untuk maju dalam kontestasi politik. fenomena tersebut dalam proses pemilihan merupakan sebuah fenomena yang lumrah. hampir setiap momen pemilihan mahasiswa organisasi mahasiswa ekstra kampus ikut serta berkompetisi. Karena dengan menempatkan kader-kadernya pada organisasi intra kampus menunjukkan eksistensi sekaligus kualitas kadernya. Hal inilah yang menyebabkan setiap organisasi mahasiswa ekstra kampus berlomba-lomba memperebutkan posisi ketua HMJ.5
Tentunya dalam negara demokrasi hal yang tergambar pada paragraf di atas merupakan sebuah fenomena yang lumrah. Partai-partai pengusung kandidat juga turut mengambil bagian dalam demokrasi. dalam sistem pemilihan tetap menggunakan sistem pemilihan umum sebagaimana dalam negara demokrasi. kecurangan-kecurangan dalam proses pemilu juga sering hadir seperti halnya money politic. pemilihan umum bebas, pengakuan atas hak kebebasan berbicara, dan hak atas persamaan perlakuan, merupakan sifat universalitas dalam negara demokrasi.
Bertalian dengan paragraf diatas. Penulis mengamati Unit Kegiatan
5 Poliana da Silva Finamore and others, Journal of Chemical Information and Modeling, 53.February (2021), 2021.
Mahasiswa Seni Budaya eSA (UKM SB eSA). Beberapa hal dijumpai penulis dalam pengamatannya yakni mengambil jabatan sebagai ketua umum merupakan sebuah hal yang ditakuti oleh seluruh anggota. Umumnya kompetisi merupakan hal yang fundamental dalam demokrasi. seperti halnya pada lembaga-lembaga lain menjadi pemimpin/ketua selalu menjadi perebutan dalam proses pemilihan. namun yang terjadi pada UKM SB eSA adalah kebalikan dari demokrasi pada umumnya.
hal unik yang dilihat oleh penulis mengamati forum Musyawarah Anggota (MUSYANG). Diantaranya yakni kurangnya orang yang menginginkan jabatan sebagai karaeng lompo. hal tersebut dapat ditandai dengan melihat beberapa fenomena yang terjadi. Saat memasuki forum pemilihan ketua umum beberapa pengurus akan meninggalkan lokasi pemilihan, karena merasa dirinya berpotensi akan ditunjuk oleh forum untuk mengambil jabatan tersebut. Pengurus memiliki potensi yang besar untuk mengambil jabatan tersebut, karena ia sudah memiliki pengalaman sebelumnya untuk menjalankan sebuah lembaga.
Forum MUSYANG berlangsung selama beberapa hari, didalamnya terdapat beberapa agenda kegiatan. Yakni sidang pleno ke-1 sampai dengan sidang pleno ke-4. Forum Ini adalah rapat tertinggi di organisasi serta diselenggarakan satu kali dalam satu periode kepengurusan. Penyelenggara forum tersebut yakni badan pengurus harian yang kemudian dibuatkan struktur kepanitian untuk mempermudah jalanya forum. Ketua panitia merupakan anggota biasa yang dipilih oleh pengurus untuk menjalankan
sebuah tanggung jawab, atas kesepakatan kedua belah pihak, antara pengurus dan orang yang bersangkutan.
Karaeng lompo merupakan julukan bagi ketua umum di UKM SB eSA.
dipilih dalam forum MUSYANG. Sistem yang digunakan dalam pemilihannya yakni voting. Sebelum terpilihnya menjadi ketua umum ada beberapa fase yang dilaksanakan dalam proses pemilihan. harus memenuhi kriteria calon ketua umum, mekanisme pemilihan formatur ketua umum yang dibahas dalam pleno ke-3. Sedangkan pemilihan formatur ketua umum berlangsung dalam pleno ke-4.
Bertalian dengan penjelasan diatas penulis melihat dua peristiwa yang berbeda yakni dalam bentuk yang pertama menjadi ketua umum Sangat diinginkan oleh banyak orang. Kompetisi merupakan salah satu ikon dalam model demokrasi. Ego yang berlebih dalam kompetisi dapat menjadi bumerang terhadap sistem demokrasi. Model dalam pemilihan Karaeng Lompo di UKM SB eSA yakni kurangnya orang-orang yang menginginkan untuk mengambil jabatan tersebut. Kompetisi tidak hadir dalam pemilihan tersebut. Di sisi yang lain orang yang terpilih menjadi karaeng lompo tidak memiliki persiapan yang cukup kuat.
Berdasarkan penjelasan di atas maka penulis berusaha menguraikan tentang fenomena yang terjadi ke dalam sebuah rumusan masalah. Fenomena memperlihatkan dua perbedaan tajam dalam proses pemilu. Masing-masing keduanya menggunakan sistem voting sebagaimana tercermin dalam
demokrasi. Namun perbedaan yang signifikan hadir pada orang-orang yang akan mengambil jabatan tersebut. Penelitian ini akan berusaha menjawab fenomena yang melatari orang-orang di UKM SB eSA enggan untuk mengambil sebuah jabatan strategis, ketua umum. Penulis akan berfokus untuk meneliti tentang demokrasi komunitarian yang nantinya akan diejawantahkan dalam rumusan masalah.
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang masalah yang telah dijabarkan sebelumnya, maka penulis menyimpulkan pokok permasalahan dalam penelitian “Demokrasi Komunitarian; Studi Pemilihan Karaeng Lompo Dalam Unit Kegiatan Kemahasiswaan Seni Budaya eSA” dengan beberapa Masalah :
1. Bagaimana Demokrasi Komunitarian dalam pelaksanaan pemilihan Ketua di UKM SB eSA?
2. Bagaimana dampak dari penerapan demokrasi komunitarian bagi ekosistem di UKM SB eSA?
C. Fokus Penelitian dan Deskripsi Fokus
1. Fokus penelitian
Mengingat latar belakang yang dijelaskan di atas, studi ini berfokus pada pemilihan karaeng lompo. di Unit Kegiatan Kemahasiswaan Seni Budaya eSA serta ekosistem dari penerapan demokrasi komunitarian.
2. Deskripsi Fokus
Karaeng lompo merupakan julukan bagi ketua umum di UKM SB eSA.
Dipilih pada forum MUSYANG. Mekanisme pemilihan yang digunakan adalah voting. serta dilantik oleh rektor. Dalam menjalankan tanggung jawabnya, ia bertanggung jawab untuk mengarahkan seluruh pengurus untuk dapat menjalankan segala program kerja yang telah disepakati pada forum rapat kerja (RAKER).
a. UKM SB eSA merupakan lembaga yang bergerak dalam ranah kesenian dan kebudayaan. Berdiri pada tahun 1993. Didirikan oleh beberapa mahasiswa yang rasah akan kondisi kampus, karena belum ada wadah yang menampung serta menyalurkan aspirasi kesenian. Pada awal berdirinya sebutan yang digunakan untuk menandai sebuah angkatan adalah POK (pekan orientasi kesenian). Setelah beberapa tahun POK berganti nama menjadi EKSIBANAT (seleksi bakat dan minat).
Beberapa kegiatan yang telah dilaksanakan salah satunya adalah “Nun”
serta agenda tahunan yang digelar pada bulan puasa adalah Tadarus Sastra dengan mengangkat tema yang berbeda-beda setiap tahunnya.
b. Demokrasi komunitarian merupakan alat yang digunakan peneliti untuk membedah fenomena tersebut. Dalam penerapannya kepentingan kelompok merupakan hal yang fundamental, serta penyelesaian masalah dengan cara musyawarah merupakan salah satu hal yang dapat ditandai dalam demokrasi komunitarian.
Bermusyawarah tergambar dalam forum MUSYANG serta kompetisi tidak tergambar di dalamnya. Dapat disimpulkan bahwa ambisi individu tidak muncul dalam pemilihan tersebut. Sebaliknya dalam
demokrasi liberal Ambisi individu dapat merusak sebuah ekosistem bernegara.
D.Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini, berdasarkan rumus masalah yang ditemukan, pada latar belakang adalah.
1. Menguji kebenaran suatu teori yakni dalam penelitian kali penulis mencoba untuk menguji sebuah sistem pemerintahan yakni demokrasi komunitarian yang notabenenya sebagai antitesis terhadap sistem pemerintahan demokrasi liberal.
2. Menggambarkan temuan Studi yang dilakukan oleh penulis dalam hal ini dilakukan oleh penulis dalam hal ini penulis mencoba melakukan penelitian terhadap lembaga internal kampus UIN Alauddin Makassar yakni UKM SB eSA tentang mekanisme pemilihan karaeng lompo serta ekosistem yang hidup didalamnya.
E. Manfaat Penelitian
Penulis menyimpulkan manfaat dari penelitian ini adalah berikut:
1. Secara akademis, penelitian ini diharapkan menjadi studi teoritis yang lebih mendalam yang dapat memberikan referensi ilmiah, terutama yang berkaitan dengan bagaimana pemerintah mengimplementasikan demokrasi.
2. Secara praktis, hasil penelitian diharapkan dapat membantu
pemahaman dengan benar demokrasi komunitarian dalam membangun
bangsa, negara dan agama.
F. Penelitian Terdahulu
Substansi pada penelitian ini, fokusnya adalah pada Demokrasi komunitarian. Berdasarkan penelitian yang berkaitan dengan subjek penelitian ini, penulis menemukan karya ilmiah siswa, tesis yang relevan dengan penelitian ini.
1. Skripsi Aspiyani (2021) melakukan penelitian terhadap Prinsip-Prinsip Demokrasi Pada Pemilihan Pengurus Himpunan Mahasiswa Jurusan Di Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung. Riset yang dilakukan oleh aspiyanti mencoba menggambarkan tentang kondisi demokrasi kampus yang kerap dipengaruhi oleh lembaga ekstra kampus yang memainkan peran tertentu untuk mengisi sebuah jabatan penting dalam struktural guna menyebarkan ideologi lembaga eksternal tersebut. Dalam penelitiannya, aspiyanti mencoba menyinggung tentang demokrasi kampus sama halnya dengan riset yang dilakukan oleh penulis tentang sistem demokrasi di dalam kampus namun hal yang menjadi pembeda dalam penelitian aspiyanti yakni dalam riset yang dilakukan oleh penulis, menemukan fakta yang sebaliknya yakni menduduki sebuah jabatan dalam struktural merupakan sesuatu hal yang sakral sehingga orang- orang enggan untuk mengambil jabatan tersebut.
2. Skripsi Innocentius Muda (2024) melakukan penelitian tentang Kegagalan Transformasi Demokrasi Dalam Pemilihan Desa. Dalam penelitiannya
penulis berusaha memperlihatkan tentang politik identitas dan kuatnya pengaruh aktor politik yang memegang kekuasan dalam menentukan pilihan politik. dalam proses pemilihan kepala desa dapat dikatakan masyarakat masih menemukan intervensi yang kuat dari tokoh masyarakat serta hubungan kekerabatan masih memegang peran fundamental dalam proses demokrasi. Dapat disimpulkan bahwa di desa muda tersebut demokrasi belum mencapai hasil yang diharapkan oleh peneliti. Penelitian yang dilakukan di desa muda memiliki kemiripan dengan objek yang diteliti oleh penulis yakni di desa muda berusaha menggambarkan tentang proses demokrasi dalam pemilihan kepala desa sesuai dengan judul skripsi yang diangkat oleh penulis yakni tentang pemilihan karaeng lompo. Adapun perbedaan yang menonjol dalam penelitian ini yakni proses demokrasi yang masih belum berjalan sebagaimana demokrasi yang diharapkan, masih kuatnya hubungan kekerabatan serta politik identitas yang menjadi penghambat dalam proses demokratisasi.
3. Skripsi Tuniang Parantika (2023), penguatan partisipasi politik masyarakat desa dalam Demokrasi Komunitarian. Dalam penelitiannya Tuniang Parantika berusaha menjelaskan tentang konsep demokrasi komunitarian yakni gotong royong, pengambilan keputusan bersama/musyawarah, serta demokrasi ekonomi. Hasil penelitiannya memperlihatkan rendahnya kontrol rakyat terhadap pemerintah yang sedang mengemban sebuah jabatan serta absennya masyarakat terhadap
kegiatan-kegiatan yang sifatnya partisipasi politik. kesamaan skripsi Tuniang Parantika dengan penelitian penulis, yaitu tentang hadirnya demokrasi komunitarian di tengah-tengah masyarakat yang dapat berupa gotong royong serta penyelesaian sebuah persoalan dengan cara musyawarah untuk mencapai mufakat. Sedangkan perbedaannya yakni penelitian yang dilakukan oleh Arantika lebih berfokus kepada gotong royong yang dilakukan oleh masyarakat dalam membangun desa sedangkan penelitian yang dilakukan oleh penulis sendiri lebih mengarah pada pemilihan pemimpin.
4. Jurnal Peter Tan, Populisme, Pilkada dan Masa Depan Demokrasi (2020) dalam penelitianya Peter Tan menggambarkan tentang populisme dalam negara demokrasi. Populisme dapat bermakna ganda dalam artian dapat menjadi sebuah alat kritik terhadap sebuah sistem demokrasi dan juga dapat menjadi sebuah kendaraan terhadap aktor politik untuk menaiki panggung dalam oligarki. Persamaan jurnal tersebut bersama dengan objek kajian yang dilakukan oleh penulis adalah dalam kontestasi demokrasi ada banyak tantangan dalam sebuah pemilihan umum sedangkan perbedaan jurnal di atas dengan Studi yang dilakukan penulis adalah yakni tentang konsep populisme yang tumbuh subur dalam sistem demokrasi di Indonesia, dimana kepentingan atau ambisi pribadi menjadi dominasi yang mengikutinya.
5. Jurnal Muhammad Zundy Alwan, Penerapan demokrasi Pancasila dalam proses pemilihan ketua umum HIMNAS PPKn pada kongres dan rakernas
di Universitas Negeri Yogyakarta Tahun 2018. Dalam penelitianya Muhammad Zundy menggambarkan tentang demokrasi pancasila dalam kongres pemilihan yang sedikit tercederai akibat munculnya egosentrisme masing-masing kelompok yang mengakibatkan dipilihnya sistem voting untuk meredam konflik yang berkepanjangan. Kesamaan Studi yang dilakukan penulis adalah ditemukannya konsep demokrasi pada proses pemilihan ketua umum sebuah organisasi mahasiswa yang lebih mengedepankan konsep musyawarah dan mufakat. Perbedaan yakni dalam penelitian Muhammad Zundy dapat disimpulkan bahwa demokrasi liberal masih bercampur baur dalam sistem pemilihannya yang dimana ego untuk menduduki kekuasaan masih mendominasi.
BAB 2
TINJAUAN TEORITIS A. Landasan Teori
Dalam pembuatan karya tulis ilmiah, teori merupakan sebuah alat yang digunakan untuk membedah sebuah persoalan atau digunakan sebagai pisau analasis untuk melihat fenomena yang sedang terjadi dilapangan. Landasan teori merupakan sebuah variabel untuk terus mengontrol penelitian yang sedang dilakukan. Teori utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
1. Teori Organisasi
Untuk memulai diskusi tentang mahasiswa, kita akan memulai dengan organisasi terlebih dahulu. Menurut Soewarno Handajaningrat (1983:42) Organisasi dimaksudkan sebagai “sarana atau alat untuk mencapai tujuan.
Oleh karena itu dikatakan organisasi adalah wadah kegiatan dari pada orang- orang yang bekerja sama dal am mencapai tujuan”. Organisasi telah menetapkan struktur dan aturan kerja yang jelas, dan pemilihan pemimpin biasanya merupakan tandanya. Hadirnya pemimpin pada organisasi diharapkan dapat menjadi pengarah untuk mencapai tujuan organisasi.
Anggota serta pengurus merupakan elemen yang saling terkait untuk mencapai tujuan organisasi.
Hal tersebut dipertegas oleh Sondang P. Siagian (1985:55) yang mengatakan bahwa organisasi adalah setiap bentuk persekutuan antara dua orang atau lebih yang bekerja sama dengan secara formal terikat dalam rangka pencapaian tujuan yang telah ditentukan. Dalam suatu hubungan, ada superior dan subordinate. Sistem formal yang terdiri dari rangkaian tindakan yang dilakukan oleh sekelompok orang (dua atau lebih) secara teratur dan berulang untuk mencapai tujuan tertentu dikenal sebagai organisasi. Orang-orang yang tergabung dalam organisasi secara tidak langsung harus mengikuti aturan main dalam organisasi guna mencapai tujuannya. Tujuan individu untuk bergabung dalam organisasi tidak boleh mengesampingkan tujuan organisasi itu sendiri.
Menurut Joesoef (1978:23), organisasi kemahasiswaan merupakan wadah yang diharapkan mampu menampung seluruh kegiatan kemahasiswaan dan juga merupakan sarana untuk meningkatkan kemampuan berpikir atau bernalar secara teratur di luar perkuliahan formal, kemampuan berorganisasi, dan menumbuhkan kepemimpinan. Selanjutnya Joesoef (1978:25) menambahkan bahwa dibentuknya organisasi atau lembaga kemahasiswaan ini bertujuan untuk membantu mahasiswa mewujudkan kekuatan penalaran yang secara potensial dimilikinya, kelak apabila mahasiswa menerjunkan dirinya ke masyarakat setelah ia menyelesaikan studinya di perguruan tinggi.
Sementara itu menurut Launa (2000:32), organisasi kemahasiswaan kampus merupakan suatu wadah atau organisasi yang bergerak di bidang
kemahasiswaan, yang di dalamnya dilengkapi dengan perangkat teknis yang jelas dan terencana seperti struktur, mekanisme, fungsi, prosedur, program kerja, dan elemen lainnya yang berfungsi mengarahkan seluruh potensi yang ada dalam organisasi tersebut pada tujuan atau cita-cita akhir yang ingin dicapainya.
Dari hasil penelusuran kumpulan teori, penulis kemukakan diawal, maka penulis menyimpulkan organisasi sebagai sarana/wadah yang menjembatani individu untuk melakukan kerjasama dalam mencapai sebuah tujuan. organisasi kemahasiswaan merupakan sarana alternatif dalam pengembangan skil yang tidak didapatkan dalam bangku kuliah. Individu- individu yang berkumpul untuk untuk bekerjasama dalam sebuah tujuan bersama. tujuan individu untuk bergabung dalam sebuah organisasi tidak boleh mengesampingkan tujuan organisasi itu sendiri. Orang-orang yang telah tergabung dalam sebuah organisasi harus mengikuti aturan main organisasi tersebut guna mencapai sebuah tujuan organisasi. Serta beberapa langkah- langkah akan dilakukan oleh pengurus untuk mencapai tujuan organisasi seperti halnya pengkaderan yang merupakan salah satu syarat dalam organisasi karena regenerasi merupakan hal yang penting untuk menyambung nyawa organisasi.
2. Teori Demokrasi
Demokrasi dihidupkan kembali di negara bagian antara abad ke-4 dan ke-6 SM. Ini berasal dari konsep Yunani kuno tentang hubungan antara negara dan hukum. Pada saat itu, demokrasi diterapkan secara langsung. (direct
democracy) berarti bahwa rakyat secara langsung menentukan pilihan mereka sendiri atas setiap keputusan yang berkaitan dengan kepentingan publik melalui proses mayoritas. Negara demokrasi menekankan pelibatan masyarakat dalam setiap elemen-elemen politik. hasil dari kebijakan yang disepakati akan kembali kepada masyarakat itu sendiri.
demokrasi mengalami dua kali bentuk transformasi demokrasi yakni transformasi demokrasi negara kota di Yunani dan Romawi kuno pada abad ke 5 sebelum Masehi serta beberapa negara kota di Italia pada masa abad pertengahan dan transformasi yang terjadi dari demokrasi negara kota menjadi demokrasi kawasan bangsa negara atau negara nasional yang luas.6
Meskipun demokrasi dianggap sebagai jenis pemerintahan, aplikasinya di era modern dimulai dengan revolusi masyarakat Barat pada akhir abad ke- 18.. Sebagai suatu bentuk pemerintahan, demokrasi telah didefinisikan berdasarkan sumber wewenang bagi pemerintah, tujuan yang dilayani oleh pemerintah dan prosedur untuk membentuk pemerintahan.7
Demokrasi mementingkan kehendak, pendapat serta pandangan Pola demokrasi rakyat dipilih dengan kesepakatan bersama. Sehingga demokrasi yang kuat adalah demokrasi yang bersumber dari hati nurani rakyat untuk mencapai keadilan dan kesejahteraan rakyat.8
Menurut Munir Fuady dalam Konsep Negara Demokrasi, sebenarnya
6Robert A. Dahl, 1998, On Democracy, USA, Yale University Press, hlm. 120.
7 Ellya Rosana, “NEGARA DEMOKRASI DAN HAK ASASI MANUSIA”, Jurnal TAPIs
8Zakaria Bangun, Demokrasi dan Kehidupan Demokrasi di Indonesia, (Medan:
Bina Media Perintis, 2008),hal. 2
yang dimaksud demokrasi adalah suatu sistem pemerintahan dalam suatu negara dimana warga negara secara memiliki hak, kewajiban, kedudukan, dan kekuasaan yang baik dalam menjalankan kehidupannya maupun dalam berpartisipasi terhadap kekuasaan negara, dimana rakyat berhak untuk ikut serta dalam menjalankan negara atau mengawasi jalannya kekuasaan baik secara langsung misalnya melalui ruang ruang publik (public sphere) maupun melalui wakil-wakilnya yang telah dipilih secara adil dan jujur dengan pemerintahan yang dijalankan semata-mata untuk kepentingan rakyat, sehingga sistem pemerintahan dalam negara tersebut berasal dari rakyat, dijalankan oleh rakyat, untuk kepentingan rakyat (from the people by the people to the people)9
Joseph A. Schmeter mengatakan demokrasi adalah sistem pengambilan keputusan politik di mana individu memiliki suara rakyat untuk memilih cara bersaing. Kita sebagai warga negara demokrasi merupakan cita-cita dari masyarakat dunia yang menginginkan pemerintahan itu dari rakyat, dan untuk rakyat, tetapi dalam perjalanan demokrasi tidak sesuai dengan harapan dan juga terjadinya pelanggaran-pelanggaran dalam prosesnya.10
Menurut Suhartono demokrasi merupakan syarat internal bagi kalangan masyarakat itu sendiri. Demokrasi hanya dapat diciptakan secara rasional dan benar jika rakyat memiliki kesadaran politik yang independen dan memiliki kemampuan untuk mewujudkan aspirasi mereka. Kondisi
9Munir Fuady, 2010, Konsep Negara Demokrasi, Bandung, PT. Refika Aditama, hal. 2
10INNOCENTIUS MUDA, Kegagalan transformasi demokrasi dalam pemilihan kepala desa, skripsi, 2024, h.12.
eksternal dimaksud Suhartono adalah keadaan yang memberikan keamanan penuh kepada rakyat sehingga mereka merasakan hak-hak dasar mereka diakui dan ada badan formal yang dapat menyuarakan aspirasi mereka. Badan yang dimaksud tentu saja bukan badan yang berada di bawah kekuasaan melainkan badan yang independen dan benar-benar berdiri di atas prinsip kedaulatan. (Suhartono, 2010, hal.23).
Pada demokrasi tradisi Schumpeterian, terdapat prosedur yang harus dilalui untuk mengkategorikan suatu rezim sebagai demokratis atau tidak. Jika prosedur itu terpenuhi, rejim dapat dianggap sebagai demokratis. Ukuran itu antara lain: partisipasi dan kompetisi politik, kompetensi masyarakat, ketersediaan saluran korporasi, tindakan ad hoc dan densitas asosiasional.
Berdasarkan kumpulan teori diatas, penulis dapat menyimpulkan bahwa demokrasi merupakan sebuah kendaraan untuk mencapai sebuah tujuan. Rakyat merupakan hal yang fundamental dalam demokrasi. untuk melayani kepentingan-kepentingannya maka lahirlah demokrasi. serta dalam melakukan kontrol atas kesepakatan yang telah dicapai rakyat masih memiliki ruang. Demokrasi juga kerap disandarkan pada beberapa ideologi sebuah bangsa. Seperti halnya Indonesia yang berideologikan Pancasila, Indonesia menerapkan sistem demokrasi Pancasila.
3. Demokrasi Liberal
Nilai-nilai liberal tumbuh di negara-negara Barat, terutama di Amerika Serikat. Ideologi ini berkembang dengan sangat cepat karena mengikuti perkembangan modernitas dan pasar bebas. Perspektif liberalisme
menekankan kebebasan individu, sehingga kesejahteraan bukan tanggung jawab negara.
Menurut matroji (2002:67), demokrasi liberal adalah demokrasi yang menempatkan kalangan sipil sebagai pelaksanaan kedaulatan rakyat. Hal tersebut dapat tergambar dalam negara-negara yang mengedepankan partisipasi masyarakat.
Robert A. Dahl merumuskan suatu tatanan politik yang disebutnya polyarchy untuk mengistilahkan demokrasiMenurut Dahl, sebuah karakteristik dari demokrasi adalah sikap pemerintah untuk terus menanggapi preferensi atau keinginan warga negara. Untuk membentuk polyarchy itu membutuhkan tiga pilar yaitu:
a. kompetisi yang sungguh-sungguh dan meluas di antara individu dan kelompok-kelompok organisasi (terutama partai politik) untuk memperebutkan jabatan-jabatan pemerintahan yang efektif, tanpa menggunakan kekerasan.
b. Partisipasi politik melibatkan warga negara sebanyak mungkin dalam pemilihan pemimpin atau kebijakan, paling tidak melalui pemilihan umum yang diselenggarakan secara reguler dan adil sehingga tidak ada kelompok sosial (warga negara) dewasa yang dikecualikan.
c. Kebebasan sipil dan politik, termasuk kebebasan untuk berbicara, menerbitkan, berkumpul, dan berorganisasi, adalah yang diperlukan untuk melakukan perdebatan politik dan melakukan kampanye pemilihan, dan juga cukup untuk menjamin integritas kemampuan dan
keterlibatan politik.
Selanjutnya, Sejumlah syarat diperlukan untuk menentukan apakah sistem pemerintahan adalah sistem demokratis, yaitu:
a. Akuntabilitas, Dalam demokrasi, setiap kandidat yang dipilih oleh rakyat harus memiliki kemampuan untuk bertanggung jawab atas keputusan yang mereka ambil.. Dengan akuntabilitas ini track record seorang pemimpin dapat dilacak oleh publik.
b. kekuasaan. Dalam demokrasi, rotasi kekuasaan harus terjadi dan harus dilakukan secara teratur dan damai. Oleh karena itu, tidak hanya satu orang yang memegang jabatan, tetapi peluang lain ditutup sepenuhnya..
c. Rekruitmen politik yang terbuka Penerimaan tenaga kerja politik yang terbuka Ini menunjukkan bahwa setiap kandidat yang memenuhi syarat untuk posisi politik yang dipilih oleh rakyat memiliki kesempatan yang sama untuk bersaing untuk posisi tersebut.
d. Pemilihan umum. Dalam negara demokratis, setiap warga negara dewasa memiliki hak untuk dipilih dan memilih, dan mereka bebas untuk melakukan hak tersebut tanpa takut atau dipaksa oleh orang lain.
e. hak-hak fundamental. Setiap warga negara di negara demokrasi berhak atas hak-hak dasar seperti kebebasan pers, kebebasan untuk berbicara, berorganisasi, dan mengungkapkan pendapat mereka..
demokrasi liberal merupakan sebuah ideologi besar dunia. Pada sistem ini mencoba menekan tentang keberpihakan terhadap individu. Ia juga turut
serta membonceng ekonomi liberal yang secara sederhana dapat diartikan bahwa negara tidak perlu hadir dalam pasar. Hadirnya sebuah sistem demokrasi sangat berpengaruh besar terhadap kemajuan peradaban namun disisi lain memiliki sebuah efek samping memudarnya pengetahuan tentang lokal dalam masyarakat. keunggulan dalam demokrasi ini adalah individu memiliki hak-hak tertentu seperti halnya dalam proses pemilu yang dikenal dengan sebutan satu orang satu suara.
berdasarkan kumpulan teori diatas, penulis dapat menyimpulkan bahwa demokrasi liberal merupakan sistem pemerintahan yang mengedepankan individualisme yang dimana hak-hak individu diatur dalam konstitusi negara.
Serta mengutamakan partisipasi aktif dan kedaulatan rakyat, dengan menempatkan sipil sebagai pelaksana kedaulatan pemerintah dan rakyat.
d. Demokrasi Komunitarian
Masa kejayaan Uni Soviet yang disertai dengan perang dingin antara Soviet dan Amerika beberapa tahun lampau, semakin mengerucutkan tatanan dunia ke dalam dua pilihan yaitu komunal dan liberal, antara negara dan individualis pasar. Namun pasca runtuhnya Soviet, komunal sudah tidak relevan lagi disejajarkan sebagai tandingan liberal. semakin menguatnya posisi individualis pasar yang membutuhkan imposisi nilai-nilai dan sistem pada individu, hal ini akan mengarah pada otoritarian.
Tidak memadainya jawaban yang diberikan negara dan individualis pasar untuk memecahkan persoalan masyarakat memunculkan gagasan komunitarian dengan nilai-nilai yang ditawarkan. Menurut Henry Benedict
Tam ada tiga prinsip komunitarian yaitu Co-operative Inquiry, tanggung jawab bersama, dan partisipasi warga negara. Sedangkan menurut Robert N. Bellah, ada empat nilai yang ditawarkan komunitarianisme demokratik yaitu :
a. Didasarkan pada nilai kesucian individu, segala sesuatu yang menekan individu akan berlawanan dengan prinsip komunitarian demokratik.
Individu yang kuat, sehat, penuh semangat hanya dapat terealisasi melalui komunitas -komunitas yang kuat, sehat dan penuh semangat.
b. Solidaritas, yang menunjukkan bahwa kita menjadi diri sendiri melalui persahabatan, kesetiaan, dan komitmen bersama yang memberikan definisi keistimewaan kehidupan manusia secara penuh.
c. Sebagai asosiasi komplementer, yang menunjukkan bahwa komunitarian bukanlah skala yang kecil, dan merasuk pada berbagai segi kehidupan masyarakat dimana komunitarian memandang dirinya sebagai pelengkap.
d. Partisipasi, baik sebagai hak maupun kewajiban. Komunitas akan menjadi potensi yang bagus hanya jika mereka memberikan kesempatan dan partisipasi kepada masyarakatnya.
Menurut Benjamin Barber, demokrasi komunitarian mengandalkan partisipasi dalam menyusun pemecahan masalah di komunitas yang menimbulkan masalah publik yang tidak ada sebelumnya, dimana melalui jalan aktifitas dan eksistensinya sendiri dipakai sebagai titik tolak dalam menemukan solusi bersama (Barber, 1984, h. 150-2).
Demokrasi komunitarian desa pada prinsipnya bertumpu pada tiga
substansi: demokrasi politik (pengambilan keputusan bersama melalui musyawarah dalam rembug desa), demokrasi sosial (solidaritas bersama melalui gotong-royong) dan demokrasi ekonomi (kepemilikan tanah secara komunal) (Eko, 2014). Begitupun dalam desa Indonesia yang asli menurut Mohammad Hatta dalam bukunya ‘Demokrasi Kita’ yang secara garis besar menerangkan demokrasi yang terjadi di Indonesia adalah demokrasi desa.11
Perdebatan dengan argumen yang ilmiah antara kubu komunitarianisme dengan liberalisme dimulai pada awal tahun 1980-an, yang mengacu pada kritik Michael Sandel terhadap karya John Rawls yang masyhur , yaitu A Theory of Justice. Perdebatan keduanya mewakili benturan pemikiran antara kubu Aristotelian-Hegelian dengan kubu Kantian, terutama mengenai moralitas dan nilai-nilai komunitas. Dimana kubu yang pertama menegaskan bahwa "Hidup yang baik sebagai hidup yang bergerak dalam tatanan nilai masyarakat" sedangkan kubu kedua berpendapat bahwa Masyarakat ditata secara netral dan adil, tanpa memperhatikan keyakinan dan tradisi kelompok tertentu.
Tesis dasar dari komunitarianisme adalah Pertanyaan tentang tatanan masyarakat yang adil hanya dapat dijawab dengan mempertimbangkan nilai- nilai umum. Sedangkan tesis dasar dari Dalam konteks kontemporer, yang ditandai oleh pluralisme nilai, liberalisme adalah prinsip tunggal yang dapat digunakan sebagai standar etika: konsep hak-hak, kebebasan, dan kesempatan yang sama.
11Tuniang Farantika, Penguatan Partisipasi Politik Desa Dalam Demokrasi Komunitarian, skripsi, 2023, h.13.
Konsep demokrasi komunitarian tidak bisa lepas dari munculnya gerakan komunitarian yang muncul akibat dari kecurigaan soal pendekatan otoritarian yang dilakukan oleh pemerintah,dirangkaikan serta hadirnya rasa kecewa terhadap individualisme yang di payungi pemikiran yang sedikit kebarat-baratan, pasar bebas. Fokus utama gerakan ini adalah untuk membangun komunitas inklusif yang bersama-sama mendukung dalam konteks komunitas global yang membentang. Semua gerakan masyarakat komunitarian bertujuan untuk mengubah aspek sosial dan politik kehidupan orang sehingga setiap orang dapat berpartisipasi secara bertanggung jawab sebagai warga negara yang sama dalam membuat keputusan yang berdampak pada mereka..
Demokrasi komunitarian mempertanyakan struktur kekuasaan yang meniadakan peranan riil warga dalam membentuk komunitas mereka. Ini berlaku bukan saja pada demokrasi permukaan yang disukai oleh penyokong individualis pasar bebas, namun juga pada setiap varian anti demokrasi yang disokong oleh otoritarian, keduanya dianggap telah cukup lama mendominasi pemikiran politik dengan memberikan dikotomi yang keliru.
Komunitarian menunjuk kebutuhan akan agenda baru bagi politik dan kewarganegaraan, mereka menetapkan cara-cara dimana bentuk komunitas yang jauh lebih inklusif hendaknya dikembangkan, secara sosial dan secara politik untuk mengatasi efek korosif individualisme dan melindungi semua warga dari ancaman otoritarian.
Berdasarkan kumpulan teori diatas, penulis menyimpulkan bahwa
demokrasi komunitarian memberikan pandangan tentang individu yang sehat dapat dibangun dari komunitas yang sehat. Sebaliknya dalam demokrasi liberal mencoba memberikan pandangan bahwa individu yang sehat terlepas dari komunitasnya. Dalam prakteknya demokrasi komunitarian dapat tercermin dalam masyarakat desa yakni rembug desa dan juga dapat tercermin dalam pengambilan sebuah keputusan secara bersama. Kehendak individu untuk mendominasi berusaha ditekan dalam demokrasi komunitarian. Fenomena yang terjadi di UKM SB eSA dalam proses pemilihan karaeng lompo dapat kita lacak menggunakan pendekatan teori demokrasi komunitarian. Dalam pelaksanaan pemilihan karaeng lompo tidak ditemukan kompetisi untuk meraih sebuah jabatan seperti halnya yang terjadi dalam demokrasi pada umumnya. Yang terjadi adalah sebaliknya orang-orang cenderung menolak untuk mengambil jabatan tersebut. Penolakan yang dilakukan anggota untuk mengambil jabatan tersebut dapat disimpulkan sebagai sebuah fenomena menurunya ego individu sebagaimana yang ditekankan dalam demokrasi komunitarian yang utama adalah perbaikan komunitas.
B. Kerangka Konseptual
Demokrasi Komunitarian
Organisasi Musyawarah Mufakat
Adapun maksud peneliti adalah membahas dengan detail tentang fenomena yang sedang terjadi di UKM SB eSA dalam proses pemilihan karaeng lompo dengan menggunakan pisau analisis demokrasi. Peneliti menganggap terdapat beberapa hal yang berbeda dalam demokrasi pada umumnya yakni absenya kontestasi dalam pemilihan karaeng lompo.
Pemilihan Karaeng Lompo di UKM SB eSA