BAB I
PENDAHULUAN 1.1 Latar belakang
Manusia merupakan Objek dari filsafat. Masyarakat yang merupakan Kumpulan sekian banyak manusia atau individu besar ataupun kecil yang diikat oleh adat istiadat, suku bahkan ras yang hidup secara berdampingan. Sudah menjadi hal yang tak bisa disangkal lagi bahwa manusia adalah mahluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri, mereka selalu membutuhkan bantuan dari orang lain baik itu berupa bantuan materi maupun bantuan yang berupa jasa.
Manusia berkelompok mulai dari yang terkecil sampai ke yang terbesar mulai dari satu kelompok, suku,pulau, bangsa, negara bahkan mendunia. Sebenanya dalam satu kelompok, masyarakat itu memiliki banyak kesamaan dan perbedaan, baik itu dalam hal kebiasaan,adat budaya dan sebagainya. Apalagi negara Indonesia yang kaya yang terdiri dari beribu-ribu pulau yang mempunyai keanekaragaman budaya yang berkembang dan sangat dominan . Dimana kebudayaan- kebudayaan itu menjadikan negara Indonesia negara yang sangat kaya.
Bersamaan dengan berkembangan budaya yang ada didunia, bersama itu pula Ilmu pengetahuan mengalami pekembangan. Karena setiap perkembangan yang terjadi itu tidak lepas dari pemahaman manusia yang mengalami perkembangan dan perubahan menuju kebudayaan yang lebih baik lagi. Perkembangan Budaya yang sangat cepat ini akan mengundang orang-orang yang fanatik terhadap kebudayaan untuk menghentikannya.
Dengan kata lain, teknologi merupakan jembatan ampuh antara kebudayaan, suku, dan bangsa. Akan tetapi perdamaian antar bangsa (umat manusia) bisa saja dibahayakan oleh bangsa yang berlomba-lomba untuk mengadu kekuatan hasil dari tekhnologi modern yang dimiliki mereka, yang bisa mengundang perang dunia dahsyat dan meghancurkan peradaban yang telah dicapai
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa definisi ilmu dan kebudayaan ? 2. Apa definisi manusia dan kebudayaan
3. Apa hubungan masyarakat dan kebudayaan serta pengembangan kebudayaan?
4. Bagaimana pola-pola kebudayaan itu 1.3 Tujuan
1. Memahami definisi ilmu dan kebudayaan.
2. Mengetahui definisi manusia dan kebudayaan
3. Mengindentifikasi hubungan masyarakat dan kebudayaan serta pengembangan kebudayaan.
4. Mengetahui pola-pola kebudayaan.
BAB II
PEMBAHASAN 2.1 Definisi Ilmu dan Kebudayaan
Menurut kamus besar Bahasa Indonesia ilmu itu memiliki arti pengetahuan tentang suatu bidang yang disusun secara sistematis berdasarkan metode atau aturan tertentu, yang dapat digunakan untuk menjelaskan tentang gejala tertentu dalam bidang ilmu pengetahuan. Sedangkan Menurut Suria sumantri (2001:3). Ilmu itu merupakan salah satu hasil pemikirian manusia dalam menjawab sebuah pertanyaan. Sementara itu, Paul Freedman dalam The Principles of Scientific Research mendefinisikan ilmu sebagai suatu bentuk aktivitas manusia yang apabila melakukannya kita memperoleh suatu pengetahuan yang lebih lengkap dan cermat tentang alam semesta di masa yang lampau, masa sekarang dan masa yang akan datang, serta suatu kemampuan untuk beradaptasi dan mengubah lingkungan serta mengubah sifat-sifatnya sendiri.
Dari beberapa pengertian ilmu diatas maka dapat kita tarik kesimpulan bahwa ilmu adalah seperangkat pengetahuan yang merupakan hasil pemikiran manusia yang memiliki metode atau cara tertentu yang berguna untuk umat manusia agar manusia dapat bermanfaat bagi kehidupannya sendiri dan bagi kehidupan orang lain di masa sekarang dan dimasa yang akan datang. Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) yang dapat diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Di dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yang memiliki arti mengolah atau mengerjakan
Bisa juga diartikan sebagai usaha mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai "kultur" dalam bahasa Indonesia.Dibawah ini kami cantumkan beberapa pengertian budaya menurut para ilmuan antara lain :
1. Edward B. Taylor Kebudayaan merupakan satu keseluruhan yang kompleks, yang didalamnya terkandung ilmu pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan kemampuan-kemampuan lain yang didapat oleh seseorang sebagai anggota masyarakat.
2. . M. Jacobs dan B.J. Stern Kebudayaan itu mencakup kesatuan yang meliputi bentuk teknologi social, ideologi, religi, dan kesenian serta benda, yang kesemuanya merupakan warisan social.
3. Koentjaraningrat Kebudayaan adalah keseluruhan sistem ide /gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka memenuhi kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar.
4. Dr. K. Kupper Kebudayaan merupakan sistem gagasan yang menjadi pedoman dan pengarah bagi manusia dalam bersikap dan berperilaku, baik secara individu maupun kelompok.
5. William H. Haviland Kebudayaan adalah seperangkat peraturan dan norma yang dimiliki bersama oleh para anggota masyarakat, yang jika dilaksanakan oleh para anggotanya akan melahirkan perilaku yang dipandang layak dan dapat di tarima ole semua masyarakat.
6. Ki Hajar Dewantara Kebudayaan berarti buah budi manusia adalah hasil perjuangan manusia terhadap dua pengaruh kuat, yakni zaman dan alam yang merupakan bukti kejayaan hidup manusia untuk mengatasi berbagai rintangan dan kesukaran didalam hidup dan penghidupannya guna mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang pada lahirnya bersifat tertib dan damai.
7. Bounded etal Kebudayaan adalah sesuatu yang terbentuk oleh pengembangan dan transmisi dari kepercayaan manusia melalui simbol-simbol tertentu, misalnya simbol bahasa sebagai rangkaian simbol yang digunakan untuk mengalihkan keyakinan budaya di antara para anggota suatu masyarakat.
Dari berbagai definisi di atas, maka dapat kita tarik kesimpulan bahwa kebudayaan yaitu sistem pengetahuan yang meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat di dalam pikiran manusia, yang terdapat dalam kehidupan sehari-hari, yang bersifat abstrak atau nyata. Sedangkan perwujudan dari kebudayaanya adalah benda benda yang merupakan hasil karya yang dibuat oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya yang berupa perilaku dan benda-benda yang sifatnya nyata, misalnya pola pola perilaku atau tingkah laku, bahasa sehari-hari, peralatan yang digunakan dalam kehidupannya, organisasi social, religi, seni, adat istiadat dan lain-lain, yang kesemuanya itu memiliki tujuan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat
2.2 Definisi manusia dan kebudayaan A. Manusia dan Kebudayaan
a. Pengertian budaya
Definisi kebudayaan selalu mengalami perkembangan seiring bergulirnya waktu, namun definisi-definisi yang timbul tersebut secara keseluruhan dapat diambil garis merah bahwa tidak memiliki perbedaan signifikan yang bersifat prinsip jika harus berpatokkan pada definisi pertama yang berhasil dicetuskan oleh E. B. Taylor (1871), yakni sebagai suatu keseluruhan yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, seni, moral, hukum, adat serta kemampuan dan kebiasaan lainnya yang diperoleh manusia sebagai anggota masyarakat.
Kemudian Kuntjaraningrat (1974) secara lebih terperinci membagi kebudayaan menjadi unsur-
unsur yang terdiri sistem religi dan upacara keagamaan, sistem pengetahuan, bahasa, kesenian, sistem mata pencaharian serta sistem teknologi dan peralatan.
b. Pengertian manusia
1. Menurut Sokrates, Manusia adalah makhluk hidup berkaki dua yang tidak berbulu dengan kuku datar dan lebar.
2. Menurut Nicolaus dan Sudiarja, Manusia itu bhineka tetapi tunggal. Bhineka karena terdiri dari jasmani dan rohani akan tetapi satu karena jasmani dan rohani terdapat dalam satu jasad.
3. Menurut Omar Muhammad, Manusia adalah makhluk yang paling mulia karena dapat berpikir. Manusia itu memiliki 3 dimensi yaitu badan, akal dan ruh.
Unsur-unsur yang membangun manusia itu sendiri adalah:
ID : merupakan struktur kepribadian yang paling primitif dan paling tidak nampak. Id merupakan energi psikis yang menunjukkan ciri alami, secara instingual menentukan proses ketidaksadaran. Id terkait dengan struktur kepribadian yang pada gilirannya menjadi mediator antara insting dan dunia luar.
EGO : disebut sebagai kepribadian eksekutif karena perannya dalam menghubungkan energi id ke dalam saluran sosial yang dapat dimengerti oleh orang lain. Ego diatur oleh prinsip realitas. ego mengatur tingkah laku sehingga dorongan insting id dapat dipuaskan dengan cara yang diterima.
SUPEREGO : merupakan struktur kepribadian yanng paling akhir. di umur sekitar 5 taun.
superego terbentuk dari lingkungan external. berbeda dengan Id dan ego yang berkembang secara internal. Kode moral poritif disebut sebagai ego ideal, suatu perpaduan yang tepat bagi individu untuk dilakukan. Jadi, Superego menunjukkan pola aturan yang dalam derajat tertentu menghasilkan kontrol diri melalui sistem imbalan dan hukuman.
B. Manusia Sebagai Pencipta Dan Pengguna Kebudayaan
Budaya tercipta atau terwujud merupakan hasil dari interaksi antara manusia dengan segala isi yang ada di alam raya ini. Manusia di ciptakan oleh tuhan dengan dibekali oleh akal pikiran sehingga mampu untuk berkarya di muka bumi ini dan secara hakikatnya menjadi khalifah di muka bumi ini. Disamping itu manusia juga memiliki akal, intelegensia, intuisi, perasaan, emosi, kemauan, fantasi dan perilaku. Dengan semua kemampuan yang dimiliki oleh manusia maka manusia bisa menciptakan kebudayaan. Ada hubungan dialektika antara manusia dan kebudayaan. Kebudayaan adalah produk manusia, namun manusia itu sendiri adalah produk kebudayaan. Dengan kata lain, kebudayaan ada karena manusia yang menciptakannya dan manusia dapat hidup ditengah kebudayaan yang diciptakannya.
Kebudayaan mempunyai kegunaan yang sangat besar bagi manusia. Hasil karya manusia menimbulkan teknologi yang mempunyai kegunaan utama dalam melindungi manusia terhadap lingkungan alamnya. Sehingga kebudayaan memiliki peran sebagai:
1. Suatu hubungan pedoman antar manusia atau kelompoknya
2. Wadah untuk menyalurkan perasaan-perasaan dan kemampuan-kemampuan lain.
3. Sebagai pembimbing kehidupan dan penghidupan manusia 4. Pembeda manusia dan binatang
5. Sebagai modal dasar pembangunan C. Proses Dan Perkembangan Kebudayaan
Kebudayaan adalah hasil cipta, karsa dan rasa manusia oleh karenanya kebudayaan mengalami perubahan dan perkembangan sejalan dengan perkembangan manusia itu.
Perkembangan tersebut dimaksudkan untuk kepentingan manusia itu sendiri, karena kebudayaan diciptakan oleh dan untuk manusia. Kebudayaan yang dimiliki suatu kelompok sosial tidak akan terhindar dari pengaruh kebudayaan kelompok-kelompok lain dengan adanya kontak-kontak antar kelompok atau melaui proses difusi. Suatu kelompok sosial akan mengadopsi suatu kebudayaan tertentu bilamana kebudayaan tersebut berguna untuk mengatasi atau memenuhi tuntunan yang dihadapinya.
Pengadopsian suatu kebudayaan tidak terlepas dari pengaruh faktor-faktor lingkungan fisik.
Misalnya iklim topografi sumber daya alam dan sejenisnya. Dari waktu ke waktu, kebudayaan berkembang seiring dengan majunya teknologi (dalam hal ini adalah sistem telekomunikasi) yang sangat berperan dalam kehiduapan setiap manusia. Perkembangan zaman mendorong terjadinya perubahan-perubahan disegala bidang, termasuk dalam kebudayaan. Mau tidak mau kebudayaan yang dianut suatu kelompok sosial akan bergeser. Suatu kelompok dalam kelompok social bisa saja menginginkan adanya perubahan dalam kebudayaan yang mereka anut, dengan alasan sudah tidak sesuai lagi dengan zaman yang mereka hadapi saat ini. Namun, perubahan kebudayaan ini kadang kala disalah artikan menjadi suatu penyimpangan kebudayaan.
Hal yang terpenting dalam proses pengembangan kebudayaan adalah dengan adanya kontrol atau kendali terhadap prilaku reguler (yang tampak) yang ditampilkan oleh para penganut kebudayaan. Karena tidak jarang perilaku yang ditampilkan sengat bertolak belakang dengan budaya yang dianut didalam kelompok sosial yang ada di masyarakat. Sekali lagi yang diperlukan adalah kontrol / kendali sosial yang ada di masyarakat sehingga dapat memilah-
milah mana kebudayaan yang sesuai dan mana yang tidak sesuai.
2.3 Hubungan Antara Masyarakat dengan Kebudayaan
Terdapat hubungan timbal balik antara kebudayaan dengan masyarakat, sebagaimana ada hubungan antara kebudayaan, peradaban dan sejarah. Masyarakat itu menghasilkan kebudayaan, sedangkan kebudayaan itu menentukan corak masyarakat. Jadi antara manusia dan kebudayaan merupakan suatu kesatuan yang memiliki hubungan yang sangat erat. Tidak mungkin keduanya dipisahkan. Manusia dan budaya adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan antara satu sama lain. Ini karena budaya adalah hasil dari sebuah kehidupan manusia dimana budaya tadi dibuat bersama-sama dengan manusia yang lainnya. Hubungan budaya dan masyarakat sendiri adalah suatu sistem sosial keseluruhan, dimana para anggotanya memiliki tradisi budaya dan bahasa.
Menurut Geertz, 1957:33-34, budaya adalah pabrik pengertian, dengan apa manusia menafsirkan pengalaman dan menuntun tindakan mereka, sementara struktur sosial ialah bentuk yang diambil tindakan itu, jaringan-jaringan hubungan sosial. Budaya dan struktur sosial adalah abstraksi yang berlainan dari fenomena yang sama. Ada manusia (dalam arti luas, masyarakat), maka ada kebudayaan, tidak akan ada kebudayaan kalau tidak ada pendukungnya, yaitu manusia. Akan tetapi manusia itu hidupnya tidak berapa lama, karena semua pasti akan menemui ajal. Maka untuk melestarikan kebudayaan, pendukungnya harus berkesinambungan dari satu keturunan ke keturunan lainnya. Sebagai contoh, bahasa 'ngapak' yang merupakan hasil kebudayaan masyarakat di wilayah Kebumen, Banyumas, Tegal, Purbalingga dan sekitarnya, tentu akan menjadi ciri khas atau corak tersendiri bagi masyarakat yang menguasai bahasa 'ngapak'.
Dilanjutkannya kebudayaan oleh generasi penerus itu tidak hanya melalui garis tegak lurus ke bawah, tetapi juga melalui garis mendatar, yaitu kepada orang-orang lain di sekitarnya, karena manusia merupakan bagian dari "zoon politicon" yang berarti binatang yang berkelompok. Memang manusia tidak dapat hidup seorang diri, ia membentuk kelompok dengan orang-orang lain, yang sifatnya berbeda sekali dari gerombolan binatang, yaitu terletak pada akal, atau cara berfikir.
Pengelompokkan orang-orang yang sengaja dibentuk itu disertai aturan-aturan tertentu mengenai hubungan anggota satu dengan yang lain, misalnya pembagian kerja, aturan, tata tertib, dan sebagainya. Persekutuan terkecil antara laki-laki dan perempuan merupakan arti secara singkat dari sebuah keluarga yang kemudian membentuk persekutuan dalam skala yang lebih besar atau luas yang disebut masyarakat.
Cara-cara melestarikan kebudayaan yang sedemikian luasnya itu memungkinkan karena manusia diberikan karunia oleh Allah dalam hal kepandaian berbicara. Bahasa adalah alat perantara yang paling pokok bagi manusia. Dengan adanya bahasa, manusia tidak perlu mengalami sesuatu untuk dapat memahaminya. Cukuplah ia belajar mendengarkan kata-kata yang terbungkus dalam perkataan orang lain. Ditambah lagi dengan pengalaman-pengalaman sendiri, maka semakin luaslah pengetahuan yang menjadi milik manusia itu. Tetapi, perlu diingat, bahwa kemampuan manusia itu terbatas yang menyebabkan tidak dapat mendukung seluruh kepandaian yang menjadi milik bersama itu.
Kekurangan pada manusia secara individu itu ditampung oleh masyarakat. Hal ini mungkin karena para anggota masyarakat itu tentu tidak sama minatnya, berlainan kepentingannya, berbeda kemampuannya, meskipun masih tetap dalam lingkungan bersama. Maka sesungguhnya, pendukung kebudayaan itu bukanlah manusia secara individu (perorangan) melainkan masyarakat seluruhny
2.4 Pola-pola kebudayaan
Dalam filsafat ilmu, pola-pola kebudayaan mempengaruhi cara kita memahami, mengkaji, dan menginterpretasikan ilmu pengetahuan. Berikut adalah beberapa pola kebudayaan yang sering dibahas dalam konteks filsafat ilmu:
1. Paradigma Ilmiah
Paradigma ilmiah adalah kerangka kerja yang mendasari cara ilmuwan memahami, mengkaji, dan menginterpretasikan fenomena dalam dunia ilmiah. Konsep ini diperkenalkan oleh Thomas Kuhn dalam bukunya The Structure of Scientific Revolutions (1962). Berikut adalah penjelasan lebih rinci tentang paradigma ilmiah:
1. Definisi Paradigma
Paradigma adalah seperangkat keyakinan, nilai, teknik, dan praktik yang membentuk cara suatu komunitas ilmiah melakukan penelitian. Paradigma menetapkan apa yang dianggap sebagai pertanyaan yang sah untuk diteliti, bagaimana penelitian harus dilakukan, dan bagaimana hasil penelitian harus diinterpretasikan.
2. Nilai dan Etika dalam Penelitian
Nilai-nilai budaya mempengaruhi etika penelitian. Misalnya, norma-norma mengenai kejujuran, integritas, dan tanggung jawab sosial dalam pengumpulan data dan pelaporan hasil penelitian. Dalam banyak budaya, ada juga perdebatan tentang dampak penelitian terhadap masyarakat dan lingkungan.
3. Metode Penelitian
Berbagai pola kebudayaan mempengaruhi pendekatan metodologis dalam penelitian.
Misalnya, dalam budaya yang lebih kolektif, metode penelitian kualitatif mungkin lebih dihargai karena mampu menggali pengalaman subjektif, sementara dalam budaya yang lebih individualistis, metode kuantitatif mungkin lebih dominan.
4. Konstruksi Sosial Ilmu
Feminisme dan Konstruktivisme Sosial berargumen bahwa ilmu pengetahuan tidak terlepas dari konteks sosial dan budaya. Pengetahuan sering kali dibentuk oleh kekuasaan dan hubungan sosial dalam masyarakat, sehingga mempengaruhi apa yang dianggap sebagai
"ilmu" yang valid.
5. Persepsi dan Representasi
Pola kebudayaan juga mempengaruhi bagaimana ilmu pengetahuan direpresentasikan dalam masyarakat. Representasi ini bisa berbentuk media, pendidikan, atau publikasi ilmiah. Cara ilmu dipresentasikan dapat membentuk persepsi masyarakat terhadap pengetahuan itu sendiri.
6. Tradisi dan Inovasi
Kebudayaan sering kali menghargai tradisi, tetapi juga menghadapi tantangan inovasi. Dalam konteks ilmu, pola ini terlihat ketika ilmu pengetahuan baru bertentangan dengan pengetahuan tradisional. Misalnya, pemahaman tentang kesehatan dan pengobatan dalam masyarakat yang sangat dipengaruhi oleh tradisi dapat bertentangan dengan pendekatan ilmiah modern.
7. Interdisipliner dan Pluralisme
Dalam era globalisasi, pola kebudayaan yang beragam mendorong pendekatan interdisipliner dalam penelitian. Ilmu pengetahuan sering kali mengambil elemen dari berbagai disiplin dan budaya, menghasilkan perspektif yang lebih luas dan komprehensif.
Kesimpulan
Ilmu adalah hasil dari usaha manusia untuk memahami dan menjelaskan fenomena di sekitar mereka melalui pendekatan yang sistematis dan metodologis. Namun, ilmu tidak berdiri sendiri; ia sangat dipengaruhi oleh konteks kebudayaan di mana ia berkembang. Kebudayaan mencakup nilai- nilai, norma, tradisi, dan cara berpikir yang membentuk persepsi individu dan masyarakat.
Pola-pola kebudayaan mencerminkan cara masyarakat mengorganisir pengetahuan dan pengalaman, serta bagaimana mereka berinteraksi dengan lingkungan. Pola-pola ini dapat terlihat dalam struktur sosial, nilai-nilai etika, metode penelitian, dan praktik sehari-hari. Kebudayaan yang berbeda dapat menghasilkan cara yang berbeda dalam memproduksi dan menginterpretasikan ilmu, sehingga memperkaya pemahaman kita tentang dunia.
Dengan demikian, ilmu, kebudayaan, dan manusia saling terkait dan berinteraksi secara dinamis. Pemahaman yang mendalam tentang pola-pola kebudayaan membantu kita untuk menghargai keragaman perspektif dalam ilmu pengetahuan, serta mengakui bahwa pengetahuan selalu dipengaruhi oleh konteks sosial dan budaya. Hal ini penting untuk menciptakan ilmu yang lebih inklusif dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat global yang beragam.
Daftar Pustaka
Tim Revisi, Buku Ajar MPKT A, Depok: 2017.
Khafif, Akhmad. “Hubungan Kebudayaan dan Masyarakat”. 2015.
https://historikultur.blogspot.com/2015/04/hubungan-kebudayaan-dan-masyarakat.html . Diakses pada 16 Maret 2020 pukul 20.24 WIB.
Diwandana, Aliefia. “Kebudayaan dan Masyarakat Hal yang Tidak Bisa Dipisahkan”. 2014.
https://www.kompasiana.com/aliefiarizky/54f77f37a333114c718b460f/kebudayaan-dan-masyarakat-hal- yang-tidak-bisa-dipisahkan . Diakses pada 16 Maret 2020 pukul 21.30 WIB.
Herdiana, Irena. “Hubungan Masyarakat dengan Kebudayaan dalam Pandangan Filsafat”. 2015.
http://irenaherdiana.blogspot.com/2015/12/hubungan-masyarakat-dengan-kebudayaan.html . Diakses pada 16 Maret 2020 pukul 22.17 WIB.
http://ruangchandra.blogspot.no/2011/03/makalah-hubungan-antara-budaya-dan.html http://www.slideshare.net/adysetia1/ilmu-dan-kebudayaan-11208415
http://jempoluburubur.blogspot.no/2010/03/manusia-dan-kebudayaan-marii-dibahass.html