i
MASALAH LAYANAN KESEHATAN PESERTA JKN YANG DISELENGGARAKAN OLEH BPJS DI PUSKESMAS PAKUANBARU
KOTA JAMBI
Disusun Oleh:
Dina Rasyidatika Aini G1A223129
Pembimbing:
dr. Yulinda Fetritura, M.Kes
KEPANITERAAN KLINIK SENIOR
KSM/BAGIAN ILMU KESEHATAN MASYARAKAT DAN KEDOKTERAN KELUARGA
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS JAMBI
2025
ii
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala limpahan kasih dan karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan laporan tugas Publich Health Report Session (PHRS) mengenai “Masalah Layanan Kesehatan Peserta JKN/BPJS di Puskesmas Pakuanbaru Kota Jambi”. Sebagai salah satu syarat dalam mengikuti kepaniteraan klinik senior di bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Kedokteran Keluarga Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Jambi.
Terwujudnya laporan ini tidak lepas dari bantuan, bimbingan dan dorongan dari berbagai pihak, oleh karena itu penulis menyampaikan ucapan terima kasih kepada dr. Yulinda Fetritura, M.Kes sebagai pembimbing dan dr. Raodah selaku Kepala Puskesmas Pakuanbaru Kota Jambi yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan dan arahan sehingga Publich Health Report Session (PHRS) ini dapat terselesaikan dengan baik dan kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian laporan ini.
Penulis menyadari laporan ini masih banyak kekurangannya, untuk itu saran dan kritik yang bersifat membangun sangat diharapkan oleh penulis. Sebagai penutup semoga kiranya Publich Health Report Session (PHRS) ini dapat bermanfaat bagi kita khususnya dan bagi dunia kesehatan pada umumnya.
Jambi, April 2025
Penulis
iii DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... ii
DAFTAR ISI ... iii
DAFTAR TABEL ... v
DAFTAR GAMBAR ... vi
BAB I. PENDAHULUAN ... 1
1.1 Latar Belakang ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... 2
1.3 Tujuan Penulisan Makalah ... 2
1.4 Manfaat Penulisan Makalah ... 2
1.4.1 Bagi Puskesmas ... 2
1.4.2 Bagi Mahasiswa Kepaniteraan Klinik Senior ... 2
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ... 3
2.1 Definisi ... 3
2.2 Kelebihan Jaminan Kesehatan Sosial (JKN) ... 3
2.3 Prinsip Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) ... 4
2.4 Kepersertaan ... 6
2.4.1 Peserta ... 6
2.4.2 Hak dan kewajiban Peserta ... 7
2.4.3 Masa berlaku kepesertaan ... 7
2.5 Pembiyaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) ... 7
2.5.1 Iuran ... 7
2.5.2 Pembayar Iuran ... 7
2.5.3 Cara Pembayaran Fasilitas Kesehatan ... 8
2.6 Pertanggungjawaban BPJS Kesehatan ... 9
2.7 Kapitasi Berbasis Kinerja ... 10
2.7.1 Pembayaran Kapitasi Berbasis Kinerja ... 10
2.7.2 Pelaksanaan Pembayaran Kapitasi ... 10
2.7.3 Penilaian Komitmen Pelayanan ... 11
2.7.4 Penilaian Capaian KBK ... 12
2.7.5 Kriteria penilaian ... 13
iv
2.7.6 Penilaian Capaian Pembayaran KBK ... 13
BAB III. HASIL PUSKESMAS ... 20
3.1 Profil Puskesmas Pakuan Baru Kota Jambi ... 20
3.2 Tenaga Kerja ... 21
3.3 Sarana Kesehatan ... 23
3.4 Hasil Pencapaian Komitmen Pelayanan Kesehatan Puskesmas Pakuan Baru bulan Maret 2025 ... 23
3.5 Analisis Masalah Pelayanan BPJS di FKTP Puskesmas Pakuan Baru ... 25
BAB IV. ANALISIS DAN PEMECAHAN MASALAH ... 26
4.1 Analisis Masalah ... 26
4.2 Perumusan Penyebab Masalah ... 27
4.3 Alternatif Pemecahan Masalah ... 28
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ... 30
5.1 Kesimpulan ... 30
5.2 Saran ... 30
DAFTAR PUSTAKA ... 32
v
DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Kelebihan Sistem Asuransi Sosial dengan Asusansi Komersial...4
Tabel 2.2 Penerapan Pembayaran Kapitasi Berbasis Kinerja...15
Tabel 2.3 Perbandingan KBKP dan KBK...15
Tabel 2.4 Penyesuaian Kapitasi dengan Nilai Capaian Kinerja...19
Tabel 3.1 Luas Wilayah, Jumlah Desa, Kelurahan, Jumlah Rumah Tangga, dan Kepadatan Penduduk Puskesmas Pakuan Baru Tahun 2024...20
Tabel 3.2 Jumlah Penduduk di Wilayah Kerja Puskesmas Pakuanbaru...21
Tabel 3.3 Data Ketenagaan Pegawai di Puskesmas Pakuanbaru...21
Tabel 3.4 Sarana Kesehatan di Wilayah Kerja Puskesmas Pakuanbaru...23
Tabel 3.5 Jumlah Pelayanan BPJS Puskesmas Pakuanbaru...23
Tabel 4.1 Target Pemenuhan Komitmen Pelayanan BPJS di FKTP...26
vi
DAFTAR GAMBAR
Gambar 4.1 Diagram fishbone...27
2 1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, rumusan masalah yang dibahas dalam makalah ini sebagai berikut:
1. Bagaimana gambaran permasalahan pembiayaan kesehatan dengan Jaminan Kesehatan Nasional yang diselenggarakan oleh BPJS?
2. Bagaimana pemenuhan komitmen pelayanan BPJS di FKTP Puskesmas Pakuan Baru pada Bulan Maret 2025?
3. Berapakah persentase kapitasi yang diterima Puskesmas Pakuan Baru yang diberikan oleh pihak BPJS pada Bulan Maret 2025?
1.3 Tujuan Penulisan Makalah 1.3.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui permasalahan dalam peserta Jaminan Kesehatan Nasional melalui Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) di Puskesmas Pakuan Baru kota Jambi.
1.3.2 Tujuan Khusus
1. Untuk mengetahui permasalahan dalam peserta Jaminan Kesehatan Nasional melalui Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) di Puskesmas Pakuan Baru Kota Jambi.
2. Mencari alternatif solusi dalam peserta Jaminan Kesehatan Nasional melalui Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) di puskesmas Pakuan Baru kota Jambi.
1.4 Manfaat Penulisan Makalah 1.4.1 Bagi Puskesmas
Puskesmas Pakuan Baru dapat melakukan identifikasi dan analisis masalah, mencari penyebab dan latar belakang serta hambatan masalah penyelenggaraan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di wilayah kerjanya.
1.4.2 Bagi Mahasiswa Kepaniteraan Klinik Senior
Menambah wawasan mahasiswa dan sebagai salah satu syarat pelaksanaan kepaniteraan klinik senior di bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Jambi.
3 BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi
Sistem Jaminan Sosial Nasional adalah tata cara penyelenggaraan program Jaminan Sosial oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan. Jaminan Sosial adalah bentuk perlindungan sosial untuk menjamin seluruh rakyat agar dapat memenuhi kebutuhan dasar hidupnya yang layak. Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) adalah badan hukum yang dibentuk untuk menyelenggarakan program jaminan sosial. BPJS terdiri dari BPJS Kesehatan dan BPJS Ketenagakerjaan. BPJS Kesehatan adalah badan hukum yang dibentuk untuk menyelenggarakan program jaminan kesehatan.1
Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) merupakan bagian dari Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) yang diselenggarakan dengan menggunakan mekanisme asuransi kesehatan sosial yang bersifat wajib (mandatory) berdasarkan Undang- Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang SJSN dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan dasar kesehatan masyarakat yang layak yang diberikan kepada setiap orang yang telah membayar iuran atau iurannya dibayar oleh Pemerintah yang pelaksanaannya melalui BPJS Kesehatan.1,2
2.2 Kelebihan Jaminan Kesehatan Sosial (JKN)
Asuransi kesehatan mengurangi risiko masyarakat menanggung biaya kesehatan dari kantong sendiri out of pocket, dalam jumlah yang sulit diprediksi dan kadang-kadang memerlukan biaya yang sangat besar. Untuk itu diperlukan suatu jaminan dalam bentuk asuransi kesehatan karena peserta membayar premi dengan besaran tetap. Dengan demikian pembiayaan kesehatan ditanggung bersama secara gotong royong oleh keseluruhan peserta, sehingga tidak memberatkan secara orang per orang. Tetapi asuransi kesehatan saja tidak cukup. Diperlukan Asuransi Kesehatan Sosial atau JKN. Dikarenakan beberapa sebab yang pertama dikarenakan premi asuransi komersial relatif tinggi sehingga tidak terjangkau bagi sebagian besar masyarakat. Kedua, manfaat yang ditawarkan umumnya terbatas.1
4
Asuransi kesehatan sosial memberikan beberapa keuntungan sebagai berikut.
Pertama, memberikan manfaat yang komprehensif dengan premi terjangkau.
Kedua, asuransi kesehatan sosial menerapkan prinsip kendali biaya dan mutu. Itu berarti peserta bisa mendapatkan pelayanan bermutu memadai dengan biaya yang wajar dan terkendali, bukan “terserah dokter” atau terserah “rumah sakit”. Ketiga, asuransi kesehatan sosial menjamin sustainabilitas (kepastian pembiayaan pelayanan kesehatan yang berkelanjutan). Keempat, asuransi kesehatan sosial memiliki portabilitas, sehingga dapat digunakan di seluruh wilayah Indonesia. Oleh sebab itu, untuk melindungi seluruh warga, kepesertaan asuransi kesehatan sosial/
JKN bersifat wajib.1
Tabel 2.1 Kelebihan Sistem Asuransi Sosial di bandingkan dengan asuransi komersial
Asuransi Sosial Asuransi Komersial Kepesertaan bersifat wajib
(untuk semua penduduk) Kepesertaan bersifat sukarela
Non Profit Profit
Manfaat komprehensif
Manfaat sesuai dengan premi yang dibayarkan.
2.3 Prinsip Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)
Jaminan Kesehatan Nasional mengacu pada prinsip-prinsip Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) sebagai berikut 1:
1. Prinsip kegotongroyongan
Gotong royong sesungguhnya sudah menjadi salah satu prinsip dalam hidup bermasyarakat dan juga merupakan salah satu akar dalam kebudayaan kita.
Dalam SJSN, prinsip gotong royong berarti peserta yang mampu membantu peserta yang kurang mampu, peserta yang sehat membantu yang sakit atau yang berisiko tinggi, dan peserta yang sehat membantu yang sakit. Hal ini terwujud karena kepesertaan SJSN bersifat wajib untuk seluruh penduduk, tanpa pandang
5
bulu. Dengan demikian, melalui prinsip gotong royong jaminan sosial dapat menumbuhkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
2. Prinsip Nirlaba
Pengelolaan dana amanat oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) adalah nirlaba bukan untuk mencari laba (for profit oriented). Sebaliknya, tujuan utama adalah untuk memenuhi sebesar-besarnya kepentingan peserta.
Dana yang dikumpulkan dari masyarakat adalah dana amanat, sehingga hasil pengembangannya, akan di manfaatkan sebesar-besarnya untuk kepentingan peserta.
3. Prinsip keterbukaan, kehati-hatian, akuntabilitas, efisiensi, dan efektivitas.
Prinsip prinsip manajemen ini mendasari seluruh kegiatan pengelolaan dana yang berasal dari iuran peserta dan hasil pengembangannya.
4. Prinsip portabilitas
Prinsip portabilitas jaminan sosial dimaksudkan untuk memberikan jaminan yang berkelanjutan kepada peserta sekalipun mereka berpindah pekerjaan atau tempat tinggal dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia.
5. Prinsip kepesertaan bersifat wajib
Kepesertaan wajib dimaksudkan agar seluruh rakyat menjadi peserta sehingga dapat terlindungi. Meskipun kepesertaan bersifat wajib bagi seluruh rakyat, penerapannya tetap disesuaikan dengan kemampuan ekonomi rakyat dan pemerintah serta kelayakan penyelenggaraan program. Tahapan pertama dimulai dari pekerja di sektor formal, bersamaan dengan itu sektor informal dapat menjadi peserta secara mandiri, sehingga pada akhirnya Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) dapat mencakup seluruh rakyat.
6. Prinsip dana amanat
Dana yang terkumpul dari iuran peserta merupakan dana titipan kepada badan-badan penyelenggara untuk dikelola sebaik-baiknya dalam rangka mengoptimalkan dana tersebut untuk kesejahteraan peserta.
6 7. Prinsip hasil pengelolaan
Dana Jaminan Sosial dipergunakan seluruhnya untuk pengembangan program dan untuk sebesar-besar kepentingan peserta.
2.4 Kepersertaan 2.4.1 Peserta
Peserta tersebut meliputi Penerima Bantuan Iuran (PBI) JKN dan bukan PBI JKN dengan rincian sebagai berikut 1,2:
- Peserta PBI Jaminan Kesehatan Peserta PBI meliputi orang yang tergolong fakir miskin dan orang tidak mampu. Kriteria Fakir Miskin dan orang tidak mampu ditetapkan oleh menteri di bidang sosial setelah berkoordinasi dengan menteri dan /atau pimpinan lembaga terkait.
- Peserta Bukan PBI Peserta bukan PBI adalah Peserta yang tidak tergolong fakir miskin dan orang tidak mampu yang terdiri atas:
1) Pekerja Penerima Upah dan anggota keluarganya
Termasuk Pegawai Negeri Sipil, Anggota TNI, Anggota Polri, Pegawai Pemerintah Non Pegawai Negeri, Pegawai Swasta.
2) Pekerja Bukan Penerima Upah dan anggota keluarganya
Termasuk Pekerja di luar hubungan kerja atau Pekerja mandiri dan Pekerja yang bukan penerima Upah.
3) Pekerja sebagaimana dimaksud termasuk warga negara asing yang bekerja di Indonesia paling singkat enam bulan.
4) Bukan Pekerja dan anggota keluarganya
Terdiri atas Investor, Pemberi Kerja, Penerima Pensiun, Veteran, Perintis Kemerdekaan dan bukan Pekerja yang tidak termasuk investor atau perintis kemerdekaan yang mampu membayar Iuran.
5) Penerima pensiun, yang terdiri atas:
a) Pegawai Negeri Sipil yang berhenti dengan hak pensiun
b) Anggota TNI dan Anggota Polri yang berhenti dengan hak pensiun,
c) Pejabat Negara berhenti dengan hak pensiun
7
d) Janda, duda, ataupun anak yatim piatu dari penerima pensiun sebagaimana dimaksud pada huruf a sampai dengan huruf d yang mendapat hak pensiun.
2.4.2 Hak dan kewajiban Peserta
Setiap Peserta yang telah terdaftar pada BPJS Kesehatan berhak mendapatkan a) identitas Peserta dan b) manfaat pelayanan kesehatan di Fasilitas Kesehatan yang bekerja sama dengan BPJS Kesehatan.1
Setiap Peserta yang telah terdaftar pada BPJS Kesehatan berkewajiban untuk: a) membayar iuran dan b) melaporkan data kepesertaannya kepada BPJS Kesehatan dengan menunjukkan identitas Peserta pada saat pindah domisili dan atau pindah kerja.1
2.4.3 Masa berlaku kepesertaan
1. Kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional berlaku selama yang bersangkutan membayar Iuran sesuai dengan kelompok peserta.
2. Status kepesertaan akan hilang bila Peserta tidak membayar Iuran atau meninggal dunia.
3. Ketentuan lebih lanjut terhadap hal tersebut diatas, akan diatur oleh Peraturan BPJS.
2.5 Pembiyaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) 2.5.1 Iuran
Iuran Jaminan Kesehatan adalah sejumlah uang yang dibayarkan secara teratur oleh Peserta, Pemberi Kerja, dan/atau Pemerintah untuk program Jaminan Kesehatan (Pasal 16, Perpres No. 12/2013 tentang Jaminan Kesehatan).1
2.5.2 Pembayar Iuran
1. Bagi Peserta PBI, iuran dibayar oleh Pemerintah.
2. Bagi Peserta Pekerja Penerima Upah, Iurannya dibayar oleh Pemberi Kerja dan Pekerja.
3. Bagi Peserta Pekerja Bukan Penerima Upah dan Peserta Bukan Pekerja iuran dibayar oleh Peserta yang bersangkutan.
8
4. Besarnya Iuran Jaminan Kesehatan Nasional ditetapkan melalui Peraturan Presiden dan ditinjau ulang secara berkala sesuai dengan perkembangan sosial, ekonomi, dan kebutuhan dasar hidup yang layak.
Setiap Peserta wajib membayar iuran yang besarnya ditetapkan berdasarkan persentase dari upah (untuk pekerja penerima upah) atau suatu jumlah nominal tertentu (bukan penerima upah dan PBI).1
Setiap Pemberi Kerja wajib memungut iuran dari pekerjanya, menambahkan iuran peserta yang menjadi tanggung jawabnya, dan membayarkan iuran tersebut setiap bulan kepada BPJS Kesehatan secara berkala (paling lambat tanggal 10 setiap bulan). Apabila tanggal 10 (sepuluh) jatuh pada hari libur, maka iuran dibayarkan pada hari kerja berikutnya. Keterlambatan pembayaran iuran JKN dikenakan denda administratif sebesar 2% (dua persen) perbulan dari total iuran yang tertunggak dan dibayar oleh Pemberi Kerja.1
Peserta Pekerja Bukan Penerima Upah dan Peserta bukan Pekerja wajib membayar iuran JKN pada setiap bulan yang dibayarkan paling lambat tanggal 10 (sepuluh) setiap bulan kepada BPJS Kesehatan. Pembayaran iuran JKN dapat dilakukan diawal.1
BPJS Kesehatan menghitung kelebihan atau kekurangan iuran JKN sesuai dengan Gaji atau Upah Peserta. Dalam hal terjadi kelebihan atau kekurangan pembayaran iuran, BPJS Kesehatan memberitahukan secara tertulis kepada Pemberi Kerja dan/atau Peserta paling lambat 14 (empat belas) hari kerja sejak diterimanya iuran. Kelebihan atau kekurangan pembayaran iuran diperhitungkan dengan pembayaran Iuran bulan berikutnya. Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara pembayaran iuran diatur dengan Peraturan BPJS Kesehatan.1
2.5.3 Cara Pembayaran Fasilitas Kesehatan
BPJS Kesehatan akan membayar kepada Fasilitas Kesehatan tingkat pertama dengan Kapitasi. Untuk Fasilitas Kesehatan rujukan tingkat lanjutan, BPJS Kesehatan membayar dengan sistem paket INA CBG’s.1
Mengingat kondisi geografis Indonesia, tidak semua Fasilitas Kesehatan dapat dijangkau dengan mudah. Maka, jika di suatu daerah tidak memungkinkan
9
pembayaran berdasarkan Kapitasi, BPJS Kesehatan diberi wewenang untuk melakukan pembayaran dengan mekanisme lain yang lebih berhasil guna.1
Semua Fasilitas Kesehatan meskipun tidak menjalin kerja sama dengan BPJS Kesehatan wajib melayani pasien dalam keadaan gawat darurat, setelah keadaan gawat daruratnya teratasi dan pasien dapat dipindahkan, maka fasilitas kesehatan tersebut wajib merujuk ke fasilitas kesehatan yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan. BPJS Kesehatan akan membayar kepada fasilitas kesehatan yang tidak menjalin kerjasama setelah memberikan pelayanan gawat darurat setara dengan tarif yang berlaku di wilayah tersebut.1
2.6 Pertanggungjawaban BPJS Kesehatan
BPJS Kesehatan wajib membayar Fasilitas Kesehatan atas pelayanan yang diberikan kepada Peserta paling lambat 15 (lima belas) hari sejak dokumen klaim diterima lengkap. Besaran pembayaran kepada Fasilitas Kesehatan ditentukan berdasarkan kesepakatan antara BPJS Kesehatan dan asosiasi Fasilitas Kesehatan di wilayah tersebut dengan mengacu pada standar tarif yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan. Dalam hal tidak ada kesepakatan atas besaran pembayaran, Menteri Kesehatan memutuskan besaran pembayaran atas program JKN yang diberikan.
Asosiasi Fasilitas Kesehatan ditetapkan oleh Menteri Kesehatan.1
Dalam JKN, peserta dapat meminta manfaat tambahan berupa manfaat yang bersifat non medis berupa akomodasi. Misalnya, Peserta yang menginginkan kelas perawatan yang lebih tinggi daripada haknya, dapat meningkatkan haknya dengan mengikuti asuransi kesehatan tambahan, atau membayar sendiri selisih antara biaya yang dijamin oleh BPJS Kesehatan dan biaya yang harus dibayar akibat peningkatan kelas perawatan, yang disebut dengan iur biaya (additional charge).
Ketentuan tersebut tidak berlaku bagi peserta PBI.1
Sebagai bentuk pertanggungjawaban atas pelaksanaan tugasnya, BPJS Kesehatan wajib menyampaikan pertanggungjawaban dalam bentuk laporan pengelolaan program dan laporan keuangan tahunan (periode 1 Juli sampai dengan 31 Desember). Laporan yang telah diaudit oleh akuntan publik dikirimkan kepada Presiden dengan tembusan kepada DJSN paling lambat tanggal 30 Juni tahun berikutnya. Laporan tersebut dipublikasikan dalam bentuk ringkasan eksekutif
10
melalui media massa elektronik dan melalui paling sedikit 2 (dua) media massa cetak yang memiliki peredaran luas secara nasional, paling lambat tanggal 31 Juli tahun berikutnya.1
2.7 Kapitasi Berbasis Kinerja
2.7.1 Pembayaran Kapitasi Berbasis Kinerja
Berdasarkan Peraturan Bersama Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan Nomor 7 tahun 2019 tentang petunjuk pembayaran kapitasi berbasis kinerja di FKTP merupakan bagian dari pengembangan sistem kendali mutu pelayanan yang bertujuan untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas penyelenggaraan pelayanan kesehatan. Penyesuaian kapitasi berbasis KBK di FKTP dilakukan setelah terjadi memenuhhi kriteria sebagai berikut 3:
1. Telah bekerjasama dengan BPJS Kesehatan minimal 1 tahun, dan/atau 2. Minimal peserta terdaftar minimal 5000 peserta
Penerapan kerjasama antara BPJS dan FKTP diberlakukan setelah adanya kesepakatan Bersama antara BPJS kesehatan dan Asosiasi Fasilitas Kesehatan Pertama di tingkat Provinsi. Penerapan Kapitasi Berbasis Kinerja Dikecualikan bagi 3:
1. FKTP yang ditetapkan sebagai FKTP kawasan terpencil dan sangat terpencil, dan
2. FKTP di wilayah yang sulit mendapatkan akses jaringan komunikasi data, akan tetapi tidak termasuk daerah terpencil dan sangat terpencil yang ditetapkan atas kesepakatan BPJS Kesehatan dan Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.
2.7.2 Pelaksanaan Pembayaran Kapitasi
Pelaksanaan pembayaran kapitasi berbasis kinerja dinilai berdasarkan pencapaian indikator yang meliputi:
1. Angka Kontak (AK)
Angka kontak merupakan indikator untuk mengetahui tingkat aksesabilitas dan pemanfaatan pelayanan primer di FKTP oleh peserta berdasarkan jumlah peserta JKN (per nomor identitas peserta) yang mendapatkan pelayanan
11
kesehatan di FKTP per bulan baik di dalam gedung maupun di luar gedung tanpa memperhitungkan frekuensi kedatangan peserta dalam satu bulan.3
2. Rasio Rujukan Rawat Jalan Non Spesialistik (RRNS)
Rasio Rujukan Rawat Jalan Non Spesialistik merupakan indikator untuk mengetahui kualitas pelayanan di FKTP sehingga sistem rujukan terselenggara sesuai indikasi medis dan kompetensi FKTP.3
3. Rasio Peserta Prolanis Terkendali (RPPT)
Rasio Peserta Prolanis Terkendali (RPPT) merupakan indikator untuk mengetahui optimalisasi penatalaksanaan prolanis oleh FKTP dalam menjaga kadar gula darah puasa bagi pasien Diabetes Mellitus tipe 2 (DM) atau tekanan darah bagi pasien Hipertensi Essensial (HT).3
Khusus bagi puskesmas, terdapat indikator tambahan dalam pemenuhan komitmen pelayanan untuk mengetahui penyelenggaraan kegiatan promotif preventif di Puskesmas dengan fokus pada kegiatan kandungan rumah yang dilakukan dalam bentuk pendekatan keluarga untuk mencapai program Indonesia Sehat pada semua keluarga di wilayah kerja Puskesmas tanpa melihat peserta JKN atau bukan peserta JKN. Melalui pendekatan keluarga, yaitu mengunjungi setiap keluarga di wilayah kerja.3
Pelaksanaan kegiatan terkait indikator tambahan berupa kunjungan rumah diatur melalui petunjuk teknis program sehat dengan pendekatan keluarga yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan. Penilaian terhadap pembayaran kapitasi berbasis pemenuhan komitmen pelayanan dilakukan setiap bulan.3
2.7.3 Penilaian Komitmen Pelayanan 1. Angka Kontak (AK)
Angka kontak merupakan indikator untuk mengetahui tingkat aksebilitas dan pemanfaatan pelayanan primer di FKTP oleh peserta serta upaya FKTP terhadap kesehatan peserta pada setiap 1000 (seribu) peserta terdaftar di FKTP yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan.3
AK = Jumlah peserta yang melakukan kontak
Jumlah peserta terdaftar di FKTP × 1000
12
2. Rasio Rujukan Rawat Jalan Non Spesialistik (RRNS)
RRNS adalah perbandingan jumlah peserta yang dirujuk dengan kasus non spesialistik dengan jumlah seluruh peserta yang dirujuk oleh FKTP dikali 100 (seratus).3
3. Rasio Peserta Prolanis Terkendali (RPPT)
RPPT adalah perbandingan jumlah peserta prolanis terkendali dengan jumlah peserta prolanis terdaftar di FKTP dikali 100 (seratus).3
2.7.4 Penilaian Capaian KBK
Penilaian capaian Pembayaran KBK dilakukan atas perhitungan antara bobot indikator kinerja dikalikan dengan rating dan kriteria penilaian capaian kinerja. Besaran pembayaran kapitasi per FKTP berdasarkan penjumlahan nilai capaian Pembayaran KBK per masing- masing indikator, dengan ketentuan sebagai berikut 1,3:
a. Indikator angka kontak adalah sebesar 40% (empat puluh persen)
b. Indikator Rasio Rujukan Rawat Jalan Kasus Non Spesialistik adalah sebesar 50% (lima puluh persen)
c. Indikator Rasio Peserta Prolanis Terkendali adalah sebesar 10% (sepuluh persen)
RRNS = Jumlah rujukan kasus non spesialistik Jumlah rujukan FKTP
× 100%
RPPT DM = Jumlah peserta DM terkendali
Jumlah peserta terdaftar di FKTP dengan diagnosis DM × 100%
RPPT HT = Jumlah peserta HT terkendali
Jumlah peserta terdaftar di FKTP dengan diagnosis HT
× 100%
RPPT = RPPT DM + RPPT HT 2
13
Target indikator kinerja adalah nilai dari perhitungan pencapaian indikator Pembayaran KBK dengan ketentuan sebagai berikut1,3:
1. Target indikator angka kontak adalah paling sedikit 150% (seratus lima puluh permil)
2. Target indikator Rasio Rujukan Rawat Jalan Kasus Non Spesialistik adalah paling banyak 2% (dua persen)
3. Target indikator Rasio Pesena Prolanis Terkendali adalah paling sedikit 5%
(lima persen) 2.7.5 Kriteria penilaian
Kriteria penilaian Pembayaran KBK dibagi dalam 4 kriteria rating berdasarkan target indikator kinerja, dengan ketentuan sebagai berikut3 :
Kriteria penilaian angka kontak:
a) Kriteria rating 1 apabila capaian angka kontak <140%
b) Kriteria rating 2 apabila capaian angka kontak >140% - 145%
c) Kriteria rating 3 apabila capaian angka kontak >145% - <150%
d) Kritetia rating 4 apabila capaian angka kontak >150%
Kriteria penilaian Rasio Rujukan Rawat Jalan Kasus Non Spesialistik:
a) Kriteria rating 1 apabila capaian RRNS >3%
b) Kriteria rating 2 apabila capaian RRNS >2,5% -3%
c) Kriteria rating 3 apabila capaian RRNS >2% -2,5%
d) Kriteria rating 4 apabila capaian RRNS < 2%
Kriteria penilaian Rasio Peserta Prolanis Terkendali:
a) Kriteria rating 1 apabila capaian RPPT <3%
b) Kriteria rating 2 apabila capaian RPPT 3%- <4%
c) Kriteria rating 3 apabila capaian RPPT 4% -<5%
d) Kriteria rating 4 apabila capaian RPPT > 5%
2.7.6 Penilaian Capaian Pembayaran KBK
Penilaian capaian Pembayaran KBK dilakukan atas perhitungan antara bobot indikator kinerja dikalikan dengan rating dari kriteria penilaian capaian kinerja. Besaran pembayaran kapitasi per FKTP berdasarkan penjumlahan nilai
14
capaian Pembayaran KBK per masing- masing indikator, dengan ketentuan sebagai berikut3:
1. FKTP Puskesmas
a) Apabila total nilai capaian Pembayaran KBK 4 (empat), maka FKTP menerima pembayaran kapitasi sebesar 100% (seratus persen) dari norma kapitasi yang ditetapkan.
b) Apabila total nilai capaian Pembayaran KBK 3 - <4, maka FKTP menerima pembayaran kapitasi sebesar 95% (sembilan puluh lima persen) dari norma kapitasi yang ditetapkan.
c) Apabila total nilai capaian Pembayaran KBK 2 - <3, maka FKTP menerima pembayaran kapitasi sebesar 90% (sembilan puluh persen) dari norma kapitasi yang ditetapkan.
d) Apabila total nilai capaian Pembayaran KBK l - <2, maka FKTP menerima pembayaran kapitasi sebesar 85% (delapan puluh lima persen) dari norma kapitasi yang ditetapkan.
2. FKTP Klinik Pratama/RS D Pratama
a) Apabila total nilai capaian Pembayaran KBK 4 (empat), maka FKTP menerima pembayaran kapitasi sebesar 100% (seratus persen) dari norma kapitasi yang ditetapkan.
b) Apabila total nilai capaian Pembayaran KBK 3-<4, maka FKTP menerima pembayaran kapitasi sebesar 97% (sembilan puluh tujuh persen) dari norma kapitasi yang ditetapkan.
c) Apabila total nilai capaian Pembayaran KBK 2-<3, maka FKTP menerima pembayaran kapitasi sebesar 96% (sembilan puluh enam persen) dari norma kapitasi yang ditetapkan.
d) Apabila total nilai capaian Pcmbayaran KBK l-<2, maka FKTP menerima pembayaran kapitasi sebesar 95% (sembilan puluh lima persen) dari norma kapitasi yang ditetapkan.
15
Tabel 2.2 Penerapan Pembayaran Kapitasi Berbasis Kinerja
No
Indikator
Kerja Bobot Target
Kriteria Penilaian Nilai Capaian Rating Deskripsi
a b c d e f=bxd
1
Angka
Kontak 40% ≥150%
4 ≥150% 1.6
3 > 145-<150% 1.2
2 >140-145% 0.8
1 ≤140% 0.4
Rasio 4 ≤ 2% 2
2 Rujukan
50% ≤ 2% 3 >2-2.5% 1.5
2 >2.5-3% 1
Non
Spesialistik 1 >3% 0.5
Rasio 4 ≥ 5% 0.4
3 Peserta
10% ≥ 5% 3 4 - <5% 0.3
2 3 - <4% 0.2
Prolanis
Terkendali 1 <3% 0.1
Tabel 2.3 Perbandingan KBKP dan KBK
No. Ketentuan PerBer KBK Per BPJS 7/2019 1 Nama
Program
Pembayaran Kapitasi Berbasis Komitmen Pelayanan
Kapitasi Berbasis Kinerja
2 FKTP yang Diberlakukan KBK
Diberlakuakan pada : l. Seluruh Puskesmas
2. Klinik Pratama/RSUD Pratama/ Praktik Manidiri Dokter dengan kriteria minimal kerjsama 1 tahun dan peserta terdaftar minimal 5.000 Kecuali:
1. FKTP kawasan terpencil dan sangat terpencil
Diberlakukan pada seluruh FKTP yang kerjasama kecuali FKTP di wilayah sulit akses jaringan komunikasi data yang ditetapkan atas Kesepakatan BPJS Kesehatan dan Dinkes
16
No. Ketentuan PerBer KBK Per BPJS 7/2019 2. FKTP wilayah sulit akses
jaringan komunikasi data
Kab/Kota yang
dievaluasi paling lama setiap 3 bulan sekali 3. FKTP yang
diberlakukan penyesuaian kapitasi
1. Puskesmas
Klinik Pratama/ RS D Pratama/
Praktik mandiri dokter dengan kriteria minimal kerjasama 1 tahun dan peserta terdaftar minimal 5000
Penyesuaian
dilakukan pada FKTP yang meaksanakan KBK (kecuali Praktik Mandiri Dokter), dengan kriteria:
1. Telah bekerjasama minimal 1 tahun 2. Jumlah peserta
terdaftat minimal 5000
4. Waktu penilaian dan
penyesuaian kapitasi
1. Penilaian setiap bulan
2. Penyesuaian kapitasi dilakukan pada bulan ke 4 berdasarkan hasil rata-rata capaian 3 bulan
Penilaian dan penyesuaian
kapitalisasi
dilakukan setiap bulan berdasarkan hasil capaian target bulan Selanjutnya 5. Mekanisme
Penilaian
Penilaian dilakukan oleh Tim Penilai setiap bulan
Penilaian capaian berdasarkan
perhitungan dan oleh sistem aplikasi BPJS Kesehatan
1. Tim penilaian menjadi tim
17
No. Ketentuan PerBer KBK Per BPJS 7/2019 money KC
2. Saat ini FKTP bisa melihat capaian KBK melalui aplikasi Pcare.
6. Ketentuan Monitoring Evaluasi
Tim Monev terdiri dari:
1. Tim Monev Tingkat Provinsi
2. Tim Monev Tingkat Pusat
Tim Monev terdiri dari:
1. Tim Monev Tingkat Kantor Cabang
2. Tim Monev Tingkat Provinsi 3. Tim Monev
Tingkat Pusat 7 Keterlibatan
pemangku kepentingan
1. Dinkes Kab/Kota & TKMKB KC menjadi Tim Penilai
2. Dinkes Prov. TKMKB Prov&
Asosiasi menjadi Tim Monev Provinsi
3. Kemenkes dan Asosiasi Tk Pusat menjadi Tim Monev pusat
1. Dinkes Kab/Kota
& Asosiasi menjadi tim Monev
2. Dinkes Prov.
TKMKB Prov &
Asosiasi menjadi
Tim Monev
Provinsi 8. Indikator dan
target penilaian kinerja FKTP
1. Angka Kontak (≥ 150%) 2. Rasio Rujukan Non Spesialistik (<5%) 3. Rasio Prolanis Rutin Berkunjung (≥50%)
4. Rasio Kunjungan Rumah (100%/tahun)
1. Angka Kontak (≥150%)
2. Rasio Rujukan Non Spesialistik (≤ 2%) 3. Rasio Prolanis
Terkendali (≥5%)
18
No. Ketentuan PerBer KBK Per BPJS 7/2019 9. Penyesuaian
kapitasi berdasarkan capaian
1. Puskesmas dan Klinik Pratama a. 3 aman = 100%
b. 2 aman = 95%
c. 1 aman = 92.5%
d. Tidak ada = 90%
2. Praktik Mandiri Dokter dan RS D Pratama Hasil pencapaian menjadi target indikator dalam proses kredensialing dan perpanjangan kontrak.
1. Penilaian capaian merupakan bobot indikator
dikalikan dengan rating dari kriteria penilaian capaian kinerja
2. Puskesmas a. Nilai 4= 100%
b. Nilai 3-<4 = 95%
c. Nilai 2-<3 = 90%
d. Nilai 1-<2 = 85%
3. Klinik Pratama dan RS D Pratama a. Nilai 4= 100%
b. Nilai 3-<4 = 97%
c. Nilai 2-<3 = 96%
d. Nilai 1-<2 = 95%
4. Praktik Mandiri Dokter Menjadi pertimbangan dalam proses
rekrendensialing dan pelaksanaan PKS.
19
Tabel 2.4 Penyesuaian Kapitasi dengan Nilai Capaian Kinerja
Nilai Capaian
% Pembayaran Kapitasi
Puskesmas Klinik Pratama/RS D Pratama
4 100% 100%
3-<4 95% 97%
2-<3 90% 96%
1-<2 85% 95%
20 BAB III
HASIL PUSKESMAS
3.1 Profil Puskesmas Pakuan Baru Kota Jambi
Puskesmas Pakuan Baru Kota Jambi adalah unit pelaksana teknis Dinas Kesehatan Kota Jambi yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di sebagian wilayah kecamatan. Sebagai unit pelaksana teknis, Puskesmas melaksanakan sebagian tugas Dinas Kesehatan Kota Jambi, Puskesmas berdasarkan kebijakan dasar pusat kesehatan masyarakat mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam sistem kesehatan nasional dan sistem kesehatan kota.
Puskesmas memiliki fungsi yang penting dalam mendukung tercapainya tujuan pembangunan kesehatan nasional.
Puskesmas Pakuan Baru terletak di Wilayah Kelurahan Tambak Sari Kecamatan Jambi Selatan Kota Jambi. Wilayah kerja Puskesmas Pakuan Baru meliputi 3 kelurahan, yaitu Kelurahan Tambak Sari, Pakuan Baru, dan Wijaya Pura.
3.1.1 Lokasi Puskesmas Pakuan Baru Kota Jambi
Puskesmas Pakuan Baru secara administrasi terletak di wilayah kecamatan Jambi Selatan yang merupakan bagian wilayah kerja Puskesmas Pakuan Baru Kota Jambi, wilayah kerja puskesmas Pakuan Baru meliputi 3 kelurahan yaitu :
Tabel 3.1 Luas Wilayah, Jumlah Desa, Kelurahan, Jumlah Rumah Tangga, dan Kepadatan Penduduk Puskesmas Pakuan Baru Tahun 2024/2025
NO KELURAHAN LUAS WILAYAH
JUMLAH JUMLAH
RUMAH TANGGA
RATA-RATA JIWA RUMAH
TANGGA
KEPADATAN PENDUDUK DESA RT DESA /KM
RT
1 2 3 4 5 6 8 9 10
1. Tambak sari 1.46 km 1 34 34 2.174 4 7.876/km
2 Pakuan Baru 1,05 km 1 25 25 2.557 4 7.943/km
3 Wijaya Pura 1,16 km 1 23 23 1.752 4 6.948/km
JUMLAH 3.67 km 3 82 82 6.483 4 7.602/km
Letak dan luas wilayah kerja Puskesmas Pakuan Baru 5.89 km. Puskesmas Pakuan Baru terletak di kecamatan Jambi Selatan adalah sebagai berikut :
21
1. Sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Jambi Timur
2. Sebelah Selatan berbatasan dengan Kelurahan Thehok dan Kelurahan Pasir Putih
3. Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Jelutung 4. Sebelah Timur berbatasan dengan Kelurahan Talang Banjar 3.1.2 Demografi Puskesmas Pakuan Baru Kota Jambi
Data demografis meliputi data yang menggambarkan jumlah penduduk di Wilayah Kerja Puskesmas Pakuan Baru berdasarkan data akhir tahun 2024 adalah 27.900 jiwa, dengan perincian sebagaimana pada tabel berikut:4
Tabel 3.2 Jumlah Penduduk di Wilayah Kerja Puskesmas Pakuan Baru Tahun 2024/2025
No Desa/Kelurahan Jumlah Penduduk
1. Wijaya Pura 11.499
2. Pakuan Baru 8.341
3. Tambak Sari 8.060
Jumlah 27.900
3.2 Tenaga Kerja
Puskesmas Pakuan Baru Kota Jambi memiliki sumber daya tenaga sebanyak 85 orang. Dimana sebanyak 57 orang PNS, 5 orang honorer/kontrak dan 23 orang TKS.
Berdasarkan data akhir pada tahun 2024 dapat dilihat pada tabel dibawah ini.4 Tabel 3.3 Data Ketenagaan Pegawai di Puskesmas Pakuan Baru
No Jenis Tenaga Stattus Kepegawaian Jumlah Keterangan
PNS PTT HONOR TKS TKK
1 S2 1 - - - - 1
2 Dokter umum 4 - - - - 4
3 Dokter Gigi 2 - - - - 2
4 Apoteker - - - - 1 1
5 SKM 2 - - - - 2
6 Profesi Ners 7 - - - - 7
7 Sarjana Farmasi 2 - - - - 2
22
No Jenis Tenaga Stattus Kepegawaian Jumlah Keterangan
PNS PTT HONOR TKS TKK 8 Sarjana
Keperawatan
- - - - - -
9 Sarjana S-1 Gizi - - - - - -
10 D – IV Bidan - - - - - -
11 D – IV Kesehatan Gigi
3 - - - - 3
12 Sarjana S-1 Lainnya
- - - - 3 3
13 AKPER 6 - - 1 0 7
14 AKBID 13 - - 8 0 21
15 AKZI 2 - - - - 2
16 AKFAR 2 - - - - 2
17 AAK 3 - - - - 3
18 APK/AKL 0 - - 1 - 1
19 AKG - - - - - -
20 Bidan / D 1 - - - - - -
21 Perawat/SPK - - - - - -
22 SAA/SMF - - - - - -
23 SPPH - - - - - -
24 SMAK - - - - - -
25 SPAG - - - - - -
26 SPRG - - - - - -
27 Tenaga Akuntansi
- - - - 1 1
28 LCPK-SLTA 1 - - - - 1
23 SMA 2 - - - 5 7
24 Adminkes 2 - - - 2
25 LCPK(SMP) - - - - -
26 SLTP - - - - -
28 SD - - - - -
Jumlah 52 - - 10 10 72
27 4.2 Perumusan Penyebab Masalah
Permasalahan pelayanan jaminan kesehatan di Puskesmas Pakuan Baru adalah kurangnya jumlah peserta BPJS yang rutin/berkunjung ke FKTP serta banyaknya permintaan pasien untuk dirujuk ke dokter spesialis pada Puskesmas Pakuan Baru pada bulan Maret 2025.
Berdasarkan diagram fishbone diatas didapatkan kurangnya jumlah peserta BPJS yang rutin/berkunjung ke serta kurangnya jumlah prolanis Hipertensi yang rutin berkunjung ke FKTP di Puskesmas Pakuan Baru pada bulan Maret 2025 dapat terjadi dari berbagai faktor yaitu faktor manusia berupa kurangnya sosialisasi mengenai pentingnya kunjungan rutin ke FKTP, rendahnya kesadaran masyarakat/pasien. Sedangkan berdasarkan faktor proses berupa pengurusan administrasi asuransi yang rumit dan waktu tunggu yang lama, adanya peningkatan tarif asuransi dan pemberian terapi yang dirasakan tidak memberikan hasil, sehingga pasien bosan berobat ke Puskesmas. Faktor lingkungan juga
Lebih memilih membeli obat sendiri
Tidak mau ke FKTP
Antrian Panjang
Ketidakpuasan berobat
Harga obat HT Murah dan merasa
Merasa tidak ada keluhan
Kurangnya sosialisasi
mobile JKN Nakes kurang
ramah
Kurang edukasi/ Kurang Edukasi/
Sosialisasi Sosialisasi
Minat masyarakat berkurang
Administrasi rumit dan waktu tunggu yang lama
Banyak peserta yang non aktif
Lokasi Rumah Jauh
kurangnya jumlah peserta BPJS yang rutin/berkunjung ke FKTP
serta kurangnya prolanis HT yang rutin berkunjung
ke FKTP
Peningkatan tarif asuransi Bosan
Penyakit tidak kunjung sembuh
Proses Lingkungan
Obat yang tersedia terbatas
Gambar 4.1 Diagram Fishbone
Manusia SDM/Nakes
28
mempengaruhi kurangnya jumlah peserta BPJS berkunjung ke FKTP karena lokasi rumah yang cukup jauh dan kurangnya dukungan keluarga terhadap pasien.
4.3 Alternatif Pemecahan Masalah
Kurangnya Jumlah prolanis Hipertensi yang rutin berkunjung ke FKTP Puskesmas Pakuan Baru pada bulan Maret 2025 dapat diatasi dengan meningkatkan sosialisasi oleh petugas kesehatan di Puskesmas Pakuan Baru mengenai pentingnya kunjungan kontrol rutin bagi setiap individu masyarakat, terlebih lagi masyarakat dengan penyakit kronis seperti DM dan HT yang harus terus dipantau agar dapat terkendali. Selain itu perlu juga memberikan informasi dan edukasi mengenai jenis kegiatan prolanis beserta manfaat dan tujuannya.
Selain sosialisasi, membuat rencana kegiatan lain dan inovasi dalam rangka mengedukasi masyarakat untuk menanamkan kesadaran pentingnya rutinitas mengontrol kesehatan tubuh secara berkala, sehingga masyarakat nantinya semakin paham dan rajin untuk menjaga kesehatannya dengan selalu kontrol rutin ke Puskesmas. Penetapan waktu yang tepat untuk mengadakan acara prolanis juga sangat penting. Hendaknya kegiatan prolanis disesuaikan dengan jadwal yang disepakati peserta. Kendala jarak tempuh yang jauh dapat diminimalkan dengan mencari tempat kegiatan prolanis yang dekat dengan domisili mayoritas peserta prolanis. Penyebaran informasi mengenai kegiatan prolanis dapat secara langsung melalui ajakan petugas maupun secara tidak langsung, yaitu melalui brosur, bulletin, atau menggunakan telepon dan sms serta menggunakan media sosial.
Peningkatan mutu dan pelayanan petugas Puskesmas dalam melayani pasien yang berkunjung ke FKTP dan pasien prolanis pun dapat ditingkatkan lebih baik lagi, dengan harapan dapat meningkatkan minat dan kenyamanan serta kepuasan pasien dalam berkunjung ke FKTP Puskesmas Pakuan Baru dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan. Meningkatkan upaya sosialisasi mengenai JKN mobile kepada para pasien dan keluarga pasien untuk mengurangi antrean yang panjang di loket sehingga pasien ataupun keluarga pasien dapat mendaftarkan pasien tersebut melalui JKN mobile terlebih dahulu.
29
Untuk mengatasi keluhan pasien yang merasa bosan karena diberikan obat yang sama namun tidak kunjung sembuh, dapat dilakukan briefing internal berkala kepada pihak pelayanan mengenai ketersediaan obat di bagian farmasi, sehingga pemberian obat bisa lebih bervariasi.
31
dapat memberikan informasi dan mengingatkan peserta mengenai kegiatan prolanis sekaligus mengajak peserta prolanis untuk ikut serta dalam kegiatan secara rutin/reminder (misalnya setiap kali kunjungan peserta ataupun melalui telepon dan sms). Puskesmas bisa juga merancang agenda bulanan berupa pertemuan internal antara pihak pelayanan dengan farmasi untuk membahas ketersediaan obat agar dapat melayani pasien dengan obat- obatan yang tepat guna.
32
DAFTAR PUSTAKA
1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Buku Pegangan Sosialisasi Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dalam dalam sistem jaminan social nasional. Tim penyusun bahan sosialisasi dan advokasi JKN
2. Undang-Undang RI Nomor 40 tahun 2004. Sistem Jaminan Nasional Sosial.
3. Peraturan BPJS Kesehatan Nomor 7 Tahun 2019 tentang Petunjuk Pelaksanaan Sistem Pembayaran Kapitasi Berbasis Kinerja.
4. Puskesmas Pakuan Baru. Laporan Kinerja Puskesmas Pakuanbaru Tahun 2024 dan Rencana Usulan Kegiatan Tahun 2025. 2025