Ujian Akhir Semester
MATA KULIAH KEPEMIMPINAN DAN PENGEMBANGAN ORGANISASI PENDIDIKAN
Disusun Oleh:
Nurrizayani (2309200050011)
Dosen Pengampu: Dr. Nasir Usman, M.pd
PROGRAM STUDI MAGISTER ADMINISTRASI PENDIDIKAN UNIVERSITAS SYIAH KUALA
BANDA ACEH
2023 SOAL UJIAN 1
Setiap organisasi memiliki tujuan yang ingin dicapai. Untuk mencapai tujuan tersebut membutuhkan kepemimpinan. Tidak semua orang mampu berperan sebagai pemimpin, karena tugas yang harus diembannya begitu berat.
Pada saat mengambil keputusan harus melewati berbagai tahapan. Apalagi saat berhadapan dengan berbagai bawahan yang memiliki perbedaan dalam hal kepentingan, kebutuhan, dan karakter yang beragam. Untuk menghadapi hal tersebut membutuhkan ilmu, tipe atau gaya kepemimpinan yang mumpuni dengan kondisi sekolah kita masing-masing.(Semua jawaban harus didukung oleh jurnal yang relevan).
1) Jelaskan mengapa perlunya kepemimpinan pendidikan dalam pengelolaan sekolah atau lembaga pendidikan?
Jawab : Kepemimpinan pendidikan memainkan peran penting dalam pengelolaan sekolah atau lembaga pendidikan. Diantarnya adalah :
a. Menciptakan Visi dan Misi
Seorang pemimpin pendidikan membantu mengembangkan visi dan misi yang jelas untuk sekolah atau lembaga pendidikan. Visi ini menjadi panduan bagi seluruh komunitas pendidikan dalam mencapai tujuan bersama dan fokus pada hasil pembelajaran.
b. Mengelola Sumber Daya
Pemimpin pendidikan bertanggung jawab untuk mengelola sumber daya seperti anggaran, personel, dan fasilitas. Mereka harus membuat keputusan yang bijaksana dalam alokasi sumber daya untuk memastikan keberlanjutan dan kesejahteraan institusi.
c. Mendorong Inovasi dan Perubahan
Pendidikan terus berkembang, dan pemimpin pendidikan perlu mendorong inovasi dan perubahan yang relevan dengan kebutuhan siswa dan perkembangan dunia. Mereka harus memimpin inisiatif yang meningkatkan kualitas pembelajaran dan pengajaran.
d. Membangun Budaya Sekolah yang Positif
Kepemimpinan pendidikan membentuk budaya sekolah yang positif dan inklusif. Mereka harus menciptakan lingkungan yang mendukung kolaborasi, saling penghargaan, dan pertumbuhan pribadi dan profesional.
e. Mengarahkan Tim Pendidikan
Seorang pemimpin pendidikan memimpin dan membimbing tim pengajar dan staf administratif. Mereka bertanggung jawab untuk memotivasi dan mengembangkan anggota tim agar dapat memberikan yang terbaik bagi siswa.
f. Mengatasi Tantangan dan Konflik
Dalam mengelola sekolah atau lembaga pendidikan, pemimpin dihadapkan pada berbagai tantangan dan konflik. Pemimpin pendidikan yang efektif mampu mengatasi hambatan, menyelesaikan konflik, dan menjaga stabilitas institusi.
g. Membangun Kemitraan dengan Stakeholder
Kepemimpinan pendidikan melibatkan membangun kemitraan yang kuat dengan orang tua, komunitas lokal, dan pihak-pihak terkait lainnya.
Kerjasama ini penting untuk mendukung kesuksesan pendidikan dan mendapatkan dukungan yang diperlukan.
h. Menjaga Kualitas Pendidikan
Pemimpin pendidikan bertanggung jawab untuk menjaga dan meningkatkan kualitas pendidikan. Hal ini melibatkan pemantauan terhadap proses pembelajaran, evaluasi program, dan penerapan perubahan yang diperlukan untuk meningkatkan mutu pendidikan.
Kepemimpinan pendidikan adalah elemen kunci dalam menciptakan lingkungan belajar yang efektif dan berkualitas tinggi, serta membantu mempersiapkan generasi mendatang untuk menghadapi tantangan global. Hal ini sesuai dengan pendapat McKeever & the California School Leadership Academy (2003: 84), menjelaskan bahwa “leadership in educational institutions is very important for improving student achievement. Leaders in educational institutions regularly meet with small groups of colleagues to be able to work on developing curriculum collaboration and teaching strategies
that meet the needs of all students”. Kepemimpinan di lembaga pendidikan sangat penting untuk peningkatan prestasi siswa. Para pemimpin di lembaga pendidikan secara teratur bertemu dengan kelompok-kelompok kecil kolega untuk dapat bekerja pada pengembangan kolaborasi kurikulum dan strategi pengajaran yang memenuhi kebutuhan semua peserta didik.
2) Jelaskan apa yang dimaksud konsepsi kepemimpinan pendidikan?
(kemukakan beberapa pengertian dan rumuskan pengertian menurut Anda sendiri) Bagaimana penerapannya dalam pendidikan. Jelaskan?.
Jawab:
• Simerson & Venn (2006: 8), kepemimpinan adalah “typically the driving force behind the organization‘s being able to deliver on its value proposition”.Kepemimpinan biasanya merupakan kekuatan pendorong di belakang kemampuan organisasi untuk memenuhi proposisi nilainya.
• Osborne (2015: 7) menjelaskan bahwa “leadership is the ability to create an environment where everyone knows what contribution is expected and feels totally committed to doing a great job. Leadership is an essential skill for all successful principal to learn and practice regularly”. Kepemimpinan ialah kemampuan untuk menciptakan lingkungan di mana semua orang tahu kontribusi apa yang diharapkan dan merasa benar-benar berkomitmen untukmelakukan pekerjaan yang hebat. Kepemimpinan adalah keterampilan penting bagi semua pemimpin yang menginginkan kesuksesan dengan cara belajar dan berlatih secara teratur.
• Dalam buku Purwanto (2020: 193) menjelaskan bahwa “In 2001, the work of leaders included two things, challenges and demands, meaning large demands with challenges that remained potentially high levels of personal respect”. Pada tahun 2001, pekerjaan pemimpin meliputi dua hal, yakni tantangan dan tuntutan, artinya tuntutan yang besar dengan tantangan yang tetap berpotensi untuk tingkat penghargaan pribadi yang tinggi.
• Menurut saya konsepsi kepemimpinan pendidikan mengacu pada pandangan atau pemahaman mendasar tentang sifat, peran, fungsi, dan nilai kepemimpinan dalam konteks pendidikan. Ini melibatkan pemahaman tentang bagaimana kepemimpinan dapat membentuk, membimbing, dan mengelola proses pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan yang diinginkan.
3) Jelaskan mengapa kepemimpinan yang ideal harus memiliki kemampuan manajerial.
Jawab: Kepemimpinan yang ideal membutuhkan kemampuan manajerial karena kedua aspek ini saling melengkapi dan mendukung satu sama lain.
Kepemimpinan yang ideal harus memiliki kemampuan manajerial pengelolaan sumber daya yang ada disekolah, perencanaan dan pengorganisasian, pengambilan keputusan yang bijaksana, pemecahan masalah, pengembangan tim dan evaluasi dan efektifitas. Dengan memiliki kemampuan manajerial, seorang pemimpin dapat membimbing dan mengarahkan timnya secara lebih efisien dan efektif, memastikan bahwa sumber daya digunakan dengan bijaksana, dan mencapai tujuan organisasi atau tim dengan lebih sukses. Hal ini sesuai Purwanto (2020: 195) dengan pendapat Strategi pemimpin adalah menetapkan kebijakan atau aturan sekaligus mendapatkan keuntungan. Tujuan tindakan kepemimpinan dari teori manajemen yaitu menetapkan aturan untuk diikuti orang lain dalam norma organisasi yang telah ditetapkan.
4) Benarkah bahwa seorang pemimpin itu harus memiliki sifat yang kharismatis. Jelaskan
Jawab: Tidak selalu mutlak bahwa seorang pemimpin harus memiliki sifat yang kharismatis. Meskipun kepemimpinan karismatis dapat memberikan keuntungan tertentu, ada berbagai gaya kepemimpinan yang efektif dan berhasil, dan setiap situasi atau konteks mungkin memerlukan pendekatan yang berbeda. Namun, kepemimpinan kharismatis memiliki beberapa keunggulan tertentu yang dapat membantu memotivasi dan menginspirasi orang lain. Meskipun sifat kharismatis dapat membawa dampak positif,
penting untuk diingat bahwa kepemimpinan yang efektif juga memerlukan keterampilan manajerial, kebijaksanaan, empati, dan kemampuan untuk memahami konteks dan kebutuhan organisasi. Tidak semua pemimpin harus memiliki sifat kharismatis untuk berhasil, dan gaya kepemimpinan yang lebih tenang atau bersifat pemberdayaan juga dapat mencapai kesuksesan yang luar biasa tergantung pada kebutuhan dan karakteristik khusus dari tim atau organisasi tersebut. Oleh karena itu, pemilihan sifat kepemimpinan harus disesuaikan dengan kebutuhan dan situasi tertentu.
5) Sebutkan yang anda ketahui tentang gaya-gaya kepemimpinan. Beri contohnya?
Jawab: Ada beberapa gaya kepemimpinan yang telah diidentifikasi oleh berbagai teori kepemimpinan. Setiap gaya memiliki ciri khasnya sendiri dan cocok untuk situasi tertentu. Berikut adalah beberapa gaya kepemimpinan yang umum:
a. Kepemimpinan Otoriter (Autokratis)
Pemimpin mengambil keputusan sendiri tanpa melibatkan anggota tim.
Instruksi yang jelas diberikan, dan kontrol atas pekerjaan sangat tinggi.
Contoh: Dalam situasi darurat atau ketika keputusan cepat diperlukan, kepemimpinan otoriter dapat efektif. Contoh, seorang kepala sekolah yang memberikan perintah langsung dalam situasi darurat disekolah.
b. Kepemimpinan Demokratis
Pemimpin melibatkan anggota tim dalam proses pengambilan keputusan.
Keputusan diambil secara bersama-sama, dan komunikasi terbuka dianjurkan.
Contoh: Dalam pengambilan keputusan, kepala sekolah yang mengadakan rapat dengan gur-guru untuk mendiskusikan keputusan strategis bersama.
c. Kepemimpinan Transformasional
Pemimpin memotivasi dan menginspirasi anggota tim untuk mencapai tingkat kinerja yang lebih tinggi. Pemimpin ini seringkali memiliki visi yang kuat dan mampu mengubah budaya organisasi.
Contoh: Steve Jobs dari Apple sering dianggap sebagai pemimpin transformasional yang mengilhami inovasi dan ketelitian.
d. Kepemimpinan Situasional (Contingency)
Gaya kepemimpinan disesuaikan dengan keadaan atau situasi tertentu.
Pemimpin mungkin menggunakan pendekatan otoriter, demokratis, atau lainnya tergantung pada tuntutan situasional.
Contoh: Seorang kepala sekolah dapat mengadopsi gaya kepemimpinan yang berbeda-beda tergantung pada kebutuhan sekolah.
e. Kepemimpinan Servant (Pelayanan)
Pemimpin mengutamakan kepentingan dan kebutuhan anggota tim. Fokusnya adalah pada pelayanan dan membantu anggota tim berkembang.
Contoh: Pemimpin yang mengambil peran sebagai mentor dan bekerja untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan anggota timnya.
6) Jelaskan pada kuadran mana seorang Pemimpin organisasi Pendidikan seharusnya berada?
Jawab: seorang pemimpin organisasi pendidikan seharusnya berada dalam lebih dari satu kuadran, mengingat kompleksitas dan multifasetnya organisasi pendidikan. Seorang pemimpin harus bisa berada di kuadran struktural.
Pemimpin dalam kuadran ini mungkin fokus pada struktur dan tata kelola organisasi pendidikan. Mereka dapat menekankan perencanaan strategis, pengorganisasian efisien, dan implementasi kebijakan yang mendukung tujuan pendidikan. Kemudian pemimpin didalam organisasi pendidikan juga harus berada di kuadran manusia. Pemimpin dalam kuadran ini dapat fokus pada kesejahteraan siswa dan staf, pengembangan profesional, dan menciptakan lingkungan belajar yang positif. Mereka mungkin menekankan pada pendekatan pedagogis yang memperhatikan kebutuhan individu.
Selanjutnya kuadran simbolis. Pemimpin dalam kuadran ini mungkin fokus pada menciptakan makna dan budaya di dalam organisasi pendidikan.
Mereka dapat berupaya untuk mengkomunikasikan visi dan nilai-nilai pendidikan secara simbolis untuk memotivasi dan mengarahkan. Dan terakhir seorang pemimpin juga harus bisa berada di kuadran politik. Pemimpin dalam kuadran ini mungkin fokus pada aspek politik, kekuasaan, dan manajemen
konflik di dalam organisasi pendidikan. Mereka dapat berurusan dengan dinamika kebijakan, interaksi kekuasaan, dan menangani konflik.
Dalam kenyataannya, seorang pemimpin organisasi pendidikan yang efektif kemungkinan besar harus memiliki keseimbangan dalam keempat kuadran ini. Keseimbangan ini memungkinkan mereka untuk memahami dan mengelola berbagai aspek organisasi dengan holistik, menggabungkan kebijakan dan struktur efisien dengan perhatian pada kesejahteraan individu, pengembangan budaya, dan kemampuan untuk beroperasi dalam konteks politik yang kompleks.
Pimpinan suatu organisasi merupakan orang yang bertanggung jawab secara penuh terhadap berhasil atau tidaknya organisasi tersebut dalam mewujudkan organisasi yang berkualitas (Samsu, 2022: 65).
7) Gaya kepemimpinan yang seperti apakah bila anda menjadi pimpinan sebuah lembaga pendidikan. Jelaskan ?
Jawab: Efektivitas gaya kepemimpinan dapat sangat tergantung pada konteks, tugas, dan karakteristik individu dalam organisasi. Namun jika saya menjadi pimpinan di institusi pendidikan maka saya akan lebih memilih kepemimpinan yang demokratis. Melibatkan anggota tim dalam pengambilan keputusan, mendorong kerjasama, dan menciptakan lingkungan inklusif. Hal ini untuk mendukung partisipasi guru, staf, dan siswa dalam proses pengambilan keputusan, mengadopsi pendekatan kolaboratif untuk merancang program pendidikan. Namun pilihan gaya kepemimpinan harus disesuaikan dengan situasi, tujuan organisasi, dan kebutuhan individu di dalamnya. Kombinasi elemen-elemen dari beberapa gaya kepemimpinan juga bisa efektif tergantung pada keunikan lembaga pendidikan tertentu.
8) Berikan penjelasan anda tentang gaya kepemimpinan pendidikan yang efektif dalam membimbing bawahan untuk meningkatkan mutu pendidikan?
Jawab: Dalam organisasi, penerapan gaya kepemimpinan (leadership style) seseorang akan dapat mempengaruhi sikap dan perilaku para bawahannya (karyawan/pegawai) dalam melakukan pekerjaan mereka. Kepemimpinan
dalam suatu organisasi terjadi karena ada interaksi antara tiga komponen penting, yaitu pemimpin, bawahan dan situasi atau kondisi lingkungan kerja tertentu. Kepemimpinan Partisipatif (Demokratis) dapat meningkatkan mutu karena, Gaya kepemimpinan ini melibatkan bawahan dalam pengambilan keputusan, memungkinkan mereka merasa memiliki dan berkontribusi pada perubahan yang diperlukan. Kemudian kepemimpinan transformasional juga menjadi gaya yang bisa diterapkan karena, Kepemimpinan transformasional fokus pada memotivasi dan menginspirasi bawahan untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi dan meningkatkan mutu pendidikan. Pemimpin berperan sebagai model yang memberikan inspirasi dan membimbing bawahan menuju visi yang lebih besar.
Namun perlu diketahui kepemimpinan pada dasarnya merupakan suatu cara bagaimana seorang pemimpin mempengaruhi, mengarahkan, memotivasi, dan mengendalikan bawahannya dengan cara-cara tertentu, sehingga bawahan dapat menyelesaikan tugas pekerjaannya secara efektif dan efęsien Purwanto (2006).
9) Kemukakan pendapat anda nilai plus kepemimpinan transformasional dibandingkan kepemimpinan transaksional?
Jawab:
• Kepemimpinan Transformasional memotivasi dan menginspirasi anggota tim dengan menyajikan visi yang menarik. Pemimpin transformasional menciptakan semangat dan antusiasme untuk mencapai tujuan bersama. Sedangkan kepemimpinan transaksional lebih fokus pada pertukaran transaksi dan penggunaan insentif untuk mencapai tujuan. Mungkin kurang menekankan visi dan inspirasi.
• Kepemimpinan transformasional mendorong pengembangan pribadi dan profesional anggota tim. Pemimpin transformasional menjadi mentor dan pembimbing, membantu orang lain mencapai potensi maksimal mereka. Sedangkan kepemimpinan transaksional lebih berorientasi pada tugas dan memberikan penghargaan atau hukuman berdasarkan pencapaian atau ketidakberhasilan.
• Kepemimpinan transformasional mendukung kreativitas dan inovasi dengan menciptakan lingkungan yang mendukung gagasan baru.
Pemimpin transformasional mendorong anggota tim untuk berpikir di luar batas. Sedangkan kepemimpinan transaksional lebih cenderung mematuhi prosedur yang telah ditetapkan, dan kurang mendorong inovasi yang mencolok.
• Kepemimpinan transformasional lebih mampu menangani perubahan karena orientasinya pada inovasi dan fleksibilitas. Pemimpin transformasional dapat menginspirasi orang untuk mengatasi ketidakpastian dan tantangan. Sedangkan kepemimpinan transaksional mungkin menghadapi kesulitan dalam menanggapi perubahan yang cepat karena lebih berfokus pada pemenuhan tugas dan aturan yang ada.
• Kepemimpinan transformasional pemimpin transformasional seringkali menjadi teladan yang menginspirasi. Mereka mempraktikkan nilai-nilai yang ingin mereka lihat di antara anggota tim. Sedangkan kepemimpinan transaksional lebih cenderung melibatkan transaksi berbasis insentif dan hukuman, mungkin kurang menonjol sebagai contoh etika atau nilai-nilai tertentu.
10) Coba uraikan apa yang anda ketahui tentang kepemimpinan situasional dan kepemimpinan visioner?
Jawab:
a. Kepemimpinan situasional, yang dikembangkan oleh Paul Hersey dan Ken Blanchard, menekankan bahwa pemimpin yang efektif dapat menyesuaikan gaya kepemimpinannya sesuai dengan kebutuhan dan tingkat kesiapan (kompetensi dan keterlibatan) anggota tim atau bawahan.
Kelebihan:
• Fleksibilitas dalam menghadapi berbagai situasi dan anggota tim.
• Memberikan pendekatan yang terfokus pada pengembangan individu.
Keterbatasan:
• Memerlukan pemahaman yang baik tentang kesiapan individu.
• Proses evaluasi kesiapan dapat rumit.
b. Kepemimpinan visioner menekankan pada kemampuan pemimpin untuk mengartikulasikan dan menginspirasi orang-orang dengan visi yang jelas dan menarik tentang masa depan. Pemimpin visioner memiliki kemampuan untuk membimbing orang menuju tujuan yang besar dan bermakna.
Kelebihan:
• Memotivasi dan menginspirasi anggota tim.
• Menciptakan fokus jangka panjang dan arah untuk organisasi.
• Mendorong inovasi dan aspirasi yang tinggi.
Keterbatasan:
• Tidak semua situasi memerlukan pemimpin yang sangat visioner.
• Tidak semua orang memiliki kemampuan untuk mengembangkan dan mengartikulasikan visi dengan jelas.
Kepemimpinan situasional menekankan fleksibilitas dalam merespons kebutuhan situasional dan anggota tim, kepemimpinan visioner fokus pada memberikan arah dan inspirasi melalui visi yang kuat.
11) Kemukakan ciri-ciri seseorang yang visioner yang mampu melihat dan memanfaatkan peluang-peluang di masa depan?
Jawab: Seorang pemimpin yang visioner memiliki kemampuan unik untuk melihat dan memanfaatkan peluang-peluang di masa depan. Berikut adalah beberapa ciri-ciri khas yang dimiliki oleh individu yang visioner:
a. Imajinatif dan Kreatif
Mampu membayangkan dan menciptakan gambaran masa depan yang belum terwujud. Berpikir di luar batas dan memiliki daya kreatif yang tinggi untuk merancang solusi inovatif.
b. Jelas Visinya
Memiliki visi yang jelas dan terinci tentang keadaan yang diinginkan di masa depan. Mampu mengkomunikasikan visi tersebut secara meyakinkan kepada orang lain.
c. Fleksibel dan Adaptif
Bersedia beradaptasi dengan perubahan dan tantangan yang mungkin muncul di masa depan. Mampu mengubah visi dan strategi berdasarkan evolusi situasi.
d. Pemikir Jangka Panjang
Berorientasi pada tujuan jangka panjang dan memiliki ketahanan untuk menghadapi tantangan sementara mempertahankan fokus pada visi besar. Menilai dampak dan implikasi jangka panjang dari keputusan dan tindakan.
e. Rasa Percaya Diri dan Determinasi
Yakin pada visi dan ide-idenya. Memiliki tekad dan ketekunan untuk mengejar tujuan visioner meskipun menghadapi rintangan.
f. Antisipatif
Mampu membaca tren dan pola di lingkungan sekitar untuk memprediksi peluang dan ancaman di masa depan. Antisipatif terhadap perkembangan global dan perubahan dalam industri atau bidang tertentu.
g. Berpikir Sistemik
Melihat gambaran secara keseluruhan dan memahami hubungan antara berbagai elemen dalam suatu sistem. Mampu mengidentifikasi bagaimana keputusan di satu area dapat mempengaruhi seluruh organisasi atau lingkungan.
h. Berani Mengambil Risiko
Bersedia mengambil risiko yang terukur untuk mencapai tujuan visioner. Melihat kesempatan di balik risiko dan tidak takut untuk berinovasi.
i. Berorientasi pada Solusi
Fokus pada mencari solusi ketimbang mengeluh tentang masalah.
Menggunakan rintangan sebagai peluang untuk tumbuh dan meningkatkan visi.
j. Kemampuan Memotivasi Orang Lain:
Memiliki kemampuan untuk menginspirasi dan memotivasi orang lain untuk berkontribusi pada visi bersama. Mampu menciptakan semangat dan antusiasme di sekitar mereka.
Syarat yang harus dimiliki oleh pemimpin visioner (visionary leadership) adalah visi sebagai penggerak cita-cita yang ingin diwujudkan.
(Goleman, 2006). Daniel Goleman mengungkapkan ciri-ciri kepemimpinan visioner menggunakan inspirasi bersama yaitu kepercayaan diri, kesadaran diri dan empati.
12) Dalam model kepemimpinan partisipasi, bagaimana tingkat kematangan bawahan. Jelaskan?
Jawab: Model kepemimpinan partisipatif memfokuskan pada tingkat kematangan bawahan. Model ini mengusulkan bahwa gaya kepemimpinan yang efektif harus disesuaikan dengan tingkat kematangan atau kesiapan bawahan dalam menangani tugas tertentu. Tingkat kematangan bawahan diukur berdasarkan dua dimensi utama: kompetensi dan keterlibatan.
Berikut adalah empat tingkat kematangan bawahan dalam model kepemimpinan partisipatif:
a. Tingkat Kematangan Rendah (Low Maturity)
Bawahan memiliki keterbatasan pengetahuan atau keterampilan dalam melakukan tugas tertentu. Hal itu dikarenakan kurang berkomitmen atau kurang percaya diri.
b. Tingkat Kematangan Sedang-Rendah (Low to Moderate Maturity) Bawahan memiliki tingkat keterampilan yang lebih tinggi, tetapi mungkin masih kurang percaya diri atau termotivasi. Hal ini membutuhkan dorongan ekstra atau dukungan.
c. Tingkat Kematangan Sedang-Tinggi (Moderate to High Maturity) - Bawahan memiliki tingkat keterampilan yang tinggi dan motivasi yang
baik. Mampu bekerja secara mandiri tetapi mungkin membutuhkan dukungan atau pengakuan.
d. Tingkat Kematangan Tinggi (High Maturity)
Bawahan memiliki tingkat keterampilan dan motivasi yang tinggi.
Mampu bekerja mandiri dan memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi.
Penting untuk dicatat bahwa tingkat kematangan bawahan dapat bervariasi untuk setiap tugas atau situasi tertentu. Dalam model ini, kepemimpinan yang efektif adalah kepemimpinan yang dapat beradaptasi dengan tingkat kematangan bawahan untuk memastikan dukungan dan bimbingan yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Oleh karena itu, pemimpin harus mampu membaca dan mengevaluasi tingkat kematangan bawahan untuk memilih gaya kepemimpinan yang paling sesuai.
13) Jelaskan bahwa dalam model kepemimpinan delegating, seorang pemimpin berposisi sebagai apa ?
Jawab: Dalam model kepemimpinan delegating, seorang pemimpin berposisi sebagai pemimpin yang memberikan tanggung jawab dan wewenang secara luas kepada bawahan atau tim. Dalam konteks ini, pemimpin mempercayakan bawahan untuk mengambil inisiatif, membuat keputusan, dan menyelesaikan tugas dengan tingkat otonomi yang tinggi.
14) Jelaskan mengapa seorang pemimpin wajib menghindari sifat kepemimpinan yang “laisser faire”?
Jawab:
a. Ketidakjelasan dan Ketidakpastian
Kekurangan arahan dan bimbingan dari pemimpin dapat menciptakan ketidakjelasan dalam tugas dan tujuan. Bawahan mungkin merasa kebingungan atau kehilangan arah tanpa pedoman yang jelas.
b. Kesulitan dalam Mengambil Keputusan
Tanpa arahan yang memadai, bawahan mungkin mengalami kesulitan dalam mengambil keputusan atau menyelesaikan tugas. Keputusan
yang tidak konsisten atau tidak terkoordinasi dapat merugikan produktivitas dan efisiensi.
c. Kurangnya Motivasi dan Keterlibatan
Tanpa dukungan atau dorongan yang memadai, bawahan kehilangan motivasi untuk melakukan tugas atau mencapai tujuan. Rasa tanggung jawab dan keterlibatan menurun.
d. Kurangnya Pengarahan dan Koordinasi Tim
Dalam situasi di mana kerjasama dan koordinasi tim diperlukan, kekurangan arahan dan pemimpin yang pasif dapat mengakibatkan ketidakcocokan dan konflik. Tim kesulitan bekerja secara efektif bersama.
e. Kurangnya Pengawasan
Tanpa pengawasan yang memadai, bawahan kurang akuntabel terhadap tugas dan tanggung jawab mereka. Hal ini dapat menyebabkan kinerja yang tidak memadai atau kurangnya akuntabilitas.
15) Jelaskan mengapa seorang pemimpin harus dapat berperan menjadi : guru, bapak, kawan, dokter, polisi dan militer?
Jawab: Kemampuan seorang pemimpin untuk berperan sebagai guru, bapak, kawan, dokter, polisi, dan militer mencerminkan fleksibilitas dan kemampuannya untuk mengadaptasi gaya kepemimpinan sesuai dengan kebutuhan dan situasi yang berbeda. Melibatkan peran-peran ini memungkinkan seorang pemimpin untuk merespons berbagai tantangan dan dinamika dalam lingkungan organisasi. Adapun pemimpin yang efektif, kemampuan untuk beradaptasi dan menggunakan peran-peran tersebut sesuai dengan konteks dan kebutuhan tim atau organisasi menjadi kunci keberhasilannya. Pemimpin yang dapat berfungsi dalam berbagai peran ini dapat menciptakan lingkungan yang seimbang, mendukung, dan efisien di dalam tim atau organisasi yang mereka pimpin.
16) Apa yang dimaksud dengan pernyataan bahwa seorang pemimpin harus menjadi “panutan” anak buahnya. Jelaskan
Jawab: Pernyataan bahwa seorang pemimpin harus menjadi "panutan" anak buahnya mengacu pada konsep bahwa pemimpin seharusnya menjadi teladan atau contoh yang baik bagi anggota tim atau bawahan. Ini berarti bahwa pemimpin tidak hanya memberikan arahan dan petunjuk, tetapi juga menunjukkan sikap, nilai-nilai, dan perilaku yang diharapkan dari anggota tim. Oleh karena itu, seorang pemimpin yang menjadi panutan memberikan contoh positif dan memimpin dengan integritas. Pemimpin yang berhasil sebagai panutan memberikan inspirasi dan membimbing anggota tim menuju kesuksesan. Pemimpin yang dapat dijadikan panutan menciptakan budaya kerja yang positif dan memotivasi orang lain untuk memberikan yang terbaik dari diri mereka.
17) Uraikan bahwa menjadi pemimpin dilihat dari sifatnya by born dan by made. Jelaskan dan beri contohnya
Jawab:
a. By Born (Lahiriah)
Pemimpin yang dilihat dari perspektif "by born" meyakini bahwa sifat kepemimpinan adalah karakteristik yang sudah ada sejak lahir.
Artinya, seseorang lahir dengan kualitas kepemimpinan tertentu yang membuatnya lebih mungkin menjadi pemimpin yang efektif.
Contoh: Seorang individu yang memiliki sifat-sifat alami seperti karisma, ketegasan, dan daya pengaruh yang kuat mungkin dianggap sebagai pemimpin yang lahiriah. Contoh lainnya mungkin mencakup sifat-sifat seperti kepercayaan diri, ketekunan, dan kebijaksanaan alami yang membuat seseorang memimpin dengan mudah.
b. By Made (Dikembangkan)
Pemimpin yang dilihat dari perspektif "by made" percaya bahwa kepemimpinan dapat dikembangkan dan diperoleh melalui pembelajaran, pengalaman, dan usaha yang disengaja. Ini berarti bahwa seseorang dapat menjadi pemimpin yang efektif dengan mengasah keterampilan kepemimpinan dan mengembangkan sifat- sifat yang diperlukan.
Contoh: Seseorang yang mungkin tidak memiliki sifat kepemimpinan alami dapat menjadi pemimpin melalui pendidikan, pelatihan kepemimpinan, dan pengalaman kerja. Melalui usaha dan komitmen untuk belajar, individu ini dapat mengembangkan keterampilan komunikasi, kepemimpinan, dan manajerial yang diperlukan untuk menjadi pemimpin yang sukses.
SOAL UJIAN 2
Kasus: Zaman telah berubah, untuk mengikuti dan mengantisipasi perubahan sekolah dituntut melakukan inovasi-inovasi dalam mengembangkan sekolahnya. Bila tidak, sekolah akan ketinggalan dan zaman dan kalah dalam bersaing mendapatkan siswa baru. Stakeholders sekolah akan meninggalkan sekolah dan mencari sekolah lain yang lebih inovatif. Tugas: Identifikasi inovasi-inovasi apa yang Anda lakukan untuk mengembangkan sekolah?
Jawab: Dalam mengembangkan sekolah dan tetap relevan dalam menghadapi perubahan zaman, berbagai inovasi perlu diterapkan. Berikut adalah beberapa inovasi yang dapat diidentifikasi dan diimplementasikan untuk meningkatkan pengalaman belajar, daya saing, dan daya tarik siswa:
1. Teknologi Pendidikan
Penggunaan Platform Pembelajaran Digital: Memanfaatkan platform pembelajaran online, video pembelajaran, dan sumber daya digital untuk memberikan akses pendidikan yang lebih interaktif dan dinamis.
Penerapan E-learning dan Blended Learning: Menggabungkan pembelajaran daring dan tatap muka untuk memberikan fleksibilitas kepada siswa dan mempersonalisasi proses pembelajaran.
2. Pembelajaran Berbasis Proyek
Kurikulum Berbasis Proyek: Mengintegrasikan proyek-proyek nyata ke dalam kurikulum untuk meningkatkan pemahaman siswa dan keterampilan praktis.
Kolaborasi Antar Pelajar: Mendorong kerja kelompok dan kolaborasi untuk meningkatkan keterampilan sosial, pemecahan masalah, dan kemampuan berpikir kritis.
3. Pendidikan STEM (Sains, Teknologi, Rekayasa, Matematika)
Pengembangan Program STEM: Membangun program khusus untuk mata pelajaran STEM guna menyiapkan siswa menghadapi tantangan teknologi masa depan.
Laboratorium Virtual dan Peralatan Canggih: Menyediakan fasilitas laboratorium virtual dan peralatan canggih untuk mendukung eksperimen dan penelitian di bidang STEM.
4. Pendidikan Karakter
Pengembangan Program Karakter:
Menyusun program yang fokus pada pengembangan karakter, etika, kepemimpinan, dan tanggung jawab sosial.
Mentorship dan Pembinaan: Menyediakan program mentorship untuk membantu siswa dalam mengembangkan potensi pribadi dan profesional.
5. Konektivitas dengan Dunia Industri
Program Magang dan Praktik Kerja: Menyediakan kesempatan bagi siswa untuk mendapatkan pengalaman praktis di dunia industri.
Kemitraan dengan Perusahaan: Membangun hubungan dengan perusahaan untuk mendukung pengembangan kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan industri.
6. Inovasi dalam Evaluasi dan Penilaian
Penggunaan Metode Penilaian Formatif: Menerapkan penilaian yang berkelanjutan dan memberikan umpan balik untuk mendukung pertumbuhan siswa.
Pengukuran Keterampilan Soft Skills: Menilai dan mengembangkan keterampilan lunak seperti komunikasi, kerja tim, dan kreativitas.
7. Pelatihan Guru dan Pengembangan Profesional
Pelatihan Berkelanjutan: Menyediakan pelatihan berkala untuk membekali guru dengan keterampilan dan pengetahuan terbaru.
Komunitas Pembelajaran Guru: Mendorong kolaborasi dan pertukaran ide antar guru untuk meningkatkan kualitas pengajaran.
SOAL UJIAN 3
Saya selalu kurang dan tak pernah merasa puas dengan keberhasilan sekolah.
Saya juga ingin menjadi kepala sekolah berprestasi tingkat kabupaten. Prestasi tersebut sudah tercapai. Namun, saya masih belum puas. Saya bercita-cita ingin menjadi kepala sekolah berprestasi tingkat propinsi bahkan tingkat nasional.
Untuk mencapai itu semua saya bekerja keras, cerdas, dan ikhlas. Dengan cita- cita setinggi langit itu, saya bekerja keras sering di luar jam kerja mengarahkan dan membimbing guru agar mengejar prestasi yang tinggi.
Akibatnya saya sering disindir oleh kepala sekolah lainnya yang prestasinya biasa- biasa saja. Mereka menganggap saya sangat ambisius, cari muka, dan ingin menonjol sendiri. Tugas:Bagaimana anda mengatasi kasus di atas?
Jawab: Mengatasi situasi tersebut memerlukan keseimbangan antara ambisi untuk mencapai prestasi tinggi dan menjaga hubungan profesional dengan rekan kerja.
Berikut beberapa langkah yang dapat saya pertimbangkan:
1. Komunikasi Terbuka
Menjelaskan niat dan tujuan jangka panjang kepada rekan kerja, termasuk kepala sekolah lainnya. Pastikan mereka memahami bahwa ambisi saya bukan untuk merendahkan mereka, tetapi sebagai dorongan untuk meningkatkan mutu pendidikan secara keseluruhan. Menjelaskan bahwa tujuan saya untuk terus mengukir prestasi terbaik adalah untuk meningkatkan pendidikan daerah.
2. Berkolaborasi dan Berbagi Ide
Mengajak rekan kerja untuk berkolaborasi dalam proyek atau inisiatif yang dapat meningkatkan prestasi sekolah secara bersama-sama. Hal ini dapat diharapakan dapat mengurangi persepsi bahwa saya hanya ingin menonjol sendiri.
3. Berkontribusi pada Kesuksesan Bersama
Fokuslah pada upaya bersama untuk meningkatkan mutu pendidikan.
Bagikan prestasi dan inovasi yang telah dicapai oleh sekolah, guru, dan staf lainnya. Bukan hanya menyoroti pencapaian pribadi.
4. Berikan Pengakuan pada Kepala Sekolah Lainnya
Memberikan apresiasi dan pengakuan pada prestasi dan kontribusi kepala sekolah atau guru lainnya. Hal ini dapat membangun hubungan yang baik dan saling menghormati.
SOAL UJIAN 4.
Di suatu Sekolah Menengah Pertama yang berada di Kota Pasundan kepala sekolah asal Jakarta telah mengeluhkan kepada temannya mengenai bebannya yang berat dalam memimpin sekolah. Pasalnya ia kurang didukung oleh personil sekolah dalam berbagai tindakan untuk mencapai visi sekolah. Ia menuturkan bahwasanya apa yang telah ia pelajari di Cambride University Australia telah ia praktekkan sebagaimana didapatkan semasa kuliah dulu ketika mengambil S2 di program studi Administrasi Pendidikan, namun para personil sekolah tidak bekerja sebagaimana ia harapkan, bahkan ia diacuhkan dan dikucilkan karena dianggap sombong oleh personil sekolah lainnya yang mayoritas berasal dari Kota Pasundan. Setelah diidentifikasi secara langsung apa yang terjadi kepada para personil sekolah melalui wawancara langsung, para personil sekolah mengungkapkan bahwa kepemimpinan kepala sekolah tidak cocok dengan gaya kerja kami sebagai orang pasundan. Dia terlalu demokratis dan begitu bebas. Padahal kami begitu bingung dengan apa yang harus kami lakukan jika kepala sekolah meminta kami untuk melakukan sesuatu dan segala sesuatunya diserahkan kepada kami.
Kami merasa tidak tahu apa keinginan kepala sekolah dan apabila kami ada kesalahan, kepala sekolah begitu bebas memberikan koreksi dan teguran tanpa memandang apapun dan dimanapun.Akhirnya kami bekerja seadanya saja dan tidak bersemangat untuk bekerja rajin atau lebih rajin. (Analisis jawaban dukung teori dan jurnal).
1) Coba anda identifikasi permasalahan yang dihadapi oleh kepala sekolah dalam memimpin sekolah?
Jawab:
a) Ketidaksesuaian Gaya Kepemimpinan
Gaya kepemimpinan kepala sekolah, yang dianggap terlalu demokratis dan bebas, tidak sesuai dengan preferensi dan gaya kerja
personil sekolah yang mayoritas berasal dari Kota Pasundan. Gaya kepemimpinan yang selama ini diteorikan lebih mengarah bagaimana para pemimpin mampu mempengaruhi para pengikut agar depan sukarela mau melakukan berbagai tindakan bersama yang di perintahkan oleh pemimpin oleh pemimpin tanpa merasa bahwa dirinya di tekan dalam rangka mencapai tujuan organisasi (Nurjaya dkk, 2020:36).
b) Kurangnya Komunikasi Efektif
Kurangnya komunikasi efektif dari kepala sekolah terkait dengan keinginan, harapan, dan arahan menyebabkan kebingungan di antara personil sekolah. Komunikasi mempunyai peran penting dalam sebuah organisasi. Tahir, 2014) menjelaskan Perilaku organisasi tidak terlepas, bagaimana mereka berkomunikasi untuk memahami pesan dan mengubah tingkah laku mereka. Komunikasi efektif akan terjadi dalam suatu organisasi, jika para pimpinan, anggota, dan seluruh orang-orang yang didalamnya saling memahami dan saling pengertian (Darmawan, 2022:112).
c) Persepsi dan Keterlibatan Personil Sekolah
Persepsi personil sekolah bahwa kepala sekolah terlalu bebas dan kurang memberikan panduan menyebabkan rendahnya motivasi dan keterlibatan dalam pekerjaan. Seorang pemimpin harus bisa mengambil keputusan yang tepat, cepat, tegas. Setiap keputusan yang diambilnya bisa meyakinkan anggotanya, bahwa keputusan yang diambilnya sudah benar dan melalui tahapan yang matang. Ketika keputusan itu sudah diambil, maka ia harus meyakinkan para anggotanya agar keputusan itu bisa dijalankan dengan sebaik-baiknya (Darmawan, 2022:6).
d) Tidak Adanya Dukungan dan Penerimaan
Personil sekolah tidak mendukung dan bahkan mengucilkan kepala sekolah karena dianggap sombong dan tidak sesuai dengan budaya lokal. Robbins dan Judge (2008) dalam jurnal Imara (2020:1) gaya
kepemimpinan transformasional adalah pemimpin yang menginspirasi para pengikutnya untuk menyampingkan kepentingan pribadi demi kebaikan organisasi.
e) Ketidakjelasan Ekspektasi dan Koreksi Tidak Terarah
Ketidakjelasan dalam ekspektasi dan koreksi yang tidak terarah membuat personil sekolah merasa bingung dan tidak termotivasi.
Seorang pemimpin tidak hanya mampu mempengaruhi, tapi juga menggerakan, memberikan motivasi para anggota dan karyawan untuk mencapai tujuan yang diinginkan (Darmawan, 2022:6).
2) Kemukakan pendapat anda mengapa personil sekolah tidak bertindak sebagaimana diharapkan oleh kepala sekolah?
Jawab: Menurut saya personil sekolah tidak bertindak sebagaimana yang diharapkan oleh kepala sekolah adalah Karena gaya kepemimpinan yang tidak sesuai dengan orang Pasundan. Walaupun kepala sekolah lulusan luar negeri namun kepala sekolah juga harus memahami tingkat kemampuan dari personil sekolah. Hal ini sesuai dengan pendapat Carter V. Good dalam Siswadi (2003:251) menjelaskan “Kepemimpinan tidak lain adalah kesiapan mental yang terwujudkan dalam bentuk kemampuan seseorang untuk memberikan bimbingan, mengarahkan dan mengatur serta menguasai orang lain agar mereka berbuat sesuatu, kesiapan dan kemampuan kepada pemimpin tersebut untuk memainkan peranan sebagai juru tafsir atau pembagi penjelasan tentang kepentingan, minat, kemauan, cita-cita atau tujuan-tujuan yang diinginkan untuk dicapai oleh kelompok atau individu”.
3) Solusi apa yang akan anda tawarkan kepada kepala sekolah untuk memecahkan permasalahan kasus di atas?
Jawab: Berdasarkan permasalahan yang diidentifikasi, berikut adalah beberapa solusi yang dapat ditawarkan kepada kepala sekolah untuk mengatasi situasi tersebut:
a. Komunikasi Terbuka dan Jelas : Tingkatkan komunikasi dengan personil sekolah, terutama terkait visi, misi, dan ekspektasi kepala sekolah.
Sampaikan dengan jelas arahan, tugas, dan harapan yang diinginkan untuk mencapai tujuan sekolah.
b. Partisipatif dalam Pengambilan Keputusan: melibatkan personil sekolah dalam proses pengambilan keputusan untuk meningkatkan rasa kepemilikan dan keterlibatan mereka dalam merencanakan dan melaksanakan inisiatif sekolah.
c. Bersinergi dengan Budaya Lokal: Perhatikan dan pahami lebih dalam budaya dan gaya kerja masyarakat Pasundan. Sesuaikan gaya kepemimpinan dengan nilai-nilai lokal untuk menciptakan lingkungan kerja yang lebih harmonis.
d. Memberikan Pemahaman Tentang Perubahan: menyampaikan dengan jelas mengapa perubahan diperlukan dan bagaimana setiap personil sekolah dapat berkontribusi. Berikan pemahaman tentang manfaat perubahan untuk motivasi yang lebih besar.
e. Memberikan Pelatihan dan Dukungan: memberikan pelatihan kepada personil sekolah terkait dengan perubahan atau inovasi yang diperlukan.
Sediakan dukungan dan bimbingan untuk membantu mereka mengatasi ketidakpastian.
f. Membangun Hubungan dan Kepercayaan: meluangkan waktu untuk membangun hubungan yang positif dan kepercayaan dengan personil sekolah. Keterbukaan, kerjasama, dan rasa saling menghargai dapat membantu menciptakan lingkungan yang lebih positif.
Penerapan solusi ini perlu dilakukan secara bertahap dan melibatkan kolaborasi aktif dengan personil sekolah. Pendekatan yang inklusif, penuh perhatian terhadap budaya lokal, dan keterlibatan aktif dapat membantu menciptakan lingkungan kerja yang lebih positif dan produktif di sekolah.
4) Teori motivasi apa yang anda gunakan untuk memecahkan hal tersebut?
Jawab: Newstorm pernah mengungkapkan bahwa pemimpin harus mampu meningkatkan motivasi bawahannya. Ada beberapa hal yang bisa muncul dalam motivasi kerja, yaitu: (Newstorm, 2011)
a. Memberikan informasi, pengetahuan kepada karyawan apa yang dibutuhkan agar mereka bisa melakukan pekerjaan dengan maksimal.
b. Merespon dan memberikan feedback kepada karyawan dengan baik dan secara teratur.
c. Karyawan diberikan kesempatan untuk memberi masukan dan saran dan melibatkan mereka dalam mengambil keputusan yang bisa mempengaruhi pekerjaanya.
d. Membuka akses dan saluran komunikasi secara terbuka agar memudahkan karyawan menyampaikan pertanyaan, rasa khawatir dan kepuasaan dalam menerima jawaban.
e. Untuk bisa memotivasi karyawan, perlu dipelajari dari karyawan atau anggota.
f. Sikap menghargai setiap pekerja yang sudah mereka lakukan.
g. Membina hubungan baik secara intens dengan para karyawan.
h. Jika karyawan melakukan pekerjaan dengan baik, jangan sungkan untuk memberikan selamat dan penghargargaan walaupun hanya sikap dan perkataan.
i. Memberikan perhatian walaupun hal yang kecil dan kenali apa yang menajdi kebutuhan pribadi karyawan.
j. Memberikan catatan dan tulisan di memo secara pribadi agar karyawan mengetahui hasil kinerja mereka.
k. Pastikan karyawan sudah memiliki apa yang mereka butuhkan dalam bekerja dan sarana kerja yang baik.
l. Memberika kesempatan kepada karyawan untuk bekerja yang bisa dikerjakan dan memberikan perhatian dan memperlihatkan akan perkembangan yang dicapai dan memberi peluang untuk mempelajari kemampuan dan pengalaman baru.
m. Memberikan rasa aman, nyaman dan menyenangkan hingga memunculkan rasa “bermasyarakat” dalam lingkungan kerja sehingga mereka merasa betah dalam bekerja.
n. Karyawan yang bekerja dengan hasil yang baik bisa diberikan gaji karyawan secara bersaing.
o. Menawarkan kepada setiap karyawan “pembagian keuntung atau profit sharing.
Sedangkan menurut Robins (2006) bahwa teori McClelland, teori motivasi itu ada 3 item, yaitu:
a. Kebutuhan akan prestasi. Yaitu kebutuhan yang didorong untuk mengungguli, menyaingi, berprestasi dan mencapai sebuah kesuksesan.
b. Kebutuhan akan kekuasaan. Yaitu Kebutuhan berperilaku yang diinginkan sesuai keinginan pimpinan dan tanpa ada paksaan.
c. Kebutuhan akan afiliasi. Yaitu kebutuhan akan sebuah hubungan yang akrab antar pribadi dengan yang lainnya. Kebutuhan akan hubungan yang saling terbuka, hangat dan saling mendukung.
Seorang pemimpin harus mempunyai motivasi yang tinggi dibandingan dengan bawahannya atau karyawannya. Ia tidak sekedar mempengaruhi saja, tapi menjadi penggerak dan menjadi garda terdepan dalam memberikan contoh-contoh yang baik, sehingga perkataannya selaras dengan perbuatannya dalam kehidupan sehari-hari (Darmawan, 2022:122).
5) Hal-hal apa yang dapat menjadikan personil sekolah menjadi puas?
Jawab:
a. Komunikasi yang Terbuka
Komunikasi yang terbuka dan efektif antara kepala sekolah dan personil sekolah dapat meningkatkan pemahaman, mengurangi kebingungan, dan membangun kepercayaan
b. Pemberian Penghargaan dan Pengakuan
Memberikan penghargaan dan pengakuan terhadap prestasi dan kontribusi personil sekolah dapat meningkatkan motivasi dan kepuasan kerja.
c. Pemahaman Terhadap Budaya Lokal
Memahami dan menghormati budaya lokal, termasuk gaya kerja masyarakat Pasundan, dapat membantu kepala sekolah menyesuaikan gaya kepemimpinan untuk menciptakan lingkungan yang lebih harmonis.
d. Partisipasi dalam Pengambilan Keputusan
Meningkatkan partisipasi personil sekolah dalam pengambilan keputusan dapat memberikan mereka rasa memiliki dan meningkatkan motivasi intrinsik.
e. Penyediaan Dukungan dan Pelatihan
Menyediakan dukungan, bimbingan, dan pelatihan dapat membantu personil sekolah merasa didukung dalam tugas-tugas mereka.
f. Pemberian Tanggung Jawab yang Jelas
Memberikan tanggung jawab yang jelas dan arahan yang terarah dapat membantu mengurangi kebingungan dan meningkatkan keterlibatan personil sekolah.
Melalui perhatian terhadap faktor-faktor ini, kepala sekolah dapat menciptakan lingkungan kerja yang lebih positif, memotivasi personil sekolah, dan meningkatkan tingkat kepuasan mereka.
SOAL UJIAN 5
Saya selalu kurang dan tak pernah merasa puas dengan keberhasilan sekolah.
Ujian Assesmen Kompetensi Nasional atau AKM. Saya juga ingin menjadi kepala sekolah berprestasi tingkat kabupaten. Prestasi tersebut sudah tercapai.
Namun, saya masih belum puas. Saya bercita-cita ingin menjadi kepala sekolah berprestasi tingkat propinsi bahkan tingkat nasional. Untuk mencapai itu semua saya bekerja keras, cerdas, dan ikhlas. Dengan cita-cita setinggi langit itu, saya bekerja keras sering di luar jam kerja mengarahkan dan membimbing guru agar mengejar prestasi yang tinggi. Akibatnya saya sering disindir oleh kepala sekolah lainnya yang prestasinya biasa-biasa saja. Mereka menganggap saya sangat ambisius, cari muka, dan ingin menonjol sendiri. Bagaimana anda mengatasi kasus di atas?
Jawab: Mengatasi situasi tersebut memerlukan keseimbangan antara ambisi untuk mencapai prestasi tinggi dan menjaga hubungan profesional dengan rekan kerja.
Berikut beberapa langkah yang dapat saya pertimbangkan:
1. Komunikasi Terbuka
Menjelaskan niat dan tujuan jangka panjang kepada rekan kerja, termasuk kepala sekolah lainnya. Pastikan mereka memahami bahwa ambisi saya bukan untuk merendahkan mereka, tetapi sebagai dorongan untuk meningkatkan mutu pendidikan secara keseluruhan. Menjelaskan bahwa tujuan saya untuk terus mengukir prestasi terbaik adalah untuk meningkatkan pendidikan daerah.
2. Berkolaborasi dan Berbagi Ide
Mengajak rekan kerja untuk berkolaborasi dalam proyek atau inisiatif yang dapat meningkatkan prestasi sekolah secara bersama-sama. Hal ini dapat diharapakan dapat mengurangi persepsi bahwa saya hanya ingin menonjol sendiri.
3. Berkontribusi pada Kesuksesan Bersama
Fokuslah pada upaya bersama untuk meningkatkan mutu pendidikan.
Bagikan prestasi dan inovasi yang telah dicapai oleh sekolah, guru, dan staf lainnya. Bukan hanya menyoroti pencapaian pribadi.
4. Berikan Pengakuan pada Kepala Sekolah Lainnya
Memberikan apresiasi dan pengakuan pada prestasi dan kontribusi kepala sekolah atau guru lainnya. Hal ini dapat membangun hubungan yang baik dan saling menghormati.
DAFTAR PUSTAKA
Coleman, Tony Bush, and Marianne. Leadership and Strategic Management in Education, Terj. Manajemen Strategis Lepemimpinan Pendidikan. Yogyakarta:
IRCiSoD, 2006.
Darmawan, Deni. (2022). Kepemimpinan/ Leadership. Tangerang Selatan: Unpam Press
Goleman, Daniel. (2002). Kepemimpinan Berdasarkan Kecerdasan Emosi, ter.
Susi Purwoko. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama
Imara, Fadiah Retno. (2020). Pengaruh Gaya Kepemimpinan Transformasional dan Transaksional Terhadap Kinerja Karyawan. Jurnal Ilmiah Mahasiswa FEB.
Universitas Brawijaya Malang
McKeever, B. & the California School Leadership Academy. (2003). Nine Lessons of Successful School Leadership Teams Distilling a Decade of Innovation. San Francisco: WestEd.
Newstorm, John W. (2011). Organizational Behaviour., Human Behaviour at Work.
New York: McGraw-Hill Companics
Nurjaya, dkk. (2020). Gaya Kepemimpinan dan Motivasi, Pengaruhnya Terhadap Kinerja Pegawai. Jurnal Ekonomi dan Bisnis Islam. Universitas Muhammadiyah Makassar
Osborne, C. (2015). Essential Managers Leadership. New York: DK Publishing.
Purwanto, Djoko. (2006). Komunikasi bisnis edisi 3. Jakarta:Erlangga.
Purwanto, Nurtanio Agus. (2020). Administrasi Pendidikan (Teori dan Praktik di Lembaga Pendidikan). Yogyakarta: Intishar Publishing
Simerson, B.K. & Venn, M.L. (2006). The Manager as Leader. Westport:
Greenwood Publishing Group, Inc.
Siswadi. (2003). Budaya Kepemimpinan Pendidikan di Indonesia, dalam Mujamil Qamar, et.al. Meniti Jalan Pendidikan Islam. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Robbins, Stephen. P. (2006). Perilaku organisasi. Edisi Bahasa Indonesia. Indeks
Kelompok GRAMEDIA. Jakarta.