Mobilitas Sosial
adalah perpindahan status sosial yang dimiliki seseorang atau kelompok ke status sosial yang lain dalam masyarakat.
Hasil perpindahan status sosialnya bisa menjadi lebih tinggi,
lebih rendah, bahkan tetap sederajat.
Kenapa bisa terjadi
mobilitas sosial?
Kenapa hasil perpindahannya berbeda-beda?
Status sosial seseorang bisa berubah karena beberapa faktor seperti pendidikan dan pekerjaan. Misalnya, seseorang dengan akses pendidikan yang baik bisa mendapat pekerjaan yang baik dan membawanya ke posisi sosial yang lebih tinggi. Sebaliknya,
ketika seseorang kehilangan pekerjaan atau kebangkrutan,
maka ia akan berpindah ke status sosial yang lebih rendah.
Sebab mobilitas sosial terbagi menjadi beberapa bentuk. Nah, terjadinya bentuk- bentuk itu tidak terlepas dari adanya faktor pendorong dan penghambat yang perlu kita
ketahui.
Lalu apa saja ya bentuk dan faktor
mobilitas sosial?
Bentuk- Bentuk Mobilitas
Sosial
Mobilitas Sosial Horizontal
Sekarang coba bayangkan kamu berada di tengah sebuah garis horizontal deh. Kalau kamu berada di sana, mau kamu pindah ke kanan kek atau ke kiri kek, pasti kamu akan tetap di satu tempat yang sejajar‘kan? Nah, kayak begitulah mobilitas horizontal. Dalam
mobilitas horizontal, perpindahan status sosial yang dialami seseorang atau kelompok tidak akan mengubah derajat sosialnya atau akan tetap sejajar seperti sebelumnya.
Contohnya, seorang dokter yang bekerja di salah satu rumah sakit Bandung diharuskan pindah tugas ke rumah sakit Jakarta. Pada kasus itu, dokter tersebut mengalami mobilitas horizontal, yaitu perpindahan tempat kerja tetapi tidak mengubah status
sosialnya sebagai dokter. Penghasilannya tidak berubah dan jabatannya sebagai seorang dokter juga tidak berubah.
Mobilitas Sosial Vertikal
Coba bayangkan kamu berada di bagian tengah sebuah garis vertikal deh. Udah? Nah, ketika kamu berada di posisi itu, kamu punya kesempatan buat naik ke atas atau turun ke bawah‘kan? Begitu juga dengan mobilitas vertikal yang dibedakan menjadi mobilitas
sosial vertikal ke atas dan mobilitas sosial vertikal ke bawah.
Maksudnya, perpindahan status sosial yang terjadi bisa menjadi lebih tinggi (naik) maupun lebih rendah (turun). Makanya, mobilitas vertikal adalah perpindahan status sosial yang dimiliki seseorang atau kelompok ke status sosial lain yang tidak sederajat
dari sebelumnya.
Mobilitas sosial vertikal naik (social climbing) terjadi jika seseorang atau
kelompok meraih posisi atau status sosial yang lebih tinggi dari awalnya. Hal ini bisa dicapai melalui pendidikan, pekerjaan, dan faktor lain.
Mobilitas sosial vertikal turun (social sinking) Ketika seseorang atau kelompok yang mengalami penurunan posisi atau status sosial. Ini bisa karena
kebangkrutan, kehilangan pekerjaan, dan faktor lainnya.
Mobilitas Antar generasi
Mobilitas antargenerasi adalah perpindahan kedudukan sosial yang dialami seseorang dengan melibatkan perbedaan generasi di dalamnya. Mmm, maksudnya gimana tuh ya?
Kamu perlu tahu dulu nih, apa yang dimaksud dengan generasi. Generasi adalah kelompok yang punya kesamaan atau perbedaan umur. Contohnya, gen Z yang orang-
orangnya lahir di tahun 2000-an.
Nah, mobilitas antargenerasi ini melibatkan generasi-generasi yang berbeda. Misalnya, dahulu, kakek dan nenek kamu hanya bisa sekolah sampai tingkat SMA saja. Kemudian,
di generasi selanjutnya, yaitu ayah dan ibu kamu, statusnya naik jadi bisa bersekolah sampai jenjang Sarjana. Dari kasus ini, ada perbedaan tingkat pendidikan yang terjadi di
setiap antargenerasi keluarga kamu. Paham, ya?
Nah, mobilitas sosial antargenerasi bisa naik dan turun. Artinya, tiap generasi dalam satu kelompok bisa punya kedudukan yang semakin tinggi atau rendah di masyarakat.
Mobilitas Intra generasi
Bagaimana jika perpindahan kedudukan sosial ini dialami oleh generasi yang sama? Itu lah yang dinamakan mobilitas sosial intragenerasi. Menurut definisinya, mobilitas sosial
intragenerasi adalah perpindahan kedudukan sosial yang terjadi pada generasi yang sama. Oke, supaya kamu semakin ada bayangan, masuk ke contoh kasus saja, ya.
Misalnya, saat ini seorang anak yang sedang duduk di kelas 10 SMA. anak tersebut sangat pintar, sehingga bisa mengikuti program akselerasi di sekolah. Saat kenaikan
kelas, Anak tersebut langsung duduk di kelas 12. Dari sini, anak tersebut sedang mengalami mobilitas intragenerasi karena mengalami perpindahan kedudukan sosial
pada generasi yang sama, yaitu teman-teman sekelasnya di kelas 10.
eits
Bentuk Mobilitas social intra generasi dan antar
generasi ada versi lainnya lohhhhh!!!!
Versi 1
merupakan perpindahan status sosial antar generasi sekarang dan sebelumnya lebih dari satu generasi. Misalnya, generasi orang tua dan anak, ada perubahan dalam tingkat pendidikan, ekonomi, atau status pekerjaan antara orang tua dan anak.
Mobilitas Sosial Antargenerasi
adalah ketika terjadi perubahan posisi sosial dalam hidup mereka sendiri, baik naik atau turun selama hidup mereka.
Misalnya, seseorang yang mulai bekerja sebagai staff biasa lalu naik menjadi manager karena prestasi dan
pengalamannya.
Mobilitas Sosial Intragenerasi
Versi 2
mobilitas yang dilakukan oleh individu-individu lebih dari satu generasi.
Mobilitas Sosial Intergenerasi
Mobilitas yang dilakukan oleh individu-individu dari generasi yang sama atau satu generasi.
Mobilitas Sosial Intragenerasi
Mobilitas antar generasi dibagi menjadi
mobilitas intergenerasi dan mobilitas intragenerasi.
Mobilitas Sosial Geografi
Jenis dan bentuk mobilitas sosial yang terakhir adalah mobilitas geografis.
Mobilitas geografis adalah perpindahan individu atau kelompok dari satu daerah ke daerah lain, misalnya saat mengalami
transmigrasi, urbanisasi, atau migrasi.
Mobilitas geografis ini bisa jadi seorang individu mengalami perpindahan status
ke atas atau ke bawah, meski banyak di antaranya yang mengalami perpindahan
status ke atas.
Contoh: Pak Joko yang tadinya hanya warga biasa melakukan transmigrasi ke Sulawesi Selatan dan ia terpilih menjadi kepala desa di tempat transmigrasinya
tersebut.
Faktor Pendorong Mobilitas Sosial
Struktural
Faktor ini mendorong mobilitas sosial dengan menciptakan lingkungan yang terbuka dan merata, dimana setiap orang punya kesempatan yang sama
untuk berpindah status sosial.
Sebagai contoh, kebijakan pendidikan yang inklusif memberi akses yang lebih baik
kepada seseorang dari berbagai lapisan masyarakat
untuk meningkatkan kualitas hidup mereka lewat pendidikan.
Individu
Faktor individu yang mendorong mobilitas mencakup kualitas dan
karakteristik yang memengaruhi kemampuan seseorang untuk berpindah status sosial. Faktor
individu yang memengaruhi mobilitas sosial adalah pendidikan,
keterampilan atau keahlian, motivasi dan ketekunan, serta
networking. Jika seseorang merasa kurang puas dengan status sosialnya saat ini, ia bisa berusaha agar dapat berpindah ke
status sosial yang lebih baik.
Ekonomi
Kondisi ekonomi dapat memengaruhi kemampuan
seseorang atau kelompok untuk meningkatkan status
sosialnya dalam masyarakat. Dengan kondisi ekonomi yang baik, seseorang bisa mengakses
pendidikan berkualitas, akses terhadap modal &
kredit, dan kesempatan untuk naik ke posisi yang
lebih tinggi.
Faktor Pendorong Mobilitas Sosial
Politik
Kebijakan dan kondisi politik yang stabil bisa menciptakan
kondisi yang mendukung pertumbuhan ekonomi dan kesempatan yang adil bagi
semua warga untuk meningkatkan status sosial mereka. Misalnya kebijakan pendidikan gratis dan program beasiswa yang bisa membuka
kesempatan belajar untuk masyarakat dengan kondisi
ekonomi yang kurang.
Kependudukan
Kepadatan penduduk di sebuah wilayah dapat menciptakan persaingan
yang ketat dan memperkecil peluang mobilitas sosial. Dengan
migrasi, urbanisasi, dan distribusi penduduk yang
merata. Ini menciptakan peluang baru bagi seseorang atau kelompok untuk meningkatkan status
sosial mereka.
Faktor Penghambat Mobilitas Sosial
Stereotip Gender
Ini adalah keyakinan masyarakat bahwa peran dan kemampuan
dimiliki oleh seseorang berdasarkan jenis kelamin.
Stereotip ini bisa menjadi penghambat mobilitas sosial karena menciptakan batasan dan
harapan berdasarkan jenis kelamin. Misalnya, stereotip laki-
laki bertugas menjadi tulang punggung keluarga, sementara
perempuan harus fokus pada peran ibu dan istri.
Kemiskinan
Mengapa faktor ekonomi menjadi penghambat mobilitas sosial? Faktor ekonomi,
utamanya kemiskinan dapat membatasi akses
seseorang terhadap pendidikan, pekerjaan,
atau sumber daya lain yang diperlukan untuk
meningkatkan status sosial mereka.
Deskriminasi
Diskriminasi adalah sikap tidak adil terhadap seseorang atau kelompok
karena ciri-ciri tertentu seperti ras, agama, dan jenis kelamin. Diskriminasi
bisa membatasi akses seseorang terhadap peluang pendidikan, pekerjaan, atau layanan lainnya yang pada akhirnya
menghambat mobilitas sosial mereka.
Saluran-saluran
Mobilitas Sosial
Saluran-saluran Mobilitas Sosial
Angkatan Bersenjata
Angkatan bersenjata memiliki garis komando yang tegas, yang mana para prajurit harus patuh sepenuhnya pada perintah
atasan. Kenaikan status seorang prajurit sangat
bergantung pada kedisiplinan dan intelektualnya, sehingga
keberadaannya di masyarakat sangat dihargai. Mereka dianggap
sebagai pelindung masyarakat.
Lembaga Agama
Para tokoh agama mempunyai kedudukan yang terhormat di dalam masyarakat.
Mereka sering memberikan nasihat keagamaan sehingga keberadaannya lebih
dihargai oleh masyarakat.
Lembaga Politik
Partai politik menjanjikan peluang yang besar dalam meningkatkan status sosial
seorang politikus yang profesional. Aktivitasnya
yang sering berorasi di depan umum dengan mengatasnamakan partai,
membuat namanya terkenal, sehingga keberadaannya lebih dihargai oleh masyarakat.
Hal ini akan mempengaruhi status sosialnya.
Lembaga Pendidikan
Sekolah merupakan sarana yang konkrit untuk melakukan gerak vertikal, bahkan dianggap sebagai perangkat sosial (social
elevator) dari kedudukan yang rendah menuju kedudukan yang tinggi.
Saluran-saluran Mobilitas Sosial
Organisasi Ekonomi
Organisasi ini bersifat relatif terbuka dalam meningkatkan status seseorang. Seperti
pada saat pemilihan Manajer Keuangan pada PT. Subur Ekonomi, beberapa orang
karyawan mencalonkan diri untuk posisi yang menjanjikan itu, mereka akan gencar
dalam berkampanye.
Lembaga Keahlian
Para profesional membentuk wadah untuk menampung aspirasi para anggotanya yang berprofesi sama. Misalnya; Ikatan
Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI), Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan
sebagainya.