• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pelaksanaan Manajemen Berbasis Sekolah di Indonesia

N/A
N/A
SAHLAN

Academic year: 2023

Membagikan "Pelaksanaan Manajemen Berbasis Sekolah di Indonesia"

Copied!
40
0
0

Teks penuh

Tujuan program MBS di Indonesia adalah untuk memberikan sekolah otonomi yang tinggi dan mendorong partisipasi masyarakat setempat dalam pengelolaan sekolah. Misalnya, komite sekolah diharapkan dapat melakukan pengawasan terhadap pengelolaan sekolah secara rutin dan berkala dengan melakukan pengawasan terhadap pengelolaan akademik yang dilakukan oleh kepala sekolah dan dinas pendidikan.

Hasil Akhir

Hasil Antara

Dukungan bagi

Status Pelaksanaan MBS

Indikator pelaksanaan struktur manajemen antara lain melihat apakah sekolah telah membentuk komite atau tim yang diperlukan (misalnya komite sekolah atau dewan guru) dengan komposisi anggota sesuai aturan, apakah dipilih anggota komite, dan apa. adalah frekuensi pertemuan. Indikator keterlibatan pemangku kepentingan antara lain mengukur tingkat partisipasi kepala sekolah, guru, anggota komite sekolah, orang tua, masyarakat, dan dinas pendidikan kabupaten/kota.

Kapasitas Sekolah

Selama kurun waktu tersebut, sekolah mungkin telah mengambil keputusan berbeda mengenai komponen STC yang mereka terapkan dan dengan siapa mereka berkonsultasi dalam pengambilan keputusan (Cuban, 1998). Indikator otonomi menunjukkan apakah kepala sekolah dan guru mempunyai persepsi bahwa mereka mempunyai wewenang penuh untuk mengambil keputusan mengenai hal-hal penting dalam operasional sekolah dan akademik.

Dukungan bagi Sekolah

Hasil Antara dan Akhir

Tujuan dan Rancangan Asesmen Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)

Mengenai komponen utama kerangka MBS – yaitu status pelaksanaan MBS saat ini – hasil penelitian memberikan informasi mengenai indikator-indikator berikut:

Struktur Manajerial Sekolah

Anggota komite sekolah melaporkan bahwa frekuensi pertemuan mereka berkisar antara nol hingga tiga kali per tahun, atau rata-rata 1,5 kali selama tahun ajaran 2009-2010. Biasanya anggota komite sekolah akan bertemu pada acara-acara penting sekolah yang mengundang seluruh orang tua, misalnya pada awal tahun ajaran baru, pembagian kartu, atau pada akhir tahun. Peserta diskusi kelompok terfokus dari komite sekolah mengatakan bahwa pertemuan antara kepala sekolah dan seluruh komite sekolah jarang terjadi dan hanya terjadi jika diminta oleh kepala sekolah.

Otonomi

Keterlibatan Pemangku Kepentingan

Direktur mengatakan bahwa partisipasi komite sekolah dalam pengambilan keputusan akhir sekolah terjadi rata-rata di 44 persen sekolah. Namun, data studi kasus menunjukkan bahwa laporan pimpinan sekolah mengenai partisipasi komite sekolah tampak berlebihan. Dalam diskusi kelompok terfokus, ketua komite sekolah dan anggotanya mengatakan bahwa keterlibatan mereka dalam urusan sekolah sangat terbatas.

Di dua pertiga sekolah yang termasuk dalam studi kasus, anggota komite sekolah tidak dilibatkan dalam penyusunan rencana kerja tahunan. Lalu, jika ada komunikasi antara kepala sekolah dan dewan sekolah, pembahasannya hanya pada dewan sekolah saja. Anggota komite sekolah memandang dirinya (seperti halnya kepala sekolah) sebagai mediator antara sekolah dan orang tua ketika kepala sekolah perlu berkomunikasi dengan orang tua atau mengajukan permintaan dari mereka.

Grafik 4.  Orang tua kurang memiliki suara dalam urusan sekolah
Grafik 4. Orang tua kurang memiliki suara dalam urusan sekolah

Transparansi dan Akuntabilitas

Sumber Daya

Pengetahuan Pemangku Kepentingan tentang MBS

Misalnya, sebagian besar direktur dan anggota komite sekolah mempunyai pemahaman yang salah tentang fungsi komite sekolah. Sebagian besar kepala sekolah dan guru juga mengetahui bahwa tujuan utama MBS adalah meningkatkan keterampilan belajar siswa. Anggota komite sekolah harus memiliki pengetahuan tentang fungsinya dan pengetahuan umum tentang kegiatan sekolah agar dapat berpartisipasi dengan sukses dalam tata kelola sekolah.

Ketua dan anggota komite sekolah menyatakan bahwa mereka hanya “agak” berkompeten memberikan masukan terhadap kebijakan, anggaran dan program sekolah. Banyak ketua komite sekolah (92 persen) dan anggotanya (87 persen) memiliki setidaknya dua pandangan yang salah mengenai peran komite sekolah. Seperti halnya kepala sekolah, keyakinan mereka yang salah adalah bahwa komite sekolah menyetujui kebijakan sekolah dan mengambil keputusan akhir.

Kepemimpinan Kepala Sekolah dan Guru

Hal serupa juga dialami oleh banyak ketua komite sekolah yang juga tidak menerima informasi mengenai program akademik sekolah (53 persen) dan kinerja guru di sekolahnya (42 persen). Ini adalah kesulitan terbesar bagi komite sekolah, karena kami tidak tahu apa-apa tentang langkah-langkah dan tujuan komite atau bagaimana menangani kewajiban sekolah.” Mengenai komponen pendukung implementasi STC lainnya, penelitian menunjukkan bagaimana entitas eksternal (biasanya pengawas kabupaten/kota, namun terkadang lembaga swadaya masyarakat lokal) mendukung STC, dengan memberikan informasi, bimbingan, pelatihan dan bantuan teknis serta pendampingan di lapangan – dapat mempengaruhi STC implementasinya sesuai keinginan (Fullan, 2001; Caldwell dan Wood, 1988; USAID 2011).

Oleh karena itu, penting bagi dinas pendidikan kabupaten/kota di Indonesia untuk memberikan dukungan terhadap penerapan STC. Dukungan tersebut bisa dalam berbagai bentuk, antara lain memberikan pelatihan atau sosialisasi, berbagi informasi dan bimbingan bagi pimpinan sekolah dan pemangku kepentingan sekolah lainnya, termasuk anggota komite sekolah, untuk menggunakan pengetahuan dan keterampilannya dalam menetapkan visi sekolah, memantau anggaran, membuat rencana kerja untuk mencapai tujuan. meningkatkan. , mengatur rapat komite dan memantau kinerja mereka. Dukungan dari dinas pendidikan kabupaten/kota dapat menyasar guru-guru yang berperan penting bagi STC dengan mengembangkan ilmunya di bidang pengajaran, pembelajaran, dan kurikulum.

Pelatihan dan Pengembangan Profesional

Sebagian besar kepala sekolah setuju bahwa dinas pendidikan di wilayah mereka memberikan masukan yang bermanfaat mengenai kinerja mereka. Anggota komite sekolah hanya mendapat sedikit pelatihan mengenai BOS dan tanggung jawab komite sekolah. Sekitar dua pertiga kecamatan melaporkan bahwa mereka telah memberikan pelatihan tentang BOS serta peran dan tanggung jawab anggota dewan sekolah.

Namun, pada tahun ajaran 2008-2009 dan 2009-2010, sekitar tiga perempat anggota dewan sekolah yang disurvei melaporkan bahwa mereka belum menerima pelatihan BOS. Jika pelatihan dilakukan, menurut anggota komite sekolah, durasinya sangat singkat, biasanya sehari kurang. Sebagaimana disebutkan di atas, sebagian besar ketua dan anggota komite sekolah menyatakan bahwa mereka masih belum mengetahui fungsinya dan belum ada yang memberi tahu mereka.

Grafik 6.  Banyak kepala sekolah yang melaporkan tidak menerima pelatihan yang memadai dalam    satu tahun terakhir
Grafik 6. Banyak kepala sekolah yang melaporkan tidak menerima pelatihan yang memadai dalam satu tahun terakhir

Dampak Nyata MBS

Dampak Program BOS

Tiga perempat sekolah dilaporkan memiliki kondisi keuangan yang lebih baik dibandingkan periode sebelum BOS. Mayoritas pemangku kepentingan, yaitu staf Dinas Pendidikan, kepala sekolah, guru, dan anggota komite sekolah, melaporkan bahwa BOS berdampak positif terhadap sejumlah hasil terkait siswa dan hasil lainnya, termasuk peningkatan rata-rata angka partisipasi sekolah di sekolah menengah pertama. sekolah, peningkatan siswa miskin, peningkatan prestasi siswa, penurunan angka putus sekolah, peningkatan ketersediaan buku pelajaran dan peningkatan kewenangan sekolah.

Kehadiran Siswa dan Guru

Kepuasan Orang Tua terhadap Sekolah

Rendahnya Prestasi Sekolah di Bidang Membaca dan Matematika

Penggunaan Sumber Dana Bebas Sekolah

Sekitar tiga perempat sekolah rata-rata memiliki 41-60 persen jawaban benar untuk mata pelajaran bahasa Indonesia. Ketika ditanya mengenai prioritas utama sekolah, hampir semua kepala sekolah, guru, dan anggota komite sekolah menjawab bahwa jawabannya adalah peningkatan mutu pendidikan. Di sebagian besar sekolah yang termasuk dalam studi kasus, hal ini berarti perlunya memaksimalkan tingkat kelulusan ujian nasional bagi siswa kelas 6 SD, karena hal ini merupakan syarat untuk melanjutkan pendidikan di SMP Negeri.

Prioritas utama semua sekolah tidak hanya sama, namun langkah-langkah yang diambil untuk mempersiapkan siswa agar lulus ujian nasional juga sama. Dengan bantuan anggota komite sekolah, orang tua didorong untuk mendukung pendidikan anak-anak mereka dengan memberikan kesempatan kepada mereka untuk mengambil pelajaran tambahan dan menciptakan lingkungan rumah yang mendukung kegiatan belajar anak, seperti mengurangi waktu yang dihabiskan untuk menonton televisi. Keseragaman intervensi di seluruh sekolah yang menjadi subjek studi kasus menunjukkan kurangnya pengetahuan tentang cara lain untuk meningkatkan prestasi siswa.

Hambatan Utama Dalam Memperbaiki Prestasi Siswa

Inti dari penerapan STC adalah memberikan otonomi yang cukup kepada sekolah sehingga kepala sekolah dan guru dapat mengambil keputusan penting terkait pendidikan di sekolahnya. Faktor yang mempengaruhi kapasitas sekolah dan dukungan dinas pendidikan kabupaten/kota hanya sedikit yang terkait dengan langkah penerapan STC, porsi anggaran sekolah yang dialokasikan untuk pengajaran, kehadiran guru atau kinerja siswa. Sekolah yang memberikan informasi mengenai kegiatan sekolah biasanya karena mereka menerima bagian lebih besar dari anggaran diskresi yang dibelanjakan untuk pendidikan, namun mempunyai wewenang yang lebih kecil dan menerima lebih banyak masukan dari orang tua.

Semakin tinggi tingkat pendidikan kepala sekolah dikaitkan dengan pengaruh kepala sekolah yang lebih besar terhadap kegiatan operasional sekolah dan semakin besar jumlah dana diskresi yang dikeluarkan untuk pengajaran, dan kepala sekolah yang lebih siap menjadi pemimpin dikaitkan dengan pengaruh kepala sekolah yang lebih besar terhadap kegiatan operasional. dan meningkatkan kinerja siswa. Rata-rata jumlah hari pelatihan yang diterima guru di sekolah dan manfaat pertemuan KKG dikaitkan dengan pengaruh guru yang lebih tinggi dan masukan yang lebih besar dari orang tua. Hal ini mungkin disebabkan karena penerapan STC selama ini belum memberikan perubahan signifikan pada kegiatan sekolah yang dapat berdampak pada kinerja siswa.

Mengembangkan Kapasitas Kepala Sekolah, Guru dan Komite Sekolah untuk Melaksanakan MBS

Tindakan seorang kepala sekolah menentukan sejauh mana keputusan sekolah bersifat partisipatif dan terfokus pada peningkatan operasional dan pengajaran. Tujuan pelatihan kepala sekolah hendaknya memberikan pemahaman dan apresiasi terhadap contoh tindakan yang menjadikan seseorang menjadi pemimpin yang efektif. Memberikan pengembangan profesional bagi kepala sekolah dan guru mengenai peran komite sekolah dan praktik STC yang efektif.

Selain memberikan pengembangan profesional di bidang ini, pimpinan sekolah dan guru harus meningkatkan keterampilan mereka dalam melaksanakan kegiatan terkait MBS, termasuk bagaimana menilai kebutuhan sekolah dan siswa, bagaimana membentuk visi, misi dan tujuan sekolah, terlibat dalam perencanaan partisipatif. , mengembangkan kurikulum, menyiapkan anggaran dan melaksanakan perbaikan sekolah. Karena kualitas guru memegang peranan yang sangat penting dalam mengatur kondisi pembelajaran siswa, maka perlu dipertimbangkan pelimpahan kewenangan perekrutan dan pemberhentian guru PNS dari pemerintah pusat dan daerah kepada kepala sekolah. Hal ini bukan hal baru bagi pimpinan sekolah yang telah merekrut dan membina guru non-PNS untuk melengkapi guru PNS.

Meningkatkan Kemampuan Staf Sekolah untuk Memperbaiki Bidang Manajerial dan Pengajaran

Mengembangkan Kapasitas Dinas Pendidikan untuk Mendukung Sekolah dan MBS

Penelitian (Klein, 2004; Plevyak, 2007; Joyce dan Showers, 2002) menunjukkan bahwa memberikan kepala sekolah dan guru akses terhadap saran dan konsultasi ahli setelah pelatihan lebih efektif dibandingkan pelatihan saja. Sistem ini pertama-tama harus berfokus pada upaya meningkatkan kapasitas staf sekolah untuk mengubah cara kerja dan metode pengajaran dan/atau mengubah peran dinas pendidikan. Efek yang dilaporkan guru dari desain sekolah baru di Amerika: Menjelajahi hubungan dengan latar belakang guru dan konteks sekolah. Evaluasi Pendidikan dan Analisis Kebijakan.

School-based management.” Paris, France: The International Institute for Educational Planning; Brussels, Belgium: The International Academy of Education, UNESCO, Education Policy Series 3. School-Based Management (IBM): does it improve quality?” Paper commissioned by the EFA Global Monitoring Report 2005, The Quality Imperative. The Politics of School-Based Management: Understanding the Process of Delegating Authority in Urban School Districts.” Archive for Education Policy Analysis, 10, 33.

Gambar

Grafik 1.  Kerangka kerja untuk Analisis Praktik MBS
Grafik 2.  Rapat antar kepala sekolah dan komite sekolah lengkap jarang terjadi
Grafik 3.    Seperti yang dilaporkan kepala sekolah, keputusan operasional sekolah  biasanya dibuat melalui konsensus
Grafik 4.  Orang tua kurang memiliki suara dalam urusan sekolah
+4

Referensi

Dokumen terkait

PERAN KOMITE SEKOLAH DALAM PELAKSANAAN MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH DI SMP NEGERI 2 WONOGIRI.. ARTIKEL

Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) pada hakekatnya adalah penyerasian sumber daya yang dilakukan secara mandiri oleh sekolah dengan melibatkan semua kelompok

Ukuran keterlaksanaan MBS dikaji berdasarkan 7 (tujuh) komponen manajemen, yaitu Manajemen Kurikulum dan Pembelajaran Berbasis Sekolah, Manajemen Peserta Didik Berbasis

uraian isi, simpulan, harapan, ucapan terima kasih,

Manajemen Asas Pendidikan Berbasis Sekolah (school based quality management) atau sering disebut manajemen berbasis Sekolah (MBS), yang merupakan paradigma baru dalam pengelolaan

2.1.1 Konsep Dasar Manajemen Berbasis Sekolah Manajemen berbasis sekolah (MBS) merupakan inovasi pendidikan, khususnya dalam pengelolaan di sekolah yang diharapkan

Dalam bentuk manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah (MPMBS), MBS dapat diartikan sebagai model manajemen yang memberikan otonomi lebih besar kepada sekolah dan

tugas universitas terbuka manajemen berbasis