• Tidak ada hasil yang ditemukan

MEDIA GAMBAR PADA MODEL COOPERATIVE LEARNING DI SEKOLAH DASAR

N/A
N/A
Dyah Ayu Mawarti

Academic year: 2024

Membagikan "MEDIA GAMBAR PADA MODEL COOPERATIVE LEARNING DI SEKOLAH DASAR "

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

MEDIA GAMBAR PADA MODEL COOPERATIVE LEARNING DI SEKOLAH DASAR

Oleh : Dicky Setiardi

Dosen Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan

Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara [email protected]

Abstrak

Salah satu penyebab rendahnya hasil belajar peserta didik adalah kecenderungan pembelajaran yang kurang menarik dan terkesan membosankan,hal ini sangat sering dialami oleh peserta didik yang disebabkan karena pengajar kurang memahami kebutuhan peserta didik dalam karakteristik maupun pengembangan pelajaran.Oleh karena itu seorang pengajar harus mampu mengetahui karakteristik peserta didiknya, supaya mampu memberikan dan meyampaikan materi sesuai dengan karakter peserta didik. Penggunaan media gambar melalui pendekatan pembelajaran kontekstual berbasis cooperative learning, pemahaman siswa terhadap materi pelajaran menjadi meningkat, dengan demikian proses pembelajaran menjadi lebih optimal dan maksimal sehigga potensi peserta didik dapat lebih dikembangkan.

Kata kunci : Media Gambar, Pendekatan Cooperative Learning

VISUAL MEDIA IN COOPERATIVE LEARNING MODELS FOR ELEMENTARY SCHOOL

By: Dicky Setiardi

Lecturer of Elementary School Teacher Education Program (PGSD) Faculty of Tarbiyah (Education) and Teaching Science

Islamic University of Nahdlatul Ulama Jepara [email protected]

Abstract

One of the causes of low learning outcomes of learners is the tendency of learning that is less interesting and seem boring, it is very often experienced by learners caused by teachers lack understanding of the needs of learners in the characteristics and development of lessons. Therefore a teacher must be able to know the characteristics learners, in order to be able to deliver and deliver the material in accordance with the character of the learners. The use of image media through contextual learning approach based on cooperative learning, students' understanding of the subject matter to be improved, thus the learning process becomes more optimal and maximum so that the potential of learners can be further developed.

Keywords: Visual Media, Cooperative Learning Approach

(2)

A. Pendahuluan

Manusia (Menungso dalam bahasa jawa) sebagai mahluk yang diberikan kelebihan oleh Allah Subhanaha watta’alla berupa akal pikiran (logika) pada diri manusia yang tidak dimiliki mahluk Allah yang lain dalam kehidupannya, bahwa untuk mengolah akal pikirnya diperlukan suatu pola pendidikan melalui suatu proses pembelajaran.

Pendidikan pada dasarnya merupakan proses untuk membantu manusia/siswa dalam mengembangkan potensi dirinya sehingga mampu menghadapi setiap perubahan yang terjadi Pendidikan merupakan suatu usaha untuk mencapai dan mengarahkan mengarahkan seseorang dalam menuju kedewasaan dengan memberikan ilmu pengetahuan, melatih berbagai ketrampilan, penanaman nilai-nilai yang baik, serta sikap yang baik.

Pendidikan dapat berlangsung baik di rumah, sekolah dan masyarakat.

Khusus pendidikan di sekolah maka pelaksanaannya lebih dipengaruhi oleh guru dan siswa. Guru merupakan kunci utama dalam meningkatkan kualitas dan mutu pendidikan, mereka berada di titik utama dalam setiap usaha perubahan pendidikan yang diarahkan pada perubahan yang lebih baik. Guru mempunyai tanggung jawab untuk mengatur, mengarahkan, dan menciptakan suasana yang mendorong peserta didik untuk melaksanakan berbagai kegiatan dalam proses pembelajaran di kelas. Selama ini guru hanya menerapkan pembelajaran yang bersifat konvensional dengan tahapan pelaksanaan yaitu pembelajaran dimulai dari penjelasan materi, memberikan contoh dan dilanjutkan dengan latihan soal atau pembelajaran satu arah, dengan demikian proses pembelajaran sifatnya masih terpusat pada guru (teacher centered). Oleh karena itu, seorang guru harus mampu menemukan alternatif pembelajaran untuk mencapai tujuan pembelajaran agar sesuai dengan kemampuan yang dimiliki oleh siswa. Salah satu alternatif pembelajaran yang dapat diterapkan oleh guru adalah menggunakan media gambar dengan pendekatan kontekstual berbasis Cooperative Learning sehingga proses pembelajaran yang disampaikan lebih beragam dan

(3)

bervariasi, dengan demikian hasil pembelajaran akan lebih maksimal dan optimal.

B. Belajar dan Hasil Belajar 1. Teori Belajar

a) Teori Belajar Kognitif

Teori belajar kognitif Piaget yang membagi perkembangan anak ke dalam empat tahap (sensorimotor, praoperasional, operasional konkret, operasional formal) jelas menjadi dasar dari aspek pembelajaran terutama untuk tingkat Sekolah Dasar.

b)Teori Belajar Vygotsky

Vygotsky (dalam Trianto, 2009: 39) mengemukakan bahwa “proses pembelajaran akan terjadi jika anak bekerja atau menangani tugas-tugas yang belum dipelajari, namun tugas-tugas tersebut masih berada dalam jangkauan mereka”.

2. Pengertian Belajar

Pengertian belajar menurut Gagne dan Berliner (1983) dalam Anni dkk.

(2006: 2) adalah proses di mana suatu organisme mengubah perilakunya karena hasil dari pengalaman. Anni dkk. (2006: 3) mengemukakan pengertian belajar sebagai berikut:

1. Belajar berkaitan dengan perubahan perilaku.

2. Perubahan perilaku itu terjadi karena didahului oleh proses pengalaman.

3. Perubahan perilaku karena belajar bersifat relatif permanen.

Setiap pembelajaran yang dilakukan tentu mempunyai tujuan tertentu. Jadi belajar merupakan proses menuju perubahan perilaku yang diperoleh dari pengalaman, bukan sekadar hasilnya saja.

C. Pengembangan Media Pembelajaran 1) Media Pembelajaran

Banyak ahli yang memberikan batasan tentang media pembelajaran. AECT (Association for Education and Communication and Technologi) misalnya,

(4)

mengatakan bahwa media pembelajaran adalah segala sesuatu yang digunakan orang untuk menyalurkan pesan. Gagne (Solihatin, 2012:185) mengartikan media sebagai jenis komponen dalam lingkungan siswa yang dapat merangsang mereka untuk belajar. Senada dengan itu, Briggs (Solihatin, 2012:185) mengartikan media sebagai alat untuk memberikan perangsang bagi siswa agar terjadi proses belajar.

2) Media Visual (Gambar)

Media berbasis visual (image) memegang peran yang sangat penting dalam proses belajar. Media visual dapat memperlancar pemahaman dan memperkuat ingatan. Visual dapat pula menumbuhkan minat siswa dan dapat memberikan hubungan antara isi materi pelajaran dengan dunia nyata. Agar menjadi efektif, visual sebaliknya ditempatkan pada konteks yang bermakna dan siswa harus berinteraksi dengan visual (image) itu untuk meyakinkan terjadinya proses informasi.

3) Jenis dan Karakteristik Media Gambar

Ada beberapa karakteristik media gambar, yaitu:

a) Bersifat visual

b) Hal-hal yang bersifat materiil, seperti model-model, benda contoh c) Dapat berbasis Cerita, kasus yang berkaitan dengan materi yang akan

diajarkan

D. Model Cooperative Learning 1. Pengertian

Cooperative Learning adalah suatu strategi belajar mengajar yang menekankan pada sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau membantu di antara sesama dalam struktur kerjasama yang teratur dalam kelompok, yang terdiri dari dua orang atau lebih. Dimana pada tiap kelompok tersebut terdiri dari siswa-siswa berbagai tingkat kemampuan, melakukan berbagai kegiatan belajar untuk meningkatkan pemahaman mereka tentang materi pelajaran yang sedang dipelajari.

(5)

Model pembelajaran kooperatif memiliki basis pada teori psikologi kognitif dan teori pembelajaran sosial. Fokus pembelajaran kooperatif tidak saja tertumpu pada apa yang dilakukan peserta didik tetapi juga pada apa yang dipikirkan peserta didik selama aktivitas belajar berlangsung.

2. Prinsip

Prinsip model pembelajaran kooperatif yaitu 1) saling ketergantungan positif; 2) tanggung jawab perseorangan; 3) tatap muka; 4) komunikasi antar anggota; dan 5) evaluasi proses kelompok (Lie, 2007).

3. Manfaat

Manfaat dari Cooperative Learning antara lain::

a) Meningkatkan hasil belajar pebelajar b) Meningkatan hubungan antar kelompok c) Meningkatkan rasa percaya diri

d) Menumbuhkan realisasi kebutuhan pebelajar

e) Memadukan dan menerapkan pengetahuan dan keterampilan f) Meningkatkan perilaku dan kehadiran di kelas

g) Relatif murah karena tidak memerlukan biaya khusus untuk menerapkannya

E. Media Gambar Pada Pendekatan Cooperative Learning

Untuk dapat mencapai proses belajar yang efektif dan bermakna, seorang guru perlu melakukan membuat rumusan indikator dan pengalaman belajar sebagai cerminan tujuan pembelajaran yang akan dicapai, dengan demikian guru dapat menyesuaikan kegiatan pembelajaran dengan capaian kompetensi siswa.

Melalui kegiatan pembelajaran, seorang guru pasti berhadapan dengan berbagai persoalan baik menyangkut peserta didik, subject matter, maupun metode pembelajaran. Sebagai seorang profesional, guru harus mampu membuat prefessional judgement yang didasarkan pada data sekaligus teori yang akurat. Selain itu guru juga harus melakukan peningkatan mutu

(6)

pembelajaran secara terus menerus agar prestasi belajar peserta didik optimal disertai dengan kepuasan yang tinggi.

Seorang guru yang mengajar di kelas tentunya harus memiliki keterampilan mengelola proses pembelajaran, meliputi keterampilan dalam mengawali dan mengakhiri proses pembelajaran, terampil membuat pembelajaran lebih menarik dan bermakna sehingga siswa tidak merasa jenuh saat belajar. Hal itu harus dimiliki oleh guru yang mengajar di kelas. Dengan demikian pembelajaran dapat berjalan dengan baik.

Di dalam kegiatan belajar mengajar, guru ditempatkan pada posisi yang strategis dalam menentukan keberhasilan anak didiknya. Hal ini dikarenakan guru juga bertugas menentukan kedalaman dan keluasan materi. Rancangan pembelajaran yang dibuat akan menunjukkan kedalaman atau keluasan materi tersebut. Melalui kondisi seperti ini, penciptaan pembelajaran yang efektif, efisien, bermakna, dan bermanfaat bagi perkembangan pengetahuan dan keterampilan peserta didik akan dapat tercapai.

Untuk menuju ke arah itu, perlu dirancang dan dikembangkan sarana prasarana pembelajaran melalui pemanfaatan dan pengembangan media belajar yang ada di sekitar dan menyeimbangkan pemanfaatan sumber-sumber belajar yang bersifat textbook dengan yang bersifat kontekstual.

Pembelajaran kontekstual merupakan suatu proses belajar yang sifatnya menyeluruh dan bertujuan memberikan motivasi dan membatu siswa untuk memahami makna materi pelajaran yang dipelajarinya dengan mengkaitkan materi tersebut dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial, dan budaya) sehingga siswa memiliki pengetahuan/ keterampilan yang secara fleksibel dapat diterapkan (ditransfer) dari satu permasalahan /konteks ke permasalahan/ konteks lainnya. Secara hakekat, pembelajaran kontekstual adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkan dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimiliki dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.

(7)

Salah satu pendekatan pembelajaran kontekstual yang dapat dipilih untuk proses belajar mengajar adalah cooperative learning yang menekankan pada sikap atau perilaku bersama dalam bekerja atau membantu di antara sesama dalam struktur kerjasama yang teratur dalam kelompok, yang terdiri dari dua orang atau lebih. Disamping itu, model cooperative learning tidak saja tertumpu pada apa yang dilakukan peserta didik tetapi juga pada apa yang dipikirkan peserta didik selama aktivitas belajar berlangsung. Dengan demikian seorang guru terlebih dahulu harus mengetahui karakteristik siswa yang akan dididik. Karakter yang dimaksud di sini adalah karakteristik siswa sekolah dasar mulai dari kelas rendah sampai kelas tinggi. Selain hal tersebut, satu hal yang harus dicermati oleh guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar adalah pembelajaran disesuaikan dengan kebutuhan anak atau kebutuhan siswa akan belajar. Oleh karena itu, guru harus mampu merencanakan, mengelola, mengevaluasi dan memberikan tindak lanjut terkait pembelajaran yang akan dilaksanakan.

Hal ini mempunyai implikasi nyata yaitu apabila sebelum melaksanakan pembelajaran guru mampu mengidentifikasi dan memahami karakteristik siswa maka akan mempengaruhi dan meningkatkan kualitas pembelajaran yang telah diajarkan. Proses pembelajaran tersebut tentunya sesuai dasar konsep teori pemikiran yaitu suatu proses belajar akan berkualitas apabila guru mampu memahami karakteristik siswa dan memberikan materi pembelajaran sesuai dengan kebutuhan, minat, potensi dan perkembangan berpikir siswa baik meliputi aspek kognitif, afektif dan psikomotorik.

Untuk menunjang terlaksananya proses pembelajaran melalui cooperative learning maka harus diaplikasikan dengan beberapa aspek aktivitas belajar siswa yaitu 1) tingkat partisipasi dalam tanya jawab, diskusi, dan presentasi, 2) kesungguhan dalam melaksanakan observasi terhadap media dan sumber-sumber belajar, dan 3) ketekunan dalam menyelesaikan tugas- tugas dan latihan yang diberikan.

(8)

Agar aktivitas siswa di dalam pembelajaran cooperative learning dapat terlaksana secara optimal, maka perlu dikolaborasikan dengan media yang mampu menarik perhatian siswa sehingga siswa merasa antusias, tertarik dan menyenangkan dalam proses belajar mengajar yang pada akhirnya pembelajaran tersebut dapat bermakna. Salah satu media yang dapat dikolaborasikan adalah media grafis dengan wujud gambar/ media gambar.

Mengapa media yang dipilih adalah gambar? Karena Gambar, sebagai salah satu media komunikasi, melengkapi bahasa lisan dan tulisan dalam menjelaskan keberadaan suatu obyek. Gambar merupakan media yang efektif untuk mengungkapkan gagasan karena lebih mudah dicerna. Kesinambungan antara gambar dengan alur cerita yang menarik dapat menstimulasi otak anak untuk menerima pesan dan mengingatnya dengan baik. Menurut Contento (2007), penggunaan warna-warna dan gambar juga dapat meningkatkan motivasi anak dalam menerima pesan.

Media gambar mempunyai beberapa Kelebihan yaitu sifatnya kongkrit (lebih realistik dibandingkan dengan media verbal), dapat memperjelas suatu masalah dalam bidang apa saja, baik untuk usia muda maupun tua, dan murah harganya serta tidak memerlukan peralatan khusus dalam penyampaiannya (Anonim 2009). media visual (seperti media gambar) dapat lebih meningkatkan motivasi anak dalam proses pendidikan mengingat karakteristik anak yang lebih suka pada material yang ada unsur gambarnya dengan material yang hanya berisi bacaan saja.

Selain itu, di dalam proses pembelajaran tatkala menggunakan media gambar akan diperoleh beberapa kejelasan terkait materi yang diajarkan, antara lain :

1) Mengkonkretkan hal-hal yang bersifat abstrak 2) Mendekatkan dengan objek yang sebenarnya

3) Melatih siswa berpikir konkret

(9)

Hal ini relevan dengan realitas kehidupan sehari-hari yang dialami oleh siswa dimana para siswa sekolah dasar identik dengan peralihan dari hal yang abstrak ke arah hal yang konkret. Sebagai contoh kecil, ketika seorang guru menjelaskan makna keanekaragaman di Indonesia pada siswa sekolah dasar maka mutlak harus memerlukan bantuan untuk lebih mengkonkretkan konsep yang dijelaskan oleh guru, bantuan yang diperlukan oleh guru tersebut adalah media yang sesuai dengan konsep keanekaragaman Indonesia. media tersebut dapat berbentuk gambar mengenai keanekaragaman Indonesia, melalui media gambar tersebut, konsep keanekaragaman Indonesia akan lebih bisa diterima oleh siswa sebagai suatu kekayaan dan ciri khas bangsa Indonesia daripada hanya melalui penjelasan secara verbal. Media gambar akan mengkonkretkan konsep yang diterima oleh siswa terkait materi keanekaragaman Indonesia.

Penyampaian materi seperti pada contoh tersebut tentu saja memerlukan figur seorang guru yang harus menguasai empat kompetensi dalam tanggung jawabnya sebagai pendidik yang sejalan dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2007 Tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru, adapun macam-macam kompetensi yang harus dimiliki oleh tenaga guru antara lain: kompetensi pedagogik, kepribadian, profesional dan sosial yang diperoleh melalui pendidikan profesi. Keempat kompetensi tersebut terintegrasi dalam kinerja guru.

Penjabaran di atas merupakan salah satu konsep pembelajaran efektif, hal ini sesuai dengan parameter pembelajaran yang efektif antara lain dapat ditentukan oleh 1) siswa aktif terlibat dalam pembelajaran, 2) pembelajaran menarik perhatian siswa, 3) proses belajar menumbuhkan motivasi bagi siswa, 4) tumbuhnya kerja individu dan kelompok, 5) adanya praktek di dalam pembelajaran. Pembelajaran yang efektif dimulai dari mempertimbangkan bagaimana kondisi anak bukan bagaimana kondisi guru yakni mengajar harus dimulai dengan ide-ide yang telah dimiliki oleh anak. Pengalaman belajar yang diperoleh siswa dari aktivitas yang memungkinkan siswa berinteraksi dengan

(10)

soal dan teman atau guru, bereksplorasi, berkomunikasi mengemukakan gagasan atau bertanya, berargumentasi, dan mengkonstruksi.

Melalui pembelajaran coopeartive learning dengan media gambar akan terbentuk sinergi antara guru dan siswa yang akan melaksnaakan suatu proses pembelajaran mengedepankan kualitas peserta didik untuk membentuk, menanamkan dan menumbuhkan motivasi belajar yang akan memperoleh pengalaman belajar yang nyata sehingga potensi yang ada pada siswa akan dapat digali, ditumbuh dan kembangkan secara maksimal dan optimal dalam setiap kegiatan pembelajaran, serta menerapakan nilai-nilai pembelajaran dalam kehidupan sehari-hari.

F. Penutup

Media gambar pada Pembelajaran kooperatif (cooperative learning) dapat menyajikan dua deskripsi baik secara konseptual maupun secara operasional.

Secara konseptual meliputi keseluruhan konsep materi yang diajarkan, sedangkan operasional meliputi tercapainya tujuan pembelajaran melalui aktivitas belajar siswa. Secara lebih nayat Efek dari media gambar pada pembelajaran kooperatif adalah dapat mengkonkretkan hal-hal yang bersifat abstrak, mendekatkan dengan objek yang sebenarnya dan melatih siswa berpikir konkret.

Implikasi dari pembelajaran ini yaitu siswa memiliki kemampuan memahami materi pembelajaran, keterampilan berpikir kritis dan kreatif, kemampuan pemecahan masalah, kemampuan komunikasi, keterampilan mengunakan pengetahuan secara bermakna. Hal ini tidak terlepas dari ciri khas pembelajaran kooperatif (cooperative learning) yaitu ketika siswa belajar berkelompok secara kooperatif, siswa dilatih dan dibiasakan untuk saling berbagi (sharing) pengetahuan, pengalaman, tugas, tanggung jawab. Saling membantu dan berlatih beinteraksi-komunikasi-sosialisasi karena kooperatif adalah simbol dari hidup bermasyarakat, dan belajar menyadari kekurangan dan kelebihan masing-masing.

(11)

G. Daftar Pustaka

Anita Lie. 2007. Cooperative Learning. Jakarta : Grasindo.

Anitah W, Sri dkk. 2014. Strategi Pembelajaran di SD. Tangerang Selatan : Universitas Terbuka.

Anni, C. T., dkk. 2006. Psikologi Belajar. Semarang: UPT MKK UNNES.

Arsyad, Azhar. 2011. Media Pembelajaran. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Depdiknas.2003. Model Penyelenggaraan Sekolah Kategori Mandiri /Sekolah Standar

Nasional. Jakarta: Direktorat Pembinaan Sekolah Mengah Atas. Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah.

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2007 Tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru. Jakarta: Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah.

Supriadi. Oding. 2013. Perkembangan Peserta Didik. Yogyakarta: PT. Kurnia Kalam Semesta Yogyakarta.

Trianto. 2009. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif Progresif. Jakarta: Prenada media.

https://dionesaliaski.wordpress.com/pendidikan/islami/model-pembelajaran konstektual/. Di unduh tanggal 12 Maret 2018 Pukul 05.50 WIB.

http://gakuseishinsetsu.wordpress.com/2010/01/06/model-pembelajaran-konstektual/.

Di unduh tanggal 12 Maret 2018 Pukul 07.48 WIB.

Referensi

Dokumen terkait

PENERAPAN MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE THINK PAIR SHARE UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MENULIS PANTUN SISWA SEKOLAH DASAR. Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu |

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR (PGSD) FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN Semester.

Bapak dan Ibu Dosen Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Surakarta yang telah memberikan berbagai

Tahun 2012, penulis melanjutkan pendidikan di Universitas Negeri Makassar UNM pada Fakultas Ilmu Pendidikan FIP, mengambil Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar PGSD sampai dengan

10540 3696 09 VIII - J Pendidikan Guru Sekolah Dasar PGSD Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muharnmadiyah Makassar Setelah diperiksa dan diteliti ulang, maka skripsi ini

Pengabdian Masyarakat yang dilakukan oleh dua orang dosen Prodi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Slamet Riyadi dan satu mahasiswa

SOAL UJIAN UNIVERSITAS TERBUKA FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN FKIP PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR PGSD Pendidikan Agama Islam MKDU4221 FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

Oleh karena itu, pengoptimalan model Cooperative Learning dapat menjadi solusi yang efektif dalam mengatasi kesulitan belajar peserta didik di Sekolah Dasar.4 Diantara solusi strategi