• Tidak ada hasil yang ditemukan

View of OPTIMASI MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE LEARNING TERHADAP KESULITAN BELAJAR PESERTA DIDIK SEKOLAH DASAR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "View of OPTIMASI MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE LEARNING TERHADAP KESULITAN BELAJAR PESERTA DIDIK SEKOLAH DASAR"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

OPTIMASI MODEL PEMBELAJARAN COOPERATIVE LEARNING TERHADAP KESULITAN BELAJAR PESERTA DIDIK SEKOLAH DASAR

1Afrina Yesi Gusman 2Wahidah Fitriani

1 2 Universitas Islam Negeri Mahmud Yunus Batusangkar Corresponding Author: Afrina Yesi Gusman, E-mail: [email protected]

ARTICLE INFO Article history:

Received 19, Agustus, 2023

Revised 08, September, 2023

Accepted 16, September, 2023

ABSTRAK

Tujuan penulisan ini adalah untuk melihat sejauhmana optimasi model pembelajaran cooperative learning dalam menghadapi kesulitan belajar peserta didik sekolah dasar. Serta memahami bagaimana mengoptimalkan pembelajaran kooperatif sehingga semua peserta didik, termasuk mereka yang mengalami kesulitan belajar, dapat memperoleh manfaatnya. Metode pembelajaran cooperative learning memberikan dampak yang signifikan dalam pembelajaran yang dapat menjadi solusi konkrit dalam mengatasi kesulitan belajar peserta didik terutama di sekolah dasar. Artikel ini merupakan penelitian kualitatif yaitu suatu pendekatan penelitian yang bersifat deskriptif dan berfokus pada pemahaman mendalam terhadap konteks, makna, dan kompleksitas fenomena yang sedang diteliti. Pendekatan ini lebih menekankan pada interpretasi dan pemahaman subjek, daripada mengukur atau menghitung variabel-variabel tertentu. Literatur yang digunakan terdiri sumber-sumber yang sudah ada, baik berupa artikel, jurnal, buku, dan lain sebagainya. Sumber data sekunder dari penelitian ini adalah semua data yang berkaitan dengan judul penelitian serta penjelasan wawancara. Dalam menghadapi kesulitan belajar kooperatif di sekolah dasar memerlukan kesabaran dan perencanaan yang baik. Guru perlu memahami bahwa setiap peserta didik adalah individu yang unik dan dapat menghadapi tantangan yang berbeda. Dengan menggabungkan solusi-solusi, guru dapat menciptakan lingkungan pembelajaran kooperatif yang mendukung perkembangan semua peserta didik di sekolah dasar.

Kata Kunci: Optimasi, Cooperative Learning, Kesulitan Belajar

How to Cite : Afrina Yesi Gusman, Wahidah Fitriani, Optimasi Model Pembelajaran Cooperative Learning Terhadap Kesulitan Belajar Peserta Didik Sekolah Dasar, TAJDID: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Kemanusiaan, 7 (2), 70-85 DOI : https://doi.org/10.52266/tadjid.v7i1.1851

Journal Homepage : https://ejournal.iaimbima.ac.id/index.php/tajdid This is an open acc ess article under the CC BY SA license

: https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.

(2)

PENDAHULUAN

spek penting dalam pembangunan masyarakat dan bernegara adalah pendidikan. Pendidikan merupakan proses mengarahkan seluruh kekuatan alamiah yang ada pada diri peserta didik agar mereka dapat mencapai keamanan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya sebagai manusia dan anggota masyarakat.1 Melalui pendidikan, seseorang dapat memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk menghadapi tantangan di masa depan. Dalam upaya meningkatkan mutu pendidikan, metode pembelajaran yang digunakan sangatlah penting. Salah satu metode pembelajaran yang saat ini sedang populer adalah cooperative learning. Cooperative learning (pembelajaran kooperatif) merupakan model pembelajaran yang menggunakan metode atau strategi dengan membentuk kelompok paling banyak 5 (lima) orang dengan struktur keanggotaan yang heterogen. 2 Strategi pembelajaran ini dirancang untuk mendidik siswa tentang kolaborasi dan interaksi kelompok, sehingga menghasilkan saling ketergantungan positif, tanggung jawab pribadi, dan komunikasi mendalam antar anggota kelompok. Metode pembelajaran ini banyak digunakan pada berbagai jenjang pendidikan, termasuk pada tingkat sekolah dasar. Metode ini menekankan pada kerjasama antar peserta didik dalam kelompok kecil untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu. Dalam konteks pembelajaran kooperatif, peserta didik bekerja sama, berbagi ide, dan saling mendukung untuk memperdalam pemahaman mereka tentang suatu topik.

Namun, dalam implementasinya, tidak semua peserta didik dapat dengan mudah mengatasi tantangan pembelajaran kooperatif. Beberapa diantaranya mungkin menghadapi kesulitan belajar yang perlu diidentifikasi dan diatasi agar proses pembelajaran berjalan efektif. Oleh karena itu, analisis kesulitan belajar pada metode Cooperative Learning di sekolah dasar menjadi suatu aspek yang krusial untuk diperhatikan. Kesulitan belajar merupakan suatu bentuk gangguan dalam satu atau lebih dari faktor fisik dan psikis mendasar yang meliputi pemahaman atau penggunaan bahasa, lisan atau tulisan dengan sendirinya muncul sebagai kemampuan tidak sempurna untuk mendengarkan, berpikir, berbicara, membaca, menulis, atau membuat perhitungan matematikal, termasuk juga keadaan ekonomi, budaya, atau lingkungan yang tidak menguntungkan. Kesulitan belajar ditandai dengan menurunnya kinerja anak secara akademik atau prestasi belajar peserta didik. Kesulitan ini juga dibuktikan

1 Hasbulah, Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2012), h. 2.

2 Jacobsen dkk., Metode-metode pengajaran (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009).

A

(3)

dengan menurunnya kelainan perilaku (Mishbehaviour) peserta didik.3 Dimana sukanya berbuat keributan dan mengganggu teman di dalam kelas, keluar sekolah tanpa meminta izin (bolos), sering tidak masuk sekolah dan lain sebagainya.

Optimasi model pembelajaran Cooperative Learning menjadi suatu hal yang sangat relevan untuk diungkap, terutama ketika dihadapkan pada kesulitan belajar peserta didik. Kesulitan belajar menjadi tantangan kompleks yang membutuhkan pendekatan yang tepat agar setiap peserta didik dapat mengatasi hambatan tersebut dengan baik. Oleh karena itu, perlu pembahasan lebih lanjut tentang upaya optimasi model Cooperative Learning guna mengatasi kesulitan belajar yang mungkin dihadapi oleh peserta didik di tingkat Sekolah Dasar. Melalui analisis mendalam terhadap faktor- faktor penyebab kesulitan belajar, yang bertujuan untuk menyajikan konsep-konsep dan strategi konkret dalam meningkatkan efektivitas Cooperative Learning di lingkungan pembelajaran Sekolah Dasar. Dengan demikian, dapat dipahami betapa pentingnya pengembangan model pembelajaran yang tidak hanya mendukung aspek kognitif, tetapi juga aspek sosial dan emosional peserta didik.

Dalam perkembangannya, Cooperative Learning telah terbukti memberikan dampak positif terhadap pencapaian akademis, keterampilan sosial, dan motivasi belajar. Oleh karena itu, pengoptimalan model Cooperative Learning dapat menjadi solusi yang efektif dalam mengatasi kesulitan belajar peserta didik di Sekolah Dasar.4 Diantara solusi strategi yang dapat diambil yaitu pemetaan dan pemahaman individu, pembentukan kelompok fleksibel, diferensiasi instruksional, pendukung dan tutor sebaya, penggunaan sumber daya digital, model pembelajaran berbasis proyek, pemantauan dan intervensi segera, kemampuan sosial dan emosional, partisipasi orang tua dan pelatihan guru. Dengan demikian, diharapkan dapat memberikan wawasan yang berharga bagi para pendidik, pengambil kebijakan pendidikan, dan semua pihak yang peduli terhadap kualitas pendidikan di tingkat dasar. Inilah tujuan penelitian yang penulis lakukan untuk melihat sejauhmana optimasi model pembelajaran cooperative lerarning dalam menghadapi kesulitan belajar peserta didik sekolah dasar.

3 Tohirin, Psikologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam (Jakarta: Grafindo, 2008).

4 Nasaruddin Nasaruddin, Syarifuddin Syarifuddin, dan Bustomi Arisandi, “Evaluation Model Of Noble Moral Education For Students In Madrasah,” Al-Insyiroh: Jurnal Studi Keislaman 9, no. 1 (26 Maret 2023): 143–67, https://doi.org/10.35309/alinsyiroh.v9i1.6360.

(4)

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan metode penelitian lapangan dengan pendekatan deskriptif kualitatif untuk memperoleh informasi mengenai optimasi model pembelajaran cooperative learning terhadap kesulitan belajar peserta didik sekolah dasar. Penelitian kualitatif merupakan penelitian yang berupa kutipan, rangkaian kata- kata dan bukan berupa angka-angka. Penelitian yang dimaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dll secara holistik, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah.5 Sumber data yang dipakai merujuk dari sumber-sumber yang sudah ada, baik berupa artikel, jurnal, buku, dan lain sebagainya. Sumber data sekunder dari penelitian ini adalah semua data yang berkaitan dengan judul penelitian serta penjelasan wawancara.

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu : pertama, wawancara dimana penulis menggunakan wawancara terstruktur dengan membawa susunan pertanyaan yang telah dipersiapkan terlebih dahulu.6. Kedua, observasi yaitu metode yang digunakan dengan cara melakukan pengamatan yang dilakukan menggunakan indera penglihatan tanpa mengajukan petanyaan-pertanyaan.7 Ketiga, dokumentasi yang berupa catatan peristiwa yang sudah berlalu. Dalam penelitian ini, penulis memakai sumber tertulis seperti buku, hasil wawancara, dan melibatkan pemanfaatan dokumen, rekaman, dan bahan tertulis lainnya. Artikel penelitian yang dinilai adalah artikel dari majalah nasional dan sehubungan dengan analisis kesulitan belajar kooperatif learning peserta didik sekolah dasar.

PEMBAHASAN

Penerapan Model Pembelajaran Cooperative Learning dalam mengatasi Kesulitan Belajar Siswa Sekolah Dasar

Sebelum diterapkannya model pembelajaran Cooperative Learning sebaiknya terlebih dahulu mengetahui bagaimana karakteristik pembelajaran peserta didik sekolah dasar. Karakteristik pembelajaran peserta didik sekolah dasar dapat berbeda-beda pada setiap jenjang pendidikan, terutama pada tingkat Sekolah Dasar. Diantara karakteristik

5 Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif Edisi Revisi (Bandung: Remaja Rosydakarya, 2006), h. 6.

6 Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif Dan R & D. (Bandung: Alfabeta, 2009), h.

233.

7 Soehartono, I., Metode Penelitian Sosial, suatu ilmu penelitian bidang kesejahteraan sosial dan ilmu sosial lainnya (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2000), h. 69.

(5)

kelas rendah adalah adanya hubungan yang kuat antara keadaan jasmani dan prestasi sekolah; suka memuji diri sendiri; menganggap tidak pentingnya tugas apabila tidak dapat mengerjakannya; suka membandingkan dirinya dengan anak lain, serta suka meremehkan orang lain. Disisi lain, ciri-ciri/karakteristik anak Sekolah Dasar kelas tinggi meliputi: perhatiannya tertuju kepada kehidupan praktis sehari-hari; ingin tahu, ingin belajar dan realistis; munculnya minat kepada pelajaran-pelajaran khusus;

memandang nilai sebagai ukuran yang tepat mengenai prestasi belajarnya di sekolah;

dan suka membentuk kelompok sebaya atau peergroup untuk bermain bersama, mereka membuat peraturan sendiri dalam kelompoknya.8

Penerapan Model Pembelajaran Cooperative Learning dapat menjadi strategi yang efektif untuk mengatasi kesulitan belajar siswa di Sekolah Dasar. Berikut adalah beberapa langkah yang dapat diambil :

a. Pembentukan Kelompok Heterogen : Bentuk kelompok yang terdiri dari siswa dengan tingkat kemampuan yang beragam. Ini memungkinkan siswa yang lebih mampu membantu teman-temannya yang kesulitan belajar.

b. Peran Guru sebagai Fasilitator : Guru berperan sebagai fasilitator dan membimbing proses pembelajaran kelompok. Guru dapat memberikan arahan, memberikan bahan, dan mendukung kegiatan kelompok.

c. Struktur Tugas Kooperatif : Tentukan tugas-tugas yang memerlukan kerja sama di antara anggota kelompok. Pastikan bahwa setiap anggota kelompok memiliki tanggung jawab yang jelas dan berkontribusi dalam pencapaian tujuan bersama.

d. Penggunaan Materi yang Relevan dan Menarik : Pilih materi pembelajaran yang relevan, menarik, dan sesuai dengan tingkat pemahaman siswa. Materi yang menarik dapat meningkatkan motivasi siswa untuk belajar.

e. Pemberian Umpan Balik Positif : Berikan umpan balik positif kepada setiap anggota kelompok. Dorong sikap saling membantu dan memberi penguatan positif untuk usaha bersama.

f. Diskusi dan Tanya Jawab : Galakkan diskusi di antara anggota kelompok. Siswa dapat saling bertanya dan menjelaskan konsep kepada teman-temannya. Diskusi ini dapat membantu siswa yang kesulitan belajar untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik.

8 Rita Eka Izzaty, dkk., Perkembangan Peserta Didik (Yogyakarta: UNY Press, 2013), h. 115.

(6)

g. Penugasan Proyek Kolaboratif : Sisipkan kegiatan proyek kolaboratif dalam pembelajaran. Proyek-proyek ini dapat merangsang pemikiran kreatif, kerja sama tim, dan pemecahan masalah bersama.

h. Evaluasi Bersama : Setelah kelompok menyelesaikan tugasnya, lakukan evaluasi bersama. Diskusikan apa yang telah dipelajari dan bagaimana setiap anggota kelompok dapat meningkatkan kontribusinya di masa depan.

i. Fleksibilitas Dalam Pembelajaran : Kenali perbedaan individual siswa dan sesuaikan pendekatan pembelajaran sesuai kebutuhan mereka. Fleksibilitas dalam memodifikasi strategi pembelajaran dapat membantu menanggapi kebutuhan siswa yang berbeda.

j. Pemantauan dan Intervensi : Pantau kemajuan siswa secara teratur dan lakukan intervensi jika diperlukan. Berikan bantuan tambahan kepada siswa yang masih mengalami kesulitan belajar.9

Penerapan model pembelajaran kooperatif membutuhkan waktu untuk menyesuaikan dan membangun budaya kerja sama di kelas. Namun, dengan kesabaran dan konsistensi, metode ini dapat membantu siswa mengatasi kesulitan belajar dan meningkatkan pencapaian akademis mereka.

Berdasarkan pengamatan penulis temukan dilapangan dari semester 1 tahun ajaran 2022/2023, dalam penerapan model pembelajaran Cooperative Learning pada awalnya peserta didik mengalami beberapa kendala diantaranya kesulitan kerjasama, pemilihan kelompok, tidak aktifnya beberapa anggota kelompok dan terjadinya konflik antar kelompok. Ini semua disebabkan karena peserta didik telah terbiasa dengan metode pembelajaran yang dipakai selama ini yakninya metode ceramah. Dimana guru menyajikan bahan pengajaran melalui penerangan dan penuturan lisan kepada siswa tentang suatu topik materi menggunakan alat bantu/alat peraga seperti gambar, peta, benda, barang tiruan dan lain-lain. Yang mana peserta didik hanya mendengarkan dengan seksama dan mencatat pokok-pokok penting yang dipaparkan guru.10 Sedangkan tantangan yang dihadapi guru berupa kesiapan materi dan persiapan tambahan untuk merancang tugas, memastikan sumber daya yang cukup dan memonitor kemajuan kelompok, serta sulitnya penilaian konstribusi antara individu dan kelompok.

Keberhasilan penerapan model pembelajaran dapat dilihat dari hasil akhir yang diperoleh peserta didik, yakninya berupa evaluasi ditengah semester dan akhir semester.

9 Muhsin, Pembelajaran Kooperatif (Surabaya: University Press, 2000).

10 Mu’awanah, Strategi Pembelajaran Cet 1 (Kediri: Stain Kediri Press, 2011), h. 27.

(7)

Hasil belajar siswa merupakan dampak dari aktivitas yang dapat dilihat perubahannya melalui pengetahuan, pemahaman, kecakapan, keterampilan, dan nilai sikap melalui ujian tulis maupun ujian lainnya.11 Ini merupakan sebagai acuan bagi guru untuk melakukan langkah selanjutnya demi tercapainya tujuan sesuai target yang telah ditentukan. Dimana penulis melihat trend positif peserta didik dalam memahami materi pelajaran yang terus meningkat, terbukti dari hasil data yang penulis peroleh sebelum dan sesudah menggunakan model pembelajaran cooperative learning. Sebelum menggunakan metode cooperative learning pada 3 bulan awal semester 1 yang masih menggunakan model pembelajaran ceramah, semua ini dilakukan bertujuan untuk bisa melihat sejauhmana keefektifan model Cooperative learning setelah diterapkan.

Dimana, peserta didik mengalami kesulitan dalam pembelajaran berupa memahami materi pelajaran. Ini terbukti ketika dilaksanakannya evaluasi tengah semester, pencapaian nilai yang diperoleh 50 % dibawah KKM yang ditentukan dari jumlah peserta didik yang ada. Sedangkan setelah model pembelajaran cooperative learning ini diterapkan, kemampuan peserta didik mulai mengalami kemajuan walaupun tidak signifikan, tetapi hasilnya meningkat 15 % dari sebelumnya menjadi 65 %.

Optimalisasi model pembelajaran cooperative learning pada semester 2 dengan sepenuhnya dilaksanakan yang sangat berdampak kepada cara belajar dan hasil evaluasi belajar peserta didik, dikarenakan peserta didik mulai terbiasa dan memahami model pembelajaran cooperative learning. Peserta didik mulai aktif dan mandiri dibawah bimbingan guru. Sebelumya, pencapaian hasil pembelajaran 65 % kemudian meningkat menjadi 90 % dari jumlah peserta didik yang dijadikan sampel penelitian berupa 2 kelompok rombel yaitu kelas 4 berjumlah 30 orang dan kelas 5 berjumlah 25 orang.

Beranjak dari hal inilah dapat disimpulkan bahwa Pengoptimalan model pembelajaran cooperative learning dapat meminimalisir terhadap kesulitan belajar dan meningkatkan hasil belajar peserta didik, terbukti dari hasil penelitian yang dilakukan.

Penyebab utama kesulitan belajar peserta didik dalam pembelajaran dikarenakan penerapan model atau metode pembelajaran yang kurang tepat. Sehingga menyebabkan peserta didik kurang aktif dan monoton dalam pembelajaran. Optimasi model pembelajaran Cooperative Learning dapat menjadi solusi yang tepat dan efektif dalam mengatasi kesulitan belajar siswa di Sekolah Dasar. Selain itu, metode ini juga sangat

11 Vianita Prasetyawati, “Metode Cooperative Learning dalam Meningkatkan Kualitas Hasil Belajar di Masa Pandemi Covid-19,” Jurnal EPISTEMA Vol. 2 No.02 (Oktober 2021) (2021), https://doi.org/10.21831/ep.v2i2.4127.

(8)

berperan dalam membentuk karakter siswa, baik karakter bermoral, berkinerja, berelasi, maupun spiritual.

Pengaruh Model Cooperatif Learning terhadap Kesulitan Belajar

Pengaruh Model Cooperative Learning terhadap Kesulitan Belajar dapat mencakup berbagai aspek yang relevan dengan hasil belajar peserta didik. Dalam analisis ini, beberapa dimensi yang perlu dipertimbangkan melibatkan :

1. Peningkatan Pemahaman Konsep : Model Cooperative Learning dapat membantu peserta didik memahami konsep-konsep pelajaran dengan lebih baik melalui diskusi kelompok. Terlibatnya peserta didik dalam berbagi pengetahuan dan pemecahan masalah secara bersama-sama dapat mengatasi kesulitan belajar dalam memahami materi pelajaran.

2. Motivasi Belajar : Kolaborasi antar siswa dalam pembelajaran kooperatif dapat meningkatkan motivasi peserta didik. Dengan merasa terlibat dan memiliki tanggung jawab dalam kelompok, peserta didik cenderung lebih termotivasi untuk mengatasi kesulitan belajar dan berpartisipasi aktif dalam pembelajaran.

3. Keterampilan Sosial : Pembelajaran kooperatif membangun keterampilan sosial peserta didik melalui interaksi dengan teman sekelas. Keterampilan sosial yang diperoleh dapat membantu peserta didik mengatasi kesulitan belajar dengan mendapatkan dukungan dan bantuan dari rekan-rekan mereka.12

4. Peningkatan Hasil Tes : Kooperatif Learning dapat meningkatkan hasil tes peserta didik melalui saling bantu-membantu dan saling mengajarkan dalam kelompok.

Peningkatan hasil tes dapat menjadi indikasi bahwa model pembelajaran ini berhasil mengatasi kesulitan belajar dan meningkatkan pemahaman peserta didik.

5. Partisipasi Aktif : Pembelajaran kooperatif mendorong partisipasi aktif peserta didik dalam proses pembelajaran. Peserta didik yang aktif terlibat dalam diskusi dan tugas kelompok cenderung mengalami peningkatan keterlibatan, yang dapat membantu mengatasi kesulitan belajar.

6. Adaptabilitas terhadap Gaya Belajar : Cooperative Learning dapat memberikan fleksibilitas untuk beradaptasi dengan gaya belajar berbeda di antara peserta didik.

12 Nasaruddin Nasaruddin dan Syarifuddin Syarifuddin, “Pola Pembinaan Sosial Keagamaan Dengan Pengintegrasian Nilai-Nilai Budaya Bima (Studi Terhadap Para Narapidana Di Lembaga Pemasyarakatan Bima),” TAJDID: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Kemanusiaan 2, no. 1 (5 April 2018): 297–313, https://doi.org/10.52266/tadjid.v2i1.103.

(9)

Model ini dapat mengatasi kesulitan belajar dengan menyediakan lingkungan pembelajaran yang lebih sesuai dengan gaya belajar individu.

7. Pengembangan Keterampilan Kritis : Pembelajaran kooperatif dapat mempromosikan pengembangan keterampilan berpikir kritis dan pemecahan masalah. Peserta didik yang dapat mengembangkan keterampilan ini mungkin lebih efektif dalam mengatasi kesulitan belajar.

8. Pemberdayaan Peserta Didik : Model Cooperative Learning dapat memberdayakan peserta didik untuk mengambil peran aktif dalam proses pembelajaran.

Pemberdayaan ini dapat meningkatkan rasa tanggung jawab peserta didik terhadap pembelajaran mereka dan membantu mengatasi kesulitan belajar.13

Pengaruh model Cooperative Learning dapat bervariasi tergantung pada implementasi yang tepat, dukungan dari guru, karakteristik peserta didik, dan faktor- faktor lingkungan lainnya. Oleh karena itu, hasil penelitian dan pengamatan langsung dalam konteks spesifik sangat penting untuk menggambarkan dampak sebenarnya dari penggunaan model Cooperative Learning terhadap kesulitan belajar peserta didik di sekolah dasar.

Jenis-jenis dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kesulitan Belajar

Menurut Mulyadi, kesulitan belajar mempunyai jenis dan macam amat banyak dan luas yang di antaranya adalah sebagai berikut : 1) Learning disorder, adalah keadaan di mana proses belajar seseorang terganggu karena timbulnya respons yang bertentangan. Dengan demikian, hasil belajar yang dicapai akan lebih rendah dari potensi yang dimiliki. 2) Learning disabilities (ketidakmampuan belajar), adalah ketidakmampuan seseorang yang mengacu kepada gejala di mana seseorang tidak mampu belajar (menghindari belajar) sehingga hasil belajarnya di bawah potensi intelektualnya. 3) Learning disfunction (ketidakfungsian belajar), adalah menunjukkan gejala di mana proses belajar tidak berfungsi dengan baik meskipun pada dasarnya tidak ada tanda-tanda subnormalitas mental, gangguan alat indera atau gangguan psikologis lainnya. 4) Under achiever, adalah mengacu pada seseorang yang memiliki tingkat potensi intelektual di atas normal, tetapi prestasi belajarnya tergolong rendah.5) Slow learner, adalah seseorang yang lambat dalam proses belajarnya sehingga

13 Ibrahim , Muslimin, et. al., Pembelajaran Kooperatif (Surabaya: UNESAUniversity Press, 2001).

(10)

membutuhkan waktu dibandingkan seseorang yang lain yang memiliki taraf potensi intelektual yang sama.14

Sedangkan Mulyono mengatakan bahwa kesulitan belajar secara umum dibagi menjadi dua kelompok, yaitu : a. Kesulitan belajar yang berhubungan dengan perkembangan (development learning disabilities). Kesulitan ini mencangkup gangguan perhatian, ingatan, motorik dan persepsi, bahasa dan berpikir. b. Kesulitan belajar akademik (academic learning), yang mencangkup kesulitan membaca, menulis dan berhitung atau matematika.15 Adapun menurut Tanjungsari dan Soedjoko, beberapa jenis kesulitan belajar yang umum ditemui di kelas adalah sebagai berikut : a. Kesulitan dalam memahami soal cerita, b. Kesulitan dalam menggunakan konsep, c. Kesulitan dalam menggunakan prinsip.16

Faktor-faktor yang memengaruhi kesulitan belajar sebagai berikut : Rendahnya kemampuan intelektual anak, Gangguan perasaaan atau emosi, Kurangnya motivasi untuk belajar, Kurang matangnya anak untuk belajar, Usia terlampau muda, Latar belakang sosial yang tidak menunjang, Kebiasaan belajar yang kurang baik, Kemampuan mengingat yang rendah, Terganggunya alat-alat indra, Proses belajar mengajar yang tidak sesuai, Tidak adanya dukungan dari lingkungan belajar, dan Lingkungan yang kurang mendukung proses pembelajaran.17

Kesulitan belajar dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yang berbeda-beda tergantung individunya. Faktor tersebut dapat bersifat internal (di dalam diri peserta didik) atau eksternal (di luar diri peserta didik). Berikut beberapa faktor yang mempengaruhi kesulitan belajar18 :1. Faktor Genetik : Beberapa kesulitan belajar, seperti disleksia, cenderung bersifat genetik. Jika ada riwayat kesulitan belajar dalam keluarga, kemungkinan anak-anak dalam keluarga tersebut juga mengalami kesulitan belajar, 2. Gangguan Kesehatan Mental : Masalah kesehatan mental seperti kecemasan, depresi, atau ADHD dapat memengaruhi kemampuan peserta didik untuk berkonsentrasi dan belajar dengan baik. 3. Faktor Neurologis : Permasalahan pada struktur atau fungsi otak dapat menyebabkan kesulitan belajar. Contohnya adalah

14 Asrori, Psikologi pendidikan pendekatan multidisipliner (Banyumas: Pena Persada, 2020), h. 94.

15 Abdurrahman Mulyono, Pendidikan bagi Anak Berkesulitan Belajar (Jakarta: Rineka Cipta, 2012).

16 Tanjungsari dan Soedjoko, Diagnosis Kesulitan Belajar Matematika SMP pada Materi Persamaan Garis Lurus (Semarang: Universitas Negeri Semarang, 2012).

17 Noehi Nasution, Materi Pokok Psikologi Pendidikan (Jakarta: Universitas Terbuka, 1992), h.

215.

18 Ali Ridho dkk., “Evaluasi Program Gerakan Furudhul Ainiyah (Gefa) dengan Menggunakan Model Kirkpatrick,” FIKROTUNA 11, no. 01 (31 Juli 2020), https://doi.org/10.32806/jf.v11i01.3938.

(11)

gangguan pengolahan sensorik atau gangguan pada bagian otak yang mengendalikan bahasa. 4. Kualitas Pengajaran : Kualitas pengajaran oleh guru atau metode pembelajaran yang tidak sesuai dengan kebutuhan peserta didik dapat mempengaruhi kemampuan mereka untuk memahami materi pelajaran. 5. Kondisi Kesehatan Fisik : Masalah kesehatan fisik seperti gangguan pendengaran, penglihatan, atau masalah kronis dapat mengganggu proses belajar. 6. Lingkungan Belajar : Lingkungan di mana peserta didik belajar juga dapat berperan. Gangguan, kebisingan, atau kurangnya dukungan dari keluarga dan teman sebaya dapat mengganggu konsentrasi belajar. 7.

Stres dan Trauma : Pengalaman stres berat atau trauma bisa memengaruhi kemampuan peserta didik untuk berkonsentrasi dan meresapi informasi. 8. Gangguan Bahasa dan Komunikasi : Kesulitan dalam bahasa atau komunikasi dapat menghambat pemahaman peserta didik terhadap materi pelajaran. 9. Kurangnya Motivasi : ketidakberanian atau kurangnya motivasi untuk belajar dapat menjadi hambatan utama dalam meraih keberhasilan akademik. 10. Kurangnya Strategi Pembelajaran : Peserta didik mungkin tidak memiliki strategi pembelajaran yang efektif, seperti cara mengorganisir waktu, mengambil catatan, atau memecahkan masalah. 11. Kebutuhan Khusus : Peserta didik dengan kebutuhan khusus (misalnya, peserta didik dengan disabilitas) mungkin memerlukan bantuan ekstra untuk mengatasi kesulitan belajar mereka. 12. Kurangnya Dukungan Sosial : Dukungan dari guru, orang tua, teman sebaya, dan konselor dapat sangat berpengaruh dalam mengatasi kesulitan belajar. 13. Perbedaan Gaya Belajar : Setiap peserta didik memiliki gaya belajar yang berbeda, dan metode pembelajaran yang tidak cocok dengan gaya belajar peserta didik dapat menyebabkan kesulitan belajar.19

Memahami faktor-faktor yang memengaruhi kesulitan belajar penting untuk mengidentifikasi masalah dan menyusun strategi untuk membantu peserta didik mengatasi kesulitan belajar mereka. Dengan dukungan yang tepat, banyak peserta didik dapat mengatasi hambatan ini dan mencapai potensi akademik mereka.

Kesulitan Peserta didik Dalam Pembelajaran Kooperatif

Kesulitan belajar adalah adalah kesulitan yang dialami oleh peserta didik dalam kegiatan belajarnya yang nantinya akan berakibat pada prestasi belajarnya yang rendah dan perubahan tingkah laku yang terjadi tidak sesuai dengan partisipasi yang diperoleh sebagaimana teman-teman kelasnya. Menurut Hasbullah, secara umum kesulitan belajar

19 Moh. Fatah dkk., “Jenis-Jenis Kesulitan Belajar dan Faktor Penyebabnya Sebuah Kajian Komperehensif pada Peserta didik SMK Muhammadiyah Tegal,” Psycho Idea 19 Nomer 01 (2021).

(12)

dipandang sebagai peserta didik dengan prestasi yang rendah. Kesulitan belajar peserta didik sebagai kesukaran peserta didik dalam menerima dan menyerap materi pelajaran di sekolah.20

Kesulitan-kesulitan tersebut dapat menghambat proses pembelajaran kooperatif peserta didik. Dimana peserta didik mengalami berbagai kesulitan saat terlibat dalam pembelajaran kooperatif. Beberapa dari kesulitan ini meliputi :

a. Kurangnya Kemampuan Kolaborasi : Beberapa peserta didik mungkin kurang terampil dalam bekerja sama dengan orang lain. Mereka mungkin memiliki kendala dalam berkomunikasi, bernegosiasi, atau menyelesaikan konflik dalam konteks kelompok.

b. Kurangnya Keterampilan Sosial : Kesulitan dalam keterampilan sosial, seperti memahami perasaan dan pandangan orang lain, dapat membuat peserta didik merasa tidak nyaman dalam pembelajaran kooperatif.

c. Perbedaan Tingkat Kemampuan : Peserta didik memiliki berbagai tingkat kemampuan akademis. Perbedaan ini dapat mengakibatkan frustrasi, terutama jika peserta didik yang lebih unggul merasa tertinggal atau peserta didik yang kurang unggul merasa terbebani.

d. Ketidaksetaraan Kontribusi : Dalam beberapa kelompok, ada kemungkinan bahwa satu atau beberapa peserta didik melakukan sebagian besar pekerjaan, sementara yang lainnya hanya mengikuti. Hal ini dapat menyebabkan ketidaksetaraan dalam kontribusi kelompok.

e. Kurangnya Kepemimpinan : Peserta didik mungkin kesulitan menentukan siapa yang akan memimpin kelompok atau mengambil tanggung jawab utama. Ini dapat menghambat produktivitas kelompok.

f. Konflik dalam Kelompok : Konflik pribadi antara anggota kelompok dapat mengganggu kerja sama dan fokus pada pembelajaran.

g. Kurangnya Motivasi : Peserta didik mungkin merasa kurang termotivasi untuk bekerja dalam kelompok, terutama jika mereka merasa bahwa hasil kerja kelompok tidak dihargai atau tidak relevan bagi mereka.

h. Ketidakpastian dalam Peran : Peserta didik mungkin tidak mengerti peran mereka dalam kelompok atau apa yang diharapkan dari mereka.

20 Hasbullah, Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2008), h. 5.

(13)

i. Masalah dalam Pengaturan Waktu : Mengelola waktu dengan efisien dalam kerangka kerja kelompok dapat menjadi kesulitan bagi sebagian peserta didik.

j. Kurangnya Pengalaman : Peserta didik yang belum memiliki pengalaman dalam pembelajaran kooperatif mungkin merasa canggung atau tidak yakin tentang bagaimana melibatkan diri dalam kerja kelompok.21

Penting bagi pendidik untuk menyadari kesulitan ini dan memberikan bimbingan serta dukungan yang diperlukan. Ini bisa mencakup pelatihan keterampilan sosial, mempromosikan lingkungan yang inklusif dan mendukung, dan memberikan panduan yang jelas tentang bagaimana kelompok seharusnya beroperasi. Selain itu, pemberian umpan balik konstruktif dan pengakuan terhadap kontribusi peserta didik dapat membantu mengatasi sebagian besar kesulitan dalam pembelajaran kooperatif.

Solusi Alternatif dalam Menghadapi Kesulitan Belajar Kooperatif Peserta didik Sekolah Dasar

Menghadapi kesulitan belajar kooperatif peserta didik sekolah dasar, terdapat berbagai solusi alternatif yang dapat diterapkan oleh guru dan pendidik. Untuk mengatasi kesulitan belajar guru sebaiknya mengidentifikasi peserta didik dengan perbedaan gaya belajarnya dan dapat mengelola kelas dengan baik menggunakan metode pembelajaran yang relevan terhadap setiap peserta didik.22 Berikut beberapa solusi alternatif yang dapat membantu mengatasi kesulitan belajar kooperatif :

a. Pembagian Kelompok yang Seimbang : Pastikan kelompok yang dibentuk mencakup berbagai peserta didik dengan tingkat kemampuan yang berbeda-beda.

Hal ini dapat membantu mengurangi ketimpangan kontribusi dalam kelompok.

b. Panduan Peran dan Tanggung Jawab : Jelaskan dengan jelas peran dan tanggung jawab masing-masing anggota kelompok. Pastikan setiap peserta didik tahu apa yang diharapkan dari mereka dalam kelompok.23

c. Pelatihan Keterampilan Sosial : Bantu peserta didik dalam mengembangkan keterampilan sosial yang diperlukan untuk bekerja dalam kelompok. Ini termasuk kemampuan berkomunikasi, berkolaborasi, dan menyelesaikan konflik.

21 Chan, “Cooperative Learning in Mathematics Education,” International Journal of Academic Research in Business and Social Sciences No. 3. (2017).

22 Rangkuti, A. N., “Profil Kesalahan Peserta didik pada Materi Satuan Ukuran Ditinjau dari Gaya Belajar Peserta didik, , volume , ,” Jurnal Tadris Matematika 2, nomor 1 (2019): h. 61-70.

23 Nasarudin Nasarudin Evi Fatimatur Rusydiyah, “PENDIDIKAN ISLAM BERBASIS KELUARGA DALAM PERSPEKTIF ABDULLAH NASHIH ULWAN DI ERA MILENIAL,” Journal of Applied Linguistic and Islamic Education by JALIE is licensed under a Creative Commons Attribution- NonCommercial 4.0 International License. Based on a work at http://ejournal.inkafa.ac.id/index.php/jalie-inkafa. Volume 04, Nomor 01, Maret 2020, JALIE (2020), https://doi.org/10.33754/jalie.v4i01.203.

(14)

d. Peningkatan Motivasi : Menciptakan lingkungan yang mendukung motivasi peserta didik dalam pembelajaran kooperatif. Gunakan penghargaan, umpan balik positif, dan tugas yang menantang untuk menjaga motivasi peserta didik.

e. Pemantauan Guru yang Aktif : Meskipun pembelajaran kooperatif mendorong kemandirian peserta didik, guru harus memberikan pengawasan aktif untuk memastikan bahwa kelompok berfungsi secara efektif. Guru dapat memberikan nasihat, menjawab pertanyaan dan memfasilitasi diskusi.

f. Pemberian Contoh Positif : Sajikan contoh-contoh dari kelompok-kelompok yang bekerja dengan baik. Ini dapat memberikan inspirasi bagi peserta didik untuk bekerja lebih efektif dalam kelompok mereka.

g. Kurikulum yang Relevan : Pastikan bahwa materi pelajaran yang diajarkan dalam konteks pembelajaran kooperatif relevan dengan kehidupan sehari-hari peserta didik. Ini dapat meningkatkan motivasi dan pemahaman peserta didik.

h. Fleksibilitas dalam Pengaturan Kelompok : Berikan fleksibilitas dalam mengganti anggota kelompok jika diperlukan. Ini dapat membantu mengatasi masalah konflik atau ketidakcocokan dalam kelompok.

i. Umpan Balik Konstruktif : Berikan umpan balik konstruktif kepada peserta didik setelah tugas selesai. Fokus pada apa yang telah berhasil dan di mana ada ruang untuk perbaikan.

j. Pelatihan Guru : Guru perlu dilatih dalam metode pembelajaran kooperatif, sehingga mereka dapat secara efektif memfasilitasi pembelajaran kooperatif dalam kelas mereka.24

Jadi dapat dipahami bahwa dalam menghadapi kesulitan belajar kooperatif di sekolah dasar memerlukan kesabaran dan perencanaan yang baik. Guru perlu memahami bahwa setiap peserta didik adalah individu yang unik dan dapat menghadapi tantangan yang berbeda. Dengan menggabungkan solusi-solusi alternatif ini, guru dapat menciptakan lingkungan pembelajaran kooperatif yang mendukung perkembangan semua peserta didik di sekolah dasar. Dengan solusi yang tepat dan sesuai akan menciptakan pembelajaran yang efektif dan menarik bagi peserta didik.

24 Bobbi Deporter dan Mike Hercacki, Quantum Learning: Membiasakan Belajar Nyaman Dan Menyenangkan (Bandung: PT. Mizan Pustaka, 2015).

(15)

KESIMPULAN

Model Pembelajaran Cooperative Learning dapat mempengaruhi kemampuan siswa dalam memahami materi pelajaran dan berinteraksi dengan teman sekelas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model cooperative learning dapat secara signifikan meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi pelajaran dan membantu mereka untuk mengatasi kesulitan belajar. Dengan demikian, model pembelajaran ini dapat dianggap sebagai metode yang efektif dalam meningkatkan kualitas pendidikan di tingkat dasar. Terbukti dengan mengoptimalkan metode ini memberikan dampat positif terhadap prestasi peserta didik dalam pembelajaran.

Keberhasilan penerapan model pembelajaran dapat dilihat dari hasil akhir yang diperoleh peserta didik. Optimasi model pembelajaran cooperative learning jika dengan sepenuhnya dilaksanakan sangat berdampak kepada cara belajar dan pemahaman peserta didik dalam memahami materi pembelajaran. Semuanya ini dapat dilihat dari mulainya peserta didik aktif dan mandiri dalam pembelajaran sehingga tercapainya mutu pendidikan yang baik dan berkualitas. Jadi diharapkan kepada semua pihak dalam dunia pendidikan baik itu pendidik maupun instansi terkait yang berkaitan dengan pendidikan dapat memberikan solusi yang tepat dalam memilih model pembelajaran.

DAFTAR PUSTAKA

Asrori. Psikologi pendidikan pendekatan multidisipliner. Banyumas: Pena Persada, 2020.

Bobbi Deporter, dan Mike Hercacki. Quantum Learning: Membiasakan Belajar Nyaman Dan Menyenangkan. Bandung: PT. Mizan Pustaka, 2015.

Chan. “Cooperative Learning in Mathematics Education.” International Journal of Academic Research in Business and Social Sciences No. 3. (2017).

Evi Fatimatur Rusydiyah, Nasarudin Nasarudin. “PENDIDIKAN ISLAM BERBASIS KELUARGA DALAM PERSPEKTIF ABDULLAH NASHIH ULWAN DI ERA MILENIAL.” Journal of Applied Linguistic and Islamic Education by JALIE is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0

International License. Based on a work at

http://ejournal.inkafa.ac.id/index.php/jalie-inkafa. Volume 04, Nomor 01, Maret 2020, JALIE (2020). https://doi.org/10.33754/jalie.v4i01.203.

Hasbulah. Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2012.

Hasbullah. Dasar-Dasar Ilmu Pendidikan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2008.

Ibrahim , Muslimin, et. al. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: UNESAUniversity Press, 2001.

Jacobsen dkk. Metode-metode pengajaran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009.

(16)

Lexy J. Moleong. Metodologi Penelitian Kualitatif Edisi Revisi. Bandung: Remaja Rosydakarya, 2006.

Moh. Fatah dkk. “Jenis-Jenis Kesulitan Belajar dan Faktor Penyebabnya Sebuah Kajian Komperehensif pada Peserta didik SMK Muhammadiyah Tegal.” Psycho Idea 19 Nomer 01 (2021).

Mu’awanah. Strategi Pembelajaran Cet 1. Kediri: Stain Kediri Press, 2011.

Muhsin. Pembelajaran Kooperatif. Surabaya: University Press, 2000.

Mulyono, Abdurrahman. Pendidikan bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta: Rineka Cipta, 2012.

Nasaruddin, Nasaruddin, dan Syarifuddin Syarifuddin. “Pola Pembinaan Sosial Keagamaan Dengan Pengintegrasian Nilai-Nilai Budaya Bima (Studi Terhadap Para Narapidana Di Lembaga Pemasyarakatan Bima).” TAJDID: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Kemanusiaan 2, no. 1 (5 April 2018): 297–313.

https://doi.org/10.52266/tadjid.v2i1.103.

Nasaruddin, Nasaruddin, Syarifuddin Syarifuddin, dan Bustomi Arisandi. “Evaluation Model Of Noble Moral Education For Students In Madrasah.” Al-Insyiroh:

Jurnal Studi Keislaman 9, no. 1 (26 Maret 2023): 143–67.

https://doi.org/10.35309/alinsyiroh.v9i1.6360.

Nasution, Noehi. Materi Pokok Psikologi Pendidikan. Jakarta: Universitas Terbuka, 1992.

Rangkuti, A. N. “Profil Kesalahan Peserta didik pada Materi Satuan Ukuran Ditinjau dari Gaya Belajar Peserta didik, , volume , ,.” Jurnal Tadris Matematika 2, nomor 1 (2019): h. 61-70.

Ridho, Ali, Kusaeri Kusaeri, Nasaruddin Nasaruddin, dan Fathur Rohman. “Evaluasi Program Gerakan Furudhul Ainiyah (Gefa) dengan Menggunakan Model Kirkpatrick.” FIKROTUNA 11, no. 01 (31 Juli 2020).

https://doi.org/10.32806/jf.v11i01.3938.

Rita Eka Izzaty, dkk. Perkembangan Peserta Didik. Yogyakarta: UNY Press, 2013.

Soehartono, I. Metode Penelitian Sosial, suatu ilmu penelitian bidang kesejahteraan sosial dan ilmu sosial lainnya. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2000.

Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif Dan R & D. Bandung: Alfabeta, 2009.

Tanjungsari, dan Soedjoko. Diagnosis Kesulitan Belajar Matematika SMP pada Materi Persamaan Garis Lurus. Semarang: Universitas Negeri Semarang, 2012.

Tohirin. Psikologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Jakarta: Grafindo, 2008.

Vianita Prasetyawati. “Metode Cooperative Learning dalam Meningkatkan Kualitas Hasil Belajar di Masa Pandemi Covid-19.” Jurnal EPISTEMA Vol. 2 No.02 (Oktober 2021) (2021). https://doi.org/10.21831/ep.v2i2.4127.

Referensi

Dokumen terkait

DESAIN PEMBELAJARAN BERDASARKAN ANALISIS KESULITAN BELAJAR SISWA BERBASIS COOPERATIVE LEARNING TIPE GROUP INVESTIGATION (GI) PADA KONSEP GAYA MAGNET DI KELAS IV SEKOLAH

Strategi Guru Al Qur’an Hadits Dalam Mengatasi Kesulitan Belajar Peserta Didik di MAN Rejotangan Tulungagung.. Tulungagung : Skripsi

EHUMXGXO ³3 eningkatan Aktivitas Siswa dengan Menggunakan Model Cooperative Learning Tipe Think-Pair-Share di Kelas V Sekolah Dasar Negeri 04 Desa Sekabuk

didik untuk mengulang kembali materi pelajaran yang telah dipelajari di rumah, sehingga hal tersebut menjadi kendala dalam upaya guru mengatasi kesulitan belajar itu

Rosida, 2022: Strategi Guru Mengatasi Kesulitan Belajar Peserta didik Pada Pembelajaran Bahasa Indonesia Di Kelas V MIMA 01 KH Shiddiq Jember. Kata Kunci: Strategi

Penelitian ini bertujuan untuk menguji efektifitas terapi gerak dalam penanganan kesulitan belajar mata pelajaran bahasa Indonsia dan matematika peserta didik

MEDIA GAMBAR PADA MODEL COOPERATIVE LEARNING DI SEKOLAH DASAR Oleh : Dicky Setiardi Dosen Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar PGSD Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan

PENINGKATAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI LISAN PESERTA DIDIK SEKOLAH DASAR MELALUI MODEL PROJECT BASED LEARNING Anna Ardiyani Musriyono1*, Adi Winanto2 Prodi Pendidikan Profesi Guru