Media dan Program Literasi Inovatif, Bangkitkan Literasi Masa Kini
Pemahaman literasi saat ini tidak hanya berupa membaca dan menulis saja, banyak sekali perluasan dari hakikat literasi. Bahkan Kemendikbud telah menetapkan 6 pilar literasi dasar yang wajib dimiliki yakni literasi baca-tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi finansial, literasi kebudayaan dan kewargaan, literasi digital, maka dengan demikian pengembangan literasi sangat meluas yang berguna sebagai sumber pengetahuan mencakup keterampilan berpikir kritis dengan sumber dan pengetahuan baik dalam bentuk cetak, visual dan, digital.
Literasi merupakan pilar utama dalam kehidupan, beberapa aspek sangat memerlukan kemampuan literasi, tidak terkecuali dalam proses pendidikan. Pelajar dan pendidik nantinya akan berhadapan dengan tantangan di masa mendatang, sehingga disitulah peran literasi tidak hanya sekadar bahan pemahaman namun membudaya dalam kehidupan sehari-hari, sebab literasi yang membudaya akan menuai keberhasilan diberbagai aspek yaitu sekolah dan kehidupan bermasyarakat.
Implikasi literasi sekolah melalui Gerakan Literasi Sekolah (GLS) merupakan upaya menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajaran yang warganya literat sepanjang hayat melalui pelibatan publik yang dilakukan secara menyeluruh dan berkelanjutan.
Pelbagai perkembangan literasi saat ini, maka sebagai pendidik yang menjadi sumber utama penyaluran dan penggagas literasi sekolah sudah sepatutnya menjadi agen perubahan untuk lahirnya literasi inovatif, sehingga peran serta civitas akademika dan berbagai kalangan, baik literasi aktif maupun pasif akan tergerak untuk mengetahui dan memahami hakikat literasi tersebut.
Sebagai salah satu pendidik, bentuk cita-cita terbesar saya adalah memajukan literasi di Indonesia dengan program kreatif dan inovatif yang membuat peserta didik tidak terpaksa dan senang dalam mengenal literasi lebih dalam. Setelah saya mengenal progam Nyalanesia ada hawa segar yang membuat lebih semangat untuk mengobarkan semangat berliterasi, banyak sekali program berkualitas yang diberikan mulai dari workshop digital, Gerakan Sekolah Menulis Buku Nasional (GSMBN) dan berbagai program literasi yang menarik, selain itu penghargaan insan literasi diberikan pula sebagai pemacu untuk lebih giat menyuarakan literasi. Saya adalah seorang guru Bahasa Indonesia, sekaligus penulis dan pegiat literasi di Sidoarjo, dalam program ini banyak menemukan rekan sejalan dan setujuan.
Tidak sebatas itu saja mengenai program hebat Nyalanesia, peserta didik saya yang semula tidak terpacu dalam bidang literasi, mereka seolang api yang berkobar, semangatnya begitu membara ketika dapat berjumpa dengan peserta didik lainnya di Indonesia bahkan berdiskusi karya dengan rekan sekolah lain yang mengikuti program Nyalanesia pula. Mengingat besarnya peluang literasi untuk terus berjaya dalam Nyalanesia. Hal tersebut yang melatarbelakangi saya untuk tetap mengembangkan program literasi yang digagas sejak masih duduk dibangku perkuliahan. Adapun program literasinya yaitu:
1. Lidosi (Literasi Dongeng Sidoarjo)
Lidosi merupakan kependekan dari Literasi Dongeng Sidoarjo. Program ini dilaksanakan setiap dua minggu dengan mendongeng melalui virtual (live instagram) maupun tatap muka, untuk tatap muka kegiatan ini bekerja sama dengan beberapa sekolah untuk safari dongeng, serta bekerja sama dengan perpustakaan daerah. Cerita yang dibawakan yang memberikan amanat menarik bagi pendengarnya dan selalu berbeda disetiap pertemuannya. Program ini diinisiasi sebagai bentuk kepedulian kepada anak-anak yang saat ini cenderung menyukai gawai dan tidak mengerti cerita daerah.
2. Sekolah Anak Merdeka
Menjadi pendidik tidak hanya mengajar siswa dalam sekat gedung yang rapi dan berseragam. Sekolah anak merdeka adalah wadah bagi adik-adik Save Street Child Sidoarjo yang belum berkesempatan mengenyam sekolah formal karena terkendala biaya. Program ini dilaksanakan setiap hari Sabtu dan Minggu di dekat lampu merah Alun-Alun Sidoarjo yang bekerja sama dengan relawan untuk membantu anak-anak jalanan membaca dan menulis serta memberikan keterampilan literasi bidang usaha agar mereka bisa berkembang dan tidak terus-menerus bekerja di jalan. Selain itu program ini pernah saya laksanakan pula di daerah Dupak, Surabaya tepatnya di bawah Tol Dupak yang sudah tidak beroperasi, kegiatan yang dilakukan sama pula, hanya saja di daerah Dupak terkhusus untuk anak-anak pemulung dan bekas lokalisasi.
3. SABU SANAK (Satu Buku Satu Anak)
Program ini dilaksanakan pada tahap pembiasaan, namun dilaksanakan setelah sekolah masuk akan tetapi pada saat pandemi pembiasaan ini dilaksanakan di rumah di waktu senggang dalam tahap pengembangan. Program ini menantang peserta didik untuk meningkatkan kegemaran menulis.
Peserta didik dapat mendaftar program tantangan menulis, memberikan sertifikat pada peserta didik yang berhasil menulis dan membuat antologi yang dijadikan satu buku untuk setiap anak. Bagi karya terbaik akan mendapat piala GLS Award setiap akhir semester.
4. WAYANG DONGENG
Wayang dongeng adalah sebuah media pembelajaran untuk mengenalkan cerita dalam berbagai bentuk teks pembelajaran, yakni cerita imajinasi, cerita pendek, dongeng, dan sebagainya. Wayang dongeng ini terbuat dari kardus yang diberi tusuk dengan gambar hasil printing sesuai dengan karakter yang ingin diceritakan. Penggunaan wayang ini tidak hanya digunakan pendidik untuk bercerita, pun sebaliknya peserta didik dalam menyampaikan hasil tulisan cerita imajinasinya mereka mengaplikasikannya dengan bercerita melalui wayang ini.
5. JELANTIK (Jelantah dan Plastik
Kegiatan ini berkesinambungan dengan Bank sampah, namun di dalamnya terdapat sosialisasi mengenai sampah dan pemanfaatannya sebagai bentuk pemahaman literasi sains dan literasi sosial serta lingkungan kepada peserta didik, salah satunya SIPIL SAMPAH “Aksi Pilah Sampah”. Selain sebagai pendidik, peran saya sebagai Duta Lingkungan wajib mengedukasi sekitar tentang pentingnya memilah dan berlaku bijak dengan sampah, serta menginovasikan sampah hasil kita sendiri menjadi barang yang bermanfaat.
6. LIDTIG (LITERASI DIGITAL)
Era 4.0 literasi tentunya harus berkembang seiring dengan perkembangan zaman. Sesuai dengan 6 pilar dasar literasi yang digaungkan oleh Kemendikbud, program ini saya lakukan bekerjasama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika Indonesia (Kemenkominfo) dengan memberikan pemahaman literasi digital dan kiat berliterasi digital di sosial media, serta edukasi berbagai macam kejahatan digital, disetiap temanya bervariasi. Program ini saya wajibkan diikuti oleh peserta didik saya dengan membuat rangkuman setelah mendengarkan saya memaparkan materi bersama narasumber lainnya.