Krisis Literasi : Membaca atau Scroll Sosmed
Budaya literasi salah satu budaya yang harus dilestarikan, dengan literasi Pendidikan dan sumber daya manusia akan lebih berkualitas. Mirisnya Indonesia kini masih menjadi Negara yang minat membaca masyarakatnya masih dalam kategori sangat rendah.
Bagaimana tidak, Indonesia masuk dalam peringkat 10 Negara dalam Tingkat Literasi Terendah. Kebiasaan Masyarakat Indonesia yang sangat mudah terpengaruh oleh dampak globalisasi tidak seindah Negara Negara yang masyarakatnya kritis. Dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi nampaknya tidak memberikan begitu banyak kesan pada minat baca dan menulis Masyarakat Indonesia.
Masyarakat Indonesia sebenarnya lihai dalam hal membaca akan tetapi, Sebagian besar dari Masyarakat Indonesia lebih tertarik membaca gosip terkini dibandingkan berita ataupun buku. Makanya tidak sedikit dari Masyarakat Indonesia menjadi korban berita hoax dan semacamnya. Selain itu, Masyarakat Indonesia cenderum bosan, tidak tertarik dengan buku bacaan, menulis apalagi berdiskusi. Mereka lebih memilih bermain sosial media sepanjang hari, scroll sampai mampus, dan bahkan tidak sedikit dari mereka menjadikan tontonan dimedia sosial menjadi standar hidupnya. Yang lebih memprihatinkanya, perpustakaan sebagai sumber perdaban semakin hari semakin sepi, banyak mahasiswa dan siswa yang ogah ogahan masuk perpustakaan, jika ada mahasiswa atau siswa yang kemana mana membawa buku , tidak sedikit dari mereka mendapatkan ejekan oleh temannya, namun apa boleh buat ? itulah Masyarakat Indonesia. Negaranya aja yang kaya akan sumber daya alam tapi sumber daya manusianya kurang.
Kini perpustakaan hanya tempat kuno dan membosankan bagi Sebagian besar Masyarakat indonesia. Tak heran, mungkin hal ini menjadi hasil konstruksi sosial yang terbangun dalam Masyarakat indonesia selama terjajah, yang mendapatkan hak Pendidikan Cuma mereka yang berstatus bangsawan. sehingga hal itu yang menjadi salah satu faktor mengapa sumber daya manusia dan budaya literasi sangat kurang. Namun, kita harus sadar bahwanya kita sudah Merdeka dan memiliki kebebasan dalam menempuh Pendidikan.
Nusantara ini begitu Istimewa harusnya memiliki Masyarakat yang Istimewa pula. jika fenomena ini terus berlanjut, bisa jadi masalalu kelam Indonesia akan terjadi Kembali dan menadi negara terjajah kesekian kalinya gara gara masyarakatnya yang kurang kritis dan kurang dalam ilmu pengetahuan. Bagaimana tidak, anak anak jaman sekarang juga tidak begitu dibiasakan untuk membaca sejak dini. Masih banyak anak anak diluar sana yang umurnya masih balita sudah diberi gadget dibandingkan diberi buku animasi dam kebebasan bermain dengan alam sekitar. dampaknya minat literasi dan kreativitas pada anak tidak bertumbuh dan jika dibiarkan anak tidak akan pernah memiliki minat membaca.
Sobat Damai juga harus ketahui bahwa Indonesia pada masa lalu tokoh tokoh pahlwan Indonesia juga gemar dalam membaca. Dari kegemaran merekalah muncul perubahan besar pada negara kita. Seperti “R.A. Kartini, Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta, B.J Habibie, dan K.H Abdurrahman Wahid dan masih banyak lagi tokoh pembawa perubahan yang gemar membaca.
Sudah menjadi tanggung jawab Bersama mengenai masalah krisis literasi, dengan sadar akan pentingnya membaca, menulis, dan berkarya dibandingkan dengan mengahabiskan waktu di dunia maya. Untuk Masyarakat diharapkan sadar pentingnya literasi dengan memulai mengajarkan budaya membaca pada anak sejak dini, untuk pemuda diharapkan sadar diri bahwasanya untuk menjadi pewaris masa depan bangsa harusnya memiliki bekal untuk menjadi generasi yang berkualitas yang tentu dasar utamanya adalah membaca dan menulis. Dan teruntuk pemerintah setempat diharapakan memberikan faslitas yang memadai dalam meningkatkan literasi dengan membangun perpustakaan yang menarik.
Penulis Nur Islawanti