Nama : Titah Arkanul Ummami NIM : 20203241026
Dari video yang telah saya saksikan, dapat disimpulkan bahwa pendidikan seni pada anak-anak perlu difokuskan pada pengembangan cara berpikir anak seperti kreativitas, keingintahuan, mengembangkan ide, dan bermain dengan melibatkan unsur seni. Para pendidik seni diharapkan untuk lebih berhati-hati dalam mengkomunikasikan nilai kritis seni dan bagaimana mengajar peserta didik dalam hal kreativitas.
Kreativitas banyak dipuji oleh para pemimpin bisnis dunia, para pendidik, para ekonom, dan lain- lain. Kreativitas merupakan salah satu aspek yang diperlukan peserta didik untuk mencapai keberhasilan dalam bidang edukasi maupun sosial. Sedangkan, kreativitas pada anak semakin lama semakin menurun.
Disebutkan dalam video tersebut bahwa sejak tahun 1900-an aspek kreativitas menurun secara drastis pada anak terutama pada usia 6-12 tahun di Amerika Serikat
Sekolah pada dasarnya ditantang untuk menumbuhkan aspek kreativitas pada anak. Wallace Foundation Bersama dengan Harvard’s Project Zero melakukan penelitian dan menemukan bahwa hal utama yang dapat dilakukan untuk menumbuhkan pendidikan seni yang memiliki kualitas yang tinggi adalah dengan mengembangkan kapasitas untuk berpikir kreatif dan kapasitas untuk membuat koneksi.
Namun, terdapat jarak antara kreativitas dan pendidikan seni.
Terdapat beberapa alasan terjadinya jarak antara kreativitas dan pendidikan seni. Salah satunya adalah komunikasi dan cara penyampaian atau metode yang digunakan oleh pendidik. Masalah komunikasi ini sangat luas. Banyak orang tua sering memuji hasil karya anak sangat realistik yang mana itu dikatakan “kreatif“. Perkataan seperti itu merupakan salah satu contoh masalah pada komunikasi pendidikan seni. Masyarakat mendorong dan mengembangkan gagasan klise tentang kreativitas. Hal tersebut membuat pendidik seni kesulitan untuk mengejar kreativitas pada anak.
Mengajarkan kreativitas merupakan salah satu cara untuk mewujudkan kebiasaan yang digunakan para seniman. Kebiasaan itu dikhususkan ada tiga, yaitu kenyamanan dengan ambiguitas, generasi ide, dan penelitian trasndisipliner. Hambatan utama yang ada pada peserta didik adalah ketidaknyamanan untuk mengeluarkan aspek kreativitas. Ketidaknyamanan ini adalah bentuk ambiguitas dan ketidaktahuan.
Para pendidik bisa menggunakan alat atau metode permainan untuk menumbuhkan kreativitas pada anak, seperti Lego dan permainan. Lego dapat membantu peserta didik untuk menumbuhkan ide.
Permainan juga merupakan metode untuk menumbuhkan ide. Peserta didik dapat bermain dengan ide sampai mereka menyadari media atau materi apa yang meraka butuhkan untuk mewujudkan ide tersebut.