• Tidak ada hasil yang ditemukan

Mengukur Religiusitas (1)

N/A
N/A
Sunshine

Academic year: 2023

Membagikan "Mengukur Religiusitas (1) "

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

Mengukur

Religiusitas

(2)

Fasya Amelia R

2107582 Lervia Syifa A 2107367

Anggota Kelompok 5 :

Nabila Prakusya I

2103088 Shania Auliya 2102528

(3)

Table of Content :

Mengukur Religiusitas Alat Ukur Religiusitas

Agama dan sikap sosial Kritik dan evaluasi.

1.

2.

3.

4.

(4)

Mengukur

Religiusitas

(5)

Dimensi Ideologis (Berkeyakinan)

Dimensi Religiusitas

Religiusitas merupakan sikap keberagamaan seseorang yang dilihat dari berbagai macam sisi atau dimensi agama, yang kemudian mempraktekkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Kepercayaan seseorang terhadap kebenaran

agamanya

Keyakinan sebagai dasar agama

Keyakinan mengacu kepada tujuan

Keyakinan pada cara terbaik untuk mencapai tujuan

(Djamaluddin Ancok)

(6)

Dimensi Ritual (Praktik)

Dimensi Religiusitas

Aspek yang mengukur sejauh mana seseorang melakukan kewajiban ritualnya dalam agama yang dianut.

Dimensi Intelektual (Pengetahuan)

Seberapa jauh seseorang mengetahui, mengerti, dan

memahami ajaran agamanya, serta sejauh mana seseorang melakukan aktivitas untuk

menambah pemahamannya

(7)

Dimensi Pengalaman (Perasaan)

Dimensi Religiusitas

Seberapa jauh tingkat seseorang dalam merasakan dan mengalami perasaan dan pengalaman religius

Contoh : takut ketika melanggar

aturan agama, tenang ketika berdoa

Dimensi Konsekuensi (Efek)

Sejauh mana seseorang mau berkomitmen dengan ajaran

agamanya dalam kehidupan sehari- hari (sosial atau masyarakat).

(8)

Alat Ukur

Religiusitas

(9)

Kriteria

Kejelasan konseptual : jelas secara gagasan, cara penyampaian dan batasan mengenai apa yang diukur dan tidak.

Keterwakilan sampel : di deskripsikan dengan jelas populasi tertentu yang diukur skala nya.

Sensitivitas budaya : skala nya sudah disesuaikan dengan makna bahasa agama dalam budaya.

Program penelitian berkelanjutan : skala dapat digunakan dalam jangan waktu yang lama dan reliabilitas dan validitas nya tetap konsisten.

Alternatif untuk pengukuran laporan mandiri : dapat menilai suatu sifat

agama yang tidak dapat dinilai melalui laporan mandiri atau yang akan sangat terdistorsi oleh kategori sederhana.

1.

2.

3.

4.

5.

Paloutzian, R. F. (2016)

(10)

Pengukuran Spesifik

Religiusitas atau Spiritualitas Secara Umum Kesejahteraan Beragama atau Spiritual

Komitmen Keagamaan atau Spiritual Keyakinan Agama atau Spiritual

Perkembangan Keagamaan atau Spiritual Keterikatan Keagamaan

Partisipasi Sosial Keagamaan atau Dukungan Keagamaan/Spiritual Praktik Keagamaan atau Spiritual

Sejarah Keagamaan atau Spiritual

Level 1 : Ukuran Religiusitas atau Spiritualitas Disposisional

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

Paloutzian, R. F. (2016)

(11)

Rohrbaugh and Jessor Religiosity Scale (RJRS)

Seberapa sering Anda menghadiri ibadah keagamaan selama setahun terakhir?

Manakah dari berikut ini yang paling menggambarkan praktik doa atau meditasi keagamaan Anda?

Ketika Anda mempunyai masalah pribadi yang serius, seberapa sering Anda mempertimbangkan nasihat atau ajaran agama?

Menurut Anda, seberapa besar pengaruh agama terhadap cara Anda bertindak dan cara Anda menghabiskan waktu setiap hari?

Manakah dari pernyataan berikut yang paling mendekati keyakinan Anda tentang Tuhan?

Manakah dari pernyataan berikut ini yang paling dekat dengan keyakinan Anda tentang kehidupan setelah kematian (keabadian)?

Selama setahun terakhir, seberapa sering Anda merasakan rasa hormat atau ketaatan beragama?

Apakah Anda setuju dengan pernyataan berikut? “Agama memberi saya banyak kenyamanan dan keamanan dalam hidup?”

1.

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

(12)

Pengukuran Spesifik

Pengalaman Keagamaan atau Spiritual

Agama atau Spiritualitas sebagai Kekuatan Motivasi Mengatasi Kesulitan Secara Agama atau Spiritual

Makna dan Nilai Keagamaan atau Spiritual

Level 2: Ukuran Religiusitas atau Spiritualitas Fungsional

1.

2.

3.

4.

Paloutzian, R. F. (2016)

(13)

Dimensi Indikator

Intellectual Memiliki pengetahuan dan tertarik dengan topik agama Ideology Mempercayai Tuhan & ciptaan-Nya serta meyakini

ajaran agama

Public practice Beribadah berjamaah dan merasa hal tersebut penting Private practice Beribadah individual dan merasa hal tersebut penting Religious

experiment Merasakan adanya kuasa Tuhan dan memiliki pengalaman keagamaan

Modifikasi The Centrality of Religiocity

Scale (CRS) oleh Huber & Huber

(14)

Modifikasi The Centrality of Religiocity

Scale (CRS) oleh Huber & Huber

(15)

Agama dan

Sikap Sosial

(16)

Agama dan

Sikap Sosial

Agama mempersatukan individu dan kelompok mereka, mengintegrasikan anggota ke dalam komunitas, dan sekaligus menghambat perilaku yang menyimpang. Seperti yang dijelaskan oleh Lumsden dan Wilson (1983), agama adalah alat yang kuat untuk memasukkan orang ke dalam suatu kelompok dan memperkuat ikatan mereka secara psikologis. Dengan cara ini, badan keagamaan dan masyarakat di mana mereka berada menjadi elemen yang memperkuat diri mereka sendiri dalam hal jumlah dan kepentingan.

(17)

Penelitian

Agama & Sikap Sosial

Saat ini, data menunjukkan perbedaan jaringan dukungan sosial antara anggota gereja dan non-anggota.

Anggota gereja cenderung memiliki jaringan dukungan yang lebih besar.

.Anggota Gereja vs. Non-Anggota: Dukungan Sosial

Anggota gereja yang berkomitmen secara religius juga memiliki keterlibatan positif yang lebih tinggi dalam hubungan intrakeluarga.

Peran keagamaan dalam memperkuat hubungan keluarga

Keterlibatan Positif dalam Hubungan Keluarga

Pengamatan ini terkait dengan peningkatan perasaan memiliki dukungan sosial dan integrasi dalam komunitas pemikir yang sejalan.

Keagamaan memengaruhi lebih dari sekadar hubungan gereja

Peningkatan Perasaan Sosial dan Integrasi Komunitas

Kemungkinan bahwa anggota gereja dan individu yang dibesarkan dalam keluarga religius juga lebih cenderung bergabung dengan lebih banyak kelompok sosial di masa mendatang.

Bergabung dengan Lebih Banyak Kelompok Sosial

(Graves, Wang, Mead, Johnson, & Klag, 1998) 1.

(18)

Religiusitas adalah dimensi personal dalam kehidupan beragama, yang mencakup keseluruhan tingkat kedalaman pribadi individu tersebut. Religiusitas ini hanya bisa diamati dari dalam individu, dengan penekanan pada aspek seperti kepasrahan diri dan penghormatan kepada Tuhan. Meskipun terlihat sulit diukur dan dinilai dari luar, religiusitas individu dapat dilihat melalui bagaimana mereka menjalani kehidupan beragama dalam konteks pergaulan sosial mereka.

Hubungan Agama dan Perilaku

Sosial Dalam Domain Personal

(19)

James (1902/1985) dalam bukunya yang berjudul "Handbook of the Psychology of Religion and Spirituality" memberikan definisi agama sebagai "perasaan, tindakan, dan pengalaman individu dalam kesendirian mereka, sejauh mana mereka memahami diri mereka sendiri dalam konteks apa pun yang dianggap ilahi". Namun, agama juga bisa didefinisikan sebagai fenomena sosial yang secara alamiah memiliki sifat identitas yang inklusif, universal, dan terbuka.

Hubungan Agama dan Perilaku

Sosial pada Domain Interpersonal

(20)

Perilaku Prososial dan Menolong

Perilaku prososial, menurut Baron & Byrne (2003), melibatkan tindakan membantu yang tidak memberikan keuntungan langsung kepada pelaku tindakan, bahkan bisa melibatkan risiko bagi mereka yang membantu. Robinson & Curry (2005) menjelaskan bahwa perilaku prososial adalah bentuk perilaku yang cenderung menguntungkan orang lain, termasuk memberikan dukungan emosional, berbagi sumber daya, bekerja sama dalam tugas bersama, dan menunjukkan empati kepada orang lai

Faktor yang mendorong seseorang untuk melakukan tindakan prososial adalah adanya nilai-nilai dan norma-norma yang telah diterapkan dalam diri individu selama proses sosialisasi. Nilai-nilai dan norma- norma ini diperoleh oleh individu melalui pengajaran agama dan juga lingkungan sosial. Konsep serupa disampaikan oleh Myer (1999), yang mencatat bahwa agama, selain berperan dalam membentuk perilaku menolong, juga memberikan jaminan perlindungan dan rasa aman kepada seseorang dalam pencarian eksistensinya.

(21)

Simpulan Agama dan Sikap Sosial

Pengaruh agama terhadap kehidupan sosial adalah salah satu bidang studi yang paling dominan dalam psikologi agama, bukan hanya dari segi jumlah penelitian yang telah dilakukan, tetapi juga dalam hal cakupan fenomena dan teori yang relevan.

Dalam tinjauan singkat ini, kita telah melihat bahwa agama memiliki dampak yang signifikan pada sikap dan perilaku sosial dalam berbagai aspek. Dalam hal prasangka, pertolongan, kejujuran, seksualitas, pelecehan anak, kejahatan, politik, dan perdamaian, semuanya sangat dipengaruhi oleh keyakinan dan perilaku agama individu. Temuan ini menunjukkan kompleksitas peran agama dalam kehidupan masyarakat; di satu sisi, agama dapat mendorong prasangka, intoleransi, dan konflik, sedangkan di sisi lain, dapat mendorong pemahaman, toleransi, dan perdamaian.

(22)

Kritik dan

Evaluasi

(23)

BISAKAH AGAMA DIBAWA KE

LABORATORIUM?

NARKOBA DAN

PENGALAMAN MISTIK

1. PENGALAMAN MISTIS DAN TEOFANI TIDAK MUDAH DIPELAJARI DALAM LINGKUNGAN LABORATORIUM, 2. KONSEP KESADARAN KOSMIK TIDAK DIDEFINISIKAN DENGAN BAIK DAN BUKAN MERUPAKAN KONSEP YANG DITERIMA SECARA UNIVERSAL DI KALANGAN AKADEMIS,

3. HUBUNGAN ANTARA NARKOBA, AGAMA, DAN STUDI TENTANG KESADARAN ADALAH HUBUNGAN YANG

KOMPLEKS DAN BAHWA EKSPERIMEN DAN PENELITIAN LEBIH LANJUT DI BIDANG INI DIPERLUKAN UNTUK SEPENUHNYA MEMAHAMI IMPLIKASI PENGGUNAAN NARKOBA SEBAGAI

ALAT UNTUK EKSPLORASI AGAMA

(24)

BISAKAH AGAMA DIBAWA KE

LABORATORIUM?

FAKTOR TUJUAN DAN KONTEKS HIDUP

PENGALAMAN RELIGIUS YANG BERUBAH KETIKA DIGUNAKAN UNTUK TUJUAN ILMIAH

KESULITAN DALAM BEREKSPERIMEN PADA FENOMENA KEAGAMAAN TANPA PERSPEKTIF ORANG PERTAMA KECENDERUNGAN PARA ILMUWAN UNTUK MELIHAT

AGAMA HANYA DARI SEGI METODENYA

KETERBATASAN METODE KUASI-EKSPERIMENTAL,

YANG TIDAK MEMILIKI TINGKAT KONTROL YANG SAMA DENGAN EKSPERIMEN LABORATORIUM YANG IDEAL 1.

2.

3.

4.

(25)

BISAKAH IMAN AGAMA DIUKUR SECARA MAKNA?

METODE TRADISIONAL UNTUK MENILAI KEYAKINAN AGAMA, SEPERTI KUESIONER, MUNGKIN TIDAK DAPAT SECARA AKURAT

MENGUKUR KEYAKINAN DAN PRAKTIK KEAGAMAAN KARENA

KETERBATASAN METODE INI.

METODE-METODE INI DIDASARKAN PADA ASUMSI

BAHWA ASPEK-ASPEK FUNDAMENTAL DARI KEYAKINAN AGAMA DAPAT DIUKUR, TETAPI BEBERAPA PENELITI

DAN AHLI DI BIDANG INI TIDAK SETUJU. MEREKA

BERPENDAPAT BAHWA METODE-METODE INI MUNGKIN SALAH MENGGAMBARKAN SIFAT IMAN AGAMA YANG KOMPLEKS DAN SUBYEKTIF. ADA BEBERAPA MASALAH

ETIS DAN PRAKTIS DALAM PENGGUNAAN METODE- METODE INI, TERMASUK POTENSINYA UNTUK

MEMBERIKAN JAWABAN ATAS PERTANYAAN-

PERTANYAAN DAN MENGHASILKAN KEJELASAN DAN KETERATURAN YANG ARTIFISIAL.

(26)

BISAKAH IMAN AGAMA DIUKUR SECARA MAKNA?

GENERALISASI YANG MENYESATKAN

BAHWA KATEGORI INDIVIDU YANG TIDAK BERAGAMA DAPAT MENYESATKAN, KARENA MUNGKIN TIDAK SECARA

AKURAT MEWAKILI PANDANGAN ATAU PRAKTIK MEREKA.

PENGUKURAN AGAMA DALAM HAL RUJUKAN OBJEKTIF SEPERTI KEPERCAYAAN, PRAKTIK, DAN SENTIMEN DAPAT

MENYESATKAN, DAN GENERALISASI TREN YANG DITEMUKAN MELALUI PENGUKURAN INI HARUS

DIEVALUASI DENGAN HATI-HATI KARENA KECILNYA PERBEDAAN DAN TUMPANG TINDIH ANTAR KELOMPOK.

PENTING UNTUK MEMPERTIMBANGKAN IMPLIKASI DAN POTENSI KETERBATASAN METODE PENGUKURAN YANG DIGUNAKAN KETIKA MEMBUAT GENERALISASI TENTANG

AGAMA

(27)

PENGECUALIAN SUBJEKTIVITAS

METODE OBJEKTIF DAN SUBJEKTIF DALAM MENYELIDIKI AGAMA ADALAH PENTING UNTUK MEMAHAMI SEPENUHNYA PENGALAMAN

MANUSIA. DINYATAKAN BAHWA METODE OBYEKTIF SEPERTI KUESIONER MEMILIKI KETERBATASAN DALAM KEMAMPUANNYA

UNTUK MENANGKAP KESELURUHAN PENGALAMAN MANUSIA, TERMASUK POLA-POLA SUBYEKTIF DAN HOLISTIK, DAN BAHWA METODE SUBYEKTIF SEPERTI STUDI KASUS DAPAT MEMBERIKAN WAWASAN YANG BERHARGA KE DALAM DUNIA BATIN INDIVIDU.

(28)

PENGABAIKAN KONTEN AGAMA

PARA PSIKOLOG OBJEKTIF LEBIH BERFOKUS PADA STUDI TENTANG ORANG- ORANG YANG BERAGAMA DARIPADA KONTEN AGAMA. PARA PENULIS

MENGAMATI BAHWA METODE PSIKOLOGI OBJEKTIF TERBATAS DALAM

KEMAMPUANNYA UNTUK SEPENUHNYA MENANGKAP MAKNA YANG MENDASARI SIMBOL-SIMBOL DAN RITUAL KEAGAMAAN. NAMUN, MEREKA MENYARANKAN

BAHWA PROSEDUR OBYEKTIF MASIH DAPAT BERGUNA DALAM MENGUJI

HIPOTESIS YANG DIDASARKAN PADA PERSPEKTIF PSIKOLOGIS LAINNYA, TETAPI TIDAK CUKUP MEMADAI UNTUK PSIKOLOGI AGAMA YANG KOMPREHENSIF. PARA

PENULIS JUGA MENYARANKAN BAHWA INTEGRASI METODE OBJEKTIF DAN SUBJEKTIF DIPERLUKAN UNTUK PEMAHAMAN YANG LEBIH BAIK TENTANG

PENGALAMAN KEAGAMAAN

(29)

Thank You

Referensi

Dokumen terkait

adalah bidang studi yang mempelajari, menelaah, menganalisis gejala dan masalah sosial di masyarakat dengan meninjau dari berbagai aspek kehidupan atau sa tu

Peneliti selanjutnya, bagi peneliti lain bidang psikologi merupakan studi yang dapat memantapkan teori yang sudah ada dan menambahkan hasil penelitian alam bidng psikologi

Abah Anom adalah mursyid tarekat yang memiliki pemikiran yang menyentuh keseluruh aspek kehidupan, baik segi agama, sosial, ekonomi dan

Pandangan tersebut di atas sesuai dengan pandangan Sayuti Thalib (1986: 47), yang memandang perkawinan dari segi hukum, segi sosial, dan segi agama.. 9 Dipandang dari segi

Maka agama agama seseorang berperasaan di dalam menentukan baik buruknya tindakan yang dilakukan, maka perlulah di dalam kehidupan manusia mempunyai segi pandangan

Dari sanalah seharusnya kaum muslimin merancang masa depannya, baik dari segi din(agama), ekonomi, politik, sosial, dan seluruh sendi kehidupan, sebagaimana para

Dengan perspektif sosial politik, ekonomi, dan psikologi dalam melihat adanya kekerasan atas nama agama atau bahkan terorisme di Indonesia ternyata hal tersbeut dari segi actor atau

KEMENTERIAN AGAMA UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA PROGRAM STUDI PSIKOLOGI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN HUMANI0RA Jl.. Marsda Adisucipto