Ijtihad Sebagai Metode dalam Memahami Islam
FARKY ARYA (105731102322) NUR WAHYUDI
(105731103322)
RIO KURNIAWAN
(105731102122)
Seiring dengan berkembangnya waktu dan berkembangnya zaman, banyak bermunculan masalah, terutama masalah- masalah dalam agama. Sedangkan sebagian besar dari
masalah belum mendapatkan kejelasan hukum dari Al Qur’an dan As-Sunnah. Maka manusia berusaha untuk mencari cara untuk memutuskan masalah tersebut tentang baik buruknya.
Dan dalam bentuknya yang telah mengalami kemajuan, teori hukum (Islam) diambil. Sumber-sumber dari
hukumnya diambil dari Al-Qur’an dan As-Sunnah Nabi, yang keduanya memberikan materi hukum. Sedangkan sumber-sumber yang melalui hukum berasal adalah
metode-metode ijtihad dan interpretasi, atau pencapaian
sebuah konsensus (Ijma’, kesepakatan).
Pembahasan
PENGERTIAN IJTIHAD
KEDUDUKAN IJTIHAD
METODE
IJTIHAD
Ijtihad adalah sebuah usaha yang sungguh-sungguh, yang
sebenarnya bisa dilaksanakan oleh siapa saja yang sudah berusaha mencari ilmu untuk memutuskan suatu perkara yang tidak dibahas dalam Al-Qur’an maupun hadist dengan syarat menggunakan akal sehat dan pertimbangan yang matang (Sebaiknya dilakukan para ahli agama Islam).
Pengertian Ijtihad
Sedangkan secara Bahasa, Ijtihad adalah :
Ijtihad secara Bahasa berasal dari kata “Jahada”. Kata ini berarti
kasanggupan (AL-Wus’u), kekuatan (Al-Taqah) dan berat (Al-Masyaqqah).
dapat dikatakan bahwa, ijtihad adalah suatu usaha dengan segenap
kemampuan oleh seorang mujtahid untuk menggali hukum syara’ dari
sumber yang terperinci, yaitu Al-Quran dan hadist. Ijtihad juga dapat
disebut sebagai proses penggalian hukum syariat dari dalil-dalil yang
rinci yakni, Al-Quran, hadis, Ijma’, Qiyas dan dalil lainnya.
Pada dasarnya yang ditetapkan oleh ijtihad tidak dapat melahirkan keputusan yang mutlak absolut. Sebab ijtihad merupakan aktifitas akal pikiran manusia yang relatif. Sebagai produk pikiran manusia yang relatif, maka keputusan daripada suatu ijtihad pun adalah relatif.
Sesuatu keputusan yang ditetapkan oleh ijtihad, mungkin berlaku bagi seseorang tapi tidak berlaku bagi orang lain. Berlaku untuk satu masa/tempat tapi tidak berlaku pada masa/tempat lain.
Ijtihad tidak berlaku dalam penambahan ibadah mahdhah (murni). Sebab urusan ibadah mahdhah hanya oleh Allah dan Rasulullah.
Dalam proses berijtihad hendaknya dipertimbangkan faktor-faktor motivasi, akibat, kemaslahatan umum, kemanfaatan bersama dan nilai-nilai yang menjadi ciri dan jiwa daripada ajaran Islam.
KEDUDUKAN IJTIHAD
METODE IJTIHAD DALAM SUMBER HUKUM ISLAM
Dikutip dari buku Metode Ijtihad Mazhab Al-Zahiri karya H. Rahman Alwi (2005), metode Ijtihad antara lain sebagai berikut.
Ijma’, merupakan kesepakatan seluruh mujahidid di suatu massa setelah Rasulullah SAW wafat dan berkaitan dengan hukum syara yang tidak terdapat dalam Al-Qur’an dan hadist.
Qiyas, merupakan hukum tentang suatu peristiwa yang ditetapkan dengan cara membandingkannya dengan hukum peristiwa lain
yang sudah ditetapkan sesuai nash (petunjuk).
Istihsan, merupakan berpindahnya dari suatu ketentuan hukum ke hukum lainnya karena terdapat dalil yang
menuntunnya.
Maslahah Mursalah, merupakan hukum yang disasarkan pada kemaslahatan yang lebih besar dibandingkan mengesampingkan kemudharatan karena tidak ada dalil yang menganjurkan maupun melarangnya
Istihsab, merupakan metode yang dilakukan dengan menetapkan hukum yang sudah ada sebelumnya sampai ada dalil yang
merubahnya.
‘Urf, merupakan suatu ucapan atau perbuatan yang dilihat dari objeknya. Para ulama ushul fiqih bersepakat bahwa ‘Urf yang sah ialah yang tidak bertentangan dengan syari’at Islam.
Saddzui Dzariah, merupakan sesuatu yang secara lahiriah boleh, tetapi bisa mengarah ke kemaksiatan.
Qaul Al-Shahabi, merupakan pendapat sahabat yang berkaitan dengan perkara yang dirumuskan setelah Rasulullah SAW wafat
Syar’u Man Qablana, merupakan hukum Allah SWT yang disyariatkan untuk umat terdahulu melalui nabi-nabi sebelum Rasulullah.