A. Metode penelitian lapangan Shin Nakagawa
Jika kita melihat bagaimana metode penelitian lapangan dari Shin Nakagawa, maka hal pertama yang menjadi sorotan ialah, objek atau sasaran apa yang menurutnya akan diteliti oleh seorang etnomusikologi. Shin nakagawa berpendapat bahwa penelitian etnomusikologi akan berhubungan dengan musik etnis. Musik etnis sendiri baginya ialah semua musik yang ada di dunia ,oleh sebab itu ia berfikir bahwa objek penelitian etnomusikologi sangatlah luas. Namun dikatakan kembali jika dibandingkan dengan objek, konep etnomusikologi dirasa lebih penting.
Setelah pandangan mengenai objek penelitian etnomusikologi, Shin nakagawa kembali mengemukakan mengenai metode teks dan konteks dalam penelitian. Shin nakagawa mengatakan, untuk menjelaskan sebuah musik, kita jangan hanya menyadari pada apa yang ada diluar tapi juga bagaimana yang ada di dalamnya. Untuk memahami bagaimana musik maka, harus adanya penelitian secara Teks dan Konteks. Teks berhubungan dengan kejadian akustik musik seperti unsur-unsur musik, sedangkan konteks akan lebih berhubungan kepada suasana atau keadaan yang dibentuk oleh masyarakat pendukung musik. Menurutnya dalam penelitian etnomusikologi kedua hal ini sangat berkaitan erat, sehingga apabila seorang etnomusikolog tidak menggunakan metode ini, maka dianggap hal itu bukan sebuah kegiatan etnomusikologi.
Masuk kepada metode lain dalam penelitian etnomusikologi menurut Shin Nakagawa, maka ada pula sebuah metode yang disebut Relativisme Budaya. Metode ini memiliki beberapa hal yang harus seorang etnomusikolog perhatikan, yakni cara bagaimana seorang etnomusikolog seharusnya memahami kebudayaan lain. Shin nakagawa menyebutkan mengenai hubungan antara outsider dan insider, dimana outsider adalah peniliti sedangkan insider adalah pemilik budaya. Seorang etnomusikolog menurutnya ialah seorang outsider yang harus bisa meneliti secara insider, setelah itu peneliti harus menerapkan metode penelitian aktif , dan setelah itu kemudian dapat kembali ke outsider setelah penelitian tersebut selesai dilakukan. Setelah hal itu dilakukan hal terakhir yang harus seorang etnomusikolog harus perhatikan ialah jarak peneliti terhadap objek yang diteliti. Dimana Shin Nakagawa mengemukakan tentang pentingnya kita untuk mengetahui lagi sejauh mana objek tersebut untuk tidak atau dapatnya diteliti.
B. Metode Penelitian Lapangan Barbara Krader
Dalam metode Penelitian menurut Barbara Krader ada 7 langkah didalamnya. Yakni yang pertama koleksi dan dokumentasi. Hal ini berkaitan dengan pengumpulan koleksi dari hasi kerja lapangan dari para etnomusikolog. Dimana Penggunaan kata Dokumentasi sendiri untuk menegaskan tujuan dari langkah ini, yakni agar musik dapat tersedia dalam dokumen-dokumen
Langkah selanjutnya ialah Transkripsi dan Analisis Akustika. Hal ini berhubungan dengan pencatatan hal-hal yang bersifat esensial dan menghindari hal yang tidak esensial.
Selanjutnya masuk kepada Klasifikasi, Sistematisasi dan Analisis. Dimana hal ini berkaitan dengan bagaimana peneliti perlu untuk mendeskripsikan musik yang dipelajarinya, lalu kemudian menemukan ciri-ciri yang mendasari musik tersebut dan setelah itu bagaimana jika ciri tersebut dibandingkan dengan kebudayaan lain yang dianggap berhubungan. Kemudian beralih kepada Fungsi sosial, dimana musik dilihat dari sistem masyarakatnya. Pada langkah selanjutnya terdapat dimensi kesejarahan, etika dan diakhiri dengan kesimpulan.
Langkah-langkah yang dikemukakan oleh barbara krader ini tidak lepas dengan cara pandangnya terhadap penelitian secara musikolog. Karena kecenderungan etnmusikologi sendiri baru ada pada masa perang dunia ke 2 di tahun 1950. Langkah inilah yang dilihat barbara banyak digunakan oleh seorang peneliti musikolog pada masanya. Jika kita lihat ia menyamakan bagaimana seorang musikolog dan etnomusikolog dalam melakukan penelitian. Metode ini terkesan luas karena tidak khusus terhadap penelitian etnomusikolog saja. Namun dibalik itu langkah-langkah yang dikemukakan barbara krader bisa menjadi pedoman seorang peneliti musik untuk melakukan sebuah penelitian.
C. Metode Penelitian Menurut Bruno Nettl
Menurut Bruno Nettl sama dengan prosedur seorang sarjana dalam meneleiti, seorang peneliti etnomusikolog akan mulai pada proses mencari bahan mentah, pengerjaan transkripsi dan kemudian pendeskripsian kebudayaan. Maka dengan melihat prosedur itu Bruno Nettl mengatakan aktifitas peneliti ialah kerja lapangan. Bruno merujuk pada pemikiran seorang ahli bernama Curt Sach mengenai pembagian dua macam kelompok pekerjaan saat penelitian, yakni penelitian kerja lapangan(field work) dan kerja meja (Desk Work). Kerja lapangan ini merujuk pada pekerjaan mengumpulkan rekaman dan dokumentasi serta mencari pengalaman musikal dari tangan pertama pemilik kebudayaan. Sedangkan kerja meja berhubungan dengan transkripsi, analisis, dan penarikan kesimpulan.
Menurut Bruno Nettl makna lapangan yang didatangi oleh seorang etnomusikolog, bukan sekedar mencari hal yang ingin diketahui tapi menemukan hal-hal dengan situasi yang kompleks dan diluar prediksi. Seorang peneliti harus memiliki gagasan tentang apa yang akan ia lakukan,walaupun nantinya dapat berubah-ubah setiba di lapangan. Pada Penelitian lapangan ini Bruno menekankan pada pembentukan hubungan persnonal antara peneliti dengan masyrakat yang musiknya ingin dia teliti.
Pada poin selanjutnya bruno kembali mengemukakan hal-hal didalam kerja lapangan itu sendiri.
Adapaun menurutnya beberapa tipe perjalanan lapangan yang didasarkan dengan apa tujuan penelitian tersebut. Pertama bertujuan membuat sampel general terhadap budaya musik suatu komunitas. Selanjutnya tipe perjalanan dengan tujuan sebaliknya yaitu bertujuan mengumpulkan seluruh repertoar musik atau seluruh pengalaman musik musikal dari seseorang. Selanjutnya tipe yang bertujuan menggunakan seorang informan seabagai unit kerja bukan sebagai anggota dari sebuah kebudayaan, Selain itu tipe perjalanan lapangan juga dibagi dari waktunya, yakni kunjungan singkat dan kunjungan panjang. Menurut Bruno tipe kerja lapangan ini juga bisa kita lihat dari sisi kondisi sudut penelitian. Yang pertama ialah penyelidikan etnomusikologi terhadap lingkungan sekitar si peneliti,hal ini berkaitan kembali kepada pemahaman outsider dan insider. Cara kedua untuk mengumpulkan data tanpa melibatkan perjalanan lapangan salah satunya surat.
Selanjutnya dalam metode penelitian etnomusikologi, Bruno memberikan memberi beberapa materi yang dapat dijawab oleh seorang ahli maupun etnografer umum, yakni materi umum tentang sebuah budaya musik,tentang tiap jenis musik atau musik dalam tahap kategori lokal, tentang tiap informan, tentang tiap komposisi, dan instrumen musik. Dalam mencari semua itu maka bruno menekankan kepada mengelisitas, sehingga kita mendapatkan data natural dilapangan bukan tabu dan kaku.
Kembali membahas metode penelitian menurut Bruno, ia mengemukakan bahwa ada dua pendekatan utama dalam kerja lapangan. Pendekatan yang pertama menekankan pada konsep mengumpulkan, sedangkan yang kedua menekankan pada pengalaman terhadap suatu budaya musik secara keseluruhan. Mengumpulkan disini
ialah berfokus pada informan sebagai suatu kebudayaan, dan juga dengan peran musik dalam suatu kebudayaan. Sedangkan pada pengalaman seorang peneliti tetaplah mengumpulkan data-data, tetapi disisi lain juga berfokus untuk mengamati segala fenomena-fenomena musik di lingkungan yang diteliti. Dari dua pendekatan ini maka bruno menyimpulkan kembali ada dua tujuan dari kerja lapangan, yakni preservasi sebuah warisan budaya sebelum ia berubah, dan mengamati kekuatan kekuatan budaya, apakah ia tetap seperti sekarang atau berubah.
Bruno Nettl juga memaparkan dalam sebuah penelitian etnomusikologi terdapat peralatan yang digunakan untuk mengumpulkan data, menurutnya pada masa itu penggunaan tape recorder adalah alat perekam yang paling efisien. Bagi bruno saat itu kecepatan perekaman adalah hal yang penting, karena dirassa kualitasnya akan jauh lebih baik dibanding alat perekam yang memiliki perekaman yang lebih lambat. Terakhir dalam kerja lapangan ini Bruno menyebutkan mengenai Pengarsipan dan penyimpanan, dimana dalam pengarsipan seorang etnomusikologi memiliki standarisasi. Standar ini berkaitan dengan tekhnik-tekhnik kepustakaan.
Selain sebagai arsip seorang etnomusikologi dapat menggunakan koleksi ini untuk membuat daftar pengumpul, suku, dan bahasa, serta menjaga catatan tersebut untuk rekaman-rekaman. Maka dikatakan bahwa arsip berada diantara pekerjaan dari kerja lapangan dan kerja meja