See discussions, stats, and author profiles for this publication at: https://www.researchgate.net/publication/382060756
Landasan Teori, Kerangka Pemikiran, Penelitian Terdahulu, & Hipotesis
Chapter · July 2024
CITATIONS
0
READS
2,284
2 authors, including:
Aditya Wardhana Telkom University
529PUBLICATIONS 966CITATIONS SEE PROFILE
All content following this page was uploaded by Aditya Wardhana on 07 July 2024.
The user has requested enhancement of the downloaded file.
i
METODE PENELITIAN
Dr. Zainuddin Iba, S.E., M.M Aditya Wardhana
PENERBIT CV.EUREKA MEDIA AKSARA
ii
METODE PENELITIAN Penulis : Dr. Zainuddin Iba, S.E., M.M
Aditya Wardhana Editor : Mahir Pradana
Desain Sampul : Ardyan Arya Hayuwaskita Tata Letak : Herlina Sukma
ISBN : 978-623-151-852-1 No. HKI : EC002023116216
Diterbitkan oleh : EUREKA MEDIA AKSARA, NOVEMBER 2023 ANGGOTA IKAPI JAWA TENGAH
NO. 225/JTE/2021 Redaksi:
Jalan Banjaran, Desa Banjaran RT 20 RW 10 Kecamatan Bojongsari Kabupaten Purbalingga Telp. 0858-5343-1992 Surel : [email protected]
Cetakan Pertama : 2023
All right reserved
Hak Cipta dilindungi undang-undang
Dilarang memperbanyak atau memindahkan sebagian atau seluruh isi buku ini dalam bentuk apapun dan dengan cara apapun, termasuk memfotokopi, merekam, atau dengan teknik perekaman lainnya tanpa seizin tertulis dari penerbit.
137
BAB
3
Capaian Pembelajaran:
Setelah mempelajari materi ini diharapkan mahasiswa dapat mampu untuk:
1. Menjelaskan pengertian teori dalam penelitian.
2. Menjelaskan tingkatan dan fokus teori dalam penelitian.
3. Menjelaskan kegunaan teori dalam penelitian.
4. Menjelaskan deskripsi teori dalam penelitian.
5. Menjelaskan kerangka berpikir dalam penelitian.
6. Menjelaskan hipotesis penelitian.
A. Pendahuluan
Dalam bab ini, akan dijelaskan konsep dasar teori, tingkat abstraksi dan cakupan teori, peran teori dalam konteks penelitian, penjelasan mendalam tentang teori yang digunakan, konstruksi kerangka teoritis, serta perumusan hipotesis penelitian. Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa penelitian dilakukan dengan cermat dan terdapat landasan teoretis yang kuat yang membimbing semua aspek penelitian, sehingga memungkinkan mencapai hasil penelitian yang berarti dan sesuai dengan tujuan penelitian yang telah ditetapkan oleh para peneliti.
B. Pengertian Teori
Teori adalah suatu pemikiran yang telah disusun secara sistematis atau penjelasan yang terstruktur yang didasarkan pada pengamatan dan penalaran yang masuk akal. Teori terdiri
LANDASAN TEORI, KERANGKA PEMIKIRAN, PENELITIAN TERDAHULU,
PENGAJUAN HIPOTESIS
138
dari sejumlah konsep dan prinsip yang terorganisir dengan baik untuk memberikan suatu kerangka kerja yang membantu peneliti dalam memahami dan menafsirkan kenyataan, pengamatan, dan pengalaman peneliti (Alaoui, Barão, Ferreira, Hessel, 2022; Adom, Hussein, Agyem, 2018; Corbin dan Strauss, 2015; Akintoye, 2015). Teori adalah suatu penjelasan yang terstruktur tentang berbagai observasi dan fakta yang memungkinkan peneliti untuk memahami secara logis suatu bidang kehidupan tertentu. Teori ini didasarkan pada data, bukti, dan penelitian, dan digabungkan dengan penalaran logis, yang dirancang untuk menjelaskan fenomena tertentu. Teori juga dapat digunakan untuk memprediksi peristiwa dan untuk merancang penelitian lebih lanjut (Creswell, 2017; Alwiyah, Louangdy, Yolandari, 2018; Babin, Carr, Griffin, 2019).
Wardhana et al (2015), Passey (2020) dan Babbie (2016) menjelaskan bahwa teori bukan hanya sekadar kerangka kerja yang mencoba memodelkan sesuatu tentang dunia namun juga memberikan konteks yang lebih dalam dan luas yang membantu peneliti memahami bagaimana berbagai unsur dunia saling berinteraksi dan berfungsi bersama-sama. Teori adalah sekelompok konsep dan hubungan yang diajukan dengan sistematis untuk memberikan pemahaman komprehensif tentang suatu fenomena, menawarkan penjelasan menyeluruh tentang hubungan antar elemen dan fungsi mereka (Maxwell, 2017; Buckleyt, Chapman, 1996). Teori adalah struktur konsep yang terorganisir dan sistematis yang digunakan untuk menjelaskan, meramalkan, dan memandu penelitian tentang suatu fenomena tertentu yang memberikan para peneliti kerangka kerja untuk memikirkan fenomena yang sedang dipelajari dan membantu mereka dalam pemilihan metode penelitian yang paling sesuai. Dengan memahami dasar teori suatu fenomena, peneliti dapat mendapatkan wawasan yang lebih dalam tentang fenomena tersebut dan mengembangkan solusi yang lebih efektif (Merriam dan Tisdell, 2016; Ban, Cox, 2017). Teori adalah sekelompok ide, konsep, definisi, dan proposisi yang terstruktur yang dapat digunakan untuk
139 menjelaskan dan meramalkan peristiwa yang membantu dalam menjelaskan variabel yang mendasarinya atau obyek yang sedang dipelajari, dan memberikan panduan awal untuk merumuskan pertanyaan penelitian dan mengembangkan alat ukur penelitian. Teori merupakan alat penting dalam penelitian yang memberikan pendekatan terstruktur untuk memahami dan menafsirkan dunia (Alwiyah, Louangdy, Yolandari, 2018;
Biermann et al 2010). Teori dapat didefinisikan dalam dua cara:
sebagai ringkasan dari penelitian sebelumnya (tinjauan pustaka) atau sebagai kerangka kerja konsep dan variabel yang digunakan dalam penelitian tertentu. Tinjauan pustaka membantu dalam pengumpulan pengetahuan yang ada tentang topik tertentu. Di sisi lain, dalam penelitian, teori dapat didefinisikan lebih sempit sebagai faktor dan variabel yang diteliti untuk mendapatkan pemahaman yang lebih mendalam tentang suatu topik.
Maxwell (2017) dan Miles, Huberman, & Saldaña (2014), dan Chofreh & Goni (2017) telah menyatakan bahwa teori adalah suatu kerangka kerja yang membantu mengorganisir pemahaman peneliti tentang suatu fenomena. Sementara itu, Alwiyah, Louangdy, Yolandari (2018), Wardhana, et al (2015), Creswell & Creswell (2017), dan Cox et al (2021). telah mengidentifikasi tiga fungsi utama dari teori:
1. Fungsi Penjelasan. Teori memberikan penjelasan yang mendalam dan terstruktur mengenai konsep, dimensi, serta indikator pengukuran yang terkait dengan variabel yang sedang diteliti yang membantu dalam memahami aspek- aspek kunci dari fenomena yang sedang dipelajari.
2. Fungsi Prediksi. Teori membimbing peneliti dalam merumuskan hipotesis penelitian dan merancang instrumen penelitian yang memungkinkan peneliti untuk menghasilkan fakta-fakta empiris yang dapat menguji dan mendukung teori tersebut.
3. Fungsi Kontrol. Teori juga membantu dalam menghubungkan penemuan penelitian dengan hasil penelitian sebelumnya yang memungkinkan peneliti untuk
140
memahami bagaimana temuan mereka berkaitan dengan penelitian yang telah ada dan bagaimana variabel yang diteliti dapat berinteraksi dengan variabel lainnya dalam konteks yang lebih luas.
Teori yang digunakan dalam penelitian merupakan rangkuman terstruktur dari temuan penelitian yang telah dikaji, diverifikasi, dan diperbarui agar tetap relevan dan akurat.
Penting untuk memberikan atribusi atau merujuk sumber asal teori tersebut guna memastikan keandalan dan validitas penelitian. Teori juga harus disajikan dalam kerangka kerja yang terstruktur yang sesuai dengan cakupan penelitian dan variabel yang sedang diteliti, sejalan dengan prinsip-prinsip yang dijelaskan dalam studi Wardhana, et al (2015) dan Colding &
Barthel (2019).
Corbin & Strauss (2015), Dougherty & Pfaltzgraff (2000), Grant & Osanloo (2014) dan Simon dan Goes (2011) menguraikan beberapa panduan yang dapat membantu peneliti dalam merumuskan teori yang akan diterapkan dalam penelitian sebagai berikut:
1. Pastikan bahwa teori yang dipilih sesuai dengan variabel- variabel yang relevan dalam penelitian.
2. Telusuri teori-teori yang memiliki keterkaitan dengan topik penelitian yang sedang dijalani.
3. Buatlah daftar konsep dan variabel yang mungkin memiliki relevansi dengan penelitian yang dilakukan.
4. Pertimbangkan adanya teori-teori alternatif yang bisa digunakan dalam penelitian ini.
5. Sertakan pemikiran tentang kendala-kendala yang mungkin terkait dengan teori yang dipilih untuk digunakan dalam penelitian.
Landasan teori, yang juga dikenal sebagai kerangka teoritis atau tinjauan pustaka, merupakan suatu representasi kompak dari keseluruhan proses penelitian yang mencakup teori-teori ilmiah yang menjadi pedoman bagi peneliti untuk menjelaskan setiap variabel dan interaksi antar variabel yang
141 sedang diteliti. Jumlah teori yang diperlukan atau diterapkan dalam penelitian akan bergantung pada lingkup penelitian dan jumlah variabel yang sedang diteliti. Sumber referensi yang digunakan harus relevan dengan variabel yang sedang diinvestigasi, harus lengkap, dan harus mencerminkan perkembangan terbaru dalam bidang tersebut. Setiap teori yang disitir atau dimanfaatkan dalam penelitian harus dikutip dengan menyertakan sumbernya menurut Heng (2020), Imenda (2014), dan Lester (2005).
Posisi teori dalam penelitian dapat digambarkan dalam gambar berikut :
Gambar 3. 1 Posisi Teori dalam Penelitian Sumber: Disarikan dari Berbagai Sumber, 2023
C. Tingkatan dan Fokus Teori
Dalam penelitian dengan metode kuantitatif diperlukan urutan teori-teori secara sistematis yang digunakan dalam penelitian mulai dari Grand Theory, Middle Range Theory, dan Applied Theory (Maxwell, 2017; Merriam & Tisdell, 2016;
Wardhana, et al, 2015; Miles, Huberman, Saldana (2014), Dougherty dan Pfaltzgraff, 2000)
Tingkatan-tingkatan teori umumnya dapat diuraikan dan digambarkan sebagai berikut (Maxwell, 2017; Merriam & Tisdell, 2016; Wardhana, et al, 2015; Miles, Huberman, Saldana (2014), Dougherty dan Pfaltzgraff, 2000):
142
Gambar 3. 2 Tingkatan-Tingkatan Teori Sumber: Disarikan dari Berbagai Referensi, 2023
1. Grand Theory merupakan teori umum berperan sebagai dasar bagi kelahiran teori-teori lainnya di tingkat yang lebih spesifik. Juga dikenal sebagai Teori Makro, Teori Mayor, atau Teori Umum, teori ini memberikan landasan umum yang mencakup berbagai teori yang lebih terfokus, seperti teori rentang menengah (middle range theory) atau teori terapan (applied theory). Grand Theory adalah generalisasi yang bersifat luas dan cakupan waktu, dan memberikan kerangka kerja yang menyeluruh untuk penelitian dan aplikasi lebih lanjut. Sebagai contoh, teori manajemen.
2. Middle Range Theory merupakan teori rentang menengah adalah suatu pendekatan yang efektif untuk mengkaji fenomena sosial yang kompleks. Pendekatan ini berperan sebagai perantara yang menghubungkan teori besar dengan teori terapan, sehingga membentuk suatu jembatan antara keduanya. Teori rentang menengah berasal dari teori umum (grand theory), namun dirumuskan dalam bahasa yang lebih spesifik. Oleh karena itu, teori ini memungkinkan peneliti untuk mengembangkan hipotesis yang lebih terfokus dan menguji mereka secara empiris. Dengan cara ini, pendekatan ini meningkatkan kejelasan dan ketepatan dalam mengkaji fenomena sosial, sehingga peneliti dapat memahami lebih baik dinamika yang mendasarinya dan hubungan sebab-
143 akibat dalam konteks yang lebih terbatas. Sebagai contoh, teori manajemen sumber daya manusia (SDM) dapat dianggap sebagai turunan dari teori manajemen yang lebih luas.
3. Applied Theory merupakan tingkat terendah dari teori sering disebut sebagai Teori mikro, atau yang lebih dikenal sebagai teori terapan, merujuk pada teori yang secara langsung diterapkan pada variabel-variabel penelitian. Teori terapan merupakan hasil turunan dari teori rentang menengah (middle range theory), dan dalam konsepnya, teori ini sangat terkait dengan variabel-variabel dalam sebuah penelitian.
Pendekatan ini sangat praktis dalam penelitian, karena mempertimbangkan kompleksitas yang unik dalam konteks penelitian tertentu. Teori terapan didasarkan pada pemeriksaan yang teliti terhadap berbagai komponen yang muncul dalam masalah penelitian dan mengembangkan serangkaian strategi praktis untuk mengatasi permasalahan tersebut. Sebagai contoh, teori kinerja sumber daya manusia (SDM) dapat dianggap sebagai turunan dari teori manajemen sumber daya manusia (SDM) yang lebih luas.
Tabel 3.1 Karakterisitk Tingkatan-Tingkatan Teori Grand Theory Middle Range
Theory Applied Theory Ruang lingkup
tidak terbatas mencakup semua
Dibatasi oleh grand theory dan
kontekstual
Dibatasi oleh middle theory lebih
kontekstual Dibentuk dari
aksioma yang mengandung konstruk dan teoritis
Dibentuk dari proposisi yang dapat diamati atau mudah diuji
Dibentuk dari konsep yang dapat diamati atau mudah diuji Falsifiability rendah
dan sudah teruji dengan melewati sebagian
Falsifiability lebih tinggi dari grand theory dan masih
Falsifiability lebih tinggi dari middle theory dan masih
144
Grand Theory Middle Range
Theory Applied Theory besar pengujian
teori
diuji dengan melewati sebagian kecil pengujian teori
dapat dilakukan pengujian teori
Dibedakan oleh filsafat teori itu sendiri dengan menolak teori yang lain
Dibedakan oleh spesialisasi yaitu menerima teori lain
Dibedakan oleh spesialisasi yaitu menerima teori lain
Menjadi sarana untuk membangun legitimasi
Legitimasi
dibuktikan dengan ruang lingkup, presisi, dan berbagai alat investigasi
Legitimasi
dibuktikan dengan ruang lingkup, presisi, dan berbagai alat investigasi Sepenuhnya
terbentuk dari pemikiran para ahli teori
Membutuhkan banyak pengamatan dengan meningkatkan pengetahuan dan pengalaman para penelitinya
Membutuhkan banyak pengamatan dengan meningkatkan pengetahuan dan pengalaman para penelitinya Tidak memerlukan
data dan generalisasi
Membutuhkan data, tetapi cukup abstrak untuk memberikan generalisasi
Membutuhkan data lengkap dan aplikatif untuk dapat digeneralisasi Mulai dari luar
dengan sistem total dan memiliki teori turunan
Mulai dari dalam dengan
sistem terpadu di berbagai domain
Mulai dari dalam dan membangun variabel penelitian
Sumber: Disarikan dari Berbagai Referensi, 2023
145 Contoh hubungan grand theory, middle theory, dan applied theory dapat digambarkan sebagai berikut:
Gambar 3. 3 Hubungan Grand Theory, Middle Theory, dan Applied Theory
Sumber: Disarikan dari Berbagai Sumber, 2023
Hubungan antara ketiganya adalah bahwa applied theory sering kali didasarkan pada middle theory yang, pada gilirannya, terkait dengan grand theory. Middle theory membantu menjembatani kesenjangan antara teori yang sangat umum dan aplikasi praktis dalam situasi khusus. Dengan demikian, grand theory menyediakan landasan konseptual yang luas, middle theory
146
merinci hubungan dan mekanisme yang lebih khusus, dan applied theory diterapkan untuk mengatasi masalah nyata dengan mengacu pada pemahaman teoritis yang lebih luas dan lebih dalam (Wardhana et al, 2015).
D. Kegunaan Teori dalam Penelitian
Teori berperan sebagai landasan dan kerangka kerja yang mendukung semua aspek penelitian, membantu peneliti memahami, menjelaskan, dan meramalkan fenomena yang mereka pelajari, serta membuat kontribusi ilmiah yang lebih substansial. Kegunaan teori dalam penelitian menurut Partelow (2023), Passey (2020), Patten & Newhart (2017), Ravitch & Carl (2016) yaitu:
1. Mengarahkan Penelitian. Teori memberikan arahan dan fokus pada penelitian dengan memandu peneliti untuk memahami fenomena yang sedang dipelajari yang membantu peneliti mengidentifikasi variabel penting dan hubungan antara variabel-variabel tersebut.
2. Mengembangkan Hipotesis. Teori memungkinkan peneliti untuk mengembangkan hipotesis yang didasarkan pada ekspektasi logis dan berdasarkan kerangka kerja teoritis yang mempermudah pengujian empiris dan analisis data.
3. Penjelasan Fenomena. Teori memberikan penjelasan yang terorganisir tentang fenomena yang sedang dipelajari yang membantu dalam pemahaman yang lebih dalam tentang mengapa sesuatu terjadi dan bagaimana variabel-variabel berinteraksi.
4. Prediksi. Teori memungkinkan peneliti untuk membuat prediksi tentang hasil atau perilaku yang diharapkan berdasarkan variabel-variabel yang diteliti yang memungkinkan peneliti untuk mengantisipasi hasil penelitian.
5. Konteks Penelitian. Teori memberikan konteks untuk penelitian yang membantu peneliti memahami bagaimana fenomena yang sedang dipelajari berhubungan dengan
147 konteks yang lebih luas dan faktor-faktor yang mungkin mempengaruhi hasil penelitian.
6. Pemilihan Metode Penelitian. Teori dapat membantu peneliti memilih metode penelitian yang sesuai untuk menjawab pertanyaan penelitian. Teori dapat mengarahkan pemilihan instrumen, pendekatan, dan desain penelitian.
7. Relevansi dan Generalisasi. Teori membantu menilai relevansi hasil penelitian terhadap teori yang ada dan generalisasi temuan ke konteks yang lebih luas.
8. Kepastian dan Validitas. Teori memastikan bahwa penelitian didasarkan pada dasar yang kuat dan memiliki validitas ilmiah.
9. Kontribusi Ilmiah. Dalam penelitian ilmiah, teori membantu memperkuat kontribusi ilmiah dari penelitian itu sendiri.
E. Deskripsi Teori
Penelitian kuantitatif bergantung pada penalaran deduktif, yang melibatkan pengambilan kesimpulan dari prinsip atau asumsi umum yang telah ada sebelumnya. Sebaliknya, penelitian kualitatif menggunakan penalaran induktif, yang melibatkan proses pembentukan teori atau hipotesis berdasarkan pengamatan dan pengalaman yang diperoleh dari penelitian tersebut (Remler & Van Ryzin, 2021; Babbie, 2016;
Rengasamy, 2016; Wardhana et al, 2015) sebagaimana tampak pada gambar berikut ini:
148
Gambar 3. 4 Deskripsi Teori Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif
Sumber: Remler & Van Ryzin (2021), Babbie (2016), Rengasamy (2016), Wardhana et al (2015
F. Kerangka Pemikiran
Kerangka pemikiran atau kerangka berpikir atau kerangka teoritis (research pramework), adalah seperti cetak biru atau panduan yang esensial untuk sebuah penelitian yang berperan sebagai panduan komprehensif yang mencerminkan
149 teori yang relevan untuk hipotesis penelitian, serta memberikan kerangka kerja yang merinci pertimbangan filosofis, epistemologis, metodologis, dan analitis bagi peneliti. Dengan mengacu pada kerangka berpikir, peneliti dapat memanfaatkan pendekatan yang terstruktur dan komprehensif untuk penelitian mereka, yang membantu memaksimalkan hasil penelitian mereka (Wardhana et al, 2015; Grant dan Osanloo, 2014; Van Ryn & Heaney, 1992).
Teori digunakan untuk mengartikulasikan, memprediksi, dan memahami fenomena, sekaligus memperluas pengetahuan dalam batasan-batasan tertentu. Sebaliknya, kerangka pikiran merupakan sebuah struktur yang sangat penting dalam membantu pemahaman aspek teoritis dalam suatu penelitian.
Kerangka pikiran ini memberikan sudut ppeneliting analitis yang dapat menjelaskan mengapa penelitian tertentu dilaksanakan. Dengan menghubungkan ide-ide teoritis dengan bukti empiris, kerangka kerja ini bisa membantu peneliti untuk lebih mendalam memahami implikasi penelitian (Wardhana et al, 2015; Grant dan Osanloo, 2014; Samsu, 2017; Simon & Goes, 2011).
Singleton & Straits (2017), Ravitch dan Carl (2016), dan Wardhana et al (2015) menjelaskan bahwa kerangka berpikir membantu peneliti dalam memahami teori formal dan cara penerapannya dalam konteks penelitian ilmiah. Dengan memberikan fokus pada permasalahan penelitian yang sedang diinvestigasi, kerangka berpikir membantu peneliti dalam merancang dan menganalisis data dengan lebih efisien. Dengan kontekstualisasi teori formal, peneliti dapat memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang penelitian mereka dan implikasinya guna memastikan bahwa penelitian dilaksanakan secara efektif dan bermakna.
Trochim et al (2015) dan Lester (2005) menyatakan bahwa kerangka berpikir adalah suatu panduan yang membantu peneliti dalam pemilihan jenis data yang sesuai untuk dikumpulkan dalam penelitian. Hal ini memastikan bahwa data yang dikumpulkan secara akurat mencerminkan tujuan
150
penelitian, memiliki kualitas yang tinggi, dan relevan dengan kebutuhan penelitian tertentu.
Menurut Akintoye (2015) dan Wardhana et al (2015), memiliki kerangka berpikir yang tepat sangat berharga bagi peneliti dalam menjalankan penelitian. Kerangka berpikir membantu mereka dalam mengidentifikasi pendekatan penelitian yang sesuai, alat analisis yang tepat, dan prosedur yang akan membuat hasil penelitian lebih bermakna dan dapat digeneralisasi. Dengan pemahaman yang jelas tentang tujuan penelitian, peneliti dapat memastikan penggunaan metode dan teknik yang sesuai selama penelitian. Dengan demikian, potensi penelitian dapat dimaksimalkan, dan kualitas hasil dapat ditingkatkan.
Alaoui, Barão, Ferreira, Hessel (2022), Adom, Hussein, Agyem (2018), dan Imenda (2014) mengemukakan bahwa melakukan penelitian dengan pola pikir yang terfokus dan terstruktur memandu peneliti dalam menemukan literatur yang relevan. Hal ini memastikan bahwa semua informasi yang relevan dipertimbangkan, dan kesimpulan yang akurat dapat ditarik. Dengan demikian, penelitian menjadi lebih sistematis dan hasilnya menjadi lebih dapat diandalkan.
Menurut Alwiyah, Louangdy, Yolandari (2018) dan Creswell & Creswell (2017), dan Akintoye (2015), kerangka berpikir yang efektif harus mencakup elemen-elemen berikut:
1. Kerangka berpikir harus mengintegrasikan teori yang digunakan dalam penelitian.
2. Kerangka berpikir harus memuat pernyataan tentang hipotesis inti yang mendasari teori.
3. Kerangka berpikir harus memberikan penjelasan mengenai variabel atau konstruk penelitian yang akan diinvestigasi.
4. Kerangka berpikir harus mencakup informasi mengenai relevansi dan prioritas penggunaan teori yang berkaitan dengan penelitian sebelumnya yang telah dilakukan oleh peneliti terdahulu.
151 5. Kerangka berpikir harus mampu menggambarkan dan menjelaskan hubungan antara variabel yang sedang diteliti berdasarkan teori-teori yang mendukungnya.
6. Kerangka berpikir juga harus memiliki kapasitas untuk menggambarkan apakah hubungan antar variabel bersifat positif atau negatif, simetri, kausal, atau interaktif.
7. Kerangka berpikir perlu diwujudkan dalam bentuk diagram atau paradigma penelitian untuk mempermudah pemahaman struktur konseptual yang diajukan oleh peneliti dalam studi mereka.
Babin, Carr, Griffin (2019) dan Grant dan Osanloo (2014) menampilkan daftar pertanyaan yang dapat membantu peneliti dalam mengidentifikasi kerangka teori yang cocok untuk penelitian mereka. Pertanyaan-pertanyaan tersebut meliputi:
1. Dalam ranah keilmuan atau disiplin ilmiah apa kerangka berpikir tersebut akan diterapkan?
2. Apakah kerangka berpikir sesuai dengan desain metodologi penelitian yang direncanakan?
3. Apakah kerangka berpikir yang akan dipilih mengandung banyak konstruk teoritis yang relevan?
4. Apakah kerangka berpikir telah disesuaikan dengan tepat dengan masalah penelitian, tujuan penelitian, dan manfaat penelitian?
5. Apakah kerangka berpikir sudah relevan dengan pertanyaan penelitian yang diajukan dalam penelitian?
6. Apakah kerangka berpikir sudah konsisten dengan hasil tinjauan pustaka?
7. Apakah kerangka teoritis yang dipilih sudah konsisten dengan rencana analisis data?
8. Apakah kerangka teori yang digunakan mendasari kesimpulan dan rekomendasi yang dihasilkan dalam penelitian?
Contoh Kerangka Pemikiran
Pengaruh kepemimpinan terhadap kinerja aparatur, dinyatakan oleh beberapa peneliti seperti Suryani (2016),
152
Tatulus, Mandey, Rares (2015), dan Ritongan dan Tarigan (2015), telah menjelaskan bahwa kepemimpinan memiliki peranan yang sangat penting dalam mempengaruhi kinerja aparatur.
Pemimpin diharapkan dapat memberikan arahan dan bimbingan kepada aparatur untuk meningkatkan kompetensinya dan memberikan kinerja terbaiknya.
Kemudian, dalam hal pengaruh kepemimpinan terhadap capacity building, peneliti seperti Suryana (2018) dan De Jesus (2017) telah mengungkapkan bahwa pemimpin memiliki peran yang signifikan dalam mengembangkan kapasitas (capacity building) aparatur di bawah kepemimpinannya.
Selanjutnya, dalam konteks pengaruh kepemimpinan terhadap kompetensi, penelitian oleh Nababan, et al (2020) dan Marwansyah, Oemar, Yohanas (2015) telah menyoroti peran strategis pemimpin dalam meningkatkan kompetensi aparatur yang mereka pimpin.
Dalam hal pengaruh capacity building terhadap kinerja aparatur, sejumlah peneliti, termasuk Diwanti (2021), Amboningtyas (2019), Tauhid (2019), Arfah (2018), Rachmawati (2017), Rizki (2015), Irsyada (2015), Satori (2013), Sucipto (2011), Wardianto (2007), dan Milen (2006), menekankan pentingnya mengembangkan kapasitas (capacity building) aparatur karena hal ini berpotensi meningkatkan kinerja aparatur dalam pelayanan publik.
Tentang pengaruh capacity building terhadap kompetensi aparatur, Diwanti dan Sarifudin (2021), Sunarti, Rasyid, dan Gunawan (2017) telah menyatakan bahwa pengembangan kapasitas (capacity building) juga berdampak pada peningkatan kompetensi aparatur dalam pelayanan publik.
Terakhir, dalam hal pengaruh kompetensi terhadap kinerja aparatur, berdasarkan penelitian oleh Sampunto, Susanto, dan Surajiyo (2020), Syarifuddin, Semmaila, Husain (2019), Sutomo, dan Darsono (2019), Kuncoro, Sudarwati, Djumali (2019), Mulasari (2018), Ardiansyah, dan Sulistiyowati (2018), Romberg dalam Gatot (2014), Kolibačova (2014), Sudarmanto (2011), Hermawan (2012), dan Wibowo (2009),
153 dapat disimpulkan bahwa kompetensi aparatur memiliki peran yang sangat krusial dalam menentukan kinerja mereka. Para aparatur berupaya untuk meningkatkan kompetensinya guna memberikan kinerja terbaik.
Hubungan kausalitas ini secara umum disajikan pada gambar di bawah ini:
Gambar 3. 5 Kerangka Pemikiran Sumber: Disarikan dari Berbagai Sumber, 2023 G. Hipotesis Penelitian
Menurut Remler dan Van Ryzin (2021), Passey (2020), Babin, Carr, Griffin (2019), Patten dan Newhart (2017), Singleton dan Straits (2017), dan Wardhana, et al (2015), serta Sugiyono (2019), hipotesis penelitian merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah yang bersumber dari teori yang relevan dan perlu divalidasi melalui analisis data empiris.
Hipotesis ini dibangun berdasarkan kerangka berpikir yang berasal dari teori dan dirumuskan dalam bentuk pernyataan.
Tidak semua penelitian memerlukan hipotesis; penelitian yang bersifat eksploratif (seperti yang menggunakan metode kualitatif) mungkin tidak selalu membutuhkan hipotesis.
Namun, untuk memastikan akurasi dan validitasnya, hipotesis penelitian harus diuji secara cermat melalui analisis data empiris. Ada tiga bentuk hipotesis penelitian, yaitu:
1. Hipotesis deskriptif adalah alat yang berguna untuk merumuskan dan menjawab pertanyaan deskriptif yang memberikan jawaban sementara yang dapat dikembangkan lebih lanjut atau ditolak ketika data dan bukti dikumpulkan.
Hipotesis jenis ini membantu mengungkapkan pola dan
154
hubungan yang signifikan dalam data, memberikan wawasan penting terkait masalah tersebut. Sebagai contoh, pernyataan bahwa kualitas layanan di PT XYZ sudah baik, kinerja keuangan PT XYZ sehat, dan kinerja karyawan PT XYZ tinggi adalah contoh dari hipotesis deskriptif.
2. Hipotesis komparatif adalah perkiraan terdidik tentang jawaban pada masalah perbandingan. Hipotesis ini didasarkan pada data dan penelitian yang telah ada dan membantu membimbing penyelidikan lebih lanjut serta eksplorasi masalah perbandingan tersebut. Dengan merumuskan hipotesis komparatif, peneliti dapat mengidentifikasi penjelasan atau hasil yang paling mungkin dan menggunakan informasi tersebut untuk mengembangkan strategi penelitian yang lebih terfokus.
Sebagai contoh, pernyataan bahwa kualitas layanan PT XYZ lebih baik daripada PT PQR, kinerja keuangan PT XYZ lebih sehat dibandingkan dengan PT PQR, dan kinerja karyawan Divisi Pemasaran PT XYZ lebih tinggi daripada Divisi Operasi PT XYZ adalah contoh dari hipotesis komparatif.
3. Hipotesis asosiatif adalah alat yang efektif untuk mengungkapkan hubungan yang mendasari dan sebab- akibat antara variabel yang berbeda. Melalui merumuskan hipotesis ini terkait masalah asosiatif atau sebab-akibat, peneliti dapat mendapatkan jawaban awal yang kemudian dapat diuji untuk pertanyaan tersebut guna membantu dalam pengambilan keputusan berdasarkan informasi dan mengungkap wawasan yang bermanfaat. Contoh dari hipotesis asosiatif adalah pernyataan bahwa kepuasan konsumen memiliki pengaruh signifikan terhadap loyalitas konsumen di PT XYZ, dan motivasi kerja karyawan berpengaruh terhadap kinerja karyawan di PT XYZ.
Menurut Wardhana, et al (2015), Trochim, Donnelly, et al (2015), dan Sugiyono (2019), terdapat beberapa karakteristik yang harus dimiliki oleh hipotesis penelitian yang baik, yakni:
155 1. Merupakan jawaban sementara terkait hubungan antara variabel yang didasarkan pada teori yang relevan. Sebagai contoh, kenaikan harga produk berdampak pada peningkatan tingkat permintaan konsumen, dan asumsi ini didasarkan pada teori permintaan dan penawaran.
2. Dinyatakan dalam kalimat pernyataan yang jelas dan tidak memunculkan penafsiran yang bervariasi. Sebagai ilustrasi, pernyataan bahwa kompensasi memiliki dampak signifikan pada produktivitas kerja karyawan adalah contoh dari hipotesis yang jelas.
3. Dapat diuji secara statistik. Misalnya, hipotesis yang menyatakan bahwa kualitas layanan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap kepuasan konsumen dapat diuji melalui analisis statistik.
Hipotesis penelitian adalah alat penting untuk melakukan penelitian yang sukses dan mendapatkan hasil yang akurat.
Manfaatnya meliputi kemampuan untuk menjelaskan masalah penelitian, memperjelas variabel yang akan diuji, memberikan pedoman untuk memilih metode analisis data yang tepat, dan berfungsi sebagai dasar untuk menarik kesimpulan penelitian.
Selanjutnya, hipotesis penelitian sering dirumuskan berdasarkan teori yang ada, temuan penelitian sebelumnya, dan karya pendahuluan peneliti sendiri. Dengan memiliki hipotesis penelitian yang terdefinisi dengan baik, para peneliti lebih siap untuk merancang dan melaksanakan studi komprehensif yang menghasilkan hasil yang valid dan dapat diandalkan (Wardhana, et al, 2015; Trochim, Donnelly, et al, 2015; Sugiyono, 2019). Konsep dasar perumusan hipotesis dapat dijelaskan pada gambar berikut ini:
156
Gambar 3. 6 Konsep Dasar Perumusan Hipotesis Sumber: Disarikan dari Berbagai Sumber, 2023
Contoh Hipotesis Penelitian mengacu pada kerangka pemikiran pada Gambar di atas adalah sebagai berikut:
1. H1 : Terdapat pengaruh yang signifikan antara kepemimpinan terhadap kinerja aparatur 2. H2 : Terdapat pengaruh yang signifikan antara capacity building terhadap kinerja aparatur 3. H3 : Terdapat pengaruh yang signifikan antara
kompetensi terhadap kinerja aparatur 4. H4 : Terdapat pengaruh yang signifikan antara
kepemimpinan terhadap capacity building 5. H5 : Terdapat pengaruh yang signifikan antara kepemimpinan terhadap kompetensi aparatur
6. H6 : Terdapat pengaruh yang signifikan antara capacity building terhadap kompetensi aparatur
157 7. H7 : Terdapat pengaruh yang signifikan antara
kepemimpinan terhadap kinerja aparatur melalui capacity building aparatur
8. H8 : Terdapat pengaruh yang signifikan antara kepemimpinan terhadap kinerja aparatur melalui kompetensi aparatur
9. H9 : Terdapat pengaruh yang signifikan antara capacity building terhadap kinerja aparatur melalui kompetensi aparatur
Ringkasan
1. Teori adalah suatu pemikiran yang telah disusun secara sistematis atau penjelasan yang terstruktur yang didasarkan pada pengamatan dan penalaran yang masuk akal. Teori terdiri dari sejumlah konsep dan prinsip yang terorganisir dengan baik untuk memberikan suatu kerangka kerja yang membantu peneliti dalam memahami dan menafsirkan kenyataan, pengamatan, dan pengalaman peneliti.
2. Dalam penelitian dengan metode kuantitatif diperlukan urutan teori-teori secara sistematis yang digunakan dalam penelitian mulai dari Grand Theory, Middle Range Theory, dan Applied Theory. Grand Theory merupakan teori umum berperan sebagai dasar bagi kelahiran teori-teori lainnya di tingkat yang lebih spesifik. Juga dikenal sebagai Teori Makro, Teori Mayor, atau Teori Umum, teori ini memberikan landasan umum yang mencakup berbagai teori yang lebih terfokus, seperti teori rentang menengah (middle range theory) atau teori terapan (applied theory). Middle Range Theory merupakan teori rentang menengah adalah suatu pendekatan yang efektif untuk mengkaji fenomena sosial yang kompleks. Pendekatan ini berperan sebagai perantara yang menghubungkan teori besar dengan teori terapan, sehingga membentuk suatu jembatan antara keduanya. Teori rentang menengah berasal dari teori umum (grand theory), namun dirumuskan dalam bahasa yang lebih spesifik.
Applied Theory merupakan tingkat terendah dari teori sering
158
disebut sebagai Teori mikro, atau yang lebih dikenal sebagai teori terapan, merujuk pada teori yang secara langsung diterapkan pada variabel-variabel penelitian. Teori terapan merupakan hasil turunan dari teori rentang menengah (middle range theory), dan dalam konsepnya, teori ini sangat terkait dengan variabel-variabel dalam sebuah penelitian.
3. Kegunaan teori dalam penelitian yaitu: mengarahkan penelitian, mengembangkan hipotesis, penjelasan fenomena, prediksi, konteks penelitian, pemilihan metode penelitian, relevansi dan generalisasi, kepastian dan validitas, dan kontribusi ilmiah.
4. Penelitian kuantitatif bergantung pada penalaran deduktif, yang melibatkan pengambilan kesimpulan dari prinsip atau asumsi umum yang telah ada sebelumnya. Sebaliknya, penelitian kualitatif menggunakan penalaran induktif, yang melibatkan proses pembentukan teori atau hipotesis berdasarkan pengamatan dan pengalaman yang diperoleh dari penelitian tersebut.
5. Kerangka berpikir, atau kerangka pemikiran, juga dikenal sebagai kerangka teoritis, adalah seperti cetak biru atau panduan yang esensial untuk sebuah penelitian yang berperan sebagai panduan komprehensif yang mencerminkan teori yang relevan untuk hipotesis penelitian, serta memberikan kerangka kerja yang merinci pertimbangan filosofis, epistemologis, metodologis, dan analitis bagi peneliti. Dengan mengacu pada kerangka berpikir, peneliti dapat memanfaatkan pendekatan yang terstruktur dan komprehensif untuk penelitian mereka, yang membantu memaksimalkan hasil penelitian mereka.
6. hipotesis penelitian merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah yang bersumber dari teori yang relevan dan perlu divalidasi melalui analisis data empiris. Hipotesis ini dibangun berdasarkan kerangka berpikir yang berasal dari teori dan dirumuskan dalam bentuk pernyataan. Tidak semua penelitian memerlukan hipotesis; penelitian yang
159 bersifat eksploratif (seperti yang menggunakan metode kualitatif) mungkin tidak selalu membutuhkan hipotesis.
Pertanyaan Latihan
1. Jelaskan yang dimaksud dengan teori?
2. Jelaskan tingkatan dan fokus teori?
3. Jelaskan kegunaan teori dalam penelitian?
4. Jelaskan pentingnya teori dalam penelitian?
5. Jelaskan yang dimaksud dengan kerangka berpikir dalam penelitian kuantitatif?
6. Jelaskan yang dimaksud dengan hipotesis penelitian?
Diskusi Kelompok Kasus:
Setiap organisasi memerlukan sumber daya yang diperlukan untuk mencapai tujuannya. Pegawai adalah salah satu komponen sumber daya yang esensial bagi sukses perusahaan. Secara simultan, dari perspektif pegawai, organisasi menyediakan lingkungan di mana mereka dapat memenuhi berbagai kebutuhan mereka. Oleh karena itu, untuk mencapai tujuan organisasi, pegawai diharapkan untuk terus meningkatkan potensi dan kinerja mereka agar sesuai dengan tujuan organisasi. Dengan kata lain, kinerja pegawai menjadi aspek penting yang perlu diperhatikan oleh organisasi dalam rangka mencapai tujuan mereka.
Kinerja pegawai adalah konsep yang telah digambarkan oleh berbagai pakar, termasuk Robbins (2006), Silalahi (2013), Riniwati (2011), Sagala & Rivai (2013), Koopmans et al. (2014), Mangkunegara (2014), sebagai sejauh mana individu (pegawai) berhasil mencapai standar, target, atau kriteria yang berlaku dalam pekerjaan mereka selama periode tertentu. Kinerja ini mencakup evaluasi kualitas, kuantitas, ketepatan waktu, kehadiran, serta kemampuan untuk bekerja sama secara efektif dalam konteks pekerjaan mereka. Kinerja pegawai juga dapat mencerminkan tingkat kompetensi yang dianggap sesuai oleh organisasi. Dimensi-dimensi utama dalam kinerja pegawai
160
termasuk kuantitas kerja, kualitas kerja, tanggung jawab, kerja sama, dan inisiatif.
Kompetensi pegawai adalah sekelompok karakteristik individu yang diperlukan dalam pelaksanaan tugas jabatan untuk mencapai kinerja yang unggul, sebagaimana dijelaskan oleh beberapa ahli seperti Dessler (2020), Lasmahadi (2004), Baso (2003), Prayitno & Suprapto (2002), Wibowo (2007), dan Amstrong & Baron (1998). Kompetensi ini berperan sebagai panduan untuk perilaku pegawai, yang pada gilirannya akan menghasilkan kinerja profesional yang unggul dalam bidang tertentu. Dimensi-dimensi kompetensi dalam penelitian ini merujuk pada aspek pengetahuan, keterampilan, dan sikap, sebagaimana didefinisikan oleh Anwar & Aima (2019) dan Puslitbang BKN (2010), karena penelitian ini berkaitan dengan permasalahan yang melibatkan unsur-unsur tersebut.
Faktor lain yang dapat menyebabkan penurunan kinerja pegawai adalah disiplin kerja pegawai. Disiplin kerja, sebagaimana dijelaskan oleh sejumlah ahli seperti Sagala dan Rivai (2013), Wyckoff & Unel (1990), dan Razak et al (2018), adalah sikap kesadaran dan kesiapan untuk berkolaborasi dengan rekan kerja serta patuh terhadap norma-norma dan peraturan yang berlaku di lingkungan kerja. Disiplin kerja juga merupakan alat yang digunakan oleh manajer untuk berkomunikasi dengan pegawai agar mereka mau mengubah perilaku mereka agar sesuai dengan aturan dan norma yang berlaku dalam perusahaan. Dalam penelitian ini, dimensi- dimensi disiplin kerja mengacu pada kerangka yang diajukan oleh Hasibuan (2017), yang mencakup tujuan dan kemampuan, keteladanan pimpinan, balas jasa, keadilan, pengawasan melekat (waskat), sanksi hukuman, ketegasan, dan hubungan kemanusiaan.
Selain itu, faktor lain yang dapat mengakibatkan penurunan kinerja pegawai adalah komitmen organisasional.
Konsep komitmen organisasional, seperti yang dikemukakan oleh sejumlah ahli, termasuk Luthans (2008), Griffin (2004), Mathis & Jackson (2002), Dessler (2015), dan Allen & Meyer
161 (1990), merujuk pada keinginan yang kuat untuk tetap menjadi bagian dari suatu organisasi tertentu yang mencakup hasrat untuk berkontribusi maksimal sesuai dengan kebijakan organisasi, keyakinan dalam nilai-nilai dan tujuan organisasi.
Dengan kata lain, komitmen organisasional adalah sikap yang mencerminkan loyalitas pegawai dan tingkat keterikatan mereka pada organisasi. Tingkat komitmen ini dapat mempengaruhi partisipasi pegawai dalam organisasi serta lamanya mereka bertahan di dalamnya. Dimensi-dimensi komitmen organisasional yang menjadi fokus dalam penelitian ini adalah komitmen afektif (Affective Commitment), komitmen berkelanjutan (Continuance Commitment), dan komitmen normatif (Normative Commitment) sebagaimana yang dijelaskan oleh Allen & Meyer (1990).
Komitmen organisasional, menurut sejumlah penelitian oleh Asmoro et al (2020), Anwar & Aima (2019), Fitriastuti (2013), Ticoalu (2013), Murty (2012), Rosita dan Yuniati (2016), dan Tobing (2009), dipengaruhi oleh kompetensi dan disiplin kerja pegawai. Penelitian ini menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat kompetensi pegawai, semakin tinggi pula tingkat komitmen mereka terhadap organisasi. Selain itu, disiplin kerja yang tinggi juga berhubungan positif dengan tingkat komitmen pegawai.
Selain itu, penelitian oleh Bagis et al (2020) menyatakan bahwa kompetensi pegawai dan disiplin kerja mempengaruhi kinerja pegawai melalui mediasi komitmen organisasional.
Dalam konteks ini, kinerja pegawai dapat meningkat ketika terdapat tingkat komitmen organisasional yang tinggi dan pegawai memiliki kompetensi yang baik serta menjaga disiplin kerja mereka.
Terakhir, beberapa penelitian yang dilakukan oleh Tobing (2009), Murty (2012), Fitriastuti (2013), dan Rivai (2005) menegaskan bahwa komitmen organisasional memiliki pengaruh positif terhadap kinerja pegawai. Artinya, semakin tinggi tingkat komitmen pegawai terhadap organisasi, semakin
162
baik pula kinerja yang dapat dihasilkan oleh mereka dalam menjalankan tugas-tugasnya.
Berdasarkan kerangka pemikiran tersebut, maka paradigma penelitian yang diajukan adalah sebagai berikut:
Gambar 3. 7 Kerangka Pemikiran Sumber: Disarikan dari Berbagai Sumber, 2023
Hipotesis penelitian merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, di mana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat pernyataan (Sugiyono, 2019; Wardhana et al, 2015). Berdasarkan uraian sebelumnya, maka hipotesis yang dapat dikembangkan dan akan diuji oleh peneliti adalah sebagai berikut:
H1: Kompetensi berpengaruh positif dan signifikan terhadap Komitmen Organisasional pada pegawai Dinas PQR Kabupaten XYZ.
H2: Disiplin Kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap Komitmen Organisasional pada pegawai Dinas PQR Kabupaten XYZ.
H3: Komitmen Organisasional berpengaruh positif dan signifikan terhadap Kinerja Pegawai Dinas PQR Kabupaten XYZ.
H4: Kompetensi berpengaruh positif dan signifikan terhadap Kinerja Pegawai Dinas PQR Kabupaten XYZ.
163 H5: Disiplin Kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap
Kinerja Pegawai Dinas PQR Kabupaten XYZ
H6: Kompetensi berpengaruh positif dan signifikan terhadap Kinerja Pegawai Dinas PQR Kabupaten XYZ melalui Komitmen Organisasional
H7: Disiplin Kerja berpengaruh positif dan signifikan terhadap Kinerja Pegawai yang dimediasi oleh Komitmen Organisasional pada pegawai Dinas PQR Kabupaten XYZ.
H8: Kompetensi dan Disiplin Kerja secara simultan berpengaruh positif dan signifikan terhadap Kinerja Pegawai Dinas PQR Kabupaten XYZ melalui Komitmen Organizational
Pertanyaan Diskusi
1. Jelaskan apa yang menjadi grand theory, middle theory, dan aplied theroy dalam penelitian kauntitatif di atas?
2. Jelaskan hipotesis penelitian pada kasus di atas termasuk dalam jenis hipotesis penelitian apa?
3. Sebutkan variabel-variabel dalam penelitian di atas dan berikan judul penelitian yang tepat untuk kasus di atas?
H. Daftar Pustaka
Alaoui, A., Barão, L., Ferreira, CSS., Hessel, R. (2022). An Overview of Sustainability Assessment Frameworks in Agriculture. Land, 11(4), 1-26.
Adom, Dickson., Hussein, Emad Kamil., Agyem, Joe Adu.
(2018). Theoretical and Conceptual Framework:
Mandatory Ingredients of a Quality Reserach. International Journal of Scientific Research, 7(1), 438-441
Akintoye, A. (2015). Developing Theoretical and Conceptual Frameworks. Jedm.oauife.edu.ng>uploads>2017/03/07 (diakses 29 Oktober 2023)
164
Alwiyah., Louangdy, Toto Thinakone., Yolandari, Aulia. (2018).
Relation of Relationship Between Research Theory and Variable with Management Case Study. ATM, 2(1), 70-78 Babin, Barry., Carr, Jon., Griffin, Mitch. (2019). Business Research
Methods. Boston: Cengage Learning
Babbie, Earl R. (2016). The Basics of Social Research. Boston:
Cengage Learning
Buckleyt, Peter J., Chapman, Malcolm. (1996). Theory and Method in International Business Research. International Business Review, 5(3), 233-245
Ban, NC., & Cox, M. (2017). Advancing Social-Ecological Research Through Teaching: Summary, Observations, and Challenges. Ecology and Society, 22(1), 1-3.
Biermann, F., et al. (2010). Earth System Governance: A Research Framework. International Environmental Agreements:
Politics, Law and Economics, 10(4), 277-298.
Chofreh, AG., & Goni, FA. (2017). Review of Frameworks for Sustainability Implementation. Sustainable Development, 25(3),180-188.
Creswell, John W., & Creswell, J. David. (2017). Research Design:
Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods Approaches.
Thousand Oaks, CA: Sage Publications.
Colding, J., & Barthel, S. (2019). Exploring The Social-Ecological Systems Discourse 20 Years Later. Ecology and Society, 24(1), 1-9.
Cox, M., et al. (2021). Lessons Learned from Synthetic Research Projects Based on The Ostrom Workshop Frameworks.
Ecology and Society, 26(1), 21-29
Corbin, Juliet., & Strauss, Anselm. (2015). Basics of Qualitative Research: Techniques and Procedures for Developing Grounded Theory. Thousand Oaks, California: Sage Publications
165 Dougherty, James E., & Pfaltzgraff, Robert L. (2000). Contending Theories of International Relations: A Comprehensive Survey.
New York: Pearson
Grant, C. & Osanloo, A. (2014). Understanding, Selecting, and Integrating a Theoretical Framework in Dissertation Research: Creating the Blueprint for ‘House’.
Administrative Issues Journal: Connecting Education, Practice and Research, 12-22
Heng, Tang T. (2020). Examining the Role of Theory in Qualitative Research: A Literature Review of Studies on Chinese International Students in Higher Education.
Journal of International Students, 10(4), 798-816
Imenda, S. (2014). Is There a Conceptual Difference Between Conceptual and Theoretical Frameworks? Journal of Social Science, 38(2),185-195
Lester, F. (2005). On the Theoretical, Conceptual, and Philosophical Foundations for Research in Mathematics Education. ZDM, 37(6), 457-467
Maxwell, J. (2017). How Conceptual Frameworks Guide Research.
Thousand Oaks, CA: Sage Publications
Merriam, S.B., & Tisdell, E.J. (2016). Qualitative Research: A Guide to Design and Implementation. San Fransisco: Jossey-Bass Miles, M.B., Huberman, A.M., Saldana, J. (2014). Qualitative Data
Analysis: A Method Sourcebook. Thousand Oaks, CA: Sage Publications
Partelow, Stefan. (2023). What is A Framework? Understanding Their Purpose, Value, Development and Use. Journal of Environmental Studies and Sciences, 13(1), 510–519
Passey, Don. (2020). Theories, Theoretical and Conceptual Frameworks, Models and Constructs: Limiting Research Outcomes through Misconceptions and Misunderstandings. Studies in Technology Enhanced Learning, 1(1), 1-20
166
Patten, Mildred L., & Newhart, Michelle. (2017). Understanding Research Methods: An Overview of the Essentials.
Oxfordshire, England: Routledge
Ravitch, S. M., & Carl, N. M. (2016). Qualitative Research: Bridging the Conceptual, Theoretical and Methodological. Los Angeles, U.S.A.: SAGE Publications, Inc.
Remler, Dahlia K., & Van Ryzin, Gregg G. (2021). Research Methods in Practice: Strategies for Description and Causation.
Thousand Oaks, California: SAGE Publications
Rengasamy, Dhanuskodi. (2016). The Role of Theory in Social Science Research (With Special Reference to Business and Management Studies). IJARIIE, 1(3), 120-125
Van Ryn, Michelle., & Heaney, Catherine A. (1992). What's the Use of Theory? Health Education Quarterly, 19(3), 315-330 Samsu. (2017) Research Methods (Theory and Research Application of
Qualitative, Quantitative, Mixed Methods, as well as Research
& Development). Edinburgh: Centre for the Study of Religion and Society
Simon, M. K. & Goes, J. (2011). Developing a Theoretical Framework.
Seattle, WA: Dissertation Success, LLC.
Singleton, Royce A., Straits, Bruce C. (2017). Approaches to Social Research. Walton Street, Oxford: Oxford University Press.
Sugiyono. (2019). Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Trochim., Donnelly., et al. (2015). Research Methods: The Essential Knowledge Base. Boston: Cengage Learning
Wardhana, Aditya, et al. (2015). Metode Riset Bisnis. Bandung:
Karya Manunggal Lithomas
535 TENTANG PENULIS
Dr. Zainuddin Iba SE., MM.
Lahir di Blang Dalam Baroh 1961.
Menyelesaikan pendidikan pada Fakultas Ekonomi (jurusan Manajemen) Universitas Pakuan (UNPAK) Bogor tahun 1990. Magister Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syiah kuala Banda Aceh tahun 2009.
Menyelesaikan Program Doktor Ilmu Manajemen pada Universitas Pasundan (UNPAS) Bandung tahun 2015. Pengalaman bekerja di PT. Winner Garment Manufacturing Corp, Bogor (1990-1993). PT.
Grea Citra Lestari Bogor (1993-1994). PT. Indonesia Product Centre Sarinah Jaya Jakarta (1994-1996). PT. Kumagai Wika Joint Operation. Kota Bumi Lampung (1996-1998). Centurion Co Ltd.
Jakarta, (1998-2000). Eastern Fashions Co Ltd, Jakarta (2001-2002).
PT. Lombartex Indonesia Apparel Lhokseumawe Provinsi Aceh (2005-2007). Anggota DPRK Aceh Utara priode (2014-2019). Dosen Tetap Yayasan Kebangsaan Bireuen (2009-Sekarang). Ketua STIE Kebangsaan Bireuen (2013-2017). Ketua Program Pascasarjana Magister Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Kebansaan Indonesia (2017-2021). Wakil Rektor Bidang Akademik (2021-sekarang).
536
Dr (Cand). Aditya Wardhana, S.E., M.Si., M.M., CHRMP, CIRP, CHRA, CPP, CHRBP
Penulis merupakan dosen tetap di Universitas Telkom. Menyelesaikan studi Sarjana Ekonomi di Universitas Padjadjaran tahun 1997. Kemudian, penulis menyelesaikan studi Magister Sains di Universitas Padjadjaran tahun 2003 dan menyelesaikan studi Magister Manajemen di Universitas Pasundan tahun 2012. Saat ini penulis sebagai kandidat Doktor Ilmu Manajemen di Universitas Pasundan. Penulis memiliki kepakaran di bidang manajemen sumber daya manusia (SDM). Penulis memiliki sertifikasi dalam bidang SDM yaitu Certified Human Resources Management Professional (CHRMP), Certified Industrial Relations (CIRP), Certified Human Resources Analyst (CHRA), Certified Personality Practicioner (CPP), dan Certified Human Resources Business Partner (CHRBP). Penulis memiliki pengalaman praktisi SDM di bagian Human Resource Development PT Perusahaan Gas Negara Tbk serta sebagai konsultan di berbagai BUMN seperti PT Surveyor Indonesia, PT Badan Klasifikasi Kapal Indonesia, PT Pertamina, PT BNI 46, PTPN VIII Jawa Barat, PT Biofarma, serta pada Kementerian Koordinator Perekonomian RI, dan Kementerian Perhubungan.
Penulis aktif menulis berbagai buku dalam bidang manajemen sumber daya manusia serta memiliki Sertifikasi Penulis Buku Non- Fiksi dari Badan Sertifikasi Nasional Profesi (BSNP) RI. Penulis meraih penghargaan sebagai dosen dengan kinerja penelitian terbaik se-Jawa Barat dan Banten dari LLDIKTI Wilayah IV pada tahun 2022.
Email Penulis: [email protected]
537
View publication stats