Metode Perpetual/Terus menerus: Metode pencatatan persediaan barang dagangan secara terus menerus pada setiap terjadi transaksi yang menyangkut persediaan barang dagangan baik pembelian dan penjualan.
1. Pembelian a. Tunai
Persediaan barang dagangan (D) XX Kas (K) XX
b. Kredit
Persediaan barang dagangan (D) XX Hutang Dagang (K) XX
2. Retur Pembelian a. Tunai
Kas (D) XX
Persediaan barang dagangan (K) XX b. Kredit
Hutang dagang (D) XX
Persediaan barang dagangan (K) XX 3. Potongan Pembelian
a. Tunai
Potongan pembelian tunai tidak dicatat.
b. Kredit
Hutang dagang (D) XX
Persediaan barang dangan (K) XX 4. Beban angkut pembelian
Persediaan barang dagangan (D) XX Kas (K) XX
5. Penjualan a. Tunai
Kas (D) XX Penjualan (K) XX HPP (D) XX
Persediaan barang dagangan (K) XX b. Kredit
Piutang dagang (K) XX Penjualan (D) XX HPP (D) XX
Persediaan barang dagangan (K) XX
6. Retur penjualan a. Tunai
Retur penjualan (D) XX Kas (D) XX
Persediaan barang dagangan (D) XX HPP (K) XX
b. Kredit
Retur penjualan (D) XX Piutang Dagang (K) XX
Persediaan barang dagangan (D) XX HPP (K) XX
7. Potongan penjualan a. Tunai
Potongan penjualan tunai tidak dicatat b. Kredit
Kas (D) XX
Potongan penjualan (D) XX Piutang dagang (K) XX 8. Beban angkut penjualan
Beban angkut penjualan (D) XX Kas (K) XX
PERSEDIAAN BARANG DAGANGAN
Persediaan barang dagangan adalah elemen yang sangat penting dalam kegiatan usaha dagang. Dalam perusahaan dagang atau manufaktur persediaan barang dagangan merupakan bagian yang sangat besar dari keseluruhan aset lancar, kadang-kadang mencapai 70% dari keseluruhan aset lancar. Ini merupakan bukti kongkrit bahwa persediaan barang dagangan merupakan sesuatu yang sangat penting berhubungan dengan lancar tidaknya kegiatan usaha dagang. Manajemen yang sukses adalah harus selalu mempertahankan jumlah persediaan yang cukup untuk memenuhi permintaan konsumen. Tetapi manajemen juga harus berusaha untuk menjaga jumlah persediaan jangan sampai kurang atau berlebihan. Apabila jumlah persediaan kurang maka dampaknya adalah konsumen akan tidak terpuaskan, sedangkan apabila jumlahnya berlebihan akan menimbulkan biaya untuk penyimpanan. Maka persediaan barang dagangan harus dikelola sebaik-baiknya.
Motode Penetapan Harga Perolehan Persediaan Barang Dagangan a. Metode aliran fisik sesungguhnya/identifikasi khusus
Metode penghitungan harga perolehan dengan cara mengikuti aliran fisik barang yang sesungguhnya terjadi dengan memberi tanda pada persediaan barang misanya menggantungi kartu diberi kode. Penghitungan ini cocok untuk diterapkan pada perusahaan yang menjual barang yang mahal tetapi jumlahnya terbatas. Contoh PT “ Galungung “ membeli 5 TV 21 inch dengan harga yang berbeda-beda yakni : Rp. 2.100.000, 00, Rp. 2.150.000,00, Rp.2.200.000,00, Rp. 2.225.000,00 dan Rp. 2.230.000,00,00. Selama tahun tersebut terjual 3 buah dengan harga Rp. 2.500.000,00 dan pada tahun tersebut perusahaan menghitung secara fisik. Dan diketahui yang terjual adalah Rp. 2.100.000,00, Rp. 2.200.000,00, Rp. 2.230.000,00. Dengan demikian harga perolehan persdiaan akhir TV Rp. 2.225.000,00 + Rp. 2.150.000,00 = Rp. 4.375.000,00 dan harga pokok penjualan Rp. 2.100.000,00 + Rp. 2.200.000,00 + Rp. 2.230.000,00 = Rp.
6.530.000,00.
b. Metode harga perolehan atas dasar aliran anggapan
Metode identifikasi khusus tidak cocok untuk penjualan barang dagangan aneka ragam jenis dan jumlahnya.
1 . First-in, First-out ( FIFO/MPKP )
Menganggap bahwa barang yang terlebih dulu dibeli akan dijual terlebih dahulu. Dengan demikian harga perolehan barang yang lebih dulu dibeli, dianggap akan menjadi harga pokok penjualan lebih dulu juga. Persediaan barang akhir ditentukan dengan mengambil harga perolehan per unit dalam persediaan yang paling akhir kemudian bergerak mundur sampai semua unit mendapatkan harga perolehan.
Contoh :
Di bawah ini data persediaan barang dagangan UD Galunggung Maret 2008 Tgl Ket Unit @ Unit
1 Persediaan awal 200 Rp. 500,00 3 Pembelian 1.000 Rp. 525,00 5 Pembelian 2.000 Rp. 550,00 6 Pembelian 2.500 Rp. 575,00
7 Penjualan 200 Rp. 500,00
1.000 Rp. 525,00 1.600 Rp. 550,00
Selama bulan ini persediaan barang dagangan terjual 2.800 unit tentukan besarnya persediaan akhir dan HPP dengan metode FIFO !
2. Last-in, First – out ( LIFO / MTKP )
Menganggap bahwa persediaan barang dagangan yang dibeli paling akhir akan dijual paling awal, dengan demikian harga perolehan barang yang dibeli paling akhir dianggap akan menjadi harga pokok terlebih dahulu. Persediaan barang dagangan akhir ditentukan dengan mengambil harga perolehan per unit dalam persediaan barang yang paling awal kemudian bergerak maju sampai semua unit mendapatkan harga perolehan.
Contoh :
Di bawah ini data persediaan barang dagangan UD Galunggung Maret 2008 Tgl Ket Unit @ Unit
1 Persediaan awal 200 Rp. 500,00 3 Pembelian 1.000 Rp. 525,00 5 Pembelian 2.000 Rp. 550,00 6 Pembelian 2.500 Rp. 575,00
7 Penjualan 2.500 Rp. 575,00
300 Rp. 550,00
Selama bulan ini persediaan barang dagangan terjual 2.800 unit tentukan besarnya persediaan akhir dan HPP dengan metode LIFO !
3. Metode Rata-rata ( Avarage )
Pengalokasian harga perolehan barang yang tersedia untuk dijual dilakukan atas dasar rata-rata tertimbang. Selanjutnya harga perolehan rata-rata tertimbang dikalikan dengan jumlah unit yang ada dalam dalam persediaan akhir .
A. Metode Rata-rata (sistem persediaan periodik)
ReadyMade Industries melaporkan persediaan awal 400 unit seharga 75.000 per unit pada awal tahun fiskal 1 Januari. Pada akhir kuartal pertama, perusahaan melakukan pembelian berikut:
- 11 Januari: 200 unit dengan biaya 50.000 = 1.000.000 - 23 Februari: 100 unit dengan biaya 120.000 = 12.000.000 - 16 Maret: 130 unit dengan biaya 145.000 = 18.850.00
Total unit yang tersedia sebelum penjualan: 830 = 400 + 200 + 100 + 130
Juga, perusahaan menerima penjualan berikut:
- Penjualan akhir Januari 121 unit
- Penjualan akhir Februari sebanyak 220 unit - Penjualan akhir Maret sebanyak 165 unit
Total unit yang terjual selama kuartal pertama: 506 = 121 + 220 + 165
Akuntan bisnis lebih suka menggunakan sistem persediaan periodik yang menghitung HPP dan unit yang tersedia untuk dijual pada akhir kuartal pertama:
WAC (Weighted Average Cost) per unit =
(30.000.000 + 1.000.000 + 12.000.000 + 18.850.000) / 830 WAC = 74.518
Untuk penjualan 506 unit selama periode Januari-Maret, bisnis mengalokasikan 74.518 per unit yang terjual. Unit yang tersisa masuk ke persediaan akhir, menghasilkan perhitungan berikut:
506 x 74.518 = 37.706.108 dalam HPP
61.850.000 – 37.706.108 = 24.143.892 dalam persediaan akhir
B. Metode Rata-rata (sistem persediaan perpetual)
Saat mengikuti sistem persediaan perpetual, bisnis menentukan jumlah rata-rata sebelum penjualan unit. Sebelum penjualan Januari sebanyak 121 unit, biaya rata-rata per unit adalah sebagai berikut:
WAC per unit = (30.000.000 + 1.000.000) / 600 WAC = 51.670
Setelah penjualan 121 unit pada bulan Januari, biayanya adalah sebagai berikut:
121 x 51.670 = 6.252.070 dalam HPP
31.000.000 – 6.252.070 = 24.747.930 tersisa dalam persediaan