Tujuan dari penelitian ini adalah mempelajari cara mikroenkapsulasi ekstrak kulit buah naga merah menggunakan maltodekstrin DE10-12 dengan teknik spray drying. Padahal, banyak sumber pewarna alami yang belum dimanfaatkan secara optimal, termasuk kulit buah naga merah. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari metode mikroenkapsulasi ekstrak kulit buah naga merah dengan menggunakan bahan penyalut dengan konsentrasi berbeda menggunakan teknik spray drying dan sifat fisikokimia mikrokapsul yang dihasilkan (serbuk cat).
Kulit buah naga merah diekstraksi dengan perbandingan kulit buah naga merah dengan pelarut air (b/v) 1:3. Karena khasiat tersebut, kulit buah naga merah yang mengandung antosianin diekstrak menggunakan pelarut air. Rendemen yang dihasilkan tidak terlalu tinggi, belum mencapai 50% karena kandungan air pada bahan yaitu kulit buah naga merah sangat tinggi yaitu mencapai 90% (hasil analisa peneliti).
Pewarna alami dari kulit buah naga merah telah diaplikasikan pada makanan dan diujicobakan pada tikus putih.
ANALISIS KANDUNGAN ZAT GIZI MAKRO DAN DAYA CERNA PATI SNACK BAR TUJOGUNG SEBAGAI ALTERNATIF
MAKANAN SELINGAN PENDERITA DIABETES TIPE 2
Wallis menunjukkan adanya pengaruh (p<0,05) terhadap kesukaan panelis terhadap rasa snack bar pada masing-masing formulasi. Hasil uji non parametrik Kruskal-Wallis menunjukkan bahwa jumlah konsumsi tepung ubi jalar jeruk dan pure jagung berpengaruh terhadap rasa snack bar Formula 1, Formula 2 dan Formula 3 (p<0,05). Uji lanjutan nonparametrik Mann-Whitney menunjukkan preferensi rasa panelis terhadap snack bar Formula 1 dan Formula 2 tidak berbeda secara signifikan (p>0,05).
Sedangkan kesukaan panelis terhadap rasa jajanan Formula 1 dan Formula 2 berbeda nyata (p<0,05) dengan Formula 3. Uji nonparametrik Kruskal-Wallis menunjukkan bahwa tingkat konsumsi tepung ubi jalar oranye dan pure jagung memiliki signifikan menyebabkan perbedaan tekstur snack Formula 1, Formula 2 dan Formula 3 (p<0,05). Kadar abu pada snack bar terpilih lebih tinggi dibandingkan dengan kadar abu pada cake ubi jalar orange yaitu 1,49% (Lutfika, 2006).
Kandungan protein snack bar jagung lebih tinggi dibandingkan dengan cake yang terbuat dari tepung ubi jalar oranye, yaitu 6,05% (Lutfika, 2006).
PENGARUH INTERVENSI PENYULUHAN GIZI DENGAN MEDIA ANIMASI TERHADAP PERUBAHAN PENGETAHUAN DAN SIKAP
TENTANG ANEMIA PADA REMAJA PUTRI
Penyuluhan dalam hal ini merupakan bagian dari pendidikan gizi sebagai upaya untuk melakukan perubahan pengetahuan atau sikap dalam hal konsumsi makanan (Suhardjo, 2005). Penelitian peran pendidikan gizi yang dilakukan oleh Zulaekah (2009) menyatakan terdapat pengaruh positif pengetahuan gizi dan peningkatan kadar hemoglobin setelah pendidikan gizi. Menurut penelitian Permata (2015), mengenai pengaruh media animasi terhadap pengetahuan remaja putri menyatakan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara pengetahuan gizi remaja putri sebelum dan sesudah intervensi.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh intervensi anjuran pola makan dengan media animasi terhadap perubahan pengetahuan dan sikap tentang anemia pada siswi SMA di Kota Bandar Lampung Tahun 2017. Nilai postes minimal 60 dan nilai maksimal adalah 95 dengan rata-rata 77,70, terjadi peningkatan skor rata-rata subjek sebesar 7,9 yang menunjukkan adanya pengaruh intervensi pendidikan gizi media animasi terhadap pengetahuan subjek (p < 0,05). Intervensi konseling diet dengan media animasi berpengaruh signifikan terhadap perubahan sikap subjek, dibuktikan dengan adanya perbedaan skor pre-test dan post-test.
Penggunaan media animasi dalam intervensi pendidikan gizi tidak hanya memberikan cara belajar yang efektif dalam waktu singkat, tetapi mengarah pada kesimpulan bahwa sesuatu yang diterima melalui audiovisual akan bertahan lebih lama dan diingat lebih baik karena lebih melibatkan panca indera. Peningkatan pengetahuan subjek dipengaruhi oleh bantuan media animasi berupa gambar bergerak dan suara yang memudahkan subjek mengingat materi yang diberikan. Penelitian yang dilakukan oleh Islahuddin (2015) di Kudus juga menyatakan bahwa penggunaan media animasi merupakan cara pendidikan yang lebih efektif dibandingkan dengan metode pendidikan konvensional.
Penggunaan media animasi juga berpengaruh positif terhadap perubahan sikap subjek setelah melihat animasi. Setelah mendapatkan penyuluhan kesehatan melalui media animasi terjadi perputaran sehingga mayoritas subjek memiliki sikap positif. Hasil penelitian ini menyatakan bahwa intervensi penyuluhan gizi menggunakan media animasi berdampak pada peningkatan pengetahuan dan sikap tentang anemia pada remaja putri SMA di Kota Bandar Lampung Tahun 2017.
Disarankan agar Dinas Kesehatan dan sekolah mendorong penggunaan media animasi sebagai sarana alternatif pendidikan gizi dan menggabungkannya dengan berbagai media seperti leaflet, brosur dan metode ceramah untuk perbaikan. Pengaruh penyuluhan gizi tentang anemia dengan media animasi terhadap peningkatan pengetahuan gizi remaja putri di SMPN 01 Tasikmadu Karanganyar.
PEMANFAATAN RUMPUT LAUT (EUCHEUMA COTTONII) MENJADI ROTI TINGGI SERAT DAN YODIUM
Disinilah perlunya modifikasi roti tawar dengan menggunakan bahan pangan lokal yaitu mengganti tepung terigu dengan tepung rumput laut, sehingga diharapkan dapat meningkatkan aplikatif pangan lokal. Tepung rumput laut yang dihasilkan kemudian dilakukan analisis proksimat (kadar air, kadar abu, lemak total, protein dan total karbohidrat), kandungan serat makanan total dan kandungan yodium (Tabel 1). Hasil yang diperoleh dengan mengukur volume kembang roti tawar rumput laut perlakuan A1 yaitu 88,69%, dan roti tawar tepung terigu yaitu 118,04%.
Roti rumput laut dengan formulasi 10% (A1), 20% (A2) dan 30% (A3) diuji secara organoleptik untuk mengetahui tingkat kesukaan aspek tekstur, aroma, rasa dan warna. Uji lanjut Duncan menunjukkan roti rumput laut A1 dan A2 tidak berbeda nyata (p>0,05) pada masing-masing sifat organoleptik yang diuji, sedangkan roti rumput laut A3 berbeda nyata dengan roti rumput laut A1 dan A2 pada masing-masing sifat organoleptik yang diuji (p<0,05). Tingkat kesukaan formulasi organoleptik roti tawar rumput laut Aspek Organoleptik Skor Formulasi Roti Favorit.
Tepung rumput laut mengandung lebih banyak serat makanan total dan yodium daripada tepung terigu; dan roti biasa yang dibuat oleh peneliti bertujuan untuk menyediakan sekitar 10-15% dari kebutuhan masyarakat umum sebagai makanan ringan. Rendemen bungkil rumput laut sangat rendah yaitu 4,5% karena tingginya kandungan air pada bahan baku. Gluten berfungsi untuk meningkatkan atau mempertahankan kemampuan ragi roti, menggantikan lebih banyak tepung rumput laut.
Kandungan serat pangan dan yodium pada roti rumput laut putih dapat dikatakan tinggi serat dengan mengacu pada peraturan kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia No. Kandungan serat pangan dan yodium pada roti rumput laut lebih tinggi dari roti gandum biasa. Pemanfaatan rumput laut (Eucheuma cottonii) untuk meningkatkan kadar yodium dan serat pangan pada marmalade dan dodol.
Variasi substitusi rumput laut terhadap kandungan serat dan kualitas organoleptik bungkil rumput laut (Eucheuma cottonii). Substitusi tepung rumput laut Eucheuma Cottonii dalam pembuatan Ekado sebagai alternatif makanan yodium tinggi untuk anak sekolah.
HUBUNGAN KARAKTERISTIK MENU SARAPAN DENGAN ASUPAN ENERGI DAN ZAT GIZI MAKRO PADA TARUNA
SEKOLAH TINGGI PENERBANGAN INDONESIA
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan karakteristik menu sarapan dengan asupan energi dan makronutrien pada taruna Perguruan Tinggi Penerbangan Indonesia di kawasan Curug Tangerang. Pada uji hubungan antara penampilan makanan dengan asupan energi dan asupan karbohidrat diperoleh nilai p = 1.000, untuk uji hubungan antara penampilan makanan dengan asupan protein diperoleh nilai p = 0,22, sedangkan nilai korelasinya uji antara tampilan makanan dan asupan lemak memiliki nilai p = 0,55. Pada hasil pengujian hubungan antara tampilan makanan dengan asupan energi, karbohidrat dan protein subjek cenderung memiliki asupan yang baik, pada pengujian hubungan antara tampilan makanan dengan asupan energi, 73,3% subjek yang menyatakan bahwa tampilan makanan baik. tidak menarik memiliki asupan energi yang baik dan 75,9% subjek yang mengatakan penampilannya menarik memiliki asupan yang baik, hal yang sama juga terjadi.
Pada uji korelasi antara tampilan makanan dengan asupan protein, 26,7% subjek yang mengatakan penampilannya tidak menarik memiliki asupan protein yang kurang, sedangkan dari mereka yang mengatakan penampilannya menarik, 12,1% subjek memiliki asupan protein yang kurang. Subjek yang mengatakan makanannya enak, 27,3% memiliki asupan energi yang kurang, 7,3% subjek yang memiliki asupan karbohidrat kurang, 14,5%. Hasil uji eksak Fisher menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara rasa makanan dengan asupan energi dan asupan makronutrien (karbohidrat, protein dan lemak) dengan p-value > 0,05.
Hasil uji hubungan variasi makanan dengan asupan energi dan makronutrien yang terdiri dari karbohidrat, protein dan lemak ditunjukkan pada Tabel 4. Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara variasi makanan dengan asupan energi, karbohidrat, protein dan lemak berdasarkan p-value > 0,05 . Berbeda dengan uji hubungan antara variasi makanan dan asupan lemak, subjek yang mengindikasikan variasi makanan sesuai (64,6%) mengalami asupan lemak yang lebih sedikit dibandingkan dengan subjek yang mengindikasikan variasi makanan tidak sesuai (64%).
Berdasarkan hasil survei rata-rata asupan protein sarapan taruna adalah 11,89 gram, dengan asupan protein terendah 8,91 gram dan asupan protein tertinggi 14,88 gram. Hasil pengujian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara karakteristik menu sarapan dengan asupan energi dan makronutrien pada taruna Akademi Angkatan Udara Curug-Tangerang. Saat ini dimungkinkan untuk melakukan penelitian tentang penerimaan makanan berdasarkan asupan gizi, karena penerimaan berhubungan langsung dengan penilaian asupan gizi.
Hubungan penerimaan makanan, asupan energi dan makronutrien dengan status gizi siswa kelas I LPKA Kutoarjo. Hubungan antara rasa makan siang yang disajikan dengan asupan energi protein pada prajurit muda Yonif 310/KK Cikembar Sukabumi Bandung Jawa Barat.
ASUPAN KARBOHIDRAT DAN PROTEIN BERHUBUNGAN DENGAN STATUS GIZI ANAK SEKOLAH DI SYAFANA ISLAMIC
SCHOOL PRIMARY, TANGERANG SELATAN TAHUN 2017
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Puspasari dan Andriani (2017), pengetahuan ibu berhubungan dengan status gizi anak. Berdasarkan hasil uji chi-square menunjukkan p-value 0,936, tidak terdapat hubungan yang bermakna antara konsumsi minuman berkalori dengan status gizi anak sekolah (p. Berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Yulni, et al. 2013) ada hubungan asupan energi dengan status gizi anak sekolah.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 32,1% subjek dengan status gizi tinggi memiliki konsumsi karbohidrat yang berlebihan. Berdasarkan hasil uji chi-square menunjukkan p-value 0,004, terdapat hubungan yang bermakna antara asupan karbohidrat dengan status gizi anak sekolah. 2013) juga menyatakan bahwa asupan karbohidrat Proporsi subjek dengan status gizi lebih dengan asupan protein lebih banyak (22,6%) dibandingkan subjek dengan status gizi lebih dengan asupan protein cukup (47,9%).
Berdasarkan hasil uji chi-square dengan nilai p 0,010, terdapat hubungan asupan protein dengan status gizi anak sekolah. Persentase subjek dengan status gizi tinggi dengan asupan lemak tinggi lebih rendah (40,9%) dibandingkan subjek dengan status gizi tinggi dengan asupan lemak cukup (45,0%). Berdasarkan hasil chi-square dengan p-value 0,601, tidak ada hubungan antara asupan lemak dengan status gizi anak sekolah.
Hal yang sama juga terjadi pada penelitian Mardatillah (2008) yang menyatakan hasil uji statistik p-value 0,461, sehingga tidak ada hubungan antara asupan lemak dengan status gizi lebih berat badan. Hasil pengujian pada penelitian ini dengan menggunakan uji chi-square menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara konsumsi fast food dengan status gizi anak sekolah. Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara konsumsi fast food dengan status gizi pada penelitian Emirza (2012), meskipun subjek dengan status gizi lebih yang sering mengkonsumsi fast food lebih tinggi (55,3%) dibandingkan subjek yang jarang mengkonsumsi fast food (51,7%).
Hasil uji chi-square menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara asupan energi dengan status gizi anak sekolah. Hasil uji chi-square menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara asupan energi dengan status gizi anak sekolah.