PERBEDAAN KUALITAS CITRA ANATOMIS CT SCAN THORAX PADA LUNG WINDOW DENGAN VARIASI
NILAI WINDOW LEVEL
Mini Proposal
Diajukan ke Program Studi DIII Radiologi sebagai Syarat Memperoleh Judul Penelitian Karya Tulis Ilmiah Diploma III Radiologi
DISUSUN OLEH:
M. RIFKY CARENO 2210070140005
PROGRAM STUDI DIII RADIOLOGI FAKULTAS VOKASI
UNIVERSITAS BAITURRAHMAH PADANG
2025
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Computed Tomografi (CT Scan) telah berkembang menjadi sebuah metode pencitraan medis yang sangat diperlukan dalam pemeriksaan radiodiagnostik sehari- hari. Perkembangan CT Scan dimulai pada awal tahun 1970-an dimana pada tahun 1972, Sir Godfrey Newbold Hounsfield dan Ambrose di london, inggris berhasil menghasilkan sebuah gambaran klinis pertama CT Scan kepala. Arah perkembangan teknologi CT Scan pada saat ini lebih di utamakan pada peningkatan kecepatan pencitraan dengan adanya multi detector, peningkatan resolusi gambar, dan pengurangan dosis radiasi yang diterima pasien (Muzzammil, 2015).
Salah satu pemeriksaan yang dapat dilakukan dengan menggunakan CT Scan adalah pemeriksaan pada bagian thorax. Di dalam thorax terdapat objek paru-paru yang terletak di setiap sisi mediastinum. Paru-paru berbentuk seperti kerucut dan ditutupi dengan pleura visceral dan melekat oleh akar di mediastinum. Setiap paru memiliki apek stumpul yang mengarah ke atas leher kira-kira 1 inci (2,5 cm) di atas clavicula, berbentuk cekung yang berada di atas diafragma, dan berbentuk cembung berada di permukaan kostae serta di permukaan mediastinum. Bagian tengah permukaan mediastinum adalah hilium, yaitu dimana bronkus, pembuluh darah, dan saraf masuk keparu dan membentuk akar, paru kanan sedikit lebih besar dari paru kiri, dan terbagi Ke lobus atas, tengah dan bawah. Paru kiri dibagi menjadi dua lobus, lobus atas dan lo
dan lobus bawah (Snell, 2004).
Dalam CT Scan thorax, gambar yang dihasilkan biasa dibuat dalam tiga jenis metode window, yaitu mediastinum window, lung window, dan bone window. Lung Window digunakan untuk memperlihatkan lebih jelas organ paru-paru. Penggunaan metode windowing ini dilakukan karena pada organ thorax terdapat organ-organ yang mempunyai kerapatan jaringan yang berbeda-beda, sehingga menghasilkan nilai CT number yang berlainan ( Rahmadani, 2012).
Bone window dapat digunakan pada CT Scan dalam berbagai fungsi seperti melihat penyakit osteomielitis dan tumor tulang (Coselloe, 2013). Mediastinum adalah ruang didalam rongga dada di antara kedua paru-paru. Mediastinum terbagi menjadi dua yaitu mediastinum superior dan inferior. Didalam mediastinum terdapat beberapa sistem di antaranya yaitu, sistem pernafasan dan peredaran darah. Pada sistem pernafasan berupa osefagus dan paru-paru sedangkan pada sistem peredaran darah terdapat jantung, pembuluh darah dan saluran limfe (Misri, 2016).
Window width didefinisikan sebagai kisaran nomor CT di ubah menjadi tingkat abu-abu dan ditampilkan pada gambar monitor. Hal ini di ungkapkan dalam HU (Hounsfield Unit). Window width dipilih oleh operator sesuai dengan klinis yang ada, agar dapat menegakkan informasi klinis yang baik (D. Karthikeyen, 2005). Dasar pemberian nilai ini adalah air dengan nilai 0 HU, tulang mempunyai nilai +1000 HU dan udara mempunyai nilai -1000 HU. Window Level adalah nilai tengah dari window yang digunakan untuk penampilan gambar. Nilainya dapat dipilih dan tergantung pada karakteristik perlemahan dari struktur obyek yang diperiksa. Window Level digunakan
untuk mengatur pusat dari CT number tentang gray scale yang ditampilkan di layar monitor. Dikatakan bahwa window Level digunakan untuk menampilkan lebih jelas jaringan/organ yang dimaksud, sedangkan window width digunakan untuk memperjelas gambar tiap organ (Tatan, 2014).
Menurut (Seeram, 2009), pemeriksaan CT Scan Thorax dengan Lung Window menggunakan nilai window level mulai dari -600 sampai dengan -1450 dan untuk window width menggunakan niali 1700 sampai degan 2000. Sementara menurut (Webb, Md, 2015), pemeriksaan CT Scan thorax dengan lung window menggunakan nilai window level mulai dari -300 sampai dengan -900 dan untuk window width menggunakan nilai 500 sampai dengan 1500.
Berdasarkan latar belakang tersebut, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian lebih lanjut pada pemeriksaan CT Scan thorax lung window dengan menggunakan variasi nilai window level mulai dari -300 sampai dengan -1200 kedalam suatu penelitian dengan judul: “PERBEDAAN KUALITAS CITRA ANATOMIS CT SCAN THORAX PADA LUNG WINDOW DENGAN VARIASI WINDOW LEVEL”.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Rumusan Masalah Umum
Apakah ada perbedaan kualitas citra anatomis pada variasi nilai window level CT Scan thorax pada lung window?
1.2.2 Rumusan Masalah Khusus
Berapakah nilai window level yang paling baik dalam memberikan kualitas citra anatomis CT Scan Thorax pada lung window?
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum:
Untuk mengetahui perbedaan kualitas citra anatomis pada CT thorax lung window dengan perbedaan nilai window level.
1.3.2 Tujuan Khusus:
Untuk mengetahui pada nilai window level berapa yang paling baik dalam menampilkan kualitas citra anatomis pada CT Scan thorax.
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Aspek Teoritis
Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan juga sebagai bahan referensi bagi mahasiswa Baiturrahmah DIII Radiologi Universitas Baiturrahmah Padang, terutama dalam penetapan nilai window level yang digunakan untuk pemeriksaan CT Scan Thorax pada lung window.
1.4.2 Aspek Praktis
Manfaat praktis penulisan karya tulis ilmiah bagi rumah sakit yaitu dapat memberikan masukan yang berguna dalam meningkatkan pelayanan prima di bidang diagnostik serta memperoleh informasi dan pengetahuan tentang penetapan nilai window level yang digunakan untuk pemeriksaan CT Scan thorax pada lung window.