Mitologi Batak dengan kajian sejarah leluhur Batak ia teman mitologi Batak mengisahkan bahwa kelahiran pasangan manusia pertama atau ihat manisia dan Intan manusia adalah di sianjur mulamula kaki Pusuk Buhit pantai indah Danau Toba ya
Ihat manusia dan Intan manusia adalah cicit debata mulajadi nabolon dan cucu debata Batara Guru dari Putra dan putrinya Siraja odap-odap dan Siboru deak parujar. Sang Dewi pencipta bumi suruhan debata mulajadi nabolon
Sementara dari sudut pandang kajian sejarah atau teori Pusuk Buhit, keyakinan bahwa suku bangsa batak berasal dan bermigrasi atau estafet nomaden, Mulai sejak tahun 4500 sebelum masehi. Dari Mongolia ke Formosa ke Yunan. Dimana Medan bin Abraham berasimilasi atau menikahi putih ras Malayan mongoloid sebagai leluhur Batak.
Menyusuri perbatasan Burma-Siam menyebrangi Kepulauan Andaman dan Nikobar, hingga ke Lobu Tua, Barus dan menetap di Pusuk Buhit tanah Batak tahun 1250 sebelum masehi. Kemudian tahun 802, suku bangsa batak sudah semakin berkembang sehingga memantapkan pengaturan kemasyarakatan untuk menjaga keseimbangan kehidupan yang berkaitan dengan kepercayaannya kepada Debata Mulajadi Nabolon. Sebagai pencipta semesta alam, yang dikenal dalam kosmologi atau kosmogoni, Batak sebagai makrokosmos dalam tiga atmosfer mikrokosmos dan turunannya, yakni Banua ginjang, Banua Tonga, dan Banua toru
Yang dikuasai 3 Debata Batak, yakni Batara Guru menguasai banua ginjang, soripada menguasai Banua Tonga, dan Mangala Bulan menguasai Banua Toru. Mitologi Batak ini untuk tujuan yang mulia, yaitu mewariskan nilai-nilai kearifan sebagai jati diri, dan strategi kehidupan suku bangsa Batak dalam segala aspek. Guna menangkap dan menjamin keutuhan, keteraturan dan kesinambungan. Sistem kekerabatan suku bangsa Batak dari satu generasi ke generasi berikutnya melintasi tantangan segala zaman, dahulu kini dan masa depan.
Guna menciptakan keteraturan dan keseimbangan hidup masyarakat tersebut, mitologi Batak pun melahirkan Silsila. Sebagai komponen utama sistem kekerabatan sebagai
representasi dari Debata dan ketiga atmosfer mikrokosmos tersebut
Dalihan natolu merupakan representasi ketiga Debata. Representasi dari Hula-hula ialah Batara Guru atau Banua ginjang, representasi dari Marboru ialah Soripada atau Banua Tonga, representasi dari Dongan sabutuha atau marakkang dan maranggi ialah Mangala Bulan atau Banua toru. Tataran ini mulai diterapkan pada generasi ketujuh silsilah mitologi Batak, yakni Guru Tatea Bulan dan Raja Isumbaon sebagai nama eponim baik pribadi maupun kelompok.
Dimana guru tatea bulan diposisikan sebagai hula-hula (pemberi Putri atau asal istri atau parboru) disimbolkan sebagai Bulan dan raja isumbaon sebagai Boru (pengambil Putri atau parhanak) disimbolkan sebagai matahari. Dan masing-masing bersaudara atau parboru, dan paranak sebagai Dongan sabutuha atau kahanggi seina, serta para tetangga, sahabat dan raja-raja sebagai sihal sihal atau batu pangela dalam tuntunan natiga yang mempunyai peranan penting dan strategis di keluarga masing-masing Parboru dan Paranak.
Silsilah mitologi Batak tersebut sebagai berikut:
Debata Mulajadi Nabolon
Debata Batara Guru / Siboru Pareme
Debata Soripada / Siboru
Parorot Debata Mangala Bulan /
Siboru Panuturi
Debata Siraja Odap-odap / Siboru Deak Parujar
Ihat Manisia Itam Manisia
Si Raja Miok-miok / Boru Mansyur Purnama
Si Patundal Nabegu Si Aji Lampas-lampas
Si Patundal Nabegu
Eng Domia (Raja Bonang-bonang)
Raja Ujung (Leluhur Aceh) Raja Jau (Leluhur Nias)
Raja Tantan Debata
Si Raja Batak Si Raja Batak / Putri Siam
Guru Tatea Bulan / Sibaso Burning
Raja Isumbaon
Putrinya
Debata Mulajadi Nabolon mempunyai 3 Putra yang pertama Debata Batara Guru menikah dengan Siboru Pareme, yang kedua Debata Soripada menikah dengan Siboru Parorot yang ketiga Mangala Bulan menikah dengan Siboru Panuturi. Debata Batara Guru memperanakkan Debata Siraja Odap-odap dan Siboru Deak Parujar. Keduanya menikah dan menjadi pasangan suami istri yang melahirkan pasangan ihat manisia dan Itam manusia sebagai pasangan manusia pertama.
Ihat manisia dan Intan manusia mempunyai tiga orang Putra yakni Si Raja Miok- miok, Si Patundal Nabegu (merantau ke utara), Si Aji Lampas-lampas (merantau ke timur). Si Raja Miok-miok menikah dengan Boru Mansyur Purnama mempunyai satu Putra Yakni Eng Banua. Anak Engbanua ada 3 orang yaitu : Raja Ujung, Eng Domia (Raja Bonang-bonang) dan Raja Jau. Konon, Raja Ujung adalah leluhur orang Aceh, Raja Jau adalah leluhur orang Nias, sedangkan Eng Domia adalah leluhur orang Batak, artinya menurut legenda ini maka orang Aceh adalah saudara tua (abang ) orang Batak dan orang Nias adalah adik orang Batak, tetapi ada juga pendapat bahwa leluhur orang Nias adalah Raja Isumbaon (anaknya si Raja Batak ). Raja Bonangbonang mempunyai seorang anak yang dinamai Raja Tantan Debata.
Dari perkawinan Raja Tantan Debata lahirlah si Raja Batak.
Si Raja Batak kawin dengan putri dari Siam, sebagian mengatakan kawin dengan manusia jadi-jadian, tetapi kalau kita berpijak pada sejarah ada benarnya bahwa istri si Raja Batak berasal dari Siam (Benua Asia Kecil). Anak si Raja Batak ada 2 orang, yaitu Guru Tatea Bulan dan Raja Isumbaon. Guru Tatea Bulan sering juga disebut
dengan Ilontungan alias si Mangarata, alias Toga Datu.
Guru Tatea Bulan kawin dengan Sibaso Burning, yang menurut versi
keturunan Borbor Marsada adalah anak gadis manusia primitif yang sudah ada di daerah Sumatera, tetapi sebagian versi mengatakan bahwa Sibaso Burning adalah putri jadi-jadian (boru ni homang)
Menurut cerita, Tuan Saribu Raja dan Si Boru Pareme lahir kembar dampit (marporhas). Raja Isumbaon adalah manusia misterius, tidak ada yang tau cerita dan keberadaannya, tetapi kemudian disebutkan dari perkawinannya lahir 3 orang anaknya yaitu : Tuan Sorimangaraja, Raja Asi-asi dan Sangkar Somalidang.
Raja Biakbiak (Raja Miokmiok), Tuan Saribu Raja (Ompu Tuan Rajadoli), Limbong Mulana, Sagala Raja dan SiLau Raja , sedangkan putrinya adalah : Si Boru Biding
Laut (diyakini Nyi Roro Kidul) , Si Boru Pareme, Siboru Anting Haomasan dan Siboru Sinta/Sanggul Haomasan , sedangkan seorang lagi yaitu Nantinjo konon adalah Waria (Banci ) pertama dalam Legenda dan Sejarah Batak.
Dari perkawinan antara Tuan Saribu Raja dengan Si Boru Pareme, lahirlah serang anak laki-laki yang kemudian diberi nama Si Raja Lontung . Si Raja Lontung lahir di tengah hutan rimba yang belum pernah didatangi manusia, karena Si Boru Pareme dibuang oleh saudaranya karena malu dengan perbutannya.
Tuan Saribu Raja adalah orang yang tidak betah berdiam diri di suatu tempat, dia selalu berkelana dari satu daerah ke daerah lain, dan di daerah baru itu beberapa kali dia kawin lagi.
Adalah Nai Mangiring Laut , salah satu istrinya, dikatakan adalah manusia
peliharaan lelembu (homang), dari perkawinannya dengan Nai Mangiring Laut lahirlah Si Raja Borbor. Setelah anaknya lahir Tuan Saribu Raja membawa mereka ke suatu tempat di luar Sianjur Mula-Mula, tempat itu sekarang dikenal dengan Parik Sabungan.
Sampai saat ini masih ada kontroversi diantara keturunan Tuan Saribu Raja, siapa yang lebih dahulu lahir antara Si Raja Lontung dan Si Raja Borbor. Kalau dalam sejarah dan Tarombo Borbor Marsada, yang lebih duluan lahir adalah Si Raja Borbor yang otomatis menjadi siabangan (sihahaan), konon menurut cerita sewaktu Nai Mangiring
Laut mengandung, Si Boru Pareme datang menggoda saudaranya Tuan Saribu Raja dan terjadilah hubungan terlarang.
Di lain tempat (di daerah Barus sekarang), Tuan Saribu Raja juga mempunyai isteri yang tidak jelas diketahui asal-usulnya, sebagian mengatakan putri Tamil, sebagian lagi mengatakan keturunan harimau, dari perkawinannya lahir anaknya laki-laki yang dinamai Raja Galeman atau digelari juga dengan Sibabiat.
Dari cerita di atas jelaslah bahwa keturunan Tuan Saribu Raja ada 3 orang yaitu : Lontung, Borbor dan Sibabiat. Dari ketiga orang tersebut, dikemudian hari
berkembang marga-marga yang sekarang kita kenal dengan kumpulan marga : Naimarata, Borbor Marsada dan Lontung Marsada. (© Sejarah Batak Lengkap dengan Silsilah Marga Batak dari awal silsilah Si Raja Batak asal-usul Orang Batak - SibatakJalanJalan.com : Situs perjalanan wisata dan informasi budaya Batak Source: https://www.sibatakjalanjalan.com/2020/04/sejarah-dan-legenda-pomparan-si-raja-batak- lengkap.html).
Dari keturunan Si Raja Lontung inilah akan menurunkan marga-marga yang dikenal sebagai “Lontung Si Sia Sada Ina” dengan Lontung yang menikahi ibunya sendiri yaitu Siboru Pareme. Keturunan Si Raja Lontung salah satunya ialah marga Aritonang yang dimana merupakan Marga dari Penulis