• Tidak ada hasil yang ditemukan

MODUL 4 DASAR -DASAR TEKNIK PENGELASAN DAN FABRIKASI LOGAM

N/A
N/A
dede

Academic year: 2023

Membagikan "MODUL 4 DASAR -DASAR TEKNIK PENGELASAN DAN FABRIKASI LOGAM"

Copied!
52
0
0

Teks penuh

(1)

MODUL 4

K3LH PADA PENGELASAN DAN FABRIKASI LOGAM

i

(2)

MODUL 4

K3LH PADA PENGELASAN DAN FABRIKASI LOGAM

ii

Judul Modul 4

K3LH PADA PENGELASAN DAN FABRIKASI LOGAM Peruntukan Modul Kelas X SMK

Program Keahlian Teknik Pengelasan dan Fabrikasi Logam

Penulis Ruben Bayu Kristiawan

Pengarah Materi Ir. Sunoto Mudiantoro, M.T.

Jumlah Jam 24 JP (1x pertemuan @6JP)

CAPAIAN PEMBELAJARAN

Peserta didik mampu menerapkan K3LH dan budaya kerja industri, antara lain: praktik-praktik kerja yang aman, bahaya-bahaya di tempat kerja, prosedur-prosedur dalam keadaan darurat, dan penerapan budaya kerja industri (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin).

TUJUAN PEMBELAJARAN

Memahami Kesehatan dan Keselamatan Kerja Serta Lingkungan Hidup (K3LH) Dan Budaya Kerja Industri.

KATA KUNCI

Kesehatan dan Keselamatan Kerja; K3; Budaya Kerja Industri

PROFIL PELAJAR PANCASILA Mandiri:

Modul ajar ini menekan pada kemandirian dalam belajar, sehingga pesertadidik memiliki prakarsa atas pengembangan dirinya yang tercermin dalam kemampuan untuk bertanggung jawab, memiliki rencana strategis, melakukan tindakan dan merefleksikan proses dan hasil pengalamannya.

Bernalar Kritis:

Modul ajar ini mengarahkan peserta didik untuk berpikir secara objektif, sistematik dan saintifik dengan mempertimbangkan berbagai aspek berdasarkan data dan fakta yang mendukung,sehingga dapat membuat keputusan yang tepat dan berkontribusi memecahkan masalah dalam kehidupan, serta terbuka dengan penemuan baru.

Kreatif :

Modul ini mengarahkan peserta didik untuk mampu memodifikasi dan

menghasilkan sesuatu yang orisinal, bermakna, bermanfaat dan berdampak bagi lingkungan sekitar. Memiliki keluwesan berpikir dalam mencari alternatif solusi permasalahan

KODE MODUL : M.2.3_Ruben2_A.2.3_Ruben1

(3)

MODUL 4

K3LH PADA PENGELASAN DAN FABRIKASI LOGAM

iii

SARANA DAN PRASARANA Sarana Pembelajaran :

1. Digital, berupa video pembelajaran dari internet, buku digital (e-book), PDF dan lainnya.

2. Non Digital, berupa buku ajar dasar Teknik Fabrikasi Logan, majalah, buku ajar yang relevan, surat kabar dan lainnya.

Prasarana pembelajaran

1. Perangkat keras, berupa PC, laptop, ponsel, tablet dan headset

2. Perangkat lunak, berupa aplikasi tatap muka daring misalnya Zoom, Google Meet, Cicso Webex dll.

TARGET PESERTA DIDIK

Siswa kelas X pada Program Keahlian Teknik Pengelasan dan Fabrikasi Logam

REFERENSI

Kesehatan Keselamatan Kerja dan Lingkungan Hidup Jilid 1 Untuk SMK, Kemendikbud – Dit.PSMK.

ACCES LINK : https://bit.ly/REfModul-K3LH

(4)

MODUL 4

K3LH PADA PENGELASAN DAN FABRIKASI LOGAM

iv DAFTAR ISI

CAPAIAN PEMBELAJARAN ... ii

DAFTAR ISI ... iv

DAFTAR GAMBAR ... vi

PERTEMUAN 1 ... 1

Tujuan Pembelajaran ... 2

Pemahaman Bermakna ... 2

Pertanyaan Pemantik ... 2

Persiapan Pembelajaran ... 2

Kegiatan Pembelajaran ... 2

Asesmen ... 4

Pengayaan dan Remidial ... 4

Refleksi Peserta Didik & Guru ... 4

Daftar Pustaka ... 5

LAMPIRAN ... 6

Bahan Bacaan ... 6

Assesmen Tertulis ... 7

Laporan Pengamatan ... 10

Lembar Kerja Hasil Pengamatan Siswa ... 10

Rubrik Penilaian ... 11

PERTEMUAN 2 ... 12

Tujuan Pembelajaran ... 13

Pemahaman Bermakna ... 13

Pertanyaan Pemantik ... 13

Persiapan Pembelajaran ... 13

Kegiatan Pembelajaran ... 13

Asesmen ... 15

Pengayaan dan Remidial ... 15

Refleksi Peserta Didik & Guru ... 15

Daftar Pustaka ... 16

LAMPIRAN ... 17

Bahan Bacaan ... 17

Assesmen Tertulis ... 19

Laporan Pengamatan ... 21

Lembar Kerja Hasil Pengamatan Siswa ... 21

Rubrik Penilaian ... 22

PERTEMUAN 3 ... 23

Tujuan Pembelajaran ... 24

(5)

MODUL 4

K3LH PADA PENGELASAN DAN FABRIKASI LOGAM

v

Pemahaman Bermakna ... 24

Pertanyaan Pemantik ... 24

Persiapan Pembelajaran ... 24

Kegiatan Pembelajaran ... 24

Asesmen ... 26

Pengayaan dan Remidial ... 26

Refleksi Peserta Didik & Guru ... 26

Daftar Pustaka ... 27

LAMPIRAN ... 28

Bahan Bacaan ... 28

Assesmen Tertulis ... 34

Rubrik Penilaian ... 36

PERTEMUAN 4 ... 37

Tujuan Pembelajaran ... 38

Pemahaman Bermakna ... 38

Pertanyaan Pemantik ... 38

Persiapan Pembelajaran ... 38

Kegiatan Pembelajaran ... 38

Asesmen ... 40

Pengayaan dan Remidial ... 40

Refleksi Peserta Didik & Guru ... 40

Daftar Pustaka ... 41

LAMPIRAN ... 42

Bahan Bacaan ... 42

Assesmen Tertulis ... 43

Laporan Pengamatan ... 45

Lembar Kerja Hasil Pengamatan Siswa ... 45

Rubrik Penilaian ... 46

(6)

MODUL 4

K3LH PADA PENGELASAN DAN FABRIKASI LOGAM

vi

DAFTAR GAMBAR

(7)

MODUL 4

K3LH PADA PENGELASAN DAN FABRIKASI LOGAM

1

PERTEMUAN 1

MODUL 3

DASAR-DASAR TEKNIK PENGELASAN DAN FABRIKASI LOGAM

Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3LH)

(8)

MODUL 4

K3LH PADA PENGELASAN DAN FABRIKASI LOGAM

2

Tujuan Pembelajaran 1. Tujuan Pembelajaran 1 :

Melaksanakan Praktek praktek kerja yang aman.

Pemahaman Bermakna Manusia mendapatkan informasi lebih banyak jika mereka menemukan pengetahuan sendiri melalui eksperimen

Pertanyaan Pemantik • Apakah kamu suka lingkungan yang bersih?

• Apa yang kamu rasakan saat mengunjungi bengkel mesin?

• Apa harapanmu saat kamu mempelajari tentang Kesehatan keselamatan kerja dan Lingkungan Hidup yang berhubungan dengan praktek kerja yang aman ?

Persiapan Pembelajaran - Guru melakukan asesmen diagnostic (Non Kognitif dan Kognitif)

- Guru menyusun Langkah-langkah pembelajaran Kegiatan Pembelajaran

Pendahuluan :

1. Peserta didik dan Guru memulai dengan berdoa bersama.

2. Peserta didik disapa dan melakukan pemeriksaan kehadiran bersama dengan guru.

3. Peserta didik bersama dengan guru membahas tentang kesepakatan yang akan diterapkan dalam pembelajaran daring dan luring.

4. Peserta didik diberikan penjelasan bahwa selama tiga kali pertemuan ke depan akan mengikuti pembelajaran secara daring dan/atau luring, dan materi hari ini adalah kemampuan yang mendasari seluruh jenis kegiatan pembelajaran di Teknik Fabrikasi Logam dan Manufaktur.

Dengan demikian wajib dikuasai peserta didik dan diminta untuk fokus dan menyiapkan catatan apabila dibutuhkan.

5. Peserta didik dan guru berdiskusi melalui pertanyaan pemantik:

a. Apakah kamu suka lingkungan yang bersih?

b. Apa yang kamu rasakan saat mengunjungi bengkel mesin?

c. Apa harapanmu saat kamu mempelajari tentang Kesehatan keselamatan kerja dan Lingkungan Hidup yang berhubungan dengan praktek kerja yang aman?

Kegiatan Inti

1. Peserta didik mendapatkan pemaparan secara umum tentang pengetahuan praktek kerja yang aman.

2. Dengan metode tanya jawab guru memberikan pertanyaan mengenai:

a. Definisi K3LH

b. Definisi praktek kerja yang aman

c. Contoh-contoh praktek kerja yang aman dalam kehidupan sehari-hari.

(9)

MODUL 4

K3LH PADA PENGELASAN DAN FABRIKASI LOGAM

3

3. Peserta didik diberikan kesempatan untuk melakukan studi pustaka (browsing dan/atau mengunjungi perpustakaan) guna mengeksplorasi:

a. Peranan K3LH praktek kerja yang aman

b. Ruang lingkup dan persyaratan K3LH praktek kerja yanga aman

c. Kasus-kasus akibat tidak memperhatikan K3LH praktek kerja yang aman 4. Peserta didik diminta melaporkan hasil studinya dan kemudian bersama-sama dengan

dibimbing oleh guru mendiskusikan hasil laporannya di depan kelas

5. Peserta didik diminta mengamati K3LH praktek kerja yang aman (format pengamatan terlampir)

6. Peserta didik diminta untuk mengerjakan soal latihan Penutup.

1. Peserta didik dapat melakukan/memberikan penilaian baik dalam bentuk narasi/gambar/emotikon tertentu untuk menunjukkan tentang pemahaman tentang topik pada hari ini.

2. Peserta didik dapat menuliskan pertanyaan yang ingin diketahui lebih lanjut dalam kolom komentar.

3. Peserta didik mengomunikasikan kendala yang dihadapi selama mengerjakan.

4. Peserta didik menerima apresiasi dan motivasi dari guru.

(10)

MODUL 4

K3LH PADA PENGELASAN DAN FABRIKASI LOGAM

4

Asesmen Asesmen Diagnostik

- Asesmen diagnostik kognitif - Asesmen diagnostik non-kognitif Asesmen Formatif

- Penilaian performa eksperimen Asesmen Sumatif

- Tes Tertulis

Pengayaan dan Remidial - Pengayaan diberikan kepada peserta didik yang memiliki nilai diatas rata-rata untuk mendapatkan tambahan materi dan pengetahuan.

- Remidial diberikan kepada peserta didik yang memiliki nilai dibawah rata-rata untuk mendapatkan ulang penjelasan terkait materi yang dibahas.

Refleksi Peserta Didik & Guru • Apakah ada kendala pada kegiatan pembelajaran ?

• Apakah semua peserta didik aktif dalam kegiatan pembelajaran?

• Apa saja kesulitan peserta didik yang dapat diidentifikasi pada kegiatan pembelajaran?

• Apakah peserta didik yang memiliki kesulitan ketika berkegiatan dapat teratasi dengan baik?

• Apa level pencapaian rata-rata peserta didik dalam kegiatan pembelajaran ini?

• Apakah seluruh peserta didik dapat dianggap tuntas dalam pelaksanaan pembelajaran?

• Apa strategi agar seluruh siswa dapat menuntaskan kompetensi?

(11)

MODUL 4

K3LH PADA PENGELASAN DAN FABRIKASI LOGAM

5 DAFTAR PUSTAKA

1. Direktorat Jenderal Pertambangan Umum. Pusat pengembangan Teknologi Mineral, Kumpulan Diktat Kursus Keselamatan Kerja", Bandung, 1977.

2. Heinrich, W.W,"Industrial Accident Prevention a Safety Management Approach", fifth edition, McGraw Hill Book Company, New York, 1980

3. Lynch, Warwicjk, Wilson, "Safety Training Observation Program

4. Sumakmur, P. K. M.Sc, "Keselamatan Kerja dan Pencegahan Kecelakaan", PT.Gunung Agung, Jakarta, 1981

5. Dinas Pertambangan Tingkat Jawa Tengah,"Pedoman Keselamatan Kerja Pertambangan Bahan galian Golongan C", Semarang 1995

(12)

MODUL 4

K3LH PADA PENGELASAN DAN FABRIKASI LOGAM

6 LAMPIRAN Bahan Bacaan :

KONSEP DASAR KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA

Berdasarkan Peraturan Menteri Tenaga Kerja No. Per.05/MEN/1996 tentang Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (Sistem Manajemen K3) merupakan bagian dari sistem manajemen secara keseluruhan yang meliputi struktur organisasi, perencanaan, tanggung jawab, pelaksanaan, prosedur, proses dan sumber daya yang dibutuhkan bagi pengembangan, penerapan, pencapaian, pengkajian dan pemeliharaan kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja dalam rangka pengendalian resiko yang berkaitan dengan kegiatan kerja guna terciptanya tempat kerja yang aman, efisien dan produktif. Tujuan dan sasaran Sistem Manajemen K3 adalah untuk menciptakan suatu sistem keselamatan dan kesehatan di tempat kerja dengan melibatkan unsure manajemen, tenaga kerja, kondisi dan lingkungan kerja yang terintegrasi dalam rangka mencegah dan mengurangi kecelakaan dan penyakit akibat kerja serta terciptanya tempat kerja yang aman, efisien dan produktif.

Sistem Manajemen K3 wajib diterapkan oleh setiap perusahaan yang mempekerjakan tenaga kerja sebanyak 100 orang atau lebih; perusahaan yang mempunyai potensi bahaya yang ditimbulkan oleh karakteristik proses atau bahan yang dapat mengakibatkan kecelakaan kerja seperti peledakan, kebakaran, pencemaran dan penyakit akibat kerja. Berdasarkan Pasal 4 Permenaker tentang Sistem Manajemen K3, terdapat 5 (lima) ketentuan yang harus perusahaan/pengusaha laksanakan, yaitu:

a. menetapkan kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja dan menjamin komitmen terhadap penerapan Sistem Manajemen K3;

b. merencanakan pemenuhan kebijakan, tujuan dan sasaran penerapan keselamatan dan kesehatan kerja;

c. menerapkan kebijakan keselamatan dan kesehatan kerja secara efektif dengan mengembangkan kemampuan dan mekanisme pendukung yang diperlukan untuk mencapai kebijakan, tujuan dan sasaran keselamatan dan kesehatan kerja;

d. mengukur, memantau dan mengevaluasi kinerja keselamatan dan kesehatan kerja serta melakukan tindakan perbaikan dan pencegahan;

e. meninjau secara teratur dan meningkatkan pelaksanaan Sistem Manajemen K3 secara berkesinambungan dengan tujuan meningkatkan kinerja keselamatan dan kesehatan kerja.

(13)

MODUL 4

K3LH PADA PENGELASAN DAN FABRIKASI LOGAM

7 ASSESMEN TERTULIS

Soal Pilihan Ganda.

1. Suatu usaha/industri menerapkan Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3) karena beberapa pertimbangan berikut, kecuali:

a. untuk menjaga reputasi perusahaan b. karena dipaksa oleh Undang-Undang c. karena kelebihan keuntungan usaha

d. membiarkan terjadinya kecelakaan kerja merupakan suatu tindakan yang tidak manusiawi.

2. Berikut ini hal yang tidak termasuk dalam sasaran diterapkannya K3 di suatu usaha/industri/laboratorium:

a. Menjamin keselamatan operator dan orang lain, b. Menjamin penggunaan peralatan aman dioperasikan c. Menjamin proses produksi aman dan lancar, d. Menjamin terlaksananya perintah UU K3 3. Pola hidup sehat adalah ……

a. perilaku positif dalam kebiasaan hidup sehari-hari yang berpengaruh baik terhadap kesehatan individu

b. penampilan (performance) setiap individu dalam melakukan aktivitas sehari hari c. ilmu yang mempelajari cara-cara yang berguna bagi kesehatan

d. sehat jasmani dan rohani

4. Pengertian sehat menurut WHO (1950) adalah ……

a. usaha untuk memelihara dan mempertinggi derajat kesehatan

b. sehat jasmani dan rohani sehingga tubuh sehat dan ideal dari segi kesehatan meliputi aspek fisik, mental dan sosial serta tidak hanya bebas dari penyakit

c. suatu upaya untuk memelihara kebersihan tubuh

d. usaha untuk memelihara, menjaga dan mempertinggi derajat kesehatan individu mulai dari ujung rambut sampai ujung kaki

5. Perilaku yang disengaja untuk membudayakan hidup bersih untuk mencegah manusia bersentuhan langsung dengan kotoran dan bahan buangan berbahaya lainnya, dengan harapan dapat menjaga dan meningkatkan kesehatan manusia disebut ……

a. Hazard b. Hygiene c. Safety d. Sanitasi

(14)

MODUL 4

K3LH PADA PENGELASAN DAN FABRIKASI LOGAM

8

6. Kain perca yang merupakan limbah usaha garmen termasuk dalam kategori sampah ……

a. Anorganik b. Berbahaya c. Organik d. Kering

7. Berikut ini adalah kewajiban pengusaha/pengurus terkait dengan K3 berdasar UU K3, kecuali ……

a. Memeriksa kesehatan badan, kondisi mental, dan kemampuan fisik dari tenaga kerja b. Memakai alat-alat perlindungan diri yang diwajibkan

c. Menyelenggarakan pembinaan bagi semua tenaga kerja yang berada dibawah pimpinannya, dalam pencegahan kecelakaan

d. Melaporkan tiap kecelakaan yang terjadi dalam tempat kerja 8. Berikut ini adalah manfaat dari alat pelindung kepala kecuali ...

a. Melindungi rambut pekerja supaya tidak terjerat mesin yang berputar b. Melindungi kepala dari panas radiasi, api, percikan bahan kimia c. Melindungi kepala dari benturan dan tertimpa benda

d. Melindungi dari temperatur yang ekstrim baik terlalu panas/ dingin

9. Berikut ini adalah kategori limbah Bahan Beracun dan Berbahaya (B3) berdasarkan sumbernya, kecuali ……

a. limbah B3 dari sumber spesifik

b. limbah B3 dari bahan kimia kadaluarsa c. limbah B3 yang mudah meledak d. limbah B3 dari sumber tidak spesifik

10. Salah satu contoh metode pengolahan limbah B3 berdasar proses kimia adalah ……

a. Pembersihan gas b. Pengendapan

c. Kristalisasi d. Pembakaran

(15)

MODUL 4

K3LH PADA PENGELASAN DAN FABRIKASI LOGAM

9 SOAL ESSAY

1. Jelaskan yang dimaksud pola hidup sehat !

2. Jelaskan hakekat/pengertian Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) ! 3. Jelaskan dengan singkat tujuan K3 !

4. Jelaskan sebab-sebab terjadinya kecelakaan dalam bekerja ! 5. Mengapa seorang pekerja perlu mengerti tentang K3 ?

Jawaban

1. Perilaku positif dalam kebiasaan hidup sehari-hari yang berpengaruh baik terhadap kesehatan individu 2. Pengertian K3 adalah suatu ilmu pengetahuan dan penerapan guna mencegah kemungkinan terjadinya

kecelakaan dan penyakit yang disebabkan oleh pekerjaan dan lingkungan kerja.

3. Tujuan dari K3 adalah :

a. Menjamin keselamatan operator dan orang lain b. Menjamin penggunaan peralatan aman dioperasikan c. Menjamin proses produksi aman dan lancar

4. Suma’mur (1987:3) mengatakan bahwa 85% dari sebab-sebab kecelakaan adalah faktor manusia. Lebih lanjut Suma’mur mengatakan bahwa kecelakaan akibat kerja dapat menyebabkan 5 jenis kerugian (K) yakni: (1) kerusakan, (2) kekacauan organisasi, (3) keluhan dan kesedihan, (4) kelainan dan cacat, dan (5) kematian.

5. Supaya dapat terhindar dari hal-hal yang merugikan dalam bekerja, dapat menjaga dan memelihara kesehatan maupun produktifitas kerja dengan baik.

(16)

MODUL 4

K3LH PADA PENGELASAN DAN FABRIKASI LOGAM

10 LAPORAN PENGAMATAN

Lembar pengamatan (diisi oleh peserta didik)

● Silakan kalian melakukan observasi atau kunjungan ke industri atau usaha bisnis di daerah sekitar kalian.

● Bentuklah kelompok yang terdiri dari 3-4 orang.

● Silakan amati lembar pengamatan berikut ini,

● Carilah informasi dari berbagai sumber belajar mulai dari internet, buku,

hingga pemilik bisnis bidang teknik fabrikasi logam yang dapat dijadikan sebagai penunjang pengamatan kalian.

● Kolaborasikan pencarian informasi ini bersama kelompok kalian

● Diskusikan dalam kelompok yang sudah terbentuk mengenai

“ K3 yang dijalankan di industry dan usaha bidang teknik fabrikasi logam ’’

● Tuliskan sebanyak-banyaknya mengenai ragam bisnis industri pengelasan dan fabrikasi logam yang ada.

● Presentasikan hasil pengamatan kalian dalam bentuk tabel berikut ini atau dalam bentuk presentasi lain yang lebih menarik dan kreatif.

● Mintalah bantuan guru kalian jika terjadi kesulitan.

LEMBAR KERJA HASIL PENGAMATAN SISWA

NO NAMA INDUSTRI / USAHA SUMBER INFORMASI K3 yang dijalankan KETERANGAN

Catatan :

• Kolom K3 yang dijalankan di isi sesuai kondisi sebenarnya.

• Kolom Keterangan diisi mengenai kesesuaian kondisi di industry dengan standard K# yang ada.

(17)

MODUL 4

K3LH PADA PENGELASAN DAN FABRIKASI LOGAM

11 Rubrik Penilaian

No. Nama/

Kelompok

Aspek yang dinilai Skor

Kesesuaian alat pada bahan

Ketrampilan menggunakan alat

Ketepatan

waktu Ketepatan hasil

Perolehan

1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4

(18)

MODUL 4

K3LH PADA PENGELASAN DAN FABRIKASI LOGAM

12

PERTEMUAN 2

MODUL 4

DASAR-DASAR TEKNIK PENGELASAN DAN FABRIKASI LOGAM

Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3LH)

(19)

MODUL 4

K3LH PADA PENGELASAN DAN FABRIKASI LOGAM

13

Tujuan Pembelajaran Tujuan Pembelajaran 2 :

Menghindari bahaya bahaya dalam lingkungan kerja bidang teknik pengelasan.

Pemahaman Bermakna Manusia mendapatkan informasi lebih banyak jika mereka menemukan pengetahuan sendiri melalui eksperimen

Pertanyaan Pemantik • Apa yang kamu rasakan saat mengunjungi bengkel mesin?

• Apa harapanmu saat kamu mempelajari tentang Kesehatan keselamatan kerja dan Lingkungan Hidup yang berhubungan dengan praktek kerja yang aman ?

Persiapan Pembelajaran - Guru melakukan asesmen diagnostic (Non Kognitif dan Kognitif)

- Guru menyusun Langkah-langkah pembelajaran Kegiatan Pembelajaran

1. Peserta didik dan Guru memulai dengan berdoa bersama.

2. Peserta didik disapa dan melakukan pemeriksaan kehadiran bersama dengan guru.

3. Peserta didik bersama dengan guru membahas tentang kesepakatan yang akan diterapkan dalam pembelajaran daring dan luring.

4. Peserta didik diberikan penjelasan bahwa selama tiga kali pertemuan ke depan akan mengikuti pembelajaran secara daring dan/atau luring, dan materi hari ini adalah kemampuan yang mendasari seluruh jenis kegiatan pembelajaran di Teknik Fabrikasi Logam dan Manufaktur. Dengan demikian wajib dikuasai peserta didik dan diminta untuk fokus dan menyiapkan catatan apabila dibutuhkan.

5. Peserta didik dan guru berdiskusi melalui pertanyaan pemantik:

a. Apakah kamu suka lingkungan terdapat alat pemadam kebakaran?

b. Apa harapanmu saat kamu mempelajari tentang Kesehatan keselamatan kerja dan Lingkungan Hidup Yang berhubungan dengan bahaya bahaya kebakaran ?

Kegiatan Inti

1. Peserta didik mendapatkan pemaparan secara umum tentang pengetahuan bahaya dalam lingkungan kerja.

2. Dengan metode tanya jawab guru memberikan pertanyaan mengenai:

• Definisi bahaya yang ditimbulkan dari lingkungan kerja

• Penyebab timbulnya bahaya kerja

• Contoh-contoh bahaya dilingkunagn kerja. kehidupan sehari-hari.

3. Peserta didik diberikan kesempatan untuk melakukan studi pustaka (browsing dan/atau mengunjungi perpustakaan) guna mengeksplorasi:

(20)

MODUL 4

K3LH PADA PENGELASAN DAN FABRIKASI LOGAM

14

• Peranan bahaya di lingkungan kerja.

• Ruang lingkup dan persyaratan bahaya lingkungan kerja

• Kasus-kasus akibat tidak memperhatikan bahaya lingkungan kerja

• Peserta didik diminta melaporkan hasil studinya dan kemudian bersama-sama dengan dibimbing oleh guru mendiskusikan hasil laporannya di depan kelas

• Peserta didik diminta mengamati bahaya lingkungan kerja 4. Peserta didik diminta untuk mengerjakan soal latihan.

Penutup.

1. Peserta didik mengomunikasikan kendala yang dihadapi selama mengerjakan 2. Peserta didik menerima apresiasi dan motivasi dari guru.

(21)

MODUL 4

K3LH PADA PENGELASAN DAN FABRIKASI LOGAM

15

Asesmen Asesmen Diagnostik

- Asesmen diagnostik kognitif - Asesmen diagnostik non-kognitif Asesmen Formatif

- Penilaian performa eksperimen Asesmen Sumatif

- Tes Tertulis

Pengayaan dan Remidial - Pengayaan diberikan kepada peserta didik yang memiliki nilai diatas rata-rata untuk mendapatkan tambahan materi dan pengetahuan.

- Remidial diberikan kepada peserta didik yang memiliki nilai dibawah rata-rata untuk mendapatkan ulang penjelasan terkait materi yang dibahas.

Refleksi Peserta Didik & Guru • Apakah ada kendala pada kegiatan pembelajaran ?

• Apakah semua peserta didik aktif dalam kegiatan pembelajaran?

• Apa saja kesulitan peserta didik yang dapat diidentifikasi pada kegiatan pembelajaran?

• Apakah peserta didik yang memiliki kesulitan ketika berkegiatan dapat teratasi dengan baik?

• Apa level pencapaian rata-rata peserta didik dalam kegiatan pembelajaran ini?

• Apakah seluruh peserta didik dapat dianggap tuntas dalam pelaksanaan pembelajaran?

• Apa strategi agar seluruh siswa dapat menuntaskan kompetensi?

(22)

MODUL 4

K3LH PADA PENGELASAN DAN FABRIKASI LOGAM

16 DAFTAR PUSTAKA

1. Direktorat Jenderal Pertambangan Umum. Pusat pengembangan Teknologi Mineral, Kumpulan Diktat Kursus Keselamatan Kerja", Bandung, 1977.

2. Heinrich, W.W,"Industrial Accident Prevention a Safety Management Approach", fifth edition, McGraw Hill Book Company, New York, 1980

3. Lynch, Warwicjk, Wilson, "Safety Training Observation Program

4. Sumakmur, P. K. M.Sc, "Keselamatan Kerja dan Pencegahan Kecelakaan", PT.Gunung Agung, Jakarta, 1981

5. Dinas Pertambangan Tingkat Jawa Tengah,"Pedoman Keselamatan Kerja Pertambangan Bahan galian Golongan C", Semarang 1995

(23)

MODUL 4

K3LH PADA PENGELASAN DAN FABRIKASI LOGAM

17 LAMPIRAN Bahan Bacaan :

BAHAYA di lingkungan kerja bidang teknik pengelasan..

Welding (pengelasan) adalah tehnik umum dipakai orang, namun keterampilan dan efesiensi keselamatan pengelasan butuh perhatian khusus. Prosedur pengelasan kelihatannya sangat sederhana, tetapi sebenarnya didalamnya banyak masalah-masalah yang harus diatasi dimana pemecahannya memerlukan bermacam-macam pengetahuan. Karena itu di dalam pengelasan, pengetahuan harus turut serta mendampingi praktek, secara lebih terperinci dapat dikatakan bahwa perancangan kontruksi bangunan dan mesin dengan sambungan las, harus direncanakan pula tentang cara-cara pengelasan.

Namun selain praktik dan pengetahuan kita perlu alat keselamatan selama proses welding (pengelasan) agar keamanan diri terjaga.

Untuk menghindari atau meminimalisir terjadinya kecelakaan perlu penguasaan pengetahuan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) dan tindakan yang harus diambil agar proses kerja pengekasan menggunakan mesin las berjalan dengan baik.

Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) Pada Proses Pengelasan

Faktor yang paling dominan dalam Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) pada proses pengelasan adalah kecelakaan, tindakan yang tidak aman, dan kondisi yang tidak aman.

1. Kecelakaan

Kecelakaan adalah kejadian yang tidak diinginkan yang dapat menimbulkan cedera fisik seseorang bahkan dapat berakibat fatal sampai kematian/cacat seumur hidup dan kerusakan harta benda.

Kecelakaan biasanya akibat kontak dengan sumber energy diatas nilai ambang batas dari badan atau bangunan. Kecelakaan juga merupakan kejadian yang tidak diinginkan yang mungkin dapat menurunkan efisiensi operasional suatu usaha.

2. Tindakan yang tidak aman (Berbahaya)

• Tidak memakai Alat Pelindung Diri (APD)

• Tidak mengikuti prosedur kerja yang berlaku di bidang pengelasan (ceroboh)

• Pengetahuan dan keterampilan operator pengelasan yang belum mumpuni

• Mental dan fisik operator las yang belum siap 3. Kondisi tidak aman

• Lokasi kerja yang kumuh dan kotor

• Alokasi pekerja yang tidak terencana dengan baik, sehingga pada satu lokasi dipenuhi oleh beberapa pekerja yang sangat menimbulkan potensi bahaya

• Fasilitas dan sarana kerja yang tidak memenuhi standar, seperti scaffolding yang tidak aman, atau tidak tersedianya exhaust blower pada lokasi pengelasan

• Terjadinya pencemaran dan polusi pada lingkungan kerja pengelasan, missal debu, tumpahan oli, minyak dan limbah B3 sehingga sangat berpotensi merusak komponen dan peralatan pengelasan

Selain keselamatan kerja, perlu diperhatikan juga sumber energi yang dapat digunakan untuk pengelasan. Hal ini termasuk penyalaan gas, busur listrik, laser, berkas elektron, gesekan, dan/atau ultrasound. Meskipun sering merupakan proses industri, pengelasan dapat dilakukan di berbagai lingkungan, termasuk di udara terbuka, di bawah air, dan di luar angkasa. Pengelasan adalah tindakan berbahaya dan tindakan pencegahan diperlukan untuk menghindari luka bakar, sengatan listrik, kerusakan penglihatan, penghirupan gas dan asap beracun, dan paparan radiasi ultraviolet yang intens.

Pengelasan dengan mesin las busur listrik

1. Bahaya-bahaya dalam pengelasan busur listrik

• Kejutan listrik selama pelaksanaan pengelasan dengan mesin las busur listrik

• Ledakan karena adanya kebocoran pada gas-gas yang mudah terbakar seperti gas asetilin

(24)

MODUL 4

K3LH PADA PENGELASAN DAN FABRIKASI LOGAM

18

• Cedera pada mata akibat penyinaran

• Silau nyala api gas

• Cedera karena asap dan gas yang dihasilkan selama proses pengelasan

• Kebakaran, ledakan dan luka bakar akibat percikan terak pengelasan

• Ledakan tabung asetilin, oksigen, gas CO2 dan gas argon

2. Sebab-sebab utama kejutan listrik selama pengelasan dengan busur listrik

• Karena perlu menyalakan kembali dan menjaga kestabilan busur las, maka tegangan listrik AC pada mesin las busur listrik harus dijaga agar tetap tinggi

• Isolasi yang tidak efektif karena adanya kerusakan pada pembungkus kabel las

• Isolasi yang tidak efektif dari mesin las busur listrik dan terbukanya bidang pengisian pada terminal penghubung kabel mesin las

• Isolasi yang tidak efektif pada gagang batang las

• Pengelasan busur listrik pada lokasi dikelilingi oleh material konduksi seperti bejana tekan atau struktur dasar ganda dari kapal

3. Cara-cara mencegah bahaya kejutan listrik selama pengelasan dengan busur listrik Pencegahan arus listrik mengalir ke seluruh tubuh manusia

• Pakaian kerja harus kering dan tidak boleh basah oleh keringat atau air

• Sarung tangan harus terbuat dari kulit, kering dan tanpa lubang pada ujung jari

• Harus memakai sepatu karet yang seluruhnya terisolasi.

• Mesin las busur listrik AC harus memiliki alat penurun tegangan otomatis atau mesin las busur listrik DC tegangannya harus relatif rendah, sekitar 60V 2)

• Memastikan tidak adanya kebocoran arus listrik

• Mesin-mesin las busur listrik itu sendiri, meja kerja las dan lembar kerja yang akan dilas harus benar-benar “membumi”.

• Jika pembungkus kabel-kabel input atau output sobek dan kawatnya terbuka, maka tutuplah dengan pita isolasi atau ganti seluruh kabelnya.

• Isolasi terminal-terminal kabel pada sisi input/output, kabel pada gagang elektrode dan sisi gagang elektrode, dan hubungan pada konektor kabel harus sempurna.

• Hubungan kabel-kabel yang ada di meja kerja las, lembar kerja yang akan dilas dan logam dasar dengan benar menggunakan penjepit-penjepit khusus.

• Ketika meninggalkan bengkel pengelasan untuk beristirahat, pastikan bahwa batang elektrode las telah dilepaskan dari gagang elektrode (holder).

Bahaya-bahaya sinar busur las dan nyala api gas

1. Temperatur busur las sama tingginya dengan temperatur permukaan matahari, kira-kira 5000- 60000C, sedangkan temperatur nyala api gas asetilin adalah kirakira 31000C.

2. Keduanya menimbulkan radiasi sinar yang kuat sehingga berbahaya bagi mata. Sinar-sinar tersebut meliputi, sinar-sinar yang kasat mata, juga sinar ultraviolet (gelombang elektromagnetik) dan sinar inframerah (thermal) yang tidak kasat mata.

3. Sinar yang ada pada las busur listrik kebanyakan adalah sinar ultraviolet, sedangkan nyala api las memancarkan sinar infrared. Sinar ultraviolet dan sinar infrared menimbulkan kerusakan pada mata dan kulit dapat terbakar seperti terbakar sinar mata

Setelah membaca mengenai bahaya pengelasan, cara pencegahan dan penanggulangannya selanjutnya kita perlu juga untuk mempelajari Alat Pelindung Diri (APD) dalam Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3).

(25)

MODUL 4

K3LH PADA PENGELASAN DAN FABRIKASI LOGAM

19 ASSESMEN TERTULIS

SOAL ESSAY

1. Jelaskan pengertian dari “ kecelakaan kerja ” !

2. Jelaskan faktor kecelakaan kerja tentang “ kondisi yang tidak aman ” ! 3. Sebutkan bahaya-bahaya dalam pengelasan busur listrik !

4. Jelaskan cara mencegah bahaya kejutan listrik selama pengelasan dengan busur listrik ! 5. Jelaskan bahaya sinar busur las dan nyala api gas !

Jawaban

1. Kecelakaan adalah kejadian yang tidak diinginkan yang dapat menimbulkan cedera fisik seseorang bahkan dapat berakibat fatal sampai kematian/cacat seumur hidup dan kerusakan harta benda.

Kecelakaan biasanya akibat kontak dengan sumber energy diatas nilai ambang batas dari badan atau bangunan. Kecelakaan juga merupakan kejadian yang tidak diinginkan yang mungkin dapat menurunkan efisiensi operasional suatu usaha.

2. Kondisi yang tidak aman :

• Lokasi kerja yang kumuh dan kotor

• Alokasi pekerja yang tidak terencana dengan baik, sehingga pada satu lokasi dipenuhi oleh beberapa pekerja yang sangat menimbulkan potensi bahaya

• Fasilitas dan sarana kerja yang tidak memenuhi standar, seperti scaffolding yang tidak aman, atau tidak tersedianya exhaust blower pada lokasi pengelasan

• Terjadinya pencemaran dan polusi pada lingkungan kerja pengelasan, missal debu, tumpahan oli, minyak dan limbah B3 sehingga sangat berpotensi merusak komponen dan peralatan pengelasan

3. Bahaya-bahaya dalam pengelasan busur listrik

• Kejutan listrik selama pelaksanaan pengelasan dengan mesin las busur listrik

• Ledakan karena adanya kebocoran pada gas-gas yang mudah terbakar seperti gas asetilin

• Cedera pada mata akibat penyinaran

• Silau nyala api gas

• Cedera karena asap dan gas yang dihasilkan selama proses pengelasan

• Kebakaran, ledakan dan luka bakar akibat percikan terak pengelasan

• Ledakan tabung asetilin, oksigen, gas CO2 dan gas argon 4. Pencegahan arus listrik mengalir ke seluruh tubuh manusia

• Pakaian kerja harus kering dan tidak boleh basah oleh keringat atau air

• Sarung tangan harus terbuat dari kulit, kering dan tanpa lubang pada ujung jari

• Harus memakai sepatu karet yang seluruhnya terisolasi.

• Mesin las busur listrik AC harus memiliki alat penurun tegangan otomatis atau mesin las busur listrik DC tegangannya harus relatif rendah, sekitar 60V 2)

• Memastikan tidak adanya kebocoran arus listrik

• Mesin-mesin las busur listrik itu sendiri, meja kerja las dan lembar kerja yang akan dilas harus benar-benar “membumi”.

• Jika pembungkus kabel-kabel input atau output sobek dan kawatnya terbuka, maka tutuplah dengan pita isolasi atau ganti seluruh kabelnya.

• Isolasi terminal-terminal kabel pada sisi input/output, kabel pada gagang elektrode dan sisi gagang elektrode, dan hubungan pada konektor kabel harus sempurna.

• Hubungan kabel-kabel yang ada di meja kerja las, lembar kerja yang akan dilas dan logam dasar dengan benar menggunakan penjepit-penjepit khusus.

• Ketika meninggalkan bengkel pengelasan untuk beristirahat, pastikan bahwa batang elektrode las telah dilepaskan dari gagang elektrode (holder).

(26)

MODUL 4

K3LH PADA PENGELASAN DAN FABRIKASI LOGAM

20 5. Bahaya Sinar Las

• Temperatur busur las sama tingginya dengan temperatur permukaan matahari, kira-kira 5000- 60000C, sedangkan temperatur nyala api gas asetilin adalah kirakira 31000C.

• Keduanya menimbulkan radiasi sinar yang kuat sehingga berbahaya bagi mata. Sinar-sinar tersebut meliputi, sinar-sinar yang kasat mata, juga sinar ultraviolet (gelombang elektromagnetik) dan sinar inframerah (thermal) yang tidak kasat mata.

• Sinar yang ada pada las busur listrik kebanyakan adalah sinar ultraviolet, sedangkan nyala api las memancarkan sinar infrared. Sinar ultraviolet dan sinar infrared menimbulkan kerusakan pada mata dan kulit dapat terbakar seperti terbakar sinar mata

(27)

MODUL 4

K3LH PADA PENGELASAN DAN FABRIKASI LOGAM

21 LAPORAN PENGAMATAN

Lembar pengamatan (diisi oleh peserta didik)

● Silakan kalian melakukan observasi atau kunjungan ke industri atau usaha bisnis pengelasan di daerah sekitar kalian.

● Bentuklah kelompok yang terdiri dari 3-4 orang.

● Silakan amati lembar pengamatan berikut ini,

● Carilah informasi dari berbagai sumber belajar mulai dari internet, buku,

hingga pemilik bisnis bidang teknik fabrikasi logam yang dapat dijadikan sebagai penunjang pengamatan kalian.

● Kolaborasikan pencarian informasi ini bersama kelompok kalian

● Diskusikan dalam kelompok yang sudah terbentuk mengenai

“ Resiko ataupun bahaya yang dapat terjadi di lingkungan industry / bisnis bidang fabrikasi logam. “

● Tuliskan sebanyak-banyaknya mengenai ragam bisnis industri pengelasan dan fabrikasi logam yang ada.

● Presentasikan hasil pengamatan kalian dalam bentuk tabel berikut ini atau dalam bentuk presentasi lain yang lebih menarik dan kreatif.

● Mintalah bantuan guru kalian jika terjadi kesulitan.

LEMBAR KERJA HASIL PENGAMATAN SISWA

NO NAMA INDUSTRI / USAHA SUMBER INFORMASI RESIKO / BAHAYA

Langkah memperkecil resiko.

Catatan :

• Kolom Langkah memperkecil resiko dapat di isi menggunakan rujukan buku maupun standar penggunaan dan kondisi bengkel pengelasan dan fabrikasi logam

(28)

MODUL 4

K3LH PADA PENGELASAN DAN FABRIKASI LOGAM

22 Rubrik Penilaian

No. Nama/

Kelompok

Aspek yang dinilai Skor

Kesesuaian alat pada bahan

Ketrampilan menggunakan alat

Ketepatan

waktu Ketepatan hasil

Perolehan

1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4

(29)

MODUL 4

K3LH PADA PENGELASAN DAN FABRIKASI LOGAM

23

PERTEMUAN 3

MODUL 4

DASAR-DASAR TEKNIK PENGELASAN DAN FABRIKASI LOGAM

Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3LH)

(30)

MODUL 4

K3LH PADA PENGELASAN DAN FABRIKASI LOGAM

24

Tujuan Pembelajaran Tujuan Pembelajaran 3 :

Melaksanakan Prosedur Keadaan Darurat

Pemahaman Bermakna Manusia mendapatkan informasi lebih banyak jika mereka menemukan pengetahuan sendiri melalui eksperimen

Pertanyaan Pemantik • Apa yang kamu lakukan jika terjadi kebakaran di bengkel kerjamu?

Persiapan Pembelajaran - Guru melakukan asesmen diagnostic (Non Kognitif dan Kognitif)

- Guru menyusun Langkah-langkah pembelajaran Kegiatan Pembelajaran

Pendahuluan.

1. Peserta didik dan Guru memulai dengan berdoa bersama.

2. Peserta didik disapa dan melakukan pemeriksaan kehadiran bersama dengan guru.

3. Peserta didik bersama dengan guru membahas tentang kesepakatan yang akan diterapkan dalam pembelajaran daring dan luring.

4. Peserta didik diberikan penjelasan bahwa selama tiga kali pertemuan ke depan akan mengikuti pembelajaran secara daring dan/atau luring, dan materi hari ini adalah kemampuan yang mendasari seluruh jenis kegiatan pembelajaran di Teknik Fabrikasi Logam dan Manufaktur. Dengan demikian wajib dikuasai peserta didik dan diminta untuk fokus dan menyiapkan catatan apabila dibutuhkan.

5. Peserta didik dan guru berdiskusi melalui pertanyaan pemantik:

• Apakah kamu suka lingkungan terdapat Pengamanan dalam keadaan darurat?

• Apa yang kamu rasakan saat mengunjungi bengkel yang ada peringatan prosedure keadaan darurat ?

• Apa harapanmu saat kamu mempelajari tentang prosedur keadaan darurat ?

Kegiatan Inti

1. Peserta didik mendapatkan pemaparan secara umum tentang pengetahuan Prosedure tentang keadaan darurat.

2. Dengan metode tanya jawab guru memberikan pertanyaan mengenai:

a. Definisi prosedure tentang keadaan darurat b. Penyebab timbulnya keadaan darurat

c. Contoh-contoh keadaan darurat kehidupan sehari-hari.

3. Peserta didik diberikan kesempatan untuk melakukan studi pustaka (browsing dan/atau mengunjungi perpustakaan) guna mengeksplorasi:

(31)

MODUL 4

K3LH PADA PENGELASAN DAN FABRIKASI LOGAM

25 a. Peranan tanda tanda keadaan darurat.

b. Ruang lingkup dan persyaratan prosedure keadaan darurat

c. Kasus-kasus akibat tidak memperhatikan prosedur keadaan darurat

d. Peserta didik diminta melaporkan hasil studinya dan kemudian bersama-sama dengan dibimbing oleh guru mendiskusikan hasil laporannya di depan kelas 4. Peserta didik diminta mengamati bahaya lingkungan kerja.

5. Peserta didik diminta untuk mengerjakan soal latihan Penutup.

1. Peserta didik diminta secara ringkas menceritakan tentang pengalaman unik dan berkesan pada saat observasi pekan yang lalu dan mengisi lembar refleksi kegiatan pengamatan/observasi.

2. Peserta didik menyampaikan kendala selama melakukan observasi 3. Peserta didik menerima apresiasi dan motivasi dari guru

(32)

MODUL 4

K3LH PADA PENGELASAN DAN FABRIKASI LOGAM

26

Asesmen Asesmen Diagnostik

- Asesmen diagnostik kognitif - Asesmen diagnostik non-kognitif Asesmen Formatif

- Penilaian performa eksperimen Asesmen Sumatif

- Tes Tertulis

Pengayaan dan Remidial - Pengayaan diberikan kepada peserta didik yang memiliki nilai diatas rata-rata untuk mendapatkan tambahan materi dan pengetahuan.

- Remidial diberikan kepada peserta didik yang memiliki nilai dibawah rata-rata untuk mendapatkan ulang penjelasan terkait materi yang dibahas.

Refleksi Peserta Didik & Guru • Apakah ada kendala pada kegiatan pembelajaran ?

• Apakah semua peserta didik aktif dalam kegiatan pembelajaran?

• Apa saja kesulitan peserta didik yang dapat diidentifikasi pada kegiatan pembelajaran?

• Apakah peserta didik yang memiliki kesulitan ketika berkegiatan dapat teratasi dengan baik?

• Apa level pencapaian rata-rata peserta didik dalam kegiatan pembelajaran ini?

• Apakah seluruh peserta didik dapat dianggap tuntas dalam pelaksanaan pembelajaran?

• Apa strategi agar seluruh siswa dapat menuntaskan kompetensi?

(33)

MODUL 4

K3LH PADA PENGELASAN DAN FABRIKASI LOGAM

27 DAFTAR PUSTAKA

1. Direktorat Jenderal Pertambangan Umum. Pusat pengembangan Teknologi Mineral, Kumpulan Diktat Kursus Keselamatan Kerja", Bandung, 1977.

2. Heinrich, W.W,"Industrial Accident Prevention a Safety Management Approach", fifth edition, McGraw Hill Book Company, New York, 1980

3. Lynch, Warwicjk, Wilson, "Safety Training Observation Program

4. Sumakmur, P. K. M.Sc, "Keselamatan Kerja dan Pencegahan Kecelakaan", PT.Gunung Agung, Jakarta, 1981

5. Dinas Pertambangan Tingkat Jawa Tengah,"Pedoman Keselamatan Kerja Pertambangan Bahan galian Golongan C", Semarang 1995

(34)

MODUL 4

K3LH PADA PENGELASAN DAN FABRIKASI LOGAM

28 LAMPIRAN Bahan Bacaan :

Pentingnya Sistem Manajemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Terdapat beberapa alasan yang mengungkapan pentingnya Sistem Manajemen K3 diterapkan dalam suatu perusahaan/laboratorium. Alasan tersebut dapat dilihat dari aspek manusiawi, ekonomi, UU dan Peraturan, serta nama baik (Adrian, dkk, 2009). Berikut adalah argumentasi betapa pentingnya Sistem Manajemen K3.

a. Alasan Manusiawi. Membiarkan terjadinya kecelakaan kerja, tanpa berusaha melakukan sesuatu untuk memperbaiki keadaan, merupakan suatu tindakan yang tidak manusiawi. Hal ini di karenakan kecelakaan yang terjadi tidak hanya menimbulkan penderitaan bagi korbannya (misalnya kematian, cacat/luka berat, luka ringan), melainkan juga penderitaan bagi keluarganya. Oleh karena itu pengusaha atau sekolah mempunyai kewajiban untuk melindungi pekerja atau siswanya dengan cara menyediakan lapangan kerja yang aman.

b. Alasan Ekonomi. Setiap kecelakaan kerja yang terjadi akan menimbulkan kerugian ekonomi, seperti kerusakan mesin, peralatan, bahan dan bangunan, biaya pengobatan, dan biaya santunan kecelakaan. Oleh karena itu, dengan melakukan langkah-langkah pencegahan kecelakaan, maka selain dapat mencegah terjadinya cedera pada pekerja, kontraktor juga dapat menghemat biaya yang harus dikeluarkan.

c. Alasan UU dan Peraturan. UU dan peraturan dikeluarkan oleh pemerintah atau suatu organisasi bidang keselamatan kerja dengan pertimbangan bahwa masih banyak kecelakaan yang terjadi, makin meningkatnya pembangunan dengan menggunakan teknologi modern, pekerjaan konstruksi merupakan kompleksitas kerja yang dapat merupakan sumber terjadinya kecelakaan kerja dan pentingnya arti tenaga kerja di bidang konstruksi.

d. Nama Baik Institusi. Suatu perusahaan yang mempunyai reputasi yang baik dapat mempengaruhi kemampuannya dalam bersaing dengan perusahaan lain. Reputasi atau citra perusahaan juga merupakan sumber daya penting terutama bagi industry jasa, termasuk jasa konstruksi, karena berhubungan dengan kepercayaan dari pemberi tugas/pemilik proyek. Prestasi keselamatan kerja perusahaan mendukung reputasi perusahaan itu, sehingga dapat dikatakan bahwa prestasi keselamatan kerja yang baik akan memberikan keuntungan kepada perusahaan secara tidak langsung.

(35)

MODUL 4

K3LH PADA PENGELASAN DAN FABRIKASI LOGAM

29 Definisi Prosedur dan Keadaan Darurat Keadaan Darurat

Prosedure : Suatu tata cara atau pedoman kerja yang harus diikuti dalam melaksanakan suatu kegiatan agar mendapat hasil yang baik.

Keadaan darurat : Keadaan yang lain dari keadaan normal yang mempunyai kecenderungan atau potensi tingkat yang membahayakan baik bagi keselamatan manusia, harta benda maupun lingkungan.

Prosedur keadaan darurat : Tata cara/pedoman kerja dalam menanggulangi suatu keadaan darurat, dengan maksud untuk mencegah atau mengurangi kerugian lebih lanjut atau semakin besar.

Poin Penting Tentang Perencanaan Tanggap Darurat

Pengertian Keadaan Darurat

Keadaan darurat adalah kejadian atau insiden tidak terduga atau tidak direncanakan yang berakibat membahayakan manusia; mengganggu kelancaran operasi; atau mengakibatkan kerusakan fisik atau lingkungan, yang harus dicegah dan ditanggulangi secara cepat dan tepat agar akibat yang ditimbulkannya dapat ditekan sekecil mungkin. Contoh keadaan darurat meliputi:

• Bencana alam (banjir, gempa bumi, badai, gunung meletus, dll.)

• Kebakaran

• Kebocoran gas beracun

• Tumpahan bahan kimia

• Ledakan pada tangki, bin, silo, dll.

• Gangguan keamanan sipil (ancaman bom, perampokan, demonstrasi, huru- hara)

• Kekerasan di tempat kerja yang menimbulkan cedera fisik dan trauma

• Kecelakaan/ keracunan massal.

Cara melindungi diri sendiri, karyawan dan kegiatan bisnis saat terjadi keadaan darurat adalah dengan membuat perencanaan tanggap darurat sebagai langkah persiapan dan penanggulangan keadaan darurat.

Hanya sedikit orang yang dapat berpikir secara jernih dan logis saat keadaan darurat terjadi, maka sangat penting bagi manajemen dan seluruh pekerja untuk merencanakan dan menerapkan prosedur tanggap darurat di perusahaan.

Dapat Anda bayangkan jika Anda sebagai pengusaha menjalankan sebuah bisnis dan tidak memiliki perencanaan tanggap darurat, hal ini terlalu berisiko jika Anda kehilangan segalanya hanya dalam semalam.

Pengertian perencanaan tanggap darurat

Perencanaan atau rencana tanggap darurat merupakan suatu kegiatan yang dilakukan tim manajemen dan pekerja yang bertujuan untuk mengantisipasi datangnya keadaan darurat sehingga semua orang di tempat kerja mengetahui hal-hal apa saja yang harus dilakukan untuk selamat.

(36)

MODUL 4

K3LH PADA PENGELASAN DAN FABRIKASI LOGAM

30

Tujuan perencanaan tanggap darurat ini adalah untuk membimbing setiap individu yang berada pada situasi kecelakaan atau keadaan darurat guna mencegah atau meminimalkan cedera, kerusakan aset serta kerugian material. Dapat juga mencegah atau meminimalkan dampak lingkungan akibat kecelakaan atau keadaan darurat tersebut.

Ketika Anda mengembangkan perencanaan tanggap darurat di perusahaan, hal pertama yang harus Anda lakukan adalah mengidentifikasi potensi bahaya yang kemungkinan terjadi di tempat kerja, yang dapat menimbulkan keadaan darurat. Jika Anda memiliki lebih dari satu area kerja dengan kegiatan berbeda-beda, maka setiap lokasi harus memiliki rencana tanggap darurat.

Menurut OSHA, perencanaan tanggap darurat minimal harus mencakup hal-hal sebagai berikut:

• Prosedur pelaporan kecelakaan, kebakaran, atau keadaan darurat lainnya

• Kebijakan dan prosedur evakuasi, mencakup jalur evakuasi, tim evakuasi (floor warden) di setiap lantai, denah evakuasi atau sarana evakuasi lainnya.

• Skema atau daftar nomor telepon penting yang harus dihubungi saat keadaan darurat

• Prosedur tindakan darurat mulai dari pra kejadian, saat terjadi keadaan darurat, dan pasca kejadian. Prosedur juga mencakup pembahasan tentang peralatan darurat, peralatan pemadam kebakaran, alarm, peralatan P3K, hingga prosedur emergency shutdown. Sistem emergency shutdown adalah suatu sistem yang digunakan dalam industri perminyakan sebagai sistem pelindung (safety) dari bahaya-bahaya seperti kebakaran, dan tekanan berlebih yang dapat menyebabkan ledakan. Biasanya sistem ini beroperasi apabila keadaan darurat dengan mematikan sistem proses.

• Susunan tim tanggap darurat mencakup koordinator, tim evakuasi, petugas P3k, dan petugas lain yang diperlukan.

Penentuan lokasi tempat berkumpul (assembly point) dan prosedur pelaporan yang menyatakan bahwa semua pekerja sudah dievakuasi juga perlu dipertimbangkan.

Perencanaan tanggap darurat yang dibuat harus mencakup cara memperingatkan atau memberitahu seluruh pekerja, tamu dan pihak yang berada di dalam gedung tentang terjadinya keadaan darurat.

Langkah-langkah yang sebaiknya Anda lakukan antara lain:

• Memasang alarm sebagai tanda terjadinya keadaan darurat dan pastikan seluruh pekerja mengetahui sinyal alarm keadaan darurat

• Merancang sistem komunikasi darurat untuk menyampaikan informasi keadaan darurat dan menghindari kesimpangsiuran informasi

• Memastikan bahwa alarm dapat didengar dan kotak alarm dalam keadaan baik dan lokasinya bebas hambatan. Pastikan pekerja yang menemukan keadaan darurat harus membunyikan alarm.

(37)

MODUL 4

K3LH PADA PENGELASAN DAN FABRIKASI LOGAM

31

Langkah dalam menyiapkan perencanaan tanggap darurat

Menyiapkan perencanaan tanggap darurat harus disesuaikan dengan kondisi serta kebutuhan yang ada di tempat kerja Anda. Secara umum, langkah-langkah menyiapkan rencana tanggap darurat terbagi menjadi lima, diantaranya:

Identifikasi bahaya yang berpotensi menimbulkan keadaan darurat − Anda harus mengidentifikasi secara spesifik akan potensi bahaya berdasarkan tipe kegiatannya. Sebagai contoh, jika Anda bekerja di perkantoran, maka kebakaran merupakan potensi risiko yang bisa terjadi.

Langkah-langkah pencegahan − Tindakan pencegahan harus dirancang secara detail dan jelas untuk setiap jenis potensi bahaya. Misalnya membuat langkah pencegahan kebakaran, ledakan, atau tumpahan bahan kimia.

Perencanaan tanggap darurat − Perusahaan harus menentukan satu atau lebih perencanaan darurat yang didasarkan pada kompleksitas serta kebutuhan. Pastikan semua pekerja mengetahui perencanaan tanggap darurat ini. Penting bagi mereka untuk mengetahui tindakan pencegahan dan apa yang harus dilakukan saat keadaan darurat terjadi.

Pelatihan dan uji coba − Perusahaan harus melatih para pekerjanya tentang langkah-langkah pencegahan dan perencanaan tanggap darurat. Pelatihan secara berkala harus dilakukan untuk memastikan pekerja melakukan tindakan sesuai dengan perencanaan darurat yang ditetapkan.

Evaluasi dan perbaikan − Anda harus memperhitungkan kesenjangan antara perencanaan tanggap darurat dan hasil uji coba yang telah dilakukan. Bila dalam perencanaan tanggap darurat masih terdapat kekurangan atau tidak sesuai yang diharapkan, maka perbaikan dalam perencanaan tanggap darurat perlu dilakukan.

Membuat prosedur dan menentukan jalur evakuasi

Sebuah prosedur evakuasi yang tidak jelas dapat menimbulkan kebingungan, cedera, dan kerusakan aset perusahaan. Itulah sebabnya ketika mengembangkan perencanaan tanggap darurat, penting bagi Anda untuk menentukan hal-hal sebagai berikut:

• Menentukan kondisi apa saja yang memerlukan evakuasi

• Menentukan tim evakuasi / floor warden (kapten lantai) untuk membantu proses evakuasi berjalan lancar dan aman

• Prosedur evakuasi yang jelas dan rinci, termasuk penentuan jalur dan jalan keluar menuju tempat berkumpul. Jalur evakuasi harus mudah dipahami, tidak rumit, dan mudah diakses. Jalur evakuasi yang digunakan harus memuat tanda petunjuk arah keluar dan dilengkapi sarana pendukung lainnya.

• Prosedur evakuasi harus membantu penyandang disabilitas

• Mempertimbangkan kebutuhan transportasi untuk evakuasi banyak pekerja.

(38)

MODUL 4

K3LH PADA PENGELASAN DAN FABRIKASI LOGAM

32

Peran koordinator tanggap darurat dan tim evakuasi dalam keadaan darurat.

Ketika menyusun perencanaan tanggap darurat, Anda mungkin memilih individu yang bertanggung jawab untuk memimpin dan mengkoordinasikan rencana tanggap darurat dan evakuasi. Sangat penting bagi pekerja untuk mengetahui siapa yang menjadi koordinator dan memahami bahwa petugas tersebut memiliki wewenang untuk membuat keputusan selama keadaan darurat.

Koodinator rencana tanggap darurat bertanggung jawab untuk:

• Menilai situasi untuk menentukan apakah keadaan darurat membutuhkan aktivasi prosedur darurat

• Mengawasi semua upaya penanggulangan keadaan darurat di seluruh area, termasuk kegiatan evakuasi

• Mengkoordinasikan layanan darurat dengan pihak luar, seperti bantuan medis dan departemen pemadam kebakaran setempat dan memastikan bahwa mereka tersedia dan diberitahu bila diperlukan

• Mengarahkan penutupan operasional pabrik apabila diperlukan.

Selain koordinator rencana tanggap darurat, mungkin Anda juga perlu menentukan tim evakuasi atau floor warden untuk membantu evakuasi para pekerja, tamu dan pihak lain yang ada di lingkungan perusahaan ke tempat yang lebih aman (assembly point). Umumnya, setiap satu floor warden (kapten lantai) disediakan untuk mengevakuasi 20 orang dan mereka harus selalu siap setiap saat selama jam kerja. Pastikan kapten lantai memahami tugas dan tanggung jawabnya dalam proses evakuasi.

Pertolongan medis yang harus dipersiapkan saat keadaan darurat.

Jika perusahaan Anda tidak memiliki program kesehatan formal, Anda tetap perlu merancang cara-cara untuk memberikan pelayanan medis dan pertolongan pertama saat keadaan darurat terjadi. Jika fasilitas medis tersedia dekat tempat kerja Anda (pihak ketiga di luar perusahaan), Anda dapat bekerja sama dengan mereka untuk menangani kasus-kasus darurat.

Bila hal tersebut tidak memungkinkan, pastikan pekerja yang Anda tunjuk sebagai tim P3K telah melakukan pelatihan P3K yang memadai. Konsultasikan dengan ahli P3K atau petugas medis tentang sarana dan prasarana P3K apa saja yang sebaiknya ada di lingkungan perusahaan untuk persiapan keadaan darurat.

Jenis pelatihan tanggap darurat yang dibutuhkan pekerja.

Perencanaan dan penyusunan program pelatihan merupakan kunci keberhasilan dalam pelaksanaan ke depannya. Pertama, Anda harus mengidentifikasi kebutuhan pelatihan. Untuk menentukan kebutuhan pelatihan, ada beberapa hal yang perlu Anda pertimbangkan antara lain ukuran tempat kerja, jumlah tenaga kerja, aktivitas kerja, material yang ditangani, dan ketersediaan sumber daya di dalam atau di luar tempat kerja.

Umumnya, pelatihan tanggap darurat bagi pekerja mencakup hal-hal sebagai berikut:

(39)

MODUL 4

K3LH PADA PENGELASAN DAN FABRIKASI LOGAM

33

• Peran dan tanggung jawab individu/ pekerja yang ditunjuk jadi tim tanggap darurat

• Ancaman, bahaya, dan tindakan protektif yang harus dilakukan

• Prosedur pemberitahuan, peringatan, dan komunikasi

• Prosedur tanggap darurat

• Prosedur evakuasi

• Lokasi dan penggunaan alat pemadam kebakaran, kotak alarm, pintu darurat, alat bantu pernapasan, tempat membilas mata, dan semua peralatan darurat lain

• Prosedur emergency shutdown.

Anda juga bisa menambahkan pelatihan pertolongan pertama, termasuk resusitasi jantung paru, tindakan pertolongan pada gangguan kesadaran, gangguan pernapasan, syok dan pingsan, keracunan, dll.

Setelah semua pekerja mendapatkan pelatihan tanggap darurat yang memadai, Anda bisa mengadakan pelatihan secara berkala tergantung besaran risiko yang ada di perusahaan Anda. Melalui pelatihan tersebut, Anda dapat mengukur efektivitas rencana tanggap darurat yang telah Anda buat dan melakukan perbaikan berkelanjutan.

(40)

MODUL 4

K3LH PADA PENGELASAN DAN FABRIKASI LOGAM

34 ASSESMEN TERTULIS

SOAL ESSAY

1. Apa yang dimaksud dengan keadaan darurat?

2. Bagaimana cara melindungi diri sendiri, karyawan dan kegiatan bisnis saat terjadi keadaan darurat?

3. Apa itu perencanaan tanggap darurat?

4. Bagaimana cara membuat prosedur dan menentukan jalur evakuasi?

5. Apa saja langkah dalam menyiapkan perencanaan tanggap darurat?

Jawaban

1. Keadaan darurat adalah kejadian atau insiden tidak terduga atau tidak direncanakan yang berakibat membahayakan manusia; mengganggu kelancaran operasi; atau mengakibatkan kerusakan fisik atau lingkungan, yang harus dicegah dan ditanggulangi secara cepat dan tepat agar akibat yang ditimbulkannya dapat ditekan sekecil mungkin. Contoh keadaan darurat meliputi:

• Bencana alam (banjir, gempa bumi, badai, gunung meletus, dll.)

• Kebakaran

• Kebocoran gas beracun

• Tumpahan bahan kimia

• Ledakan pada tangki, bin, silo, dll.

• Kekerasan di tempat kerja yang menimbulkan cedera fisik dan trauma

• Kecelakaan/ keracunan massal.

2. Cara terbaik adalah dengan membuat perencanaan tanggap darurat sebagai langkah persiapan dan penanggulangan keadaan darurat. Hanya sedikit orang yang dapat berpikir secara jernih dan logis saat keadaan darurat terjadi, maka sangat penting bagi manajemen dan seluruh pekerja untuk merencanakan dan menerapkan prosedur tanggap darurat di perusahaan.

3. Perencanaan atau rencana tanggap darurat merupakan suatu kegiatan yang dilakukan tim manajemen dan pekerja yang bertujuan untuk mengantisipasi datangnya keadaan darurat sehingga semua orang di tempat kerja mengetahui hal-hal apa saja yang harus dilakukan untuk selamat.

Tujuan perencanaan tanggap darurat ini adalah untuk membimbing setiap individu yang berada pada situasi kecelakaan atau keadaan darurat guna mencegah atau meminimalkan cedera, kerusakan aset serta kerugian material. Dapat juga mencegah atau meminimalkan dampak lingkungan akibat kecelakaan atau keadaan darurat tersebut.

4.

• Sebuah prosedur evakuasi yang tidak jelas dapat menimbulkan kebingungan, cedera, dan kerusakan aset perusahaan. Itulah sebabnya ketika mengembangkan perencanaan tanggap darurat, penting bagi Anda untuk menentukan hal-hal sebagai berikut:

(41)

MODUL 4

K3LH PADA PENGELASAN DAN FABRIKASI LOGAM

35

• Menentukan kondisi apa saja yang memerlukan evakuasi

• Menentukan tim evakuasi / floor warden (kapten lantai) untuk membantu proses evakuasi berjalan lancar dan aman

• Prosedur evakuasi yang jelas dan rinci, termasuk penentuan jalur dan jalan keluar menuju tempat berkumpul. Jalur evakuasi harus mudah dipahami, tidak rumit, dan mudah diakses. Jalur evakuasi yang digunakan harus memuat tanda petunjuk arah keluar dan dilengkapi sarana pendukung lainnya.

• Prosedur evakuasi harus membantu penyandang disabilitas

• Mempertimbangkan kebutuhan transportasi untuk evakuasi banyak pekerja.

5. Menyiapkan perencanaan tanggap darurat harus disesuaikan dengan kondisi serta kebutuhan yang ada di tempat kerja Anda. Secara umum, langkah-langkah menyiapkan rencana tanggap darurat terbagi menjadi lima, diantaranya:

• Identifikasi bahaya yang berpotensi menimbulkan keadaan darurat − Anda harus mengidentifikasi secara spesifik akan potensi bahaya berdasarkan tipe kegiatannya. Sebagai contoh, jika Anda bekerja di perkantoran, maka kebakaran merupakan potensi risiko yang bisa terjadi.

• Langkah-langkah pencegahan − Tindakan pencegahan harus dirancang secara detail dan jelas untuk setiap jenis potensi bahaya. Misalnya membuat langkah pencegahan kebakaran, ledakan, atau tumpahan bahan kimia.

• Perencanaan tanggap darurat − Perusahaan harus menentukan satu atau lebih perencanaan darurat yang didasarkan pada kompleksitas serta kebutuhan. Pastikan semua pekerja mengetahui perencanaan tanggap darurat ini. Penting bagi mereka untuk mengetahui tindakan pencegahan dan apa yang harus dilakukan saat keadaan darurat terjadi.

• Pelatihan dan uji coba − Perusahaan harus melatih para pekerjanya tentang langkah-langkah pencegahan dan perencanaan tanggap darurat. Pelatihan secara berkala harus dilakukan untuk memastikan pekerja melakukan tindakan sesuai dengan perencanaan darurat yang ditetapkan.

• Evaluasi dan perbaikan − Anda harus memperhitungkan kesenjangan antara perencanaan tanggap darurat dan hasil uji coba yang telah dilakukan. Bila dalam perencanaan tanggap darurat masih terdapat kekurangan atau tidak sesuai yang diharapkan, maka perbaikan dalam perencanaan tanggap darurat perlu dilakukan.

(42)

MODUL 4

K3LH PADA PENGELASAN DAN FABRIKASI LOGAM

36 Rubrik Penilaian

No. Nama/

Kelompok

Aspek yang dinilai Skor

Kesesuaian alat pada bahan

Ketrampilan menggunakan alat

Ketepatan

waktu Ketepatan hasil

Perolehan

1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4

(43)

MODUL 3

K3LH PADA PENGELASAN DAN FABRIKASI LOGAM

37

PERTEMUAN 4

MODUL 4

DASAR-DASAR TEKNIK PENGELASAN DAN FABRIKASI LOGAM

Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3LH)

(44)

MODUL 3

K3LH PADA PENGELASAN DAN FABRIKASI LOGAM

38

Tujuan Pembelajaran Tujuan Pembelajaran 4 :

Melaksanakan Penerapan Budaya Kerja Industri (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin)

Pemahaman Bermakna Manusia mendapatkan informasi lebih banyak jika mereka menemukan pengetahuan sendiri melalui eksperimen

Pertanyaan Pemantik • Apakah kamu suka lingkungan yang bersih?

• Apa yang kamu rasakan saat mengunjungi bengkel mesin?

• Apa harapanmu saat kamu mempelajari tentang Kesehatan keselamatan kerja dan Lingkungan Hidup yang berhubungan dengan praktek kerja yang aman ?

Persiapan Pembelajaran - Guru melakukan asesmen diagnostic (Non Kognitif dan Kognitif)

- Guru menyusun Langkah-langkah pembelajaran Kegiatan Pembelajaran

Pendahuluan.

1. Peserta didik dan Guru memulai dengan berdoa bersama.

2. Peserta didik disapa dan melakukan pemeriksaan kehadiran bersama dengan guru.

3. Peserta didik bersama dengan guru membahas tentang kesepakatan yang akan diterapkan dalam pembelajaran daring dan luring.

4. Peserta didik diberikan penjelasan bahwa selama tiga kali pertemuan ke depan akan mengikuti pembelajaran secara daring dan/atau luring, dan materi hari ini adalah kemampuan yang mendasari seluruh jenis kegiatan pembelajaran di Teknik Fabrikasi Logam dan Manufaktur. Dengan demikian wajib dikuasai peserta didik dan diminta untuk fokus dan menyiapkan catatan apabila dibutuhkan.

5. Peserta didik dan guru berdiskusi melalui pertanyaan pemantik:

• Apakah kamu suka melihat Penerapan Budaya Kerja Industri (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin)?

• Apa yang kamu rasakan saat mengunjungi bengkel yang ada Penerapan Budaya Kerja Industri (Ringkas, Rapi , Resik, Rawat, Rajin)?

• Apa harapanmu saat kamu mempelajari tentang Penerapan Budaya Kerja Industri (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin)?

Kegiatan Inti

1. Peserta didik mendapatkan pemaparan secara umum tentang pengetahuan Penerapan Budaya Kerja Industri (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin).

2. Dengan metode tanya jawab guru memberikan pertanyaan mengenai:

a. Definisi Penerapan Budaya Kerja Industri (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin).

b. Penyebab Penerapan Budaya Kerja Industri (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin).

c. Contoh-contoh Penerapan Budaya Kerja Industri (Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin) pada kehidupan sehari-hari.

(45)

MODUL 3

K3LH PADA PENGELASAN DAN FABRIKASI LOGAM

39

3. Peserta didik diberikan kesempatan untuk melakukan studi pustaka (browsing dan/atau mengunjungi perpustakaan) guna mengeksplorasi:

a. Peranan tanda tanda keadaan darurat.

b. Ruang lingkup dan persyaratan prosedure keadaan darurat

c. Kasus-kasus akibat tidak memperhatikan prosedure keadaan darurat

d. Peserta didik diminta melaporkan hasil studinya dan kemudian bersama-sama dengan dibimbing oleh guru mendiskusikan hasil laporannya di depan kelas

e. Peserta didik diminta mengamati bahaya lingkungan kerja 4. Peserta didik diminta untuk mengerjakan soal latihan

Penutup.

1. Peserta didik diminta secara ringkas menceritakan tentang pengalaman unik dan berkesan pada saat observasi pekan yang lalu dan mengisi lembar refleksi kegiatan pengamatan/observasi

(46)

MODUL 3

K3LH PADA PENGELASAN DAN FABRIKASI LOGAM

40

Asesmen Asesmen Diagnostik

- Asesmen diagnostik kognitif - Asesmen diagnostik non-kognitif Asesmen Formatif

- Penilaian performa eksperimen Asesmen Sumatif

- Tes Tertulis

Pengayaan dan Remidial - Pengayaan diberikan kepada peserta didik yang memiliki nilai diatas rata-rata untuk mendapatkan tambahan materi dan pengetahuan.

- Remidial diberikan kepada peserta didik yang memiliki nilai dibawah rata-rata untuk mendapatkan ulang penjelasan terkait materi yang dibahas.

Refleksi Peserta Didik & Guru • Apakah ada kendala pada kegiatan pembelajaran ?

• Apakah semua peserta didik aktif dalam kegiatan pembelajaran?

• Apa saja kesulitan peserta didik yang dapat diidentifikasi pada kegiatan pembelajaran?

• Apakah peserta didik yang memiliki kesulitan ketika berkegiatan dapat teratasi dengan baik?

• Apa level pencapaian rata-rata peserta didik dalam kegiatan pembelajaran ini?

• Apakah seluruh peserta didik dapat dianggap tuntas dalam pelaksanaan pembelajaran?

• Apa strategi agar seluruh siswa dapat menuntaskan kompetensi?

(47)

MODUL 3

K3LH PADA PENGELASAN DAN FABRIKASI LOGAM

41 DAFTAR PUSTAKA

1. Direktorat Jenderal Pertambangan Umum. Pusat pengembangan Teknologi Mineral, Kumpulan Diktat Kursus Keselamatan Kerja", Bandung, 1977.

2. Heinrich, W.W,"Industrial Accident Prevention a Safety Management Approach", fifth edition, McGraw Hill Book Company, New York, 1980

3. Lynch, Warwicjk, Wilson, "Safety Training Observation Program

4. Sumakmur, P. K. M.Sc, "Keselamatan Kerja dan Pencegahan Kecelakaan", PT.Gunung Agung, Jakarta, 1981

5. Dinas Pertambangan Tingkat Jawa Tengah,"Pedoman Keselamatan Kerja Pertambangan Bahan galian Golongan C", Semarang 1995

Referensi

Dokumen terkait

Menerapkan teknik penyambungan logam pelat dengan pelat pada sambungan sudut dan tumpul posisi vertical (3F& 3G) dan pengelasan pipa posisis 1 G menggunakan las busur manual

dalam kesetimbangan di bawah aksi dua gaya saja. 3) Semua gaya luar dikenakan pada sambungan engsel. Batang Dua Gaya.. KONSTRUKSI LOGAM DASAR TEKNIK TEKNIK MESIN – TEKNIK

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan modul yang layak digunakan untuk pembelajaran praktek fabrikasi di Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya.

2. Pelaksanaan pengelasan harus dimulai dari sambungan dengan tingkat penyusutan yang lebih tinggi atau dengan jumlah lapisan logam yang lebih besar. Pengelasan

Menguasai Materi, struktur, konsep Rekaya teknologi Merencanakan pekerjaan / proyek pada pembuatan Menganalisis berbagai benda kerja fabrikasi logam untuk rancang bangun benda

Las elektroda terbungkus adalah cara pengelasan yang banyak digunakan pada masa iniiidalam cara pengelasan ini digunakan kawat elektroda logam yang dibungkus dengna

Modul ini membahas penerapan K3LH dan budaya kerja industri dalam praktik kerja yang aman, bahaya di tempat kerja, prosedur keadaan darurat, dan budaya kerja industri yang ringkas, rapi, resik, rawat, dan

PERTEMUAN 1 KEGIATAN PEMBELAJARAN PENDAHULUAN : ● Siswa membersihakan bengkel sebelum memulai kegitan pembelajaran ● Salah satu siswa secara mandiri memimpin doa bersama untuk