• Tidak ada hasil yang ditemukan

Motivational Quotes Berlatar Gedung Pencakar Langit di Media Sosial

N/A
N/A
Nuarita Novianasari

Academic year: 2023

Membagikan "Motivational Quotes Berlatar Gedung Pencakar Langit di Media Sosial"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

Motivational Quotes Berlatar Gedung Pencakar Langit di Media Sosial:

Sebuah Studi tentang Digital Society di Instagram

Nuarita Novianasari

Departemen Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Gadjah Mada, [email protected]

Abstract

Instagram as a social media has brought people's daily life and urban modernity into the domain of visual culture.

Instagram’s millennial urban workers user were sharing motivational quotes adopted in activities and work using photos of cityscape as a their background. The tendency to use photos of cityscape is an indication of a society orientation that refers to the lifestyle typical of Indonesian urban culture. The purpose of this article was to determine the image of society by using Instagram media to upload phrases and consumption patterns for the production of cityscape images by millennial workers.

This study uses a purposive sampling method to track posts by millennial young workers uploaded on Instagram feeds or stories. The data is processed using qualitative methods with a semiotic approach to enrich the research results. This research used Spectacle of Society Theory by Guy Debord (1967). The results found that there are efforts to achieve a higher lifestyle as a representation of urban society through uploading daily activities, work and cityscape or skyscraper.

On the one hand, there is a tendency to only present an ideal and artistic image of communal life and urban space, while the image of a city with its hustle and bustle due to population density is ignored. The limitations of this study lie in the Instagram social media platform and the metropolitan area of Jakarta and Surabaya in Indonesia. This research is important to develop in the future considering the convergence of urban settings with social media as a spectacle is still rarely discussed.

Keywords: cityscape, instagram, Guy Debord, digital society

Abstract

Media sosial Instagram telah membawa kehidupan sehari-hari masyarakat dan modernitas perkotaan ke dalam ranah budaya visual. Para pekerja urban millenial pengguna Instagram berbagi kutipan motivasi yang diadopsi dalam kegiatan dan pekerjaan menggunakan foto lanskap kota (cityscape) sebagai latar belakang. Kecenderungan penggunaan foto lanskap kota merupakan indikasi orientasi masyarakat yang mengacu pada gaya hidup khas budaya urban Indonesia. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui citra masyarakat dengan menggunakan media Instagram untuk mengunggah frasa dan pola konsumsi produksi ruang gambar lanskap kota oleh kaum pekerja millenial. Penelitian ini menggunakan metode purposive sampling dalam melacak postingan pekerja muda millenial yang diunggah di feeds maupun stories Instagram. Data diolah menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan semiotika untuk memperkaya hasil penelitian. Teori yang digunakan adalah Spectacle of Society milik Guy Debord (1967). Hasil penelitian menemukan bahwa terdapat upaya untuk mencapai gaya hidup yang lebih tinggi sebagai representasi masyarakat urban melalui unggahan aktivitas keseharian, pekerjaan dan foto lanskap kota. Di satu sisi, ada kecenderungan untuk hanya menampilkan gambaran kehidupan komunal dan ruang kota yang ideal dan artistik, sementara gambaran kota dengan hiruk-pikuk akibat kepadatan populasi diabaikan. Keterbatasan penelitian ini terletak pada platform media sosial Instagram dan wilayah metropolitan kota Jakarta dan Surabaya di Indonesia. Penelitian ini penting untuk dikembangkan di masa mendatang mengingat konvergensi setting perkotaan dengan media sosial sebagai spectacle masih jarang diperbincangkan.

Keywords: Lanskap kota, instagram, Guy Debord, masyarakat digital

PENDAHULUAN Now, I just fell in love And I just quit my job I'm gonna find new drive

Damn, they work me so damn hard Work by nine, then off past five And they work my nerves

That's why I cannot sleep at night I'm lookin' for motivation I'm lookin' for a new foundation And I'm on that new vibration

(2)

I'm buildin' my own foundation

dalam lagu “Break My Soul” (2022) oleh Beyoncé di album Renaissance: Parkwood Entertainment and Columbia Records

Penggalan lirik lagu diatas merupakan pengantar studi kasus yang akan penulis kaji dalam penelitian ini tentang ritme masyarakat urban modern di masa sekarang: peningkatan produksi, rutinitas dan mobilitas pekerjaan tinggi, kurangnya istirahat, dan saling berkompetisi,untuk sukses. Sebuah lagu dari Beyoncé tersebut mengkritisi kehidupan modern urban yang terjebak dalam rutinitas budaya gila kerja untuk membuktikan bahwa seseorang tersebut bekerja dengan sangat keras dan produktif setiap waktu. Konstruksi budaya tersebut dibentuk oleh situasi perkotaan yang serba cepat dengan daya persaingan yang tinggi. Hal ini mengakibatkan orientasi masyarakat berfokus pada kemajuan menuju pembangunan, daya saing kerja dan perluasan ekonomi. Lebih jauh, orientasi ini kemudian berkembang menjadi satu fenomena yang dikenal dengan istilah ‘hustle culture’.

Hustle culture, menurut Balkeran (2020) merupakan ‘phenomena that existed prior to the Industrial Revolution's work safety laws to perpetuate worker exploitation and terrible working conditions.’ Budaya kerja yang tidak sehat dan berbahaya, upah rendah serta jam kerja yang panjang adalah salah satunya. Budaya ini berpandangan bahwa untuk bisa mencapai kesuksesan dan kestabilan ekonomi, maka bekerja dengan keras salah satu komponen paling signifikan. Para pekerja memposisikan diri mereka dalam satu kondisi psikologis untuk terus bekerja lebih keras dan menjalani gaya hidup yang selalu aktif setiap hari. Pengguna media sosial, khususnya Instagram, mengadaptasi mentalitas dan etos kerja ini untuk mengembangkan citra diri mereka.

Setyawati (2020) mendefinisikan hustle culture dari aspek psikologi sebagai budaya yang membuat seseorang menganut workaholism atau gila kerja. Budaya gila kerja di kalangan pekerja muda (millenial), khususnya yang baru saja lulus dan mendapatkan pekerjaan dijadikan standar untuk mengukur produktivitas dan kinerja. Banyak faktor penyebab terjadinya hustle culture, salah satunya adalah kaburnya batas kehidupan kerja akibat distraksi digital. Perkembangan dunia teknologi yang kian pesat, menjadikan batasan antara kehidupan kerja dan kehidupan pribadi menjadi kabur dan bias, terutama setelah hadirnya internet. Misalnya saja, di era sekarang pekerjaan dapat dikirim melalui surel dan diterima kapan saja tak mengenal batas waktu; panggilan dari tempat kerja harus dijawab pada jam-jam tak biasa di luar waktu bekerja, bahkan hingga larut malam.

Perbedaannya, saat ini hustle culture diakui sebagai gaya hidup (lifestyle) oleh generasi muda millenial, dan menjadi salah satu self-branding yang tidak terpisahkan dengan hadirnya media sosial sebagai wadah distribusi berbagai jenis konten, khususnya Instagram. Caldeira dkk. (2018) mengklaim bahwa, Instagram can be used to represent oneself through the visibility of images in one's account. Klaim Caldeira tersebut bukan tidak berdasar, saat ini dapat dilihat bahwa karakteristik platform Instagram yang paling menonjol adalah dalam hal representasi penggunanya melalui visual yang ditampilkan. Alwisol (2010) mendukung asumsi ini dengan argumen bahwa melalui Instagram, seseorang dapat mendapatkan representasi dirinya dengan cara mengunggah foto diri atau video aktivitasnya melalui instastory, dan ditambahkan filter yang menarik, kemudian membagikan foto di Instagram feed sebagai bentuk representasi diri dalam menggunakan aplikasi Instagram tersebut.

Tujuan utama penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi pembentukan citra publik melalui pola produksi dan konsumsi pada akun-akun inspiratif yang kemudian diadopsi oleh pengguna Instagram lainnya, serta tren generasi muda yang membagikan foto cityscape ke unggahan Instagram beserta caption motivasi.

Banyak akun pengguna Instagram yang membahas bagaimana produktivitas kerja dan memasukkan atau mengubah kalimat-kalimat motivasi terkenal untuk menjadikannya ‘memotivasi’ dan ‘menginspirasi’, seperti

Happiness is the real sense of fulfillment that comes from hard work.” dan “Hustle makes dreams happen

disertai dengan tagar #ThankGodItsMonday .

Pernyataan tersebut kemudian dijadikan referensi oleh pengguna Instagram untuk memamerkan kegiatan atau pekerjaannya melalui unggahan Instagram. Kemudian fenomena ini berkembang menjadi tren unggahan yang melibatkan atau mengunakan cityscape maupun skyscraper sebagai latar belakang. Tren mengunggah latar belakang menggunakan cityscape maupun skyscraper di linimasa Instagram diramaikan oleh para pekerja perkotaan, mayoritas para fresh graduate yang baru saja lulus dan mendapatkan pekerjaan. Mereka membagikan kegiatan kerja lembur, aktivitas keseharian di dalam kantor disertai pemandangan dari lantai atas gedung untuk menunjukkan pola produksi. Selain itu, objek penelitian ini menjadi menarik dengan kehadiran salah satu gedung pusat perbelanjaan di Jakarta, Ashta, di kawasan SCBD Sudirman, yang telah meningkatkan perhatian dan kegemaran akan fotografi dengan tema gedung menara atau representasi kehidupan perkotaan modern.

Toscano (2017) dalam penelitiannya menyatakan bahwa ruang publik, seperti media sosial Instagram digunakan untuk menciptakan kembali berbagai narasi kehidupan sehari-hari. Mereka mengekplorasi kota dan berbagai tempat publik, membagikan temuan mereka, dan membuat gambar dan pengalaman baru yang mengakibatkan media sosial dapat menangkap dinamisme tempat-tempat metropolitan dan kemudian membentuknya kembali.

(3)

Oleh karena itu, tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengeksplorasi pembentukan citra publik melalui pola produksi dan konsumsi dalam akun-akun motivasi, yang kemudian diadaptasi menjadi tren para pekerja urban untuk mengunggah foto-foto cityscape dan skyscraper (gedung pencakar langit) ke akun Instagram. Lebih jauh, penelitian ini juga menyoroti bagaimana pengunggahan kutipan motivasi dan foto-foto cityscape maupun skyscraper menjadi representasi mayarakat urban. Riset ini penting karena membahas masalah kritis yang sering mempengaruhi para pekerja urban yang masih muda. Penelitian ini dapat memberikan perspektif baru tentang isu hustle culture untuk menghindari kejenuhan dan pengetahuan baru tentang bagaimana sistem tren di akun media sosial yang berorientasi pada kaum muda. Lebih jauh lagi, bagaimana kaum muda menggunakan struktur-struktur besar untuk mmbentuk identitas diri dan sebagai satu pendeklarasian bahwa mereka adalah bagian dari masyarakat dan budaya urban. Sehingga, subjek utama dalam riset ini adalah unggahan di akun Instagram anak muda yang menjadi representasi dan identitas sebuah kota.

TINJAUAN PUSTAKA

Personal Branding melalui Hustle

Fenomena hustle culture telah mendarah daging dalam identitas masyarakat perkotaan yang identik dengan modernitas dan metropolitan. Berdasarkan kajian literatur, dalam Idriss (2021) mengungkap bahwa para pekerja kreatif di Australia menggunakan ‘citra penipu’ untuk menegosiasikan tujuan dan ambisi pribadi agar dapat diterima oleh masyarakat melalui ethno-entrepreneurship. Salah satu ranah yang digunakan oleh para penggunanya untuk mempopulerkan situasi ini adalah media sosial. Carter (2016) juga mengutip dua kategori pengaruh dari Instagram, salah satunya adalah para pengguna akun media sosial menggunakan branding dan hastag hustling untuk ‘menjual diri’. Personal branding yang dilakukan oleh influencer atau pengguna Instagram lainnya, menurut Jacobson (2020) menghasilkan orang-orang yang selalu on the job-market dengan identitas profesional.

Menciptakan Identitas Urban/Perkotaan Baru

Selain hustle culture, kajian tentang konstruksi citra kawasan perkotaan yang modern dan metropolitan juga telah dilakukan sebelumnya. Stevens (2021) menyatakan bahwa influencer di Amerika Serikat menggunakan identitas dan budaya kulit hitam sebagai komoditas untuk mendapatkan modal budaya dan ekonomi melalui pengaturan perkotaan yang menarik. Menurut Eldik et al. (2019), social media plays a role in migrant urban identity negotiations. Harga diri dan pemberdayaan para kaum muda erat kaitannya dengan identifikasi diri sebagai bagian dari masyarakat kota. Influencer di Rotterdam misalnya, mengembangkan identitas perkotaan yang mencakup gerakan budaya seperti sepak bola dan hiphop untuk audiens lokal mereka (dalam Eldik, et al, 2019). Sejalan dengan itu, Kertamukti (2019) meneliti aktivitas yang dilakukan melalui media sosial, khususnya Instagram story yang menggambarkan pembentukan identitas kelas menengah melalui kebiasaan bersenang- senang, yang kemudian dilihat sebagai indikasi bahwa mereka berada pada kelas sosial yang berbeda.

Komodifikasi Ruang sebagai Tontonan

Beberapa penelitian sebelumnya telah mendiskusikan tentang komodifikasi ruang sebagai tontonan, seperti Gerrard dan Farugia (2015) yang melihat bagaimana tunawisma didiskusikan di ruang publik dan mengilustrasikan bagaimana representasi kemiskinan, politik estetika dan konsumerisme saling terkait.

Penelitian yang dilakukan oleh Smith (2019) menghasilkan konklusi, the ideological depiction of a landscape is employed as a form of selfbranding or a commodity exchanged on Instagram. Sejalan dengan itu, Mercer dan Mayfield (2015) menemukan monetisasi ruang dilakukan melalui praktik kreatif budaya di Melbourne, seperti festival seni dan pembangunan tempat tontonan. Hal ini digunakan untuk merevitalisasi ekonomi perkotaan sekaligus membedakan kota satu dengan yang lain.

METODE PENELITIAN

Riset kualitatif ini menggunakan studi tekstual dengan teknik semiotik sosial untuk menganalisis makna frasa, tren, cityscape dan skyscraper yang memotivasi seperti yang digambarkan dalam pengguna Instagram.

Buku bertajuk Social Semiotics (2006) karya Gunther Kress dan Theo Van Leeuwen membahas praktik penandaan oleh manusia dalam situasi sosio-kultural tertentu, serta sistem pembentukan makna dalam suatu medium seperti ucapan, tulisan, gambar dan video, yang dapat mencakup visual, verbal, pendengaran, dan gerakan di dalamnya. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Arindita (2017) dengan menggunakan metode semiotik sosial, penyanyi Andien Aisyah melalui akun Instagram @andienippekawa yang sengaja dibuat setelah ia menjadi seorang ibu untuk mengunggah foto kesehariannya bersama anak-anak guna mendapatkan pengakuan sebagai seorang ibu yang ideal dari publik atau masyarakat luas. Menurut Widianingsih et al. (2021),

(4)

representasi dapat membantu membangun personal branding dengan menciptakan simbol-simbol yang disesuaikan dengan bagian-bagian kreasi personal branding Montoya. Prishandani (2021) menyebutkan bahwa menafsirkan suatu gambar dapat digunakan untuk melakukan penelusuran multimodal semiotik. Frasa posesif, pernyataan persuasif, dan peribahasa adalah beberapa kata kerja yang ada di setiap gambar.

Selain itu, teori Spectacle of Society milik Guy Debord digunakan untuk mengkaji fenomena urban spectacle dalam penelitian ini. Namun sebelumnya, Horta (2016) telah melakukan penelitian tentang narasi positif tubuh melalui proses komodifikasi untuk tujuan kapitalis, dimana studi ini merupakan salah satu studi yang menggunakan gagasan milik Guy Debord. Kemudian ada Andreas (2016) yang melihat demonstrasi

‘Gejayan Memanggil’ yang diunggah di media sosial Instagram untuk membantu seseorang mengembangkan citra dirinya sebagai objek dengan cara memisahkan diri dari pengguna lain (distinction). Platform media sosial yang lain, menurut Karuaningsih (2022) menjadi tontonan transmisi ideologi tentang panutan dan standar hidup remaja, terutama gaya hidup hedonistik.

Purposive sampling dipilih sebagai metode pengumpulan data untuk memperoleh data dengan mengidentifikasi keunikan kualitas postingan dari akun pengguna Instagram yang relevan dengan tujuan penelitian. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan paradigma konstruktif untuk mendapatkan pemahaman mendalam tentang suatu masalah, alih-alih deskripsi permukaan dari sampel populasi yang besar.

Korpus yang diteliti terdiri dari Instagram story atau snapgram maupun feed dari empat akun. Satu pengguna Instagram adalah pria, dan lainnya adalah wanita.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Paradoks Produktivitas dalam Unggahan Pekerja Urban

Hustle culture yang digambarkan dalam unggahan pengguna Instagram memang lebih mementingkan citra publik yang dipamerkan di media sosial, daripada legitimasi foto tersebut. Menurut Debord (2004), kondisi modern di sisi produksi masyarakat hadir sebagai akumulasi tontonan yang sangat besar. Segala hal yang dulunya menjadi prinsip hidup, telah direduksi menjadi representasi atau gambar belaka. Spectacle atau tontonan adalah kebalikan dari kehidupan. Orang-orang menggunakan Instagram sebagai pertunjukan untuk memperjuangkan tingkat popularitas tertinggi dengan semua foto yang mereka unggah, tetapi mereka juga membiarklan diri mereka sendiri sebagai objek karena mereka tidak memiliki klaim sejati atas diri mereka sendiri. Berikut contoh kutipan di akun motivasi yang kemudian diadaptasi oleh pengguna Instagram:

Gambar 1

Unggahan kutipan motivasi oleh pengguna Instagram dan diadopsi ke kehidupan nyata

Gambar 1 diatas menunjukkan bahwa kutipan motivasi yang berasal dari seorang tokoh terkenal yang kemudian di unggah di akun-akun motivasi memberikan kesan ‘positif’ dan ‘berpikir optimis’. Sehingga oleh pengguna tersebut diunggah dalam snapgram dengan latar belakang lanskap kota tempat kantornya berada.

(5)

Kemudian, berlanjut pada gambar di sebelah paling kanan menunjukkan bagaimana ia mengadopsi dan menginternalisasi tulisan motivasi tersebut ke dalam kehidupan nyata. Tertulis ‘Sunday’ dan ia berada di satu bangunan gedung tinggi dengan membawa laptop pada unggahan instasory tersebut yang menandakan bahwa meskipun hari Minggu, ia tetap produktif dan bekerja.

Kemajuan pesat dalam teknologi komunikasi elektronik telah mengurangi kebutuhan komunikasi tatap muka dalam bekerja, bisnis, juga hubungan dengan manusia lainnya. Menurut Hill (2018), platform teknologi memungkinkan individu dan bisnis untuk memonetasi produk, layanan, saran dan kepribadian pekerja dan konsumen dengan cara baru. Kemandirian finansial untuk para pekerja tidak lagi terbatas pada ruang kantor atau tempat publik lainnya, melainkan dapat dimulai di rumah. Hal ini menjadi parado ketika rumah yang seharusnya digunakan sebagai tempat istirahat dan kehidupan pribadi, namun di satu sisi dapat juga digunakan sebagai tempat bekerja. Fenomena ini jelas menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang jelas antara ruang profesional dan pribadi dalam fenomena hustle culture.

Ironi lain yang ditemukan adalah bagaimana sikap yang direpresentasikan oleh kutipan-kutipan motivasi menjadi nilai jual bagi mobilitas sosial ketika foto tersebut dibagikan ke platform media sosial Instagram. Para pekerja urban berusia muda yang baru saja lulus, tidak hanya ingin bekerja keras, melainkan juga ingin menggunakan media sosial, khususnya Instagram untuk membangun identitas dan signifikansi mereka. Para pekerja menggunakan teknologi berupa platform media sosial untuk menciptakan persona idaman mereka sebagai seorang profesional saat di dunia maya. Kecenderungan produksi pengguna Instagram ditampilkan kepada pengguna lain. Menurut Debord (1967), the spectacle "unifies and explains a wide range of apparent phenomena”. Produksi dan konsumsi gambar, komoditas, dan agenda yang disuguhkan adalah inti dari media dan masyarakat konsumen. Pentingnya produktivitas di tempat kerja terekam dalam unggahan di Instagram ini.

Penggambaran kesuksesan jabatan dan karya lebih penting daripada verifikasi kesuksesan diri mereka sendiri. Para pengguna berusia muda di Instagram percaya bahwa satu-satunya hal yang menghalangi kesuksesan adalah kemalasan, maka jika mereka bekerja cukup keras, mereka dapat merubah dunia. Ini berkaitan dengan kepositifan yang beracun (poisonous positivity); jika unggahan tersebut menjadi spectacle atau tontonan, maka nilai usaha kerasnya akan tertukar atau dapat terserap. Oranglain yang menonton akan menjadi sesukses dirinya; mendapat pekerjaan di perusahaan besar bereputasi di pusat kota metropolitan jika mengikuti kutipan motivasi ini. Meskipun pesan dari kutipan tersebut tampak bernilai positif dan tidak berbahaya, namun penerapan dari tujuan ini yang membahayakan. Toksisitas yang terbentuk akan menyebabkan orang percaya bahwa hal-hal positif saja dan harus menghindari hal-hal negatif; dimana ini sangat politis mengingat sebelumnya ada konstruksi positif dan negatif, aktif dan pasif, serta produksi dan konsumsi. Pengguna Instagram kemudian akan menilai harga diri dan nilai diri mereka berdasarkan produktivitas yang mereka hasilkan, dan bagaimana ini terkait dengan revolusi industri, yang mengadu domba manusia dengan mesin.

Akibatnya, konstruksi citra pengguna Instagram dipengaruhi oleh etos kerja saja.

Berbeda dengan gila kerja (workaholic), pengguna Instagram merasa harus membual tentang beban kerja mereka dan bahkan pada satu titik sampai menertawakannya atau membuat lelucon. Para pengguna tersebut menunjukkan melalui unggahan seberapa keras mereka bekerja dan seberapa sibuk mereka kepada seluruh dunia. Mereka ingin memberitahukan bahwa mereka bekerja lebih keras daripada yang lainnya dan seolah-olah tidak ada yang bisa mengalahkan apa yang mereka lakukan karena hal tersebut merupakan suatu keterampilan khusus. Oleh karena itu, fenomena ini berkaitan dengan ironi bahwa para seseorang yang benar- benar sibuk tidak akan membuang waktunya dengan mengunggah foto dan komentar di media sosial. Perilaku ini kemudian dapat dikomparasi dengan permasalahan sistemik seperti pada kemiskinan. Dalam hemat penulis, berpikir optimis, bekerja keras dan pantang menyerah tidak akan menyelesaikan akar masalah. Bahkan untuk satu, dua dan masyarakat kecil yang dapat berhasil dan disebut sukses pun tidak dapat mewakili jutaan masyarakat yang kurang beruntung secara ekonomi.

Hal ini dapat mengarah pada klasifikasi tertentu sebagai strategi untuk mempertahankan status quo dan menghindari keragaman cara berpikir. Monetisasi kebahagiaan atau aktivitas konsumsi-produksi itu sendiri mengikuti narasi positif melalui aktivitas kerja yang dipublikasikan. Penguatan yang terjadi di kalangan luas bahwa kehidupan pekerja di Instagram adalah orientasi budaya urban dan modenitas, yang kemudian direferensikan dalam narasi kebahagiaan. McKechnie (1974) berpendapat bahwa gaya hidup di perkotaan lebih cenderung menghargai kehidupan dengan kepadatan tinggi, hubungan interpersonal yang beragam dan juga keragaman budaya. Keberadaan masyarakat metropolitan yang digambarkan penuh kesenangan dan bahagia − jauh dari realita sebenarnya – mengarah pada legitimasi kelompok elit yang mendominasi dan tidak membutuhkan perubahan seperti kelas sosial lainnya.

(6)

Lanskap Kota dan Gedung Pencakar Langit sebagai Indikator Urban Society

Henri Lefebvre (1991) menulis dalam karyanya yang berjudul The Production of Space bahwa space is not only something that may be consumed, but also exploited as an instrument of power by the ruling classes to obtain control over space that is expanding. Relasi sosial menghasilkan ruang, dan ruang sosial adalah hasil dari ikatan sosial (Lefebvre, 1991: 26). Kemudian, Debord (2006) menyatakan bahwa tontonan (spectacle) adalah puncak ideologi karena ia sepenuhnya mengungkapkan dan memanifestasikan inti dari semua sistem ideologis, seperti kemiskinan, perbudakan dan lain sebagainya.

Spectacle melestarikan sifat-sifat materialisme dengan merepresentasikan realitas melalui media teknis tanda, seperti bangunan. Baecham (2016) juga menunjukkan bagaimana gagasan spectacle dari Debord digunakan sebagai symbol kemewahan, popularitas, kemakmuran, control dan kekuatan militer bagi rakyat.

Megaproyek dirancang untuk menunjukkan bagaimana perkembangan wilayah kota yang luar biasa dan sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi dan menarik investasi modal asing.

Peningkatan fenomena urbanisasi dari waktu ke waktu, terutama selama periode beberapa dekade terakhir, terutama di Negara-negara berkembang seperti Indonesia, berbanding lurus dengan peningkatan infrastruktur dan gedung-gedung tinggi. Antar kota di seluruh dunia bersaing untuk membangun struktur bangunan tertinggi di dunia, sampai ada yang mengadakan kompetisi untuk membangun struktur gedung tertinggi yang paling ikonik dan megah.

Gambar 2

Unggahan gedung pencakar langit oleh pengguna Instagram

Gambar 2 memperlihatkan kolase dan kegiatan ketika berada di kantor dengan menggunakan latar belakang gedung pencakar langit di kawasan elit perkotaan di wilayah Jakarta. Gambar tersebut sekaligus ingin menunjukkan bahwa ruang tidak lagi dilihat semata-mata untuk kegunaannya sebagai tempat bekerja, namun juga nilai estetikanya. Kemudian, pengguna Instagram juga menambahkan efek atau filter untuk meningkatkan nilai estetika tampilan struktur yang menjulang tinggi. Bangunan tinggi tersebut selanjutnya dapaat dipandang sebagai representasi supremasi pengguna Instagram. Selain itu menilik dari Gambar 2, ruang kerja tidak lagi berfungsi hanya sebagai tempat bekerja saja, melainkan sebagai kreasi identitas penggunanya sebagai pekerja.

Sewaktu sebuah fotografi dibagikan, menurut Van Dijk (2008), bisa berfungsi sebagai alat untuk pengembangan identitas.

(7)

Selain gedung pencakar langit di Jakarta, beralih di salah satu mall terbesar di Surabaya yakni Tunjungan Plaza yang menjadi perhatian pengguna Instagram. Surabaya adalah kota terbesar kedua setelah Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Pusat perbelanjaan di pusat kota ini menciptakan suasana urban yang menarik untuk dijadikan lokasi OOTD (Outfit Of The Day) yang popular dan instagramable. Menurut Febriyanti (2018), pengelola dan netijen menggunakan situs-situs instagramable untuk menyebarkan gambar artefak pariwisata melalui akun Instagram resmi guna meningkatkan minat wisatawan. Pengguna Instagram dapat berkomunikasi melalui penampilan mereka dengan mengkurasi citra diri dan membangun identitas mereka sendiri melalui gambar dan video yang diambil dan dipilih untuk diunggah atau dibagikan di akun pribadi mereka (Siebel, 2019).

Gambar 3

Unggahan gedung pusat perbelanjaan Tunjungan Plaza Surabaya oleh pengguna Instagram

Pada Gambar 3 memperlihatkan bagaimana aktivitas konsumen, khususnya di ruang terbuka gedung Tunjungan Plaza Surabaya yang mendefinisikan gaya hidup perkotaan. Gaya hidup perkotaan yang ditampilkan adalah gaya hidup modern dengan ciri jendela kaca yang lebar, dan desain bangunan yang minimalis industrial dan futuristik−mencerminkan kesan indah dan modern. Rona dominan bangunan adalah abu-abu, putih atau hitam, yang melambangkan kecerdasan, masa depan, keanggunan dan kehalusan. Wirth (1938) mengungkapkan bahwa masyarakat urban (urban society) merupakan komponen dari modernitas. Individualitas, rasional, serba cepat dan instan menjadi kecenderungan ciri gaya hidup modern. Lebih lanjut, Gambar 2 dan Gambar 3 mengasosiasikan kecenderungan bangunan besar atau gedung pencakatr langit, dan lanskap kota sebagai evidensi bahwa mereka termasuk bagian dari sebuah peradaban kota.

Namun, spectacle selalu melahirkan sebuah paradoks atau ironi−sebagaimana ia ingin menggantikan realitas dengan ilusi dan persepsi saat ini yang belum tentu mencerminkan latar keadaan ruang kota dan masyarakat yang sebenarnya. Citra pekerja kantoran di gedung-gedung timggi dijadikan sebagai suatu orientasi atau standar masyarakat yang sejahtera dan ideal. Ini tentu saja mengabaikan fakta bahwa para pekerja ini hanyalah budak perusahaan yang menggunakan gedung-gedung tinggi dan foto lanskap kota sebagai simbol masyarakat perkotaan yang lebih baik, kontemporer, dan kuat (struggle) untuk meningkatkan estetika tempat kerja mereka. Estetika dalam konteks kehidupan kerja masyarakat metropolitan tampaknya mencakup eksploitasi energi dan waktu, yang dapat menimbulkan masalah kedepannya, seperti kejenuhan. Ironi ini muncul kembali ketika para pekerja ini dipasangkan dengan instruktur yang bekerja di fasilitas pendidikan yang lebih tua dan kurang modern, terutama di daerah pedesaan, dimana upah yang didapat rendah dan berfluktuasi dengan ekonomi. Jika dibandingkan dengan pegawai kantoran di gedung pencakar langit, profesi guru/pendidik akan tampak lebih esensial, signifikan, dan mulia.

SIMPULAN

Media sosial Instagram memungkinkan penggunanya untuk membuat identitas sebagai professional dan anggota budaya urban. Unggahan Instagram menjadi konsumsi simbolis, dan penggunanya juga

(8)

mengasosiasikan arsitektur dengan imajinasi identitas pilihan mereka. Bangunan-bangunan yang menjadi latar belakang unggahan menunjukkan bahwa yang keren dan kekinian adalah way of life di sebuah kota. Para pengguna harus mencermati estetika foto yang akan diunggah di media sosial adalah satu hal yang menunjukkan bagaimana pola produksi dan konsumsi akan selalu berpihak pada satu pihak, yakni pemilik modal dan kekuasaan. Fokus ruang kota kemudian bergeser menjadi pembangunan berorientasi objek. Di sisi lain kota, hal ini menimbulkan ironi. Instagram, pada akhirnya, menjadi kriteria untuk mengklasifikasikan atau membagi masyarakat aktif-pasif , masyarakat modern-kuno dan membentuk kelompok komunitas atau elit.

Ironi ini juga berlaku bagi pemukiman kumuh terpencil yang terabaikan dan tersingkir di ruang metropolitan, namun dihadirkan dan direalisasikan dengan penggambaran kota Jakarta dan Surabaya sebagai kota modern dan canggih. Akibatnya, muncul tren dimana bangunan dibuat semata-mata hanya untuk menimbulkan efek spektakuler, yang merupakan ciri khas modern spectacle untuk mendapatkan efek kejutan dalam representasinya. Konsep modernitas dan universalitas melalui pembangunan yang meniru perkembangan global harus dikaji ulang, mengingat ruang harus disikapi sesuai dengan karakteristiknya masing-masing UCAPAN TERIMAKASIH

Penulis mengucapkan terimakasih banyak kepada Program Beasiswa Dalam Negeri Kenenterian Komunikasi dan Informatika RI selaku pemberi dana, Departemen Ilmu Komunikasi Universitas Gadjah Mada selaku afiliasi dari penulis dan semua pihak yang telah membantu dalam pelaksanaan penelitian dan penulisan manuskrip ini.

DAFTAR PUSTAKA

[1] Altman, I. (1980). Culture and Environmnet. California: Brooks/Cole Publishing.

[2]Andreas, R. (2020). INSTAGRAM DALAM PERSPEKTIF MASYARAKAT TONTONAN “GEJAYAN MEMANGGIL”. Jurnal Ilmiah Dinamika Sosial. Volume 4 (1).

[3] Arindita, R. (2017). Representasi Ibu Ideal Pada Media Sosial (Analisis Multimodality Pada Akun Instagram @Andienippekawa). Jurnal Komunikasi Global, Volume 6, Nomor 2, 2017

[4] Balkeran, A. (2020). Hustle Culture and the Implications for Our Workforce. CUNY Academic Works: Baruch College [5] Carter, D. (2016). Hustle and Brand: The Sociotechnical Shaping of Influence. Research Article

[6] Debord, G. (2004). The society of the spectacle. Rebel Press.

[7] Debord, G. (2006). The Commodity as Spectacle. In M. G. Durham & D. M. Kellner (Eds.), Media and Cultural Studies (1st ed., pp. 117–

121). Malden, USA: Blackwell Publishing Ltd.

[8] Eldik, al. (2019). Urban Influencers: An Analysis of Urban Identity in YouTube Content of Local Social Media Influencers in a Super- Diverse City. Frontiers in Psychology

[9] Elsheshtawy, Yasser (2010). Dubai: Behind an Urban Spectacle. Oxfordshire: Routledge

[10] Gerard & Farugia. (2014). The ‘lamentable sight’ of homelessness and the society of the spectacle. Urban Studies.

[11] Horta, J.C (2016). The Commodification of the Body Positive Movement on Instagram. Culture/Politics/Technology 2016, Vol 8(2), 36-56.

[12] Idriss, s. (2019). The ethnicised hustle: Narratives of enterprise and postfeminism among young migrant women. European Journal of Cultural Studies

[13] Jacobson, J. (2020). You are a brand: social media managers’ personal branding and “the future audience”. Journal of Product & Brand Management. Emerald Publishing Limited [ISSN 1061-0421]

[14] Jennings, Michael W., et al (ed).(2008). Walter Benjamin: The Work of Art in the Age of Its Technological Reproducibility, and Other Writings on Media. London: Harvard University Press

[15] Kertamukti R., Nugroho H., Wahyono Bayu S. (2018). Komunikasi Visual: Fantasi Tubuh Wanita Kelas Menengah di Instagram. Jurnal Kajian Komunikasi, Vol 6, No 2.

[16] Kress, G. R., & Van, L. T. (2006). Reading images: The grammar of visual design. London: Routledge.

[17] Lan, Al. (2019). Fake science: The impact of pseudo-psychological demonstrations on people's beliefs in psychological principles. The Psychology of Magic, Science of Magic.

[18] Lim GC. (2005) Globalization, spatial allocation of resources and spatial impacts: A conceptual framework. In: Richardson H.W., Bae CH.C. (eds) Globalization and Urban Development. Advances in Spatial Science. Springer, Berlin, Heidelberg.

[19] MacDonald, William L. (1986). The Architecture of The Roman Empire: An Urban Appraisal. New Haven and London: Yale University Press.

[20] McKechnie, G. E. (1972) "A Study Of Environmental Life Styles." Ph.D. Dissertation, University Of California, Berkeley. (Unpublished) [21] Mercer & Mayfiedl. (2015). City of the Spectacle: White Night Melbourne and the politics of public space. Australian Geographer 46(4):1-

28.

[22] Smith, P. (2019). Landscapes for “likes”: capitalizing on travel with Instagram. Social Semiotics 31(4):1-21.

[23] Sofia P. Caldeira, Sofie Van Bauwel & Sander De Ridder. (2018). A Different Point of View: Women's Self-representation in Instagram's Participatory Artistic Movements @girlgazeproject and @arthoecollective, Critical Arts, 32:3, 26-43

[24] Stevens, W.E. (2021). Blackfishing on Instagram: Influencing and the Commodification of Black Urban Aesthetics. Social Media + Society July-September 2021: 1–15.

[25] Toscano, P. (2017). Instagram-City: New Media, and the Social Perception of Public Spaces. Visual Anthropology, Volume 30(3).

[26] Wirth, L. (1938). Urbanism as a Way of Life. The American Journal of Sociology, Vol. 44, No. 1 (Jul., 1938), pp. 1-24, Published by: The University of Chicago Press Stable.

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan utama dari penelitian yang dilakukan adalah melakukan pengenalan pola isyarat tangan statis dalam bahasa Indonesia. Pengenalan pola isyarat tangan statis dalam bentuk

Tujuan penelitian ini: (1) menganalisis perkembangan pola produksi dan konsumsi kedelai nasional, (2) menganalisis respon areal dan produktivitas kedelai. Untuk

Tujuan dari penelitian yang dilakukan ini adalah ingin mengetahui ada tidaknya hubungan antara citra tubuh dan motivasi untuk melakukan latihan pembentukan tubuh

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas, maka tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini untuk menganalis isi pesan pada akun Twitter @clickunbait

Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan pembentukan opini publik tentang citra polisi sebagai dampak dari berita tindak kriminal yang dilakukan polisi dan diangkat di

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis upaya, proses, serta pola interaksi yang dilakukan dalam pembentukan personal branding oleh dua content creator dan

Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui konten yang dibagikan oleh Little Hannah dalam akun Instagram @littlehannah.id, strategi apa saja yang dapat

Melalui penelitian ini, terdapat tujuan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh Social Media Marketing pada akun Instagram @pristine8.id terhadap pembentukan