• Tidak ada hasil yang ditemukan

Multidrug-Resistant Tuberculosis (MDR-TB)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2024

Membagikan "Multidrug-Resistant Tuberculosis (MDR-TB)"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

Multidrug-Resistant Tuberculosis..(Suryadi dkk.)

Multidrug-Resistant Tuberculosis (MDR-TB) : Incidence Rate in Palembang City South Sumatra, Indonesia

Suryadi Tjekyan1, Emma Novita1, Zata Ismah2

1Bagian IKM-IKK, Fakultas Kedokteran, Universitas Sriwijaya, Jalan dr. Moh. Ali, Palembang, 30127

2Magister Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Jalan Padang Selasa, Palembang,

*E-mail: [email protected]

Abstracts

MDR-TB phenomenon was worsened the condition of TB disease and was obstructed TB prevention diseases in the world including Indonesia. The need for a recent data from the incidence of MDR-TB may provide immediate action on the control and prevention of MDR-TB cases. The purpose of this study was to determine the incidence rate of MDR-TB in Palembang city. The research design is crossectional study with observational approach. The study population is all TB patients who had conducted TB examination in Palembang city laboratory with Gen-expert in 2017. a sample total is 1403 samples and data collecting secondary data. Results obtained MDR-TB incidence rate in Palembang City is 1.4%. The most of MDR-TB patients is from male and female sex with 36-35 age. Suggestions that can be given to increased access of OAT to the community and the development of early methods of MDR-TB prevention that includes screening at risk groups.

Keyword: Incident, MDR, TB

Abstrak

Adanya fenomena TB-MDR telah memperparah keadaan penyakit TB dan menghambat program penanggulangan TB di dunia termasuk Indonesia. Perlunya sebuah data miutakhir dari angka kejadian TB-MDR dapat memberikan tindakan segera pada pengendalian dan penanggulangan kasus TB-MDR. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui angka TB-MDR se kota Palembang. Desain penelitian yang dilakukan adalah crossectional study dengan pendekatan observasional. Populasi penelitian adalah semua pasien TB yang sudah dilakukan pemeriksaan TB di laboratorium kota Palembang dengan Gen-expert tahun 2017. Total sampel sebanyak 1403 sampel dan data yang dikumpulkan berupa data sekunder. Hasil didapatkan berupa angka kejadian TB-MDR di Kota Palembang adalah sebesar 1.4%. Proporsi jenis kelamin laki-laki dan perempuan yang menderita TB-MDR hampir sama. Sedangkan berdasarkan kategori usia, kelompok usia 36—55 tahun merupakan kelompok usia paling banyak menderita TB-MDR. Saran yang dapat diberikan berupa meningkatkan akses OAT pada masyarakat dan pengembangan metode deteksi dini skrining TB-MDR yang mencakup skrining kelompok risiko.

Kata Kunci: Insiden, MDR, TB

(2)

memperparah keadaan penyakit TB dan menghambat program penanggulangan TB di dunia termasuk Indonesia. TB-MDR adalah salah satu jenis resistensi basil TB terhadap setidaknya dua obat anti tuberkulosis (OAT) lini pertama yaitu isoniazid dan rifampisin, dua obat OAT yang paling efektif.1

Setiap tahun selalu muncul kasus TB-MDR baru yang dilaporkan. Tahun 2008 ada sekitar 440.000 kasus TB-MDR, sedangkan sejumlah 650.000 kasus TB-MDR pada tahun 2010, kejadian TB-MDR ini kemudian disebut 27 high burden MBR-TB countries oleh WHO Global Report. Berdasarkan data WHO tahun 2016 angka kejadian TB-MDR pada tahun 2015 adalah 30% yang cenderung naik dari tahun 2014 yaitu 22%.2

Indonesia berada pada urutan 9 untuk angka kejadian TB- MDR di bawah India, China, Rusia, Pakistan, Afrika Selatan, Philipina, Ukraina dan Kazakstan.

Berdasarkan data tersebut diketahui bahwa MDR di Indonesia cenderung meningkat dari tahun ke tahun, pada tahun 2008 jumlahnya mencapai 6.427 kasus.

Prevalensi TB-MDR diantara kasus TB baru adalah sebesar 2% dan diantara kasus pengobatan ulang adalah sebesar 12%.3

TB-MDR menjadi tantangan baru dalam program pengendalian TB karena penegakan diagnosis yang sulit, tingginya angka kegagalan terapi dan kematian.

Pengobatan bagi penderita TB-MDR lebih sulit, dengan angka keberhasilan hanya sekitar 50% dan biaya pengobatan yang mahal bahkan sampai 100 kali lebih mahal dibandingkan dengan pengobatan TB tanpa MDR, sehingga bagi negara berkembang menjadi beban yang sangat berat dalam penanggulangannya.4

Berdasarkan penelitian yang dilakukan

biaya pengobatan dan efek samping.5 Pentingnya angka penemuan kasus untuk pembuatan program pencegahan yang tepat dan sedini mungkin. Hasil penemuan data awal angka kejadian TB-MDR dapat memberikan tindakan pengendalian dan penanggulangan segera supaya kasus TB-MDR tidak terus menerus mengalami peningkatan. Menjadi masalah karena belum ada laporan kasus TB-MDR di Kota Palembang. Akan tetapi berdasarkan laporan angka konversi pada register TB-11 dapat dijadikan sebagai gambaran kekhawatiran adanya kasus TB-MDR.

Metode

Desain penelitian ini adalah crossectional study dengan pendekatan observasional. Jenis data yang dikumpulkan berupa data sekunder yaitu rekam medik pasien TB yang berasal dari laboratorium .Populasi penelitian adalah semua pasien TB Paru kota Palembang.

Sampel pada penelitian ini adalah seluruh pasien TB pada tahun 2017;

melakukan pemeriksaan TB di seluruh laboratorium kota Palembang yang melayani pemeriksaan Gen-Expert, berdomisili dan tinggal di kota Palembang.

Adapun jumlah total sampling yang sudah memenuhi kriteria berjumlah 1403 orang.

Kriteria inklusi sampel adalah pasien TB paru dengan hasil BTA positif dan berumur diatas 17 tahun. Sedangkan kriteria eksklusi adalah pasien yang memiliki penyakit paru yang lain dan memiliki riwayat skizofrenia.

(3)

Multidrug-Resistant Tuberculosis..(Suryadi dkk.)

Hasil

Berdasarkan hasil penelitian yang sudah dilakukan, dengan 1043 pasien TB yang sudah melakukan pengecekan

dilaboratorium di Kota Palembang.

Adapun karakteristik pasien dapat dilihat pada tabel 1 berikut :

Tabel 1. Proporsi Pasien dengan Diagnosis TB dan MDR-TB di Kota Palembang Tahun 2017

Diagnosis Frekuensi Persentase

TB 1383 98,6%

MDR-TB 20 1,4%

Total 1403 100%

l Jumlah pasien dengan diagnosis TB paru yang ada di kota Palembang pada tahun 2017 adalah sebanyak 1383 pasien dan 20 diantaranya adalah TB-MDR. Proporsi TB-MDR ini sebanyak 1,4%. estimasi TB-MDR ini sebesar 1425 per 100.000 penduduk . Berdasarkan tabel 2 terlihat bahwa, penderita TB banyak ditemukan pada jenis kelamin laki-laki (62,2%), usia paling banyak berada di kategori usia 36—55 tahun (38,8%) dan paling sedikit

adalah kategori usia >66 tahun (6,9%).

Pada tabel 3, terlihat bahwa proporsi jenis kelamin laki-laki dan perempuan yang mengalami TB-MDR hampir sama dengan persentase masing-masing 55,0% dan 45,0%. Sedangkan berdasarkan kategori umur 36-55 tahun merupakan kelompok usia paling banyak menderita TB maupun TB-MDR dengan persentase masing- masing 38,5% dan 60,0%.

Tabel 2. Karakteristik Pasien TB Menurut Jenis Kelamin

Variabel Frekuensi Persen

Jenis Kelamin

Laki-laki 873 62,2%

Perempuan 530 37,8%

Kategori Umur

17 tahun—25 tahun 217 15,5%

26 tahun—35 tahun 310 22,1%

36 tahun—55 tahun 545 38,8%

56 tahun—65 tahun 234 16,7%

>66 tahun 97 6,9%

(4)

Variabel Diagnosis

TB % MDR-TB % Total

Jenis Kelamin

Laki-laki 862 62,3 11 55,0 873

Perempuan 521 37,7 9 45,0 530

Umur

17-25 tahun 216 15,6 1 5,0 217

26-35 tahun 306 22,1 4 20,0 310

36-55 tahun 533 38,5 12 60,0 545

56-65 tahun 231 16,7 3 15,0 234

>66 tahun 97 7,0 0 0,0 97

Pembahasan

WHO melaporkan 3,5% dari kasus baru TB di seluruh dunia merupakan TB-MDR. Persentase lebih tinggi ditemukan pada kasus TB yang sudah mendapat pengobatan sebelumnya, yaitu sekitar 20,5%. Sedangkan hasil penelitian ini menunjukkan presentase kejadian TB-MDR di kota Palembang sebesar 1,4%.

Cina adalah negara dengan kejadian TB terbanyak kedua. Indonesia merupakan negara kedua terbanyak penderita TB setelah China. Di negara China proporsi penderita TB-MDR adalah sebanyak 6.8%. Dari angka tersebut 5.4%

adalah kasus baru dan 15.4% kasus yang sebelumnya sudah mendapatkan pengobatan. 6 Dari angka ini terlihat bahwa TB-MDR Indonesia masih sedikit dibandingkan China.

Dibandingkan dengan negara India, yang juga memiliki jumlah penduduk yang padat, ditemukan penderita MDR-TB lebih banyak. Angka MDR-TB tersebut sebesar 20.4% pada tahun 2011.7 Kemudian jika dibandingkan dengan negara serumpun seperti Malaysia, insiden kejadian TB-MDR pada penelitian ini hampir sama. Angka TB-MDR di Malaysia sebesar 1,8%.

Di Ethiophia ditemukan 5,7%

tahan terhadap Rifampisin dan Isoniazid.

Prevalensi keseluruhan TB-MDR adalah 5,7% (2,3% di antara kasus baru dan 13,9% di antara kasus yang sebelumnya diobati).8,9

Walaupun angka TB-MDR dalam penelitian ini terbilang kecil dibandingkan penelitian lain, persebaran TB-MDR tetap mengkhawatirkan. Penderita TB-MDR dapat menyebarkan kuman TB yang resisten kepada oranglain yang belum pernah terkena TB. Sejak diperkenalkannya pengobatan TB pada tahun 1943 dan ketidak patuhan pasien selama pengobatan, menyebabkan meningkatnya insidensi TB-MDR. Pada tahun 1970 penggunaan rifampisin untuk mengobati TB mengakibatkan resistensi dan pengobatan TB menjadi naik ke lini kedua. Adapun angka pasien TB yang patuh mengkonsumsi obat berdasarkan hasil penelitian Pameswari (2016) adalah sebesar 55%.10,11

Berdasarkan hasil penelitian Ismah (2017) didapatkan 17.5% jumlah pasien TB Paru yang putus OAT ditemukan dan 15%

tidak minum OAT. Alasan pasien tidak minum OAT atau berhenti minum OAT karena efek samping OAT yang tidak membuat nyaman pasien.12

Tantangan yang lebih harus diperhatikan pada TB-MDR adalah penularan resistensi obat primer. Resistansi

(5)

Multidrug-Resistant Tuberculosis..(Suryadi dkk.)

telah terinfeksi dengan strain TB yang resistan terhadap obat. Penularan TB yang resistan terhadap obat terjadi dengan cara yang sama seperti penularan TB yang rentan terhadap obat.13

Prevalensi yang tinggi pada TB yang resistan terhadap obat di masyarakat meningkatkan risiko paparan TB yang resistan terhadap obat di masyarakat. TB yang resistan terhadap obat yang tidak terdiagnosis, diobati, atau tidak ditangani dengan baik berkontribusi terhadap prevalensi yang tinggi TB resistansi yang bertahan lama, serta tingginya proporsi kasus TB yang resistan terhadap obat menular di antara masyarakat.12

Persebaran pasien TB-MDR di Kota Palembang pada penelitian menunjukkan paling banyak pada kelompok umur responden 36-55 tahun dengan jenis kelamin baik laki-laki maupun perempuan sama banyak.

Umur responden TB-MDR pada penelitian ini dapat disimpulkan paling banyak pada usia produktif dengan persentase 68,9%. Sama seperti pada penelitian yang dilakukan oleh Munir (2010) TB-MDR lebih banyak menyerang pada golongan umur produktif yaitu 35,6%.

Hasil penelitian Herawati (2016) di Sulawesi Tenggara juga menunjukkan distribusi penderita TB-MDR menurut kelompok umur paling banyak berada pada kelompok umur 46-55 tahun (40%). 14,15

Kelompok umur produktif banyak ditemukan TB-MDR dimungkinkan karena TB memang paling banyak menyerang pada kelompok tersebut. Pada hasil Ismah (2017) bahwa karakteristik penderita TB Paru di Kecamatan Seberang Ulu 1 Palembang berdasarkan demografi ditemukan paling banyak pada kelompok usia produktif pada kelompok rentang usia 12 – 35 tahun dan rentang usia dewasa 49 - 61 tahun (25%).11

Dari hasil penelitian didapatkan bahwa jumlah jenis kelamin responden TB-MDR yaitu sama baik pada perempuan maupun laki-laki. Sarwani (2012) mengungkapkan dalam penelitiannya

bahwa penderita TB-MDR didapati rasio yang sama yaitu 50% pada perempuan dan pada laki-laki. Hasil penelitiannya juga tidak mendapati hubungan antara jenis kelamin dengan TB-MDR. 16

Berdasakan hasil meta-analisis Long Q (2016) TB sering didefinisikan sebagai penyakit orang miskin. Tidak mengherankan bahwa risiko pengembangan TB-MDR paling tinggi pada populasi penduduk miskin. Sekitar 80% pasien TB-MDR di China berasal dari daerah pedesaan, dan sebagian besar memiliki pendidikan rendah dan berada di kelompok usia muda sampai menengah. Di Negara China, penyebab TB-MDR setidaknya dikaitkan oleh kegagalan sistem kesehatan, terutama ketergantungan pada pembiayaan fasilitas kesehatan masyarakat.

Masayrakat miskin tidak dapat akses obat, sehingga pengobatan tidak dapat tuntas.17

Upaya dari negara China tersebut, juga telah tertuang dalam strategi pengendalian TB Indonesia oleh Kemenkes RI. Strategi tersebut yaitu meningkatkan akses OAT terutama bagi masyarakat miskin dan terpencil. Usaha ini berupa pengembangan desa siaga peduli TB, pendelegasian wewenang ke bidan/perawat desa untuk mendekatkan OAT untuk masyarakat miskin, peningkatan keterlibatan sektor terkait untuk masyarakat miskin dengan uraian tugas yang jelas, serta pelibatan sektor terkait dalam mengurangi faktor risiko (Kimpraswil, dinas pertanian).

Peningkatkan pelayanan TB berkualitas di lapas dan rutan.18

Terdapat 5 strategi besar dalam mengendalian TB-MDR, yaitu 1)Deteksi dini dan pengobatan berkualitas tinggi terhadap TB yang rentan terhadap obat;

2)Deteksi dini dan pengobatan berkualitas tinggi terhadap TB yang resistan terhadap obat; 3)Penerapan tindakan pengendalian infeksi secara efektif; 4)Penguatan dan pengaturan sistem kesehatan; 5)Mengatasi faktor risiko yang mendasar dan faktor sosial.12

(6)

memastikan deteksi dini TB yang mencakup skrining kelompok risiko dan penyertaan kontak rumah tangga pasien TB yang menular; menempatkan pasien pada pengobatan yang efektif dengan follow up pengobatan; dan meminimalkan hambatan terhadap akses layanan kesehatan.12

Kesimpulan

Angka kejadian TB-MDR di Kota Palembang adalah sebesar 1.4%. Proporsi jenis kelamin laki-laki dan perempuan yang menderita MDR-TB hampir sama dengan persentase masing-masing 55,0% dan 45,0%. Sedangkan berdasarkan kategori usia, kelompok usia 36—55 tahun merupakan

Ucapan Terima Kasih

Kami mengucapkan terimakasih kepada staff IKM-IKK Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya, dokter muda stase IKM-IKK Fakultas kedokteran Unsri, yang telah berkontribusi dalam membantu pelaksanaan penelitian.

Daftar Rujukan

1. World Health Organization. Epidemiologi tuberkulosis di Indonesia. Tersedia dari http://www.tbindonesia.or.id/tbnew/epidemiolo gi-tb-di-indonesia/article/55/000100150017/2.

Published online : 23 Maret 2010 [Accesed: 22 Desember 2017]

2. Word Health Organization.Global tuberculosis report 2016.Tersedia dari http://apps.who.in t/iris/bitstream/10665/250441/1/9789241565394 -eng.pdf?ua=1&ua=1 [Accesed: 22 Desember 2017]

3. World Health Organization. Global Tuberculosis Report 2013. hal. 10. 2013

4. Kemenkes RI. Pedoman Manajerial Pelayanan Tuberkulosis dengan Strategi DOTS di Rumah Sakit. Kementrian Kesehatan RI, Direktorat Jendral Bina Pelayanan Medik. 2010

5. Munaawarah, Leidal Ida, Wahiduddin.

Gambaran Faktor Risiko Pengobatan Pasien TB-MDR RS Labuang Baji Kota Makassar Tahun 2013.Tersedia dari http://repo

tuberculosis (MDR-TB) disease burden in China: a systematic review and spatio-temporal analysis. BMC Infectious Diseases.17:57.Tahun 2017 doi:10.1186/s12879-016-2151-5.

7. Institute of Medicine (US). Facing the Reality of Drug-Resistant Tuberculosis in India:

Challenges and Potential Solutions: Summary of a Joint Workshop by the Institute of Medicine, the Indian National Science Academy, and the Indian Council of Medical Research.

Washington (DC): National Academies Press (US); 2012. 2, Drug-Resistant TB in India. Available from: https://www.ncbi.nlm.

nih.gov/books/NBK100386/. [Accessed : 27 Desember 2017].

8. Mekonnen F, Tessema B, Moges F, Gelaw A, Eshetie S, Kumera G. Multidrug resistant tuberculosis: prevalence and risk factors in districts of metema and west armachiho, Northwest Ethiopia. BMC Infectious Diseases.

Vol 15:461 Tahun 2015.

doi:10.1186/s12879-015-1202-7.

9. WHO. D Estimates of TB and MDR-TB burden are produced by WHO in consultation with countries. Tersedia dari https://extranet.

who.int/sree/Reports?op=Replet&name=/WHO _HQ_Reports/G2/PROD/EXT/TBCountryProfil e&ISO2=my&outtype=pdf Published online : 24 Desember 2017 [Accessed : 22 Desember 2017]

10. Sinaga, S.S. Buku Panduan Lengkap Ilmu Penyakit Dalam. Cetakan Ke-5. Jogjakarta:

DIVA Press.2014.

11. Pameswari, Puspa., Halim, Auzal., Lisa, Yustika. Tingkat Kepatuhan Penggunaan Obat pada Pasien Tuberkulosis di Rumah Sakit Mayjen H. A. Thalib Kabupaten Kerinci. Vol 2 No 2 Tahun 2016.

12. Ismah, Z., & Novita, E. Studi Karakteristik Pasien Tuberkulosis Di Puskesmas Seberang Ulu 1 Palembang. Unnes Journal of Public Health, Vol 6 No 4, Tahun 2017, h:218-224.

https://doi.org/https://doi.org/10.15294/ujph.v6i 4.15219

13. World Health Organization; Companion Handbook to the WHO Guidelines for the Programmatic Management of Drug-Resistant Tuberculosis. Geneva: 2014. 1, Prevention of drug-resistant tuberculosis.Tersedia dari:

https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK2474 45/. [Accessed : 22 Desember 2017]

14. Munir. S., Nawas;, A., & Soetoyo;, D. K.

Pengamatan Pasien Tuberkulosis Paru dengan Multidrug Resistant (TB-MDR) di Poliklinik Paru RSUP Persahabatan. Jurnal Respirologi Indonesia, Vol 30 No 2 Tahun 2010, h:1 of 13 . 15. Herawati, Bahar, H., & Nashriana, N. . Studi

(7)

Multidrug-Resistant Tuberculosis..(Suryadi dkk.)

Multi Drug Resistens ) Di Blud RSUD Bahteramas Provinsi Sulawesi Tenggara Tahun 2016, Tersedia dari http://sitedi.uho.ac.id/

uploads_sitedi/J1A212008_sitedi_JURNAL%2 0HERAWATI%20HL%20J1A2%2012%20008.

pdf [Accessed : 22 Desember 2017]

16. Sarwani D, 2012, Faktor Risiko Multidrug Resistant Tuberculosis (MDR-TB),

Referensi

Dokumen terkait

Prevalensi pasien penderita MDR TB di Rumah Sakit Paru Dr.H.A.Rotinsulu, Bandung pada tahun 2014 adalah 21 orang. Gambaran profil pasien penderita MDR TB di Rumah

Berdasarkan hasil analisis statistik, tidak didapatkan hubungan yang signifikan antara peningkatan konsentrasi IFN- plasma dengan usia (p = 0,450) dan jenis kelamin (p

Pengelolaan pasien TB Resistan Obat yang baik menggunakan strategi pengobatan yang tepat dengan OAT lini kedua. Untuk mengobati pasien TB Resistan Obat, diperlukan paduan

Berdasarkan data dari Dinas kesehatan Provinsi Sulawesi tenggara tahun 2016 bahwa berdasarkan jenis kelamin, rata-rata kasus baru BTA (+) pada laki-laki lebih tinggi

Berdasarkan hasil penelitian tersebut, diperlukan pembentukan komitmen pada penderita untuk menjalani pengobatan MDR-TB sampai sembuh, penderita perlu diberikan

Pemilihan obat untuk kasus MDR TB antara lain menggunakan obat lini I jika masih efektif, satu obat injeksi, mempergunakan obat golongan flurokuinolon, menggunakan obat untuk

Berdasarkan latar belakang diatas, maka dalam penelitian ini dilakukan penentuan enzim restriksi yang sesuai untuk deteksi mutasi daerah RRDR gen rpoB Mtb serta

Polimorfisme BsmI pada MDR Tuberkulosis dan Non MDR Tuberkulosis Berdasarkan Jenis Kelamin dan Usia Allel GG lebih banyak ditemukan pada non MDR TB 43,75% dan tidak terdapat hubungan