SOSIOLOGI BUDAYA
“ NASIONALISME WNI DI MANCANEGARA ”
Dosen Pengampu : Dr. Argyo Demartoto, M.Si
PROGRAM STUDI SOSIOLOGI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN POLITIK
UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA
NASIONALISME WNI DI MANCANEGARA
A. Pengertian Nasionalisme
Permasalahan nasionalisme di Indonesia beberapa tahun terakhir menjadi fokus perhatian para sejarawan yang peduli denga n eksistensi negara Republik Indonesia. Kartodirjo (2001), seorang sejarawan senior dari UGM, mengungkapkan kepriha- tinannya terhadap pertikaian antar elit politiK di Indonesia. Kartodirjo menilai bahwa etos nasionalisme para elit politik di IndoNesia telah menipis, karenanya Kartodirjo menghimbau agar para elit polittik segera mawas diri dengan mempelajari kembali sejarah pergerakan nasional melalui biografi tokoh-tokoh pergerakan nasional. Kekhawatiran senada juga pernah diungkapkan oleh Prabowo (1995) yang menyatakan sebagian generasi muda Indonesia saat ini mengalami erosi nasionalisme. Menurut Prabowo, hal ini ditandai dengan sikap sebagian generasi muda yang kurang menghayati simbol-simbol kebangsaan, seperti lagu Indonesia Raya dan bendera Merah- Putih.
Secara umum, pengertian nasionalisme adalah paham yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan suatu negara yang memiliki tujuan dan cita-cita bersama untuk kepentingan nasional. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, nasionalisme berasal dari kata "nasional" dan "isme" yaitu paham kebangsaan yang mengandung makna kesadaran dan semangat cinta tanah air; memiliki rasa kebanggaan sebagai bangsa, atau memelihara kehormatan bangsa. Rasa nasionalisme identik dengan rasa solidaritas terhadap musibah dan kekurang-beruntungan saudara setanah air, sebangsa, dan senegara. Nasionalisme mengandung makna persatuan dan kesatuan yang beberapa dari makna tersebut didefinisikan sebagai suatu paham yang menciptakan dan mempertahaknakn kedaulatan sebuah negara (nation) dengan mewujudkan satu konsep identitas bersama untuk sekelompok manusia.
B. Pengertian Nasionalisme Menurut Ahli 1. Ir. Soerkano
Pilar kekuatan bangsa-bangsa yang terjajah untuk memperoleh kemerdekaan.
2. Anderson
Pengertian Nasionalisme adalah kekuatan dan kontinuitas dari sentimen nasional dengan mementingkan nation.
3. Lothrop Stoddard
Nasionalisme sebagai gejala Pengertian Nasionalisme psikologis yang mengatakan bahwa pengertian nasionalisme adalah suatu keadaan jiwa atau suatu kepercayaan yang dianut oleh sejumlah besar manusia sehingga mereka membentuk suatu kebangsaan.
4. Joseph Ernest Rehan
Kemauan untuk bersatu tanpa paksaan dalam semangat persamaan dan kewarganegaraan.
5. H.Kohn
Nasionalisme adalah suatu prinsip politik yang beranggapan bahwa unit nasional dan politik seharusnya seimbang.
6. Prof. Dr. M. Dimyani Hartono. SH
Rasa kecintaan terhadap negaranya yang tidak dapat dilepaskan dari rasa patriotisme.
7. Ernest Gellenervia
Nasionalisme adalah keseimbangan antara rasa nasional terhadap bangsa dengan kekuatan berpolitik.
C. Bentuk – Bentuk Nasionalisme
1. Nasionalisme kewarganegaraan (nasionalisme sipil)
Nasionalisme yang terjadi dimana negara memperoleh kebenaran politik dari partisipasi aktif rakyatnya. Keanggotaan suatu bangsa bersifat sukarela. Bentuk nasionalisme dibangun pertama-tama oleh Jean-Jacques Rousseau dan menjadi bahan tulisannya. Di antara tulisannya yang terkenal adalah buku yang berjudul Du Contract Social (kontrak sosial).
2. Nasionalisme etnis atau etnonasionalisme
Nasionalisme yang terjadi dimana negara memperoleh kebenaran politik dari budaya asal atau etnis sebuah masyarakat. Keanggotan suatu bangsa bersifat secara turun temurun. Seperti joko merupakan orang dari jawa karena orang tua dan nenek moyangnya berasal dari suku Jawa. Joko menggunakan bahasa Jawa karena bahasa itu dipakai oleh orang tuanya dan orang-orang sebelumnya.
3. Nasionalisme romantik
Bentuk nasionalisme etnis di mana negara memperoleh kebenaran politik sebagai suatu yang alamiah (organik) dan merupakan ekspresi dari bangsa atau ras.
Nasionalisme romantik menitikberatkan pada budaya etnis yang sesuai dengan idealisme romantik. Contohnya adalah cerita rakyat (folklore) “Grimm Bersaudara” yang diambil dari tulisan Herder merupakan koleksi kisah-kisah yang berkaitan dengan etnis Jerman.
4. Nasionalisme budaya
Nasionalisme di mana negara memperoleh kebenaran politik dari budaya bersama dan tidak bersifat turun temurun misalnya warna kulit atau ras atau bahasa.
Contohnya adalah rakyat cina yang menganggap negara berdasarkan budaya bersama. Unsur ras telah dikesampingkan sehingga golongan minoritas telah dianggap sebagai rakyat Cina kesediaan Dinasti Qing untuk menggunakan adat istiadat Cina juga membuktikan keutuhan budaya Cina.
5. Nasionalisme kenegaraan
Merupakan variasi nasionalisme kewarganegaraan, yang sering dikombinasikan dengan nasionalisme etnis. Dalam nasionalisme kenegaraan, bangsa adalah suatu komunitas yang memberikan kontribus terhadap pemeliharaan dan kekuatan negara. Contoh nasionalisme kenegaraan adalah fasisme italia yang menganut slogan Mussolini: Tutto nello stato, niente al di fuori dello stato, nulla contro lo stato (semuanya di dalam negara, tidak ada satupun yang di luar negara, tidak ada satupun yang menentang negara). Tidaklah mengherankan jika nasionalisme ini bertentangan dengan cita-cita kebebasan individual dan prinsip demokrasi liberal.
6. Nasionalisme agama
Nasionalisme dimana negara memperoleh legitimasi politik dari persamaan agama. Seperti semangat nasionalisme di Irlandia yang bersumber dari agama Hindu. Namun demikian, bagi kebanyakan kelompok nasionalis. agama hanya merupakan simbol dan bukanlah motivasi utama.
D. Makna Nasionalisme
Sebagaimana telah kita lihat, di Indonesia sendiri nasionalisme bukan merupakan sesuatu yang sudah sejak dulu ada. Ia baru lahir dan mulai tumbuh pada awal abad ke-20, seiring dengan lahir dan tumbuhnya berbagai ben tuk organisasi pergerakan nasional yang menuntut kemerdekaan dan sistem pemerintahan negara bangsa yang demokratis. Tampak pula bahwa nasionalisme di Indonesia merupakan sesuatu yang hidup, yang bergerak terus secara dinamis seiring dengan perkembangan masyarakat, bahkan sampai sekarang. Makna nasionalisme sendiri tidak statis, tetapi dinamis mengikuti bergulirnya masyarakat dalam waktu.
Nation berasal dari bahasa Latin natio, yang dikembangkan dari kata nascor (saya dilahirkan), maka pada awalnya nation(bangsa) dimaknai sebagai “sekelompok orang yang dilahirkan di suatu daerah yang sama” (group of people born ini the same place) (Ritter, 1986: 286) . Kata „nasionalisme‟ menurut Abbe Barruel untuk pertama kali dipakai di Jerman pada abad ke-15, yang diperuntukan bagi para mahasiswa yang datang dari daerah yang sama atau berbahasa sama, sehingga mereka itu (di kampus yang baru dan daerah baru) tetap menunjukkan cinta mereka terhadap bangsa/suku asal mereka (Ritter, 1986: 295). Nasionalisme padamulanya terkait dengan rasa cinta sekelompok orang pada bangsa, bahasa dan daerah asal usul semula. Rasa cinta seperti itu dewasa ini disebut semangat patriotisme. Jadi pada mulanya nasionalisme dan patriotisme itu sama maknanya.
Namun sejak revolusi Perancis meletus 1789, pengertian nasionalisme mengalami berbagai pengertian, sebab kondisi yang melatarbelakanginya amat beragam. Antara bangsa yang satu dengan bangsa yang lain. Nasionalisme bukan lagi produk pencerahan Eropa tetapi menjadi label perjuangan dinegara-negara Asia- Afrika yang dijajah bangsa Barat. Keragaman makna itu dapat dilihat dari sejumlah pendapat berikut. Smith (1979: 1) memaknai nasionalisme sebagai gerakan ideologis untuk meraih dan memelihara otonomi, kohesi dan individualitas bagi satu kelompok
sosial tertentu yang diakui oleh beberapa anggotanya untuk membentuk atau menentukan satu bangsa yang sesungguhnya atau yang berupa potensi saja.
Snyder (1964: 23) sementara itu memaknai nasionalisme sebagai satu emosi yang kuat yang telah mendominasi pikiran dan tindakan politik kebanyakan rakyat sejak revolusi Perancis. Ia tidak bersifat alamiah, melainkan merupakan satu gejala sejarah, yang timbul sebagai tanggapan terhadap kondisi politik, ekonomi dan sosial tertentu. Sementara itu Carlton Hayes, seperti dikutip Snyder (1964: 24) membedakan empat arti nasionalisme:
a. Sebagai proses sejarah aktual, yaitu proses sejarahpembentukan nasionalitas sebagai unit-unit politik, pembentukan suku dan imperium kelembagaan negara nasional modern.
b. Sebagai suatu teori, prinsip atau implikasi ideal dalam proses sejarah aktual.
c. Nasionalisme menaruh kepedulian terhadap kegiatan-kegitan politik, seperti kegiatan partai politik tertentu, penggabungan proses historis dan satu teori politik.
d. Sebagai satu sentimen, yaitu menunjukkan keadaan pkiran di antara satu nasionalitas.
Sementara itu Benedict Anderson (1996: 6, dlm, Baskara Wardaya, 2002: 16) mendefinisikan nation (bangsa) sebagai “suatu komunitas politis yang dibayangkan- dan dibayangkan sekaligus sebagai sesuatu yang secara inheren terbatas dan berdaulat” (an imagined political community and imagined as both inherently limited and sovereign”). Istilah dibayangkan (imagined) ini penting, menurut Anderson, mengingat bahwa anggota-anggota dari nasion itu kebanyakan belum pernah bertemu satu sama lain, tetapi pada saat yang sama di benak mereka hidup suatu bayanganbahwa mereka berada dalam suatu kesatuan komuniter tertentu.
Karena terutama hidup dalam bayangan (dalam arti positif) manusia yang juga hidup dan berdinamika, nasionalisme di sini dimengerti sebagai sesuatu yang hidup, yang terus secara dinamis mengalami proses pasang surut, naik turun. Pandangan yang demikian ini mengandaikan bahwa nasionalisme merupakan sesuatu yang hidup, yang secara dinamis berkembang serta mencari bentuk-bentuk baru sesuai dengan perkembangan dan tuntutan jaman.
Boyd Shafer (1955: 6) mengatakan bahwa nasionalisme itu multi makna, hal tersebut tergantung pada kondisi objektif dan subjektif darisetiap bangsa. Oleh sebab itu nasionalisme dapat bermakna sebagai berikut:
a. Nasionalisme adalah rasa cinta pada tanah air, ras,bahasa atau budaya yang sama, maka dalam hal ini nasionalisme sama dengan patriotisme.
b. Nasionalisme adalah suatu keinginan akan kemerdekaan politik, keselamatan dan prestise bangsa.
c. Nasionalisme adalah suatu kebaktian mistis terhadaporganisme sosial yang kabur, kadang-kadang bahkan adikodrati yang disebut sebagai bangsa atau Volk yang kesatuannya lebih unggul daripada bagian-bagiannya.
d. Nasionalisme adalah dogma yang mengajarkan bahwa individu hanya hidup untuk bangsa dan bangsa demi bangsa itu sendiri.
e. Nasionalisme adalah doktrin yang menyatakan bahwa bangsanya sendiri harus dominan atau tertinggi di antara bangsa-bangsa lain dan harus bertindak agresif.
Kendati ada beragam definisi tentang nasionalisme, Hans Kohn (1971: 9) menggarisbawahi bahwa esensi nasionalisme adalah sama, yaitu ” a state of mind, in which the supreme loyality of the individual is felt to be due the nation state” (sikap mental, di mana kesetiaan tertinggi dirasakan sudah selayaknya diserahkan kepada negara bangsa).
E. Peran Nasionalisme
Jika nasionalisme dipahami dalam kerangka ideologi (Apter, 1967: 97) maka di dalamnya terkandung aspek: (1) cognitive; (2) goal/value orientation; (3) stategic.
Aspek Cognitive mengandaikan perlunya pengetahuan atau pemahaman akan situasi konkret sosial, ekonomi, politik dan budaya bangsanya. Jadinasionalisme adalah cermin abstrak dari keadaan kehidupan konkret suatu bangsa. Maka peran aktif kaum intelektual dalam pembentukan semangat nasional amatlah penting, sebab mereka itulah yang harus merangkum kehidupan seluruh anak bangsa dan menuangkannya sebagai unsur cita-cita bersama yang ingin diperjuangkan. Cendikiawan Soedjatmoko menyebut nasionalisme tidak bisa tidak adalah nasionalisme yang cerdas karena nasionalisme itu harus disinari oleh kebijaksanaan, pengertian, pengetahuan dan kesadaran sejarah (Soedjatmoko, 1991: 29-30).
Aspek goal menunjuk akan adanya cita-cita, tujuan ataupun harapan ideal bersama di masa datang yang ingin diwujudkan atau diperjuangkan di dalam masyarakat dan negara. Cita-cita itu mencakup seluruh aspek kehidupan manusia baik sosial, ekonomi, politik, ideologi, budaya, dll. yang disepakati bersama. Dalam hal ini nasionalisme Indonesia mula-mula berjuang untuk mengusir penjajah Belanda, merontokan feodalisme, primordialisme dan membentuk negara bangsa (nation state) yang merdeka, sejahtera dan demokratis, sebagai rumah bersama untuk seluruh warga bangsa dari Sabang sampai Meraoke. Negara bangsa Indonesia adalah rumah bersama di mana kebhinnekaan suku, budaya, agama dan tradisi dijamin sehingga semua warga bangsa dapat hidup damai, sejahtera dan bebas.
Aspek strategic menuntut adanya kiat perjuangan kaum nasionalis dalam perjuangan mereka untuk mewujudkan cita-cita bersama, dapat berupa perjuangan fisik atau diplomasi, moril atau spirituil, dapat bersifat moderat atau radikal, dapat secara sembunyi-sembunyi atau terang-terangan, dan lain-lain. Kiat mana yang dipilih akan tergantung pada situasi, kondisi konkret dan waktu setempat yang dihadapi oleh suatu bangsa. Bagi bangsa Indonesia, masa revolusi memangharus berjuang secara fisik dan diplomatis untuk melawan penjajah Belanda, tetapi sekarang setelah merdeka nasionalisme bukan lagi untuk melawan penjajah tetapi mengisi kemerdekaan dengan membasmi korupsi, menghilangkan kebodohan dan kemiskinan, menegakan demokrasi, membela kebenaran dan kejujuran agar masyarakat madani dapat diwujudkan, di mana setiap warga bangsa sungguh dapat mewujudkan cita- citanya.
Sartono Kartodirdja (1972: 65-67), menambahkan nasionalisme harus mengandung aspek affective, yaitu semangat solidaritas, unsur senasib, unsur kebersamaan dalam segala situasi sehingga seluruh warga bangsa sadar akan kebangsaannya. Lebih lanjut Sartono Kartodirdjo (1999: 13) menyatakan bahwa masyarakat Indonesia pasca-revolusi apa lagi pasca-reformasi masih menuntut nasionalisme sebagai faktor pemicu dalam proses konsolidasi orde sosial-politikyang dibingkai oleh negara bangsa, terutama jika nasionalisme itu benar-benar disertai dengan kelima prinsip utamanya, yakni menjamin kesatuan (unity) dan persatuan bangsa, menjamin kebebasan (liberty) individu ataupun kelompok, menjamin adanya kesamaan (equality) bagi setiap individu, menjamin terwujudnya kepribadian (personality), dan prestasi (performance) atau keunggulan bagi masa depan bangsa.
Selama kelima pilar nasionalisme tersebut masih ada maka nasionalisme akan tetap
relevan dan terus dibutuhkan oleh setiap bangsa, dan lagi nasionalisme akan terus berkembang, dinamis sesuai dengan tuntutan jaman serta kebutuhan bangsa yang bersangkutan. Oleh sebab itu wajah nasionalisme dari waktu ke waktu dapat saja berubah dan berkembang, sakalipun esensi dan unsur pokok tetaplah sama.
Benedict Anderson juga menekankan tetap pentingnya nasionalisme bagi bangsa Indonesia, dalam pengertian tradisional. Salah satu yang mendesak di Indonesia dewasa ini adalah adanya apa yang disebut sebagai “defisit nasionalisme”, yakni semakin berkurangnya semangat nasional, lebih-lebih di kalangan mereka yang kaya dan berpendidikan (Anderson, 2001: 215) . Untuk itu Anderson menganjurkan pentingnya ditumbuhkan kembali semangat nasionalis sebagaimanayang dulu hidup secara nyata di kalangan para pejuang pergerakan dan revolusi. Ia mengusulkan dibinanya semangat “nasionalisme kerakyatan” yang sifatnya bukan elitis melainkan memihak ke masyarakat luas, khususnya rakyat yang lemah dan terpinggirkan. Salah satu ciri pokok dari nasionalisme kerakyatan itu adalah semakin kuatnya rasa kebersamaan senasib dan sepenanggungan sebagai bangsa (Anderson, 2001: 214- 215).
Ia mensinyalir bahwa para pemimpin yang ada sekarang ini tidak memiliki jiwa patriotik, sebagaimana nampak dalam keputusan-keputusan yang mereka buat serta dalam perilaku sosial, ekonomi dan politis mereka. Mereka mengirim anak-anak mereka belajar di luar negeri dan diam-diam melecehkan kebudayaannya sendiri, mereka mempunyai rumah mewah di luar negeri, simpanan kekayaan dalam dollar Amerika, sementara mayoritas rakyatnya tinggal digubuk-gubuk reyot yang bau anyir, kelaparan dan penyakitan. Maka sejarawan Taufik Abdullah (Kompas, 18 Agustus 2007)menambahkan bahwa nasionalisme saat ini yang dibutuhkan adalah nasionalisme solidaritas sosial, yaitu kepedulian dan rasa tanggungjawab antara warga bangsa karena mulai pudar di masyarakat maupun elite politik.
F. Perkembangan dan Corak Nasionalisme
Perkembangan nasionalisme menurut Organski (Nasikun, 1996: 3-4) dapat dibedakan menjadi empat tahap, yaitu: (1) nasionalisme tahap 1 dari tahap perkembangan politik kesatuan nasional primitif (the politics of primitive unification);
(2) nasionalisme fase 2, dari tahap perkembangan politik industrialisasi (the politics of industrialization); (3) nasionalisme fase 3, dari tahap politik kesejahteraan nasional
(the politics of national welfare); dan (4) nasionalisme fase 4, dari tahap perkembangan politik kemakmuran (the politics of abundance). Sementara itu menurut Minogue (1967: 29) nasionalisme telah melewati tiga tahap, yaitu:
a. Tahap stirrings: pada tahap ini bangsa menjadi sadar akan dirinya sebagai bangsa yang mengalami penderitaan berupa tekanan-tekanan, yaitu era perubahan cepat melawan gagasan asing dan cara hidup asing dalam mengerjakan segala sesuatu.
b. Tahap centre-piecenasionalisme, yaitu masa perjuangan untuk memperoleh kemerdekaan
c. Tahap konsolidasi, yang pada masa sekarang tahap ini difokuskan pada konsolidasi ekonomi.
Nasionalisme sendiri ada berbagai corak atau tipenya karena tergantung dari faktor dominan mana yang mempengaruhi, apakah itu faktor ekonomi, faktor politik, faktor budaya, dan lain-lain.. Hall (1993: 1-2) membagi corak nasionalisme menjadi:
a. Nasionalisme resorgimento, yaitu nasionalisme yang muncul dari bawah.
Nasionalisme ini umumnya dipelopori oleh para cendikiawan yang jumlahnya bertambah banyak karena pendidikan. Para terpelajarini sebagai orang-orang modernis, liberal dan demokrat mendorong terbentuknya integrasi normatif dalam teritorial mereka sebagai negara bangsa (nation state) yang liberal dan demokratis. Faktor lain yang mendorongnya adalah perkembangan ekonomi dari masyarakat agraris ke masyarakat industrial, dari pedesaan ke perkotaan karena proses industrialisasi. Tipe ini berkembang di Eropa pada abad ke18 -19.
b. Nasionalisme integratif, yaitu nasionalisme yang berkembang karena memanfaatkan rasa dendam karena ditindas bangsa lain. Nasionalisme ini mendorong integrasi seluruh aspek kehidupan bangsa dalam rangka menghadapi bangsa-bangsa lain yang menindas. Contohnasionalisme seperti ini dikembangkan kaum Fascisme Italia dan Naziisme di Jerman.
Sementara itu Lind (1994: 87-88) membagi corak nasionalisme menjadi;
a. Nasionalisme liberal, yaitu nasionalisme yang menjunjung tinggi kebebasan individual dalam suatu negara bangsa yang berlandaskan konstitusi modern.
b. Nasionalisme ”il-liberal”, yaitu nasionalisme yang dikembangkan berdasarkan garis agama, atau etnis, seperti di Iran, Pakistan,India, dll.
Corak lain adalah pandangan Tilly (1993: 6) yang membedakan corak nasionalisme menjadi dua, yaitu:
a. Nasionalisme yang dipimpin negara, dalam arti pemimpin yang berbicara atas nama suatu bangsa menuntut warga negara mengindentifikasikan dirinya dengan bangsanya dan mensubordinasikan kepentingan lain pada kepentingan negara.
b. Nasionalisme yang diusahakan negara, yaitu nasionalisme perwakilan, di mana negara menempatkan wakil-wakil rakyat di pusat pemerintahan karena negara sendiri tidak mempunyai kontrol ketat terhadap daerah-daerah yang otonom.
G. Contoh Nasionalisme WNI di Mancanegara 1. Versi 1 (Kasus Dwinegara Archandra Tahar)
JAKARTA, (PR).- Direktur Pusat Studi Kebijakan Publik (Puskepi) Sofyano Zakaria menyatakan, kasus Archandra Tahar, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), yang akhir diberhentikan Presiden Joko Widodo secara resmi, pada hakekatnya adalah terkait dengan pupusnya semangat nasionalisme pada diri putra bangsa.
"Rasa bangga menjadi putra bangsa Indonesia, sudah nyaris tergerus oleh sikap materialistis. Sehingga, membuat ada putra-putri negeri ini, yang rela menukar kewarganegaraannya dengan kewarganegaraan asing," kata Sofyano di Jakarta, Selasa 16 Agustus 2016.
Diketahui, Pemerintah secara resmi telah mengumumkan pemberhentian Archandra dari jabatannya selaku Menteri ESDM RI. Hal itusetelah kurang lebih tiga hari, status kewarganegaraan Archandra Tahar, dipergunjingkan publik, akhirnya Senin malam 15 Agustus 2016,
"Pemberhentian Archandra oleh Pemerintah, secara hukum dapat dimaknai, pemerintah mengakui bahwa Archandra benar telah menjadi warga negara Amerika"
ujar Sofyano.
Menurut dia, kita sebagai putra bangsa pantas bangga dengan kentalnya nasionalismenya BJ Habibie yang walau sering ditawarkan menjadi warga negara Jerman tetapi beliau tetap bangga menjadi putra bangsa Indonesia.
Di masa kini, ujar dia, nasionalisme tidak lagi menjadi ruh pada raga anak bangsa. "Sehingga dengan mudah seseorang menanggalkan nasionalisme hanya karena uang, harta dan jabatan," tambah Sofyano.
Pupusnya nasionalisme bukan hanya terjadi pada kasus menanggalkan ke warga negaraan Indonesia dan beralih ke kewarga-negaraan asing , tetapi juga pada sikap perilaku dan moral yang tidak nasionalis.
"WNI yang bermoral WNA lebih berbahaya dari WNA sesungguhnya. Ini sama halnya dengan Serigala berbulu domba," tambah Sofyano.
Mereka yang mendukung dan ikut memberikan jalan sehingga bangsa luar bisa leluasa menguasai sumber daya alam dan ekonomi bangsa ini. "Mereka itu adalah orang yang tidak memiliki nasionalisme dan ini lebih berbahaya dari WNA itu sendiri" ujar Sofyano lagi.
Nasionalisme, menurut Sofyano, adalah jiwa yang sempurna yang selalu berniat berfikir berbuat bagi kepentingan , kejayaan dan kemuliaan bangsa. Bukan buat dirinya sendiri atau kelompok dan golongan nya . Mereka yang berbuat untuk kepentingan sendiri, itu adalah orang yang tidak nasionalis.
Mereka yang meninggalkan negeri ini karena alasan materialis termasuk yang melarikan diri dari jerat hukum dan beralih menjadi warga negara asing , pantas untuk dicemooh dan seharusnya mereka itu punya rasa malu untuk datang ke negeri yang sudah mereka lecehkan. Harusnya Pemerintah melarang orang yang semacam ini tidak boleh injakan kakinya lagi ke negeri ini.
Sofyano juga memprihatinkan lunturnya nasionalisme yang telah merambah ke banyak orang dinegei ini. Sofyano memberi contoh. "Perayaan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia, banyak yang tidak memaknai hari kemerdekaan itu dengan semangat nasionalis yang kental. Perayaan hut kemerdekaan nyaris ditandai hanya dengan perayaan seremonial belaka. nyaris tidak memaknainya sebagai hari keramat bagi bangsa yang merupakan hari untuk menghargai pengorbanan para pejuang kemerdekaan.
"Masih banyak veteran pejuang kemerdekaan bangsa yang hidupnya memprihatinkan , tetapi mereka nyaris tidak ditoleh oleh masyarakat. Bahkan dihari perayaan hut kemerdekaan yang mereka perjuangkan dulu, mereka hanya jadi
penonton belaka. Nyaris tak terdengar ucapan terimakasih kepada mereka. Kita pantas memberi acungan jempol jika masih ada orang yang peduli terhadap pejuang dan mereka itulah orang yang masih punya nasionalisme pada jiwa dan raganya," tutup Sofyano.***
2. Versi 2 (Nasionalisme di belahan bumi lain di mancanegara)
Sejak lulus SMA, terus terang saya tidak pernah mengikuti berbagai kegiatan seremonial kebangsaan dalam bentuk upacara. Termasuk juga kegiatan perlombaan menjelang 17 Agustus. Tapi saya relatif sering melihat pawai atau karnaval untuk 17 Agustusan di kampung halaman, Kebumen. Jadi nasionalisme saya hanya tersimpan didalam hati saja. Tidak dalam bentuk upacara dan berbagai kegiatan. Namun, tidak pernah ada yang mempertanyakannya. Apalagi saya tinggal di negeri sendiri yang semua orang sudah tahu siapa saya. Tanpa saya perlu basa basi untuk menjelaskannya. Mereka semua sudah tahu kalau saya adalah orang Indonesia. Baru setelah saya mulai kuliah di Yogja, pertanyaannya sedikit ada variasi karena kami berasal dari berbagai daerah dan suku bangsa.
Kebetulan saya tinggal di kost bersama 10 an orang perempuan dan saya waktu itu kuliah di FE - UGM. Maka teman-teman saya boleh dikatakan merata dan hampir bisa mewakili seluruh provinsi di Indonesia. Walaupun mayoritasnya memang berasal dari Jawa. Alasan saya kenapa memilih Yogja, yaa karena dekat saja.
Apalagi saya perempuan, orang tua saya sangat perhatian sama anak-anaknya.
Makanya, kami yang perempuan tidak boleh kuliah jauh-jauh. Kata orang tua,
“kenapa saya mesti kuliah jauh-jauh, kalau yang dekat saja ada dan bagus lagi,”.
Namun, intinya saya tidak menghadapi masalah dalam hal nasionalisme. Yeah, karena kami semua memang berasal dari Indonesia. Cuma untuk membedakan satu sama lain karena perbedaan asal usul daerah, maka ada satu pertanyaan, "dari daerah mana saya berasal." Akhirnya, saya pun hafal semua, misalkan: si A dari Klaten, si B dari Palembang, si C dari Kalimantan Timur, dan seterusnya. Tapi saya cuma perlu sebatas itu saja sebagai identitas, lainnya kami merasa satu karena adanya satu kebutuhan yang sama, yaitu menuntut ilmu. Disinilah saya mulai merasakan adanya persatuan antar daerah. Saya tidak peduli agama, suku maupun bahasa daerah apa yang mereka miliki dan gunakan. Bukankah kita mempunyai pedoman Bhinneka Tunggal Ika? Yang jelas, kami berteman, saling
bertemu setiap mengambil kuliah yang sama tanpa ada masalah. Makanya kami bisa hidup rukun. Tentunya dengan menggunakan bahasa Indonesia sebagai pengantarnya. Paling logat bicaranya saja yang sedikit berbeda. Saya merasakan betul manfaat bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan. Bayangkan kalau tidak ada bahasa Indonesia sebagai bahasa nasionalnya, kita akan kesulitan untuk berkomunikasi satu sama lainnya. Bahkan, sampai saya selesai kuliah pun tidak mengalami hambatan mengenai identitas. Hanya saja saya tidak pernah mengikuti berbagai kegiatan yang menyangkut seremonial 17 Agustusan, baik di kampung maupun di kampus. Entahlah, mungkin saya sendiri yang tidak tanggap dengan berbagai kegiatan atau saya sibuk sendiri dengan buku-buku. Jadi saya tidak pernah aktif untuk mengikuti berbagai macam kegiatan dalam hubungannya dengan acara 17 Agustus-an, yang biasa dirayakan sebagai hari Kemerdekaan.
Ah! saya sendiri juga tidak ambil pusing, dalam hati saya. Toh saya tetap orang Indonesia, biarpun saya tidak aktif dalam kegiatan sosial. Apakah saya tidak mempunyai rasa nasionalisme atau kebanggaan terhadap bangsanya sendiri?.
Memang dengan mengikuti berbagai kegiatan itu, ada jaminan kalau mereka lebih nasionalis dari saya??? Apakah itu ukurannya untuk melihat seseorang berjiwa nasionalis? Saya pun akan mengajukan berbagai pertanyaan kalau hal itu sebagai ukuran. Yeah, sekedar membela diri, bukan??? Terus dengan berjalannya waktu, akhirnya tibalah saya diberi kesempatan untuk hidup di negeri orang. Siapa sih yang tidak senang dapat kesempatan untuk sekolah lagi?. Begitulah kira-kira, perasaan saya. Sebagai seorang yang hidup dari keluarga sederhana dan pas- pasan, saya sungguh beruntung sekali bisa menikmati hidup di negeri orang.
Tidak tanggung-tanggung jauh sekali untuk ukuran saya pada waktu itu.
Bayangkan, untuk pergi ke Jakarta saja, saya masih diantar dan dikawal oleh Bapak saya. Ditambah, saya sendiri belum pernah naik pesawat kemana pun pergi di Indonesia. Anehnya, saya tetap percaya diri dan tidak takut. Tidak ada yang saya takutin sama sekali kalau saya mau pergi sendirian. Waktu itu, saya masih muda usianya. Hanya satu yang saya tanamkan dalam diri, bahwa saya punya iman dan tentunya Allah bersama kita. Itu saja yang saya pegang teguh. Identitas lainnya, saya adalah warga negara Indonesia, sesuai dengan paspor saya, paspor Indonesia. Disaat itulah, saya merasa bahwa saya membawa misi atau nama Indonesia di pundak saya. Jadi kalau ada apa-apa, mesti yang pertama dilihat adalah paspor saya, karena ini satu-satunya identitas saya untuk pergi ke negeri
orang. Kemudian bertambahnya hari, bulan dan tahun tidak terasa. Dari yang tadinya paspor sebagai identitas , berubah jadi driver license (DL) atau Surat Ijin Mengemudi (SIM). Dengan identitas yang baru ini, saya lebih fleksibel, karena sekarang untuk urusan admisnistrasi, perbankan dan berbagai urusan dalam negeri di tempat yang baru, saya hanya perlu membawa SIM kemana-mana. Tidak perlu lagi membawa paspor, tadaaa. Saya yakin urusan akan jadi ribet, kalau saya sampai kehilangan paspor. Walaupun saya harus berurusan dengan negaranya sendiri. Tapi seringnya justru tidak mudah dan berbagai pertanyaan ini dan itu akan muncul. Ups! maaf memang begitu adanya, hehehhehe. Untungnya, saya tidak pernah ada masalah dengan urusan paspor. Jadi yaa, jarang berhubungan dengan KJRI, kecuali kalau saya perlu memperpanjang paspor saja. Baru saya berhubungan dengan KJRI. Kalau saya tidak ada perlu atau urusan, saya jarang menghubungi KJRI. Makanya ada acara apapun saya juga tidak tahu, karena memang tidak pernah kontak. Apalagi waktu itu, saya masih tinggal di Athens, OH. Disisi lain, saya memang menyempatkan untuk bergaul dengan siapa saja.
Tentunya dari berbagai negara yaa, karena situasi dan kondisinya sudah lain. Saya berusaha bersikap natural dan sama dengan mereka. Lagian, apa yang mau saya banggakan, karena saya hanya sebagai pendatang. Namun, kami memang berasal dari berbagai negara boleh dikatakan. Jadi biarpun saya berusaha se-natural mungkin, logat bicara saya masih tetap kelihatan. Begitu juga dengan warna kulitnya. Orang akan dengan mudah menebak, kalau saya adalah pendatang, dari Asia. Biarpun hanya dengan melihat warna kulit dan postur tubuhnya yang mungil. Tapi untuk kepastian negara mana di Asia nya, memang orang perlu bertanya. Apalagi kalau kita berhubungan dengan penduduk setempat, yang relatif kurang bagus pengetahuan Geography dan wawasannya. Jadi mereka akan bertanya, where are you from? Karena mereka tahu, bahwa saya adalah pendatang, cuma mereka kurang pasti dari negara mana. Seringnya, malah mereka tidak tahu dimana Indonesia itu. Ini cerita dulu, sewaktu saya baru saja datang.
Jadi masih belum banyak pengetahuan mereka tentang Indonesia. Maklum, mereka bangga dengan negaranya sendiri, karena merasa besar. Jadi negara kecil- kecil, apalagi jauh sekali tidak pernah mereka pelajari. Disaat itulah, saya membawa nama Indonesia di pundak saya, walaupun saya tidak harus membawa paspor kemana-mana. Ada yang mengira saya dari Philippines dan ada juga yang mengira saya dari China. Apalagi saya pernah tinggal satu rumah dengan teman-
teman dari Beijing, China. Jadi, tepat sekali dugaan mereka. Kulit dan mata saya mungkin sedikit mendukungnya. Akhirnya, saya harus meyakinkan mereka kalau saya dari Indonesia, bukan dari China. Ah! lama-lama saya jadi keenakan tinggal di negeri orang, setelah akhirnya saya tinggal di New York (City). Biarpun berjubel dan padat penduduknya terasa nyaman juga. Karena saya merasa tenang dan bisa pergi kemana-mana sendiri. Bahkan sudah seperti kampungnya sendiri, walaupun di pundak saya masih membawa nama Indonesia. Tapi tidak ada orang tahu kalau saya tidak cerita. Mereka juga mengira kalau saya sudah menjadi warga Amerika. Makanya sering rumah saya diketok dan diingatkan untuk ikutan vote, baik itu untuk pemilihan Kongres maupun Presiden. Saya pun terpaksa harus mengatakan kalau saya tidak bisa vote, karena saya bukan warga Amerika.
Akhirnya mereka juga meminta maaf. Sekarang pertanyaannya, masih relevankah nasionalisme dipertanyakan atau dipertahankan? Bukankah sekarang globalisasi sebagai proses de-teritorialisasi telah mengubah semuanya? Saya yakin, kalau tanpa ada aturan keimigrasian tentu kita bisa berpindah dari satu negara ke negara lain seenak kita sendiri. Ternyata paspor itulah yang membatasi gerak dan kebebasan kita. Dan itulah fakta yang menunjukkan bahwa hingga saat ini kewarganegaraan dengan berbagai hak sosial, politik, dan sipilnya tidaklah bisa melampaui batas-batas wilayah. Meski kini berkembang berbagai komunitas transnasional, seperti Asean Community yang akan dibentuk 2015, European Union (Komunitas Negara-negara di Eropa) dan lain-lain. Tapi tetap seseorang harus menjadi anggota terlebih dahulu untuk bisa menjadi bagian dari negara tersebut. Dalam arti kita tetap harus memperoleh kewarganegaraan dari salah satu negara yang ingin kita tuju. Ini berarti di tengah arus globalisasi, peran negara serta nasionalisme tetap relevan dan signifikan. Namun, yang menjadi pertanyaannya sekarang, "Sudahkah negara benar-benar melindungi warganya."
Seandainya, saya bisa memilih kewarganegaraan, tanpa mengungkit paspor sebagai identitas. Saya akan senang sekali memilih negara yang saya inginkan.
Tapi itu mimpi, bukan? Ternyata perputaran uang jauh lebih dahsyat daripada pergerakan manusia. Kecuali kalau kita mempunyai uang, semua negara akan dengan suka cita menerimanya.
3. Versi 3 (nasionalisme yang luntur)
Lunturkah Nasionalisme WNI di Luar Negeri ?
Acapkali saya membaca komentar di status Facebook kawan-kawan warga negara Indonesia (WNI) yang bekerja di luar negeri untuk selalu mengingat tanah air tercinta Indonesia, dan menanyakan kapan akan pulang untuk berbakti pada negara. Dulu saya dan mungkin juga anda yang tinggal di Indonesia, seringkali berpikir bahwa orang-orang terbaik Indonesia yang bekerja di luar negeri telah luntur nasionalismenya karena diperbudak oleh uang, diperbudak oleh fasilitas kemajuan negara orang, sehingga lupa akan negara sendiri. Benarkah?
Ada jutaan WNI yang mengadu nasib dan peruntungan untuk bekerja di negara orang, mayoritas adalah sebagai tenaga kerja kasar dan non-formal , seperti pembantu rumah tangga, karyawan pabrik, karyawan perkebunan, dan jasa konstruksi, sedangkan sebagian kecil bertindak sebagai tenaga ahli (expert). Bagi WNI yang bekerja di sektor non-formal dan tenaga kasar, mungkin nasionalismenya tidak pernah dipertanyakan, karena memang mayoritas mereka berpendidikan rendah dan bekerja di luar negeri semata-mata hanyalah faktor dorongan ingin mendapatkan penghasilan yang lebih besar dari pekerjaan yang sama jika mereka lakukan di Indonesia.
Namun, hal berbeda jika ada WNI yang berstatus sebagai tenaga ahli.
Golongan ini merupakan WNI dengan pendidikan tinggi, minimal S2 atau S1 dengan pengalaman pekerjaan bertahun-tahun. Mayoritas bekerja sebagai tenaga ahli di perusahaan-perusahaan multinasional ataupun bekerja sebagai peneliti/dosen di kampus-kampus terkenal dunia atau di pusat riset terkemuka dunia. Mereka inilah yang seringkali dianggap “melarikan diri” dari kenyataan yang ada di Indonesia. Betapa tidak, menjadi tenaga ahli di luar negeri tentu saja menikmati fasilitas dan upah yang berkali-kali lipat dari yang mereka dapakan di Indonesia, bahkan banyak yang upahnya lebih besar dari gaji Presiden Indonesia, belum lagi berbagai fasilitas yang mereka terima sangat jauh dari apa yang Indonesia bisa tawarkan, sangat menyilaukan dan lebih dari cukup untuk membuat mereka betah tidak kembali ke tanah air. Lalu, apakah mereka benar-benar telah luntur nasionalismenya? lupakah mereka dengan tanah air tercinta?
Sebagai seorang akademisi/peneliti yang bekerja di negara orang, saya akan membatasi lingkup tulisan ini pada dunia saya sendiri. Saat ini tercatat ada ribuan orang Indonesia yang menuntut ilmu di berbagai negara orang, mulai dari benua
Afrika (mayoritas di Mesir), benua Asia-Australia (negara-negara Arab, Australia, China, Singapore, Jepang, Malaysia, Taiwan, Thailand, dan Korea Selatan), benua Eropa (Jerman, Inggris, Belgia, Belanda, dan Rusia), dan benua Amerika (mayoritas di Amerika Serikan dan Kanada). Mayoritas adalah Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan atau dosen, tapi tidak kecil juga jumlahnya yang berstatus free tidak terikat dengan pekerjaan di tanah air.
Yang berstatus free tersebut ketika telah menyelesaikan studinya ada yang kembali ke tanah air untuk mencari pekerjaan di Indonesia, namun ada juga yang memilih untuk bekerja di negara orang. Ada banyak orang-orang Indonesia yang memiliki kejeniusan luar biasa bekerja di laboratorium dan kampus terkemuka dunia. Mereka bukanlah orang yang lupa akan tanah air, tapi justru merekalah para pejuang sains Indonesia. Sebagian dari mereka memiliki alasan kenapa belum bisa pulang ke tanah air, diantaranya adalah:
a. Tidak adanya penghargaan yang cukup dari pemerintah dan bangsa Indonesia terhadap profesi peneliti, baik itu penghargaan secara moral maupun secara material,
b. Tidak adanya fasilitas penelitian yang bisa digunakan untuk menjalankan kegiatan penelitian mereka,
Dua alasan utama tersebut membuat banyak para jenius Indonesia kurang berminat untuk pulang ke tanah air, mereka berpikir buat apa pulang ke tanah air kalau mereka tidak lagi bisa berkarya, atau bahkan karya mereka tidak dihargai oleh bangsa sendiri. Namun, bukan berarti bahwa nasionalisme mereka telah luntur, karena meski bekerja di tanah orang, mereka sebenarnya adalah duta bangsa Indonesia.
Mereka telah banyak membuktikan bahwa orang Indonesia mampu bersaing dengan setara bahkan bisa melebihi kemampuan bangsa lain.
Saya justru melihat nasionalisme WNI ini sangat besar, ketika menjelang 17 Agustus mereka menyemarakkan berbagai kegiatan di kedutaan, bahkan melebihi acara-acara di tanah air sendiri, dan ketika tanggal 17 Agustus tiba, mereka selalu meluangkan waktu untuk datang mengikuti upacara, hal yang terkadang bagi kita di Indonesia sering disepelekan. Lalu pernahkan hati kita bergetar mendengar/menyanyikan lagu Indonesia Pusaka? banggakah kita menyanyikan lagu
Indonesia Raya? semua hal yang terlihat sepele bagi kita yang tinggal di Indonesia justru terasa sangat menyentuh bagi WNI intelek kita di negara orang.
Saya yakin, mereka akan sangat bersedia untuk pulang ke tanah air dan berkarya langsung di negara sendiri, ketika bangsa kita, ketika pemerintah kita secara terbuka mau memberikan penghargaan atas karya mereka secara layak dan menyediakan fasilitas penelitian yang bisa mereka gunakan untuk mengaplikasikan bidang keilmuan mereka untuk kepentingan Indonesia secara langsung.
Dari contoh- contoh diatas sudah jelas bahwa banyaknya WNIyang ada di luar negeri mencerminkan sikap nasionalisme dan kebangsaan yang beraneka ragam. Ada yang dengan kepeningan tertentu akhirnya meepas kewarganegaraan, ada pua yang berjuang mempertahankan nilai- nilai nasionalisme dan rasa cinta tanah airnya pada bangsa Indonesia. Faktor ekonomi dan kesempatan kerja menjadi salah satu faktor para WNI pergi ke luar negeri. Dan disinilih tantangan tentang kecintaan terhadap tanah air, nasionalisme dan kebangsaannya dipertaruhkan.
H. Nasionalisme, Bangsa dan Negara
Kaitan antara nasionalisme dengan bangsa dan negara amat jelas. Salah satu tujuan perjuangan kaum nasionalis yang terutama adalah pembentukan negara bangsa (nation state) . Hertz (1996: 47) berpendapat bahwa nasionalisme merupakan ideologi negara dan satu bentuk tingkah laku dari suatu bangsa. Nasionalisme sebagai ideologi dibentuk berdasarkan gagasan bangsa dan membuatnya untuk memberi fondasi kokoh bagi negara. Sebagai ideologi, nasionalisme dapat memainkan tiga fungsi, yaitu mengikat semua kelas warga bangsa, menyatukan mentalitas warga bangsa, dan membangun atau memperkokoh pengaruh warga bangsa terhadap kebijakan yang diambil oleh negara. Nasionalisme merupakan salah satu alat perekat kohesi sosial untuk mempertahakan eksistensi negara dan bangsa. Semua negara dan bangsa membutuhkan nasionalisme sebagai faktor integratif.
Kebangsaan atau bangsa dan negara mempunyai keterkaitan yang amat erat, antara keduanya saling melengkapi. Jika kebangsaan lebih bersifat subjektif, maka negara lebih bersifat objektif; kebangsaan bersifat psikologis sedangkan negara politis; kebangsaan merupakan suatu keadaan berpikir, sedangkan negara adalah keadaan menurut hukum; kebangsaan adalah milik yang bermakna spiritual,
sedangkan negara adalah kewajiban yang dapat dipaksakan; dan jika kebangsaan adalah cara untuk merasakan, berpikir dan hidup, maka negara adalah keadaan yang tidak dapat dipisahkan dari cara hidup yang berperadaban.
Dengan kata lain bangsa atau kebangsaan dan negara seperti satu mata uang dengan dua sisi yang berbeda tetapi tak terpisahkan. Antara negara dan bangsa bertemu dalam satu wadah yang disebut negara bangsa. Ciri menonjol dari negara bangsa mencakup: adanya bahasa bersama, asal usul yang sama, sejarah yang sama, ciri nasional yang jelas dan ideologi yang sama dan cita-cita yang sama. Maka idealnya setiap bangsa mempunyai negaranya sendiri.
DAFTAR PUSTAKA
http://download.portalgaruda.org/ diakses pada Minggu, 9 Oktober 2016 pukul 17.00 WIB www.usd.ac.id/lembaga/lppm/f1l3/Jurnal Historia Vitae diakses pada Minggu, 9 Oktober 2016 pukul 17.00 WIB
www.jurnal.lipi.go.id diakses pada Minggu, 9 Oktober 2016 pukul 17.00 WIB
http://www.antarakepri.com/berita/18106/nasionalisme-di-perbatasan-kepri diakses pada Minggu, 9 Oktober 2016 pukul 17.00 WIB
http://www.pikiran-rakyat.com/nasional/2016/08/16/berpindah-kewarganegaraan-hilangnya- nasionalisme-377523 diakses pada Minggu, 23 Oktober 2016 pukul 17.00 WIB
http://www.kompasiana.com/nunungsuryani/nasionalisme-dan-bhinneka-tunggal-ikaku-lebih- terasa-ketika-tinggal-di-luar-negeri_551fc8f4a33311db2bb67230 diakses pada Minggu, 23 Oktober 2016 pukul 17.15 WIB
https://erywijaya.wordpress.com/2010/08/17/lunturkah-nasionalismemu-wni-di-luar-negeri/
diakses pada Minggu, 23 Oktober 2016 pukul 17.30 WIB