• Tidak ada hasil yang ditemukan

Negara Hukum dan Pembangunan Nasional di Indonesia

N/A
N/A
nasla

Academic year: 2025

Membagikan " Negara Hukum dan Pembangunan Nasional di Indonesia"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Indonesia adalah negara hukum, sebagaimana diatur dalam Pasal 1 ayat (3) UUD 1945, yang menegaskan prinsip *rule of law* atau *Rechtstaat*. Dalam konsep ini, kekuasaan dibatasi oleh hukum untuk mencegah tindakan sewenang-wenang, sehingga setiap kebijakan negara harus berdasarkan hukum. Sebagai negara hukum, Indonesia diharapkan menjamin keadilan, kepastian hukum, dan perlindungan bagi masyarakat, menciptakan ketertiban dan rasa aman. Namun, hukum bukan satu-satunya institusi pencipta ketertiban sosial.

Pembangunan nasional Indonesia bertujuan meningkatkan kesejahteraan material dan spiritual rakyat, sesuai amanat Pancasila dan UUD 1945. Hal ini diwujudkan melalui pemenuhan kebutuhan pokok seperti sandang, pangan, dan papan, serta pemerataan akses pendidikan untuk meningkatkan kualitas hidup. Sektor perdagangan memainkan peran krusial dalam

perekonomian, dengan Kementerian Perdagangan menetapkan sasaran strategis seperti stabilisasi Alat Ukur, Takar, Timbang, dan Perlengkapannya (UTTP) serta peningkatan perlindungan konsumen. UTTP sangat vital dalam transaksi jual beli, terutama di pasar tradisional, untuk memastikan keakuratan pengukuran dan melindungi hak konsumen.

Namun, praktik penggunaan UTTP yang tidak memenuhi standar masih marak di pasar

tradisional. Banyak alat yang tidak ditera, rusak, atau dimodifikasi, menyebabkan ketidakakuratan dan kerugian bagi konsumen. Data Dinas Perdagangan Kota Pontianak menunjukkan penurunan partisipasi dalam program tera ulang UTTP, dari 1.630 unit pada 2021 menjadi hanya 288 unit pada 2024. Hal ini mencerminkan rendahnya kesadaran pedagang akan pentingnya legalitas UTTP, meskipun lokasi sidang tera ulang telah diatur secara strategis. Ketidakpatuhan ini

(2)

melanggar Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1981 tentang Metrologi Legal dan berpotensi merugikan konsumen.

Dari perspektif kriminologi, kecurangan UTTP di pasar tradisional dapat dipahami melalui teori tekanan ekonomi (*strain theory*), di mana tekanan ekonomi mendorong pedagang melakukan manipulasi untuk memperoleh keuntungan lebih besar. Meskipun hukum pidana menyediakan kerangka untuk menindak pelanggaran ini, penegakannya masih lemah akibat kurangnya kesadaran masyarakat dan implementasi yang tidak konsisten. Oleh karena itu, diperlukan kolaborasi antara kriminologi dan hukum pidana untuk menciptakan sistem penanganan yang lebih efektif dan berkeadilan.

(3)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah PPPPPP

Indonesia adalah negara hukum, sebagaimana secara tegas dinyatakan dalam Pasal 1 ayat (3) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD 1945). Prinsip ini menegaskan bahwa Indonesia menganut konsep *rule of law* atau *Rechtstaat*, di mana setiap tindakan dan kebijakan negara harus berdasarkan hukum dan tidak boleh ada kekuasaan yang bersifat sewenang-wenang. Dalam kerangka negara hukum, hukum berfungsi sebagai pembatas kekuasaan sekaligus penjamin keadilan, kepastian hukum, dan perlindungan bagi warga negara.

Tujuannya adalah menciptakan ketertiban, rasa aman, dan kenyamanan di tengah masyarakat.

Namun, perlu diingat bahwa hukum bukanlah satu-satunya institusi yang berperan dalam mewujudkan ketertiban sosial. Ada berbagai faktor lain, seperti budaya, pendidikan, dan kesadaran masyarakat, yang turut memengaruhi terciptanya tatanan sosial yang harmonis.

Pembangunan nasional Indonesia bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan material dan spiritual rakyat, sebagaimana diamanatkan oleh Pancasila dan UUD 1945. Tujuan ini diwujudkan melalui pemenuhan kebutuhan dasar seperti sandang (pakaian), pangan (makanan), dan papan (tempat tinggal), serta penyediaan akses pendidikan yang merata untuk meningkatkan kualitas hidup bangsa. Pendidikan yang merata dan berkualitas diharapkan dapat menciptakan masyarakat yang cerdas, kreatif, dan mampu bersaing di era globalisasi. Selain itu, pembangunan ekonomi juga menjadi fokus utama, dengan sektor perdagangan memainkan peran penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

(4)

Kementerian Perdagangan telah menetapkan beberapa sasaran strategis untuk meningkatkan kontribusi sektor perdagangan terhadap perekonomian nasional. Salah satunya adalah stabilisasi dan pengawasan terhadap Alat Ukur, Takar, Timbang, dan Perlengkapannya (UTTP). UTTP memiliki peran krusial dalam transaksi jual beli, terutama di pasar tradisional. Alat ini digunakan untuk mengukur isi, volume, dan berat barang yang diperjualbelikan. Di pasar modern, barang biasanya sudah dikemas dengan informasi lengkap seperti berat bersih, isi, dan tanggal kedaluwarsa. Namun, di pasar tradisional, penggunaan UTTP yang tidak memenuhi standar masih sering terjadi. Banyak alat yang tidak ditera, rusak, atau bahkan dimodifikasi secara tidak sah, seperti penggunaan botol bekas sebagai alat takar. Hal ini menyebabkan ketidakakuratan dalam pengukuran dan penimbangan, yang pada akhirnya merugikan konsumen.

Untuk memastikan keakuratan dan keabsahan UTTP, alat-alat tersebut harus ditera ulang secara berkala. Proses tera ulang ini bertujuan untuk memastikan bahwa alat-alat tersebut masih layak digunakan dan memberikan hasil pengukuran yang akurat. Namun, data dari Dinas Perdagangan Kota Pontianak menunjukkan tren penurunan partisipasi dalam program tera ulang UTTP. Pada tahun 2021, sebanyak 1.630 unit timbangan pegas ditera ulang, menghasilkan retribusi sebesar Rp22.820.000. Jumlah ini menurun drastis menjadi 288 unit pada tahun 2024, dengan retribusi hanya Rp4.032.000. Penurunan ini terjadi meskipun lokasi sidang tera ulang telah dipilih secara strategis di area pasar tradisional untuk memudahkan akses pedagang. Rendahnya partisipasi ini mencerminkan kurangnya kesadaran pedagang akan pentingnya legalitas UTTP dan kepatuhan terhadap peraturan.

Ketidakpatuhan terhadap aturan UTTP tidak hanya melanggar Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1981 tentang Metrologi Legal, tetapi juga berpotensi merugikan konsumen. Konsumen memiliki hak untuk mengajukan laporan hukum terhadap pelaku usaha jika terjadi kecurangan yang melanggar hak-hak konsumen dan menyebabkan kerugian. Dari perspektif kriminologi,

(5)

kecurangan dalam penggunaan UTTP dapat dipahami melalui teori tekanan ekonomi (*strain theory*). Teori ini menjelaskan bahwa tekanan ekonomi dan persaingan usaha yang ketat mendorong pedagang untuk melakukan kecurangan, seperti memanipulasi alat ukur, demi memperoleh keuntungan lebih besar. Meskipun hukum pidana menyediakan kerangka untuk menindak pelanggaran ini, penegakannya masih lemah akibat kurangnya kesadaran masyarakat dan implementasi yang tidak konsisten.

Oleh karena itu, diperlukan upaya kolaboratif antara kriminologi dan hukum pidana untuk menciptakan sistem penanganan yang lebih efektif. Selain penegakan hukum, edukasi dan sosialisasi tentang pentingnya UTTP yang sesuai standar juga perlu ditingkatkan. Hal ini penting untuk membangun kepercayaan antara konsumen dan pelaku usaha, serta memastikan transaksi jual beli yang adil dan transparan di pasar tradisional. Dengan demikian, prinsip negara hukum dan tujuan pembangunan nasional dapat diwujudkan secara lebih optimal. Selain itu, peran pemerintah dalam menyediakan fasilitas dan insentif bagi pedagang untuk mematuhi aturan UTTP juga perlu ditingkatkan. Misalnya, dengan memberikan bantuan teknis atau subsidi untuk pengadaan alat ukur yang memenuhi standar.

Secara keseluruhan, masalah penggunaan UTTP yang tidak sesuai standar di pasar tradisional mencerminkan tantangan yang lebih besar dalam upaya menciptakan sistem perdagangan yang adil dan transparan. Diperlukan pendekatan yang holistik dan terintegrasi, melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat, untuk mengatasi masalah ini. Dengan demikian, Indonesia dapat terus bergerak menuju terwujudnya masyarakat yang sejahtera, adil, dan makmur, sesuai dengan cita-cita nasional yang tertuang dalam

Pembukaan UUD 1945.

(6)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Indonesia adalah negara hukum, sebagaimana diatur secara langsung dalam Konstitusi Indonesia, tepatnya pada Pasal 1 ayat (3), yang menyatakan bahwa Indonesia merupakan negara hukum. Dalam literatur Indonesia, istilah "Negara Hukum" merupakan terjemahan langsung dari Rechtstaat atau rule of law. Dalam konsep negara hukum, terdapat pembatasan kekuasaan

sehingga tidak ada tindakan sewenang-wenang. Setiap tindakan negara terhadap warga negaranya harus dibatasi dan diatur oleh hukum.

Pembangunan nasional bertujuan meningkatkan kesejahteraan material dan spiritual dengan memenuhi kebutuhan dasar (*sandang, pangan, papan*) dan pemerataan akses pendidikan, sesuai amanat Pancasila dan UUD 1945 yang menekankan pembangunan berbasis nilai kemanusiaan.

Sektor perdagangan memainkan peran strategis dalam perekonomian Indonesia, dengan Kementerian Perdagangan fokus pada stabilisasi Alat Ukur, Takar, Timbang, dan

Perlengkapannya (UTTP), perlindungan konsumen, serta pengawasan kualitas barang/jasa. UTTP sangat krusial dalam transaksi, terutama di pasar tradisional, untuk memastikan akurasi

pengukuran isi, volume, dan berat barang. Namun, penggunaan UTTP tidak sesuai standar, seperti alat rusak, tidak tera, atau berbahan bekas, masih marak dan berpotensi merugikan konsumen.

Ketidakakuratan UTTP akibat kurangnya tera ulang berkala dapat menyebabkan kesalahan pengukuran. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1981 tentang Metrologi Legal mengatur kewajiban tera ulang dan memberikan hak konsumen untuk melaporkan kecurangan. Program "tera" dan

"tera ulang" oleh Dinas Perdagangan bertujuan memastikan kepatuhan standar, namun partisipasi

(7)

pedagang masih rendah. Drs. Junaidi, MM, Kepala Bidang Perdagangan Kota Pontianak, menegaskan pentingnya program ini untuk mencegah kerugian konsumen.

Faktanya, pasar tradisional masih menghadapi tantangan integritas dalam penggunaan UTTP.

Tekanan ekonomi dan persaingan usaha mendorong sebagian pedagang menggunakan alat takar tidak layak, seperti yang berkarat, tidak stabil, atau dari bahan bekas. Praktik ini tidak hanya melanggar hukum, tetapi juga mengikis kepercayaan antara pelaku usaha dan konsumen, sehingga diperlukan penegakan regulasi yang lebih tegas dan berkelanjutan.

Data yang dikumpulkan oleh Dinas Perdagangan dan Perindustrian Kota Pontianak menunjukkan penurunan yang signifikan dalam partisipasi tera ulang timbangan pegas selama periode 2021 hingga 2024. Pada tahun 2021, sebanyak 1.630 unit timbangan pegas ditera ulang, menghasilkan retribusi sebesar Rp22.820.000. Namun, angka ini terus menurun pada tahun-tahun berikutnya, dengan 466 unit pada 2022 (Rp6.524.000), 375 unit pada 2023 (Rp5.250.000), dan 288 unit pada 2024 (Rp4.032.000). Secara keseluruhan, total retribusi yang diperoleh selama empat tahun tersebut mencapai Rp38.626.000, dengan tahun 2021 mencatat retribusi tertinggi. Meskipun lokasi sidang tera ulang dipilih secara strategis di area pasar tradisional untuk memudahkan akses pengguna, tetapi partisipasi tetap rendah.

Kurangnya kesadaran pengguna alat ukur, takaran, dan timbangan (UTTP) akan pentingnya legalitas dalam pengukuran mencerminkan pelanggaran terhadap Pasal 32 Ayat (1), (2), dan (3) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1981 tentang Metrologi Legal. Pelanggaran ini berpotensi merugikan konsumen dalam transaksi jual beli. Diperlukan upaya peningkatan kesadaran dan penegakan hukum untuk memastikan kepatuhan dan melindungi kepentingan publik.

Kecurangan penggunaan UTTP yang tidak ditera atau tera ulang di pasar tradisional, menurut kriminologi, adalah penipuan yang disengaja untuk merugikan konsumen. Teori tekanan ekonomi

(8)

(strain theory) menyatakan tekanan finansial dan persaingan usaha mendorong manipulasi demi keuntungan. Meski hukum pidana mengatur penindakan kecurangan metrologi, penegakannya lemah akibat rendahnya kesadaran dan implementasi tidak konsisten. Kolaborasi kriminologi dan hukum pidana diperlukan untuk sistem penanganan yang lebih efektif.

Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis tertarik untuk mengkaji dan menganalisisnya lebih dalam dengan mengangkat judul “Tinjauan Kriminologi Terhadap Kewajiban Tera Ulang Timbangan Pedagang Pasar Tradisional Di Kota Pontianak”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian-uraian yang telah dijelaskan pada bagian latar belakang, maka masalah yang akan menjadi fokus pada penelitian ini adalah sebagai berikut :

a. Apa faktor penyebab pedagang pasar tradisional di Kota Pontianak tidak melakukan kewajiban tera ulang?

Referensi

Dokumen terkait

“Negara yang berdiri di atas hukum yang menjamin keadilan kepada warganya. Keadilan merupakan syarat bagi tercapainya kebahagiaan hidup untuk warga negaranya, dan sebagai

pembangunan hukum nasional yang bertujuan mewujudkan tujuan negara untuk melindungi segenap rakyat dan bangsa, serta seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum,

Sistem Jaminan Sosial Nasional pada dasarnya merupakan program negara yang bertujuan memberi perlindungan kebutuhan dasar dan kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat

Pembangunan nasional adalah kegiatan yang berlangsung secara terus-menerus dan berkesinambungan yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Untuk

Perlindungan hukum terhadap konsumen menjadi sangat perlu diperhatikan demi kesejahteraan masyarakat sebagai konsumen untuk menjamin adanya kepastian hukum bagi konsumen

Dengan Pancasila sebagai philosophische grondslag negara, maka dasar Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi acuan dalam pembangunan hukum nasional yang religius, baik

Konsep negara hukum Indonesia menerima prinsip kepastian hukum yang menjadi hal utama dalam konsepsi rechtsstaat, sekaligus juga mene- rima prinsip rasa keadilan dalam the rule of

Hukum Agraria yang terdiri dari hukum tanah, hukum air, hukum pertambangan, dan hukum kehutanan, memiliki peran penting dalam pembangunan nasional di