NAMA : Vicky Kurnia Syahputra Kelas : PKnH A 2022
NIM : 22401241016 Mata Kuliah : Hukum Agraria
Resume Artikel Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Undiksha Vol. 7 No. 3 (September, 2019), yang berjudul “HUKUM TANAH SEBAGAI BAGIAN DARI
HUKUM AGRARIA DALAM PEMBANGUNAN NASIOAL DI INDONESIA”
Hukum Agraria
Agraria dalam arti luas terdapat pada UU No. 5 Tahun 1960 tentang Pengaturan Dasar Pokok-pokok Agraria atau dapat dikenal dengan Undang-undang Pokok Agraria yang disingkat menjadi UUPA. Menurut UUPA, agraria melingkupi air, bumi, ruang angkasa serta kekayaan yang terkandung didalamnya. Dalam UUPA pengertian hukum Agraria tak hanya sebagai perangkat dalam bidang hukum namun sekumpulan bidang hukum yang mengatur hak menguasai sumber daya alam yaitu agraria. Adapun sekumpulan bidang hukum tersebut melingkupi:
a) Hukum tanah, merupakan hukum yang mengatur hak atas penguasaan tanah di permukaan bumi.
b) Hukum air, merupakan hukum yang mengatur hak atas penguasaan air di wilayah laut Indonesia.
c) Hukum pertambangan, merupakan hukum yang mengatur hak atas penguasaan bahan galian dalam undang-undang pertambangan.
d) Hukum perikanan, merupakan hukum yang mengatur hak atas penguasaan kekayaan alam didalam air.
e) Hukum penguasaan atas tenaga dan unsur-unsur dalam ruang angkasa, merupakan hukum yang dimuat dalam UUPA Pasal 48.
f) Segala bagian dari sekumpulan bidang hukum agraria tersebut adalah hukum yang mengatur hak atas penguasaan berbagai sumber daya alam, yang tidak mengatur mengenai pengelolaan termask penatagunaan.
Hukum Tanah
Hukum tanah hanya mengatur hal tertentu dari tanah itu sendiri, yaitu menyangkut Hak Penguasaan atas Atas Tanah atau dapat disingkat dengan HPAT. Hal lain seperti menggunakan tanah atau mewariskan tanah tidak termuat dalam Hukum Tanah, namun termuat dalam Hukum Tata Ruangan/Lingkup dan Hukum Waris.
Hukum yang berlaku mengenai HPAT dalam Hukum Tanah Nasional terdiri atas:
a) Hukum tertulis, yang melingkupi Pasal 33 UUD 1945, UUPA, Peraturan pelaksanaan, dan peraturan lama sebelum UUPA berlaku berdasarkan peraturan peralihan UUD 1945
b) Hukum tidak tertulis, yang melingkupi Hukum Adat dan hukum kebiasaan baru yang bukan hukum adat.
Dalam Hukum Tanah terdapat pengaturan mengenai berbagai Hak Penguasaan Atas Tanah (HPAT). Semua Hak Penguasaan Atas Tanah (HPAT) berisi sekumpulan wewenang, kewajiban, dan larangan bagi pemegang haknya untuk berbuat sesuatu tentang tanah yang dihaki. Secara yuridis, yang dimaksud berbuat sesuatu tersebut dapat berisi kewenangan privat, publik bahkan bisa sekaligus kewenangan publik dan privat. Pengertian penguasaan yang dimaksud dalam HPAT terdapat kewenangan yang luas, bukan hanya sekedar berisi kewenangan hak untuk menggunakan dan atau menjadikan tanah sebagai jaminan kewenangan dalam perdata. Dari hal tersebut HPAT lebih luas daripada Hak Atas Tanah. Maka perlu dilakukannya pendekatan sebagai lembaga hukum dan hubungan hukum yang konkrit dalam Hukum Agraria/Tanah.
Lingkup Hukum Tanah diperoleh dari hierarki hak atas penguasaan tanah dalam Hukum Tanah Nasional yang melingkupi Hak Bangsa Indonesia yang termuat dalam Pasal 1 UUPA sebagai hak penguasaan atas tanah yang tertinggi dari segi aspek perdata dan publik, Hak Menguasai Negara yang termuat dalam Pasal 2 UUPA sebagai hak penguasaan yang semata-mata dari segi aspek publik, Hak Ulayat Masyarakat Hukum Adat yang termuat dalam Pasal 3 UUPA dari segi aspek perdata dan publik, serta Hak- hak perorangan/individual dari segi aspek perdata, yang terdiri atas hak-hak atas tanah sebagai hak individual yang semuasecara langsung maupun tidak langsung bersumber pada Hak Bangsa, yang termuat dalam Pasal 16 dan 53, lalu Wakaf yaitu Hak Milik yang sudah diwakafkan termuat dalam Pasal 49 UUPA, selanjutnya Hak Jaminan atas Tanah yang disebut Hak Tanggungan yang termuat dalam Pasal 25, 33, 39, dan 51 UUPA serta UU No. 4 Tahun 1996, serta HMRS. Karena Hak Bangsa adalah Hak Penguasaan Atas Tanah (HPAT) yang tertinggi di Indonesia, maka semua HPAT lainnya
bersumber dari Hak Bangsa sebagai kekayaan bersalam seluruh bangsa Indonesia dan semua hak atas tanah harus berfungsi secara sosial.
Fungsi Hukum Tanah sebagai Pembangunan Nasional
Deskripsi Umum dari Undang-undang Pokok Agraria atau UUPA menyatakan bahwa tujuan UUPA yaitu meletakkan dasar-dasar bagi serangkaian hukum agraria nasional yang merupakan alat untuk membawakan kemakmuran, kesejahteraan dan keadilan bagi Negara dan juga rakyat dalam kerangka masyarakat yang adil dan makmur, lalu meletakan dasar-dasar untuk meperoleh kesatuan dan kesederhanaan dalam hukum pertanahan, dan meletakkan dasar-dasar untuk memberikan kepastian hukum mengenai hak-hak atas tanah bagi seluruh rakyat. Adapun tujuan pertama UUPA tersebut menunjukkan bahwa UUPA secara sengaja disusun dan dirangkai sebagai alat untuk membawakan kemakmuran, kebahagiaan dan keadilan bagi Negara dan rakyat dalam rangka masyarakat yang adil dan makmur.
Hukum Agraria dan Hukum Tanah mempunyai sifat yang sama yakni mengatur tentang hak penguasaan yaitu hak untuk berbuat sesuatu. Jika dilihat dari perbedaannya, hanya berada pada lingkup objek yang diatur tersebut. Dalam Hukum Agraria lebih mengatur hak penguasaan atas air, bumi, ruang angkasa dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya. Sedangkan dalam Hukum Tanah yaitu mengatur tentang Hak Penguasaan Atas Tanah atau disingkat HPAT.
Resume PPT Pengantar Hukum Agraria Makna Tanah Untuk Warga Negara
Tanah memiliki arti yang sangat penting bagi kehidupan setiap manusia, karena keberadaannya mempunyai hubungan erat dengan manusia dan makhluk hidup lainnya terutama untuk memenuhi kebutuhan dan mendukung kelangsungan hidupnya. Secara umum sebutan tanah dalam terminilogi masyarakat adat disebut sebagai taneuh, leumah (Sunda); siti, bhumi, lemah (Jawa); palemahan (Bali); petak, bumi (Dayak); rai (Tetum).
Nilai Tanah
a) Nilai keuntungan, yang berhubungan dengan nilai ekonomi dari tanah, seberapa besar tanah dihargai;
b) Nilai kepentingan umum, yang berhubungan dengan pengaturan untuk masyarakat umum dalam peningkatan kesejahteraan masyarakat;
c) Nilai sosial, yang merupakan sumber pengikat antara warga negara dalam melaksanakan fungsi kehidupannya sebagai makhluk sosial.
Pengertian Hukum Agraria
Sebutan Graria dalam bahasa Asing, Angger(latin), yaitu tanah atau sebidang tanah, Agrarius (yunani kuno), yaitu perladangan, persawahan, pertanian, kamus latin Indonesia, Akker (belanda), yaitu ladang atau tanah pertanian.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, agraria adalah urusan pertanian/tanah pertanian, juga urusan pemilikan tanah. Sebutan agraria (Inggris-agrarian) selalu diartikan tanah dan dihubungkan dengan usaha pertanian. Sebutan Agrarian Laws:
seringkali digunakan untuk menunjuk pada perangkat peraturan-peraturan hukum yang bertujuan mengadakan pembagian tanah tanah yang luas dalam rangka lebih meratakan penguasaan dan pemilikannya.
Pengertian Agraria Dalam Undang-Undang Pokok Agraria
Pengertian agraria dan Hukum Agraria dalam UUPA, dipakai dalam arti yang sangat luas, meliputi: Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya, dalam batas- batas tertentu (pasal 48) juga ruang angkasa. Dalam UUPA pengertian hukum Agraria tak hanya sebagai perangkat dalam bidang hukum namun sekumpulan bidang hukum yang mengatur hak menguasai sumber daya alam yaitu agraria. Bidang tersebut meliputi:
a) Hukum tanah, merupakan hukum yang mengatur hak atas penguasaan tanah di permukaan bumi.
b) Hukum air, merupakan hukum yang mengatur hak atas penguasaan air di wilayah laut Indonesia.
c) Hukum pertambangan, merupakan hukum yang mengatur hak atas penguasaan bahan galian dalam undang-undang pertambangan.
d) Hukum perikanan, merupakan hukum yang mengatur hak atas penguasaan kekayaan alam didalam air.
e) Hukum penguasaan atas tenaga dan unsur-unsur dalam ruang angkasa, merupakan hukum yang dimuat dalam UUPA Pasal 48.
f) Segala bagian dari sekumpulan bidang hukum agraria tersebut adalah hukum yang mengatur hak atas penguasaan berbagai sumber daya alam, yang tidak mengatur mengenai pengelolaan termask penatagunaan.
Menurut Doktrin
Tanah adalah sampai dimungkinkannya tanaman/tumbuhan bisa hidup yang mengandung air, lebih kurang 10 meter. (selebihnya adalah tubuh bumi).
Hukum Tanah
Pengertian Tanah dalam arti yuridis termuat pada Pasal 4 UUPA yang berbunyi
“(1)Atas dasar hak menguasai dari Negara sebagai yang dimaksud dalam pasal 2 ditentukan adanya macam-macam hak atas permukaan bumi, yang disebut tanah, yang dapat diberikan kepada dan dipunyai oleh orang-orang, baik sendiri maupun bersama- sama dengan orang-orang lain serta badan-badan hukum. (2)Hak-hak atas tanah yang dimaksud dalam ayat (1) pasal ini memberi wewenang untuk mempergunakan tanah yang bersangkutan, demikian pula tubuh bumi dan air serta ruang yang ada diatasnya, sekedar diperlukan untuk kepentingan, yang langsung berhubungan dengan
penggunaan tanah itu dalam batas-batas menurut Undang-undang ini dan peraturan- peraturan hukum lain yang lebih tinggi. (3)Selain hak-hak atas tanah sebagai yang dimaksud dalam pasal (1) pasal ini ditentukan pula hak-hak atas air dan ruang angkasa.”
Menurut Pendapat Para Ahli Hukum
A.P. Parlindungan: Pengertian agrarian mempunyai ruang lingkup yaitu dalam arti sempit, bisaa berwujud hak-hak atas tanah, maupun pertanian saja.
Soedikno Mertokusumo: Hukum agraria adalah kaidah-kaidah hukum, baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis yang mengatur agrarian.
Boedi Harsono: Hukum agrarian bukan hanya merupakan satu perangkat bidang hukum. Hukum agrarian merupakan satu kelompok berbagai bidang hukum, yang masing-masing mengatur hak-hak penguasaaan atas sumber-sumber daya alam tertentu yang termasuk pengertian agrarian.
Subekti/Tjitrosoedibyo: Hukum agrarian adalah keseluruhan dari ketentuan- ketentuan hukum, baik hukum Perdata, maupun Hukum Tata Negara (Staatsrecht)
maupun pula hukum Tata Usaha Negara (Administratif Recht) yang mengatur hubungan-hubungan antara orang termasuk badan hukum, dengan bumi, air, dan ruang angkasa dalam seluruh wilayah negara dan mengatur pula wewenang- wewenang yang bersumber pada hubungan-hubungan tersebut.
Politik Hukum Agraria
Satjipto Rahardjo: Politik hukum adalah aktivitas untuk menentukan suatu pilihan mengenai tujuan dan cara-cara yang hendak dipakai untuk mencapai tujuan hukum dalam masyarakat.
Padmo Wahjono: Politik hukum adalah kebijaksanaan penyelenggaraan negara tentang apa yang dijadikan kriteria untuk menghukumkan sesuatu (menjadikan sesuatu sebagai hukum). Kebijakan tersebut dikaitkan dengan pembentukan hukum.
Sumber Hukum Agraria Tertulis
• Pasal 33 ayat (3) UUD NKRI 1945 yang menyatakan bahwa “Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalammnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”.
• Undang-undang Pokok Agraria, Pasal 1 ayat (2) yang menyatakan bahwa “Seluruh bumi, air dan ruang angkasa, termasuk kekayaan alam yang terkandung di dalammnya dalam wilayah RI, sebagai karunia Tuhan YME adalah bumi, air dan ruang angkasa bangsa Indonesia dan merupakan kekayaan nasional”.
Tidak Tertulis
• Kebiasaan baru yang timbul sesudah berlakunya UUPA, misalnya: Yurisprudensi dan Praktik Agraria.
• Hukum adat yang masih berlaku dan masih hidup di tengah-tengah masyarakat Indonesia.
Fungsi Hukum Adat sebagai Sumber Hukum Agraria Hukum Adat sebagai dasar dan sebagai pelengkap
a) Hukum Agraria Nasional merupakan perangkat hukum tanah yang sumber utamanya adalah Hukum Adat, yaitu berdasarkan konsepsi, asas-asas, dan lembaga-lembaga
hukum adat serta disusun sebagai norma-norma Hukum Agraria Nasional menurut sistem Hukum Adat.
b) Sepanjang mengenai hal-hal yang belum mendapat pengaturan dalam Hukum Agraria Nasional tertulis dilengkapi dengan norma-norma Hukum Adat setempat yang berfungsi sebagai pelengkap Hukum Agraria Nasional tertulis.
c) Hukum Adat di lingkungan masyarakat hukum adat merupakan bagian Hukum Agraria yang tidak tertulis, sepanjang menurut ketentuannya masih berlaku, belum mendapat pengaturan secara tertulis dan tidak bertentangan dengan hukum nasional yang tertulis.
Tujuan Hukum Agraria Nasional
Tujuan nasional bangsa Indonesia: "yakni mellindungi segenap bangsa Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial"
Tujuan negara dalam bidang agraria: (1)Kesatuan hukum agraria yang berlaku bagi seluruh rakyat Indonesia. (2)Menyederhanakan hukum agraria, menghilangkan dualisme dan sifat. (3)Memberikan jaminan kepastian hukum dari apa yang menjadi hak seluruh rakyat Indonesia.
Tujuan Hukum Agraria
1) Meletakkan dasar-dasar bagi penyusunan hukum agraria nasional yang merupakan alat untuk membawa kemakmuran, kebahagiaan dan keadilan bagi negara dan rakyat terutama rakyat tani dalam rangka masyarakat adil dan Makmur
2) Meletakkan dasar-dasar untuk mengadakan kesatuan dan kesederhanaan dalam hukum pertanahan
3) Meletakkan dasar-dasar untuk memberikan kepastian hukum mengenai hak-hak atas tanah bagi rakyat seluruhnya
Asas dalam Hukum Agraria 1) Asas fungsi sosial 2) Asas hukum adat 3) Asas monopoli negara 4) Asas nasionalisme 5) Asas unifikasi
6) Asas non-diskriminasi 7) Asas kebangsaan
Hak-Hak Penguasaan Atas Tanah: Berdasarkan pada Pasal 2 UUPA, Hak penguasaan atas tanah terbagi menjadi 2 yaitu Penguasaan dan Menguasai.
Hierarki Hak-Hak Penguasaan Atas Tanah dalam Hukum Tanah Nasional 1) Hak Bangsa Indonesia atas tanah
2) Hak menguasai dari negara atas tanah 3) Hak ulayat
4) Hak Perseorangan, meliputi hak-hak atas tanah, wakaf tanah hak milik, hak jaminanan atas tanah dan hak milik atas satuan rumah susun
Subjek Hukum Agaria: Orang, Pemerintah, dan Badan Hukum.
Objek Hukum Agraria: Tanah, Pengairan, Pertambangan, Perikanan, Kehutanan, dan Penguasaan atas tenaga dan unsur-unsur dalam ruang angkasa.
Objek Hukum Tanah: Hak penguasaan tanah, yang terbagi menjadib 2 yaitu Hak penguasaan atas tanah sebagai Lembaga hukum, dan Hak penguasaan atas tanah sebagai hubungan yang konkrit.
Asas dalam Hukum Tanah: terbagi menjadi 2 yaitu asas perlekatan dan asas pemisahan horizontal.
Hukum Agraria: Hukum yang mengatur hak-hak penguasaan atas berbagai sumberdaya agrarian, bukan yang mengatur tentang pengelolaan, termasuk penatagunaan atas sumberdaya agrarian.
Fungsi Sosial tanah dalam UUPA: Diatur dalam Pasal 6 UUPA, fungsi dari tanah tersebut disesuaikan dengan kepentingan rakyat bukan untuk kepentingab pengusaha.
Pembidangan dan Pokok Bahasan Hukum Agraria
a) Sebelum UUPA, terdiri atas 5 perangkat hukum meliputi Hukum Agraria Adat, Hukum Agraria Barat, Hukum Agraria Administratif, Hukum Agraria Swapraja, dan Hukum Agraria antar golongan.
b) Sesudah UUPA, dibagi menjadi 2 bagian melupiti Hukum Agraria Perdata dan Hukum Agraria Administrasi.