New recording 6
Disalin oleh TurboScribe.ai. Tingkatkan ke Tanpa Batas untuk menghapus pesan ini.
Pujian saya itu ya, anak bisa publikas itu sebenarnya ya, kalau diarahkan tuh, oh, berbeda sama anak normal lho. Kalau anak normal, orang nggak mau. Disiplinnya itu ada di anak bisa, disiplin itu lebih banyak.
Mungkin ini ngambilnya, kita ngambil, itu sebuah, hampir sama, tapi lebih ke kesehatan mental orang tua, anak bisa publikas itu, kekejayaan anak-anak. Sebenarnya perkenalan ibu saya, saya bilang, dari PNP Tandatimo, jurusan proyek bisa publik. Sebenarnya ibu dengan siapa? Saya dengan ibu Susi.
Susi berapa ibu? Saya berapa ya? Empat lima, kasih. Aduh, saya tuh hampir sengaper lho.
Bener.
Bener. Nggak percaya. Oh iya dah.
Alhamdulillah. Memang anak, saya punya anak demikian tuh, katanya orang-orang lho, awet puja. Awet puja, alhamdulillah.
Ini udah lima puluh lho saya. Saya nggak mau dikatakan dua, saya itu maksudnya, menyemangati anak. Jadi, saya mungkin contoh gitu lho.
Jadi, saya nggak mau. Jadi ya, mungkin terbawah itu tadi ya, auranya jadi, betul. Ibunya anaknya berapa? Satu.
Satu ini, tunggal? Ini bisa langsung akses. Jadi, seberapa sering ibu mengalami stres dalam melangsung anak siabilitas? Seberapa sering? Oke, stresnya. Stresnya.
Kalau saya sih enjoy. Sebenarnya, kalau nggak ada kendala di anak, saya merasa enjoy. Saya nikmati.
Biasanya emang kendalanya dari adiknya? Saya kendalanya itu cuma dia kalau emosi. Emosinya kan masih gak. Di situ saya merasa kesulitan.
Sebenarnya, gimana caranya anaknya supaya nggak emosi. Dari situ saya pelajari terus. Dari awal.
Supaya senang itu, gini-gini gitu. Jadi, anak itu kesenangannya apa, kita turunin dulu. Untuk poinnya.
Terus, setelah itu, baru dia mau menghasilkan apa yang saya sebutkan. Biasanya memang kalau mulai naik emosinya, itu karena apa? Macem-macem ya. Dia bisa karena nggak enak hati.
Atau kurang pas dia pengennya apa itu. Dia kan speed healing. Jadi, untuk membuka
kegiminannya itu ada kesulitan.
Jadi, cuma sepatah dua kata, dia baru saya yang mengelan. Jadi, kegiminannya itu poinnya itu.
Biasanya kalau memang adiknya emosinya yang udah naik, biasanya dia diam.
Diam, saya diamkan. Dia otomatis kan mengikuti. Kalau mamaku nggak marah, saya juga nggak usah marah.
Jadi, mengajari anak itu begitu. Karena kalau marah itu lebih cuai. Kalau saya marah, dia malah ikut marah.
Emosinya tambah lebih tinggi. Bisa melakukan apa saja. Jadi, selama dia diam itu, adiknya nggak nge-call ataupun nggak.
Dia cenderung diam. Tapi, dia juga bicara. Terus, kadang kalau ada barang, kertas ya, di sobek- sobek.
Terus, ada kayak kongkat-kongkat dipakai. Terus, kolpen dipakai, pensil dipakai. Apa yang ada di depannya dia.
Makanya, saya itu lebih berhati-hati. Kemarin aja hape dibanting. Karena kebetulan dia pegang hape ya.
Pas marah, jadi langsung dia oh-oh. Betul. Jadi, makanya saya berusaha meregang semua simulasi untuk emosi saya.
Supaya anaknya juga tidak terlalu jadi. Tapi, si cowok ini pernah kayak nggak sengaja emosi daripada ibu? Iya sih, kadang-kadang. Yang namanya mama ya.
Capek ya. Spontan gitu kadang. Ini anak saya kan menyerah.
Tapi, seiringnya usia sudah berkurang emosinya? Enggak. Yang parahnya itu waktu SD sama SMP. Dan pernah dibully juga waktu SMP.
Sangat reguler ya? Iya, ikut inklusi. Jadi, dicampur sama anaknya dia dibully sampai terluka.
Akhirnya, trauma ya mbak? Anak nggak masuk.
Sampai saya ditanya sama gurunya, Bu, kenapa Rangga nggak masuk? Saya terus langsung maju. Terluka ini. Kenapa? Saya juga protes kan.
Sebagai guru emosi kan harusnya dia lebih memperhatikan. Tapi, ini nggak. Sampai terluka lho.
Dulu ada sih fotonya. Cuma, waktu itu DHB yang rusak. Saya foto.
Jadi, untuk dokumentasi sekolah. Saya buktikan juga. Iya, biar nggak dikira-kira.
Betul. Saya bisa laporkan lho ke Kongnas. Ke Kongnas anak untuk sekolah.
Itu bisa. Tapi, saya misalnya kerugian keluarga. Jatuh keluargaan.
Yes. Akhirnya, ya bisa. Tapi, kan saya tinggal ya.
Terus, setelah kejadian itu, saya diizinkan untuk menunggu lho. Sebelum itu, berapa lama itu menunggu lho? Setelah 1 tahun menjelang akhir kelas juga. Oh, dari sejak kelas 2? Iya, kelas 2 sampai.
Pernah hilang juga. Dari sekolah? Iya. Kelas sekolah.
SMP. Saya terlambat dijemput. Terus, akhirnya anaknya itu ikutin temennya naik BIMU.
Nggak, naik BIMU. Oh, sama kakak kelasnya. Di situ lho, kenapa kok gurunya itu si gugur nggak menahan? Harusnya anak infusi di tahan sampai orang tua atau penjemputnya itu datang.
Di situ kan saya marah besar. Iya, saya spontan. Guru-guru di sini tuh nggak merasakan ya anak-anak yang terwibian.
Coba kalau anda ada anggah itu yang anak yang terwibian, gimana rasanya? Saya nangis, bang. Karena memang udah ulang, gimana? Iya. Saya tuh takutnya bang, uangnya itu nggak ada.
Dia naik BIMU. Bayar pake apa? Untungnya temennya tuh baik. Dia tuh bayarin, bang.
Terus saya gantiin. Nggak mau. Sampai, malu saya.
BIMU, BIMU apa itu? Bukan, BIMU F. Yang coklat. Sekolahnya di SMP 45. Oh, itu sekolahnya di SMP 45? Ada.
Waktu ajaran baru, anak saya masuk itu. Itu baru ada? Mungkin itu jadinya gurunya belum terbiasa. Mungkin kurang pengalaman.
Pengalaman, pengalaman, pengalaman. Terus, mungkin yang menarikkan, Ibu. Dari pengolahan emosi Ibu dan kehidupan emosi Ibu yang mungkin sedikit malangkah di teman dari anak siapa untuk pemerintah itu seperti apa? Emosi ini gimana? Walau di RAP ini kan ada penyediaan ruang sekolah kantor SMP.
Mungkin dari istilah orang tua membutuhkan hal yang serupa atau demikian? Kebetulan di sini ada penyediakan psikologi. Di sini saya manfaatkan. Karena apa? Untuk memperkuat menurut orang tua itu perlu.
Ya kan? Jadi, saya kalau di rumah udah nangis, aku nggak nangis. Ya itulah sebabnya, saya belum ada. Jadi seluruh pemikiran seling ini? Atau ada nggak ada? Ya kalau dokternya ada.
Kalau dokternya nggak ada, saya nggak bisa masuk ke sini. Kalau untuk anak makan, saya
nggak mau. Karena pengalamannya kurang.
Bukannya merendahkan setidaknya. Mungkin pengalamannya kurang, jadi nggak bisa kasih kawasan untuk masuk ke sini. Jadi, yang falseling itu juga untuk ibu-ibunya orang tua.
Betul. Bagi yang meninggalkan, banyak lho. Keluaran orang tua juga.
Iya. Saya dengar sendiri nih, kan komunitasnya kan ada ya, itu pada jumlah soal pengalaman.
Dan katanya, kebanyakannya cuma satu.
Ya ada sih, yang punya sodara, ada kakak atau adik. Saya kan ini anak pertama. Terus, saya tuh trauma.
Nanti melihat, nanti takutnya gini lagi. Gitu lho. Menusiawi.
Terus, kalau masih trauma, mending kapi dulu. Akhirnya saya kapi sampai kelumpahan. Fokus ke anak.
Banyak itu. Banyak itu. Dan lagi, di sodara suami saya itu, ada juga yang disadun.
Jadi kan, kemungkinan besar, ada keturunan. Jadi, kalau saya ambil lah, kemungkinan besar tak ada. Jadi, saya antisipasi aja.
Karena kan, akhirnya anak saya nggak fokus. Sudah mudah lah anak saya. Sudah bisa mencuci baju sendiri.
Cuci diri sendiri. Meskipun kurang bersih, tetap saya anggap. Caranya jangan gitu.
Pokoknya, mamanya harus sering-sering kasih perasaan. Sampai anak keluar. Dan kalau sudah paham, kadang ya, kadang ya, cucu laki.
Terus, bosan-bosan ngasih tawa. Terus kalau bosannya sampai kawel, mamanya. Tapi ayah masih ada? Ada.
Untungnya, kalau orang tua yang punya anaknya, banyak yang nggak terima. Untuk orang tua laki. Oh, keluarga laki-laki kadang nggak ada? Bukan, ada suami.
Dan kebanyakan, banyak di sini. Yang jendel-jendel. Ya, kurang lebihnya gitu.
Kalau saya lihat. Kalau ekonomi sih kelihatannya tidak sih. Kayaknya kemudian lagi, masalahnya tidak sama.
Yang bisa terima, atau malu, atau pensi, itu bisa. Kalau saya sih, alhamdulillah, ya suami saya tuh tidak begitu. Tidak sepahat banget.
Ya, karena kita jadinya lihat adiknya. Adiknya kan punya anak indonesia. Jadi seperti itu.
Pengalaman adiknya, dikeluarinya sendiri. Ya, sekarang lupa, mbak. Yang dulu darah
dagingnya, ditipang dulu.
Jadi, ya poyo-poyo, saya tak rusak. Berusaha semaksimal mungkin. Dulu itu, alhamdulillah, terapinya cuma sebentar.
Karena dulu saya kan kerja di praktek. Jadi, penanganan sudah sedih mungkin. Sudah teratasi.
Jadi, tidak sampai telat anak saya. Sampai semuanya bilang, keluarnya tidak apa-apa. Kalau dibilangnya, tidak apa-apa.
Orang-orang bilang, oh, tidak apa-apa. Menurut kami, tidak apa-apa. Ya, tidak tahu prosesnya.
Orang lihat hasilnya itu tadi. Mungkin itu saja. Terima kasih seringnya.
Ya, nanti kalau ada papa, bisa kembali sini. Ya. Kurang datanya.
Ya. Berkalah, Ibu. Kemarin sama Pak Imam itu kan juga niatnya ke Pak Imam dulu saja.
Tapi ternyata dari kangkus itu, keluarga harus memberi yang lain juga. Soalnya tidak cukup kalau cuma satu pandangan saja. Jadi, diarahin ke orang tuanya.
Satu atau dua cukup. Dari perkembangan. Ini banyak hasilnya.
Ada yang tunang rumah, tunang netra. Terus, anak saya kan tunang kereta. Tapi ringan, Kak, anak saya masuk tunang kereta ringan.
Karena bisa membaca, bisa menulis, terus sama bisa terimpul. Ya, Alhamdulillahnya di situ.
Terus di SMA-nya itu juga pernah ikut campur.
Terima kasih, Ibu. Terima kasih, Ibu. Itu campurnya bagaimana? Tidak.
Tidak. Tanpa orang tua. Hanya guru.
Itu pun pilihan, Kak. Jadi, tidak semua orang diikutkan. Jadi, termasuk anak saya, berapa ya dulu? Anak lima atau sepuluh yang dipilih.
Termasuk anak saya. Saya juga kaget kok. Ibu, berapa hari? Seminggu.
Ibu kalau mau menghubungi, langsung ajak ke saya. Ke anaknya tidak boleh. Jangan, Ibu.
Nanti anaknya bikin nangis. Nangis kepikiran. Ya, Alhamdulillah.
Semua kegiatannya di grup saya lihat. Tidak apa-apa, sehat. Malah senang anaknya.
Tidak mau pulang, katanya. Ibu, di mana? Di Surabaya. Oh, di Surabaya.
Di sebuah kota. Ya, di sebuah kota. Tapi, satu minggu itu juga waktu yang lama, Ibu.
Iya, betul. Saya yang tidak bisa tidur. Ibu terus cek hape.
Iya, terus on hape. Iya, benar. Kenapa? Saya sehari-hari bersama anak saya.
Tiba-tiba satu minggu. Langsung dikutuk. Sampai tidak bisa tidur.
Bapaknya juga begitu. Ibu, buah anak lagi punya Ibu. Suka-dukanya itu punya anak yang seperti itu.
Ada senangnya, ada susahnya. Tapi, kebanyakan kalau saya, saya ambil kebahagiaan. Itu kelihatan, Ibu.
Itu kelihatan awalnya. Iya. Masih muda.
Terus, Alhamdulillah. Alhamdulillah. Alhamdulillah.
Banyak yang ikut pembelajaran? Banyak. Dia ikut batik. Ikut merokis.
Ikut musik. Nanti kan ada musik. Ikut pari.
Dia sampai di hari disabilitas juga. Nari. Dipilih juga.
Di SMA-nya. Di gedung BK3S. BK3S, Tenggilis.
Tidak tahu. Di Tenggilis. Dekatnya Ubaya.
Tenggilisnya. Ya, anak saya sering, Mbak. Di istilahnya dipilih.
Untuk kelihatan apa saja. Di kiri juga dia bisa. Tapi ya gitu.
Namanya anak gitu. Jari dipukul. Ya Tuhan.
Kamu dipukul di tangkis. Jadi seringkali saya ajarkan juga. Pukul tangkis.
Tangkis. Atau kamu pukul balik. Kalau kamu dipukul.
Jangan kamu mukul dulu. Takutnya nanti salah paham. Ya, begitu.
Ya, kalau anaknya yang dipukul. Kamu terima. Kalau tidak.
Makanya itu. Jangan pukul tangkis. Ya, itu anak saya juga.
Saya kasih tahu. Sekolah ini. Mama dulu yang diuntak.
Dia semangat. Dia ingin. Kamu sudah sekolah di RAP.
Saya bilang. Jadi dia semangat. Belajarnya itu tinggi.
Sebenarnya. Cuma ya itu bagi. Kayaknya juga kencang ibunya itu.
Iya kan? Semangatnya. Kalau dari laki-laki. Anak laki-laki.
Anak-anak. Anak-anak. Anak laki-laki.
Atau perempuan itu. Ya, salam sejahtera. Memang kebanyakan gitu kan? Banyak.
Baca-baca iya. Ini semester 69? Enggak, ini 4. Kelahiran 2005. 5. Anak saya kelahiran 2002.
2002. 2003. Bulan apa? Bulan 4. Bulan depan ini umur 23.
Oh iya, aku 22 berarti. Aku di bulan 8. Oh bulan depan. Berarti itu anak-anak saya.
Tapi anak saya kayak anak kecil ya. Tapi tadi dari jauh itu udah. Kan biasanya ada yang.
Yang kalau dari jauh itu belum berani. Untuk mengapa gitu kan. Tadi sebelum ibunya.
Masa itu kan. Masnya kan udah masuk duluan. Saya ketemu orang.
Orang itu nggak yang setengah itu. Oh iya, nyapa mbaknya? Nyapa saya tadi. Pas saya ke Pak Imam tadi.
Penatnya kan. Tapi di sini emang kebanyakan nggak? Yang terlalu. Yang DRAP.
Kayak nggak terlalu sepenat. Soalnya kemarin kan juga. Yang hari pertama itu.
Saya kesini kan juga langsung. Digerumbungin sama anak-anaknya. Oh gitu ya.
Ingin menyapa itu. Anak saya pun gitu. DRAP ya.
Kalau bahasa Jawa ini DRAP ya. Humble anak saya. Jadi setiap orang bisa.
Itu kalau kenal. Nggak kenal ya cuma gini aja. Ngomong sama tetangga itu lho.
Terkenalnya dia itu. Karena saya kasih contoh mbak. Semua itu kan dari orang tua.
Jadi saya kasih contoh yang berbeda. Solat pun itu juga. Kalau saya nggak salah dimarahin mbak.
Mama itu nggak solat. Oh men bajarin. Yo men aku ngomong.
En en bukan men en. Ya Tuhan. Mama itu solat man.
Bisa lho ma. Allah lho jawabannya gitu. Kali ini kok puasa? Malah SMP anak saya.
Puasa Maghrib. Sebelumnya ikut yang duhur atau langsung? Yang SD dulu. Oh iya.
SD saya nanti dulu. Dia lihat saya kan. Kalau saya berhenti libur ya.
Oh keren. Tapi sekarang. Alhamdulillah masih terus.
Meskipun saya libur ya terus. Sekarang saya kasih tau. Kamu kan nggak mengeluarkan darah.
Yaudah terus aja. Kalau mama kan ngeluarkan darah nggak boleh. Ufuknya haram saya gitu.
Jadi ya terus. Sama papa tuh temennya papa. Jadi buka salur juga.
Sama papanya. Buka sama bersama. Iya.
Mbaknya nunggu berarti. Iya saya nunggu mbak. Kasihan mbak kalau ditinggal.
Saya kan pernah ya. Saya diintep dulu. Anak saya itu kan mulutnya agak cerewet kan.
Rame. Bikin busik-busik. Nggak itu rame aja.
Kalau saya tinggal itu. Oh iya kan. Sama perempuan itu rame aja.
Aku juga enak. Dia harusnya maklumi ya. Saya diintep dulu ya.
Kalau anak itu lho nggak lapo-lapo. Istilahnya kan nggak bikin onar. Cuma bersuara aja.
Nirmanya mana mbak? Saya? Surabaya Barat. Anaknya PTC. Oh PTC ya.
PP terus. Sepadan. Oh nggak apa-apa.
Ini mbaknya? Di Ketintan. Medan. Oh Medan.
Makanya kok face-nya kayak orang luar Jawa. Iya saya itu mau ngomong. Malah saya pikir orang Ambon.
Mbaknya orang Jawa? Tuban. Ibunya tinggal di mana? Di Meronggalan. Meronggalan itu mana mbak? Kacar Gembang.
Nggak tau. Karamjangan tau. Ke utaranya.
Kacar Gembang kan. Sebelahnya Kacar Gembang. Ini tadi naik merahmiri juga mbak? Nggak, naik motor.
Saya itu kemana-mana naik motor mbak. Iya. Nganter sekolah.
Sekolah anak saya di Taman Gayung Saring. Rumah saya di luar. Jadi pucuk sana, pucuk sana.
Gitu. Saya yang nganter. Saya itu dulu guru kan.
Saya risen. Karena anak saya butuh perhatian. Saya pikir gini.
Saya mengalami boleh duit. Tapi anakku nggak berhasil. Saya yang rugi.
Saya mikir kayak gitu. Akhirnya saya korbankan. Saya terus gampang lah.
Boleh kerjaan gitu ya. Terus barangkali 2 dolar. Nggak apa-apa kan bisa ya.
Yang penting anak saya fokus. Bisa. Ya Alhamdulillah sekarang terwujud lah.
Bisa lain-lain. Ya itu yang pausnya mbak. Jangan binter ya.
Berat memang kuliah. Tapi harus dijarahin ya. Semangat.
Tante dulu jadinya mudah. Nggak lama-lama. Nggak apa-apa kerjaan.
Dulu tante itu kejap-kejap cowok. Tapi nggak lama sih. Iya kan.
Tapi menurut kan lah mbak. Orang-orang pesen. Nggak suka lah.
Nggak suka ngajak ke pacaran, ngajak ke aneh-aneh. Terus saya dipesen gitu. Nggak karena kan dulu Almarhum bapak saya menginginkan anaknya yang bersarjana gitu.
Dia tuh pingin punya anak sarjana. Dia tuh pingin. Terus aku pikmah mbak.
Alhamdulillah. Gituin sudah sepenuhnya. Anak pertama lu juga gitu.
Saya, cewek-cewek. Tinggin mbak ini, tapi kurang kebun. Kenapa? Kan anak-anak emang murah-murah.
Tante juga segini dulu. Anak pertama yang kita tanggal tuh kayak laki-laki lah. Lumayan lah kayak gitu.
Mbak, susu. Susu. Kenapa mbak suruh minum? Aku masih kayak gitu loh.
Iya. Iya. 4 ton apa-apa gitu loh.
Susu. 3 ratus. Nggak cocok mikir 3 ratus, mbak.
Saya gila. Simpen dulu. Atau minum juice, juice buah.
Kenapa mbak? Mbak ini biasanya tanggung oat sama tanggung pisang. Itu sempat naik 4 kilon.
Terus saya yang turun dari sana sakit.
Jadi cepat turunnya daripada naiknya. Kita kebalik. Aku gampang kumuknya.
Tapi bagus gini loh mbak. Jangan terlalu kumuk. Udah menang.
Tingginya kan sama sekarang. Jadi nyari cowok nyari cowok yang susah. Tapi kan tingginya.
Banyak mbak. Banyak. Banyak.
Terima kasih mbak. Sayang uangan saya. Ini sebenernya ada mungguinya di mana? Kalau mungguin di depan pun ada.
Apa? Mungguin di depan. Ini saya. Dapur? Dapur.
Belakon. Terima kasih.
Disalin oleh TurboScribe.ai. Tingkatkan ke Tanpa Batas untuk menghapus pesan ini.