• Tidak ada hasil yang ditemukan

NIRWANA PURI SAMARINDA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2023

Membagikan " NIRWANA PURI SAMARINDA "

Copied!
91
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Rumusan Masalah

Tujuan Penelitian

  • Tujuan Umum
  • Tujuan Khusus

Manfaat Penulisan

  • Bagi Peneliti
  • Bagi Tempat Peneliti
  • Bagi Perkembangan Ilmu Keperawatan

Sebagai bahan masukan dan evaluasi yang diperlukan dalam pelaksanaan praktik pelayanan keperawatan khususnya bidang keperawatan gerontial. Hasil makalah ini diharapkan dapat memberikan informasi dalam bidang keperawatan mengenai asuhan keperawatan gerontial pada pasien pasca stroke.

Konsep Dasar Stroke

  • Definisi
  • Klasifikasi
  • Etiologi
  • Manifestasi Klinis
  • Patofisiologi
  • Komplikasi
  • Pemeriksaan Penunjang
  • Penatalaksanaan

Terjadinya pecahnya pembuluh darah di otak berhubungan dengan peningkatan tekanan darah akibat gesekan aliran darah pada penderita hipertensi, sehingga dapat menyebabkan pecahnya pembuluh darah. Faktor predisposisi stroke seperti hipertensi, DM, penyakit jantung dan beberapa faktor lain seperti merokok, stress, gaya hidup yang buruk dan beberapa faktor seperti obesitas dan kolesterol darah tinggi dapat menyebabkan penimbunan lemak atau peningkatan kolesterol dalam darah. Akibat penimbunan tersebut, pembuluh darah menjadi infark. dan iskemik. Dimana infark adalah kematian jaringan dan iskemia adalah kurangnya pasokan O2. Hal ini dapat menyebabkan aterosklerosis dan pembuluh darah mengeras, pecah dan mengakibatkan stroke hemoragik.

Vasospasme arteri serebral adalah penyempitan arteri serebral yang kemungkinan besar akan menimbulkan masalah pada hemisfer kanan dan kiri serta infark/iskemia pada arteri tersebut yang dapat menimbulkan masalah keperawatan, berkurangnya mobilitas fisik. Aneurisma adalah pembesaran pembuluh darah yang disebabkan oleh melemahnya otot-otot dinding pembuluh darah. Hal ini menimbulkan penumpukan pada arachnoid (ruang antara permukaan otak dan lapisan yang menutupi otak) dan penumpukan darah di otak atau disebut hematoma kranial akibat terlalu banyak penumpukan otak dan tekanan intrakranial ke kranial menyebabkan jaringan otak bergerak /. Aliran darah otak tergantung pada tekanan darah, curah jantung dan integrasi pembuluh darah otak. Hidrasi yang cukup dengan cairan intravena meningkatkan aliran darah dan mengurangi kekentalan darah. Hipertensi atau hipotensi harus dihindari untuk mencegah perubahan aliran darah otak dan potensi perluasan area cedera.

Kawasan ini harus dijaga agar dapat berfungsi kembali, untuk itu peredaran darah harus ditingkatkan. Obat ini digunakan untuk mencegah penggumpalan sehingga mencegah terbentuknya bekuan darah yang dapat menyumbat pembuluh darah.Obat ini dapat digunakan untuk TIA.

Konsep Dasar Asuhan Keperawatan

  • Pengkajian
  • Diagnosa Keperawatan
  • Intervensi Keperawatan
  • Implementasi Keperawatan
  • Evaluasi Keperawatan

ANALISIS DATA Tabel 4.15 Analisis data. Klien mengatakan sulit untuk duduk di lantai atau di kursi. Klien mengatakan dia tidak bisa berjalan lama. Klien hanya duduk di tempat tidur. klien mengatakan mereka malu bila ada. malu jika ada yang melihatnya pergi. Klien terlihat berjalan, hanya menunduk. tubuh Harga diri rendah situasional. klien mengatakan sulit untuk berbicara pelan – pelan kata klien. klien berbicara tidak jelas - klien sulit melakukannya. Klien terlihat bersemangat ketika perawat bercerita tentang penyakitnya. Klien berjalan dengan berpegangan pada benda disekitarnya.

Klien mengatakan dia dapat melakukan ADL secara mandiri. Klien sepertinya berbicara sedikit tidak jelas. Klien mengatakan tidak menggunakan alat bantu. Klien mengatakan sering mengalami tanda dan gejala yang disebutkan siswa. S : klien mengatakan sudah tidak terlalu malu untuk keluar ruangan A : klien sudah mulai merasa percaya diri A : masalah sudah terselesaikan sebagian.

S : klien mengatakan tidak lagi merasa malu saat keluar ruangan O : klien terlihat percaya diri A : masalah sudah terselesaikan sebagian. S : Klien mengatakan gejala stroke antara lain kelumpuhan tangan atau kaki, kelemahan otot, dan gangguan bicara. Selama penelitian diperoleh data dari klien yang mengatakan sulit menggerakkan anggota badan yang mengalami kelemahan, klien mengatakan tidak dapat berjalan dalam waktu lama, kekuatan otot mengalami penurunan dan dibantu oleh siswa untuk berjalan. jarak jauh.

Saat dievaluasi pada hari terakhir, klien mengatakan memulai gerakan ROM setiap hari setelah sholat subuh. Pada pemeriksaan klien 1 diperoleh data bahwa klien mengatakan malu jika ada yang melihat klien berjalan, klien mengatakan malu jika ada yang membantunya dan klien hanya menunduk saat berjalan. Pada evaluasi hari terakhir, klien mengatakan dia tidak lagi merasa malu saat keluar ruangan, dan dia terlihat mulai merasa percaya diri.

Pada pengkajian hari terakhir, klien mengatakan bahwa ia dapat berbicara dengan pelan dan jelas, ia mulai banyak berbicara dengan orang lain, namun klien masih berbicara dengan cara bicara yang tidak jelas atau cadel. Pada saat pengkajian diperoleh informasi dari klien bahwa klien mengatakan tidak tahu apa yang harus dilakukan dengan penyakitnya, kami memperhatikan klien sering bertanya kepada siswa tentang penyakitnya. Saat dinilai pada hari terakhir, klien mengatakan memahami penyakitnya, dan klien sepertinya tahu apa yang harus dilakukan terhadap penyakitnya.

METODE PENELITIAN

Subyek penelitian

Batasan Istilah (Definisi Operasional)

Lokasi dan Waktu Penelitian

Prosedur Penelitian

Teknik dan Instrument Pengumpulan Data

  • Teknik Pengumpulan Data
  • Instrumen Pengumpulan Data

Keabsahan Data

Analisis Data

HASIL STUDI KASUS DAN PEMBAHASAN

Gambaran Lokasi penelitian

UPTD Panti Sosial Tresna Werdha Nirwana Puri yang berlokasi di Jalan Mayjend Sutoyo Samarinda dahulu merupakan Unit Pelayanan Teknis Kementerian Sosial RI dalam Era Perekonomian Daerah berdasarkan Keputusan Gubernur Kalimantan Timur NO.16 Tahun 2001 PSTW Nirwana Puri Samarinda telah menjadi Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Pemerintah. Kaltim, hal ini juga diperkuat dengan Surat Keputusan Gubernur Kaltim No. 17 Tahun 2009 tentang organisasi dan tata kerja UPTD pada dinas sosial provinsi. UPTD Panti Jompo Tresna Nirwana Puri Samarinda mempunyai luas kurang lebih 22.850 M2 dan dilengkapi dengan sarana dan prasarana memiliki 37 gedung dan 57 SDM serta dapat melayani total 120 klien berdasarkan kapasitas yang ada.

Dalam pelaksanaannya, pencapaian maksud dan tujuan selalu berpedoman pada peraturan yang ditetapkan oleh pemerintah Indonesia, antara lain Undang-Undang Nomor 13 Tahun 1998 tentang Kesejahteraan Lanjut Usia dan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 1998.

Pengkajian

Status imunisasi Klien 1 Klien 2 Tetanus, difteri Klien tidak ingat Klien tidak ingat Klien Influenza tidak ingat Klien tidak ingat Pneumonia Klien tidak ingat Klien tidak ingat

Tabel 4.2 Riwayat Masuk Panti
Tabel 4.2 Riwayat Masuk Panti

Diagnosa Keperawatan

Intervensi Keperawatan

Implementasi Keperawatan

Klien berjalan perlahan dan menyeret Lantai di wisma klien tidak mulus atau tidak ada.

Evaluasi Keperawatan

Pembahasan

  • Gangguan Mobilitas Fisik Berhubungan Dengan Penurunan
  • Harga Diri Rendah Situasional Berhubungan Dengan
  • Gangguan Komunikasi Verbal Berhubungan Dengan
  • Defisit Pengetahuan Berhubungan Dengan Kurang
  • Resiko Jatuh Berhubungan Dengan Kelemahan Kekuatan Otot

Data tersebut sesuai dengan teori menurut (Amin, 2015), gejala yang terjadi akibat penyakit stroke adalah mengalami kelemahan dan kelumpuhan, hilangnya kepekaan secara tiba-tiba, bicara tidak jelas atau tidak jelas, gangguan bicara, gangguan penglihatan, mulut bengkok atau tidak simetris. , tersenyum. , gangguan hilang ingatan, sakit kepala hebat, pusing, penurunan kesadaran, gangguan buang air kecil, dan gangguan fungsi otak. Hal ini mengakibatkan penurunan kekuatan otot dan disfungsi neuromuskular pada pasien stroke (Sari, 2015). Setelah melaksanakan intervensi keperawatan seperti mendorong klien untuk mengidentifikasi kelebihan dirinya dan mengajarkan keterampilan bermain perilaku positif melalui permainan peran.

Setelah melakukan tindakan keperawatan seperti mendorong klien untuk berkomunikasi secara perlahan, memberikan pujian yang positif, mendengarkan dengan penuh perhatian, dan mendorong ekspresi diri dengan cara lain untuk menyampaikan informasi (bahasa isyarat). Berdasarkan data yang diperoleh, penulis berasumsi bahwa permasalahan gangguan komunikasi verbal pada Klien 1 disebabkan oleh adanya kerusakan pada otot neuromuskular sehingga menyebabkan kesulitan berbicara sehingga ucapan klien menjadi tidak jelas. Setelah melakukan tindakan keperawatan seperti mengidentifikasi tanda dan gejala yang berhubungan dengan penyakit, menjelaskan secara tepat penyakit yang dialami dan memberikan informasi kepada klien tentang penyakitnya.

Saat dilakukan pengkajian, data diagnosis sekunder klien menunjukkan lebih dari 1 diagnosis, klien berjalan dengan berpegangan pada benda disekitarnya dan kemampuan berjalan pasien kurang baik, serta skor skala klien 1 adalah 75 dan klien 2 adalah 60 , setelah melakukan tindakan keperawatan seperti pengkajian perilaku dan faktor yang mempengaruhi risiko jatuh, anjurkan klien mengenai hal tersebut. Data tersebut sesuai dengan teori Deniro (2017) yang menyatakan bahwa pada usia lanjut akan mengalami penurunan kemampuan dalam melakukan aktivitas hidup sehari-hari, sehingga fleksibilitas akan menurun dan menyebabkan risiko terjatuh lebih besar. Penulis berhipotesis bahwa risiko terjatuh pada klien pasca stroke disebabkan oleh adanya kelemahan pada otot-otot ekstremitas sehingga mengakibatkan kurangnya keseimbangan pada klien dan hal ini dapat menyebabkan risiko terjatuh pada pasien pasca stroke.

Tanda dan gejala yang terlihat dan dirasakan oleh kedua klien adalah kelemahan otot pada anggota badan, kesulitan menggerakkan anggota badan dan kaku pada anggota badan. Kedua klien mempunyai diagnosis yang sama yaitu gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan berkurangnya kekuatan otot, defisit pengetahuan berhubungan dengan kurangnya paparan informasi, dan risiko terjatuh berhubungan dengan kelemahan. Namun klien pertama mempunyai 2 diagnosa yang tidak diderita oleh klien kedua, diagnosa tersebut adalah harga diri rendah situasional berhubungan dengan perubahan body image, dan gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan gangguan neuromuskular.

Kedua klien memiliki beberapa diagnosis yang sama, seperti berkurangnya mobilitas fisik, kurangnya pengetahuan dan risiko terjatuh. Pelaksanaan asuhan keperawatan yang dilakukan terhadap beberapa diagnosa seperti gangguan mobilitas, kurangnya pengetahuan dan resiko terjatuh dalam proses pelaksanaan, berlangsung sesuai dengan rencana yang telah disusun dan penulis tidak menemukan adanya perbedaan antar intervensi. dan implementasinya. keluar. Hasil pengkajian penulis terhadap kedua klien menunjukkan tanda dan gejala yang sama.

Tabel intervensi

Tabel Pengkajian

Tabel Intervensi Keperawatan

Tabel Implementasi Keperawatan

Tabel Evaluasi Keperawatan

Gambar

Tabel 4.1 Anamnesis Biodata Klien dengan Pasca Stroke di Panti Tresna  Werdha Nirwana Puri Samarinda
Tabel 4.2 Riwayat Masuk Panti
Tabel 4.3 Riwayat perkerjaan
Tabel 4.6 Sumber/Sistem Pendukung
+7

Referensi

Dokumen terkait

Oleh karena itu, hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai suatu rujukan database video immersive dalam penelitian penginduksian emosi menggunakan virtual reality.. Disamping itu,

Tujuan Umum Setelah dilakukan tindakan keperawatan klien dan keluarga dapat mengerti, memahami tentang penyakit pada Ny.R yang menderita Diabetes Melitus.. Tujuan Khusus Setelah