• Tidak ada hasil yang ditemukan

Oleh: Afriona Siska NIM : 1913353103

N/A
N/A
Nguyễn Gia Hào

Academic year: 2023

Membagikan "Oleh: Afriona Siska NIM : 1913353103"

Copied!
77
0
0

Teks penuh

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Hematologi adalah ilmu yang mempelajari kondisi sel darah tepi dalam kondisi normal dan patologis (Keohane et al, 2015). Kita mengenal dua metode pemeriksaan jumlah leukosit yaitu manual dan elektronik atau otomatis. Banyak metode elektronik atau otomatis telah dilakukan dengan menggunakan mesin penghitung sel darah (hematological analyzer).

Dengan semakin tersedianya pencacah otomatis, penghitungan manual jarang dilakukan di laboratorium, namun metode pengenceran dan pemeriksaan visual hemositometer secara manual masih dapat diandalkan selama perawatan dilakukan. Cara manual biasanya dilakukan untuk menginformasikan hasil hitung sel darah putih elektronik atau otomatis yang terlalu rendah atau terlalu tinggi (Sacher, 2012). Metode pemeriksaan leukosit secara manual terdiri dari dua metode, yaitu metode pipet Thoma dan metode tabung.

Prinsip cara manual adalah darah diencerkan dengan larutan pengencer, hanya saja leukositnya didaftar dan darah diencerkan agar leukosit dapat dihitung dengan mudah. Dari uraian permasalahan diatas, penulis merasa tertarik untuk meneliti perbedaan hasil hitung leukosit manual menggunakan ruang hitung (Improved Neubauer) dan metode Hematology Analyzer otomatis yang digunakan di Laboratorium yang akan dilakukan Instalasi Mohammad RS Natsir Solok, Provinsi Sumatera Barat.

Perumusan Masalah

Leukosit per mikroliter darah dihitung di bawah mikroskop kemudian dikalikan dengan perkalian tertentu (Riswanto, 2013). Metode perhitungan yang berbeda (metode manual dan metode otomatis) ternyata memiliki kelebihan dan kekurangan, sehingga perlu diketahui hasil yang dihasilkan oleh kedua metode tersebut yang masing-masing memiliki keterbatasannya masing-masing.

Tujuan Penelitian

  • Tujuan Umum
  • Tujuan Khusus

Manfaat Penelitian

TINJAUAN PUSTAKA

  • Darah
  • Komponen Darah
  • Tinjauan Umum tentang leukosit
  • Fungsi Leukosit
  • Pemeriksaan Hitung Leukosit
  • Alur Penelitian

Pembentukan sel darah (hematopoiesis) terjadi pada awal periode embrionik, sebagian besar di hati dan sebagian kecil di limpa. Sejak awal kehidupan janin hingga bayi lahir, pembentukan sel darah berlangsung dalam dua tahap, yaitu. Setelah lahir, semua sel darah dibuat di tulang, kecuali limfosit, yang terbentuk dari kelenjar getah bening, timus, dan limpa.

Pada orang dewasa, proses pembentukan sel darah di luar sumsum tulang masih bisa terjadi jika sumsum tulang mengalami kerusakan atau fibrosis. Sel darah putih bertindak sebagai pertahanan tubuh dan diangkut ke jaringan di mana sel-sel ini menjalankan fungsi fisiologisnya. Trombosit adalah sel darah yang berperan penting dalam hemostasis, trombosit menempel pada lapisan endotel pembuluh darah yang pecah (luka) dengan membentuk sumbat trombosit.

Sel induk melahirkan sekitar lima sel darah yang belum matang, yang kemudian berkembang hingga mencapai "kedewasaan". Peningkatan jumlah leukosit atau disebut leukositosis menandakan adanya proses inflamasi atau infeksi akut, seperti pneumonia, meningitis, usus buntu, tuberkulosis, tonsilitis, dan lain-lain. Penurunan jumlah leukosit atau leukopenia dapat terjadi pada penderita infeksi tertentu terutama virus, malaria, alkoholik.

Hitung jenis leukosit, yaitu perhitungan jenis leukosit yang ada dalam darah berdasarkan proporsi (%) tiap jenis leukosit terhadap jumlah keseluruhan leukosit. Merupakan perhitungan jenis leukosit dalam darah berdasarkan proporsi (%) masing-masing jenis leukosit terhadap jumlah keseluruhan leukosit. Pemeriksaan jumlah leukosit dengan cara pengenceran dalam tabung yaitu darah diencerkan dengan larutan Turk, kemudian jumlah sel dalam volume pengenceran dihitung dengan menggunakan kamar hitung.

Metode pengenceran ini berpengaruh terhadap jumlah leukosit karena metode ini memiliki tingkat kesalahan yang lebih rendah dibandingkan dengan metode mikro. Prinsip mempelajari jumlah leukosit dengan pengenceran pipet thoma adalah darah diencerkan dalam pipet dengan larutan Turki, dan jumlah sel dalam volume pengenceran dihitung menggunakan ruang hitung. Saat menghitung sel leukosit pada alat bantu Neubauer yang disempurnakan, sangat sulit untuk mengontrol atau mencapai akurasi dan presisi (Cadena-Herrera et al. 2015), hal ini karena sel leukosit bercampur dengan kotoran pada kaca objek, sehingga ketika membaca jumlah leukosit, diperlukan waktu yang cukup lama untuk mencapai hasil yang maksimal (Hansen et al. 2006).

Metode penghitungan sel darah secara manual menggunakan pipet dan bilik hitung tetap menjadi upaya penting di laboratorium klinik. Jumlah leukosit dihitung dalam volume tertentu, dengan menggunakan faktor konversi jumlah leukosit per ul darah dihitung.

Gambar 2.1 Neutrofil (Barbara, 2014)
Gambar 2.1 Neutrofil (Barbara, 2014)

METODE PENELITIAN

  • Jenis dan Desain Penelitian
  • Waktu dan Tempat Penelitian
  • Populasi Dan Sampel
    • Populasi
    • Sampel
    • Teknik Sampling
  • Alat dan Bahan
    • Alat
    • Bahan
  • Defenisi Operasional
  • Pengambilan Spesimen
  • Hitung Jumlah Leukosit Secara Manual
  • Hitung Jumlah Leukosit Secara Automatic Hematologi Analyzer
  • Hipotesa Penelitian
    • Hipotesa Nol
    • Hipotesa Alternatif
  • Analisa Data
    • Analisa Univariat
    • Analisa Bivariat

Cara otomatis menghitung jumlah leukosit adalah dengan menghitung jumlah leukosit menggunakan automatic hematology analyzer Sysmex XS800i. Hasilnya telah dipublikasikan. Tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara hasil penghitungan jumlah leukosit menggunakan kamar hitung (Improved Neubauer) menggunakan larutan Turk dengan alat Automatic Hematology Analyzer. Terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil penghitungan jumlah leukosit menggunakan kamar hitung (Improved Neubauer) menggunakan larutan Turk dengan automatic hematology analyzer.

Hal ini menunjukkan bahwa nilai Coevision of Variation (CV) dengan menggunakan Enhanced Neubauer Counting Chamber pada pemeriksaan jumlah leukosit yang didapatkan kurang dari 5%, maka tingkat ketelitiannya tergolong baik, sehingga hasil pemeriksaan manual jumlah leukosit masih dapat diterima. Penelitian ini dilakukan dengan observasi laboratorium, tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan hasil pemeriksaan leukosit antara metode Enhanced Neubauer manual dengan metode analisis hematologi otomatis. Hasil hitung leukosit terendah dengan metode otomatis 5271/mm³, hasil tertinggi 9520/mm³ dengan rerata 7285,10.

Dengan pengujian data menggunakan uji t sampel berpasangan, diperoleh hasil nilai p = 0,000, dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak dan Ha diterima, hal ini berarti terdapat perbedaan hasil penghitungan leukosit secara manual. penganalisa hematologi otomatis. Sedangkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Suhartiningsih (2010) bertentangan dengan hasil penelitian tersebut yang menyatakan bahwa tidak terdapat perbedaan hasil pemeriksaan hitung leukosit manual dan otomatis. Pada saat menghitung sel leukosit pada alat manual Neubauer Improved sulit untuk dilakukan pengecekan atau mendapatkan akurasi dan presisi, karena sel leukosit bercampur dengan pengotor pada kaca slide, sehingga membutuhkan waktu yang lama untuk membaca jumlah leukosit agar mendapatkan hasil yang maksimal. hasil.

Dari hasil penelitian yang dilakukan pada bulan Mei 2020 berjudul perbedaan hasil penghitungan jumlah leukosit menggunakan ruang hitung (Improved Neubauer) dengan penganalisa hematologi otomatis di RSUD M. Rendemen tertinggi adalah 8825/mm³ dengan rata-rata 6553,50. Jumlah leukosit terendah menggunakan metode automatic hematology analyzer adalah 5271/mm³, hasil tertinggi adalah 9520/mm³ dengan rata-rata 7285,10.

Dari dua metode pemeriksaan jumlah leukosit yang berbeda dengan menggunakan metode Neubauer manual yang ditingkatkan dan metode penganalisa hematologi otomatis, menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan antara kedua metode tersebut. Bagi peneliti selanjutnya dapat dilakukan studi banding terhadap hasil pemeriksaan jumlah leukosit dengan metode apusan darah dan metode otomasi. Perbedaan hasil pemeriksaan hitung leukosit manual dan otomatis di laboratorium RSUD Banyumas.

HASIL PENELITIAN

Hasil penelitian

Hasil penelitian yang diperoleh kemudian diuji secara statistik dengan uji homogenitas, uji normalitas dan dilanjutkan dengan uji t. Kemudian jika Ha diterima dan Ho ditolak maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang bermakna antara jumlah leukosit metode Enhanced Neubauer manual dengan metode automatic hematology analyzer. Hasil tersebut menunjukkan bahwa nilai Coevision of Variation (CV) leukosit menggunakan autoanalyzer kurang dari 5%, sehingga tingkat presisinya dinilai baik, sehingga hasil pemeriksaan jumlah leukosit dengan autoanalyzer masih dapat diterima.

Pada penelitian pemeriksaan jumlah leukosit antara metode manual Improved Neubauer dengan metode automatic hematology analyzer yang dilakukan pada 30 responden di RSUD M. Pemeriksaan metode otomatis biasanya lebih unggul dibandingkan dengan metode manual karena tekniknya lebih mudah, waktu yang dibutuhkan lebih singkat dan error yang terjadi lebih kecil yaitu ± 2%, (Manual book sysmex) sedangkan pada cara manual errornya mencapai ± 10%. Hasil penelitian pada 30 sampel yang dilakukan sebagian besar berjenis kelamin perempuan sebanyak 16 orang dengan persentase (53%), disusul berjenis kelamin laki-laki sebanyak 14 orang dengan persentase (47%), dengan usia rata-rata 52 tahun.

Hasil penelitian ini sama dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh (Hidayah 2002) yang mengatakan bahwa rata-rata hasil pemeriksaan hitung leukosit manual menggunakan Hemocytometer adalah 8604/mm³, sedangkan hasil pemeriksaan hitung leukosit otomatis menggunakan Alat Auto Hematology Analyzer BC-2600 adalah 7720/mm³ menunjukkan adanya perbedaan hasil pemeriksaan hitung leukosit manual dan otomatis. Dalam penghitungan sel leukosit pada alat manual Enhanced Neubauer sangat sulit untuk mengontrol atau memperoleh akurasi dan presisi (Indriani et al. 2013), hal ini disebabkan karena tercampurnya sel leukosit dengan pengotor pada kaca objek, sehingga pada saat pembacaan jumlah leukosit membutuhkan waktu yang cukup lama untuk mendapatkan hasil yang maksimal (Hansen et al. 2006). Alat penganalisa hematologi otomatis sebagai salah satu cara yang dapat diperoleh untuk memaksimalkan pemeriksaan tanpa tergantung pada ahlinya dibuatlah suatu alat yang dapat dioperasikan secara sederhana, dengan kata lain alat penganalisa hematologi otomatis dirancang untuk ahli tanpa memerlukan keahlian khusus.

Penganalisis hematologi otomatis ini dirancang sebagai instrumen yang memiliki akurasi hasil evaluasi yang mudah, karena presisi dan akurasi dapat dikontrol, jumlah sel yang dihitung lebih besar dan pembacaan lebih besar. Perbedaan hasil penelitian ini dengan Suhartiningsih (2010), mungkin karena perbedaan alat laboratorium yang digunakan, mungkin juga saat itu kurang bersih dan lengkap, serta keterampilan saat pemeriksaan hitung leukosit. dilakukan, dapat terjadi kesalahan dalam perhitungan jumlah leukosit. Hematology analyzer sebagai alat untuk memaksimalkan pemeriksaan tanpa tergantung pada ahlinya dibuatlah suatu alat yang dapat dioperasikan secara sederhana, dengan kata lain alat penganalisa hematologi otomatis ini dirancang sebagai alat yang mudah untuk dievaluasi karena akurasi dan presisi dapat dikontrol, jumlahnya jumlah sel yang dihitung lebih besar dan waktu pemeriksaan lebih singkat untuk mendapatkan hasil.

Memperbaiki alat hematology analyzer merupakan upaya yang baik karena kita tahu bahwa tidak semua alat bebas dari kesalahan dan ketidakakuratan. Proses validasi analitik untuk alat hematology analyzer diperlukan karena: Hasil cell counter bisa saja tidak akurat Merupakan tanggung jawab petugas laboratorium Harus dilakukan evaluasi ketidakberesan pada suatu hasil pemeriksaan. Ini adalah serangkaian proses kontrol kualitas. membutuhkan pengetahuan tentang sifat alat, kalibrasi dan kontrol kualitas, serta kemampuan untuk menilai keakuratan hasil. Uji presisi ini menggunakan bahan kontrol yang diketahui rentang nilai kontrolnya, hasil uji akurasi dievaluasi apakah berada di dalam atau di luar rentang nilai kontrol yang telah ditentukan, jika dari hasil pemeriksaan terhadap bahan kontrol tersebut.

Comparison of the FACSCount AF system, Neubauer enhanced hemocytometer, Corning 254 photometer, SpermVision, UltiMate and Nucleo Counter SP-100 for determination of sperm concentration of porcine sperm.

Tabel  4.3.  Perbedaan  Jumlah  Leukosit  menggunakan  Metode  Manual  dengan Autoanalyzer
Tabel 4.3. Perbedaan Jumlah Leukosit menggunakan Metode Manual dengan Autoanalyzer

PEMBAHASAN

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Saran

Gambar

Gambar 2.1 Neutrofil (Barbara, 2014)
Gambar 2.2 Eosinofil (Barbara, 2014)
Gambar 2.3 Basofil (Barbara, 2014)
Gambar 2.4 Limposit (Barbara, 2014)
+7

Referensi

Dokumen terkait

Dari hasil pemeriksaan darah lengkap, sebagian besar penderita leukemia mengalami anemia, trombositopenia, leukositosis dan pada hitung jenis leukosit paling banyak

Hasil Uji Shapiro-Wilk dan Anova untuk Pengaruh Penundaan Pemeriksaan terhadap Perubahan Jumlah Leukosit pada Pasien dengan Leukosit Urin < 50 sel/µl, menggunakan

Adapun judul skripsi penulis berjudul “Gambaran Hygiene Sanitasi Pengelolaan Makanan dan Pemeriksaan Escherichia coli pada Makanan di Rumah Makan Khas Minang Jalan Setia

Berdasarkan hasil penelitian pada materi termokimia kelas XI SMA Negeri 1 Sukoharjo tahun pelajaran 2015/2016 dapat disimpulkan: (1) tidak ada perbedaan

Simon, 2020:22) Properti dengan warna tersebut akan dipadankan dengan propeti oriental mandarin seperti bunga mei hwa, maneki neko, amplop angpao, cetakan poster, dan

Simon, 2020:22) Properti dengan warna tersebut akan dipadankan dengan propeti oriental mandarin seperti bunga mei hwa, maneki neko, amplop angpao, cetakan poster, dan

Analisa data yang dilakukan pada penelitian untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan hasil pemeriksaan laboratorium dalam sampel darah leukosit yang dihomogenisasi

Berdasarkan hasil penelitian terhadap pemeriksaan leukosit urine segar dengan setelah 2 jam suhu kamar dengan 20 sampel didapatkan p-value < 0,001 ( >